Thursday, November 30, 2017

KLB Difteri

Sudah beberapa hari terakhir ini grup Whatsapp saya yang berisi dokter-dokter spesialis anak ramai. Apa pasal? Di internet sedang banyak beredar infografis yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai Mapping KLB (Kejadian Luar Biasa) Difteri hingga minggu ke-44 tahun 2017 ini.Tak sedikit lho kasusnya.  Bahkan kematian karena difteri ini sudah lebih dari 10 kasus!

Sebetulnya, bukan hanya di Indonesia, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat saja, difteri pernah menjadi momok yang menakutkan. Bayangkan deh, negara sekaliber Amerika nih, pernah mencatat 206.000 kasus difteri, dengan 15.520 kematian hanya dalam waktu satu tahun! Tapiiiiiii, itu terjadi di tahun 1921. Sudah seabad yang lalu hehe. Sejak penggunaan vaksin, angka difteri di sana merosot drastis. Antara tahun 2004-2015, "hanya" ada 2 kasus difteri di Amerika Serikat.

Coba bandingkan dengan di Indonesia. menurut pencatatan WHO di tahun 2003-2014 (sama ya rentang waktunya) ada 5756 kasus difteri. Baru yang tercatat lho ini, belum yang tidak tercatat.  Jauh banget? Sedih ya:'(

Apa sih difteri ini?
Difteri adalah infeksi yang sangat menular dan berbahaya, disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Kata "Diphtheria: berasal dari bahasa Yunani yang berarti leather atau kulit, merujuk pada membran/lapisan di faring (tenggorokan) yang menjadi tanda klinis infeksi ini. Tak hanya di faring, difteri juga dapat menyerang mukosa hidung, tonsil, laring (saluran napas) hingga kulit.

Apa gejalanya?
Gejala awal difteri bisa sangat tak spesifik, misalnya saja:
- Demam (tidak tinggi alias sumer)
- Nafsu makan menurun
- Nyeri menelan/ nyeri tenggorok
- Lemah
- Ingus kuning kehijauan, bisa disertai darah

Lalu bagaimana membedakan difteri dengan infeksi virus atau bakteri lainnya?

Difteri memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorok atau hidung, yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau bull neck. 
Bull Neck. Sumber: Google

Tuesday, November 21, 2017

FAQ: Mommyclopedia-2



1. Ini buku apaan sih?
Buku #Mommyclopedia2 ini adalah seri ke-2 dari Mommyclopedia.  Terdiri atas 164 halaman berisi tentang panduan lengkap merawat batita (1-3 tahun), buku ini dicetak penuh warna dan penuh ilustrasi supaya ringan dibaca, juga mudah diikuti.
2. Memangnya buku Mommyclopedia ada berapa seri?                                                       
Sampai sekarang, sudah ada 2 seri. Yang pertama adalah Perawatan Lengkap Bayi 0-1 Tahun, dan yang kedua adalah yang ini. Awal tahun depan, insyaAllah akan terbit seri ke-3 mengenai nutrisi pada anak.

3. Apa beda buku ini dengan buku sejenis? 

Saya memang sengaja menbuat konsep buku yang ringan dibaca dan mudah diikuti. Sebagai ibu, saya mengerti benar bagaimana kesibukan orangtua. Bisa tidur cukup saja Alhamdulillah, kok baca buku:p Karena itulah, Mommyclopedia ini juga dilengkapi oleh aplikasi untuk mempermudah orangtua mengakses informasi. Tinggal scan QR code dalam halaman buku, kita bisa langsung terhubung ke aplikasi. Aplikasinya juga bisa didownload di Appstore dan Playstore.
4. Apa isi buku ini?                                                                                                                    
Selain perawatan batita, buku ini juga membahas nutrisi batita, kesehatan batita, tumbuh kembang dan pertolongan pertama pada kecelakaan. 

5. Berapa harga buku?
Buku ini dijual seharga Rp. 98.000,00 belum termasuk ongkos kirim.  Tapi selama masa pre-order, ada 2 paket promo yang bisa dibeli. Paket pertama, 1 buku Mommyclopedia-2 dan 1 folded bag seharga Rp. 165K, termasuk free ongkos kirim se-Pulau Jawa. Sementara paket kedua, 1 buku Mpmmyclopedia-1, 1 buku Mommyclopedia-2 dan 1 folded bag seharga Rp. 250K, termasuk free ongkos kirim se-Pulau Jawa. Bagi yang mengikuti pre-order, pengiriman buku akan dilakukan menggunakan kurir dari Surabaya. 




6.  Berapa harga Mommyclopedia Folded Bag? Bisakah dibeli terpisah dengan buku?
Folded Bag (Tas lipat)  dapat dibeli sepaket dengan buku selama masa promo seharga Rp. 165.000,00 (Free ongkir Pulau Jawa).  Sayangnya, selama periode pre-order ini, folded bag hanya dapat dibeli bundling dengan buku. Tapi, kalau ingin membeli bukunya saja boleh kok.

7. Bagaimana cara order buku ini?
Sila email ke mommyclopedia@gmail.com atau DM IG @mommyclopedia, lalu tunggu balasan yang akan dilengkapi dengan jumlah total pembayaran dan nomor rekening. Setelah itu, kirim kembali bukti transfer, buku akan segera dikirim ke alamat pemesan:)
Untuk periode pre-order ini, pemesanan hanya dapat dilakukan lewat email dan IG @mommyclopedia.

8. Apakah buku ini dijual di toko buku?
Yes! Buku Mommyclopedia: Panduan Lengkap Merawat Batita ini bisa didapatkan di toko buku seluruh Indonesia mulai Desember 2017.

9. Bisakah menjadi reseller buku ini?
Bisa doooong! Langsung hubungi lewat Whatsapp yaa, lumayan banget lho!

10. Apa ada acara launching?
Pastinyaaa. Pantengin terus IG: @mommyclopedia dan FB-nya yaa. Nanti saya akan memberikan kesempatan pembaca blog saya untuk ikut hadir saat acara launching. Berminat?;)

Friday, November 17, 2017

Pentingkah Vitamin untuk Anak?

Seandainya saja saya mendapat 1000 rupiah setiap kali ada yang meminta vitamin penambah nafsu makan untuk anaknya, pasti deh sekarang saya sudah kaya raya. Mungkin bisa ikut Princess Syahrini ke Iceland pakai boot dan longcoat bebuluan #eh.

Hehe, saya cuma mau menunjukkan betapa sering (dan banyak)-nya orangtua yang menanyakan vitamin penambah nafsu makan untuk anak. Terkadang disertai dengan tambahan "Yang paling bagus, yang paling mahal ya dok! Apapun saya lakukan asal anak saya pintar makan dan cerdas!".

Sayangnya, saya bukan pedagang vitamin sehingga setiap permintaan demikian tidak dapat serta merta saya resepkan:p Eh, bukan itu sih alasannya, becandaaa:))) Terus kenapa? Karena pemberian vitamin sesungguhnya tidak serta merta dapat langsung menyelesaikan masalah anak yang mengalami gangguan makan.

Sebagai contoh nih, saya punya pasien yang sukanya melepeh makanan. Sebut saja namanya Duri ya! (Bosan kalau Mawar atau Melati hyahaha).  Orangtuanya mengeluhkan kalau Duri ini seolah tidak memiliki rasa lapar. Dalam 24 jam, ia tahan hanya makan roti tawar 5 gigit dan susu UHT sekotak, titik. (Duh, seandainya saya bisa seperti itu, pasti sudah langsing deh. Sayang, walaupun kadang tak merasa lapar, saya suka lapar mata melihat makanan enak. Yah gimana mau langsing:'( #kokjadicurcol).

Sunday, November 5, 2017

Bisnis Buku

Linimasa di media sosial kini seringkali menampilkan berita "mati"nya usaha yang sudah berdiri berpuluh-puluh tahun, entah karena memang daya beli masyarakat menurun, atau era digitalisasi. Sebut saja Matahari, departement store yang namanya sudah begitu melekat di masyarakat Indonesia. Sewaktu kecil dulu, saya ingat selalu membeli pakaian, sepatu hingga tas sekolah baru di pusat perbelanjaan ini. Bahkan sampai sekarang, saya masih sering mengunjungi Matahari untuk membeli berbagai kebutuhan. Ditutupnya beberapa cabang Matahari (dan bisa jadi, cabang lain akan menyusul) sempat membuat saya terkejut. Masa sih?

Tak hanya Matahari, Ramayana, Lotus di Jakarta hingga bisnis ritel macam Debenhams pun perlahan mengikuti jejak menutup satu persatu outletnya. Demikian pula dengan bisnis supermarket seperti Hypermart.

Sebetulnya, saya tidak terkena imbas dari penutupan beberapa bisnis ini secara langsung. Toh sejujurnya, saat ini saya lebih sering berbelanja online. (Mungkin saya juga nih salah satu penyebab bisnis offline jatuh:p). Entah lewat Tokopedia, Shopee atau Instagram. Engga ngefek-ngefek amat sih:D

Saturday, November 4, 2017

Subspesialisasi Dokter Anak


Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan “Apa sih bedanya dokter spesialis anak dan spesialis anak nutrisi?”. Tak hanya itu, sering juga saya ditanya “Harusnya anak saya ini datang ke dokter spesialis anak yang mana?”. Karena itulah, kali ini saya akan membahas mengenai subspesialisasi pada anak.

Jadi saat seseorang kuliah di Fakultas Kedokteran, ia akan lulus s1 dalam 4 tahun (bisa lebih, tidak bisa kurang) dengan gelar S.Ked  atau Sarjana Kedokteran. Sarjana Kedokteran tentu belum boleh berpraktik, karena masih harus menjalani pendidikan klinis selama minimal 2 tahun sebelum akhirnya mendapat gelar dokter. (Di kurikulum yang baru, durasi pendidikan sedikit diubah), Dokter yang dimaksud di sini adalah dokter umum.

Ia dapat berpraktik sebagai dokter umum. Di antara dokter umum ini, ada yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan spesialis. Pendidikan spesialis pun bermacam-macam, salah satunya adalah spesialis anak. Pendidikan untuk mendapat gelar spesialis anak ditempuh dalam waktu rata-rata 5 tahun. Begitu lulus, tentunya ia dapat berpraktik sebagai dokter spesialis anak umum.

Nah, di antara dokter spesialis anak umum ini, ada juga yang berkesempatan melanjutkan pendidikan subspesialis. Pendidikan subspesialis  ditempuh dalam waktu rerata 2-3 tahun. Jika melihat gelar (K) di belakang SpA, itu adalah singkatan dari Konsultan, dokter anak yang sudah menjalani pendidikan subspesialis.

Subspesialis dokter anak yang ada di Ikatan Dokter Anak Indonesia terbagi dalam 14 bidang:

1. Neonatologi/ Perinatologi
Dokter spesialis anak yang mendalami bidang ini ahli dalam urusan bayi baru lahir. Bayi risiko tinggi, resusitasi (bantu napas) bayi baru lahir, dll.

2. ERIA  (Emergensi dan Rawat Intensif Anak)
Sesuai dengan namanya, dokter spesialis anak ini menangani kasus-kasus pada anak yang membutuhkan perawatan intensif. Anak yang dirawat di PICU (Pediatric Intensive Care Unit) misalnya, akan berada di bawah penanganan mereka.

Tuesday, October 31, 2017

Late Post: DJFM RadioActive

Sejak berkenalan dengan dunia radio 15 tahun lalu sebagai penyiar, sepertinya saya menemukan passion yang benar-benar "saya banget". Benar lho, tanpa dibayar pun, saya akan dengan senang hati tetap bersiaran radio. Di dunia radio pula saya merasa telah belajar banyak hal. Public speaking, contohnya. Saya tidak pernah memiliki background pendidikan baik formal maupun non formal di dunia public speaking, broadcasting ataupun media. Semua yang saya miliki murni berdasarkan pengalaman sebagai praktisi di dunia ini.

Selain menemukan penyeimbang dengan dunia kedokteran yang dapat membuat saya tetap waras tidak stress, radio jugalah yang mengenalkan saya ke banyak pengalaman baru. Kalau ditanya orang "Kamu kok masih siaran aja sih, Met?", saya selalu menjawab kalau siaran radio ini adalah "satu yang tak bisa lepas" untuk saya hehe.

Friday, October 13, 2017

Hello, (Late) October!:p

Heyho! Wow, lama juga ya saya tidak mengupdate blog ini:D Harap maklum, NCIS sudah memulai season barunya, berhubung saya sudah memulai aktivitas sekolah lagi, kegiatan minta ampun deh padat merayap. Menyambi antara mengajar, mengurusi pasien, mengurusi akreditasi rumah sakit, akreditasi perguruan tinggi, praktik di swasta, belajar, mengerjakan tugas sekolah, sampai mendampingi suami dan anak itu ruar biasa rasanya:))

Karena itu, maaf ya kalau saya belum dapat menulis di blog ini secara aktif seperti sebelumnya. Saya janji, begitu ada sedikit waktu luang, pasti saya sempatkan menulis lagi. Eh tapi tema apa sih yang ingin dibaca? Boleh deh email ke saya ya! Sekalian, kalau ada yang punya ide atau masukan apa tema yang pas buat Mommyclopedia seri ke-4, email juga oke!

Oh ya, saya juga sedang sibuk menulis untuk buku Mommyclopedia seri ke-2 dan ke-3 nih! Alhamdulillah, proses penulisan dan pengeditan sudah selesai. Rencananya, yang seri ke-2, "Panduan Lengkap Merawat Batita 1-3 Tahun" akan terbit bulan depan. Sedangkan untuk yang ke-3 (rahasia dulu ya judulnya:p), saya sedang galau. Inginnya sih double release alias di-launching bersamaan. Kenapa? Supaya saya tidak perlu melakukan launching, promo dan kawan-kawannya 2x. Kalau bersamaan kan bisa digabung sekalian:D

Saya sih happy banget sebetulnya melakukan aktivitas apapun terkait buku, masalahnyaaaa adalah -lagi-lagi- keterbatasan waktu:( Seandainya 1 hari bisa lebih dari 24 jam.
#KemudianCurhat:))))

Doakan saya punya kesempatan lebih banyak untuk menulis ya:D





Monday, September 25, 2017

TB pada Anak



Saya sering kedatangan pasien anak dengan keluhan tidak mau makan sehingga berat badannya tak sesuai dengan seharusnya alias gizi kurang/buruk. Sebaliknya, ada pula yang datang dengan keluhan berat badan tak kunjung naik walaupun banyak makannya.
Dari semua pasien ini, percaya atau tidak, setelah diperiksa ternyata banyak yang menderita infeksi tuberculosis atau TB.  Saat saya menyampaikan diagnosis ini, hampir semua orangtua merasa tidak percaya karena merasa anaknya “sehat-sehat saja”. Padahal please note, anak yang gizi kurang (apalagi buruk) atau tidak mau makan BUKANLAH sesuatu yang normal, dan bukan indikasi anak yang “sehat-sehat” saja:D

Sumber: Google
Karena memang kasusnya sering sekali ditemukan, saya akan membahas Frequently Asked Question (FAQ) dari TB pada anak ini ya!

Thursday, September 21, 2017

Mencegah Stunting

Prevention is better than cure
Begitu kata ungkapan. Dalam hal stunting, ungkapan ini betul banget! Jika seorang anak sudah mengalami stunting, maka sifatnya irreversible atau tidak dapat diperbaiki. Padahal, seperti yang sudah dibahas di beberapa tulisan saya sebelumnya (baca juga: tulisan ini, tulisan ini dan ini ya!) , stunting bukan hanya sekadar membuat anak jadi lebih pendek dari potensinya kelak, tapi juga dapat mempengaruhi banyak hal.
Sumber: dari sini


Sumber: https://diningforwomen.org/foodforthought/gardens-for-health-international-2/
Banyak penelitian yang menunjukkan jika anak stunting berhubungan dengan rendahnya prestasi pendidikan, menurunnya lama pendidikan, dan rendahnya pendapatan saat anak tersebut dewasa dibandingkan dengan yang tidak stunting. Anak stunting memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Maka itu, angka stunting di suatu negara dapat dijadikan prediktor buruknya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) karena dapat menurunkan produktivitas suatu bangsa di masa yang akan datang.

Monday, September 11, 2017

BAB Bayi ASIX

Beberapa hari lalu saya diberikan pertanyaan oleh Mommies Daily mengenai BAB pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Saya share di sini yaa:D
Sumber: Google


Apakah benar, pola buang air besar pada bayi akan dipengaruhi oleh usia mereka? Mengapa?
Betul. Hal ini karena komposisi ASI selalu sesuai dengan tahap perkembangan sistem pencernaan bayi sehingga zat makanan mudah dicerna.

Bagaimana frekwensi  BAB bayi yang baru lahir hingga usianya 6 bulan, hingga mengenal MPASI?
Bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium, minimal 1x pada hari pertama. Kemudian bayi BAB minimal 2 di hari ke-dua, minimal 3x di hari ketiga. Setelah itu lebih dari 3x, sampai berusia satu bulan. “Lebih” di sini pun sangat variatif. Ada anak ASIX yang bisa BAB sampai 10x/hari di minggu pertama, ada yang hanya 4x, tapi yang jelas minimal 3x.
Di atas usia 4-6 minggu, bayi ASIX mulai akan jarang BAB-nya, bahkan ada yang sampai 10 hari tidak BAB. Itu pun normal banget.  Selama tidak ada keluhan lain, berat badan naik baik, tidak apa-apa.

Saturday, September 2, 2017

Lagi, Tentang MPASI

Kali ini, saya akan membahas beberapa "kebingungan" yang sering kali dilakukan orangtua berhubungan dengan pemberian MPASI anak. Saya sengaja mengangkat topik ini karena terus terang, sering sekali kebingungan dengan aturan MPASI yang berbeda (dan sedang ngetren) di luar sana (baca: social media). Bingung kenapa? Karena TIDAK JELAS sumbernya:)))) Lebih bingung lagi karena yang tidak jelas sumbernya ini justru yang paling banyak dishare dan diikuti orangtua se-Indonesia.

Perbedaan pendapat sih tak masalah ya menurut saya, karena jangankan orang awam, asosiasi dokter spesialis anak pun di seluruh dunia kadang mengeluarkan rekomendasi yang berbeda. Misalnya saja mengenai kapan pemberian MPASI yang tepat. WHO dan IDAI merekomendasikan tepat di usia 6 bulan, sedangkan ESPGHAN (European Society Pediatric Gastrohepatology and Nutrition) merekomendasikan di antara usia 17 minggu hingga 26 minggu. Lalu yang tepat yang mana? Ya bisa kedua-duanya selama ada bukti ilmiah yang beralasan. Ingat ya, selama ADA BUKTI ILMIAH-nya. 

Friday, September 1, 2017

Kontrasepsi Saat Menyusui


Ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan pada saya oleh Mommies Daily terkait kontrasepsi saat menyusui. Saya share di sini yaa:D
 
Sumber: Google

Sebetulnya (secara umum) menggunakan kontrasepsi saat menyusui aman apa nggak?

Aman kok.

Ada nggak alat kontrasepsi yang disarankan, yang aman digunakan selama ibu menyusui? 
Hampir semua alat kontrasepsi saat menyusui aman. Yang tidak disarankan hanyalah penggunaan pil KB  kombinasi yang mengandung hormon estrogen dan progesteron karena mengurangi produksi ASI. Jika memang mau menggunakan pil, gunakan pil KB yang hanya mengandung progesteron saja karena tidak mempengaruhi produksi ASI. 

Thursday, August 24, 2017

Serba/i MPASI


Kalau diusut dengan teliti, growth faltering alias kenaikan berat badan yang mulai seret biasanya dimulai saat anak memulai masa MPASI. Coba cek Kartu Menuju Sehat milik anak masing-masing deh:D Betul tidak?

Seharusnya anak berusia 7-9 bulan mengalami kenaikan berat sekitar 450 gram/bulan, sementara anak berusia 10-12 bulan sekitar 200-300 gram/bulan.  Namun yang sering terjadi, anak yang mulai makan justru beratnya malah tidak naik atau kalaupun naik, iriiiiit banget.
 
Sumber: Google
Nah kali ini saya akan membahas beberapa hal mengenai MPASI yang sering (sekali!) ditanyakan oleh orangtua. Kalau googling dengan keyword MPASI, banyak tulisan yang menurut saya membingungkan. Yang ini bilang A, yang itu bilang B, yang lain lagi bilang C. Lah yang benar yang mana?

Friday, August 18, 2017

Bolehkah MPASI Diberikan Sebelum 6 Bulan? (Boleh, Tapi...)

Sebetulnya saya agak enggan menulis postingan ini karena merasa useless. Sedih juga kalau melihat ibu-ibu muda millenial kekinian yang entah mengapa sepertinya lebih percaya pada selebriti, blogger, selebgram atau selebtwit dibandingkan dengan dokter spesialis anak. Saya sempat patah hati lho, duh sedih sekali melihatnya, lalu jadi baper. Ada gunanya engga sih saya menulis di blog? #yangnulisgampangbapereaaaa. Namun setelah saya pikir-pikir lagi, walaupun mungkin yang membaca postingan ini hanya segelintir, saya masih bertanggung jawab memberikan edukasi kepada para orangtua dengan benar. Karena, sekali lagi, yang sedang happening dan tren belum tentu yang benar bukan?:D

Beberapa hari terakhir, sosial media sedang diramaikan dengan twit seorang dokter (i assumed he's a surgeon?), kemudian diikuti pula oleh dokter-dokter lain, yang membahas mengenai seorang artis dan pola pemberian makannya kepada sang anak.

Jadi dokter tersebut mengecam sang seleb karena memberikan MPASI terlalu dini pada anaknya, diikuti oleh banyak ibu-ibu muda, yang berakibat banyak kasus operasi terlipatnya usus bayi karena pemberian MPASI terlalu dini.

Oke, kita bahas satu-satu yaaa.

Pertama, apa sih yang dimaksud dengan pemberian MPASI terlalu dini?
Pemberian MPASI dikatakan terlalu dini jika diberikan sebelum 4 bulan.

Thursday, August 17, 2017

Stunting: Bukan Hanya Sekadar Pendek

Menepati janji saya nih pada beberapa pembaca blog, kali ini saya akan membahas lebih dalam lagi mengenai stunting. Sebelumnya, saya sudah pernah membahas stunting pada anak tapi hanya sekilas saja. Semoga berguna untuk buibu dan pakbapak semua yaa:D

Stunting itu apa sih sebetulnya?
Stunting (pendek berdasarkan umur) adalah tinggi badan yang berada di bawah minus 2 standar deviasi (<-2 SD) dari tabel status gizi WHO.

Apa penyebab stunting?

Ada beberapa faktor penyebab stunting, mulai dari malnutrisi dan kurangnya status kesehatan ibu hamil, malnutrisi pada anak akibat praktik pemberian makan yang salah dan juga infeksi.

Mengapa stunting bisa terjadi?
Jadi normalnya, saat bayi naik berat badan sesuai dengan seharusnya, tinggi badan pun akan bertambah. Jika tinggi badan bertambah sesuai dengan seharusnya, demikian pula dengan lingkar kepala sehingga terlihat proporsional. Maha besar Allah dengan segala ciptaanNya. Kebayang engga sih kalau berat badan naik terus, tinggi badan naik terus tapi lingkar kepala engga bertambah? Atau sebaliknya, berat badan engga bertambah tapi tinggi badan naik terus, lingkar kepala naik terus?:D

Nah pada kondisi berat badan yang naik tidak seperti dengan seharusnya atau malah tidak naik-naik, tinggi badan juga tidak akan naik untuk "menjaga" keproporsionalan tubuh. Jika ini terjadi berkepanjangan, jadilah anak akan stunting alias pendek.

Friday, August 11, 2017

Sugeng Rawuh @Konika Yogyakarta

Tahun ini, event ilmiah nasional dokter spesialis anak diadakan di Yogyakarta. Sejak tahun lalu, saya sudah berencana mengikuti acara ini sehingga semua persiapan dilakukan jauh hari sebelumnya. Tadinya sih, saya berencana mengikutkan salah satu penelitian ke acara ini. Namun karena satu dan lain hal, batal deh.

Ada satu hal yang istimewa buat saya. Kebetulan sejak awal tahun ini saya mengikuti Post Graduate course dari Boston University. Acara convocation dan graduation alias wisudanya diadakan bersamaan dengan event KONIKA alias Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak. Sebetulnya KONIKA baru dimulai pada hari Selasa, tanggal 8 Agustus. Tapi karena harus mengikuti convocation dan graduation, jadilah saya sudah berangkat sejak hari Sabtu.

Perjalanan ke Yogya bukan yang pertama kalinya buat saya. Tapi tetap saja rasanya excited! Mungkin karena sudah membayangkan akan bertemu banyak teman yang sudah terpencar ke seluruh penjuru Indonesia ya. Kesempatan nih buat reuni:D

Sabtu sore, saya tiba di Yogya. Sempat stress berat karena pesawat (baling-baling!) bolak/i membuat saya ketakutan. Apalagi saat landing yang seperti terpleset lalu terbanting-_-". Padahal Garuda lho maskapainya. Tahu tidak, saking stressnya, begitu landing saya langsung memesan tiket kereta api online, walaupun sebetulnya saya sudah memegang tiket pulang dengan pesawat yang sama. Daripada stresssssss:))

Saturday, August 5, 2017

Cinta Dia Putri Ayu

Seperti biasa, hari Minggu pagi saya sudah berangkat ke studio radio tempat saya siaran sejak jam 6.15 pagi. Seperti biasa pula, jalan yang saya lewati cukup ramai karena banyak orang menuju ke Car Free Day yang memang tempatnya berdekatan dengan studio. Namun saat tiba, ada yang tak biasa. Tumben-tumbenan, ada beberapa orang yang duduk di sana. Biasanya sih, boro-boro, sampai kelar siaran pun, saya sendirian! :))

Ternyata, yang sudah hadir di sana adalah Putri Ayu! Memang saya terjadwal melakukan interview dengannya. Tapi saya pikir, jadwal interviewnya lebih siang. Biasanya sih, interview baru diadakan di satu jam terakhir siaran saya.

Masih ingat Putri Ayu? Runner up Indonesia Mencari Bakat pertama yang ditayangkan 2010 ini jauh berbeda dengan yang sering saya lihat di televisi waktu itu. Lebih remaja, suara pun lebih matang. Yang pasti sih, sama enaknya hehe. Maklumlah, saat di IMB, Putri masih berusia 13 tahun sedangkan sekarang sudah semester 5!

Friday, August 4, 2017

Travelling Dengan Anak


Berikut ini adalah beberapa pertanyaan dari Jawa Pos yang telah dimuat mengenai melakukan perjalanan atau travelling dengan anak. Semoga berguna ya:)


Sumber: Google


Di usia berapa bulan/tahun anak bisa diajak traveling? Lalu, di usia berapa anak mulai bisa bepergian dengan pesawat?
Sebetulnya tidak ada aturan baku kapan anak sehat dapat diajak travelling atau bepergian dengan pesawat. Banyak juga lho newborn yang baru berusia beberapa hari (dengan catatan sehat) sudah bepergian dengan pesawat. Walaupun begitu, pada umumnya sangat penting untuk mencegah bayi baru lahir terekspos dengan orang banyak karena sistem daya tahan tubuhnya yang masih rentan, Apalagi belum imunisasi kan ya, tinggi risikonya untuk terkena virus atau bakteri yang ada di sekitarnya. Perusahaan penerbangan juga memiliki kebijakan sendiri-sendiri mengenai batas umur bayi boleh dibawa naik pesawat. 

Untuk usia bayi, apakah anak perlu menjalani pemeriksaan dokter lebih dulu sebelum melakukan perjalanan?
Kembali lagi ke aturan perusahaan penerbangan, ada yang mewajibkan bayi di bawah 3 bulan jika ingin terbang membawa surat keterangan sehat dari dokter. Kalaupun tidak, tak ada salahnya memeriksakan bayi untuk meyakinkan bahwa ia sehat sebelum travelling. Selain itu, orangtua pun bisa berkonsultasi mengenai obat-obatan apa saja yang perlu dibawa pada saat travelling.

Apakah ada kondisi yang membuat anak dilarang bepergian? 
Tentunya saat ia sakit. 

Monday, July 31, 2017

Susu Untuk Batita

Ngomongin soal makanan dan minuman pada anak memang tak ada habisnya. Setelah MPASI homemade atau pabrikan, BLW atau konvensional, salah satu yang sering membingungkan orangtua  adalah "Susu formula atau UHT ya? Atau engga usah minum susu sama sekali?". Ini terutama terjadi pada mereka yang tidak lagi mendapat ASI setelah berusia 2 tahun.
Sumber: Google, salah satu kampanye susu di USA.

Apalagi beberapa waktu yang lalu ada ribut-ribut di social media yang menyatakan bahwa "Susu TIDAK wajib untuk anak.", lengkap dengan segala penjelasan bahwa enzim susu sapi justru sulit dicerna manusia dan bisa berakibat buruk pada kesehatan. (Entah berdasar bukti ilmiah atau hanya sekadar "katanya").

Berhubung saya mendapat banyak request dari banyak pembaca blog ini, kita bahas satu-satu yuk! Oh ya, saya tidak punya Conflict of Interest dengan pihak mana pun yaa. Semua murni berdasarkan ilmiah:)

Kenapa sih susu baik untuk anak?
1. Kalsium yang terkandung dalam susu jumlahnya tinggi dan mudah diserap tubuh. Tubuh manusia menggunakan kalsium untuk membangun tulang dan gigi yang kuat, proses ini biasanya mulai menurun saat kita dewasa dan kehilangan massa tulang terjadi sejak itu, terutama pada wanita. Jika asupan makanan/minuman seorang anak tidak mencukupi kebutuhan kalsiumnya, maka kelak mereka berisiko tinggi terkena osteoporosis. Jadi akibatnya tidak akan dirasakan sekarang, tapi jauh ke depan saat anak sudah dewasa.

Sunday, July 23, 2017

Imunisasi MR

Bulan Agustus dan September 2017 mendatang, pemerintah akan megadakan kampanye imunisasi campak dan rubella atau disingkat MR (Measles-Rubella). Apa dan bagaimananya bisa disimak di sini yaa..
Sumber: Kemenkes


1. Apa itu imunisasi MR?
Imunisasi MR atau Measles Rubella adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit campak dan rubella.

2. Apa itu penyakit campak?
Campak adalah penyakit infeksi menular lewat saluran napas yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini sangat menular, dan risiko tertinggi tertular adalah mereka yang belum pernah mendapat imunisasi campak dan rubella atau mereka yang belum pernah menderita penyakit ini.

Campak ditandai dengan demam, ruam, batuk, pilek, dan mata merah berair. Campak dapat menyebabkan komplikasi seperti radang paru, radang otak, gizi buruk hingga kematian. (Untuk lebih detailnya bisa dibaca di sini ya)

Saturday, July 22, 2017

Mengapa Berat Anak Sulit Naik?

Menyambung postingan saya sebelumnya nih mengenai Stunting pada Anak, MPASI Homemade vs Pabrikan, serta Baby Led Weaning vs Konvensional, kali ini saya akan membahas satu masalah yang cukup sensitif bagi orangtua. Apalagi kalau bukan soal berat badan? Biasanya sih yang selalu membuat orangtua (terutama emaknya yeee) galau adalah kalau berat anak tak naik-naik, dan berat emak tak turun-turun. Betul tidak buibuuuu? Ngacung yang merasaaa:))

Memang apa sih penyebab berat badan anak sulit naik?

Sebelumnya, saya mau memberi contoh satu kasus dulu ya supaya lebih mudah dimengerti. Karena yang paling banyak digunakan untuk memonitor pertambahan berat anak di Indonesia adalah KMS (Kartu Menuju Sehat), jadi dalam contoh ini saya pakai KMS. Btw kalau tidak punya, bisa di-download gratis kok.

Misalnya nih, ada bayi perempuan bernama Bunga (bukan nama sebenarnya:p) berusia 4 bulan yang berat badannya begini saat diplot di KMS. Sekilas, baik-baik saja ya? Kan engga sampai memotong garis merah? Mufakaaaaat?

Friday, July 21, 2017

Klarifikasi: Stunting pada Anak

Saya menulis postingan ini gegara mendapat banyak respons dari orangtua yang baper setelah membaca tulisan sebelumnya.  Ada yang merasa tersinggung karena merasa saya men-judge orangtua dengan anak kurus atau pendek sebagai orangtua yang abai, tidak memberikan makanan bergizi cukup. Ada lagi yang sampai mengira saya suudzon kepada orangtua tersebut sebagai orangtua yang tidak peduli pada anak. Ada pula yang "menuduh" saya menulis tulisan tadi supaya lebih banyak pasien yang datang ke praktik pribadi saya. (Duh, kok bisa sampai ada yang berpikir begitu ya, heran juga).

Sebetulnya lebih banyak yang merespon positif sih. Hanya segelintir saja merespon seperti yang saya tulis di atas. Tapi, saya jadi merasa tak nyaman hehe.
 
Sejujurnya, saya sendiri tidak menyangka sama sekali kalau tulisan saya akan menjadi viral. Saya mendapat banyak sekali respon setelahnya. Begini ya, saya tidak dalam kapasitas untuk men-judge apalagi menyinggung orangtua yang memiliki anak kurus atau pendek. Percayalah, saya sebagai seorang ibu pun pernah melakukan hal yang sama.

Thursday, July 20, 2017

Baby Led Weaning VS Responsive Feeding

Pernah mendengar istilah Baby Led Weaning alias BLW? Saya yakin kalau istilah ini tak asing untuk para emak, apalagi yang anaknya sudah menjalani masa MPASI. Sejak diperkenalkan sekitar 2008 lalu, BLW memang menjadi salah satu cara pemberian MPASI pada anak yang cukup populer. Apalagi di Indonesia banyak anak selebriti yang menjalani masa MPASI-nya menggunakan BLW.

Apa sih BLW itu? BLW merupakan suatu metode yang diperkenalkan oleh Gill Rapley dan Tracey Murkett dengan membiarkan bayi untuk memimpin seluruh proses, menggunakan naluri, dan kemampuan mereka dalam hal menangani makanan. Sederhananya, sejak awal mendapat MPASI, bayi dibiarkan mengeksplorasi makanannya, termasuk memutuskan sendiri seberapa banyak yang akan ia makan. Tidak ada aktivitas suap-menyuap oleh orang tua/pengasuh. Makanan yang diberikan pun tidak berupa bubur/puree tapi langsung dalam bentuk finger food (yang bisa dipegang oleh tangan bayi).

Gampangannya begini deh, kalau pemberian MPASI dengan metode konvensional kan bayi diperkenalkan dengan makanan lunak dulu kemudian perlahan-lahan teksturnya dinaikkan tingkat kekasarannya. Pada BLW, bayi diberikan potongan makanan lunak dalam bentuk dan ukuran yang dapat ia pegang sendiri (misalnya wortel kukus atau brokoli kukus). Sementara itu, jika pada metode konvensional bayi disuapi dan didampingi oleh orangtua, pada BLW, bayi dipersilakan mengeksplorasi makanannya sendiri. Bayi sendirilah yang menentukan mulai berapa banyak yang ia makan sampai berapa lama waktu makannya.

Wednesday, July 19, 2017

MPASI: Homemade atau Pabrikan?

Salah satu issue di dunia emak-emak yang tak kunjung padam -dikata api:p- adalah masalah MPASI. Sepanjang saya menjadi dokter, salah satu masa dimana emak-emak kompak galau berjamaah adalah saat anaknya memulai masa MPASI. Saya juga kok:p

Beberapa waktu sebelum masa MPASI mulai deh mencari-cari informasi. Mau dikasih makan apa ya? Lalu gegara Googling, malah tambah galau. Yasalaaam, ada yang bilang harus diberi sayur dululah, ada yang karbo dululah, ada yang buah dulu. Belum hilang bingungnya, eh ada lagi yang namanya Baby-Led-Weaning-lah, Responsive Feeding-lah. Ada pula yang bilang MPASI homemade lebih baik daripada MPASI pabrikan. Terus yang benar yang mana? Harus pilih yang mana?

Betul tidak?:p

Kali ini, saya akan memfokuskan menulis postingan mengenai MPASI homemade dan pabrikan yaa. Sisanya nanti saya bahas di postingan selanjutnya. Oh ya, saya tidak punya Conflict of Interest dengan pihak manapun, semua yang saya tulis murni berdasarkan Evidence Based atau ilmiah. Beberapa tahun lalu saat Naya mulai MPASI, saya pun melakukan beberapa kesalahan (yang baru saya ketahui sekarang setelah mendalami ilmu nutrisi pada anak). Saya menulis ini karena ingin sharing pada banyak ibu yang saya yakin sama galaunya dengan saya waktu anak memulai masa MPASI. Alasan itu pulalah yang membuat saya menulis Mommyclopedia.

Tahu tidak sih kenapa saat ini direkomendasikan anak mendapat MPASI sejak usia 6 bulan? Salah satu jawabannya adalah karena pada usia 6 bulan tersebutlah, saluran cerna anak mulai siap. Tapi ada juga alasan lainnya.


Tuesday, July 18, 2017

Stunting pada Anak


Akhir-akhir ini, saya sering merasa gemas melihat semakin banyak anak yang mengalami gizi kurang, bahkan gizi buruk. Kalau beberapa waktu lalu anak dengan gizi kurang atau gizi buruk kebanyakan diderita mereka dari kalangan menengah ke bawah, sekarang yang dari kalangan menengah ke atas pun banyak lho! Tapi yang lebih banyak lagi saat ini adalah anak yang stunting atau pendek.
Sumber: Google

Yang membuat saya lebih “gemas” lagi adalah “pembenaran” yang sering kali terdengar dari orangtuanya.

“Ya maklumlah dok, anak ini aktifnya bukan main. Lari ke sana, lompat ke sini, tak ada diamnya. Wajar kalau badannya jadi terlihat langsing”

“Habis bapak ibunya juga kecil begini dok, yaa gimana dong hehe”

Monday, July 17, 2017

Luka Lebam pada Anak

Beberapa waktu lalu saya mendapat pertanyaan dari Mommies Daily terkait postingan yang sedang viral di social media mengenai pasien anak yang datang dengan luka lebam di area mata. Sudah merah kehitaman, terasa lembut, bengkak dan berwarna hitam. Ibu pasien tadi langsung memberikan Thrombophop begitu anak terbentur. Benarkah ini?
 
Sumber: Google
1.   Ketika anak luka lebam akibat terbentur, apa yang sebenarnya terjadi pada area yang terbentur itu? 
Luka lebam sebenarnya adalah bercak kebiruan atau berwarna ungu yang muncul di kulit saat pembuluh darah kapiler pecah. Darah dari kapiler ini bocor ke jaringan lunak di bawah kulit yang menyebabkan perubahan warna. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...