Thursday, January 30, 2014

Soe Day-2

Hari ini kami bertiga bangun agak telat, well setidaknya lebih telat dari hari sebelumnya. Kalau kemarin saya sudah melek jam 4 pagi, hari ini saya baru bangun jam 5 pagi. Angin di Soe kencang sekali, terutama di waktu malam. Bahkan jemuran saya sempat "menghilang":))) Untung tidak dimakan anjing lewat:p

Sekitar pukul 7 pagi, kami bertiga pergi ke pusat kota Soe untuk berbelanja di pasar. Sebagai satu-satunya cewek, saya yang bertanggungjawab memegang uang dan mencatat segala kebutuhan kami. Kami pikir, pasar sudah penuh orang karena sudah cukup siang. Ternyata, boro-boro, buka saja belum:))) Di perjalanan kami melihat banyak anak sekolah yang baru mau berangkat. Setelah bertanya ke penduduk setempat, umumnya kegiatan di Soe memang baru dimulai pukul 9 pagi. Sekolah saja masuk jam 8 pagi. #eaaaaaa kecele deh!

Pasien yang dirawat di bagian saya tidak begitu banyak. Kebanyakan diare, sesak atau panas karena malaria dan demam berdarah. Ada satu pasien yang kondisinya cukup jelek. Bayi perempuan berusia 2 bulan, berat badan 2 kg dibawa ibunya karena panas dan kejang. Setelah saya tanya, berat lahir bayi ini 2,7 kg. Rupanya karena tidak punya biaya, dan ASI tidak keluar -menurut ibu-, bayi ini hanya diberi air santan. Sedih ya:( Air santan itu apa ya isinya? :(

Anyway, setelah semua urusan rumah sakit selesai, kami bertiga pergi kembali ke pasar. Pasar di Soe hampir sama dengan kebanyakan pasar di pulau Jawa. Hanya saja, yang menarik perhatian saya adalah di semua penjual, ada satu yang selalu ada. Sirih pinang. Orang di Soe memang suka sekali mengunyah sirih pinang. Bukan hanya orang tua lho! Yang muda, pria wanita, semua suka sirih pinang.

Ini dia foto kami saat menjelajah kota Soe;)

Wednesday, January 29, 2014

Hello, Soe!

Begitu mengetahui kalau selama sebulan akan ditugaskan di Soe, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, saya sedih luar biasa. Bukan apa-apa, saya sedih karena harus berpisah sekian lama dengan Naya. Inginnya sih mengajak Naya seperti dinas luar saya yang sebelumnya, tapi karena di Soe banyak sekali malaria, dan lokasinya yang cukup jauh, saya mengurungkan niat tadi.

Saya berangkat pukul 8 pagi dari rumah diantar Naya. Di perjalanan, Naya ceria sekali, tak henti bernyanyi dan menari. Begitu sampai airport, saya berpamitan dengannya, Naya mulai rewel. "Mau ikut mamaaaa!" Begitu tangisnya.

"Kak, Soe itu jauuuuh sekali. Ada nyamuk jahat, nanti kakak bisa sakit kalau ketemu nyamuknya. Terus di sana engga ada apa-apa. Kakak engga bisa sekolah, engga bisa balet, engga bisa les piano. Kakak di rumah aja ya." Ujar saya berusaha menenangkan.

"Engga apa-apaaaa! Pokoknya sama mamaaaa!" Kemudian pecahlah tangisnya. Hati saya seakan ditarik-tarik, sediiih banget. Saya berusaha menahan air mata, dan segera pergi untuk check in.
Sedih sekali ya rasanya meninggalkan anak itu:( Kalau bukan karena tugas, engga lagi-lagi deh!

Anyway, saya berangkat ke Soe bersama dua orang teman. Saya sebagai dokter anak, Faisal sebagai dokter anestesi dan mas Yusuf sebagai dokter Obgyn. Faisal adalah teman satu angkatan saya waktu kuliah dulu. Bahkan, kami bolak-balik satu kelompok saat ko-ass dulu. Sementara mas Yusuf adalah teman baik suami saya. Alhamdulillah, semuanya baik, sangat membantu dan asyik;)

Perjalanan ke Kupang ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan pesawat. Karena cuaca yang buruk akhir-akhir ini, pihak rumah sakit membelikan kami pesawat Garuda Indonesia. -Yaaay!_ Walaupun begitu, tetap saja saya deg-degan setengah mati saat terbang. Penerbangannya termasuk dibumbui banyak goncangan yang sukses membuat saya keringat dingin:@

Kami tiba di Kupang tepat pada waktunya. Udara Kupang ternyata panas, hampir sepanas Surabaya. Bandara El Tari sedang direnovasi sehingga agak sulit menemukan spot nyaman untuk menunggu jemputan. Setelah menunggu hampir sejam, kami dijemput oleh pak Dan, supir rumah sakit. Ternyataaaaa.. guncangan di pesawat belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjalanan Kupang-Soe selama kurang lebih 2.5 jam. Jalan yang curam berliku-liku serta menanjak membuat saya mabuk. Ingin segera sampai agar tidak perlu merasakan jalan itu. Asli deh, saya mabuuuuk! Di sepanjang perjalanan, berkeliaran sapi, babi hutan, anjing, kambing dan segala hewan lain. Saya bahkan sempat melihat 2 burung elang lho!
Saya kedinginan bgt tuh, keliatan kan?:p

Udara Soe cukup dingin menusuk. Saya hampir malas mandi karena airnya dingiiiin sekali. Tapi karena perjalanan jauh yang banyak membuat berkeringat, masa iya engga mandi sih?:p

Oh ya, saya cukup senang begitu mengetahui saya masih bisa internetan! YAY! SUPER YAYYY!
Alhamdulillaaaah. Terimakasih Telkomsel! Saya bela-belain ganti nomor lho demi bisa dapat sinyal:D

Begitu sampai, saya menyempatkan diri melihat pasien yang sedang dirawat. Kebetulan, full semua. Saya agak shocked juga mendengar kalau di rumah sakit yang termasuk besar di NTT ini, oksigen habis, obat ini itu tidak ada, darah untuk transfusi tidak ada, alat foto rontgen rusak, alat pemeriksaan laboratorium rusak -hanya bisa cek darah lengkap saja-, inkubator rusak, dan seterusnya dan seterusnya. Bingung juga jadinya. Di Surabaya, saya terbiasa bekerja dengan segala fasilitas pemeriksaan penunjang yang lengkap. Sepertinya, saya harus membiasakan diri bekerja dengan fasilitas seadanya. Harus kreatif.
Tim kami VS tim yang kami gantikan;)
Makan malam bersama

Pasien di sini kebanyakan datang dalam keadaan yang sudah sangat jelek. Konon katanya, kalau belum jelek mereka belum akan berobat ke dokter. Dukun masih menjadi pilihan pertama bagi mereka. Yang agak "aneh" buat saya adalah salah satu kebiasaan masyarakat sini "memanggang" bayi mereka. Jadi, karena cuaca yang dingin, apabila ada bayi baru lahir, akan dihangatkan -menurut saya sih dipanaskan ya:p- dengan membakar kayu dan arang di bawah dipan bayi. Jangan heran kalau datang bayi dengan luka bakar di punggung, panas tinggi karena dehidrasi, atau sesak sampai radang paru karena "terpaksa" menghirup asap sisa pembakaran.

Selain itu, diare pun masih menjadi kasus terbanyak. Hygiene masyarakat sini sangat kurang terjaga. Tidak mandi -mungkin karena air bersih sulit-, kuku yang hitam, atau daki yang menumpuk bukan pemandangan aneh di sini. Saya masih berusaha mengedukasi nih. Tapi mungkin karena faktor bahasa, suliiiiit sekali.

Masyarakat sekitar sini sangat ramah. Menyenangkan deh!:)

Nanti akan saya update beserta foto-fotonya yaaa!

Di Tabloid Mom and Kiddie


Seperti yang pernah saya janjikan sebelumnya, ini adalah versi lengkap dari tulisan mengenai saya di tabloid Mom and Kiddie. Sekali lagi, thank you Mom and Kiddie!:)

Monday, January 27, 2014

Galau to the Max

Halo! Lumayan lama juga ya saya engga mengupdate blog. Pada kangen yaaa hayoooo:p #pede
Saya emang lagi rempong kelas berat nih! Jadi ceritanya saya baru tau kalau akhir bulan ini -mulai tanggal 28 tepatnya- saya ditugaskan ke luar kota. Bukaaan, bukan ke Balung lagi, ini malah lebih jauh, luar pulau, di kota Soe, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.

Awalnya saya berencana memboyong Naya. Tetapi begitu tau kalau di sana sulit air bersih -kata teman yang sudah duluan ke sana, untuk mandi saja kami harus beli air-, cuacanya sangat dingin, dan banyak anjing serta babi hutan berkeliaran, saya mengurungkan niat tadi. Apalagi, daerah sana adalah daerah endemis malaria. Duh, ya sudahlah, engga usah bawa Naya.

Karena itu, saya jadi ribet mempersiapkan semuanya. Saya harus mengurus ganti provider telepon karena konon hanya Telkomsel yang mendapat sinyal di sana. Demikian pula dengan internet, saya survey dulu beberapa penyedia layanan internet yang mana kira-kira yang dapat dipakai disana. Semoga bisa yaaa.. Bayangkan kalau tidak ada:@

Berhubung ternyata -kebetulan- pak suami pun harus berdinas ke luar kota-eh luar negeri malah-saya harus meminta bantuan mama saya jauh-jauh dari Bandung. Alhamdulillah, beliau bersedia. Selain itu saya juga sibuk menyiapkan uang untuk gaji babysitter, ART, supir, uang belanja, uang untuk air minum isi ulang sampai ke uang iuran satpam. Semua saya masukkan ke dalam amplop bersegel yang ditulisi tanggal berapa harus diberikan, dan kepada siapa harus diberikan. Saya juga belanja besar demi memenuhi kulkas dengan kebutuhan satu bulan.

Bukan itu saja, karena saya masih dalam proses penelitian, saya pun harus mengkader orang yang saya beri kuasa untuk mengambil sampel dan membawanya ke laboratorium. Selain itu, saya memulai menganalisis data yang ada agar bisa saya kerjakan di Soe. Rempong kan?

Oh ya, satu lagi yang ketinggalan. Karena rencananya saya baru pulang awal Maret, saya harus menyelesaikan segala urusan booking membooking, pesan memesan untuk keperluan perayaan ulangtahun Naya. Uhuk, pantes dong ya sampai engga sempat update blog? *alesan* :p

Anyway, saya galau dan mellow kelas berat nih karena harus meninggalkan Naya selama sebulan penuh. Hiks, bahkan membayangkan harus berjauhan saja sudah membuat saya kangen:'(

Besok pagi saya akan berangkat ke Soe melalui NTT. Doakan selamat dan lancar di perjalanan ya!

Anyway, sudah baca tabloid Mom and Kiddie terbaru belum? Ada saya lho disana! Dua halaman! Waaaa... setidaknya bisa jadi sedikit pelipur lara;) Nanti kalau sudah dapat versi pdfnya pasti saya upload.

Terimakasih ya Mom and Kiddie:*

Friday, January 17, 2014

Belajar Melupakan

Men forget but never forgive.
Women forgive but never forget.
Benarkah?
Mungkin ya. Saya termasuk orang yang gampang sekali memaafkan. Allah saja maha pemaaf, masa saya-yang-bukan-siapa-siapa- tidak mau memaafkan orang lain? Lagipula, saya yakin sebagai manusia, saya pun pasti punya banyak salah, dan ingin dimaafkan. Makanya, sefatal apapun kesalahan orang terhadap saya, sesakit hati apapun saya, saya akan selalu berusaha memaafkan.

Tapi tidak untuk melupakan;)
Walaupun sesungguhnya saya ingin sekali, tapi ternyata melupakan tidaklah segampang itu.

Beberapa minggu belakangan, nasib mempertemukan kembali saya dengan seseorang yang pernah membuat saya sakit hati. Perlu diingat, saya engga gampang sakit hati lho! Karena teman saya berasal dari segala macam lingkungan, toleransi saya terhadap perbedaan sangat besar. Jadi kalau sekadar omongan kasar, canda yang mungkin salah tempat, saya masih bisalah menolerir.

Lain halnya kalau sampai membawa-bawa keluarga saya atau keyakinan. Apalagi sampai memfitnah kemana-mana yang membuat nama saya tercoreng. Saya bahkan engga tahu lho apa kesalahan saya sampai orang ini segitu bencinya pada saya. Saya introspeksi diri, tanya sana sini, tetap tidak terjawab kenapa.Inginnya sih tanya langsung, tapi bagaimana bisa, berpapasan dengan saya saja sudah membuang muka.

Anyway, setahun yang lalu,seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sudah memaafkan orang tadi. Saya sudah moved on. Saya yakin gusti Allah mbonten sare. Semua ada perhitungannya sendiri kelak. Daripada saya rempong ngurusi orang yang bikin saya sakit hati, lebih baik saya fokus pada kebaikan dan self-improvement.

Tapi sejujurnya, saya engga bisa melupakan apa yang dia perbuat pada saya. Semua kata-katanya, fitnahnya pada saya, perbuatannya kembali mengalir deras di ingatan. Saya ingat semuanya, detail. Walaupun sudah memaafkan, saya akui saya masih sakit hati. Apalagi saat ini, segala perilakunya yang membuat saya sakit hati dulu, diulang kembali.

Saya sudah memaafkan orang ini, untuk yang kedua kalinya. Hanya saja, masih sulit bagi saya untuk melupakan. Saya masih belajar bagaimana caranya. I hope i'll find a way. Soon:)

Sunday, January 12, 2014

Televisi Buat Naya

Jauh sebelum Naya lahir, saya sudah berniat untuk tidak mengenalkan televisi padanya. Bukan karena saya anti, lho! In fact, sewaktu kecil dulu saya suka menonton televisi. Saya mengikuti sinetron Keluarga Cemara, tayangan musik Tralala Trilili, Cilukba, Bagito Show sampai ke acara Album Minggu Kita. Bahkan, dari televisilah saya mengenal bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Thanks to Sesame Street and Xuxa! (Inget engga sih acara ini?). Saya engga pernah ketinggalan menonton sitkom semacam Cosby Show, Growing Pains atau Saved by The Bell. Tontonan ini pun yang melatih spelling serta pronounciation bahasa Inggris saya. Jadi bisa dibilang televisi berpengaruh cukup besar untuk kehidupan saya.

Hanya saja, saya menyadari jaman saya kecil dulu sangat berbeda dengan jaman sekarang. Menurut saya, tontonan televisi sekarang sudah sangat "kebablasan". Saya ingat, jaman dulu, sensor tayangan televisi ketat banget. Dibawah jam 10 malam, bisa dipastikan tidak ada adegan yang tidak pantas ditonton anak dibawah umur. Sekarang?

Mulai pagi sampai malam isinya infotainment yang memberitakan artis ini selingkuh dengan pejabat itu, artis itu berantem sampai cakar-cakaran sama seleb ini, video mesum pejabat dengan penyanyi ini, dan seterusnya. Kalau bukan infotainment, sinetron pun sami mawon. Yang settingnya di sekolah memperlihatkan seragam kurang bahan dengan dandanan masa-sih-anak-sekolah-dandan-kayak-tante-tante-begitu?-saya-aja-yang-udah-emak-emak-engga-pernah-dandan-menor-gitu. Belum lagi biasanya ceritanya pun bisa ditebak. Si kaya raya yang cantik nan jutek mem-bully anak lain yang tak populer. Yang settingnya di klub malam memperlihatkan baju seksi dengan musik jedang-jedung, merokok, minum minuman keras, mabuk, lalu berantem terus pingsan. Yang settingnya percintaan, pasti mengikutkan adegan mata melotot *zoom-in zoom-out close up* lalu dengan sepenuh tenaga mencoba "mematikan" tokoh utama sampai "pura-pura" kecelakaan terus amnesia.

Lain sinetron lain pula tayangan komedi. Hampir tidak pernah saya melihat tayangan komedi Indonesia di televisi yang menjual kekuatan script. Sepertinya semua menjual slapstick yang -sorry to say- norak. Ledek-ledekan antar pengisi acara, menyerempet fisik atau seks sampai dorong-dorongan, lempar-lemparan tepung, joget engga jelas dan mengerjai sesama pengisi acara.

Sejujurnya, saya engga pengin Naya "terinspirasi" dari salah satu acara tadi. Ada seorang teman yang bilang saya lebay. Katanya, banyak juga kok acara televisi yang "aman" untuk anak, misalnya saja tayangan kartun yang ditayangkan hari Minggu pagi. Masalahnya, mungkin saja tayangan kartun itu sendiri terbilang aman. Tapi, apakah ada yang bisa menjamin iklan yang ditayangkan disela acara tadi juga aman?:D

Contoh nih, saya pernah punya pasien berusia 4 tahun yang datang berobat karena batuk. Saat saya larang ia makan cokelat terlalu banyak, balasannya adalah "MASBULOH? Masalah buat loooh?"

Saya kaget. Lebih kaget lagi saat ternyata orangtuanya justru merasa bangga karena si anak terdengar lucu dan menggemaskan, karena mengikuti televisi masa kini.  Entah ya, pendapat saya bisa saja berbeda dengan yang lain. Tapi saya sangat berharap Naya tidak akan pernah seperti ini.

Contoh lain, dari pasien saya juga. Seorang anak lelaki berusia 5 tahun bersama adiknya yang berusia 3 tahun. Orangtua mereka cukup ketat mengawasi tontonan televisi. Waktu itu si kakak dan adik berdua sama-sama sakit batuk. Karena rajin dan pintar minum obatnya, saat kontrol beberapa hari kemudian, sang adik sudah sembuh. Sementara si kakak yang sulit minta ampun minum obat masih saja batuk. Saya bilang ke si kakak, "Wah adik pintar ya minum obatnya. Hebat tuh adiknya!Mas juga harus pintar kayak adik dong." Tau jawabannya apa? "Terus? Gue musti koprol sambil bilang WOW gituuuh?"

Setelahnya saya baru tahu kalau si kakak meniru iklan di televisi. Walaupun ayah ibu sudah membatasi tayangan yang boleh ditonton, tapi iklan kan tidak bisa dikontrol bukan?:D

Saya memang sangat protektif terhadap Naya soal televisi. Saya masih engga rela kalau Naya menirukan goyang Caesar biarpun lagi beken sedunia, sambil menyanyikan lagunya yang berkonotasi negatif itu. Atau goyang itik. Atau goyang ngebor. Atau goyang gergaji. Atau goyang nyangkul *ada ga sih?:p*. Saya juga engga rela Naya menirukan lagu Cherrybelle atau gaya Chibi-chibi yang konon jadi idola anak-anak se-Indonesia. Coba didengarkan deh itu liriknya Cherrybelle. Suka-sukaan dan cinta-cintaan lho! Saya lebih engga rela lagi kalau Naya tetiba menyelipkan kata-kata semacam "Masbuloooh?" atau "Gue musti koprol sambil bilang WOW gituuuh?" atau apalah di percakapan kami. NO, thanks. Biarlah Naya dicap engga gaul daripada gaulnya "kebablasan"-menurut saya-.

Di rumah, kami hanya punya 2 pesawat televisi. Satu di kamar saya dan suami (Naya tidur di kamar lain) yang hanya menyala setelah Naya tidur. Satu lagi di kamar ART yang jauh dari jangkauan Naya. Saya yakin Naya tidak akan betah di kamar ART karena panas, sementara Naya anak kutub:p

Bagaimana dengan tv kabel?

Semenjak Naya berusia 19 bulan, saya mulai memperkenalkan tayangan televisi kabel padanya. Itu pun saya pilih sendiri. Pilihan saya jatuh pada si beruang Oso. Menurut saya ceritanya baik, dikemas menarik, dan yang paling penting, alurnya sederhana untuk dimengerti Naya. Saya temani Naya menonton televisi. Saya yakin, di umur segitu, Naya masih belum mengerti benar apa yang dia lihat atau bagaimana ceritanya. Disitulah peran saya. Saya dampingi Naya sambil ikut bercerita. "Nah itu Oso kak. Dia itu suka membantu. Yang cowok tadi namanya David. Dia engga bisa pakai sepatu sendiri. Mamanya pergi. Oso yang bantu. Caranya gampang. Pertama, buka tali sepatu. Kedua, masukkan kaki ke sepatu, yang ketiga, talinya disimpul. Warnanya apa tuh sepatunya?" dst dst dst.

Jadi, saya engga semata-mata "menitipkan" Naya pada televisi agar saya bisa mengerjakan hal lain. Saya menjadikan televisi sebagai salah satu sarana untuk menstimulasi Naya. Percaya engga, dari sekian banyak pasien speech delay alias terlambat bicara, hampir sebagian besar "dititipkan" pada televisi saat pengasuhnya mengerjakan sesuatu. "Biar anteng engga ngeganggu neneknya masak." atau "Biar engga ngacak-ngacak rumah", "Biar engga manjet-manjet, takut jatuh." Padahal, justru ngacak-ngacak rumah atau manjet-manjet itulah stimulasi terbaik tumbuh kembang anak, bukan anteng menonton televisi;)

Mungkin karena engga terbiasa, Naya engga begitu suka menonton televisi. Waktu 19 bulan itu, paling lama 10 menit Naya bisa bertahan di depan televisi. (Padahal rencana saya menjatah 30 menit lho!). Pernah juga ada periode dimana Naya enggan menonton televisi sama sekali. Seperti sekarang. Naya lebih suka membaca buku daripada menonton televisi.

Konsekuensinya buat saya pribadi nih, saya jadi engga gaul:p Engga mengerti gosip terbaru, engga tahu kata-kata gaul atau selebritis baru. Untunglah semua bisa dikompensasi berkat social media. Twitter, Path atau Facebook masih jadi "sumber berita" saya sampai sekarang:p Saya menonton televisi di malam hari, hanya mengikuti American's Next Top Model, How I Met Your Mother sama CSI. Semuanya diputar malam hari untungnya:p

Menurut saya, salah satu keputusan terbaik saya setelah menjadi orangtua adalah tidak memperkenalkan televisi pada Naya:)

Tuesday, January 7, 2014

Update Soal Naya

Update-an pertama soal Naya di tahun 2014 nih!

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, sampai saat ini pun Naya masih enggan bermain. Segala macam jenis permainan sudah saya tawarkan, tapi sepertinya tidak ada yang berhasil menarik hati Naya. Masak-masakan, salon-salonan, dokter-dokteran, rumah-rumahan, jual-jualan, apa sajalah, engga mau!:'( Saya pun kayaknya sudah masuk dalam tahap desperado dan pasrah. Ya sudahlah nak kalau engga mau main juga engga apa-apa. Alhamdulillah irit engga beli mainan. Tapi kok tetep minta beli buku yang mahal-mahal:'(.

Naya juga masih enggan bermain dengan teman sebaya. Setiap ada anak kecil yang usianya sepantaran, Naya pasti acuh.
Meta: "Kak, itu lho temennya diajak main."
Naya: "Engga ah, itu masih kecil ma."
-_______-"
Naya hanya mau bermain dengan orang dewasa, atau sepupunya yang sering bermain sejak dulu.

Oh ya, di umur yang ke 2 tahun 8 bulan ini, Naya sudah bisa baca dan menulis lho! Sebenarnya saya engga niat-niat banget ngajarin Naya baca dan nulis karena saya merasa belum waktunya. Tapi, Naya merengek terus minta diajarkan, akhirnya saya asal saja mengajarnya. Kaget banget, karena dalam waktu singkat, Naya langsung bisa. Entah ada hubungannya atau tidak, tapi saya sendiri dulu bisa membaca di usia 2,5 tahun menurut mama. Itu pun karena sering mendengar mama saya mengajari kakak membaca.

Gegara sudah bisa membaca dan menulis itulah, saya jadi kelimpungan. Bagaimana tidak, semua buku-buku saya, jurnal, paper ilmiah yang setengah mati saya buat ditulisi besar-besar "NAYA" oleh si unyil.
Meta: "Kakak! Kenapa kakak Aya namain semua buku mama?"
Naya: "Bial engga ilang di lumah sakit ma bukunya mama."
Meta: "Lho, tapi kan nama mama Meta. Bukan Naya."
Naya: "Tapi kan temen-temennya mama pasti tau semua nama anaknya mama Naya."
Meta: *antara mangkel sama pengin ngakak*

Selain itu, Naya juga suka sekali membaca apapun di jalanan. Jadi jangan heran kalau dia bertanya mulai dari "Mama, caleg itu apa?", sampai "Mama, itu lho disana ada toko Makmul". Kalau "cuma" itu sih saya masih engga terlalu ambil pusing. Tapi kalau seperti pagi ini-->

Suatu pagi, saya masih di tempat tidur, belum juga terkumpul nyawa sehabis bangun tidur. Tiba-tiba, Naya masuk kamar dan setengah berteriak bertanya:
Naya: " Mamaaa! Seks itu apa sih?"
Meta: *keselek guling* *langsung lompat* *mata langsung nyala*
           *sok cool* Ehm... kakak Naya tau dari mana?"
Naya: "Itu ada di majalah mama.
Meta: "Oh. Artinya jenis kelamin kak. Mama cewek, kakak cewek, papa cowok."
Naya: "Kalau kelamin apa artinya?"
-____________-" (Dan habislah niatan saya berleha-leha sejenak di kasur)

 Sejak itu, saya berusaha meletakkan segala macam jenis bacaan jauh-jauh dari Naya.

Naya juga sangat teratur, jauuuuuh banget dari saya atau bapaknya. Entah siapa yang menginspirasinya. Naya hapal sekali dimana barang-barang miliknya diletakkan. Seandainya kita meletakkan bukan di tempat seharusnya, anak gadis saya ini bakal engga berhenti ngomel.

Naya: "Mama! Sepatu itu mustinya ditaruh dimana? Boleh engga kalau ditaruh di depan pintu?"
Meta: "Iya kak. Maaf ya, mama lupa tadi buru-buru."
Naya: "Iya, jangan diulang lagi ya. Sepatu itu harus ditaruh di rak." *ngintil bawa sepatu emak ke rak*

Naya juga concern banget mengatur lemari dan raknya. Lemari bukunya diatur sesuai alfabet. Lemari baju harus diatur sesuai warna, atau gambar atau entah apalagi terserah moodnya. Agak rempong yak?-_-"

Berikut beberapa percakapan saya dengan Naya.

Saat saya sedang bermalas-malasan di kamar.
Naya: "Mama lagi ngapain?"
Meta: "Engga lagi ngapa-ngapain kak. Males-malesan aja."
Naya: Ih! Mama jangan males-malesan. Nanti sekolahnya engga pintal. Nanti engga dapet stikel. Ayo mama belajal sekalang!" *Narik emak ke meja belajar*
*JLEB*

Atau:
Naya: "Mama! Kenapa baju mama kok belantakan sekali begini? Halusnya dilipat dong. Kalau sudah engga dipakai, masukkan kelanjang baju kotol." *Ngomel sambil bawa baju emak ke keranjang baju kotor*
Emak: *Terharu dan seneng ada asisten baru, gratisan pula:p*--> emak engga tau malu:))

Kalau ditilik-tilik, kok kayak kebalik ya anak sama emak:p *malu*

Naya suka memakai kata-kata advanced dalam omongannya. Saya juga engga tahu Naya denger darimana. FYI, di rumah saya engga ada televisi selain di kamar, yang hanya nyala setelah Naya tidur. ART dan babysitter pun rasanya bahkan engga tahu arti kata-kata tsb. Entahlah, Masih misteri buat saya:D

Naya: "Mama, papa pulang jam berapa?"
Meta: "Jam 9 malem ntar kak."
Naya: "Mama udah kalifikasi ke papa?"
Meta *Kaget* "Apa kak?"
Naya: "KALIFIKASI ma."
Meta: "Apa itu artinya kak?"
Naya: "Masa mama engga tau? Kalifikasi itu mama nanya ke papa benel engga pulang jam segitu. Gitu lhoooo ma!"
Meta: "Kakak Naya tau dari mana?"
Naya: "Itu kata-kata biasa aja kok ma, sedelhana aja."
Meta: -___________________-"

Berikut saya sertakan video waktu Naya belajar baca beberapa saat lalu.:D
video

I love you Nayooo!:*

Monday, January 6, 2014

Giveaway di Goodreads:)

Halo, saya lagi ngadain giveaway nih! Ada 2 buku "Dont Worry to be a Mommy!" yag bakal saya bagiin, plus merchandisenya. Caranya gampang banget, tinggal klik link ini aja:


https://www.goodreads.com/giveaway/show/76569-don-t-worry-to-be-a-mommy

terus klik "Enter to win". Selesai deh:D

Ditunggu sampai 25 Januari 2014 yaaa, good luck!

Di Good Housekeeping Indonesia

Yay! Resensi di awal tahun 2014:)

"Dont Worry to be a Mommy!" di majalah Good Housekeeping Indonesia edisi Januari 2014. Thank you, Good Housekeeping!


Thursday, January 2, 2014

Merry Christmas and Happy New Year:)

Walaupun telat, ijinkan saya dan keluarga mengucapkan selamat natal dan tahun baru ya! Semoga di tahun baru ini, kehidupan kita semua bertambah berkah amiiin!

Beberapa hari terakhir, saya memang tidak bisa membuka laptop sama sekali karena sakit. Entah keracunan apa, tapi saya sakit perut, demam tinggi dan muntaber. Syukurlah, sekarang sudah membaik dan bisa menulis lagi:)

Saat sakit kemarin, saya sering hanya mengecek newsfeed di facebook lewat handphone saya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang natal tahun ini timeline saya masih saja dipenuhi kontroversi boleh atau tidaknya mengucapkan selamat natal bagi mereka yang muslim. Pendapatnya pun bervariasi, didukung oleh berbagai ayat quran sampai hadits.

Bahkan saat tahun baru pun, timeline lagi-lagi dipenuhi kontroversi penting tidaknya merayakan tahun baru, atau boleh tidaknya sekadar mengucapkan selamat tahun baru.

Saya sendiri termasuk pada mereka yang menganggap tidak apa-apa mengucapkan selamat natal atau tahun baru. Saya pernah bersekolah 9 tahun di sekolah Katolik. Seandainya saya memang mau berpindah akidah, tentulah bisa saya lakukan sejak dulu, saat belum ada kontroversi seperti ini tiap tahunnya. Saya sih yakin hanya mengucapkan selamat tidak akan menggoyahkan akidah saya:) 

Untuk tahun baru pun begitu. Walaupun saya muslim yang punya tahun baru sendiri, tapi saya tinggal di dunia dimana tanggal masehi digunakan. Tanggal lahir saya dicatat di akta dengan tanggal masehi, bukan tanggal Islam. Setiap hari pun, tanggal yang saya tulis di buku catatan, resep atau rekam medis pasien menggunakan tanggal masehi, bukan tanggal Islam. Kalau kemudian saya engga mengakui tahun baru pada tanggalan masehi, saya munafik engga?;)

Ada yang bilang, perayaan tahun baru dekat dengan maksiat, maka itu sebaiknya tidak usah diikuti. Kalau menurut saya sih, ya terserah orangnya, bagaimana orangnya. Kalau merayakan tahun barunya dengan mengaji untuk refleksi diri kan juga bukan maksiat? Jangan karena orangnya, tahun barunya yang disalahkan;)

Saya engga menyalahkan mereka yang berpendapat mengucapkan selamat natal atau tahun baru tidak boleh karena tidak sesuai keyakinan. Engga apa-apa kok, asal hargai juga yang berpendapat sebaliknya. Sepengetahuan saya, Indonesia adalah negara beragama (bukan satu agama) yang menjunjung tinggi keanekaragaman. Saya bingung juga sih kadang-kadang, teman saya yang non muslim saja engga meributkan masalah mereka mau disalami atau tidak saat hari natal, kok yang engga merayakan yang ribut ya?;)

Mari kita kembalikan ke nurani masing-masing;)

Merenungi pertanyaaan seorang sahabat Nabi,Wābiṣah, bertanya tentang kebajikan dan dosa. Beliau menjawab, “Mintalah fatwa pada hatimu dan jiwamu. Kebajikan adalah sesuatu yang jiwa dan hatimu tenang saat melakukannya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kebimbangan dalam jiwa dan keraguan dalam dada, meskipun orang memberikan fatwa kepadamu.”

Sekali lagi, selamat natal dan tahun baru!:)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...