Wednesday, July 19, 2017

MPASI: Homemade atau Pabrikan?

Salah satu issue di dunia emak-emak yang tak kunjung padam -dikata api:p- adalah masalah MPASI. Sepanjang saya menjadi dokter, salah satu masa dimana emak-emak kompak galau berjamaah adalah saat anaknya memulai masa MPASI. Saya juga kok:p

Beberapa waktu sebelum masa MPASI mulai deh mencari-cari informasi. Mau dikasih makan apa ya? Lalu gegara Googling, malah tambah galau. Yasalaaam, ada yang bilang harus diberi sayur dululah, ada yang karbo dululah, ada yang buah dulu. Belum hilang bingungnya, eh ada lagi yang namanya Baby-Led-Weaning-lah, Responsive Feeding-lah. Ada pula yang bilang MPASI homemade lebih baik daripada MPASI pabrikan. Terus yang benar yang mana? Harus pilih yang mana?

Betul tidak?:p

Kali ini, saya akan memfokuskan menulis postingan mengenai MPASI homemade dan pabrikan yaa. Sisanya nanti saya bahas di postingan selanjutnya. Oh ya, saya tidak punya Conflict of Interest dengan pihak manapun, semua yang saya tulis murni berdasarkan Evidence Based atau ilmiah. Beberapa tahun lalu saat Naya mulai MPASI, saya pun melakukan beberapa kesalahan (yang baru saya ketahui sekarang setelah mendalami ilmu nutrisi pada anak). Saya menulis ini karena ingin sharing pada banyak ibu yang saya yakin sama galaunya dengan saya waktu anak memulai masa MPASI. Alasan itu pulalah yang membuat saya menulis Mommyclopedia.

Tahu tidak sih kenapa saat ini direkomendasikan anak mendapat MPASI sejak usia 6 bulan? Salah satu jawabannya adalah karena pada usia 6 bulan tersebutlah, saluran cerna anak mulai siap. Tapi ada juga alasan lainnya.









Bisa dilihat dari 2 gambar di atas bahwa sejak usia 6 bulan energi yang ada pada ASI hanya mencukupi 70% kebutuhan anak, sehingga 30%-nya harus dipenuhi lewat MPASI. Sejak usia 9 bulan, energi yang tercukupi dari ASI hanya 50%-nya, sedangkan di atas setahun, kebutuhan energi yang tercukupi dari ASI hanya 30%-nya.

Tak hanya kebutuhan energi, kebutuhan zat besipun mulai tidak tercukupi hanya dari ASI saja sejak usia 6 bulan. Lihat deh, ASI hanya mencukupi kebutuhan zat besi tak sampai 10%-nya. Kalau sebelum 6 bulan, masih banyak cadangan zat besi dari kandungan, begitu 6 bulan sudah habis semua. Padahal zat besi sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Memang apa saja yang bisa terjadi kalau anak menderita defisiensi zat besi? Selain anemia, mudah lelah, anak pun dapat menderita gangguan belajar, gangguan konsentrasi, sampai gagal tumbuh. Pemberian makan yang benar sangat penting untuk perkembangan otak anak, terutama di 3 tahun pertama karena 80% perkembangan otak anak terbentuk di saat tersebut.

WHO telah menyatakan bahwa MPASI yang baik adalah yang tepat waktu, adekuat, aman dan diberikan dengan cara yang benar. Tepat waktu, artinya tentu pada saat usia 6 bulan (atau sesuai dengan advis dokter), adekuat artinya cukup secara makronutrien (energi, lemak, protein) dan mikronutrien (zat besi, vitamin dan mineral lainnya), aman artinya tidak mengandung bahan yang berbahaya, dan diberikan dengan cara yang benar (WHO merekomendasikan pemberian MPASI dengan responsive feeding, nanti kita bahas lebih lanjut di postingan lain ya).

MPASI yang adekuat harus mencukupi kebutuhan makro dan mikronutrien. Nah sekarang, coba kita tilik satu persatu. MPASI apa sih yang paling sering diberikan pertama kali oleh orangtua? Di Indonesia, berdasarkan penelitian, yang paling sering adalah pisang dipenyet atau dipuree. 

Bagaimana dengan kecukupan energinya? Pisang sedang mengandung energi sekitar 90 kkal, sedangkan kebutuhan bayi laki-laki (contoh nih) dengan berat 7 Kg dan umur 6 bulan adalah sekitar 770 kkal. Anggap saja 70% dari 770 kkal ini sudah tercukupi dari ASI, sehingga masih ada sisa 231 kkal yang harus tercukupi dari MPASI. Jika pisang berukuran sedang diberikan 3x dalam sehari, artinya energi  yang tercukupi dari pisang adalah 3x90=270 kkal. Cukup ya? Malah melebihi kebutuhannya. Eh tapi bagaimana dengan zat besinya?

Anak berusia 6 bulan membutuhkan zat besi kurang lebih 11 mg/hari-nya.  Anggap saja yang dapat terpenuhi dari ASI adalah 0.2 mg, sehingga 10.8 mg sisanya harus tercukupi dari MPASI.  Pisang berukuran sedang mengandung 0.31 mg zat besi. Kalau dalam sehari, kita memberikan MPASI berupa pisang sebanyak 3 buah, total zat besi yang kita berikan pada anak adalah sekitar 1 mg. Sepersepuluh kebutuhannya saja tidak:D

Contoh lain deh, tepung beras yang dicampur dengan ASIP. Yang memberikan ini sebagai menu MPASI anaknya mana suaranyaaa? (SAYAAAAAA!!!--> maaf ya Nayaaaa. Saya sempat menggunakan tepung G***L saat Naya MPASI. Tepung ini tidak terfortifikasi ya). Coba kita hitung sama-sama. Tepung beras sejumlah 28 gram menyumbang sekitar 102 kkal energi dan 0.1 mg zat besi. Jika anak lelaki berusia 6 bulan dengan berat 7 Kg diberikan MPASI berupa tepung beras yang dicampur ASIP 3x dalam sehari, maka:
- Kebutuhan energi anak = 770 kkal
- Tercukupi dari ASI 70 %= 539 kkal
-------------------------------------------------- -
Yang harus tercukupi MPASI = 231 kkal

- Tepung beras +ASIP = 3x 102 kkal = 306 kkal --> tercukupi yaa, malah kelebihan

Kebutuhan zat besi--> 11 mg/hari
Tepung beras + ASIP--> 3x0.1 mg= 0.3 mg---> sepersepuluhnya saja tidaaak:))

Tak heran ya kalau angka defisiensi besi di Indonesia masih tinggi sekali? Nah, karena ini pulalah IDAI merekomendasikan MPASI terfortifikasi untuk anak-anak. Apa itu terfortifikasi? Artinya MPASI yang sudah ditambahkan zat-zat seperti zat besi, vitamin A, Zinc dan lainnya yang memang dibutuhkan oleh anak. Contohnya adalah MPASI pabrikan yang saat ini dijual bebas.

Tahun lalu, saya melakukan penelitian yang membandingkan dua kelompok. Kelompok pertama adalah anak-anak yang diberi MPASI homemade, yang kedua MPASI instan. Setelah diikuti beberapa bulan setelahnya, ternyata kelompok anak yang mendapat MPASI homemade lebih tinggi risikonya untuk terkena anemia defisiensi besi dan gagal tumbuh dibandingkan dengan yang instan. Beberapa penelitian serupa yang dilakukan di seluruh dunia mendapat hasil yang mirip. 

Tapi katanya MPASI pabrikan mengandung pengawet? Bahaya kan?
Semua produk makanan bayi yang dijual harus memenuhi Codex Alimentarius dari WHO. Aturan tersebut melarang penggunaan pengawet, zat adiktif lain yang berbahaya untuk anak. Jika tidak memenuhi Codex Alimentarius, sudah dapat dipastikan kalau BPOM tidak akan memberikan ijin produk tsb dijual ke pasaran.

Kalau tak mengandung pengawet, kok bisa tahan lama?
MPASI pabrikan bisa awet karena teknologi freeze dry, yaitu mengeringkan seluruh bahan-bahan sebelum diolah. Kandungan airnya pun sangat minimal sehingga bakteri tidak akan bisa tumbuh dan hidup.

Lalu apakah MPASI instan mengandung gula dan garam? Kan katanya dibawah setahun tidak boleh?
Kembali lagi ke Codex Alimentarius, aturan dari WHO melarang penggunaan zat adiktif berbahaya. Gula dan garam BOLEH lho digunakan untuk bayi di atas 6 bulan dalam jumlah terbatas. Jadi walaupun MPASI instan mengandung gula dan garam, jumlahnya memang sudah dalam range yang aman untuk bayi.

Kalau MPASI homemade apakah baik?
Tentunya dooong, masakan yang dibuat sendiri tentunya dapat di-adjust dengan selera masing-masing, dengan budget yang ada, dan karena dibuat sendiri pakai cinta -halah- rasanya pun jadi lebih spesial untuk anak. Karena saya percaya kalau Food is MORE than just nutrition. Sampai ada kan tuh pepatah yang bilang kalau "The way to someone's heart is through his/her stomach". Eaaaaaa. (Padahal yang nulis tak bisa masak sama sekali:p) Tapiiiii, mengingat masalah zat besi dan mikronutrien lain tadi nih, untuk menghindari kekurangan mikronutrien, ada baiknya ibu atau yang memasak MPASI mengerti benar. Kebutuhan energi 770 kkal (mengutip contoh di atas) itu bisa terpenuhi dengan berapa banyak tepung beras? Berapa potong alpukat? Lalu 11 mg zat besi yang dibutuhkan anak setiap harinya itu terdapat pada apa saja sih? Bayam? Berapa ikat? Hati ayam? Berapa sendok makan? Daging sapi? Berapa sendok? Kalau itu sudah diketahui, lalu kemudian dipraktikkan saat memasak, tentulah kebutuhan nutrisi anak dapat terpenuhi:)

Apa saja sumber zat besi untuk anak?
Pada dasarnya, sumber zat besi dapat dibagi 2 bagian besar, yaitu Heme dan Non Heme. Heme, adalah sumber zat besi yang terdapat dalam sumber hewani seperti daging sapi, hati ayam, daging ayam, ikan dll. Penyerapannya adalah sekitar 10-25%. Sedangkan Non Heme adalah sumber zat besi yang terdapat dalam sumber nabati seperti sayuran hijau (bayam), kacang-kacangan, telur dll. Penyerapannya adalah sekitar 1-8% saja.Ada beberapa cara untuk meningkatkan penyerapan zat besi, salah satunya dengan vitamin C. Jadi jangan lupa untuk memberikan anak sumber vitamin C juga.

Lho katanya pemberian daging-dagingan harus ditunda sampai anak 9 bulan? 
Nope. Sumber zat besi hewani dapat diberikan sejak awal, namun sesuaikan konsistensi/teksturnya. Sesuaikan juga dengan kemampuan anak dalam mengkonsumsi makanan tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan kalau menunda pemberian bahan makanan tertentu untuk mencegah alergi tidak terbukti. Jadi nih kalau dulu ada yang bilang sebaiknya kasih telur waktu anak berusia 9 bulan, atau kasih ini itu setelah anak berusia 8 bulan karena takut alergi, nah update sekarang: tidak ada aturan menunda pemberian bahan makanan tertentu.

Jadi pilih mana yang lebih baik? Homemade atau pabrikan?
Tentu jawaban setiap keluarga akan berbeda karena situasi dan kondisi semua keluarga yang tak sama. Silakan saja menyesuaikan dengan kemampuan keluarga masing-masing. Baik MPASI homemade maupun pabrikan memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Jika memang anda sudah tahu benar bagaimana mencukupi kebutuhan nutrisi (tak hanya makro tapi juga mikronutrien) anak dalam MPASI, silakan pilih homemade. Tapi jika ingin praktis tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi anak, silakan pilih pabrikan. Bisa juga lho kombinasi di antara keduanya. Kadang, ada beberapa kondisi di mana ibu tidak dapat membuat MPASI homemade, misalnya saat sedang travelling, atau kondisi emergency. Yang menggunakan MPASI pabrikan pun harus dicermati bagaimana seharusnya cara membuat serta menyajikan dengan benar.

Semoga berguna dan tak galau lagi;) Di postingan selanjutnya, saya masih akan membahas mengenai nutrisi pada anak, giliran soal BLW.  Doakan saya punya kesempatan (dan tidak malas) menulis ya;)

10 comments:

Nungki Martina said...

Halo meta.. kegalauan jadi emak2 (baru) akhirnya terjawab sudah ahahahaha.. thankyouuu.. ��

Meta Hanindita said...

@Nungki: ALhamdulillah Nooo kalau berguna:)

Alia Gsm said...

makasih dokter cantik, infonya berguna bgt buat mak mak galau spy sayah, now i will stop blaming myself hehe ;)

Ivonie Zahra said...

Makasih sharing-nya mbak.
Sewaktu anak pertam saya rajiin banget bikin MPASI Homemade, bahkan saat mudik dibela2in bawa alat tempurnya. Namun makin besar malah kena picky eater.
Nah, untuk anak kedua ini saya bikin kombinasi. kalau di rumah dan gak sibuk ya bikin homemade. Kalau bepergian ya pakai mpasi instan :D

lee lyani said...

Trims dr.meta infonya..mencerahkan sekali.
Anakku skrg umur 20bln,sejak awal mpasi slalu homemade saat travelpun slalu bawa peralatan masaknya walau sedikit ribet alhasil si bebiboy gak suka dg makanan instan dan saya harus selalu memasak.
KOMBINASI dsini yang harus digaris bawahi. Karena dapat cerita bahwa anaknya tidak bisa makan nasi hingga 1.5th bahkan ada yg 2th karena selalu diberi makan instan,mungkin krna tekstur makanan instan yg terlalu lembik. Jadi saya lebih memilih homemade dan alhamdulilah pertumbuhan nya baik. Tinggi badan nya bagus melebihi teman seumur nya dan bb normal tdk kurus tp tdk gendut juga.
Next untuk anak berikutnya bisa diterapkan anjuran dr.meta untuk di kombinasikan agar tdk kekurangan zat besi nya.
Krn benar kelemahan nya adalah di minggu2 pertama pengenalan mpasi yang 1 hari 1 jenis makanan krna khawatir ada alergi. Namun di minggu berikutnya sdh dpt menyesuaikan kebutuhan gizinya.

lusiana nova said...

Dook, tambah galau kalo tiap masak MPASI homemade mesti ngitung kalori dan teman-temannya dulu T.T

Anonymous said...

Terima kasih dr. Meta tulisannya sangat informatif. Untuk menghitung zat gizi pada makanan, apakah dokter memiliki link atau tabel jumlah energi dan zat gizi yg terdapat dalam bahan2 makanan sehingga kami para ibu yang membuat mpasi homemade bisa tau dan memperhitungkan seberapa banyak makanan yg perlu kami buat utk bayi? Terima kasih

Meta Hanindita said...

@alia: sama2 buuuu:p

@ivonie: karena emg ga ada bukti ilmiahnya mbak kalau blw mengurangi risiko picky eater hehe. Tapi pilihan yang manapun pasti yg terbaik kan buat anak;)

@lee: betul mbak, tapi sedikit koreksi nih. Itu utk anak temennya mbak yg ga bisa makan kasar sebetulnya ga bisa dibilang karena mpasi instan, tapi lebih ke tekstur yang engga dilatih ditingkatkan kekasarannya yaaa

@lusiana: nah kembali lagi ke orangtuanya kan yaa, kalau sanggup silakan ajaaa

@anonymous: mbak (saya asumsikan ini pasti ibu2 hehe), langsung googling aja keluar kok dari USDA. Coba deh google: kandungan zat besi pada pisang. Terus langsung keluar tuh berapa mg dalam tiap berapa porsinya.

indra wsd said...

halo dr meta, boleh share tentang penelitian2 mengenai tinakat ADB pada anak dengan MPASI homemade vs mpasi instan dong. adakah link nya? thank you =)

Meta Hanindita said...

Banyak banget mbak @indra wsd, googling aja:)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...