Monday, December 30, 2013

Sale dari Zalora

Sejujurnya, saya lebih suka berbelanja online dibandingkan di toko offline. Selain lebih praktis, terkadang pilihan yang ditawarkan jauh lebih beragam dengan harga yang lebih terjangkau. Mulai buku, aksesoris, tas sampai baju lebih sering saya beli online. Makanya jangan heran, kalau banyak teman menjadikan saya jujugan alamat online shop terpercaya:p

Di antara sekian banyak toko fashion online langganan saya, ada satu yang saya favoritkan, yaitu Zalora. Im a fan! Zalora adalah pusat belanja online yang menawarkan kebutuhan fashion pria maupun wanita. Super lengkap deh!  Cari sepatu, baju, jaket sampai kosmetik, ada. Lumayan kan, kalau mau beli macam-macam, engga perlu repot cari toko lain, dan tentunya irit ongkir:p *khasemak2* :))

Saya pernah beberapa kali membeli barang di Zalora, hampir semua ber-brand C by Chic Simple. Dan alhamdulillah, saya puas. Barang yang saya beli persis seperti keinginan saya.

Jangan khawatir soal ukuran. Saya pernah tuh beli sepatu online yang akhirnya engga terpakai gegara nomor yang biasa saya pakai lebih kecil ukurannya di toko tersebut. Nah, di Zalora, semua produk dideskripsikan secara detail. Ukurannya, foto barang dari berbagai sisi, warna sampai bahan. Ini tentunya meminimalisir kesalahan pesan.

Pelayanan Zalora juga oke lho! Cepat dan terpercaya. Hari ini pesan, setidaknya lusa sudah sampai di tangan saya. Yang saya suka lainnya dari Zalora adalah fitur pencarian di website yang memudahkan pembeli mencari barang berdasar warna. Berguna sekali!

Oh ya, buat yang mau mencari baju/sepatu/aksesoris baru di tahun baru, pas nih! Ada sale akhir tahun sampai 70%. Lumayan banget kan?


Gegara ada sale ini, saya -yang sebenarnya lagi engga butuh baju baru- jadi tergoda browsing dan jatuh cinta sama baju ini:

Lucu yaa? Beli ahh, mumpung diskon! #emak2unite

Tuesday, December 24, 2013

Resolusi 2014


Di timeline social media, detik-detik menjelang tahun baru selalu diwarnai oleh review akhir tahun, rencana tahun baruan dan –tentu saja- harapan tahun baru alias resolusi.

Saya sudah menulis review akhir tahun versi saya disini. Untuk rencana tahun baruan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada sesuatu yang spesial. Buat saya, tahun baru memang bukan suatu moment yang istimewa.

Alhamdulillah, tahun baru kali ini tidak seperti biasanya, saya tidak berdinas di rumah sakit. Kalau biasanya bertahun baruan dengan perawat, rekan dokter lain dan pasien, kali ini saya hanya akan tinggal di rumah bersama anak dan suami, kruntelan bertiga saja. Heaven on earth;)

Nah, sekarang soal resolusi. Sudah pada membuat resolusi belum? Saya sendiri sudah memutuskan resolusi saya untuk setahun ke depan. Secara garis besar, I want to be a better person. In person, in family, in work. Tetapi, ada satu resolusi khusus yang saya harap bisa dijalankan selama tahun depan, atau lebih bagus lagi kalau bisa seterusnya.  Be positive!

Resolusi ini bukannya saya buat tanpa alasan. Masih ingat engga sama tulisan saya soal dokter yang ini, ini, ini atau ini? Baca juga komentarnya ya! Banyakan mana yang negatif atau yang positif?:)))) Sejujurnya, ide resolusi saya berasal dari komentar-komentar judging yang negatif ini. Thank you negative people!:p

Saya merasa banyak sekali aura negatif di sekitar. Engga percaya? Coba deh tonton saja berita di televisi. Mulai dari korupsi, pembunuhan, perampokan semua ada. Browsing di portal berita internet juga sami mawon. Bahkan jika ada berita yang positif pun tetap saja banyak dikomentari negatif. Pejabat blusukan ke daerah terpencil dibilang pencitraan, artis merayakan ulangtahun bersama anak panti dikomentari riya’, selebritwit men-twit rasa syukurnya berhasil membeli tas branded disebut pamer, dan seterusnya. Entahlah, apa memang segitu buruknya orang-orang di negeri ini? Atau karena bad news is a good news? Tanpa bisa dicegah, saya juga jadi seakan “terlatih” untuk selalu melihat sisi negatif dari suatu hal, dan bagaimana berkomentar negatif.

Jangan jauh-jauh, di timeline saya juga bertebaran aura negatif. Contohnya, ada satu orang selebritwit yang saya follow yang hobinya mengeluh. Mengeluhkan taksi yang supirnya tidak tahu jalan, mengeluhkan Jakarta yang macet minta ampun, mengeluhkan beceknya jalan yang dilalui, mengeluhkan rasa makanan yang tidak enak di resto hits, semuanya deh. Tahu apa pengaruhnya buat saya? Tanpa disadari, saya jadi ikutan tertular gampang mengeluh. Negativity is kinda viral, spread out easily and fast. Akhirnya, saya merasa gloomy, gampang men-judge orang, paranoid, dan gampang sekali bersikap negatif.

Melihat infotainment memberitakan artis mendadak nikah, saya berkomentar “ah pastiiii MBA”. (Padahal mungkin saja mereka sudah pacaran lama tapi saya engga tahu. Memangnya setiap artis pacaran harus lapor saya dulu?:p). Melihat pengacara kondang “memamerkan” mobil barunya saya berkomentar “ahhh hasil korupsi kok bangga.”, dan begitu seterusnya. Hari-hari saya dipenuhi hal-hal negatif.

Hal ini  berlangsung sampai pada saat aksi dokter dilaksanakan. Saya ingat betul bagaimana rasanya saat dokter dihujat sana-sini, betapa semua orang ikutan berkomentar negatif bahkan tanpa tahu duduk persoalannya. Kali ini saya, sebagai dokter yang jadi obyeknya. Bukan artis, bukan pejabat atau orang lain. Tapi saya. Saya. Saya yang biasanya gampang mengomentari ini itu secara negatif tanpa tahu –dan tanpa mau tahu- cerita sebenarnya. Saya yang biasanya ikutan nyinyir setiap membaca berita atau melihat infotainment tanpa mau mengerti cerita di balik itu semua. Saya yang biasanya ikutan punya banyak komentar negatif untuk dilontarkan.

Saya sakit hati. Saya langsung teringat saat-saat saya tidak bisa menghadiri detik-detik terakhir kehidupan ayah saya di dunia karena harus bertugas di rumah sakit. Saya ingat harus meninggalkan Naya panas tinggi karena harus merawat anak lain di rumah sakit. Saya ingat entah berapa puluh kali harus absen menghadiri pernikahan saudara dekat, pemakaman keluarga dekat hanya karena saya tidak bisa meninggalkan tugas di rumah sakit. Saya ingat ketika ditelpon dari rumah sakit untuk segera kembali pada saat menghadiri pemakaman ayah saya. Saya ingat bagaimana harus begadang setiap malam untuk belajar. Saya ingat rasanya tidak tidur beberapa hari saat jaga. Saya ingat semua pengorbanan, perjuangan saya dan keluarga untuk menjadi dokter.

 Betapa kecewanya saya ketika di-judge ini-itu, dengan kata-kata kasar, oleh orang yang tidak tahu. Memangnya mereka pernah merasakan apa yang saya rasakan? Ada yang berkomentar “Ya kalau sampai harus meninggalkan anak sakit demi tugas berarti harus introspeksi diri, Artinya dokter tadi mengutamakan kerjaan dibanding keluarga.” Memang gampang sekali untuk berkomentar. Benar sekali, its always the people that know you the least that judge the most.

Awalnya, reaksi saya tentunya untuk melawan komentar negatif tadi dengan komentar negatif juga. Tapi kemudian saya tersadarkan, untuk apa? Memperkeruh suasanakah? Hanya untuk kepuasaan sesaatkah? Menambah panjang daftar “dosa” kitakah? Atau untuk apa? Setelah saya pikir saksama, sepertinya memang bersikap negatif tidak ada gunanya. Negatif bertemu negatif lalu menjadi positif hanya ada di ilmu matematika. Sebaliknya, you can only fight negativity with positivity.  

Saya percaya, a positive attitude creates more miracles than any other thing, because life is 10% how you make it, and 90% how you take it. Take it positive, then it will be positive. Take it otherwise, then it will be negative.

Saya ingin memiliki hidup yang serba positif. A negative mind and attitude will NOT bring you a positive life. Makanya, saya akan berusaha untuk selalu bersikap dan berpikiran positif. Positive mind + positive attitude = positive life.

Saya juga akan menyeleksi ketat daftar orang yang saya follow di twitter, teman saya di Facebook atau Path. Bukannya pilih-pilih, tapi ada satu quote yang saya pernah baca dan saya pikir benar.  You cant hang around negative people and expect a positive result.

Letting go of negative people doesn’t mean I hate them. It just means I love myself more.

Masih berkaitan dengan resolusi saya, saya juga akan berusaha lebih banyak bersyukur. Saya akan selalu mengingat, as I breathe right now, another person takes his last. Stop complaining, learn to live with what I have.

Doakan tercapai ya!

Friday, December 20, 2013

2013 In Review

Walaupun masih ada beberapa hari lagi sebelum 2013 habis dan berganti, sepertinya saya sudah mempunyai satu kata yang tepat untuk menggambarkan tahun ini.

Awesome. Yes it is!

2013 buat saya adalah tahun yang memberikan banyak kesempatan baru, pengalaman dan pelajaran. Well, sebenarnya tahun ini diawali peristiwa engga mengenakkan sih, tapi Alhamdulillah diikuti banyak kejadian menyenangkan setelahnya.

Saya memulai tahun 2013 dengan terkena demam berdarah –untuk yang kesekian kalinya. Darn you aedes aegypti!-. To make it worse, suami saya sedang bertugas di luar pulau, babysitter dan ART juga terkena penyakit yang sama. Bahkan warnen-ART pengganti- yang saya pesan karena seisi rumah opname di rumah sakit tak ketinggalan sakit demam berdarah juga-_-“ Semacam bedol desa ke rumah sakitlah judulnya. Sedih banget. Hikmahnya, saya jadi lebih care menjaga kebersihan lingkungan. Engga mau lagi deh kejadian kayak gini terulang.

Di tahun ini pula, saya berkesempatan menjadi cover majalah Ayahbunda bersama Naya. Biarpun bukan pertama kalinya, tetap saja ini merupakan pengalaman berharga yang benar-benar menjadi highlight of the year. Selain itu, saya juga dipercaya mengikuti pemotretan untuk fashion spread di majalah yang sama dengan Naya. Terimakasih ya Ayahbunda buat kepercayaannya. Boleh lho kalau mau ajak foto-foto lagi. #eaaaaaa :) Ayahbunda juga masih memberikan kesempatan buat saya menjadi blogger di official website-nya.

Ngomong-ngomong soal majalah, kalau saya ingat-ingat, sepertinya tahun ini saya lumayan sering nongol di media cetak deh. Selain Ayahbunda, saya sempat “mejeng” di harian Jawa Pos sebanyak 4x tahun ini, dua diantaranya liputan khusus lebih dari satu halaman. Majalah Farmacia dan Citymagz juga pernah menampilkan profil saya di halaman mereka. Benar-benar pengalaman menyenangkan buat saya yang notabene penggila majalah;)

Kesempatan lain yang saya dapat di tahun ini adalah menerbitkan buku yang keempat (atau kedua jika self-published dihitung). Alhamdulillah. Padahal sejujurnya, sewaktu buku terakhir saya terbit tahun 2008 lalu, saya sudah pesimis bakal membuat buku lagi. Apalagi waktu saya diterima menjadi PPDS dan mempunyai anak. Saya pikir “Boro-boro menulis buku, buat tidur setiap hari saja susah minta ampun kok.”. Tapiii, Alhamdulillah ternyata bisa juga;)

Saya senang sekali karena respons terhadap buku terbaru lumayan hangat. Buku saya diresensi oleh berbagai media seperti majalah Ayahbunda, Femina, tabloid Mom and Kiddie, Detik.com, Mommiesdaily, dan lain-lain. Banyak juga blogger yang berkenan mereview buku ini. Happy! Sesungguhnya kepuasan terbesar saya adalah saat buku dibaca dan dikomentari orang lain, baik atau buruk:D

Beralih ke soal keluarga, setelah 2 tahun yang penuh rintangan, hambatan, gangguan –halah-, di 2013 saya berhasil menunaikan kewajiban memberikan ASI bagi Naya.  Ini pun menjadi highlight of the year saya. Terdengar lebay? Biarin ah:p Pembenaran saya, wajar dong lebay wong usaha buat tetap bisa menyusuinya juga lebay:p Selain itu, saya cukup bahagia karena bisa meluangkan waktu untuk berlibur bertiga dengan suami dan Naya ke Taman Safari Indonesia, serta sempat mudik ke tempat kelahiran saya. Happiness overload!

Untuk urusan “sekolah”, saya cukup senang karena tahun ini berhasil menyelesaikan jurnal-jurnal ilmiah, tugas wajib ilmiah sampai proposal penelitian. Tinggal hasil penelitiannya saja nih yang belum. Semoga awal 2014 bisa segera terselesaikan. Doain ya! Oh ya, saya sempat juga sedih bukan main saat sampel penelitian yang sudah terkumpul dengan susah payah, rusak dan harus dibuang. Sedihnya minta ampun! Otomatis saya harus memulai penelitian dari awal lagi. Patah hati juga kalah deh rasanya:(  Hikmah dari kejadian ini, saya jadi lebih berhati-hati dalam bekerja dan tidak gampang mempercayai orang lain untuk mendelegasikan tugas. Selama bisa dikerjakan sendiri, sutralah, kerjakan sendiri saja:D

Tahun ini untuk pertama kalinya, saya berkesempatan dinas di luar kota sebagai dokter anak. Selama dua bulan, saya bertugas di Balung, Jember. Satu tempat yang bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya. Menyenangkan sekali, karena banyak pengalaman baru yang saya dapat. Alhamdulillah.

Di 2013 pula, -akhirnya:p- suami saya dapat menyelesaikan sekolah dan resmi menyandang gelar Sp.OG. Satu beban di pundak kami hilang, tinggal istrinya saja nih yang belum. Ingin hati sih tahun depan, tapi sepertinya engga mungkin ya hahaha secara cuti saja satu tahun:p

Masih ingat dengan resolusi saya tahun lalu? Alhamdulillah, saya rasa sudah tercapai. Tahun ini saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjudge orang lain, berupaya melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda. Efeknya besar lho! Saya jadi terbiasa positive thinking setiap waktu. Entah ada hubungannya atau tidak, tapi saya merasa hidup saya lebih positif pula. Mungkin benar kata ungkapan,  positive minds live positive lives. Think positive, be positive and positive things will happen;)

Overall, sekali lagi, 2013 adalah tahun cemerlang untuk saya. Menyenangkan, positif,  penuh hikmah dan bisa jadi adalah one of the best year in my life:)

Thank you, 2013!

Wednesday, December 18, 2013

Fashion Spread Ayahbunda

Walaupun seharian mendung, tapi hari Rabu ini cerah ceria buat saya:D
Pagi-pagi, saya diBBM oleh seorang teman yang bilang kalau profil saya dimuat sebagai Cityicon di majalah Citymagz. Agak siang sedikit, Naya yang menelpon saya dengan penuh semangat. "Mamaaaa, ada mama sama kakak di Ayahbunda yang balu! Ayo pulang maaa!"

Saya penasaran setengah mati ingin melihat hasil pemotretan kami beberapa bulan lalu yang sempat diceritakan di http://www.metahanindita.com/2013/09/mudik-part-1.html.

Voila! Ini diaaa hasilnya. Ada di majalah Ayahbunda edisi no. 26 yang terbaru:*
Fashion spread majalah Ayahbunda:)

Di Majalah Citymagz

Jangan lupa beli majalah Citymagz bulan ini yaaa.. Ada saya -sama si unyil- nebeng jadi Cityicon of the month disana;)

Monday, December 16, 2013

Sunday, December 15, 2013

Kok Sempat Sih?

Kalau kelak suatu hari nanti saya membuat buku biografi –eciyeee, emang siapa yang mau baca:)))))-, dan ada sub bab FAQ alias Frequently Asked Questions  dimana isinya adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering saya dapatkan, pasti pertanyaan ini ada di nomor satu list tersebut.

“Kok sempat sih?” memang adalah salah satu pertanyaan yang seriiiiing sekali saya terima. Penanyanya pun datang dari berbagai kalangan. Saudara, teman kerja, sampai follower twitter atau blog saya.

“Kok masih sempat sih menulis buku? Bukannya PPDS anak itu sibuk banget ya?”
“Kok sempat sih siaran? Kapan tidurnya?”
“Kok masih bisa syuting sih? Emang engga sibuk di rumah sakit?”
“Kok sempat sih ngeblog? Yang lain engga keteteran?”
dsb..dsb…

Saya sih biasanya nyengir aja kalau ditanya gitu:p

Sejak kecil, saya dididik oleh orangtua untuk sangat menghargai waktu. Eh betul lho, papa saya engga menolerir keterlambatan sesingkat apapun. Saya masih ingat sewaktu SMP dulu suka kebat-kebit setiap pulang sekolah. Jam pulang sekolah saya waktu itu jam 14.00, lalu jarak perjalanan sekolah ke rumah dengan angkot kurang lebih setengah jam. Jadilah setiap jam 14.30, papa sudah gaduh gelisah menunggu saya. Kalau saya belum pulang, terlambat 5 meniiiit saja –secara angkot kan suka ngetem ya-, papa saya bisa marah sekali. Menurut beliau, waktu itu engga bisa diulang kembali dan harus di-manage seoptimal mungkin. If you cant manage your time, you wont be able to manage anything in your life. Begitu kata papa. Angkot satu ngetem, ya cari angkot yang lainnya. Jangan mencari pembenaran untuk tidak on-time.

Dulu sih saya suka mangkel. Lebay amat sih papa ini, memangnya terlambat 5 menit sampai ke rumah kenapa? Apa yang bakal berubah? Kan engga ada, mustinya ya engga masalahlah.

Mama saya juga sami mawon. Beliau selalu mempersiapkan segala macamnya detail dan teratur agar bisa selalu tepat waktu. Dulu, saya juga menganggapnya super lebay. Gimana engga lebay, bayangkan saja, misalnya kami mau bepergian dengan pesawat yang berangkat jam 10 pagi, mama pasti sudah teriak-teriak menyuruh kami siap berangkat jam….5 pagi-_-“. Padahal jarak rumah dengan bandara hanya setengah jam! Lebay atau apa ya itu namanya? Kalau alasan mama saya sih, takut nanti macet, takut nanti mobil tetiba mogok, atau halangan lain. Supaya bisa tetap on-time, antisipasinya ya dengan pergi sepagi mungkin begitu siap. Make sense sih. Tapi……errrrr…

Walaupun sering merasa mangkel gegara kelebayan papa-mama saya, ternyata saya baru menyadari betapa besar manfaat ajaran mereka ini. Karena papa dan mama, saya juga berusaha selalu on-time. Selama hampir 12 tahun siaran, hanya sekali saya pernah terlambat datang ke studio. Alasannya karena banjir parah di jalan menuju kesana. Sebenarnya waktu itu, rekan saya sudah menelpon mengabari kalau jalanan banjir parah dan saya lebih baik tidak perlu datang daripada terhalang macet. Hanya saja, saya merasa tidak enak meninggalkan tanggungjawab, sehingga tetap berangkat dua jam sebelumnya dengan harapan bisa datang tepat waktu. Hasilnya? Tetap terlambat, walau hanya 10 menitJ Saya tidak pernah terlambat datang kuliah ataupun bertugas di rumah sakit.

Soal tugas pun begitu. Saya paling engga bisa mengerjakan tugas secara last minutes. Banyak teman saya yang baru bisa mengerjakan tugas saat kepepet. Katanya the power of kepepet itu mengeluarkan berbagai ide dan inspirasi. Kalau saya? Boro-boro. Yang ada saya malah bakal panik berat, dan akhirnya justru blank:p Jadilah, tugas akan segera saya selesaikan, bahkan saat deadline masih jauuuuuh:D Lebay? Terserah deh,yang penting saya tenang, merasa engga punya hutang:)

Setiap janjian dengan siapa pun, saya selalu berusaha menepati waktu. Macet? Ya datanglah beberapa jam sebelumnya. Bahkan pernah ban mobil saya kempes saat mau siaran, saya tinggalkan sebentar di pinggir jalan, menitipkan ke pak polisi dekat situ, lalu pergi siaran dengan angkot. Engga heran, terkadang saya malah justru sudah datang jauh sebelum waktu janjian.

Makanya saya suka sebal dengan mereka yang meremehkan waktu. Gemas rasanya! Bukan apa-apa, jadwal yang saya buat dengan detail bisa berubah drastis gegara dingaretin orang lain. Biasanya sih, saya tinggal saja orang-orang model begini:p Alhamdulillah, suami saya ternyata setali tiga uang. Jadilah kami mendidik Naya supaya juga menghargai waktu seperti kami.

Menurut saya, menghargai waktu adalah salah satu kunci manajemen waktu yang baik. Setiap manusia di dunia ini sama-sama memiliki waktu 24 jam dalam sehari yang bisa digunakan. Mau digunakan seperti apa, ya terserah orangnya. Saya memilih untuk mengoptimalkan waktu ini dengan baik agar tidak menyesal kelak. Everyday might be just another day, but it’s a day you’ll never have again. So make every moment matter;)

Oh ya, menjawab pertanyaan tadi, kuncinya simple sekali. Pertama, biasakan menghargai waktu dengan selalu on-time. Every second counts. Setelah terbiasa on-time, saya juga membuat skala prioritas. Kalau untuk saya sekarang prioritas nomor satu adalah keluarga, rumah sakit, baru pekerjaan. Seandainya ada dua pekerjaan pada waktu yang sama, ya tinggal lihat lagi skala prioritasnya. Selain itu, saya terbiasa sekali membuat jadwal setiap hari. Hari ini jam sekian sampai jam sekian waktunya ini, kemudian dari jam sekian sampai jam sekian waktunya itu. Semua saya lakukan dengan penuh disiplin.

Saya juga memaksimalkan waktu saya sebisa mungkin. Misalnya, saya memilih siaran di jam 4 pagi. Alasannya, karena pada jam segitu, Naya dan suami masih tidur, pekerjaan di rumah sakit juga belum dimulai. Tidak ada yang akan merasa terganggu kalau saya siaran jam segitu. Konsekuensinya? Saya harus bangun pagi-pagi sekali, lalu berangkat ke studio jam 3 pagi. Tapi karena saya memang suka, ya engga masalah.

Saya mempunyai “aturan” untuk tidak mengerjakan urusan pekerjaan pada saat ada Naya. Karena itulah waktu saya dengan Naya sepuasnya. Begitu Naya tidur, baru deh saya bisa buka laptop mengerjakan tugas atau menulis. Terkadang saya baru bisa menulis untuk nge-blog jam 12 malam. Ngantuk? Iya sih pasti, tapi karena saya memang suka, ya engga masalah.

Saya juga sudah sangat mengurangi jadwal syuting karena kesibukan. Tapi di sela-sela kesibukan, ada rasa kangen, saya meminta jadwal syuting sambil membawa Naya. Ribet? Kadang iya, tapi karena saya memang suka, ya engga masalah.

Jadi jawaban pertanyaan “Kok sempat sih?” adalah:

Pasti sempat kalau bisa. Pasti bisa kalau mau. Pasti mau kalau suka;)

If you can not do what you love, then try to love everything you do. When you love everything you do, yo will do it with all of your heart:)

Namanya juga manusia, kadang malas sering banget berkunjung:p Buat saya, “obat” yang paling mujarab adalah quote ini nih:

“Don’t say you don’t have enough time. You have exactly the same number of hours per day that were given to Hellen Keller, Pasteur, Michaelangelo, Mother Teresa, Leonardo da Vinci and Albert Einstein.” –Jackson Brown-

Begitu jleb, langsung sadar malas engga ada gunanya:D

Ordinary people think merely of spending time. Great people think of using it:)


Dont Worry to be a Mommy! di Tabloid Mom and Kiddie

Ini adalah review "Dont Worry to be a Mommy!" di tabloid Mom and Kiddie terbaru:)
Thank youuu, Mom and Kiddie! 
(Photo credit: Mbak Arin;))

Wednesday, December 11, 2013

What Is Happiness?

Saya mempunyai satu orang sahabat dekat saat SMA dulu. Saking dekatnya, saya sering menginap di rumah dia saat ke Jakarta. Dia pun sering menginap di rumah saya di Bandung. Kami tidak pernah sekelas, tidak pernah satu tempat les, tidak pernah satu ekskul, hanya saja kami sama-sama anggota OSIS. Mungkin itulah yang mendekatkan kami, karena kalau bukan itu, saya tidak tahu apalagi yang bisa. Kami benar-benar berbeda.

Saya termasuk orang yang introvert. Saya lebih memilih menuliskan perasaan atau opini saya dibanding berdiskusi dengan orang lain. Dia super ekstrovert. Tak segan menangis, marah atau bahkan berteriak-teriak di muka umum saat ada yang tidak sesuai keinginannya. Di saat cewek lain malu-malu menunjukkan rasa suka pada gebetan, sahabat saya ini tak sungkan menembak langsung cowok yang disukai. Hahahahaha.

Saya super cuek. Tidak pernah peduli soal fashion, apalagi makeup. Saya ingat dulu waktu SMA, semua orang heboh mempersiapkan prom night -termasuk si sahabat- saya cuek-cuek saja. Sahabat saya super stylish. Baju model terbaru, make up keluaran gres, pasti dia punya. Kami pernah datang ke acara salah satu majalah remaja, dan dia terpilih menjadi the best dress:D

Saya suka membaca. Hobi saya salah satunya adalah ke toko buku. Sahabat saya lebih suka ke mall untuk window shopping baju keluaran terbaru atau aksesoris yang lucu-lucu.

Saya tidak bisa menggambar. Sama sekali. Sahabat saya pintar sekali menggambar, coretan isengnya saja menurut saya bagus bukan main. Dia suka mendesain baju sendiri kemudian diwujudkan sehingga baju-bajunya selalu one of a kind.

Selepas SMA, kami berbeda tujuan. Saya memilih jurusan kedokteran di Surabaya sementara dia memilih jurusan arsitektur di Bandung. Kesibukan masing-masing tidak membuat kami jauh. Thanks to technology, kami masih sering kontak sekadar bertanya kabar.

Setelah merampungkan kuliah S2-nya di bidang manajemen, sahabat saya diterima di satu perusahaan terbesar di dunia. Saya bangga sekali padanya. Sahabat saya jadi sering berkeliling Indonesia dan luar negeri, bahkan sempat membintangi iklan salah satu produk binaannya. Gaji yang didapat pun jauh berlipat-lipat dibanding teman-teman sebaya kami waktu itu. Keren sekali.

Maka dari itu, betapa terkejutnya saya ketika sahabat mengabarkan bahwa dia resign dari perusahaan tadi dan memilih untuk membuka clothing line sendiri, satu hal yang diidamkannya sejak dahulu kala.  Dengan berwiraswasta, memulai usahanya dari nol, tentu kemewahan yang biasa didapat saat masih bekerja di perusahaan internasional terkemuka tak lagi bisa ditemui. Penghasilannya menurun drastis. Dia bahkan harus rela menanggung kerugian saat bisnisnya tak berjalan lancar. Di pikiran saya waktu itu "Kamu ngapain sih? Udah enak-enak disitu, kok pake keluar segala?"

Dia hanya tersenyum. Tapi sebagai sahabat, saya tahu benar senyumnya adalah senyum penuh kebahagiaan. Satu hal yang tak ternilai harganya. Saya masih ingat betapa sumringahnya dia waktu BBM saya soal ini. Sahabat saya merasa sangat bahagia karena bisa menjalani passionnya selama ini. Saya ikut berbahagia bersamanya:)

Banyak orang yang terkadang mendefinisikan kebahagiaan sebagai kemewahan materi. Punya uang banyak, rumah bagus, mobil banyak, sering keluar negeri, engga mikir kalau mau beli apa pun, itu pasti bahagia. Engga heran, banyak orang pula yang bekerja keras demi mewujudkan "kebahagiaan" ini. Lembur pun engga masalah, jarang pulang ke rumah juga engga apa-apa, engga pernah bertemu keluarga hanya sekedar konsekuensi untuk menjadi bahagia. Pembenarannya, toh hasil kerja keras ini kan untuk keluarga juga. Kalau bisa punya rumah mewah, yang menikmati kan keluarga. Kalau punya ini itu, yang senang juga kan ya keluarga. Benarkah?

Saya jadi ingat tukang pecel langganan suami. Suami saya ngefans berat sama pecel ini karena menurut pak suami, bumbu pecelnya super maknyus. (Menurut saya sih biasa saja;p). Rupanya yang ngefans dengan pecel ini bukan suami tapi banyak orang lainnya. Sejak dibuka jam 6 pagi, antrean pembeli akan mengular panjaaang sekali. Saking banyaknya, terkadang hanya dalam waktu sejam, jualannya sudah ditutup karena habis.

Sekali waktu, saya pernah dititahkan pak suami membeli pecel kesayangannya. Sambil mengantre, iseng saya mengobrol dengan pasangan suami istri penjualnya.
Saya: "Pak, pecelnya laku banget ya?"
Pak Pecel: "Nggih, alhamdulillah mbak."
Saya: "Kadang baru jam 7 sudah habis. Cepet banget. Apa engga ditambah aja pak jualannya? Kan lumayan kalau bapak bisa jualan lebih banyak?"
Pak Pecel: "Ah engga mbak. Saya setiap hari mampunya bikin pecel segini aja. Rejekinya segini sudah cukup untuk saya dan istri hidup sehari-hari. Sisa waktunya bisa dipakai ibadah dan momong anak-cucu. Ndak perlu ngoyo mbak, semua sudah diatur Gusti Allah. Yang penting bahagia. Saya tuh bisa momong cucu aja sudah bahagia sekali."

Jleb. Saya langsung merasa tertohok. Terkadang, saya bekerja keras demi memenuhi target yang sudah saya rencanakan. Saya ingin sekali bisa mengajak Naya ke Disneyland kelak, ingin juga bisa berlibur ke UK, negara idaman saya sejak dulu, ingin membelikan mama saya ini itu. Saya rela lembur, terlambat beribadah, atau bahkan jarang bertemu Naya hanya demi target tadi. Asumsi saya, setelah target tadi saya penuhi, saya akan merasa bahagia. Emang iya? Yang tidak saya sadari, sebenarnya arti kebahagiaan buat saya sangatlah sederhana. Kruntelan bertiga dengan anak dan suami bermain tenda-tendaan di kamar tidur contohnya. Hal yang tidak membutuhkan modal sama sekali tapi membuat saya sangat bahagia:)

Jleb yang kedua:

Saya: "Kak, kakak mau engga ke Disneyland? Kayak yang di majalah itu lho. Yang ada Mickey Mouse sama Goofy-nya?"
Naya: "Mauuuuu!"
Saya: "Senang ga kakak?"
Naya: "Senang ma!"
Saya: "Kalau ke Dufan mau? Senang juga engga?
Naya: "Mauuu. Senang juga!"
Saya: "Lebih senang mana, kakak Aya ke Disneyland atau ke Dufan?"
Naya: "Asal ada mama! Di lumah aja sama mama kakak Aya juga senang!"

:')

Saya berjanji akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Naya, karena memang benar, to a child happiness is simple, to a child, love is spelled T-I-M-E:)

Arti kebahagiaan mungkin akan berbeda untuk setiap orang. Menjalani passion, berkumpul bersama keluarga, membahagiakan orang lain bisa berarti kebahagiaan. My definition of happiness is being with my family. As simple as that. What's yours?;)

Tuesday, December 10, 2013

Di Majalah Parents Indonesia

Ayeey! Ada buku "Dont Worry to be a Mommy!" di majalah Parents Indonesia terbaru lho. Terimakasih Parents:*


Friday, December 6, 2013

Mejeng di Detik;)

Kemarin pagi saat saya sedang laporan pagi, handphone saya berbunyi tanda ada mention baru. Saat saya buka, ternyata ada seorang teman yang men-cc-kan twit dari akun Detikcom. Aihh, ternyata ada saya disana, dalam rangka promo buku terbaru "Dont Worry to be a Mommy!"

Sudah lihat belum?
Ini dia link-nya: http://health.detik.com/read/2013/12/05/073707/2432933/764/kisah-perjuangan-dr-meta-melewati-masa-kehamilan-anak-pertamanya


Wednesday, December 4, 2013

Hasil Semedi Sore:p

Buat yang selama ini rajin membaca postingan blog saya, pasti merasa bahwa akhir-akhir ini tulisan saya (terlalu) serius melulu. Hehe, maaf ya kalau ada yang bosan:p Saya cuma gemas dengan beberapa berita terkait dokter yang sedang heboh dan membuat banyak orang antipati dengan dokter.

Di tengah polemik berkepanjangan dimana dokter disudutkan, saya merasa harus ada yang mengklarifikasi agar masyarakat mengetahui sudut pandang dokter. Segala sesuatu selalu punya 2 sisi bukan? Saya ingat satu hadits yang kurang lebih bunyinya "Sampaikanlah kebenaran walau hanya satu ayat". Kebenaran versi siapa? Kebenaran yang mutlak tentunya hanya milik Yang Di Atas. Saya hanya menyampaikan apa yang saya yakini benar. Kalau pihak lain yang tak sependapat merasa benar pun, silakan, saya engga bakal menghalangi atau mencemooh. Jadi bukan sekadar membela mati-matian sejawat ya:p

Hak semua orang bukan untuk beropini? Ada yang komentar saya terlalu berkoar-koar di blog. Ya memang. Ini kan blog pribadi saya, fungsinya ya memang untuk menulis opini saya, untuk berkoar-koar apapun yang saya ingin. Keberatan? Ya bikin saja blog sendiri, berkoar-koarlah sendiri:p

Memang saya bukan artis atau selebritwit berfollower banyak yang pendapatnya akan ditanggapi dengan cepat oleh masyarakat. Tetapi saya puas kok seandainya tulisan saya dapat menjawab keingintahuan satuuuuuu saja, orang yang benar-benar ingin tahu masalah ini. Tidak perlu se-Indonesia, satuuuuu orang saja saya sudah senang:)

Anyway, gegara komentar-komentar yang masuk, saya mendapat satu kesimpulan. People easily judge. They do. Even when they dont really know, they will judge as if they knew everything about you. Ada mereka yang menyimpan asumsi pribadi mereka tentang kita dalam hati, ada yang mengungkapkan dengan sopan, tapi lebih banyak lagi yang berkomentar dengan kasar. Seakan-akan dengan menjudge secara kasar, mereka menjadi lebih baik kedudukannya dari kita. Padahal, bahkan untuk menulis nama asli mereka saja tidak mau. Seakan-akan, menulis komentar kasar tanpa nama dapat membebaskan mereka dari "tanggungjawab" yang akan dihitung kelak di akhirat;)

Your words define who you really are. Judging a person does not define who they are. It defines who you are;)

Kalau saya pribadi sih cenderung berusaha menghindari berbicara atau bersikap kasar dengan orang lain, apalagi yang tidak saya kenal. Saya percaya, dengan bersikap kasar, membully atau apalah istilahnya, secara tidak langsung saya sudah "menganiaya" orang lain. Bukankah doa orang teraniaya sudah dijanjikan Allah pasti akan dikabulkan? Bagaimana kalau orang tadi mengumpat -dan tanpa sadar mendoakan kita hal yang jelek?-? Naudzubillahbindzalik.

Saya menulis ini juga sebagai reminder untuk diri sendiri agar tidak mudah menjudge orang lain. Judging people does NOT make you better than them. It only shows how insecure you are. 

Buat yang sedang merasa dijudge, santai saja, woleees. Ingat ingat, its always the people that know you the least that judge the most. Tidak perlu dibalas, tidak perlu kesal atau bahkan tidak usah ditanggapi. Kalau kata acara tipi mah, yuk keep smileeeee!

They can hate you, they can judge you, they can talk bad about you. But in the end, you'll stay happy and they're stay jealous;)

Adios!

Sunday, December 1, 2013

Klarifikasi Aksi Dokter

Sudah 4 hari berlalu dari saat dilaksanakannya aksi solidaritas dokter Indonesia. Timeline social media saya masih saja dipenuhi oleh respons masyarakat mengenai hal ini. Ada yang menghujat dokter besar-besaran, ada yang mempertanyakan maksud dokter menggelar aksi ini, ada yang akhirnya malah bertengkar satu sama lain. Tak sedikit mereka yang berlomba-lomba memberikan 'testimoni' pengalaman mengecewakan dengan dokter sebelumnya. Hampir semua bersikap negatif terhadap dokter. Jangankan masyarakat, pejabat pun seperti berebut panggung mengomentari aksi dokter, tentunya dengan komentar yang tak kalah negatif. Ini pun diperparah oleh media yang kompak memberitakan sisi buruk dokter. Bahkan saat sedang panas-panasnya, stasiun televisi swasta pertama di Indonesia justru dengan sengaja malah memutarkan film lepas tak bermutu tentang dokter yang berhati jahat. Entah apa tujuannya. Sengaja menyiramkan bensin ke nyala api? Entahlah, wallahualam.

Saya mendapat beberapa pertanyaan yang masuk ke dalam inbox email saya atau lewat Facebook.  Saya pikir sepertinya akan lebih berguna jika saya tulis di blog agar bisa dibaca orang banyak. Semoga bisa memberikan pencerahan. Saya mohon, sebelum membaca, tak usahlah emosi atau negative thinking dulu. Ingat, marah dan emosi dekat dengan setan. Apakah ada gunanya jika anda memaki lewat komentar? Apakah akan ada yang berubah setelah anda bersikap kasar? For every minute you are angry, you lose 60 seconds of happiness:)

Ini adalah beberapa pernyataan dan komentar yang sliweran di timeline saya:)

1. Dokter-dokter ini gila semua ya. Masa ngebelain satu orang salah aja sampe segitunya pake demo segala. Arogan banget, ngerasa dewa kali bisa kebal hukum. (Seriously, ada teman saya di Path yang nulis begini.)

Begini, kami sama sekali engga meminta kekebalan hukum. Dokter pun manusia juga, bisa lalai. Kalau memang lalai dan karena kelalaiannya ini sampai menyebabkan meninggalnya seseorang, wajarlah kalau dihukum. Kami pun setuju. Pernah mendengar kasus aborsi oleh dokter? Atau kasus tertinggalnya alat operasi di tubuh pasien setelah operasi? Toh, setelah itu dokter ybs dihukum, kami engga masalah, engga membela. Kami mendukung hukum Indonesia. Wong memang salah kok. Tapi, kalau seorang dokter telah melakukan semua sesuai standar prosedur, TIDAK LALAI, tapi karena pasiennya meninggal kemudian dituntut dibilang MALPRAKTIK, itulah yang kami tidak setuju. Bagaimana bisa? Apakah gagal menjadi Tuhan adalah malpraktik? Coba baca lagi definisi malpraktik:)

2. Okelah, semua sesuai standar prosedur. Tapi kan katanya tandatangan di informed consent dipalsuin. Itu kan engga bener? Tetep salah tuh dokternya!

Sudah lihat acara Hitam Putih edisi tanggal 28 November 2013? Kalau belum, lihat di Youtube ya. Disana Deddy Corbuzier sebagai host dengan smartnya dapat membuka "misteri" ini. Awalnya saat ditanya apakah ibu pasien menandatangani surat persetujuan untuk operasi, ibu pasien menjawab tidak pernah. Setelah ditanya lagi, ibu pasien tadi menjawab tandatangan, tapi tidak dijelaskan untuk apa. Menurut saya, seseorang yang sudah dewasa, sehat jiwanya, apakah wajar memberikan tandatangan di atas surat resmi begitu saja tanpa membaca isinya atau menanyakan apa maksudnya? Buat saya plin-plannya sang ibu dalam menjawab pertanyaan sesederhana "Apa sudah menandatangani surat persetujuan?" sungguh sangat mencurigakan. Saya mengacungkan empat jempol saya buat Deddy Corbuzier untuk kelihaiannya mencari fakta. Smart! Oh ya, lagi pula nih, seandainya tidak ada informed consent pun, segala tindakan untuk keadaan gawat darurat SAH di mata hukum.

3. Katanya dokter berpendidikan. Kok menyampaikan pendapat pake cara yang norak sih? Mbok ya mikir cara lainnya.

Ask before you judge. Setahu saya, kami sudah melakukan segala cara termasuk meminta PK. Tapi tidak ada responnya sampai sekarang. Meskipun pahit, akhirnya kami memutuskan cara ini untuk mendesak pemerintah. Tapi bisa dilihat sendiri kan ya, bahkan setelah riuh rendah, orang nomor satu di negara ini tetap adem ayem. Tidak ada responnya sama sekali.

4. Tapi kan rakyat yang ditelantarkan? DImana hati nuraninya? Ingat sumpah dokternya!

Saya senyum-senyum sendiri membaca komentar macam ini. Apa yang menulis ini tahu benar isi sumpah kami? Tak perlulah bawa-bawa hati nurani kami. TIDAK ADA rakyat yang ditelantarkan. Pelayanan tetap jalan, pasien emergency tetap dilayani. Pasien rawat jalan pun hanya ditunda beberapa saat. Ada yang bilang "Iya terserahlah ditunda berapa lama, 5 menit kek, 10 menit kek, 25 menit atau 2 jam, nyawa kan berharga sekali. 5 menit untuk nyawa itu sangat berharga!" Iya, kami tahu kok. Time saving is life saving. Makanya pelayanan emergency di UGD masih dibuka. Ngomong-ngomong, yang nulis begini tahu engga sih pasien rawat jalan itu yang seperti apa? Nih sekalian saya jelaskan ya. Pasien rawat jalan tuh misalnya yang sakit batuk, pilek karena common cold,  panu, gatal-gatal atau penyakit ringan lain. Apakah common cold jika diundur sehari pengobatannya bisa mematikan?Setiap Sabtu dan Minggu, rawat jalan libur tapi kenapa tidak pernah diprotes atau masuk koran? Saat libur panjang lebaran, rawat jalan juga libur panjang, tapi kenapa tidak pernah jadi headline?:p

5. Itu buktinya di media ditulis begitu. Sampai ada yang menulis "Dokter Mogok, Pasien Melahirkan di Toilet Puskesmas." atau "Dokter Demo, Anak Gizi Buruk". Pokoknya memang dokter-dokter sekarang itu keterlaluan!
Konfirmasi dari TS yang berada di tempat tsb.

Lagi-lagi, saat membaca tulisan begini, saya senyum manis semanis madu *halah*:)))
Pertama, tahukah anda, di Puskesmas, pasien yang melahirkan MEMANG ditangani oleh bidan. Dokter di Puskesmas bertugas di poli umum menangani pasien lain. Saya pernah bertugas di Puskesmas, dan selama itu pula setiap ada orang hamil melahirkan, semuanya ditangani oleh bidan. Kenapa di toilet? Buat yang pernah melahirkan, seharusnya mengerti terkadang mulas saat mau melahirkan tak bisa dibedakan dengan mulas saat mau ke kamar mandi. Saya yakin, banyak kok orang yang pernah melahirkan di kamar mandi, terlepas ada atau tidak dokternya. Jangan lebay;)
Kedua, yang menulis mengerti definisi gizi burukkah? Gizi buruk adalah keadaan yang kronis, yang lama berlangsung. Lah masa dalam sehari bisa gizi buruk? Ibaratnya, ada anak bayi sehat, usia 1 tahun berat badan 12 kg, kemudian karena dokternya aksi, langsung susut beratnya jadi 6 kg? Tidak masuk akal kan?:))))

6. Tapi memang benar dokter itu menyebalkan. Saya pernah mengantar saudara sakit di Singapore. Disana kami didampingi dokternya 24 jam, dokter selalu siap sedia di samping. Di Indonesia boro-boro!

Please, be fair:) Kalau anda ingin membandingkan pelayanan dokter di Indonesia dengan di SIngapore atau di negara maju lainnya, bandingkan pula sistem kesehatan yang berlaku di kedua negara.  Saya sempat magang sebagai dokter internship di Aarhus Hospital, Denmark di bagian Bedah Syaraf. Di unit rawat jalan, pasien harus membuat appointment dulu sebelum datang, dan dibatasi maksimal hanya 5 orang pasien setiap hari. Satu orang pasien mendapat kesempatan 45 menit untuk bertemu dokternya. Sebagai dokter, saya juga senang dengan kondisi ini. Saya bisa menganamnesis atau bertanya sampai jelas, melakukan pemeriksaan fisik seteliti mungkin, dan menjelaskan penyakit sedetail-detailnya. Pasien senang, dokter pun puas. Di Indonesia? Jangan ditanya. Setiap hari, di unit rawat jalan, ada ratusan pasien yang menunggu dengan jumlah dokter yang terbatas. Setiap hari, rata-rata saya melayani 40-50 pasien. Kalau semua minta waktu 45 menit, ya hitung saja 50x45 menit:D

Di Denmark, saat ada pasien rawat inap yang akan dioperasi, ada satu dokter yang bertanggungjawab sampai pasien tadi pulang. Satu dokter bertanggungjawab hanya untuk satu pasien. Di Indonesia, satu dokter bertanggungjawab untuk puluhan pasien. Mungkin tidak? Lalu salah siapa? Salah dokternya? Salah pasiennya? Atau salah sistemnya?

7. Dokter sekarang sering malpraktik. Saya pernah sakit panas, pulang diresepi banyak obat. Ya engga saya minum. Udah gila kali tu dokter! Waktu itu anak saya juga pernah sakit, diberi obat. Saya tanya ke rekan saya dokter di kota lain, katanya dosisnya kebanyakan. Untung ga jadi saya minumin obatnya. Saya juga pernah tuh ke dokter, engga diapa-apain, periksa juga engga tapi langsung tulis resep.

Tolong jangan digeneralisasi. Seperti profesi lain, dokter pun pasti punya "oknum". Saya tidak menutup mata, memang ada oknum yang tidak benar. Tapi tidak semua kan? Sekarang introspeksi diri sendiri dulu deh. Protes saat datang ke dokter tidak diperiksa langsung diberi obat, tapi masih sering memention dokter di twitter untuk bertanya "Kalau sakit ini obatnya apa dok?". Protes saat dokter memberi banyak obat, tapi tidak pernah bertanya pada dokter ybs kenapa diberi obat sebanyak ini. Oh ya, kasus yang kebanyakan dosis itu juga menurut saya belum tentu benar. Pertama, dokter yang di luar kota tadi kan tidak memeriksa sendiri pasiennya. Bagaimanapun juga dokter yang memeriksa sendiri akan lebih tahu dibanding yang hanya diceritakan lewat telepon atau BBM. Kedua, dosis obat itu untuk anak ada  rangenya. Bukan harga mati. Contohnya, dosis Paracetamol untuk anak adalah 10-15 mg/kg. Biasanya dosis yang diberikan adalah 10 mg/kg supaya lebih mudah menghitungnya. Tapi apakah saya salah kalau memberikan dosis 12 mg/kg? Atau 14 mg/kg? Toh masih dalam range aman. Medical is art. Kalau tidak tahu, tanyakan ke yang meresepi. Bukan ke orang lain. Ask first, dont judge. 

8. Dokter itu mata duitan semua. Saya pernah mengantar tetangga saya sakit ke rumah sakit menggunakan Jamkesmas yang katanya gratis semua, eh tetap disuruh beli obat di apotik luar. Pantes aja kaya raya! Pasti biar dibayar pabrik obat.

Apakah yang menulis ini pernah bekerja di Rumah Sakit? Begini, coba sebelumnya lihat dulu beberapa tulisan hasil googling saya berikut:

Program Jamkesmas diluncurkan tahun 2008 menggantikan program Asuransi Kesehatan untuk Keluarga Miskin, yang memungkinkan masyarakat miskin memperoleh akses layanan kesehatan dengan pembayaran oleh pemerintah ke puskesmas dan rumah sakit. Lihat sendiri tuh, pemerintah berhutang hampir 2 triliun rupiah. Akibat penunggakan dana ini, sejumlah rumah sakit menghadapi persoalan, seperti penambahan pasokan obat dan pembiayaan tenaga medis. Engga usah ngomongin pembiayaan tenaga medislah ya, biar itu menjadi masalah kami saja. Tapi soal pasokan obat? Obat-obatan yang digadang-gadang gratis semua dari pemerintah kalau habis bagaimana? Wong yang sebelumnya saja masih nunggak. Makanya saya kadang bingung juga, caleg-caleg yang gembar-gembor kalau terpilih akan membuat pelayanan kesehatan gratis itu apa kabarnya ya? Mau membayar tunggakan hampir 2 triliun ini? Tanggung jawab ke yang memilih ya, sama Yang Di Atas:p
Oh ya, yang berpikiran dokter jualan obat, jangan negative thinking lagi ya. Dont judge before you really know.

9. Tapi kan benar dokter sering bekerja sama dengan farmasi. Tetangga saya ada yang dokter bisa tuh jalan-jalan ke Eropa, beli mobil mewah, pasti dibayarin obat kan tuh! Kalau saya dateng ke praktik dokter suka banyak tuh detailer atau tukang obat yang sliweran.

Dengan kerja keras yang 24/7, pantas dong ya kalau dokter bisa mengumpulkan uang lebih banyak? Yang namanya rejeki sudah diatur kan? Seharusnya sebagai makhluk yang percaya akan kuasa Tuhan, tidak perlulah "mengurusi" rejeki orang lain. Masalah kerja sama dengan pabrik farmasi, menurut saya pribadi, selama dokter meresepkan obat secara rasional, kemudian pabrik farmasi ybs memberi penghargaan pada dokter tsb ya tidak masalah. Memang apa salahnya? Buat saya, yang salah itu kalau "oknum" dokter rajin meresepkan obat yang tidak perlu atau tidak rasional untuk pasien hanya demi kejar setoran pada pabrik farmasi. Toh, dokter dan farmasi memang sama-sama membutuhkan. Kalau dokter tidak mengerti isi kandungan merk suatu obat, bagaimana bisa meresepkan? Sekali lagi, please dont judge.

10. Masa media sekelas **** *** atau ****** atau ******* menyebarkan berita bohong sih? Bukan dokternya nih yang bohong? Kan ada kode etik profesi wartawan.

Saya tidak pernah bilang media berbohong. Semua yang diberitakan benar adanya, walaupun mungkin tidak ada hubungannya. Saya juga bekerja di media dan tahu benar bagaimana cara memberitakan sesuatu. Cari point of interest, kemudian blow-up. Kalau bisa dengan judul yang menghebohkan agar bernilai jual tinggi. Sayangnya, nilai jual tinggi di Indonesia biasanya adalah yang kontroversial atau berita negatif. Lihat saja infotainment yang menguliti hal-hal negatif dari pribadi para artis. Laris maniiiis tanjung kimpul! Contohnya nih ya, ada headline yang bilang "Dokter Mogok, Anak Gizi Buruk." Saya yakin tidak ada yang berbohong. Dokter Mogok--pernyataan benar. Anak Gizi Buruk--pernyataan benar. Sayangnya tidak berhubungan:) Masyarakat yang tidak mengerti tentu menelan mentah-mentah pemberitaan ini dan membuat asumsi pribadi kalau kedua pernyataan ini PASTI berhubungan -which is not-. Jadilah opini publik sukses digiring media massa, Belum lagi media elektronik. Duh saya kecewa sekali dengan kebanyakan presenter talkshow beberapa televisi yang hobi memotong pembicaraan narasumber dan menggiring opini publik, sayangnya ke arah yang salah. Saya tahu sih alasannya, lagi-lagi karena rating. Sekarang pintar-pintarnya masyarakat sajalah, mau digiring ke arah mana;)

Dalam kitab suci agama saya, terdapat satu ayat yang saya rasa ada hubungannya dengan point ini.

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpe mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Al-Hujuraat:6)


Percayalah, kami memperjuangkan apa yang layak kami perjuangkan. Bukan untuk kami pribadi tapi untuk masyarakat Indonesia umumnya. Bayangkan, sekarang dengan kasus ini, kami merasa "takut" memutuskan apa pun bila tidak ada informed consent yang ditandatangani keluarga. Lagi-lagi siapa yang rugi? Pemerintah? Dokternya? Atau masyarakat?

Seandainya nih, ada satu pasien datang karena kecelakaan lalu lintas dalam keadaan tidak sadar dan terluka parah, membutuhkan operasi secepatnya. Dompet tempat identitas disimpan tidak ditemukan, pasien datang hanya diantar polisi. Tidak ada handphone atau pengenal apa pun. Sebelum ada kasus ini, saya yakin semua dokter pasti tidak akan berpikir dua kali. Langsung operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien. Kami pun tidak tahu bagaimana hasilnya kelak, meninggal atau tidak ada di tangan Pemilik Usia. Tapi yang kami tahu, apapun yang terjadi, usaha harus tetap dilakukan. Sekarang, setelah ada kasus ini? Beda lagi ceritanya. Jangan-jangan kalau kami mengoperasi pasien kemudian meninggal, kami dituntut? Jangan-jangan kalau nanti pasiennya meninggal, karena tidak ada informed consent yang ditandatangani keluarga kami dipenjara? Jangan-jangan kalau nanti pasiennya meninggal, kami dicacimaki seluruh Indonesia dituduh malpraktik? Apa sebaiknya dibiarkan saja? Menunggu ada keluarga yang melapor kehilangan anggotanya? Sudah telat, tentunya. Apa sebaiknya dibiarkan meninggal begitu saja? Bagaimana menurut anda?:)

Saya masih akan mengupdate list pernyataan ini kelak. Saya ingat-ingat dulu deh apa saja. Saya menulis ini untuk konfirmasi, apa yang sebenarnya terjadi. Semoga bisa meredam panasnya situasi yang ada sekarang antara dokter dengan masyakat.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan satu cerita untuk direnungi. Semoga bermanfaat!:)

A 24 year old boy seeing out from the train's window shouted " Dad, look the trees are going behind!". His dad smiled. A young couple sitting nearby, looked at the 24 year old's childish behavior with pity. Suddenly he again exclaimed. "Daaaad, look the clouds are running with us!".The couple couldn't resist and said to the old man. "Why dont you take your son to a good doctor?" The old man smiled and said "I did. We are just coming from hospital. My son was blind from birth, he just got his eyes today. Every single person on the planet has story. Dont judge people before you truly know them. The truth might surprise you. Think before you say something! (Source: NN).

*2 Desember 18.30: saya merevisi judul karena setelah dipikirkan lagi, sepertinya kata Klarifikasi lebih cocok untuk tulisan ini:)

Thursday, November 28, 2013

Surat Untuk Sejawat

Disclaimer: Sebenarnya saya sudah "berjanji" pada diri sendiri untuk tidak menulis ramai-ramai soal dokter lagi. Bukan apa-apa, jujur, saya capek juga membaca beratus komentar negatif yang masuk tiap harinya. Saya percaya, when negativity surrounds you, you can not produce a positive life. Bukan berarti juga saya menutup mata dan hati terhadap pandangan orang lain. Engga sama sekali, selama disampaikan dengan baik dan benar. (Baca: Bukan cuma komentar dari orang yang bahkan tidak mau menuliskan nama aslinya hanya untuk menyerang dengan kata-kata kasar). Kalau mau berdiskusi, boleh-boleh saja kok:)

Tapi rupanya tangan saya gatel juga nih ingin menulis setelah membaca respons banyak orang terhadap aksi dokter di timeline Twitter, Path atau Facebook. Seorang teman mengingatkan saya, people will always find something (bad) to say about us and to judge, so why bother? Benar juga, toh semua orang bebas beropini kan?:)

Rekan sejawat yang saya hormati,
Kemarin, tanggal 27 November 2013, kita sebagai dokter se-Indonesia melakukan aksi solidaritas. Ada yang berdoa bersama, tafakur sampai membagikan bunga. Kita memasang pita hitam di lengan jas putih sebagai tanda berbela sungkawa atas tindakan kriminalisasi profesi kita. Sungguh sangat"mengerikan" menyandang gelar dokter di negara tercinta ini. Niat yang baik tak lagi cukup. Usaha yang maksimal tak lagi dinilai. Menyedihkan mengetahui setiap saat kita bekerja menolong orang, ada kemungkinan besar pula kita dianggap sebagai pembunuh.  Yang saya ketahui, aksi solidaritas kemarin memang disepakati serentak agar memberikan efek massive pressure pada pemerintah untuk segera membenahi sistem pelayanan kesehatan agar kita sebagai dokter dapat merasa aman saat bekerja. Jika sistem pelayanan kesehatan sudah baik, tentu tak hanya dokter yang senang, pasien notabene masyarakat pun akan ikut sejahtera. Kita ingin sekali orang-orang mulia yang berpengaruh di pemerintahan mengetahui betapa acak-acakannya sistem pelayanan kesehatan kita.

Rekan sejawat,
Banyak reaksi yang menyambut aksi kita kemarin. Lihat saja di timeline twitter, Facebook atau Path. Hampir semua orang berlomba-lomba menghujat profesi kita. Tak sedikit pula media yang memberitakan dengan tidak berimbang. "Dokter Mogok, Pasien Terlantar." Begitu bunyi banyak headline media massa, diperburuk oleh orang-orang yang berkoar di sosmed tanpa mau bersusah payah meng-kroscek benar tidaknya berita tsb. Tidak tahukah mereka bahwa kita tidak pernah berniat menelantarkan pasien? Tidak mengertikah mereka yang menghujat kita dengan membawa sumpah dokter (entah mereka tahu benar bunyinya atau tidak), bahwa aksi yang hanya dijalankan beberapa jam itu tetap menomor satukan pelayanan? Pelayanan emergency tetap dibuka, pasien gawat darurat masih dilayani.  Di tempat saya bertugas, aksi solidaritas ini hanya berjalan selama 25 menit. Pasien rawat jalan (baca: TIDAK emergency) ditunda pelayanannya 25 menit.  Hanya 25 menit. Kita belajar seumur hidup, mengorbankan banyak hal, bekerja keras tak kenal waktu, untuk apa lagi kalau bukan untuk pasien? Bagaimana bisa kita menelantarkan mereka?

Rekan sejawat,
Setidaknya ada satu hal yang bisa kita catat dari reaksi masyarakat. Bahwa profesi kita sangat dibutuhkan. Bahwa walaupun dihujat besar-besaran, dokter masih sangat diperlukan.  Semoga hal ini bisa menyadarkan pemerintah untuk sesegera mungkin membenahi sistem pelayanan kesehatan.

Rekan sejawat,
Saya tahu betapa sedihnya kita semua mengetahui profesi kita, yang kita usahakan seumur hidup dengan sekian pengorbanan, dihujat oleh orang banyak. Saya tahu, bagaimana marahnya kita saat semua orang mencaci-maki dokter. Saya juga mengerti, mangkel sekali rasanya ketika masyarakat menjelek-jelekkan profesi dokter.  Saya tahu, banyak pemberitaan tak berimbang yang membuat profesi dokter tambah dijudge ini-itu. Percayalah, saya mengerti. Tapi please, jangan tersulut emosi. Banyak rekan sejawat yang menulis status di sosmed "Rasain tuh gimana rasanya engga ada dokter!" atau "Kalau sakit, engga usah ke dokter ya! Ke dukun aja sekarang!" dan komentar kasar sejenis lainnya. Walaupun kesal juga, saya tetap merasa pernyataan seperti ini tidak pantas. Bagaimanapun, selain pointless, komentar-komentar kasar hanya menambah rusuh suasana. Jangan jugalah mendiskreditkan profesi lain. Kita sama-sama manusia yang membutuhkan orang lain. Tanpa polisi, wartawan, hakim, pengacara, jaksa, buruh, tentu kita tidak bisa bekerja sebagai dokter dengan baik. Tunjukkanlah kalau kita memang tidak arogan, seperti apa yang dianggap banyak orang. Buktikanlah kalau memang kita berpendidikan. Tidak usah menanggapi komentar kasar asal lewat atau asal ngomong tanpa tujuan dengan balasan komentar yang sama kasarnya.

Rekan sejawat,
Reaksi masyarakat terhadap profesi kita memberikan kita banyak hikmah. Kita disadarkan pentingnya komunikasi dalam menghadapi pasien, dan dituntut untuk bekerja lebih hati-hati lagi.
Sekali lagi, jangan tersulut emosi. Ingat lagi apa sih tujuan kita ingin menjadi dokter? Apa tujuan kita bekerja sedemikian kerasnya? Apakah untuk status supaya kita bisa menganggap masyarakat tak berdaya tanpa kita? Apakah untuk penghargaan? Atau memang untuk menolong?
Saya tahu, sulit untuk menghapus citra negatif profesi kita di mata masyarakat. Tapi, kita bisa mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri. Hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil bukan?

Semua orang bebas beropini, termasuk yang negatif. Tak perlu kita ikut negatif pula. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menghujat kita? Negativity only leads you nowhere. Tetap semangat, hati-hati dalam bekerja, tetap percaya Gusti Allah mboten sare. Bahkan sebutir niat baik pun akan dihitung kelak. Toh, in the end, its the only thing that matters, right?:)

Wednesday, November 27, 2013

Mau Ulangtahun:p

Memang ulangtahun Naya yang ke-3 masih lamaaaa banget, tetapi anak gadis saya ini sekarang sedang rajin sekali mengingatkan saya untuk merayakannya. Saya ngerti sih sebabnya. Hampir setiap hari di sekolah Naya, ada yang berulangtahun. Ada yang dirayakan di sekolah, ada juga yang di luar sekolah seperti restoran fastfood.

Selama ini kami tidak pernah merayakan ulangtahun Naya. Pertimbangannya, karena Naya masih terlalu kecil untuk mengerti, selain itu -lagi-lagi:p- masalah waktu. Saya dan suami sama-sama sibuk untuk mengurus printilan ulangtahun. Tapi lain ceritanya kali ini. Naya sudah cukup besar, sudah mengerti arti ulangtahun, dan kami ingin sekali ulangtahun Naya dirayakan walaupun sederhana. Setidaknya Naya pernah merasa ulangtahunnya dirayakan. Selain itu, saya dan suami sudah lumayan bisa membagi waktu.  Saya yang rada OCD kalau soal planning, excited banget merencanakan ini-itu buat ulangtahun Naya:D Sama excitednya dengan yang mau berulangtahun:p

"Mama, nanti sebental lagi kalau kakak Aya birthday yang ke-3, happy birthday-nya di KFC ya. Kakak Aya nanti kan udah besal, ga takut lagi sama Chaki (Badut ayam icon KFC, Red)."

Atau:
"Mama, kakak Aya maunya happy birthday di Wendy's kayak ******* (temannya), bial banyak balonnya."

Saya memang engga anti-fastfood. Buat saya, fastfood untuk sekedar treat sekali-sekali engga masalah kok. Saya sendiri juga suka makan ayam KFC, apalagi yang original. Bumbunya enak banget! *apadehini*:))) Selain itu, restoran fastfood macam KFC atau McD ini menyediakan paket ulangtahun anak yang all-in. Semua sudah diurus, mulai makan, kue, acara, sampai goodiebag. Tahu beres. Praktis dengan harga yang sangat bersaing.

Hanya saja setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan untuk tidak merayakan ulangtahun di fastfood. Bukan apa-apa, kami ingin sekali menunjukkan bahwa makanan sehat pun bisa jadi fun kok. Konsekuensinya, saya harus mengurus semua dari tempat, dekorasi, acara, konsumsi sampai goodiebag. Horeeee!:;)

Untuk tempat, inginnya sih di rumah. Tapi tentu tidak mungkin karena rumah kami kecil mungil:)) Tidak mungkin juga di hotel karena mahal:p Saya masih survey banyak tempat nih. Doakan lancar ya:p

Thursday, November 21, 2013

Kakak Aya Ngaji

Update soal Naya nih!

Seperti yang pernah saya tulis disini, saya memang sempat khawatir karena Naya enggan bermain. Kerjanya belajaaaar terus. Engga mamanya bangetlah!:p

Tapi setelah saya tanyakan ke dokter konsultan tumbuh kembangnya, menurut beliau tidak masalah. Lega deh saya. Masih normal kok:p

Sekarang Naya sering sekali merengek minta diajarkan membaca. Alasannya begini:
"Kakak Aya mau baca buku celita sendiliiii. Nunggu mama dali lumah sakit lama. Mau baca maaa!"
 Kebayang engga sih, anak bayi saya yang satu ini rewel dan menangis karena minta diajari membaca?-___-"

Jujur saya sendiri agak takut mengajari Naya membaca atau berhitung. Saya pernah membaca di jurnal tumbuh kembang bahwa anak di bawah usia 6 tahun tidak boleh diajarkan membaca, apalagi berhitung karena memang belum waktunya. Lah anak saya sendiri memaksa terus. Bingung.

Selain merengek terus minta belajar membaca, Naya masih sering bertanya hal-hal yang saya engga ngerti bagaimana menjawabnya. Misalnya:

Naya: "Mama kan dotel anak ya? Jaganya jagain anak-anak kan?"
Meta: "Iya kak."
Naya: "Kalau papa dotel kandungan, belalti jagain kandungan-kandungan ya ma?"
Meta: "Eh bukaaaaan. Papa itu jaga orang hamil kak."
Naya: "Kenapa namanya dotel kandungan ma? Bukan dotel olang hamil?"
-__________-" (Saya musti jawab gimana coba iniiiiii)

Saya juga belajar banyak dari Naya. Terkadang sebagai ibu, saya suka gemes kalau Naya sudah mulai bertanya. Inginnya cepat selesai saja, sehingga langsung saya jawab. Padahal mungkin yang saya maksudkan tidak sama dengan Naya. Contohnya nih, suatu hari ketika kami sedang naik mobil dan melewati sungai.

Naya: "Mamaaaa, ini sungai temannya laut ya?
Meta: "Iya betul kak."
Naya: "Tuh lihat ma, ada ikannya banyaaaak sekali. Ikan lele, ikan paus, ikan duyung, macem-macem."
Meta: "Hmmmm" *sibuk nyetir*
Naya: "Ma, ada buayanya juga tuh."
Meta: "Oh ya?"
Naya: "iya, ada kudanya juga."
Meta: (Karena saya pikir kuda engga mungkin ada di air, saya mengkoreksi kata-kata Naya.
           "Kak, kuda kan engga bisa berenang. Ya ga mungkin dong ada di sungai."
Naya: "Ada kok ma."
Meta: "Ah, kakak ini kok ga mau dibilangin. POKOKNYA kuda itu engga bisa ada di air!" *mulai bete*
Naya: *pasang tampang mau mewek* "Ada ma, namanya kuda laut."
Meta: *ngakak*
Saya langsung banyak-banyak istighfar lho! Ya ampuuun, saya kok egois banget ya, cuma karena biar cepat selesai langsung memotong imajinasi Naya yang ternyata lebih benar dari saya:(
Maaf ya kak:(

Ini saya attach video waktu bayi 2.5 taun saya mengaji . (POKOKNYA tetap bayi saya! Mau sudah 17 tahun juga masih bayi saya;p)
video




Wednesday, November 20, 2013

Review- Ayahbunda

Yayyy!
Resensi "Dont Worry to be a Mommy!" dimuat di majalah Ayahbunda terbaru:)
Terimakasih Ayahbunda:*

Friday, November 15, 2013

Dokter Oh Dokter

Masih ingat dengan postingan saya soal Emang Enak Jadi Dokter? dan Respond to -Emang Enak Jadi Dokter?

Baru saja postingan itu saya buat belum ada sebulan. Saya masih ingat komentar pedas maupun yang mengkritik saya, seperti:


Waktu itu saya jelaskan di postingan setelahnya bahwa saya engga pernah ber-negative thinking terhadap siapapun. Saya menulis berdasarkan hasil googling saya yang kebanyakan memang ber-negative thinking terhadap dokter. Semua dibilang malpraktik. Segala dibilang dokter mata duitan. Tidak ada hasil googling dengan keyword "Dokter di Indonesia" waktu itu yang memberitakan suatu hal baik tentang dokter. Seakan-akan kalau dokter berbuat baik pada sesama, menyembuhkan pasien ya memang kewajibannya, bukan prestasi yang layak masuk media. Sekali lagi, berarti bukan saya dong ya yang ber-negative thinking?;)

Beberapa hari belakangan, social media heboh dengan berita (lagi-lagi) malpraktik. Saya sendiri juga bekerja di bidang media, dan tahu benar bahwa issue di bidang kesehatan sangat menarik minat pembaca atau penonton. Belum tentu berita yang ada benar, bisa jadi memang judulnya yang diberi banyak bumbu supaya terlihat wah. Makanya pertama kali mendengar kasus ini, saya mencari info sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber untuk mengetahui benar masalah. Kali ini kejadiannya di Manado, tiga orang dokter residen ilmu kandungan divonis bersalah karena "malpraktik" terhadap seorang wanita yang meninggal setelah dioperasi. Pasien, berusia 25 tahun dan mengalami emboli air ketuban. Operasi dilaksanakan, kemudian bayinya selamat namun pasien tadi meninggal setelah operasi. Keluarga pasien mengaku tidak dijelaskan dulu kemungkinan pasien bisa meninggal sehingga menuntut dokter tadi dipenjara.

Emboli air ketuban adalah kondisi yang sangat berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Saat ini terjadi, memang operasi sesegera mungkin adalah tindakan yang sesuai prosedur. Sepersekian detik pun sangat berarti. Time saving is life saving. Bagaimana kalau dokter yang menerima pasien ini memutuskan menjelaskan panjang lebar kepada keluarga mengenai tindakan dan risiko yang bisa terjadi saat operasi? Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan keluarga akan bertanya detail, membutuhkan waktu untuk berdiskusi satu sama lain yang tidak mungkin memakan waktu sebentar. Penjelasan bisa diberikan, tapi nyawa tidak terselamatkan. Lagi-lagi dokter yang pasti kena bukan? Pasti akan tetap dianggap malpraktik.

Kalau begini ceritanya, sedikit-sedikit dituduh malpraktik, jangan salahkan dokter kalau ada kecelakaan di pinggir jalan lantas tidak mau menolong karena takut. Jangan-jangan nanti kalau korban kecelakaannya meninggal, kami dibilang malpraktik? Jangan salahkan kami kalau enggan menolong pasien gawat darurat yang diantar polisi atau orang lain bukan keluarga. Nanti kalau ada apa-apa, jangan-jangan kami yang dipenjara?

Hari ini, seorang senior saya, dr. Ario Jatmiko sp. B(K). Onk menulis buah pikirnya di harian Jawa Pos. Mirip seperti curahan hati saya.Betapa tidak dihargainya profesi dokter menimbulkan ide untuk demo seperti buruh. Seperti kata ungkapan, if someone does not appreciate your presence, then make them appreciate your absence. Bagaimaa kalau dokter se-Indonesia demo mogok kerja?


Ada satu hal yang membuat saya istighfar berkali-kali ketika membaca tulisan ini. Menurut dr. Ario, ibu menteri kesehatan kita berkata "Kalau mogok, kalian akan saya bunuh pelan-pelan." terhadap para dokter di forum Urun Rembug Dokter Indonesia 2013. Astaghfirullah, bu istighfar yuk! Rasanya omongan macam ini sangat tidak pantas bagi seseorang yang berpendidikan, apalagi seorang pejabat negara.

Coba baca alinea terakhir tulisan tsb. Saya kutipkan yaa..
"Saya mohon petunjuk Bapak Presiden, Ibu Menkes, Bapak Menkeu, atau siapa sajalah, bagaimana cara dokter (dengan istri dan dua anak) merencanakan masa depan keluarga dengan pendapatan Rp. 1.200.000,00 per bulan?"

Saya tidak mengerti politik. Saya tidak mengerti bagaimana maksud pihak-pihak tertentu menjanjikan biaya rumah sakit gratis, biaya pelayanan kesehatan ini-itu gratis untuk masyarakat saat kampanye, sementara dengan 240 juta rakyat budget kesehatan hanya 2.7% APBN. Positive thinking, mungkin saja petinggi-petinggi ini berharap masyarakat Indonesia selalu sehat semua, sehingga hanya sedikit yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Atau apakah hanya pencitraan?  Terserahlah nantinya bagaimana, yang penting janji dulu ke masyarakat supaya terpilih. Entahlah.

Saya tidak mengerti hukum. Saya engga tahu sama sekali bagaimana bisa seseorang yang berusaha menyelamatkan nyawa orang lain TANPA DIBAYAR, sesuai prosedur bisa divonis hukuman penjara hanya karena orang yang diselamatkan tadi meninggal dunia. Apakah tidak bisa menjadi Tuhan adalah suatu kesalahan yang harus dihukum? Entahlah.

Saya tidak mengerti ilmu Kriminologi. Apakah seseorang yang berusaha menolong kemudian orang yang ditolongnya meninggal karena penyakit sendiri adalah suatu tindakan kriminal? Apakah si penolong tadi bisa dikatakan sebagai penjahat? Entahlah.

Saya hanya mengerti satu hal, bahwa sebagai dokter kami harus menolong sesama yang membutuhkan semaksimal mungkin. Kami bukan dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Kami hanya bisa berikhtiar.  Masalah hidup dan mati adalah rahasia Yang Di Atas. Orang yang sehat saja bisa meninggal dalam tidur kan?

Percayalah juga kalau rejeki sudah diatur. Mungkin uang Rp. 1.200.000,00/bulan kelihatan engga masuk akal di jaman serba-mahal begini. Apalagi buat yang sudah berkeluarga dan punya anak. Hari gini, uang pangkal masuk sekolah saja bisa belasan juta! *curcol:p* Tapi kalau Allah berkehendak, pintu rejeki bisa terbuka dari segala penjuru.

Yakinlah, sebutir niat baik pun akan tercatat, Gusti Allah mboten sare. Ada timbangannya sendiri-sendiri kelak. Tak mengapa dihujat atau direndahkan, diledek sampai "dianiaya" di dunia, hanya Allah yang Maha Tahu. Tetap semangat yuk TS!:)

Salam TS!

Thursday, November 14, 2013

Ayo Main Nayaaa!

Children learn BEST through play. (Unknown)
Saya percaya, anak-anak akan belajar banyak hal dengan cara yang sangat menyenangkan setiap kali bermain.   "Pekerjaan" utama seorang anak ya memang hanya bermain, bukan?
Karena itulah saya agak khawatir pada Naya akhir-akhir ini. Sudah 4-5 bulan belakangan, Naya tidak mau bermain. Apa saja. Masak-masakan, tidak mau. Boneka, apalagi. Kasir-kasiran, tidak juga. Semua jenis permainan yang biasanya gemar Naya lakukan tidak lagi disentuh.

Saya sudah mengajak Naya main bersama. Dokter-pasien, penjual-pembeli, atau apa sajalah, semuanya tidak ada yang diminati. Padahal biasanya paling doyan. Sekarang benar-benar mogok main. Lalu apa saja yang Naya lakukan?

Setiap saat Naya ada di meja belajar Hello Kitty-nya. Mewarnai, menulis, menggambar, menempel, atau pekerjaan sejenis lainnya. Memang saya akui, kemampuan motorik halus Naya berkembang pesat. Di usianya yang ke 2.5 tahun sekarang, Naya sudah bisa menulis huruf A-Z, angka 1-10, menghubungkan titik-titik yang membentuk gambar dengan rapi, mewarnai tanpa keluar garis atau menggambar bentuk (lingkaran, kotak, segitiga) dengan jelas. Mungkin itu hikmahnya ya. Tapi tetap saja saya khawatir bukan main. Saking khawatirnya, saya sampai 'melepas' Naya di toko mainan dan menyuruhnya memilih. Apa saja yang ia mau. Apa saja. Hasilnya? "Kakak Aya mau ke toko buku aja, ma. Ga mau disini." Begitu jawabnya. -________________-"
 Ketika saya 'paksa', akhirnya Naya memilih mainan....puzzle-_-"
Hasil kerjaan anak bayi yang hobi bener belajar. Entah nurun sapa:p

Mungkin kekhawatiran saya tidak cukup beralasan ya, tapi tetap saja namanya emak, rasanya kurang afdol kalau engga parno saat ada yang "engga biasa" di anaknya::)

Oh ya, Naya punya daya hafal yang luar biasa. Saya ingat baru 4x mengajarkan surat Al-Fatihah padanya, dan dia sudah hafal benar. Saat ini Naya sudah hafal berbagai surat. An-Nas, Al-Ikhlas, sampai Al-Falaq. Jangan ditanya soal lagu. Segala macam lagu yang baru saja didengar langsung ditiru. Makanya saya masih pikir-pikir buat mengijinkan Naya nonton TV nih. Kebayang engga kalau dia langsung copy-paste semua yang didengarkan dari TV?

Saya ingat pernah kedatangan pasien, baru umur 4 atau 5 tahunan. Saat saya melarangnya makan cokelat, dengan kenes ia menjawab, "Kenapa? Masalahhhhh buat loooooe?". Ibunya bangga sekali:D
Semoga Naya engga pernah begitu ya. Saya masih merasa bahwa kalau mengijinkan Naya nonton TV, stimulasi yang masuk tidak bisa saya saring. Demikian juga dengan gadget. Naya sering menggunakan handphone atau tablet saya hanya untuk foto-foto-__________-"

Kembali ke soal bermain, saya benar-benar parno nih ada yang salah dengan Naya atau dengan cara pengasuhan saya. Saya takut kalau nanti saat Naya memang harus belajar dia justru tidak mau. Rencananya akan saya konsulkan Naya ASAP. Hasilnya saya update lagi nanti yaaa.. Doakan, tidak ada sesuatu yang serius:D

Regards,
Emak Parno:p





Book Review Contest

Sudah pada ikutan Book Review Contest-nya Stiletto belum?
Ini saya copas dari web resminya disini;;)

Banyak banget lho hadiahnya, ikutan yaaa!

Berikut Ketentuan Lombanya:
  1. Membuat review buku "Don’t Worry to be a Mommy!" di Blog pribadi masing-masing. Bagi yang tidak memiliki Blog, boleh membuat reviewnya di notes Facebook.
  2. Panjang review tidak lebih dari 500 kata (kurang lebih 1,5 halaman A4)
  3. Sertakan foto Anda atau foto anak Anda bersama buku ini dan posting bersamaan dengan review bukunya. 
  4.  Peserta wajib follow Twitter: @Stiletto_Book dan Like Fan Page Facebook: Stiletto Book
  5. Mengirimkan link review Anda ke email: stilovers@yahoo.com dengan subjek: Review DWTBAM - (Nama Anda), paling lambat 30 November 2013, pukul 23.59 WIB.
  6. Twit link postingan Anda dengan format: Review "Don’t Worry to be a Mommy" #DWTBAM by @MetaHanindita terbitan @Stiletto_Book - (Link review Anda). Jika tidak memiliki akun Twitter, boleh membuatnya di status Facebook.
  7. Penulis yang memiliki akun Goodreads, silakan salin review Anda dan unggah ke Goodreads. Link: https://www.goodreads.com/book/show/18722479-don-t-worry-to-be-a-mommy

Pemenang!
Pemenang akan diumumkan di website: www.StilettoBook.com pada tanggal 5 Desember 2013. Akan dipilih 3 pemenang, masing-masing mendapatkan:
  • Pemenang #1: Baby jumpsuit merek Mothercare, binder “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea Menggapai Mimpi & Girl Talk, serta satu paket serial Good Morning!
  • Pemenang #2: Baby towels, blocknote full colour “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea for Single Mom & Ladies’ Journey, serta satu paket serial Good Morning!
  • Pemenang #3: Baby toys, blocknote dan magnet “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea for Complicated Relationship & Hitam Putih Dunia Angel, serta satu paket serial Good Morning!

Monday, November 11, 2013

Kelas Inspirasi 2013


Pernah dengar Kelas Inspirasi?

Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti 1 hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar Sekolah Dasar, yaitu pada Hari Inspirasi.

Para profesional diajak untuk menceritakan mengenai profesinya. Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Bagi para profesional pengajar, Kelas Inspirasi dapat memberi pengalaman mengajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa. Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.
 (Diambil dari web resmi Kelas Inspirasi)

Pertama kali mendengar soal program ini, saya langsung sangat tertarik. Pertama, saya sangat suka mengajar. Bahkan dulu saya pernah bercita-cita menjadi guru:D Menurut saya, mengajar itu akan sangat menyenangkan untuk yang suka belajar seperti saya. Saya suka mengetahui hal-hal baru. Dengan mengajar, otomatis kita akan selalu berusaha lebih tahu ini-itu. Selain itu, saya selalu menyukai perasaan setelah berbagi. Rasanya... priceless deh;)

Sayangnya pada saat pertama kali KI diadakan di Surabaya, saya sedang sibuk-sibuknya bertugas. Boro-boro cuti satu hari, wong saya yang sedang kena demam berdarah saja sampai harus tetap masuk dengan infus di tangan:)))

Karena itu, saat mengetahui KI akan diadakan lagi tanggal 11 November ini, saya segera mendaftarkan diri. Kebetulan, stase saya sedang tidak terlalu sibuk. Bolehlah ijin sehari;) Ketika mendaftar, saya masih tak yakin benar akan mengenalkan profesi dokter. Saya pikir akan banyak dokter-dokter lain yang mendaftar, sehingga saya memilih profesi lain, yaitu penulis. Harapan saya, semakin banyak anak yang tertarik untuk membaca. Toh, bagaimanapun membaca dan menulis erat kaitannya.

Seminggu sebelum hari-H, ada briefing untuk para relawan. Sayangnya, saya tidak bisa hadir karena harus jaga RS. Walaupun begitu, pihak panitia -yang baik hati dan dermawan- menyempatkan diri briefing susulan untuk saya sendiri di suatu sore.

Pada saat briefing tersebut, saya mengetahui dari panitia kondisi sekolah yang akan saya datangi. Letaknya di Wonokusumo Kulon (12 tahun di Surabaya, saya sama sekali engga punya bayangan dimanakah ini). Sekolah ini mempunyai KLK atau Kelas Layanan Khusus, program pemerintah untuk menyekolahkan anak-anak tidak mampu yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup juga. Jangan heran, banyak anak jalanan, yang orangtuanya gelandangan atau tukang rombeng di kelas ini. Menurut kepala sekolahnya, sulit sekali membuat anak didiknya tetap bersekolah. Dalam sebulan, hanya beberapa hari saja mereka masuk, sisanya absen. Kalau ditegur, jawabnya "Kalau saya sekolah, ya saya nanti engga makan, Pak".

Nyeeeees banget. Anak kecil yang mustinya engga perlu repot mikirin segala macem selain sekolah dan bermain juga harus bekerja mencari uang demi bisa makan. Saya merasa tertampar banget lho ini, ingat waktu saya kecil dulu kadang buat sekolah saja malaaaasnya minta ampun. Padahal tinggal berangkat.

Anyway, mendengar ini saya justru tambah excited. Buat saya, menginspirasi anak-anak seperti ini adalah suatu tantangan yang harus bisa saya lakukan. Harapan saya, anak-anak ini akan termotivasi untuk mempunyai cita-cita setinggi mungkin. Akhirnya, saya "beralih profesi" dari penulis menjadi dokter. Pertimbangan saya, rasanya hampir semua anak pernah bercita-cita menjadi dokter;;)
Di sekolah tempat saya ditugaskan mengajar, hanya ada dua orang inspirator. Saya dan ibu Nia, seorang konsultan Child Protection dari UNICEF.

Beberapa hari sebelum hari inspirasi, saya mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena info dari panitia tidak ada LCD, papan tulis pun masih black board dengan kapur, saya tidak mungkin menyiapkan presentasi dengan laptop. Jadilah saya memutuskan untuk sharing dengan gimmick saja. Saya siapkan pulpen berbentuk suntikan yang sengaja saya pesan online dengan kilat khusus:p, buku ilmu pengetahuan tentang bagian tubuh manusia, serta buku Kecil-kecil Punya Karya yang ditulis seorang anak berusia 10 tahun, tidak berbeda jauh dengan usia anak-anak di SD tsb. Tujuannya tentu untuk memberikan mereka contoh. "Ini lho ada anak seumur kalian bisa nerbitin buku sendiri. Engga ada yang engga mungkin kok kalau berusaha terus."
Bolpen suntikan yang laris manis diminta anak SD;)


Hari-H, saya berangkat pagi hari karena belum tahu lokasi dengan pasti. Jaraknya lumayan juga ternyata dari rumah saya. Masuk ke gang dan pemukiman kumuh. Kebersihannya kurang terjaga, dan hampir jarang pepohonan yang ada karena sempitnya. Rupanya saya datang kepagian -as always-, belum ada relawan atau panitia yang datang ke SD tersebut. Saya menunggu di kantor pak Kepala Sekolah. Beliau akhirnya ngobrol panjang lebar.
Jadi guru sehari. Ternyata ada juga white boardnya.

Beliau cerita, ada anak didiknya yang jarang sekali masuk sekolah. Ayahnya sudah meninggal, ibunya terserang stroke dan lumpuh total. Setiap hari anak ini harus merawat ibunya. Menggendong ke kamar mandi, memandikan, sampai menyuapi makanan. Selain itu, karena tidak ada keluarga lain, dia juga harus 'bekerja' untu mencari makan. Sedih banget ya dengernya.

Ada lagi cerita yang lain. Seorang anak yang orangtuanya gelandangan, berniat sekali untuk sekolah. Hanya saja, kalau dia sekolah ayahnya akan marah besar karena dianggap mengurangi pendapatan keluarga. Dia diharuskan ikut mengemis atau sekadar mengamen di jalanan. Sekarang anak tadi sudah remaja, dan menjadi perampok. Pak Kepsek menceritakan ini pada saya dengan berkaca-kaca, merasa gagal mendidik. Saya yang hanya mendengar saja ikut mbrebes mili. #TeamMewek

:'(

Saya kebagian mengajar kelas 6 dan kelas 5, masing-masing selama satu jam. Saya keder juga begitu masuk ke kelas. Hampir semua berteriak-teriak saat saya bicara, dan berbicara kotor. Saya kaget lho, anak seumuran begitu bisa misuh-misuh. Kaget sekaligus juga prihatin tentu, karena pasti anak-anak tadi meniru lingkunga terdekatnya bukan?:(
Semuanya semangaaaaaaat!

Saya memperkenalkan profesi dokter pada mereka. Saat saya tanya "Siapa yang cita-citanya mau jadi dokter?". Dengan semangat mereka mengangkat tangan berteriak "SAYAAA!!" tapi lalu disambung dengan "tapi yo cita-cita ae buuuu. Kadohennnn jadi dokter. Jadi tukang bakso aelah ben bisa nyoba maem bakso." Salah satu murid tadi menjawab. Lagi-lagi saya hampir mbrebes mili. Duh, cengeng amat ya saya.

Anak-anak itu berebutan menjawab pertanyaan atau bahkan bernyanyi di depan kelas untuk mendapatkan hadiah dari saya. Semangat, seolah-olah tidak punya beban sama sekali. Saya sempat bertanya "Siapa disini yang suka boloooos?"

Banyak yang mengangkat tangan. Salah satunya menjawab keras "Sayaaa bu! Kalau Kamis pasti bolos. Mending cari uang nang kuburan, uakeh bu!". Polos, riang dan semangat. Khas anak-anak.

Setelah bercerita serba-serbi menjadi dokter, termasuk mengundang salah satu murid mendengarkan detak jantungnya sendiri dengan stetoskop dan menyelipkan beberapa edukasi kesehatan seperti harus cuci tangan dengan benar, atau tidak boleh jajan sembarangan, saya meminta mereka menuliskan cita-cita di kertas warna-warni. Kertas ini akan ditempelkan di 'Pohon Harapan". Harapan saya, semoga setiap melihat tulisan cita-cita mereka di dinding kelas, mereka akan selalu bersemangat berusaha mencapainya. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin bukan?;)

Bu Nia, anak-anak SD Wonokusumo dan pohon harapan mereka:)
Hampir separuh kelas menulis ingin menjadi dokter. Bahkan ada satu tulisan yang membuat saya tersipu malu:p. Jelas tertulis "ingin jadi seperti dokter Meta". So sweet ya:')

Setelah 3 kelas (4.5.6) selesai kami ajar, waktunya untuk penutupan. Kami menerbangkan balon cita-cita dan mimpi.

Fly your dreams to the bluest sky;) credit to @SuhardimanEko
Buat saya, justru sayalah yang sangat merasa terinspirasi. Alhamdulillah saya diingatkan untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt. Alhamdulilah saya diingatkan untuk lebih sering berbagi pada mereka yang tidak seberuntung saya. Alhamdulillah saya diingatkan untuk tidak gampang mengeluh. Maklum deh ya, saya tuh sering banget mengeluh. Surabaya panas, macet, capek di rumah sakit, susah banget istirahat, acara TV engga ada yang bagus, apa sajalah bisa saya keluhkan. Malu kan ya sama anak-anak tadi? *tamparmukasendiri*

Semoga walaupun singkat, saya bisa menginspirasi anak-anak tadi untuk belajar keras demi mencapai cita-cita yang setinggi langit. Saya tahu, apa yang saya lakukan mungkin sangat kecil artinya untuk pendidikan bangsa ini. Tapi sesuatu yang besar selalu berawal dari hal kecil bukan?:D

Hari inspirasi. Sehari berbagi, selamanya menginspirasi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...