Thursday, April 17, 2014

Pelajaran Dari Dinda

Sejak kemarin, timeline di berbagai social media mulai dari Path, Instagram, Twitter sampai Facebook diramaikan oleh komentar terhadap pernyataan Dinda Kusumadewi. Siapa itu Dinda?
 Exactly! Tidak ada yang tahu siapa Dinda sampai kemarin. Benar-benar hebat ya efek social media:D

Rupanya cerita berawal saat salah satu teman Dinda di Path meng-capture postingannya mengenai ibu hamil. Begini kurang lebihnya:



Banyak yang merasa ‘terganggu’ dengan pernyataan tsb dan dengan power of social media, it went viral. Semua merepath, regram, retweet atau repost di akun masing-masing.

Bagaimana dengan saya?
Pertama kali membaca postingan ini, saya langsung berpikir pasti manusia berjudul Dinda ini belum pernah hamil, tidak pernah punya keluarga yang sedang hamil atau kalaupun pernah punya, tidak cukup berempati. Intinya, cuek. Saya terbayang kalau saja Dinda pernah berjumpa dengan saya saat saya hamil, pasti saya habis-habisan dicap Dinda sebagai ibu hamil yang manja semanja-manjanya, engga mau susah tapi suka menyusahkan orang, dan hanya mau dingertiin terus. *quote langsung pernyataannya* :)))))

Yang membuat saya terkejut sebetulnya bukan itu. Pendapat satu orang yang tidak sesuai norma bisa saja hanya anomali dari satu populasi. Tapi coba baca komentar dari teman-teman Dinda lainnya. Lho? Kok sama saja? Bahkan ada yang mengusulkan pasang earphone dan pura-pura tidur. Errrr.. sebegitu cueknyakah anak muda masa kini –asumsi saya mereka masih muda karena pasti belum pernah hamil atau punya istri yang hamil- terhadap lingkungan sekitar? Jangan-jangan tanpa kita sadari, sebetulnya banyak sekali Dinda-Dinda lain di luar sana?

Saya segera memasang alarm untuk diri sendiri. Saya ingin mendidik Naya agar kelak jadi manusia yang bisa berempati terhadap lingkungan sekitar. Jujur, seperti kebanyakan orangtua lain saya pun ingin Naya menjadi anak pintar. Oleh karena itu, stimulasi yang saya berikan pun kebanyakan berhubungan dengan pengetahuan. Tapi setelah kasus ini saya jadi berpikir, apalah artinya Naya pintar matematika, fasih 7 bahasa, hapal Al Quran, juara kelas terus tetapi berberat hati memberikan kursinya di kereta kepada ibu hamil hanya karena menurutnya ibu hamil tadi cuma mau enaknya, manja dan enggan hidup susah? Apalah artinya Naya pintar piano, rajin shalat 5 waktu tapi hobi menyerobot saat mengantri atau parkir di tempat parkir untuk difabel? Apalah artinya Naya selalu ranking 1 tapi gemar mengumpat atau membuang sampah sembarangan? Apalah artinya Naya jagoan balet, pintar menari tapi gengsi minta maaf saat salah, segan mengucapkan terimakasih atau sulit bilang “tolong”?

Menurut saya, terkadang pendidikan di Indonesia ini agak lucu. Murid diberi stimulasi agar bisa pintar dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan tetapi hal yang paling mendasar di atas segalanya justru terlupakan. Makanya jangan heran membaca berita ada siswa pintar dikeluarkan dari sekolah karena menolak memberikan contekan pada teman-temannya. Bahkan siswa tadi pindah ke luar kota karena dihujat wali murid lain. Semua terjadi karena sistim pendidikan negara kita sungguh sangat mengagungkan nilai. Hasil yang terpenting, bagaimana caranya tidak ada yang peduli. Silakan mencontek, membeli soal, mencari bocoran kunci jawaban, terserah. Yang penting, nilai bagus, tidak memalukan nama sekolah.

Tentu sekolah tidak bisa disalahkan karena bagaimanapun, orangtualah yang harus mempunyai peran penting di sini. PR nih buat saya. Doakan saya ya, semoga bisa mendidik Naya dengan baik. *grogisendiri* :)))

Anyway, kali-kali mbak Dinda baca blog saya nih.

Halo Mbak Dinda,
Perkenalkan saya mantan ibu hamil beberapa tahun yang lalu. Percayalah, jadi manja dan menyusahkan orang lain tidak pernah ada dalam pikiran saya walaupun hamil. Perlu diingat kondisi kehamilan setiap orang berbeda. Betul, ada ibu hamil yang tetap perkasa, bahkan teman saya masih lari kesana-sini dan menyetir mobil sendiri saat hamil 9 bulan. Ada lagi yang masih dinas jaga UGD saat hamil besar. Jagoan. Kalau saja bisa memilih, saya pun ingin bisa hamil seperti itu. Tapi rupanya Allah berkata lain.

Saat hamil, jangankan berdiri, bahkan untuk duduk sendiri saja saya kesusahan karena sesak bukan main. Mandi, makan, minum, semua harus dibantu orang lain. Boro-boro menyetir mobil sendiri, melihat saja sulit. Saya masih sangat beruntung karena bisa mengajukan cuti untuk tidak bekerja dan masih bisa makan walaupun tidak bekerja, Saya juga beruntung karena tidak perlu naik kendaraan umum untuk pergi kemana-mana karena saya nyaris memang tidak bisa pergi ke mana pun kecuali ke UGD rumah sakit –yang bolak/i terjadi-. Tapi ada lho, ibu hamil yang walaupun hamil besar tetap harus bekerja untuk kebutuhan.  Ada juga lho ibu hamil yang mau engga mau harus tetap naik kendaraan umum seperti kereta karena tidak ada pilihan lain. Berangkat lebih pagi? Terdengar seperti solusi yang gampang ya memang. Tapi saat hamil, hal yang terlihat gampang pun akan jadi lebih sulit, Mbak.

Kebetulan saya punya teman yang sedang hamil dan tetap harus bekerja untuk makan sehari-hari-bukan untuk membeli earphone atau pulsa biar tetap bisa update Path-. Yaa maunya memang resign biar bisa leha-leha di rumah seperti anjuran Mbak Dinda, tapi dia kan engga bisa minta mama-papanya buat bisa makan dan ngasih makan anaknya.  Setiap hari pula dia harus naik kereta seperti Mbak Dinda. Inginnya sih dia berangkat pagi supaya mendapat kursi dan tidak harus “mengganggu orang-orang seperti Mbak Dinda yang sudah dapat kursi duluan”. Tapi di pagi hari, dia harus berjuang dengan muntah-muntahnya. Mungkin mbak Dinda belum tahu karena belum pernah hamil kan ya, ibu hamil kalau pagi tuh paling sering muntah-muntah. Apa Mbak Dinda lebih memilih teman saya tadi muntah-muntah di kereta? Di depan Mbak Dinda? Setelah itu, dia pun masih harus memandikan, memasak sarapan, mengantarkan anak pertamanya sekolah. Apa definisi manja, maunya nyusahin orang, minta dingertiin tapi engga mau ngertiin orang lain versi Mbak Dinda yang kayak gitu ya?

Saya tahu betul bagaimana perjuangan di antara hidup dan matinya membawa nyawa manusia lain selain diri sendiri. Menurut saya, siapapun yang pernah merasakan perjuangan seperti itu tidak pantas dijudge manja, nyusahin orang lain atau egois oleh orang lain yang bahkan belum pernah merasakannya. Pantaslah kalau banyak yang merasa sakit hati membaca postingan Mbak. Betulll, memang hak Mbak untuk beropini yang dipost di akun pribadi Mbak di social media.  Tapi namanya juga social media, there's nothing you put on social media is private. Hak semua orang juga untuk beropini menanggapi opini Mbak.  Kalau mau private, menulis di diary saja;) Lesson learned, think twice before you post anything in social media:D

Oh ya, kalau-kalau Mbak berpikir kenapa sih ibu hamil harus diprioritaskan buat dapet tempat duduk, ini jawabannya. Bukan karena manja:p




Regards,
Mantan Ibu Hamil Kece
-Halah-
:)))))


19 April 2014, 08.00
Rupanya permintaan maaf dari Dinda sudah beredar di dunia maya. Alhamdulillah, salut pada Dinda yang mau berbesar hati mengakui kesalahannya. Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, amin!

114 comments:

Santi Dewi said...

Setuju banget mba...
satu hal yg kadang dilupakan orangtua Indonesia, mengajarkan empati pada anak2nya. Semoga jika Dinda sudah punya anak, anaknya akan mempunyai empati.

cen said...

Setujuuuuuhhhhh,,,,, empati, keliatannya sepele tp luar biasaaa,,,, mudah2an kl mbak dinda baca blog ini bs tau dmn ndak pasnya,,,

efrian said...

boleh saya share ya mba tulisannya :), terima kasih. Efrian Muharrom

Ny Koes said...

nice to read... boleh di share ga mba? :)

Meta Hanindita said...

Silakan kalau mau dishare:)

Terimakasih yaaa..

Budy Shinichi said...

kebetulan saya memiliki istri yg sedang hamil. saya melihat sendiri betapa beratnya "perjuangan" seorang wanita yg tengah mengandung.. Jadi terus terang saya sangat geram melihat statement ABG, yg juga jelas-jelas seorang wanita, yg mencaci wanita hamil seperti itu

Anonymous said...

Izin share ya mbak :)

opic fotografia said...

Pelajaran tata krama.dan sopan santun.serta tenggang rasa kayaknya memang sudahterhapus.dari kurikulum pelajaran. Dan sekarang, kita.akan serinv.melihat dinda dinda yg lain.
Mungkin harus dari dirikita sebagai orangtua yang bisa.mengajarkan hal-hal semacam itu.

Jonas Anre said...

Ada kalanya kita harus berikap dengan logika atau perasaan. Sudahlah kenapa anda kritis sekali kepada satu orang Dinda. gunakan logika anda, di dalam kereta apakah hanya ada Dinda dan si ibu hamil ? tidak, jelas itu penuh sesak. Apakah selain Dinda ada yang mau mengalah ? atau jangan-jangan semua penumpang bersikap seperti Dinda semua ?
Semua orang berhak untuk mengungkapkan kekecewaannya, tapi kesalahannya adalah Dinda lebih memilih mengungkapkan dari pada memendam rasa kecewanya. Jika dilihat dari sudut pandang secara logika pernyataan Dinda ada benarnya " Jika orang lain yang sedang hamil bisa berangkat lebih pagi kenapa anda tidak bisa ? " tetapi dalam keadan "khusus" perasaan mengalahkan logika.
Menurut anda ini adalah hal baik atau buruk ? jika buruk maka ingatlah "jadikan kamu orang terakhir yang menerima keburukan orang lain".

lee chan said...

Ijin share blogmu ya mba.. this is nice :)

echa-hesya-amelia said...

@jonas anre :
jikalau "jadikan kamu sbg orang trakhir yg menerima keburukan dr org lain" jg diberlakukan pada Dinda .. tentu nya tdk perlu juga kan sekumpulan rekan di path nya tau ttg ke"manja" an sang ibu hamil..

simply menurut saya, kekritisan Mbak Meta dalam mengcapture dan menganalisa case Dinda ini tdk lain dan bukan adlh berbagi feeling introspeksi ..

introspeksi diri dalam lingkup yg lebih luas dibanding cuap2 di socmed .. introspeksi untuk kami para wanita dlm mendidik anak .. untuk kami para pengguna angkutan umum .. untuk kami para pengguna akun socmed.

Thanks Meta,
gbu

Tomat Punk said...

Coment saya buat dinda .... sini din saya hamilin dulu trus rasakan perjuangan nya selama 9 bulan.....
Cuma pergeseran Tulang nggak sebreapa sakit mbak bro.......
Klo udah yg nama nya Orang Hamil Itu harus di Utamakan..... gak di kereta gak di Restoran Gak di Antrian Itu Harus Pertama walaupun ada Nenek"

Sehati Beauty Care said...

Saya setuju sekali mba meta, kebetulan sekali waktu hamil saya juga mengalami kesulitan, dan memang org hamil itu penginnya dimanja....mungkin si dinda ini di didik dengan kerasnya oleh orang tuanya, harus mandiri, jangan manja, jd dia benci melihat dunia sekitarnya di kelilingi orang2 manja yang ga bs mandiri.....seperti kutipan hadist : orang muda itu adalah cabangnya kegilaan. They think they know the world...but they don't....:)) at least not yet....experiences come with old age. Semoga dinda mau minta maaf dan mengakui kesalahannya dan bukannya menantang orang untuk berangkat jam 5 pagi dari rumah. Hehehe. Baru gitu aja sdh ngeluh....sy pernah kerja jaga malam ga tidur selama hampir 30 jam....masih dimarah2 hi pula.....

Dennis Nayotama said...

Sedih deh mba... ada seorang tmn yg mantan ibu hamil juga n pengguna kereta, ternyata setuju dgn pernyataan dinda... krn mungkin beliau wkt hamilnya termasuk golongan yg gagah perkasa... tp it's not the point!! Mau perempuan yg sedang hamil itu memang benar2 lemah atau pura2 saja ga jd masalah.. yg penting kita sdh bersikap Baik dan menunjukkan rasa peduli kita. Nanti jg mereka yg pura2 akan merasa malu sendiri... memang balasannya tdk lsg, tp suatu saat kita pasti mendapatkan balasan akan perbuatan kita yg ikhlas td... Insha Allah...

Anonymous said...

Mbak salam kenal yah..numpang komen..semoga anak perempuan saya nanti tidak seperti Dinda. Naudzubilah..

Anonymous said...

Ternyata 'kesantunan orang timur' dan 'tepa selira' yg dibangga2kan sudah mulai memudar ya? Kebetulan sy tinggal di LN. Saya pengguna kereta, dan saat ini sdg hamil besar. Alhamdulillah sy merasa sehat2 saja dan tdk ada masalah. Tapi ketika sy tidak kebagian tempat duduk di kereta, ada saja orang yg dg otomatis dan sukarela memberikan tempat duduknya utk sy. Even when I say “I'm fine”.

Anonymous said...

Semoga mbak Dinda saat hamil dpt hamil yg berat...agar pas baca lagi tulisannya bisa istighfar...amin.

Anonymous said...

Nice words! Prokprokprok

-mantan ibu hamil kece juga-

Anggia Pramudita said...

saya blm pernah hamil. tapi sedikitnya saya mengerti bagaimana kondisi orang hamil. sedikit banyak saya tahu dari ibu saya dan orang2 terdekat ketika hamil.
alhamdulillah banyak opini masyarakat yg menunjukkan kepeduliannya akan kasus dinda ini. awal ngerti juga saya kaget 'kok ada orang seperti ini'. apakah moral anak bangsa sudah sebegitu buruknya?
sedih saya mengetahui dinda ini. semoga dinda2 yg lain segera terbuka jg mata hati dan pikirannya.
saya juga berharap semoga permintaan maaf dinda itu seutuhnya tulus dari lubuk hatinya untuk sang ibu yg ia bicarakan dan ibu2 lainnya yg telah tersakiti hatinya. sepantasnya untuk merekalah kata maaf itu terucap. bukan maaf kepada orang2 yg menjudge dia.
nice post sista :)

ummu allegra said...

biasanya empati hilang, karena pas masa kecil kalau jatuh, langsung disuruh berdiri, dibilang hebat, jangan nangis, jagoan... sehingga anak kehilangan empati saat melihat temannya jatuh, dia dg perkasanya bilang, kemarin aku jatuh tp ga nangis, jagoan aku dong...boro2 nulungin temennya, bisanya anak yg diperlakukan demikian oleh ortunya, akan masa bodo kalau ada teman kesusahan.
psikolog anak mengatakan, tahap perkembangan yg ga berjalan sesuai dg masanya, akan terbawa sampai dewasa dan menjadi hal yang mengganggu...salah satunya ya itu tadi, kehilangan empati.
kemudian kan anak suka main peran2-peranan yah...ternyata itu penting loh untuk membuat dia melihat dari sudut pandang orang lain nantinya...
kadang kalo ada anak main peran jadi ibu2an atau bapak2an, ada aja ortu yg ngebentak ngapain sih main kaya begitu! wah, ortu itu udah gunting otak si anak dg sikapnya yg kaya gitu...

mungkin salah satunya mba dinda ini...semoga masih bisa sadar dan dia beserta teman2nya mendapatkan empatinya kembali, yang saat ini gatau lagi jatuh di mana... :)

frizki nurnisya said...

Hi Mbak,

Saya juga mantan ibu hamil yang kece 3 tahun yang lalu. Alhamdulllah saat kehamilan pertama kemarin saya terolong ibu - ibu hamil perkasa yang tetap bisa beraktifitas seperti biasa. Tapi itu tidak bisa memberikan garansi dan legitimasi bahwa saya akan merasakan hal yang sama jika kelak saya hamil lagi anak kedua atau bahkan anak ketiga dengan tetap menjadi ibu hamil yang perkasa tho? Setiap kehamilan tentu punya ceritanya sendiri, karena itulah kita memang harus terus menjaga empati kita. Bahwa pertolongan kecil bisa bermakna besar bagi orang lain.

Tulisannya bagus sekali. Saya ingin ikut menshare dan me-reblog tulisan Mbak karena mungkin siapa tau akan semakin banyak yang menyebar maka makin cepat pula dibaca oleh Mbak Dinda yang mudah - mudahan punya suami kaya jadi tidak perlu naik KRL atau public trasport lainnya ketika hamil.

Ila Rizky said...

dulu pas ke bandung pun pernah ngalami dorong2an pas naik bus. dan terpaksa harus berdiri. rasanya gregetan, kalo aku sendiri yang ngalami gpp, tp ibuku jg kena. pdhl udah sepuh juga. duh, bener2 deh. kalo risiko ibu hamil berdiri dalam waktu lama sengeri ini apa dia bakal paham ya, mba Meta? miris. :')

Anonymous said...

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, cuma mau sedikit share.. Saya blm pernah hamil. Tp dl waktu saya melanjutkan pendidikan S1 di luar negeri, di situ harus biasa untuk naik turun kendaraan umum, naik sepeda untuk ke halte, dll. Kota saya dl bukan kota yg fancy lho. Busnya kecil & cukup tua, rame bgt klo udah jam pergi/pulang kantor sampe desak2an. Tapi sepenuh apapun, setiap ada ibu2 hamil ataupun orang tua, orang yg lebih muda meskipun itu bapa2 atau ibu2, pasti mereka mengalah. Pdhl mereka pun lelah setelah pulang kantor atau setelah mengurus rumah tangga & pulang dr supermarket.

Satu hari, pulang kuliah yg panjang, saya sudah dpt tpt duduk, tiba2 ada ibu2 yg sudah hamil tua dgn perut yg besar, ditambah dia harus menggendong anaknya yg berumur 3 tahun. Tanpa pake mikir, sayapun lgsg bangun dan menyuruh dia duduk. Meskipun dia bilang ga usah, kamu aja yg duduk, tp saya bersikeras dan dia mengucapkan terima kasih dgn penuh rasa syukur. Coba bayangkan klo Dinda atau anak2 muda yg ga peduli skrg, ketika suatu hari nanti misalnya keadaan ekonomi blm memperbolehkan untuk punya kendaraan pribadi & tetap harus bekerja untuk kebutuhan sehari2, harus mengalami hal seperti ini dan ga ada satu orang pun yg peduli. Waktu kalian meminta tlong karena udah ga kuat dan ingin duduk tp orang itu malah ngomel dan kalian dikatain manja, apa perasaan kalian? Bisa kan kebayang bawa "beban" 7kg di depan + sakit punggung + rasa lelah & cape + desek2an + bawa beban yg lain? Coba sebelum bertindak, taruh posisi kalian di posisi ibu itu. Waktu kamu hamil nanti, mau ga digituin sm orang lain?

Anonymous said...

Setuju, bukan bermaksud membela dinda, tp mestinya dilihat berimbang, gmn sosok bumil yg dimaksud, gmn keadaan kereta saat itu, gmn egonya penumpang2 lain disebelah dinda, ingat dinda bilang dia di gerbong campuran loh.. Begitulah kejamnya transportasi umum membuat rakyat seakan mjd kanibal satu sm lain, tp emang ini realitanya.. Sy pernah hamil dan pengguna kereta shari2..

Anonymous said...

Trms y mba,ini bs jd self reminder utk mendidik anak spy bs berempati. Semoga Dinda sadar dmana letak kesalahannya dan mau berubah. Semoga kejadian ini menyadarkan kita semua pentingnya peduli sesama

donnavanny said...

ijin share mbak meta ya :)

fadil said...

meta, semoga dinda sadar ya, tulisannya di socmed menyakitkan banyak orang....

Mr. Akbardoyz said...

Betul. Jgn trlalu kalap. Psti ad pnumpang lain jg dsblh dinda. Knp hnya dinda yg di bully n seolah olah salah besar. Kita ga pernah liat kondisi rill pd saat itu kn. Klo liat psti lbh gerammmmmm krn ad lki lki dsblh dnda ga mau ksh duduk jg.

Zayyan Online Shop said...

cowo memang memang memgandalkan logika.. tp justru kebanyakan pengalaman saya justru cowo lah yg biasanya 'gentleman' memberikan tempat duduknya kpd org org yg lebih membutuhkan (ibu hamil, orangtua, anak anak, penyandang cacat).. jika anfa blg persaan mengalahkan logika, logika yg mana yg menunjukkan bahwa ibu hamil gak layak dpt keutamaan di kursi penumpang??bukankah justru krn kalo dipikir secara logika, ibu hamil memang sepatutnya tdk berdiri terlalu lama. anda bisa lihat dan analisa sendiri sebab dan mengapa nya ibu hamil sebaiknya tdk terlalu lama berdiri melalui gbr di blog ini. secara logika pula krn itu byk laki laki lebih sering menawarkan kursi duduknya untuk ibu hamil krn laki laki tsb menghormati ibu hamil. sesungguhnya ia membayangkan bgmn jika ibu hamil itu adalah ibunya yg dulu mengandung.. atau istrinya saat mengandung atau kelak anaknya yg sdg mengandung.. tentu ia mengharapkan org berbuat serupa kpd org org yg dikasihinya.. mulutmu adalah harimaumu. pepatah itu cocok untuk dinda krn berkah dr omongannya itulah yg membuatnya dihujam byk masyarakat. segala sesuatu aplg keburukan yg diumbar di sosmed menunjukkan kualitas pengguna sosmed itu sendiri. bercitra alay, narsis dan ceriwis.. emang dinda lahir dr bukan rahim seorang ibu??pernahkah dia setidaknya bertanya kpd ibunya gmn ibunya gmn perjuangan seorg ibu hamil yg bekerja??gmn bahagianya hati ibunya saat dia sdg kesusahan mendapat tempat duduk dan seseorg memberikan kursinya?.. bahagia sdh pasti. krn sebaik baik manusia adalah yg bermanfaat bg sesamanya (bukan pula dimanfaatkan).. penumpang yg lain tdk memberikan tempat duduk mungkin pula menunjukkan rendahnya empati masyarakat saat ini. individualistik. krn byk dr mereka mungkin duduk dan 'autis' dgn gadgetnya masing2 hingga tak mampu melihat kondisi sekelilingnya meski hanya sekedar melempar senyum.. miris saat dlm penyataan dinda kekesalan itu diungkapkannya di sosmed dgn bahasa "benciiii bgt gw dgn ibu hamil".. disitu terlihat jelas meratakan kebenciannya kpd semua ibu hamil. pdhl yg dilihatnya/yg dirasa tdk disukainya ialah ibu hamil yg sebelumnya meminta kursi duduknya. belum lg kata "benciiii" yg penulisan huruf "i" lebih dr satu menunjukkan rasa bencinya yg mendalam.. hufff.. jiwa anak muda.. yg menyerap ajaran yg salah (sy tdk menyebutkan orangtua krn mungkin yg membentuk empatinya bukan ortunya).. yg menyedihkan tyta msh byk dinda dinda lain spt itu.. dimanakah keramah tamahan masyarakat indonesia yg sdh terkenal oleh wisatawan dan bahksn di luar negeri?satu org spt dinda dampakny sdh spt ini..gmn kalo byk dinda dinda yg lain?pasti sosmed melimpah ruah..

Anonymous said...

Apesnya dinda krn meluapkan uneg2 di path-nya, trs ada temen yg iseng nyebarin, dan boom!! meledak emosi org2 yg baca.. Pdhl kenyataan sehari2 ya emg begitu, bahkan lebih kejam. Yg ikut komen ngebully dinda jg sm aja, bahkan lbh buruk kata2nya, pdhl tu org yg komen blm tentu jg pnh naek kereta

Mila Nova Liza said...

Dinda adalah salah satu contoh minimnya pendidikan agama dan moral di tengah masyarakat terutama anak2 muda saat ini.
Alhamdulillah saya termasuk orang yang bisa berdiri sendiri dan mandiri ketika hamil.
Meskipun pada kehamilan kedua bermasalah tapi tetap saja berusaha semaksimal mungkin untuk tidak manja.
Kalau tadi ada yg comment mengatakan secara logika. Saya mau comment mengenai logika tadi.
Jikalau seorang ibu hamil (mau hamil muda maupun hamil tua) berdiri di kereta. Berdesak2 an, kedorong kanan kiri.
Kalau dia terjatuh apa coba yg terjadi? Kalau di terjepit sehingga mengakibatkan kandungan nya kontraksi apa yg terjadi?
Pernahkah kalian berpikir dengan LOGIKA kalian, apakah tidak lebih sulit atau lebih repot mengurus ibu2 hamil dengan kondisi seperti itu dibandingkan kalian memberi kursi nyaman kalian agar mereka bisa duduk. Kalau kalian terjepit ataupun jatuh karena kereta bergerak ataupun karena penuh sesaknya gerbong kereta, kalian tidak akan kenapa2. Paling juga lecet kanan kiri, atau benjol kepala yg paling parah.
Tapi kl ibu hamil kalau dia kekurang oksigen aja bayi nya bisa mati.
Bukan mereka ingin menjadi hamil lantas bisa manja dan mendapatkan hak istimewa dari semua orang.
Kalian tidak tau rasanya karena kalian belum pernah merasakan nya. Karena sekuat2 nya wanita ketika hamil, ada banyak kegiatan yg mengharuskan mereka tidak beraktivitas berlebihan.
Semoga jika kelak Dinda dan dinda2 lain hamil ataupun seorang perempuan yg menganggap kuat tadi dan mendukung pendapat Dinda tadi ketika mereka hamil ataupun kehamilan kedua dan ketiga, mereka tidak kesusahan. Dan untuk para lelaki yg lebih empati dgn sikap Dinda, semoga ketika kalian punya istri atau anak perempuan, kalian bisa mendapatkan wanita2 kalian termasuk orang yg kuat.

Batik Madura Flovea said...

Sebenarnya bukan hanya Dinda yg perlu banyak belajar tentang empati, karena sesungguhnya sifat itu sudah mulai hilang sejak dulu dari putra putri bangsa ini.

Wenny Widyastuti said...

hehehe, emang sih kenyataannya di kendaraan umum emang kayak gitu, pada sibuk dengan urusannya masing2 dan males memberikan tempat duduk pada orang lain. mungkin banyak juga yang ngedumel di belakang kalau mengalami kasus kayak dinda ini, tapi salahnya dinda adalah dia mempublis unek2nya dengan bahasa yang nggak sopan kayak gitu di social media. mampus deh dibully nghahaha
yah, RIP kemanusiaan.

passerby said...

Izin share ya mba..

Rempah Putri - Spa Aromaterapi said...

Nice post.

Share ya mbak...

Fajri Muhammad said...

Artikel yang bagus :)
kalau kata Rasulullah: takwa + akhlaq yang baik

Dari Abu Hurairah, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” ...dst

HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246

Anonymous said...

Ga abis2 nih pd puas bgt maki2 si dinda, tp cobain pd naek kereta commuter line jabodetabek pas jam2 sibuk pagi/sore, gmana coba komennya.. Jd pelajaran buat smua jgn suka kelepasan ngoceh di sosmed, pas punya temen yg ga asik, nyebar2in gini, tamat dah lu..

nana said...

Izin share mba...

Neo Printshop said...
This comment has been removed by the author.
Gunawan Saputra said...

miriiiiiissssssssssssss ..

ya Allah,,gua yang laki" aja suka sedih kalo liat Ibu-ibu hamil kerja ,
slalu ada fikiran 'itu suami nya kemana?kerja apaan? kog tega istrinya yang lagi hamil dibiarin kerja'
sekarang seiring berjalan nya waktu, gua pun tau jawaban nya .. KEBUTUHAN

DINDA , suatu saat elo bakalan tau gmn rasanya hamil .

gua masih bujang, tp gua punya nyokap . nyokap gua pernah hamil dengan usia kandungan 7bln , dan posisi bokap gua udah egk ada ..
Statement elo itu yang bakal elo telen sendiri nantinya !

Anonymous said...

Ijin share mba

Muhammad said...

saya laki2,pelajar SMA,ga mungkin Hamil!
tapi saya tau gimana perjuangan ibu saya ketika Hamil adik saya.
menurut saya Dinda dan teman2nya tidak 100% salah
namun disitu adalah Lingkungan sekolah dan ortu
saya sendiri sebagai pelajar mengalami gimana sebenarnya disekolah itu yang terpenting hanyalah NILAI sedangkan pelajaran Akhlak dan moral dan Agama itu sangatlah kurang,beruntung saya memiliki orang tua yang mengajarkan Agama dengan baik.
klo diliat bagaimana UN kakak kelas saya disitu juga bisa terlihat bagaimana beban seorang pelajar SMA itu sudah cukup berat sehingga orang seperti Dinda itu tidak sedikit, walaupun tidak kita lihat di jejaring Sosial. huft kapan indonesia bisa lebih menghargai pelajar bukan dari Nilai ANGKA tapi nilai kualitas yang sesungguhnya?
sayangnya Dunia pendidikan,ekonomi,kesejahteraan rakyat itu semua selalu terpengaruh oleh POLITIKnya elit2 Politik

YESIKA BILLAH BARIKA said...

saya sangat prihatin dengan sikap mbak dinda.. saya merasakan bagaimana terhimpitnya di kereta kok mbak santai saja :) tapi sebagai anak pertama yang melihat ibu saya pontang panting meredam sakit dan sering sakit-sakitan karena dalam masa mengandung. bahkan bude saya untuk berdiri saja tidak bisa pada saat kehamilannya 6 bulan, alhasil beliau berbaring selama 3 bulan, atas pengalaman2 yang saya lihat sendiri saya merasa prihatin dengan komentar mbak dinda dan teman2 yang mengomentarinya.. saya ragu jangan2 banyak manusia2 disini yang memang sudah tidak memiliki hati :(

aulia said...

banyak yang bilang, "penumpang lainnya kemana? ko cuma dinda yang dibully"
udah jelas dia bilang kalo ibu hamil itu minta tempat duduk ke dia. setau gue emang ibu hamil suka minta tempat duduk ke satu orang dulu, kalo emang orang yang diminta ga punya empati-kayak dinda ini-baru yang lain yang ngasih.
jadi buat kalian yang bilang penumpang lain juga harus disalahkan, coba mikir lagi. di saat dinda ini nolak, pasti ada penumpang lain yang ngasih. trus ngapa harus pake curhat di path? di sini jadi masalah karena dia lah yang diminta. toh kalo bumilnya minta ke orang lain dan langsung dikasih, dia ga akan banyak cuap karena ga merasa terganggu.
mulutmu harimaumu mbak. selamat datang di dunia maya !
fyi. saya juga roker setiap hari naik KRL dari BOGOR-JAKARTA KOTA di jam sibuk dan pulang di jam padat pula.
jadi kalo ada yang bilang suruh nyobain naik kereta di jam padat, itu udah makanan sehari-hari. udah hal biasa ga dapet tempat duduk. ataupun dapet tempat duduk tapi harus berdiri karena ada orang yang butuh. segimanapun padetnya dan capeknya saat berangkat atau pulang, bukan berarti juga rasa empati hilang begitu aja.
kalo bukan termasuk kaum prioritas, maka kita berkewajiban ngasih tempat duduk ke orang-orang yang membutuhkan tersebut. ga peduli meskipun mereka minta sama orang yang duduk di kursi reguler.
kecuali lo sakit-entah itu mental atau fisik-maka lo bolehlah nolak dengan cara halus dan jelasin alesan lo.
banyak berdoa aja mbak dinda biar suatu saat lo ga ngalamin hal serupa.
cause karma does exist sist !

Anugrah Hardanti putri said...

Bukan minimnya pendidikan agama, bukan minimnya pendidikan sosial, dan juga bukan minim pendidikan apapun. Dinda merupakan anak yang minim oleh kasih sayang orang tuanya. Mungkin selama ini dia kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Kebanyakan orang tua itu hanya bisa menghujat, melarang, memarahi dan lainnya, karena untuk kebaikan anaknya tetapi tidak mengarahkan "kenapa sih begini, kenapa sih begitu?" Anak itu lebih pintar dari yang orang tua pikirkan. Dia butuh analogi, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu? Yang saya tangkap dari cerita Dinda tersebut, mungkin selama ini orang tuanya terlalu keras, cuek, ataupun (maaf) tidak memiliki orang tua. Halo, kasih sayang itu dirasakan dari hati. Bukan materi, tapi dari hati. Banyak juga dari kita yang terlalu cuek, kenapa begitu? Mungkin disituasi itu, sebagai ibu hamil juga tidak terlalu bertanya dari hati " Maaf mbak, boleh kah saya duduk? Karena perut ini berat sekali (sambil tersenyum)." Nah, mulailah coba membuka percakapan, "Mau kerja ya mbak? semangat ya kerjanya. Semoga sukses." Tidak akan mungkin hati itu tidak terenyuh, kalau kita berdasarkan pikiran dan hati. Selama ini mungkin orang tuanya sibuk bekerja, menyuruh dengan nada tinggi, tidak bisa menjadi pendengar yang baik atau sebagainya. Anak itu akan memendam luka lebih lama atau bisa jadi menyimpan lukanya dan tak terlupakan. Cobalah berperan sebagai anak anda, berilah pengertian. Ketika marah jangan sekali-kali bernada tinggi, tetapi cobalah diam. Dinda mungkin sedang membaca semua komentar anda yang terlalu keras. Cobalah untuk memberikan opini dengan cara lain, cari akunnya, share tentang hal yang menyejukkan. Saya percaya semua orang itu baik. Tetapi kita juga harus cerdas mengarahkan yang baik. Orang yang suka memaki sama saja dengan dia, hanya bisa mengeluh tanpa berpikir. Saya bukan orang tua, mantan orang tua ataupun ibu hamil. tapi saya merasakan kondisi diantara keduanya. Cobalah berpikir positif, buat hal yang lebih menyenangkan seperti mbak meta lakukan ini. Memposting hal yang bersifat membujuk, mengarahkan, dan mencairkan suasana. Salam hangat dari pembacamu mbak :)

Anonymous said...

Setuju banget mbaak astaghfirullah!! saya memang belum pernah hamil (jangan dulu deeh lhawong masi umur 18 :))) ). Tapi emang ya perjuangan ibu hamil itu berat banget. guru les ku aja yang hamil, cuma gara gara ditanyain 1 soal aja udah pusing pandangan berkunang kunang. Apalagi disuru berdiri lama di kereta.... :( gak bayang deh mbak. Memang sih tulang kaki si Dinda sedang bermasalah. Tapi kan tanggungan dia cuma satu nyawa... sedangkan ibu hamil 2 nyawa. Yaaah biarin lah dia ngerasain sendiri gimana rasanya waktu dia nanti hamil :) Semoga generasi penerus bangsa kita ini semakin lama semakin baik.... termasuk anaknya mbak :D Aamiin.

Fanny Widiyanti said...

A very well writing and great point of view. Memberikan fakta, tidak hanya sekedar menjudge. Izin share yaa Mbak Meta :)

.moe said...

mau doain yg baik aja deh buat dinda2 d luar sana, semoga dinda bisa mendapatkan suami berprofesi dokter dengan demikian suami bisa menjelaskan kondisi tubuh wanita hamil, semoga juga langsung dapat keturunan, kembar mungkin? Jadi langsung bisa memahami dan menikmati perubahan2 yg ada ditubuhnya. Ammiinn

-salam ibu yg hingga 9 bln berjuang menahan muntah dan flek2-

Anonymous said...

Iya dinda emang apes dan ga punya punya hati saat nulis di path... saya dulu pengguna kereta dan tahu seberapa sesaknya kereta... dan betapa senangnya kita kalau dpt tempat duduk... dan betapa kesalnya kalau kita harus kasih tempat duduk ke orang lain apabila kita sendiri masih capek dan blm lagi jika berdiri merasakan desakan sana sini, blm lagi ada laki2 yg mengambil kesempatan dalam kesempitan.. namuuun tetap saja, omongan dinda sangaat tidak pantas diucapkan di social media... semoga dinda cepat hamil yahhh

Ditta Harun For life said...

Saran untuk Dinda yg katanya tulangnya geser gara" kebanyakan berdiri..

Coba cek ke dokter tulang sama dokter syaraf. Trus coba rajin terapi dipanasin sendinya, itu tulangnya geser karena sendinya yg lemah, trus coba olahraganya jgn cuma jempolnya buat update di socmed.. heheheee

Saya ini penderita lower back pain. Ga bakalan bs sembuh seumur hidup. Saya cuma bs meredam sakitnya kl lg nyeri bgt pake pil painkiller tp itupun udh jarang bgt karena rajin olahraga. Bukan olahraga berat (bagi saya jogging itu udh lumayan berat) tp cuma stretching aja tiap pagi dan dikompres pake botol kaca yg diisi air anget.

Baru geser tulangnya aja, Din. Jgn manja dan sampe gamau ngasih duduk buat bumil. Bumil wajar diberi keistimewaan karena bukannya manja tp memang ga mampu utk jd sekuat manusia yg ga lg hamil. Manja itu kalo sebetulnya mampu tp gamau krn merasa dirinya paling penting.

andind said...

Ijin share mbak meta.... Ternyata jiwa ketimuran kita masih ada.... Makasih

Ditta Harun For life said...

FYI, penderita lower back pain juga menderita banget banget kalo disuruh berdiri lama dan kalo lg hamil sakitnya bs nambah" lg (kata dokter tulang karena saya belom prnh hamil dan tetep kepengen bs hamil nanti kl udah punya suami hehehehee) saya juga bukannya gatau gimana radanya berdesakan di commuterline di jam" sibuk.

Lyaa -Uminya said...

sempet sedikit geli baca postingan dinda :" ... gue aja ga hamil..."
yup! anda sedang tidak hamil, jadi kondisinya berbeda. kecuali anda juga sedang hamil, kemudian ibu hamil dengan kondisi perkasa itu minta duduk menggantikan posisi anda yang juga hamil dengan kondisi lemah.

sy pernah naik bus dengan kondisi penuh sesak, sy sedang hamil dan mungkin sok kuat tetap berdiri karena tidak ada yang menawarkan kursi kepada saya. saat itu saya pikir semua butuh kursi karena sakit, lemah, dsb, atau mereka memang lebih lemah kondisinya dari saya.. jadilah begitu baru setengah perjalanan, saya berkunang-kunang, dan taraa... langsung saja ibu yang sedang memangku anak berdiri menyuruh saya duduk (katanya saya terlihat sangat pucat, sayang bukan remaja laki-laki berpostur tegap yang menggantikan.. :p
see.. biasanya yang pernah mengalami yang leih punya empati..
maybe?

Anonymous said...

membiarkan istri bekerja dalam keadaan hamil, kemana tanggung jawab suami!? ingat! seorang suami harus memberikan nafkah yg cukup kepada anak dan istrinya.. bagaimana mungkin seorang suami tega membiarkan istri bekerja membantu kebutuhan keluarganya?? apalagi istri dalam keadaan hamil.. kewajiban seorang suami adalah memiliki tanggung jawab penuh untuk dpt melindungi istri dan bayinya...

Anonymous said...

Ijin share ya mba...

Aurora Esmeralda said...

Bukan sok2 an krn tinggal di LN selama 9 thn tapi ya di mana2 negara maju jelas2 memberikan tempat duduk khusus utk ibu2 hamil dan manula di setiap publik transport nya.. Bahkan ada tempat parkir khusus utk ibu hamil yg dkt dgn pintu masuk di health centre.. Kenapa ? Karena SEWAKTU HAMIL SEBAGAI SEORANG WANITA TENAGA & ENERGI BENAR2 TERKURAS DAN TIDAK SEPERTI WANITA2 TIDAK HAMIL ! Walopun saya cuma sempat merasakan kehamilan sampai 7 minggu.. Tapi selama kehamilan itu badan saya terasa cepat letih dan gak kebayang seperti tidak ada energi tiap hari nya.. Padahal saya wanita tidak bekerja ! Yg tiap hari cuma duduk2 di rumah dan semua pekerjaan di kerjakan oleh si mbak (pembantu).. Bagaimana negara Indonesia bisa maju seperti negara2 maju lain nya.. Walopun kata nya kaya dgn hasil alam nya tapi manusia2 nya MISKIN mental & moral nya.. Mimpi aja kali yahhh.. Mau jd negara maju !! Yg ada tiap hari sampai puluhan thn mendatang bakal naek kereta desak2 an seperti si Dinda itu ! Kaciannnn ��

Sammy said...

hmmm.. sbnrnya Dinda ga sepenuhnya bisa disalahkan.. seorang suami sejati tidak membiarkan istri dan anak yg dikandungnya ikut bekerja mencari nafkah bukan :)

Winda Puspita said...

cuma mw ikutan share... aq jga skrg lgi hamil 9 bulan lebih dan kebetulan masih kuliah yg harus bulak balik solo-klaten naik bis.. bnyak adek2 kelas yg blg q bumil yg tangguh coz hamil 8 bulan masih sanggup bulak balik klaten-solo, tapi sebenernya apa yg dilihat orang belum tentu sama dgn apa yg drasakan bumil itu sendiri.. hamil itu menyenangkan ya mbak meta, tapi juga agak menyusahkan coz disertai segala macam ketidaknyamanan yg dirasakan.. mual, pusing, cepat lelah, mengantuk, kaki pinggang punggung pegel, perut ngilu, dll..
mungkin kesalahan dinda yg paling fatal bukanlah benci dgn ibu hamil, maklum dy kan belum pernah hamil jdi blum tw rasanya... kesalahan dinda yg fatal menurut q adalah melampiaskan kekesalannya di sosmed dgn menggunakan kata2 yg sangat kasar jdi bikin bnyak org geram..
sebelum saya hamil saya jga berpikir HAMIL ITU MUDAH, TERNYATA TIDAK. kenapa? karena kita harus menjaga satu lagi kehidupan yg dititipkan dalam rahim kita dsamping segala ketidaknyamanan perubahan kondisi tubuh yg qt rasakan..
semoga dinda, teman2 yg membelanya, atau orang lain yg sependapat dgn dinda yg lebih menggunakan logika drpd perasaan bisa memahami kalau ibu hamil itu memang istimewa, bukan ingin diistimewakan.
semoga kelak anak qt menjadi anak yg bermoral.. amiin.

sweetescape said...

Wanita mencari nafkah toh buat anaknya juga. Kalau suami pendapatan kurang harus gimana lagi? Suami sudah berusaha sekuat tenaga,tapi kenyataan memang ga cukup ya istri wajib membantu dong. Saya pribadi memang ingin bekerja, demi masa depan anak. Anak itu tanggung jawab bersama bukan hanya tanggung jawab ibu atau bapak. Selama hamil jg saya merasakan yg namanya naik transportasi umum dan berdiri. Untungnya saya termasuk yg hamilnya kebo,jd lumayan kuatlah berdiri di bis cawang-semanggi. Saya kurang setuju sama yg komen kalo perempuan hamil ga sepantasnya kerja, semoga saja gaji suami yg ngomong seperti itu cukup buat keluarganya. Kebutuhan mau lahiran itu banyak, blom kalo ntar anaknya makin besar. Untuk dinda biarlah nanti dia ngerasain sendiri pas hamil. Gimana ga enaknya mual muntah pusing kaki bengkak pinggang pegel sesak napas.

Anggia said...

Entah kenapa saya jadi pengen nangis bacanya :(

Winda Puspita said...

ibu hamil bukan berarti tidak seharusnya bekerja, kuliah, sekolah, ataupun beraktivitas lainnya... ibu hamil juga perlu melakukan rutinitasnya sehari-hari namun dengan AMAN. aman untuk dirinya, juga janin dalam kandungannya.. so bukan brarti hamil harus brhenti bekerja, atau suami yg membiarkan istrinya yg sedang hamil adalah suami yg jahat.. terkadang wanita bekerja itu penting untuk menunjang ekonomi keluarga mengingat membangun rumah tangga itu banyak kebutuhannya dibanding yg single.

Anonymous said...

Ini sebenarnya fenomena yang sudah lama terjadi di Indonesia - dalam sepengamatan saya di Jakarta.

Dan menurut saya, bukan hanya terhadap ibu hamil, tetapi juga terhadap orang yang lebih membutuhkan tempat duduk tersebut; misalnya lansia, cacat (maaf), sakit, bawa barang yang banyak sekali, dsb.

Banyak memang orang yang pura-pura tidak melihat, tidur, cuek, demi menikmati duduk di kendaraan umum (kereta, Transjakarta, dsb) ketika menempuh perjalanan jauh. Ini hak mereka. Tapi hak dan apa yang idealnya dilakukan itu terkadang bertolak belakang.

Banyak orang yang sehat dan lebih mampu, tidak hanya yang muda, seringkali cuek. Pria dan wanita sama saja. Ini yang sebenarnya harus dimulai dari diri masing-masing dan mulai memberikan contoh ke orang lain, bahwa orang Indonesia itu peduli, bermoral, punya rasa empati yang besar.

Dan mudah-mudahan kejadian ini bisa membuat kita introspeksi diri, sudahkah kita menjadi seperti Dinda, dalam satu dan lain hal.

Salam.

Berbagi dan Mencari said...

Salam kenal mbak meta,
saya cowok yang belum punya istri, apalagi beristri. hee... Tapi saya sangat setuju,,,, apalah gunanya ranking 1 satu dikelas, rajin ibadahnya, tapi berberat hati memberikan kursinya untuk seorang ibu hamil.

lian said...

Saya pelajar yang setiap harinya dari awal SMA berangkat-pulang naik kereta, dan setiap berangkat selalu di saat ketika kereta sangat penuh sampai baru 3 stasiun jalan saja sudah tidak bisa masuk dan harus ekstraekstra didorong

Bagi yang membela mbak Dinda dan menyatakan bahwa kita harus melihat bagaimana kondisi kereta saat itu? Kemana penumpang di samping mbak Dinda?
Menurut yang saya lihat, biasanya, kalau ada ibu hamil, sepenuh apapun keretanya, penumpang lain akan langsung RESPONSIF dan dari pintu langsung agak teriak bilang ada ibu hamil, jadi dipaksakan, lebih digencet lagi, sampai gepeng (wkwk) dan sakit2an juga yasudahlah, agar bisa memberikan jalan si ibu sampai mendekati kursi
Jadi kondisi kereta fix ga bisa dijadikan alasan lagi yaa hehe._.v

Dan kalau ibu hamil itu sudah di deretan tempat duduk, etika di keretanya adalah YANG MASIH MUDA YANG BERDIRI. Kemungkinan, mbak Dinda ini duduk sebelahan dengan ibu-ibu dan bapak-bapak yang notabennya lebih tua dari dia, jadi mbak Dinda lah yang diminta berdiri untuk memberikan tempat duduk ke ibu hamil itu.

Dan yang (mungkin) men-judge anak muda sekarang kurang empati, jujur saya sedih hehe. Masa gara2 ulah satu mbak2 dan teman pendukungnya, saya dan (mungkin) beberapa anak muda disamakan sama mbak2 'batu' begitu hehe

Anonymous said...

Slm kenal mba meta
Mau ikut share jg, aq jg pernh hamil 1thn yg lalu msh bekerja smp skrng
meskipun ga prnh nk kereta krn slm
3thn krj bekasi tanjung priok sll bawa
motor sendiri,pas hamil aq ttp nk mtr tp cm brngkt aja diantrn nk mtr
plngnya aq nk bus..slm nk bus aq jg
pernah ko ga diksh duduk sm yg lain
krn penuh tp aq sabar aja berfikir
positive mngkn mrk jg lebih cape dr
aq,palingan aq nunggu smp msk tol trs duduk ditangga pintu bus..pernah jg nk busway hamil 9bln ga ada yg ksh aq duduk smp petugas yg jaga pintu bus
aja kaya pura2 ga liat pdhl ni perut gede bgt,setengah perjalanan aq turun
br lwtn 3 halte krn kaki udh kesemutan n pusing bgt,alhasil nk bus aja klo penuh msh mending bs duduk
ditangga pintu bus, rasanya klo dibayangin bekasi tanjungpriok itu jauh bgt bgt pngn bgt berenti krj tp krn kebutuhan aq ttp smngt bt kerja..jd ga cm dikreta aja ditempat2 umum lainnya msh bnyk jg org2 yg krng rasa pedulinya, semoga anak aq kelak sll punya rasa peduli bt orang lain..

NintyaSR said...

Halo mbak. Komennya jg heboh ya mbak menyusul posting path ramenya hehe.
Pernah denger mba premis "org timur sopan santun senyum salam sapa, org barat gk punya adab" sejujurnya aku mempertanyakan itu krn nyatanya aku gk pernah liat WNA nyerobot antrian. Sementara warga Indonesia seolah gk ada malu apalagi di public facility.
By the way kan kursi khusus di busway/kereta ada bbrp tipe tuh mba. Memang selama ini klo disuruh memprioritaskan aku lbh utamakan ksh seat buat ibu hamil drpd lansia mba. Krn equal ksh seat utk 2 org (just my opinion). Smg tulisan ini bs 'menohok' smua yg baca. Gk hanya komen macem" tapi sendirinya malah berbuat lg ;)

Anonymous said...

kita doakan sj semoga Allah tdk marah pd dinda. spy dinda bs 'hamil' suatu saat nnt. krn dinda kan 'benciiiiii' bngt sm bumil. dan Allah memberikan dinda 'kehidupan yg lbh baik & suami yg berumur panjang' spy dinda tdk merasakan bgmn hrs berjuang dlm keadaan hamil utk memenuhi kebutuhan hdpnya. krn dia tdk tahu alasan apa sehingga 'bumil yg dia temui di kereta' itu bkrj. kl mau pakai logika, jk keadaan hdp 'bumil' itu berkecukupan pastilah dia tdk mau repot2 berdesakan di kereta aplg dlm keadaan hamil. lbh baik jg duduk manis di rmh. sm jg dgn dinda sndr, sdh pincang2, naik ojek, naik angkot smp 2x buat nguber kursi di kereta. knp dinda tdk di rmh sj? pst dinda jg pny alasan sndr.
trs 'bumil' itu jg naik darimana? apkh dia naik dr stasiun pertama atau stasiun selanjutnya. yg otomatis kl di stasiun pertama mkn kita msh bs dpt tmpt duduk. tp kl di stasiun selanjutnya pst kereta sdh penuh.

Anonymous said...

iya bu tapi yg selama ini saya lihat di kereta itu kaya para ibu2 yang masih hamil muda, bahkan tidak nampak sedang hamil langsung bilang "SAYA HAMIL" sambil memaksa orang lain untuk memberikannya duduk.

Angga Dp said...

Suami siaga ikut mendukung gerakan safe ibu hamil,
Hidup BuMiL....
Berikan kursimu untuk mereka...

L I N D A said...

makasih mbak buat sharingnya :) jujur saya nangis jadinya setelah baca tulisan ini maupun komen2 di socmed soal kasus dinda. saya ga tegaan orangnya. yg saya bayangin itu perasaan si ibu hamil. gimana perasaan dia waktu tau dibenci atau dimaki karena dia dlm kondisi hamil dan ada di angkutan umum.

Gina Ariska said...

Hello mba, salam kenal. Terima kasih sudah sharing informasi yang berguna bagi para calon ibu yang harus lebih memperhatikan aktifitas saat hamil. Kalau boleh saya sarankan kenapa tidak link postingan ini diletakkan dalam comment postingan dinda.. Pasti dia akan merasa sangat terpukul betapa dirinya sangat dibenci atas postingan tidak bermoralnya itu.

Semoga mbak bisa mendidik Naya (anak mba) menjadi anak yang baik dan terhindar dari sifat seperti makhluk yang bernama Dinda itu. Amin

Tenia W said...

saya termasuk orang yang disiplin, setiap hari bangun pagi supaya tidak terlambat masuk kerja/kuliah. tapi setelah punya anak, banyak hal yang tak terduga memungkinkan saya untuk sejenak memberikan waktu saya untuk anak-anak, sehingga mereka melepas kepergian saya dengan bahagia. itulah yang membuat seorang ibu sering terlambat. bukan gak mau berangkat subuh. tapi mereka menunggu anak-anak yang lain bangun dulu. mudah2an dinda sadar apa yang dilakukannya.

bharaaawr said...

halo Mba :)
suka deh sama komentarnya, ga nyinyir tapi langsung to the point. sebenernya sih, ini bukan cuma untuk Dinda. hanya saja, karena Dinda menganggap "ngasih jatah duduk dikereta ke ibu hamil" berlebihan, sehingga dia harus memposting apa yang dia alami di path tanpa memikirkan akibatnya, jadi kesannya dia ya yang keterlaluan. menurutku sih, ga cuma anak-anak, yang dewasa juga gitu kok. pernah ku lihat ibu2 yang tadinya asik ngegosip, pas liat nenek-nenek naik langsung pasang masker dan tidur. aku kesel bgt rasanya, sayangnya aku juga ga dapet tempat duduk saat itu jadinya ga bisa ngasih tempat duduk. udah gitu kereta bogor-tn.abang pagi2 selalu penuh kan, jadi mau gamau pasti kedorong2. sepertinya, sudah sulit menemukan rasa empati masing2 individu di zaman yang sangat makin liberal menurutku. semua mementingkan urusan pribadi. padahal nenek2 berhak dapat prioritas tempat duduk loh :)) semoga bukan hanya untuk dinda, kita semua bisa ambil pelajaran dari kejadian ini. selain hati-hati untuk memposting sesuatu di media sosial, kita sebaiknya lebih menggali lagi rasa empati kita yang sebenarnya ada namun sudah terkubur lama oleh ego kita sendiri. hihi keep posting Mba Meta :))

Anonymous said...

Saya juga mantan bumil.ketika saya hamil seringkali merasakan kram dibawah perut ketika berdiri terlalu lama...apalagi kalau hamil sdh mulai membesar,tdk nyaman sekali kl berdiri trll lama.justru saya melihat ibu hamil itu sbg wanita tangguh,krn msh sanggup untuk bekerja naik kereta pula.kl dia terlambat menuju stasiun krn kan beda dng Mba Dinda yg tdk hamil msh bs jalan cepat/mgkn lari utk mengejar waktu.sdgkn bumil itu tdk bisa melakukan aktifitas seperti biasanya ketika ia tdk sdng hamil.tp sdh seharusnya kita mendoakan Mba Dinda ini agar dibukakan hatinya.kita mau berkomentar apapun,kl Mba Dinda ini tetap keukeuh dng pendiriannya bhw dia benar dng pendapatnya,biarlah waktu yg menjawab...manusia akan sadar ketika ia sudah mengalaminya.mgkn Mba Dinda akan mulai mengerti dan memahami kalau dia sdh merasakan yg namanya mengandung dan dituntut hrs ttp kerja,naik kereta... Coba Mba Dinda bandingkan ketika blm hamil dan ketika hamil nanti...apakah msh sama yg dirasakan?Smg ada hikmahnya ya Mba Dinda...

Ninin Adininggar said...

wow.... really nice post bund.... ijin share ya

Anonymous said...

maaf sebelumnya.. menurut pendapat saya ada baiknya bila ibu hamil pengguna kendaraan umum meminta bantuan terlebih dahulu kepada "petugas" ataupun "pria".. biasanya pria akan lebih mengalah walau awalnya mengeluh.. dan tidak sopan apabila meminta langsung kepada penumpang tanpa melihat keadaan penumpang lainnya terlebih dahulu.. lalu, kurangnya rasa empati dari penumpang lain bukan hanya kepada ibu hamil tetapi jg kepada penumpang umur senja dan berkekurangan fisik.. saya rasa perlu adanya rasa empati dari penumpang lain dan juga mata masyarakat dalam menyikapi hal yg perlu diprioritaskan.. maaf sebelumnya.. Trima kasih.. Gbu ^^

emakemak said...

Ada yang pernah berpikir ga,klo si bumil tersebut sebenarnya sedang menerima karma karena dulu dia jg pernah bersikap seperti Dinda

Anonymous said...

Ini masalah tulisan yg dia posting di socmed bukan mengenai situasi di kereta atau membahas teori kemungkinan. Ini murni tulisan yg tidak manusiawi yg ditulis oleh perempuan yg belum hamil kepada Ibu hamil.

MUSLIMAH said...

maaf sebelumnya ini q pernah mengalami sendri bukannya untuk riya atau apa,sebenarnya q gk mau crita dan sbelunnya q uda baca jg dr fb temen tapi q gk mau nanggapi tpi ktika baca di sni smpi2 pd heboh yaaa q ingin berbagi pelajaran hidup q,saya pernah naik kereta,saya pernah naik bus jg,dan sgt2 tau bagaimana keadaan naik kereta dan bus,sama aja smanya pada desak2an,ni yg pernah q alami saya berangkat dr rumah mau kesurabaya perjalan saya ditempuh klu naik bis slama 6 jam lbh,wktu itu q malam2 brangkat dr rumah naik speda diantr suami keterminal mau naik bus,waktu itu bus msh dlm keadan sdikit penumpang,tapi lama kelamaan makin banyak,dlm perjalanan mau ksby masih sgt lama blm macetnya, waktu dlm perjalanan ada ibu2 tua berdri,dengan tergerak hati mau ngasih kursi ke ibu tua itu tapi masih tertahan krn takut dikatakn orng sok pahlawan krn samping2nya q ada bnyk laki2,ada yg dandanannya sprti tentara AD,tpi pd diam,dengan berpikir dan gk mau ngurusin pola pikir orang akhirnya q berdri dan ngasih kursi ke ibu tua itu mengingat pelajarn dr guruku dlu,memberi ssuatu kpd ssorang yg lbh membutuhkn itu adalah ibadah dan akn mnguatkn iman dan tagwa kita kpd ALLAH SWT,setelah q kasih kpd ibu tua itu ehhh ternyata masuk lagi penumpang brikutnya ternyata ibu hamil dan orang tua tadi langsung terperanjak berdri dan ngasih kursinya kpd bumil itu yg lbh2 membutuhkn,bicara dlm hati q dng bersyukur ehh ternyata kursi yg q tempati uda ada 2 orng yg membutuhkn,dlm hati q sgt seneng krn q dapat amaln 2 dr yg q relakn dan mmbuat orng senang itu jg sgt menyenangkn,ibu tua tdi dng akrabnya bertanya ke q tujuan q,trnyata msh jauh ibu tua itu langsung kaget,laaa ibu itu malah mengelus2 jilbabku dan megang2 badanku sambil berkata "olah nak2 sampeyan iku" sambil senyum2,dlm hati q sgt senang skali malah ingat ma ibuku jadinya,q mlakukn ini sma bkn krn q sdh pernah hamil,q sering sprti itu,wktu dlu msh kuliah jg q pernah mlakukn hal yg sama ngasih tmpt duduk untuk orng yg lbh membutuhkn sprti ibu2 tua,bumil,anak2,slagi kita masih kuat untuk brdri dan mmpunyai tenaga knapa gk mlakukn hal yg lbh baik dan mnolong sesama terlebih lagi orng yg membutuhkn,jadi inti dr crita nyata q adalh satu,CARA MENDIDIK MULAI DR DINI,krn apa wktu q mlakukn hal sprti itu q mgingat didikn guru dan lingkungan kluarga q tentang orng2 yg lbh mmbutuhkn,gmna cara,sopan santun kita pd yg lbh tua,krn dizaman ini q tau sndri anak2 yg ABG mli gk ada sopan2nya kpd yg lbh tua,smg ini bermanfaat,smg dinda jg baca ini yaaa dan mrubah pola gaul,pola akhlaq,dan pola2 lain yaa menjadi yg lbh baik,dan anggap ini smanya sbgi pelajaran hidup,krn stiap manusia tdk ada yg sempurnah dan tak luput jg dr salah dan dosa,untuk yg lain jgn menghakimin krn belum tentu kita lbh baik jg,lbh baik kita ngasih nasehat dan masukan kpd yg membutuhkn sprti dinda dan ank2 yg blm tau tentang pelajaran hidup yg lbh baik,krn mencangkup pelajarn hidup sgt panjang skli tdk bsa diukur bahkan smpai tua pn ada,krn Allah ngasih stiap masalah/musibah itu mrupakn pelajarn hidup agar kita smakin kuat,dewasa dan mengerti,sprti dinda byk yg mengomentari A sampai Z,itu sbgi masukn dan pembelajaran bagai mana nanti klu ada bumil lagi yg mmbutuhkn,jadi dinda uda tau gmnanya,orng pintar gk akn mengulangi kesalahn 2/3 kli kesalahn,smg bermanfaat yaaa saudara2 q,Aamiin yarobb

febrian sigit said...

Saya setuju dengan blog mbak yang cantik ini, mungkin banyak alasan kenapa Ibu hamil gak bisa berangkat lebih pagi, mungkin karena harus mengurus segala keperluan keluarganya atau mengurus anaknya yang lain, jadi tetap toleransi sama siapapun yang membutuhkan pertolongan

Anonymous said...

Anda se harusnya tidak me nilai orang sedangkal itu. Apa anda tau latar belakang si Ibu hamil, ada paham kondisi financial nya, anda tahu keluarganya?

Anonymous said...

Kenapa itu masalah ahlak, biar lah yg pura2 mendapat balasan. Tapi memberikan kursi kepada yg membutuhkan itu kewajiban dan suatu per buatan yg baik. Apakah tiap yg mengaku hamil anda harus minta bukti?

Anonymous said...

Penilaian yang salah. Membiarkan istri bekerja bukan berarti suami itu tidak sejati. Tidak semua wanita punya keberuntungan menikah dengan pria yang berlebih. Istri mencari nafkah itu banyak sekali alasannya membantu perekonomian keluarga utk anak2nya bisa mendapat pendidikan yang bagus. Mengapa saya memutuskan bekerja karena saya mencontoh kisah ibu saya yg ditinggal suami menghadap Ilahi dalam usia muda dengan 5 anak. Ayah saya tidak memperbolehkan ibu saya bekerja tapi dengan diam2 ibu saya punya usaha kecil2an dgn sembunyi2 yg mana usaha itulah yg membuat ibu saya bisa menghidupi 5 anak ketika ayah meninggal dunia. Saya juga mencontoh kisah2 wanita2 yang ditinggal suaminya pindah kepelukan perempuan lain tanpa meninggalkan harta2, si istri harus menghidupi dan membesarkan anak2 sendiri dan susah mencari kerja krn ketika menikah dulu tidak pernah bekerja.DARI situ ketika remaja saya selalu bertekad walaupun saya menikah dengan orang mampu sekalipun saya tetap akan bekerja karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi didepan.
\

Herman Rochmawan said...

Dindaaaaaa.....dimanakah kau berada nak?? Sini sama saya biar saya rukyah...kesian kamu nak...

Juni said...

Thank you
Mba Meta
Ijin share ya

Satu pelajaran yang paling berharga buatku pribadi adalah, berusaha sekuat tenaga mengajarkan anak - anakku bahwa perduli itu bukan situasional, tapi setiap saat. Mengajarkan empati dengan baik.

Kalau melihat komentar teman - teman Dinda ini, ternyata mereka banyak sekali, yang artinya ini memang ada dekat disekitar kita. Penurunan moral dan keperdulian.

Ketika dinda naik kereta CL yang saya rasa jauh lebih baik dari ekonomi sebelumya, karena kita banyak yang merasakan naik kereta ekonomi dan juga sampai generasi CL, termasuk saya. Naik kereta dari semester 1 kuliah, hingga hamil 9 bulan anak kedua. Dan saya naik kereta sampai 3 hari sebelum anak saya lahir.
Artinya bukan dinda aja kayaknya yang paham bagaimana sulitnya naik kereta. Saya mengingat dengan jelas bagaimana saya rebutan naik kereta dari kota, dan selalu sedikit mengalah karena takut jatuh, meski akhirnya dapat tempat duduk. ketika ada lansia atau ibu2 dengan menggendong anak naik, saya terbiasa langsung berdiri. ketika saya melakukannya saat hamil, maka ketika saya berdiri, baru akan ada yang sedikit malu dan memberi saya duduk, atau orang yang saya beri duduk biasanya nggak mau, " nggak bu, ibu duduk aja", karena saya hamil. tapi karena itu, baru ada yang dengan suka rela memberi tempat duduk, bukan karena perduli tapi karena malu.

Semoga dunia pendidikan di Indonesia aware dengan ini, mengingat banyaknya anak muda yang berpikir sama, maka berarti ada sedikit banyak salah pada kita sebagai pendidik juga sebagai orang tua.

Anonymous said...

Kewajiban suami.Lha klo suaminy gak ada, gimana? Teman adik saya, barusan menikah, tetapi pas hamil 4bulan, suaminy yg kerja di pabrik, kecelakaan dan meninggal dunia. Teman adik saya itu terpaksa kerja tiap hari ke Jakarta, dari Depok, kalo gak, gak bisa makan,bro... di negri yg luas ini, gak semua orng hidup dalam keadaan "normal"

Anonymous said...

Alhamdulillah... Berkat mba metha,ternyata banyak sekali masyarakat indonesia yang memiliki hati nurani dan kepedulian terhadap sesamanya... Smg dinda tergugah hatinya untuk meminta maaf atas perkataannya itu ya... Mau bagaimanapun,suatu saat dia pasti akan menjadi seorang ibu...ketika hamil nanti,pastilah banyak ujian yang dia rasakan...dia berkata seperti itu mungkin krn belum prnh hamil ya... Two thumbs up for you,metha... Banyak sekali support yg masuk... Dan betapa senangnya ketika membaca blog ini...bahwa msh bnyk yg peduli akan sekitar...Alhamdulillaaah Ya Allah...smg Allah melindungi kalin2 semua yg memiliki rasa sosialis yg tinggi...termasuk mba metha..Amiiin YRA

Anonymous said...

Alhamdulillah mantan bumil dari ketiga anak saya, sya selalu dberi kesehatn n kemandirian. Mungkn mba Dinda hany sedikit khilaf ketika memberikan komentr spt itu, mungkn dia lupa kalo dia terlahir dr bumil. terleps dr apa yg sdh dipostng, biarlah itu jd pmbelajaran buat mb dinda, jgn kta ikut2an menjudge yg justru menunjukn kelemhan kt, mari kita saling mengingatkn, menguatkn satu sm lain baik di dunia nyata maupun dumay.

nita said...

Agak heran dgn kadar kebencian si Dinda hanya karena perkara tempat duduk. Sy jg pengguna KRL, tau banget rasanya. Tp justru kebalikan dr Dinda, sy justru sering diberikan tmpt duduk, pdhl sy ga hamil. Mungkin krn bdn sy kurus, kecil, terlihat lemah, jd kalau ada laki2 yg sdg duduk, cepat ato lambat biasanya ada yg berdiri dan kasih tmpt duduknya. Justru sy yg merasa ga enak hati, merasa dianggap lemah pdhl sy kuat lhooo... Menghadapi spt ini biasanya sy lihat situasi, kalo yg ksh duduk pria gagah ya sy terima dgn ucapan terima kasih. Tp kalo bpk2 tua, yg pasti lbh butuh, dgn halus sy tolak. Menolak itu jg pake hati lhooo, takutnya yg sdh berniat baik jd tersinggung kalau ditolak.
So, intinya kt sbg makhluk sosial, gunakan akal pikiran dan perasaan utk bs bersimpati n berempati.
Btw, sy share di fb sy ya mba metha. Thx.

Anonymous said...

Seandainya sistem transportasi kita sudah memadai, walaupun berdesakan tapi cepat (kereta nggak telat, transjakarta nggak macet) saya yakin manusia2 nya juga nggak se-egois dan seberingas yg ada. Perhatikan, mereka serobot antrian kadang krn terlalu lama waktu untuk menunggu, sedangkan kondisinya sudah sesak, berdiri lama, sangat tidak nyaman dan melelahkan fisik dan mental. Mereka pura2 tidur krn setelah lelah menunggu lama akhirnya bisa duduk melemaskan kaki (ini hasil ngupingin curhatan obrolan ibu2 yg duduk disebrang saya), semuanya jadi efek berantai sih sebenarnya. Kalau nggak kelamaan nunggu dan perjalanan yg terlalu panjang krn macet, pasti lain keadaannya. Saya tidak membela orang2 yg berbuat spt dinda, memang tidak pantas mengungkap uneg2 yg sedemikian di social media, apapun alasannya, sangat tidak etis mengungkap perbuatan buruk di soc med, hanya akan mengajarkan orang lain untuk meniru keburukan. Namun saya hanya berusaha menganalisa, sebagai pengguna setia transjakarta yg sering dibully krn diserobot antriannya, didorong dengan beringas dsbg2, saya jadi suka memperhatikan alasan sebenarnya mengapa mereka melakukan hal demikian... Semoga kita bisa merasakan nikmatnya transportasi umum yang layak very soon yaa :)

hermin hermione said...

hidup bumil :D
saya sedang hamil 6 jalan 7 bulan, pas membaca postingan Dinda, sya benar2 geram,.
semoga mbak dinda nnti tidak merasakan hamil yang menyusahkan :D

Anonymous said...

alhamdullilah waktu hamil anak pertama sampe kedua nemu orang2 yang baik dimana aja termasuk angkot. ga ketemu orang kayak mba dinda, mungkin dinda belum pernah hamil, apa ga dikasih hamil kali....abis bisa2nya nulis begitu. tiap orang kondisi hidup,kondisi badan dan keuangan beda2 mba dinda jgn disama2in....semoga anak2 ku nanti berempati besar terhadap sesama

Anonymous said...

mb Meta, ijin share pengalaman yaa...saya juga mantan bumil, yang alhamdulillaaah tidak perlu bekerja (tapi sedang kuliah), tidak perlu tiap hari naik kendaraan umum berdesak2an krn diantar pake motor, dan saat perut mulai kram atau tiba2 lemas dan mual saat belanja di supermarket selalu dipertemukan dengan orang2 baik yang jika kebetulan punya kursi/sesuatu untuk diduduki selalu mengijinkan saya untuk duduk, bahkan ketika kehamilan saya masih kecil dan belum kelihatan.
untuk mb dinda, apakah setiap hari tempat duduk mbak "diserobot" ibu hamil? nggak juga kan? saya yakin klo yg meminta tempat duduk mbak dinda itu hamil betulan dia pasti mendoakan yg baik2 utk mb dinda yg sudah mau ngasi tempa duduk. klo yg minta ternyata pura2 hamil ya mbak dinda tenang saja, pasti ada balasannya sendiri utk mbak dinda dan ibu yg pura2 hamil itu :)
intinya, sebenernya mb dinda ndak perlu sebenci itu sama org hamil, walopun misalnya org hamil yg minta kursi mbak dinda memintanya dengan jutek sekalipun.
moga2 permintaan maaf mbak dinda bener tulus ya, bukan hanya karena ingin berhenti dibullying di dunia maya saja :) dan moga2 ini menjadi sentilan bersama buat kita, untuk bisa berempati seberapapun lelahnya, dan untuk bisa mendidik anak2 kita kelak untuk punya empati.

Anonymous said...

Terimakasih dinda,,,, telah memberikan kami pelajaran yang sangat berharga...

bramas said...

hahaha rame ya mba..semua karena dinda seorang, ngga juga sih hehehe

intinya ialah KASIH mengalahkan segalanya..bukan men-judge siapa yang mengasihi sesama, siapa yang tidak mengasihi sesama..
jika kita mengasihi orang lain maka kita memberikan yang terbaik bukan cuma buat diri kita sendiri, tapi juga untuk sesama..

pertanyaanya..apa kita memiliki kasih itu? :)

~GBU~

feni Amriani said...

"manusia berjudul Dinda" .. hihihi.. sarkasm bget ya, met..
pelajaran utk semua org.. kayaknya ga ada ruginya deh, kalo kita bantu sesama. apalgi yg sedang berada dlm kondisi yg seharusnya. sama orang yg normal aja, terkadang kita ga tega, konon lagi sma ibu hamil ini..
semoga orang indonesia yg katanya ramah dan suka tolong menolong buka hanya sebuah kata dalam text book PKN

Anonymous said...

Setuju banget!

Jasa Pembuatan Website said...

dari pertama kenal sampai udah punya anak gini kak meta tetap tulisan dan pikirannya enak di baca.
setuju banget kak, edukasi dinda juga kurang kak makanya dia g tau bagaimana kesehatan seorang bumil.

Fashion Wanita said...

Hidup Bumilll.....
semoga dinda nya bisa benar2 tulis minta maaf nya

Anonymous said...

dinda ini pasti penghuni gerbong khusus perempuan. yg katanya penumpang di gerbong itu justru lebih brutal kelakuannya dari gerbong biasa. yg sesama perempuan dan kadang sesama ibu2 dan pernah hamil aja bisa intoleran.

pernah denger ibu2 hamil di gerbong normal yang males ke gerbong khusus karna pernah diusir oleh sesama perempuan dan disuruh cari kursi prioritas di gerbong normal.

pasti banyak dinda2 di luaran sana. yg paling gampang, yah cari di gerbong khusus itu tadi.

semoga issue ini jadi pelajaran buat semua.

Leyla Hana Menulis said...

Bagaimanapun, sikap empati itu perlu ya, Mak. Semoga anak2 kita lebih manusiawi.

Ruziana Ana said...

ya bisa saja dinda lg apes krn pathnya di repath olh org lain n nyebar..krn mmg banyak org2 spt dinda di sekitar kita.jangankan anak muda, ibu2 pun ada spt itu.intinya kembali ke akhlak masing2.sya pernah mengalaminya.di sebuah acara organisasi sy bawa anak umur 2 thn.karena jauh dr rumah sy tak bawa motor tp naik angkot. usai acara sy sambil gendong anak yg mulai ngantuk krn siang hari sy nunggu angkot di siang bolong..apalagi tempat acara jarang dilewati angkot. eh itu teman2 yg bukan sekedar kenal tp udah kenal bangeet malah tak ada yg menawarkan tumpangan.pdahal ada yg bawa mobil n motor. tp sya menyadari mungkin mereka buru-buru ingin pulang ke rumah dan mungkin jg menganggap repot beri tumpangan.mau nulis di FB juga tak ada guna karena endingnya cuma bikin masalah diantara sya n teman2 yg merasa. solusinya hnya pd diri sy sendiri..klu ada acara yg lokasinya susah angkot sy bawa motor meski hrs bawa anak dgn berbagai safety, jaket, sabuk, dll..krn ngarepin belas kasihan org pd saat skrg ini mahaaal....kalau kita msh ada perasaan empati pd orang lain ya biarlah sy yg berbuat tuk org lain #curcol

Delyanet Karmoni said...

Tulisan ini benar2 mewakili hati... Saya share ya mbak Meta... :)

IrmaSenja said...

Setuju mba,...ini juga isi hati saya bangettss.. syukurlah dinda akhirnya berbesar hati dan meminta maaf :)

Astin said...

Haiii Mba Meta, awal saya membaca path Dinda bener-bener geram, namun yaa...itulah ibu hamil berbeda-beda kondisinya. Hamil pertama aku sekuat Xena memi, namun kehamilan keduaku yang ini, jalan terlalu jauhpun sudah pusing, dan bukan aku yang maui. Alhamdulillah masih bisa berangkat bekerja, memandikan dan beberes rumah.

Anonymous said...

Saya perempuan dan belum pernah hamil, bahkan menikah pun belum. Tapi, saya pernah menyaksikan kakak perempuan saya hamil dan ibu saya mengandung adik saya. Pun saya belum pernah hamil, tapi saya tahu bagaimana perjuangan seorang ibu untuk bertahan selama 9 bulan 10 hari dengan kondisi kesehatan dan mood yang fluktuatif namun harus tetap menjalani kegiatan harian mereka seperti biasa.

Adalah hak Dinda untuk tidak memberikan kursinya pada ibu-ibu hamil atau bahkan nenek-nenek sekalipun yang ada di depannya, yang saya sayangkan hanya komentar Dinda yang seolah sudah tidak memiliki empati dan hati. Dan sekali lagi adalah hak Dinda untuk mengutarakan pendapatnya di akun social media miliknya. Tersebarnya screen capture akun socmed Dinda juga sepatutnya jadi instropeksi buat kita bahwa suatu saat teman di sekitar kita pun bisa membuat kita "jatuh".

Dan memang kenyataannya masih sangat banyak orang-orang pengguna sarana umum bermental Dinda di luar sana. Entah kenapa, seolah empati dan hati sudah mati. Tanpa membawa satu agama apapun, tapi tentu ini menjadi PR besar bagi para orangtua dan calon orangtua untuk bisa mendidik anak-anak mereka kelak agar tumbuh menjadi anak yang memiliki empati dan hati.

Peristiwa ini tentu menjadi tamparan dan renungan tersendiri buat saya. Saya yang seorang perempuan, calon orangtua, dan juga pengguna transportasi umum.


Mohon maaf apabila komentar saya kurang berkenan :)

sukma said...

Ya Allah,,, jahatnya pikiran dinda n teman2nya dikomen itu,,,, walaupun dya sudah meminta maaf, tp ttp sakit hati bacanya,,,,

Ummu Wardah said...

Setuju mba......izin share ya...

Toko Wallpaper Murah Jakarta - said...

wooo keren bnaget kak bisa dipelajari :D

Anonymous said...

hai mba meta.. saya belum hamil dan bahkan belum menikah. kalau saya sih berusaha empati membaca status dinda tsb. memang benar, siapa tau dia menderita dng kakinya yg sakit krn anak muda yg terlihat sehat belum tentu kuat. tapi saya jg empati melihat ibu hamil krn pernah menyaksikan kakak2 saya hamil dan segala penderitaannya.
saya jadi berpikir, banyak anak muda yg sakit tapi tidak terlihat sakit, tapi mereka gamau bilang kalo sakit jadi terlihat egois ga mau ngasih tempat duduk. ya, mereka2 yg belum punya kesempatan utk naik taksi atau mobil pribadi, yg dng penyakitnya hrs naik kendaraan umum yg tdk manusiawi.
kalau saya pribadi, saya ga punya penyakit parah, hanya saja kandungan darah saya tidak seimbang sehingga saya cepat kelelahan. saya juga sering menggendong tas ransel yg berat berisi laptop. apalagi naik transjakarta yg tdk ada rak utk meletakkan tas. jujur, saya ga akan ngasih tempat duduk krn rasanya sakit dan lelah hrs berdiri lama menggendong tas berat. tapi saya colek penumpang sebelah saya utk ngasih tempat duduk dan untungnya dia mau ngasih. ya, setidaknya saya sdh berusaha utk bertanggung jawab. semoga ga ada orang lain yg men-judge saya egois. Amin.

tania said...

Jadi terus terang saya sangat geram melihat statement ABG, yg juga jelas-jelas seorang wanita, yg mencaci wanita hamil seperti itu

Yoekaa said...

Bisa belajar dari banyak hal..... dari kasus si Dinda ini

kacamata renang said...

hmm ini akan menjjadi pelajaran yang berhrga :)

Elkilani Kurnia said...

dINDA MEMBERIKAN BANYAK PELAJARAN KEPADA SEMUA ORANG.. HARS BELJAR EMPATI

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...