Tuesday, September 23, 2014

Tantangan Orangtua Masa Kini

Postingan ini saya tulis untuk mengikuti #ceritabunda di web ayahbunda berikut:D

*

Menjadi orang tua akan selalu penuh tantangan sebagaimana anak-anak pun mempunyai tantangan tersendiri di setiap masa. Bagaimana tidak, tidak pernah ada sekolah khusus, kursus intensif atau textbook merawat dan membesarkan anak dengan baik. Sehingga selama ini yang dijadikan acuan selain insting adalah lungsuran pengalaman dari sesepuh yang entah benar atau tidak, entah aman atau justru berbahaya, entah fakta atau mitos.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, tantangan terbesar orangtua adalah bagaimana membesarkan anak dengan fasilitas yang serba terbatas, bagaimana mengeksplorasi bakat anak tanpa tersedianya tempat kursus ini-itu, bagaimana mengisi waktu luang efektif anak tanpa sarana hiburan. Mungkin. Bagai impian menjadi kenyataan, semua fasilitas yang diidamkan orangtua berpuluh tahun lalu tersedia di masa kini. Mencari informasi semudah satu sentuhan di layar gadget. Mengeksplorasi bakat atau minat anak tinggal memilih beragam tempat kursus ini-itu yang menjamur. Mencari hiburan pun bisa dari televisi, radio, gadget atau playground yang ada di mana-mana. Selesaikah tantangan orangtua?

Justru di era digital yang segala ada dan informasi mengalir dengan deras dari segala arah inilah, menurut saya tantangan menjadi orangtua semakin berat.

Bagai dua sisi mata pisau, segala fasilitas super lengkap masa kini bisa menjadi sangat merugikan dan menguntungkan bagi kita.

Sering kali kita lihat di media, berita mengenai pencabulan, pemerkosaan bahkan pembunuhan yang korban maupun pelakunya masih anak di bawah umur. Tak jarang juga kita lihat tayangan sinetron (yang saya yakin bebas dilihat siapapun termasuk anak balita) tidak mendidik, mempertunjukkan anak di bawah usia yang mabuk-mabukan, perilaku bully , merokok atau adegan lain yang tak pantas. Lain sinetron, lain pula tayangan komedi yang dibungkus sajian musik dan sedang marak. Candaan yang cenderung mengarah ke fisik, hinaan personal sampai guyonan tak etis merajai televisi di waktu banyak anak kecil menonton televisi. Belum lagi banyak lagu berhias desahan plus goyang syur dan bersyair konotasi negatif menggantikan lagu anak-anak yang penuh keceriaan.

Di era digital seperti sekarang, semua orang bisa mengakses berita apapun dengan mudah, termasuk anak di bawah umur. Jangan kaget jika gambar porno bisa terakses as easy as a click. Demikian pula dengan video porno, SARA dan kekerasan.

Belum lagi permasalahan gadget. Saya pernah mendapati beberapa anak balita yang begitu menempel pada gadgetnya sampai speech delay karena tak pernah terstimulasi bicara. Beberapa kali pula saya melihat anak yang tidak mau bergaul dengan siapa pun karena terlalu sibuk dengan gadgetnya.

Kurikulum pendidikan yang semakin berat pun merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua. Saking beratnya, terkadang kita lupa bahwa ada yang jauh lebih penting daripada bisa membaca dan menulis sebelum masuk SD, ada yang jauh lebih mendasar daripada kemampuan berhitung yang luar biasa.

Karena takut anak tidak bisa mengikuti pelajaran berat di sekolah, kita sibuk mengajari berhitung, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana cara berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana berdisiplin, bagaimana bertanggung jawab, bagaimana bersopan santun, bagaimana bertingkah laku penuh etika luput diajarkan.

Di kala kita yakin sudah menanamkan pendidikan karakter dan moral bagi anak, tetap saja ada kekhawatiran yang muncul sebagai orangtua. Iya, inshaAllah anak kita dapat berperilaku baik sehari-hari, namun adakah yang bisa menjamin kalau anak kita tidak akan menjadi korban perilaku orang lain yang tidak baik, misalnya pencabulan atau bully?

Kalau membicarakan kekhawatiran sebagai orangtua saya yakin tidak akan ada habisnya. Namanya saja orangtua, apalagi ibu. It’s a mom’s job to worry about her children:D

Tapi takutkah saya menjadi orangtua di masa kini? Tidak.
Saya yakin seberat apapun tantangannya, dengan kasih sayang, perhatian dan pondasi yang kuat, saya bisa menjadi orangtua yang dapat membesarkan anak dengan baik. InshaAllah. Pondasi yang saya maksudkan tentunya adalah agama, pendidikan moral dan karakter dari keluarga, sekolah pertama anak.

Menjadi orangtua membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik. Saya percaya, children see children do. Saya yang biasanya sembrono menjadi lebih rapi dan teliti karena ingin anak mencontoh saya. Saya yang menganggap sepele ucapan terimakasih, maaf atau tolong mulai membiasakan diri mengucapkan kata-kata ajaib ini agar bisa dicontoh anak.

Jadi menurut saya, tantangan orangtua masa kini bisa dijawab dengan pondasi yang kuat, contoh yang baik dan tentunya doa tak terputus.

Saya bangga menjadi orangtua masa kini:D

Monday, September 22, 2014

Pengukuhan Guru Besar

Sabtu kemarin, sepupu saya resmi dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Airlangga. Hebatnya, sepupu saya ini mencatat rekor guru besar termuda. Keren yaaa.

Sejak dulu, saya menganggap sepupu saya ini jagoan. Selalu menjadi the best di studinya, dan selalu juga menjadi role model bagi saya. Engga heran makanya kalau bisa jadi profesor termuda. Gelarnya saja panjang macam kereta api:)))

Keluarga besar saya datang dari Jakarta dan Bandung, termasuk mama. Naya juga ikut mengenakan kebaya. Naya bilang "Mama, kakak juga mau jadi plopesor ya nanti."





Amiiiin kak, amiiiin!

Selamat untuk Prof. Thaha, dr. PhD, Sp.PD-KGH, FINASIM, FACP. Semoga ilmunya berkah dan bisa berguna bagi masyarakat luas:D

Im a super proud cousin!


Thursday, September 18, 2014

Her Name Is Today

Kemarin saat sedang mengikuti kuliah S2, guru besar yang mengajari kami materi nutrisi pada anak membacakan satu kutipan yang diambilnya dari Gabriel Mistral. Saya tidak tahu betul siapa gerangan beliau, tapi kata-katanya menempel di benak saya untuk beberapa lama.

We are guilty of many errors and many faults
But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life
Many of the things we need can wait, the child can not
Right now is the time, his bones are being formed, his blood being made
And his sense are being developed
To him we can not answer tomorrow, his name is TODAY

*

Terkadang saat melihat Naya, saya sering merasa terharu sendiri. Rasanya baru saja kemarin saya hamil dengan penuh perjuangan:p, baru saja kemarin saya membawa segala printilan menyusui setiap pergi, baru saja kemarin saya bingung setengah mati karena Naya sulit sekali tidur, baru saja kemarin saya menanti-nanti kata pertamanya, baru saja kemarin saya mengajarinya berjalan, baru saja kemarin saya membuatkan MPASI perdananya, benar-benar baru rasanya. Kenapa "tiba-tiba" Naya sudah berumur 3 tahun ya? Sudah lancar berbicara ini-itu, sudah bisa bertanya tanpa henti, sudah bisa split, bisa roll depan roll belakang, bisa makan sendiri, bisa mandi sendiri. Time really does fly.
Anak bayi saya:')

Betul, sejak ada Naya saya jarang sekali hang-out bersama teman-teman. Saya sangat mengurangi jadwal siaran radio saya. Saya sudah lama tidak syuting. Saya tak ingat kapan terakhir kali ke salon. Dulu, saya hapal semua lagu terbaru, mancanegara ataupun Indonesia. Sejak ada Naya saya lebih hapal lagu anak-anak macam Ruri Abangku dan Tukang Pos:))) Dulu, saya bisa membaca novel chiclit atau metropop kesayangan setiap hari. Sekarang, saya lebih hapal isi buku anak-anak seperti kisah perjuangan si Kelinci dalam lomba lari atau persahabatan si Gajah dan Semut. Dulu, saat ada waktu luang saya bisa dipastikan sudah melipir ke mall sebelah. Sekarang, di waktu luang saya lebih memilih menggunting dan menempel kertas berwarna atau menyembunyikan "harta karun" berupa potongan kertas berwarna dengan tulisan kata di atasnya. Dulu, setiap sore sepulang bekerja saya masih bisa leyeh-leyeh sekadar scrolling akun socmed untuk melihat apa yang sedang happening, sekarang sore saya diisi dengan mengantar Naya les. Dulu, malam saya isi dengan melihat tayangan talkshow atau infotainment di televisi. Sekarang, saya lebih sibuk mengarang permainan #Playandlearn untuk Naya.

Menyesalkah saya? Tidak. Sama. Sekali.

Karena hang-out dengan teman-teman bisa menunggu, siaran radio atau televisi bisa menanti. Pergi ke salon bisa ditunda, sama halnya dengan mendengar lagu terbaru atau membaca novel kesayangan. Pergi ke mall bisa nanti, update socmed bisa ditangguhkan. Tapi golden period Naya tidak akan pernah bisa diulang. Saat yang tepat untuk membentuk kecerdasan dan perilakunya adalah sekarang, tidak bisa ditunda atau ditangguhkan. Sebelum berusia 6 tahun, otak manusia sudah terbentuk 95%-nya.Sebelum 6 tahun, otak anak akan sangat sensitif dengan stimulasi. Pernah dengar kan kalau otak anak menyerap seperti spons?  Jadi menurut saya, sebelum 6 tahunlah waktu yang tepat untuk memberikan berbagai stimulasi tumbuh kembang, termasuk pendidikan karakter. 
Sebelum 6 tahun. Sebelum terlambat.

Saya bersyukur, walaupun bekerja masih dapat mendampingi Naya di setiap proses tumbuh kembangnya. Saya ada saat Naya mengucapkan kata pertamanya, saya pun hadir menyaksikan jalan pertamanya, konser balet pertamanya, wisuda pertamanya. Saya masih turun tangan membuat MPASI Naya setiap hari, membacakan buku cerita pada Naya setiap hari, dan bermain dengannya. Sampai hari ini pun setiap hari saya masih bisa mengajari Naya berhitung, menulis tegak bersambung atau membuat cerita. Segala kesusahan saya harus lari ke sana-sini demi bisa mengantar Naya, kurangnya waktu tidur, capeknya serasa hilang begitu saja setelah melihat Naya tumbuh menjadi anak sehat, pintar dan -semoga- sholehah. Alhamdulillah, betapa beruntungnya saya:)

ps: yes im a working mother, and im proud of it:D #ibubanggabekerja

Nanti kita nyalon dan hang-out bareng ya kak Aya!

 To her i cannot answer tomorrow, her name is TODAY:D

Wednesday, September 17, 2014

Serba-serbi Demam pada Anak

Kemarin saya dihubungi pihak Detik.com untuk memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan soal demam pada anak. Oh ya btw, saya memang salah satu narasumber Detik.com sejak kurang-lebih setahun yang lalu. Saya senang sekali diajak bekerjasama karena pada dasarnya saya ini pemalas. Suka malas buka-buka jurnal atau textbook terbaru untuk membaca update soal kesehatan. Mendingan baca novel deh:p Tapi, sejak jadi narasumber rutin mau tak mau saya harus banyak belajar untuk mempertanggungjawabkan jawaban saya terhadap berbagai pertanyaan.

Pertanyaannya terkadang antik, tapi suka tak suka, harus diakui yang "antik" seperti inilah yang banyak dijumpai di masyarakat kita:D

Kembali ke soal demam pada anak, saya mau membahas sedikit nih. Demam ini penting untuk diketahui orangtua dimana saja, karena hampir sebagian besar kunjungan ke dokter anak disertai keluhan panas atau demam. Semoga berguna ya:D
(Beberapa di antaranya mungkin bisa dibaca langsung di Detik.com)

1. Sebenarnya sakit demam itu apa sih?
Demam sebenarnya adalah mekanisme tubuh anak dalam melawan kuman yang masuk. Untuk menentukan anak demam atau tidak, gunakan thermometer pleaseeee, jangan tanganmeter:))
Percaya atau tidak, banyak juga lho orangtua yang membawa anaknya ke dokter karena menurut "tanganmeter" mereka panas, tapi setelah diukur dengan thermometer ternyata normal. Untuk semua orangtua yang mempunyai anak, menurut saya mempunyai thermometer adalah wajib hukumnya. Suhu di atas 37,5 derajat Celsius baru dapat dikatakan demam. Obat penurun panas baru diindikasikan saat suhu tubuh diatas 38 derajat Celsius.

2. Bolehkah dibalur bawang merah saat anak demam?
Memang benar bawang merah mempunyai sifat dapat melebarkan pembuluh darah sehingga dapat menurunkan suhu tubuh. Tapiiii, bawang merah juga dapat membuat iritasi pada kulit anak yang termasuk sensitif, selain itu bau bawang bisa membuat anak merasa engga nyaman. Padahal kenyamanan anak saat demam sangatlah penting.

3. Kalau dikompres alkohol bagaimana? ALkohol kan dingin, bisa cepat menurunkan panas?
Alkohol 70% yang beredar di pasaran mudah sekali diserap kulit sehingga bersifat toksis. Memang sih alkohol terasa dingin, tapi tidak mempengaruhi suhu tubuh anak. Bahkan, alkohol yang terhirup anak saat dikompres bisa menyebabkan koma. Yang benar adalah kompres menggunakan air hangat diseka ke seluruh tubuh. Bukan hanya ditempel di atas dahi ya.

4. Kalau dikompres dengan air es?
Kompres dingin tidak direkomendasikan untuk mengatasi demam karena dapat meningkatkan pusat pengatur suhu di otak , mengakibatkan badan menggigil sehingga malah terjadi kenaikan suhu tubuh. Kompres dingin mengakibatkan pembuluh darah mengecil (vasokonstriksi), yang meningkatkan suhu tubuh. Selain itu, kompres dingin mengakibatkan anak merasa tidak nyaman.

5. Benarkah saat demam anak harus diberi kopi supaya tidak kejang?
Tidak. Tidak ada hubungan antara kopi dengan pencegah kejang saat demam. Jangan berikan secara rutin juga yaa. Tidak pernah ada penelitian yang membuktikan bahwa kopi dapat mencegah atau mengobati kejang. Malah, kafein pada kopi dapat membuat anak hiperaktif, juga bisa meningkatkan asam lambung dan menyebabkan sakit perut.

6. Kapan harus ke dokter saat anak demam?
Jika demam terjadi pada bayi di bawah 3 bulan, bayi lebih dari 3 bulan dengan demam di atas 39 derajat Celsius dan tak membaik setelah diberi obat, demam tak membaik selama 3 hari, nyeri saat BAK, nyeri di bagian telinga, anak tidak mau makan atau minum sama sekali, kejang, kaku leher, terdapat ruam merah, muntah dan diare.

7. Bagaimanakah seharusnya pertolongan pertama saat anak demam?
Kenakan pakaian tipis, berikan minum yang banyak, minumkan obat penurun panas sesuai berat badannya (bukan sesuai umur ya), kompres basah ke seluruh tubuh dengan air hangat.

First thing first, saat anak demam, jangan panik. Its easy to say but i know its very hard to do:D

Wednesday, September 10, 2014

Mendidik Keras


Bagi yang rajin membaca postingan saya di blog ini tentu hapal benar kalau saya selalu bilang mendidik Naya dengan “keras”. Maksudnya apa? Seberapa kerasnya? Keras yang bagaimana?

Saya dididik dengan keras oleh kedua orangtua saya dulu. Keras di sini maksudnya adalah banyak aturan, banyak ketentuan yang diterapkan dengan penuh disiplin. Sedikit saja meleset, dipastikan punishment menanti. Tetapi seandainya saya berhasil mengikuti, rewardnya pun ada. Yang paling simple dan memorable misalnya adalah soal waktu. Orangtua saya mengatur jadwal kami (saya dan kakak) sedemikian ketatnya. Sepulang sekolah, kami diharuskan sampai di rumah pukul  14.30. Saya ingat, dulu pulang pukul 14.00 lalu harus naik angkot untuk sampai ke rumah dengan lama perjalanan kurang lebih 15 menit. Tapi namanya juga anak-anak, kadang-kadang saat bubar sekolah, saya masih sibuk ngobrol cekikikan dengan teman atau becanda dengan sahabat. Terlambat 5 menit saja dapat membuat mama papa saya marah besar. 

Tidak ada kontak fisik, lemparan sepatu atau barang lain saat orangtua saya marah besar. Tapi nada suara mereka yang meninggi sedikit saja dengan pandangan mata kecewa cukup membuat saya sangat menyesal telah mengecewakan mereka.

 Walaupun saya pun sering kesal waktu itu karena ketatnya peraturan mereka, saat ini saya benar-benar menyadari betapa bergunanya didikan kedua orangtua saya. Saya sering membayangkan bagaimana kalau seandainya orangtua saya tidak mendidik dengan penuh disiplin. Pastilah saat ini saya tidak akan menjadi saya yang sekarang. 

Karena merasakan banyaknya manfaat setelah besar, sejak awal, saya berniat untuk mendidik anak dengan disiplin. Disiplin pada dasarnya adalah perilaku kebiasaan yang dapat melatih tanggung jawab. Tanpa disuruh, secara otomatis anak akan masuk ke dalam pola kebiasaan tertentu. Menurut saya, disiplin sangatlah perlu untuk membuat hidup menjadi teratur.

Saya membiasakan Naya berdisiplin sejak bayi. Iya betul, sejak baru lahir. Saya percaya, kebiasaan dapat dibentuk sejak awal. Yang paling sederhana misalnya soal waktu.Sejak masih bayi, saya mengatur jam mandi Naya di waktu yang sama setiap harinya. Jam 5.30 pagi dan jam 3 sore. Setiap hari, tidak pernah kurang atau lebih. Percaya atau engga, sampai saat ini pun Naya masih mandi jam 5.30 pagi dan 3 sore lho! Karena sudah menjadi kebiasaan, Naya tidak pernah saya kejar-kejar atau paksa untuk mandi. Begitu melihat jam di dinding menunjukkan angka 5.30 pagi atau 3 sore, anak gadis saya sukarela melepas baju dan masuk kamar mandi.

Demikian pula dengan waktu tidur. Ngantuk atau tidak, jam 18.30 paling telat Naya akan masuk kamar, minta ganti piyama, gosok gigi dan meminta lampu kamar dimatikan. Tidak ada drama ogah tidur atau masih mau main malam-malam. Saya percaya ini karena kebiasaan saya menidurkan Naya dengan ritual tsb sejak kecil. Sebetulnya, saya inginnya menggeser jam tidur Naya lebih malam sedikit karena sesekali ingin mengajak Naya kalau ada acara pernikahan atau makan malam bersama keluarga besar. Tapi sulit juga, karena mungkin sudah kebiasaan ya:D *emakruwet* :)))

Selain waktu, saya juga mengatur asupan makanan yang boleh dimakan Naya. Saya katakan pada Naya kalau jajanan macam chiki-chikian, permen atau cokelat tidak sehat jika terlalu banyak dimakan. Bisa merusak gigi dan membuat Naya sakit lainnya. Akhirnya, setiap Naya mendapat jajanan seperti itu (biasanya dari ulangtahun teman atau utinya yang kasihan:p), Naya akan meminta ijin saya dulu. Kalau tidak saya ijinkan, dia menurut sekali lho. No dramas!

Masih banyak contoh lainnya sebenarnya. Nanti kapan-kapan saya tulis ya!
Intinya, untuk mendisiplinkan anak, yang paling penting menurut saya adalah konsisten. Artinya, sebagai orangtua, kita juga harus disiplin. Misalnya, membuat aturan anak harus mandi jam 5.30 pagi, tapi besoknya karena kita malas bangun pagi bisa mundur jadi jam 7 pagi, lusanya jam 6.30 pagi dst:))) Atau membuat peraturan anak tidak boleh makan cokelat tapi karena engga tega, peraturan bisa berubah setiap saat. Anak malah bingung nanti jadinya.

Yang kedua, pastikan kita kompak dengan pasangan. Jangan sampai aturan yang kita buat malah berlawanan dengan aturan pasangan kita. Anak malah akan jadi bingung dan cenderung mengikuti aturan yang menurut dia paling enak saja. Banyak-banyak diskusi dengan pasangan aturan bagaimana yang paling pas untuk anak disesuaikan dengan sikon. 

Ketiga, konsekuen. Ingat, children see children do. Kita membuat aturan anak harus makan sayur, tapi kita sendiri sebagai orangtua ogah makan sayur. Mau diberi punishment macam apa pun, sepertinya percuma:D

Keempat, kompromi. Ada kalanya aturan boleh dilanggar. Misalnya saat anak kita sakit, atau ada force majeur lainnya.

Last but not least, jangan lupa reward and punishmentnya. Puji anak saat berhasil mengikuti aturan, peluk, cium, atau siapkan makanan favoritnya. Untuk punishment, bisa berupa larangan memainkan mainan favorit, tegur dengan nada serius, atau mungkin time-out. Sesuaikan dengan masing-masing anak:D

Alhamdulillah, saya merasa sampai saat ini saja sudah banyak sekali manfaat dari mendidik Naya dengan penuh disiplin. Awal-awalnya berat memang, apalagi kalau anak gadis sudah mimbik-mimbik pasang ancang-ancang mau mewek. Duh engga tega, rasanya hati ini tertarik-tarik ingin mengijinkan dan memberikan apa saja yang dia mau. Tapi saya teguhkan hati, meyakini kelak ini semua akan ada manfaatnya. Semua untuk Naya sendiri kelak:)

Monday, September 8, 2014

Anemia Defisiensi Besi Anak

Sudah cukup lama ya rasanya saya engga bagi-bagi ilmu di blog ini:p
Sekalian mereview dan mengetes ingatan, kali ini saya ingin sekali menulis mengenai Anemia Defisiensi Besi (ADB). Saya beberapa kali menerima email dari pembaca blog ini yang "request" pembahasan ADB. Baiklah, semoga berguna yaaa!

1. Apa sih itu anemia defisiensi besi? 
Anemia sendiri adalah keadaan kadar hemoglobin (Hb) kurang dari batas normal sesuai usia (bayi dan anak) atau jenis kelamin (dewasa). Sebagai patokan yang sederhana menurut WHO adalah Hb kurang dari 11 g/dl pada anak umur 6 bulan-6tahun, dan Hb kurang dari 12 g/dl pada anak lebih dari 6 tahun. Anemia ada berbagai macam jenisnya, termasuk saah satunya adalahADB.  Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh sehingga penyediaan besi untuk eritrophoesis (proses pembentukan sel darah merah) berkurang, yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin (Hb) berkurang.

 2. Penyebabnya apa ya?
ADB dapat disebabkan rendahnya intake besi, gangguan penyerapan atau loss karena perdarahan jangka panjang. Pada bayi atau anak, penyebab tersering adalah karena kurangnya intake besi.

3. Bahaya engga sih? Kok kayaknya anak saya baik-baik saja tuh!
Untuk menjawab bahaya atau tidaknya, mari kita cek dulu apa sih fungsi zat besi. Fungsi zat besi yang paling penting adalah perkembangan sistem syaraf. Kekurangan zat besi dapat mempengaruhi fungsi kognitif, tingkah laku bahkan pertumbuhan anak. Karena zat besi juga berfungsi sebagai sumber energi untuk otot, kekurangan zat besi dapat mempengaruhi ketahanan fisik dan kemampuan otot bekerja. Jika saat ini sepertinya anak tampak baik-baik saja, belum tentu beberapa waktu ke depan juga akan tetap baik-baik saja jika dibiarkan.

4. Gejalanya apa?
Gejala yang paling banyak ditemukan adalah pucat. Namun terkadang karena pucat sudah berlangsung lama, keluarga biasanya mengira pucat tsb sebagai hal biasa. Selain itu, bisa juga lemas, gampang capek, gampang sakit karena daya tahan tubuh menurun, pada anak yang lebih besar bisa menyebabkan gangguan belajar dan gangguan perilaku.

5. Anak saya masih bayi nih! ASIX pula yang katanya paling baik. Masa bisa ADB?
Pada bayi yang berusia dibawah setahun, ADB dapat terjadi karena cadangan besi kurang, misalnya pada bayi berat lahir rendah, prematuritas atau lahir kembar. Bayi ASIX pun rentan terkena ADB karena kandungan besi pada ASI tidak cukup untuk bayi. Justru karena ASIX, sebaiknya

 6. Lalu apa yang harus dilakukan?
Berdasar rekomendasi IDAI, suplementasi besi dapat diberikan pada anak berusia 0-5 tahun, terutama 0-2 tahun. Zat besi yang dijual di pasaran mudah ditemukan dengan berbagai merk.

7. Anak saya sekarang sudah berusia 4 bulan, masih ASIX. Tidak terlihat pucat, tidak lemas, apakah masih membutuhkan suplementasi besi?
Kembali melihat ke tabel rekomendasi IDAI, bayi yang lahir cukup bulan (tidak prematur) sebaiknya diberi suplementasi besi mulai usia 4 bulan sampai 2 tahun. Suplementasi ini bersifat mencegah ADB, bukan mengobati. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?:D

8. Kalau tidak ada gejala, bagaimana mengetahui anak kita ADB apa tidak?
IDAI pun merekomendasikan screening pemeriksaan darah untuk anak berusia 2 tahun. Hal ini dilakukan mengetahui apakah anak menderita ADB atau tidak. Di bawah 2 tahun, jika ada kecurigaan ADB, pemeriksaan darah dapat dilakukan.

9. Kalau diberi suplementasi besi nanti anak saya bukan ASIX lagi dong karena diberi yang lain selain ASI?
ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain pada bayi berumur nol sampai 6 bulan. Suplementasi besi di luar makanan atau minuman:D Jadi tetap ASIX dong:D

Sekian sedikit yang bisa saya share soal ADB pada anak. Semoga bermanfaat!:)

#TUMBirthClub My BFF Club

Dalam rangka mengikuti kontes The Urban Mama #TUMBirthClub My BFF Club, kami para mama yang bergabung dalam Birth Club March 2011 tentunya berminat berpartisipasi dong:D

Ketua gang kami adalah Bunga, yang kreatif banget dan bertanggung jawab mengupload foto-foto kami, para mama kece:p, ke dalam thread contest. Saya copas langsung yaaa!

*

There is always a different story in every parenting style, we want to share ours in a comical way*
Sincerely,
March11 Mamas



March11 Mamas punya dsa andalan, yang bisa ditanya kapan aja dari bangun tidur sampe mau merem lagi. Sosok impian kami (emm maksudnya gue), ngga berhenti bikin kagum dan siap-siap nganga mangap jaw drop setiap denger cerita mama satu ini.

 Edisi ketemu artis
biar lebih jelas hihi
kecup basah semuanya..
ayo pupuran, malu ah sama yang sibuk jungkir balik di ugd tapi muka ngga lecek.

(PS: Bungaaaaa.. aslinya mah lecek bener kok:p, RED)

Each one of us has different characters.
This mama never runs out of excuse.
Ada aja alesan untuk missed out a meet up. Orangnya ngga ada dalam foto (ya kan gak dateeeng).
Daftar alesan:
1. Lift matek
2. Lagi sibuk kerja (as I said, gue ini kuli)
3. Salah waktu (lunch is never after office hour -- noted)
4. Salah tempat (FX is in senayan but not the same with Plaza Senayan -- welllll noted)
mamas pasti lebih hafal alesan gue gak ikut keramaian ibukota.
After all those reasons they still accept me for we are all weirdo and came from different planets.
Just because we're mamas we can't have fun.
My girlfriends know how to have fun.
And it's the food for our soul hehehe..

We weren't losing our mind. Moonshine effect to us is just ... just fun.
as Rafael from Rio 2 suggested: "happy wife, happy life"
Before the concert: nyanyi nyanyi, ketawa ketiwi, ngerumpi..
 After the concert: mata 5 watt. (harap maklum, kale gue emang dari sananya udah cipit).
now you know why we call ourselves gang kesetrum. oh belum cerita ya kenapa namanya gang kesetrum.. nanti ya sekarang proses upload foto sambil cerita dikit-dikit. dikit aja biar kesannya misterius.
#tumbff #march11mama #gangkesetrum

Coming up: Edisi Ultah Ke-3.
Sebelum sampai ke event itu, allow me to share another comical story, edisi Anak Berpelampung di Mall. It's just too amusing to miss.
Yup they're not babies, not toddlers, not yet big kids..
They can be terrific and terrible as us to them but we love them so much as they love us.

Grow well, be yourself, be happy and spread happiness to others.
Hope you find our stories amusing and bring smile to your face.

You know what they say, you can't pick your family but you can definitely pick your best friends.
Edisi: It's been 3 years and going stronger.

Edisi: Persatuan Mama-Mama
Allow me to tell a tale of these HOT Mamas (baru keluar dari oven).
You think you've reached a point, you think you had something, or you think you know it all until you met them.

Biasanya gue bilang ke orang lain atau ke anak gue bahwa "I work to make meaning not just earnings" tapi gue ngga pernah do something for a cause that's bigger than my inner circle. Never.
A lesson's taught. I know I thought I've been there and done that. But you humble me. You humble me.
I guess that's what friends are for. To inspire you.
Let's share the inspiration. Let us inspire and be inspired.

Edisi: Ketemu Idola
Salah satu bff di March11, sebut saja namanya Buli, yang entah mengapa sangat mengidolakan mama satu ini, sebut saja namanya Burit.
Namanya idola ya, kalau ketemu kan bisa bikin panas dingin deg degan gitu dong. Nah sama lah kejadian kayak pertemuan fans dan idola ini.
Kalau dilihat-lihat, wajah idola papan atas kita ini mirip sekali dengan Lusi AB3. Bener gak, bener gak?
Gue juga mengiri sama mama ini. Selain menginspirasi (kan udah ya cerita tentang inspirasi minggu lalu), mama ini gak bisa gemuk. Mungkin kalau mama ini makan Gourmet Food Truck (beneran satu truk) baru bisa nambah bb-nya. Sementara gue, minum air putih aja bisa nambah bb.
Edisi: Eksis is my middle name
Dan ternyata masing-masing march11 mama ini punya nama tengah yang sama, "Eksis". Can you believe it? Kalo punya last name yang sama kan family, nah kalo punya middle name yang sama?
Ini Nita Eksis Mama Keina. Ikutan acara TUM di tahun 2011 (udah lama ya bo), saking terpancar nyata bukan tipuan aura eksis-nya, langsung difoto oleh wartawan Kompas dan dipajang di Kompas tanggal 10 Juli 2011. Gak tanggung-tanggung, 1/2 iya se.te.ngah. halaman!
Ini Tasya Eksis Mama Kilan. Ikutan di acara TUM yang sama, kopdaran sesama March11 Mamas dan beruntung sekali dapat doorprize dari sponsor plus bonus dipajang di majalah Ayah Bunda. Kurang eksis apa coba.
ada mama Sukie juga, mama TUM lainnya. Dadah dadah ke Sukie...
Tambahin ya fotonya biar tambah eksis, lalu ditimpuk satu forum.

Lagi ya yang eksis lainnya. Yang ini sih emang zuper eksis.
Ini Meta Eksis Mama Naya. Selain emang dari sananya udah artesh... sejak kumpul dengan sesama mama eksis ini, makin deh menjadi-jadi keartisannya.
Dan ini Naya alias Professor Sunayo, our very own professor. We're all so amazed of you.
Edisi: Eksis is My Middle Name (Together We're Unstoppable)


Alkisah suatu hari yang cerah mama-mama eksis ini berkumpul sekaligus merayakan ulang tahun bayi-bayi kami yang lucu. Ihiiiy...
Sekali lagi, aura mama eksis #terpancar_nyata #bukan_buaian #bukan_khayalan #melewati_galaksi sehingga ada stasiun tipi yang mau meliput perayaan ultah kami (baca: bayi-bayi kami).




Susah juga nyari yucubnya, dulu pasang key words March Babies langsung keluar, sekarang banyak March Babies lainnya. I guess we're growing o...ld hehehe tapi tetep eksis.
I am so thankful to exist with you, my best friends. I am sooooooo thankful that you too have the same middle names like mine. Together, we're unstoppable.
Love you girls,
March11 Mamas



Edisi: POLWAN
Pop quiz:
1. do you uphold your integrity?
2. are you fair and just to everyone?
3. do you always tell the truth?
If you answer "yes" to all three questions above, then you may be just like one of my best friends, the POLWAN
 Tukang nyemprit, mungkin dulu sebelum jadi mama memang bercita-cita jadi polwan.
Kalau ada yang keluar jalur, langsung dilurusin. Kalau ada yang tidak sesuai aturan langsung disemprit.

 But that's what friends are for. To REMIND you. To tell you the TRUTH.
Thanks for being such true friends, mamas.

Curcol dikit, sebulanan kemarin banyak banget kerjaan sampe sering pulang malem. Hampir tiap hari. Gak biasa sih kerjaan banyak kayak gitu, biasanya eight to five aja. Bikin senewen, sakit kepala. Apalagi udah nyampe rumah, kakaknya harus ditemenin ngerjain pr, adeknya minta baca buku dan I have no positive energy left.
A friend in need is a friend indeed.
I texted them, asked for a quick meet up. Here's the comic strip..
Maap ada yang gak lulus sensor tongue
Saking hebohnya kita (not in picture), orang sebelah kita langsung melipir gak mau ganggu.
Another 'that's what friends are for'. To keep my sanity.
Bisa lebih happy ngadepin kerjaan, yang lebih penting bisa menyalurkan energi positif ke anak-anak. Makasih ya #mybff

(Thank you bunga for the awesome comics! Postingan ini masih akan bertambah karena setiap hari sampai bulan depan thread masih bisa diisi kembali. Nanti kalau ada updatean, akan langsung saya update di sini ya!)


Sunday, September 7, 2014

Play and Learn

Setiap weekend, saya memang selalu menyempatkan quality time bersama keluarga kalau sedang bebas tugas. Kalau sebelumnya weekend biasa dihabiskan dengan pergi ke mall, lalu beberapa bulan terakhir ini ke museum atau taman kota, minggu-minggu ini saya bisa dibilang mati gaya:)))

Hampir semua taman kota sudah pernah kami kunjungi. Jangan ditanya kalau mall ya:p Lama-lama bingung juga membuat kegiatan yang menyenangkan agar bisa membuat Naya menunggu-nunggu weekend.

Kebetulan pada saat yang bersamaan, saya mendapat laporan dari sekolah Naya bahwa Naya masih membutuhkan banyak latihan agar bisa keep up dengan teman-temannya di TK-B. Maklumlah, pelajaran yang loncat cukup jauh memang membuat Naya butuh usaha lebih. Contohnya nih, selama ini saya belum pernah mengajarkan Naya berhitung sampai ratusan. Ternyata di TK-B, angka bahkan diajarkan sampai ribuan. Contoh lain, saya belum pernah mengajarkan Naya menulis tegak bersambung. Sejujurnya, seingat saya, dulu saya baru bisa menulis tegak bersambung saat kelas 3 SD, bukan TK-B seperti Naya.

Karena alasan itu pula, saya merancang weekend untuk mengejar ketinggalan Naya. Namun, saya ingin melakukannya dengan se-fun mungkin, agar Naya tidak merasa terbebani atau terpaksa. Yang penting Naya happy!

Cukup sulit buat saya memikirkan cara fun belajar untuk Naya. Saya hanya mempercayai insting dan berpikir sekreatif mungkin.

Belajar konsep lebih kecil, lebih besar, sama dengan. 



Untuk mengajari Naya konsep less, more and equal ini tidak memakan waktu lama. Saya gunting kertas warna, lalu saya susun di 2 bagian kertas. Naya diminta menulis tanda lebih kecil, lebih besar atau sama dengan.
Ular kancing, melatih Naya mengancingkan baju dengan cepat.
Bahan yang dibutuhkan hanya kancing tak terpakai yang dijahit di ujung pita. Naya saya minta memasukkan kancing tersebut ke dalam beberapa potongan kain felt yang sudah dilubangi sebesar kancing tengahnya. Saya bilang ini memberi makan ular:p Selain melatih motorik halus, Naya juga jadi terlatih mengancingkan baju dengan terampil.

Permainan acak kata.
Bahan yang dibutuhkan adalah kertas warna/warni yang saya tuliskan kata. Kemudian saya acak, lalu Naya diminta menyortir kertas sesuai warna, membaca kata yang tertulis dan menyusun ke dalam bentuk kalimat. Setelahnya, Naya diminta mengelem susunan kata tadi ke atas karton. Naya cepaaat sekali mengerjakan permainan ini, dan akhirnya jadi ketagihan meminta terus-___-" Anak senang, emak senep:))))
Mengajarkan konsep satuan, puluhan, ratusan, ribuan.  
Alhamdulillah, Naya bersemangat sekali mengerjakan semua permainan yang saya rancang. Bahkan bolak/i mengingatkan saya membuatkan permainan lain. Secara biaya, kegiatan ini sangat hemat hampir tanpa biaya karena saya memanfaatkan bahan bekas *emakirit* :p
Bonding antara kami pun inshaAllah semakin kuat, dan bonusnya Naya semoga bisa semakin mengejar ketinggalannya di TK-B:D

Saya masih putar otak terus nih mau membuat permainan macam apa lagi untuk Naya. Terkadang gemas juga, saya memikirkan permainan bisa berjam-jam, sementara Naya mengerjakannya dalam hitungan menit-___-"

Doakan saya ya, semoga diberikan kesabaran yang banyaaaaak dan kepintaran yang tak kalah banyaknya juga:p

Friday, September 5, 2014

Menthilis Time!


Tahu dong betapa sulitnya saya mengajak Naya bermain? Kalau dulu Timezone atau playground masih menjadi pilihan saya –walaupun Naya jarang sekali mau diajak-, saat ini semakin sulit lagi mencari sarana bermain untuk Naya.

Saya sering mengajak Naya crafting bersama. Selain untuk melatih motorik halus, kesabaran dan kreativitas, menurut saya crafting juga bisa dijadikan sarana bermain sambil belajar. Setidaknya menambah aktivitas lain selain belajar yang benar-benar belajarlah (baca: di depan meja, menghadap buku, duduk manis).

Awalnya sih saya masih semangat 45 googling mencari tutorial DIY untuk Naya mulai membuat boneka sendiri sampai menghias bento. Lama-kelamaan, saya merasa kesulitan menemukan bahan-bahan yang diperlukan. Kesulitan waktu sih seringnya, sehingga akhirnya semakin lama semakin jarang pula saya dan Naya ber-crafting-ria. Selain itu juga terkadang sulit mencari toko yang menyediakan bahan crafting dalam jumlah kecil. Butuhnya hanya 2 kawat seukuran masing-masing 5 cm, yang ada dijual dalam ukuran meteran. Sayang juga kan ya kalau terbuang percuma?

Sedih juga sih. Naya sering menagih waktu crafting karena menurutnya “membuat sesuatu sama mama pakai apron” itu menyenangkan:) Saya sendiri menganggap crafting dengan Naya sebagai bonding time untuk kami sekaligus mengajarkan kesabaran untuk saya:p

Sampai suatu ketika saat saya sedang membuka instagram dan stalking akun online shop, saya menemukan satu proyek kreatif berjudul Menthilis.
Menthilis adalah paket kreativitas untuk anak membuat art dan craft, percobaan sains, games anak yang dikirim tiap bulan.

Pertama kali mendengar Menthilis, saya tertawa terpingkal-pingkal. Kok lucu banget sih namanya. Ternyata, Menthilis ini diambil dari bahasa Jawa yang berarti anak cerdas yang selalu ingin tahu. Hmmmm Naya banget deh kalau soal kepo! #salamkepo :p

Saya yang tertarik langsung menghubungi pihak Menthilis via Whatsapp. Bulan Agustus lalu rupanya temanya adalah bermain dengan serangga. Dengan harga Rp. 160.000,00, kita mendapat 1 box yang terdiri atas 4 aktivitas. Mulai membuat miniatur kebun serangga, membuat kunang-kunang glow in the dark, finger painting dan metamorfosis kupu-kupu serta ada buku kecil si tupai.

Saat paket Menthilis datang, Naya sudah sangat excited karena membaca paket tersebut diperuntukkannya. “Mamaaaa, kakak Aya dapet paket lhooo! Tulisannya NAYA. Kira-kira dari siapa ya maaaa?”

Begitu dibuka, Naya tambah excited melihat warna-warni dari perlengkapan yang ada. Oh ya, alat dan bahan semua sudah disediakan secara lengkap mulai gunting, lem, cat poster, kuas sampai ke mata dan kawat. Pokoknya tinggal dikerjakan saja:D Pas deh, buat emak yang engga banyak waktu kayak saya:p

Saking excitednya, Naya langsung mengerjakan aktivitas yang ada. Naya memilih membuat kunang-kunang dulu. Saya ikut membantu saat ada aktivitas menggunting karena Naya belum terampil benar menggunting rapi. Tapi mewarnai, menempel sampai melilitkan kawat sebagai antena semua dikerjakan Naya sendiri. Tidak terlalu rapi sih, tapi saya senang karena melihat Naya senang dan bersemangat mengerjakan sesuatu selain murni belajar:p



Naya dan Cotto-_-"
Dari ke-4 aktivitas yang ada, Naya paling menyukai saat membuat kunang-kunang glow in the dark. Naya sampai memberi nama lho untuk si kunang-kunang. Namanya Cotto, katanya. Entah apalah artinya-__-“

Apakah saya akan membeli kembali paket Menthilis ini bulan depan? Pasti!:)

Untuk informasi lebih lanjut soal Menthilis Project ini sila klik: www.menthilisproject.com atau email ke menthilis@gmail.com

Tuesday, August 26, 2014

Lil Ballerina

Entah mengapa, saya sudah merasa kalau Naya memang sering sekali engga percaya diri sejak dulu. Setiap bertemu dengan orang baru, Naya akan malu-malu, menyembunyikan diri di belakang saya atau bahkan ngumpet di balik meja. Mungkin ini menurun dari saya yang juga sangat pemalu. #pret :)))

Kekhawatiran saya ini pun didukung dengan hasil psikotest Naya yang menyatakan bahwa memang Naya engga pede-an. Tanyakan apa saja pada Naya, pasti akan dijawab dengan "Engga tahu" atau "Engga bisa". Padahal sebenarnya dia bisa. Naya juga akan diam seribu bahasa di lingkungan selain di rumah. Kalau di rumah, engga bisa diaaaaam. Kalau kata bapaknya, jago kandang.

Saya sudah mencoba segala cara untuk meningkatkan kepedean Naya. Setiap saat saya puji Naya, saya yakinkan kalau dia pasti bisa. Tapi sepertinya tidak ada gunanya. Naya tetap saja engga pede-an:( Hampir putus asa nih saya, hiks.

Saya kemarin browsing mencari tempat yang dapat membimbing anak seusia Naya modelling. Maksud saya sih supaya Naya engga pemalu dan pede. Kebetulan, tempat yang saya survey sedang mengadakan show di salah satu mall Surabaya. Saya sengaja mendatangi mall tersebut dengan Naya untuk melihat bagaimana sih modelling untuk anak itu. Eh ya ampun, saya malah ketakutan sendiri melihatnya:)) Coba bayangkan ya, anak seusia Naya dipakaikan baju berbulu macam burung merak, menggunakan sepatu high heels berwarna keemasan, topi bulu tinggi, serta make up full, lengkap dengan bulu mata palsu dan eye shadow berwarna-warni. Anak tadi memang pede sekali berlenggak-lenggok di atas panggung. Tapi, maaf ya no hard feeling, saya jadi merasa anak tadi tua sebelum waktunya. Kalau engga diumumkan MCnya (kebetulan teman saya sendiri, mantan partner siaran:p) anak tadi berusia 3 tahun, pasti saya pikir dia berusia lebih tua. So, sepertinya untuk les modelling engga dulu deh ya kak!:p

Hanya ada satu moment di mana saya melihat Naya bisa sangat percaya diri di luar lingkungan keluarga. Saat difoto:)))


Kalau sudah berada di depan kamera, walaupun fotografernya adalah orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya, studionya pun merupakan lingkungan baru, Naya bisa tetap bergaya dengan pede-nya.
Karena itulah, saya sering mengajak Naya berfoto. Saya benar-benar ingin mengembangkan rasa percaya dirinya. Huks. Kalau ada yang mau mengajak Naya berfoto, boleh lho yaaa:))))
Yang penting Naya pede!

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates