Thursday, April 24, 2014

Berkah Sekaligus Ujian

Sejak Naya lahir, saya memang sangat concern dengan tumbuh kembangnya. Maklum faktor risiko untuk terjadinya delay pada Naya sangatlah besar. Siapa yang engga parno? Oleh karena itu, saya selalu merencanakan stimulasi untuknya sampai sekarang.

Alhamdulillah, yang terjadi justru sebaliknya. Dari dulu, Naya malah lebih cepat mencapai milestone tertentu di banding anak sebaya. Saya sih masih belum berpikiran aneh-aneh karena mama saya bilang sewaktu kecil pun saya seperti Naya. Saya ingat benar Naya sudah bisa mengangkat kepala tegak pada saat usia 1,5 bulan usia koreksi, bisa berbicara pertama kali usia 7 bulan koreksi, pertama berjalan usia 11 bulan koreksi. Semakin besar, setelah melewati usia koreksinya, Naya justru terlihat semakin 'mature' di kalangan anak sebaya. Naya bisa membaca dan menulis usia 2 tahun setengah. Lagi-lagi, saya pun masih belum berpikir aneh-aneh karena mama saya bilang waktu kecil saya sudah bisa membaca saat usia yang sama dengan Naya.

Sampai di satu hari, Naya pulang ke rumah menangis keras. Tampak sekali ia merasa sakit hati. Karena apa? Ternyata setelah saya ulik-ulik, di playgroupnya, semua teman-teman Naya naik kelas ke pre-kinder-2. Hanya Naya yang tidak naik kelas karena usia yang belum genap 3 tahun dan belum bisa naik kelas. "Padahal kakak Aya lebih pintal ma. Kenapa kakak yang ga naik?" Begitu kira-kira keluhannya. Saking sakit hatinya, Naya mogok sekolah beberapa waktu.

"Ga mau sekolah. Di sana cuma diajalin gitu-gitu aja. Kakak Aya bosan. Pokoknya ga mau!"

Saya coba berkomunikasi dengan guru dan kepala sekolahnya yang awalnya tetap bersikukuh tidak bisa menaikkan Naya. Setelah saya bujuk sedemikian rupa, gurunya meminta untuk mengobservasi Naya dulu selama seminggu apakah kira-kira dia bisa mengikuti kelas lebih tinggi. Sayangnyaaaa, anak gadis saya tsb keburu ngambek. Bahasa Jawanya, mutung. Apapun yang disuruh gurunya, tidak mau dia kerjakan walaupun sebenarnya bisa. Saya sendiri sebetulnya engga keberatan Naya tetap di kelas sebelumnya. Toh sekolahnya hanya untuk main-main. Tapi anak gadis saya ini emosi berat setiap mengingat dia tidak naik kelas seperti teman-temannya, dan ngambek berkepanjangan. Tidak mau sekolah di sekolah tsb tetapi minta pindah ke sekolah lain. PR banget kan yaa secara uang pangkalnya engga mureeeh. *emakirit*

Saya putuskan mereview sekolah-sekolah lain dan malah merasa kebingungan. Khawatir kelak sekolah yang akan saya pilih pun sama saja seperti sebelumnya. Akhirnya setelah ngobrol-ngobrol dengan teman yang psikiater, saya putuskan untuk mengetes IQ Naya. Harapan saya, seandainya memang IQ Naya cukup, semustinya bisalah dia tetap saja di sekolah lama tetapi dinaikkan ke kelas pre-k-2. Sekalian jugalah saya tanya-tanya soal keengganan Naya bergaul dengan sesama anak kecil atau keengganannya bermain.

Hari itu, saya sudah menyiapkan diri Naya untuk tes IQ. Saya bilang, "Kakak Aya, nanti ikut mama tes IQ ya. Kalau ditanya harus dijawab. Kalau disuruh hitung juga."

Jawabannya, "Oke mama! Kakak Aya siaaaap!" *macam mau perang aja* :)))

Pukul 3 sore sepulang saya bertugas, kami langsung datang ke tempat diadakan tes IQ. Awalnya Naya enggan masuk ke ruangan tsb karena berbau rumah sakit. Engga tahu tuh kenapa dia anti banget sama rumah sakit. Padahal emak bapaknya tiap hari di rumah sakit-_-"

Tesnya berlangsung cukup lama. Saya sudah khawatir banget, takut Naya mengacau. Dia memang suka gitu. Ditanya, engga mau jawab atau langsung bilang engga tahu. Padahal aslinya dia sudah tahu. Atau disuruh melakukan sesuatu, langsung bilang engga bisa. Padahal sehari-hari memang terbiasa melakukan hal tadi.

Alhamdulillah, Naya cukup kooperatif. Pertanyaan demi pertanyaan dari psikolog dijawab dengan baik. Hanya akhir-akhir saja dia mulai mengacau. Pertanyaan sederhana tidak mau dia jawab. Padahal saya yakin benar Naya tahu jawabannya. AKhirnya sessi tes IQ diakhiri melihat mood Naya. Ealah, ternyata kelaparan:))))) Di luar ruangan, anak gadis saya tadi menghabiskan sekotak penuh nasi goreng dan bolu kukus-____-"

Lanjut soal tes IQ. Selama Naya makan, saya berdiskusi dengan psikolognya yang sangat komunikatif. Hasil tes IQ Naya cukup mengejutkan saya, hasilnya hampir mencapai 150. Yaaa beda tipislah sama emaknya, setipis 30-40 poin:p *emak ga mau kalah* :)))))

Dengan kemampuan Naya yang sedemikian tingginya, memang menurut sang psikolog wajar kalau dia bosan di sekolah yang mengelompokkan muridnya berdasar umur, bukan kemampuan. Seharusnya saya mencari sekolah yang mau menerima Naya sesuai kemampuannya, bukan umur. Naya lulus tes IQ setara anak kelas 1 SD. Jadi memang sebaiknya materi yang diberikan pada Naya adalah materi untuk kelas 1 SD.  Tapi kalau dinaikkan ke kelas 1 SD, saya sebagai orangtua yang agak engga rela. Bayikuuuuuuuuuu. Jangan kelas 1 SD duluuuuu:'( *mode denial ON*. Saya khawatir juga, Naya akan dibully teman sekelasnya karena paling kecil. Selain itu saya engga tega membayangkan Naya harus masuk sekolah setiap hari. Kan baru lahir:') *denial 2 on* Belum lagi secara mental, saya merasa Naya sepertinya belum siap.

Saat saya ngobrol-ngobrol dengan konsultan tumbuh kembangnya, ada alternatif baru yang bisa saya lakukan. Homeschooling dengan materi untuk kelas 1 SD. Lagi-lagi, saya agak kurang sreg dengan usulan ini. Tanpa homeschooling saja anak gadis saya ini enggan berinteraksi dengan anak sebayanya. Apa kabar kalau homeschooling?

Menerima hasil tes IQ Naya membuat saya galau luar biasa. Saya sungguh ketakutan dan bingung bukan main. Kalau kata teman saya, berkah sekaligus ujian. Saya pikir-pikir betul juga ya. Alhamdulillah, Allah mempercayakan Naya pada saya. Tapi bagaimana seandainya saya gagal mendidik Naya? Bagaimana kalau saya salah langkah memutuskan yang terbaik buat Naya? Rasanya mau tutup mata pun tak mungkin ya, karena berkah ini tentu harus saya fasilitasi secara maksimal kan? Tapi saya masih kebingungan, fasilitas seperti apa biar bisa maksimal? Duh galau.

Bagaimana dengan Naya?

Saat saya ceritakan hasil tes IQnya, Naya malah bilang:
"Kakak Aya engga mau kelas 1 SD. Maunya kelas 3. Kelas 1 kan isinya pasti anak kecil juga."

Errrrrrr.... gimana kalau langsung jadi dokter aja kak biar bisa gantiin mama?:p

Kalau ada yang pernah dengar sekolah di Surabaya yang mau menerima murid sesuai kemampuan dan bukan umur, tolong kasih tahu saya yaa.. Email di : metahanindita@yahoo.com. Terimakasih, segala usul/saran/masukan sungguh saya nantikan, karena bapaknya sih "terserah kamu ajalah saya ngikut." -__________-"


PS: Karena ini termasuk 'pengakuan', sah ya kalau saya masukkan postingan ini sebagai penutup 10 day blog challenge. Kebetulan temanya one confession:D Ayeeee, dengan begini, resmi selesai sudah tantangan blog ini saya selesaikan.

Monday, April 21, 2014

Emotions In Life

Satu hari lagi sebelum 10 day blog challenge terpenuhi nih! Sengaja dipending karena beberapa hari sebelum ini saya tetiba mendapat pencerahan buat menulis di blog:p

Tema hari ini adalah 2 emosi yang saya rasakan saat ini. Errrrr..apa yaaa, yang pertama, saya sedang merasa bosan. Sepertinya saya memang benar-benar butuh liburan deh ini:)))
Rutinitas yang saya jalani setiap hari sungguh monoton, menurut saya:p

Yang kedua, saya sedang dag-dig-dug engga karuan karena akan menjalani sidang karya akhir pertengahan bulan depan. Setiap saat saya mempersiapkan diri membaca ratusan -beneran lho engga lebay- literatur yang sukses membuat saya mengantuk, dan semakin banyak yang saya baca, semakin saya merasa engga siap. #Eaaaaaaa. Doakan saya ya!:D

Btw, saya suka deh tantangan ini, menulisnya cukup singkat-singkat saja:p

Saturday, April 19, 2014

Balada Social Media

Siapa sih di jaman sekarang yang engga punya akun pribadi social media? Mama saya yang super konservatif saja punya lho akun Facebook. Katanya biar gampang bersilahturami dengan teman-temannya yang tersebar di berbagai benua. Saya sendiri mempunyai berbagai akun mulai dari Facebook, Twitter, Path sampai Instagram, dan terbllang cukup aktif membuka untuk sekedar update kabar teman-teman.



Tentu bukan hanya kami saja, keponakan saya yang bahkan baru saja lahir beberapa bulan lalu juga punya akun Facebooknya sendiri. Seorang teman lain membuatkan anaknya akun twitter begitu lahir. Saya yakin masih banyak contoh lainnya.



Ini kenapa ya tetiba saya ngomongin soal social media?



Kemarin, saat membaca komentar-komentar yang masuk pada postingan saya ini, saya tercenung dengan satu komentar “menyalahkan” teman seseorang yang sempat ramai karena menunjukkan ketidakempatiannya terhadap ibu hamil.



“Yang salah ya temannya. Itu kan diupload di Path yang notabene socmed private. Cuma bisa nerima 150 teman yang pasti teman-teman baik dan bisa dipercaya. Coba kalau ga dicapture temannya, ya ga bakal rame. Apa yang ditulis tentang ibu hamil itu jelas-jelas privacynya dia.”



Benarkah?



Menurut saya pribadi, there’s nothing private about social media. Apa pun bentuknya. Entah itu Path yang hanya bisa menerima 150 teman, atau Facebook yang bisa menerima 5000 teman sampai twitter yang bisa difollow jutaan orang. Namanya saja social, tentu tidak ada yang bersifat privacy.




Semua yang kita tulis, gambar, foto dan sudah diupload di internet akan menjadi konsumsi banyak orang.  Once you post anything, it will be forever in the internet. Bahkan setelah kita delete pun, bukan tidak mungkin ada yang sudah lebih dulu men-capture postingan kita, atau memunculkan kembali apa yang telah kita delete.



Sebagai perbandingan nih, misalnya saja punya 150 sahabat baik yang sungguh saya percaya. Karena sedang bete, saya ngomel-ngomel dan menjelek-jelekkan si X pada mereka, termasuk mengumbar kata-kata kasar penuh kebancian. Apakah saya boleh yakin sekali kalau tidak ada satu pun di antara 150 teman saya tadi yang membicarakan hal ini pada orang lain di luar sahabat-sahabat saya? Apakah salah sahabat saya seandainya kabar bahwa saya menjelek-jelekkan si X menyebar luas kemana-mana? Atau salah saya karena tidak cukup “pintar” memilih mana yang bisa dipercaya dan dianggap sahabat?



Lalu apa sebaiknya engga usah punya social media saja? Eits, kalau mau jujur, banyak juga lho sisi positif social media ini. Saya sendiri merasa banyak sekali  mengetahui kabar terbaru dan ter-update dari social media. Selain itu, dengan social media jejaring pertemanan alias networking bertambah luas. Saya bisa mengetahui dengan mudah kabar keluarga yang nun jauh di sana.



Saya sendiri memang tidak berminat membuatkan Naya akun social media. Menurut saya belum waktunya. Tetapi tentu saya tidak bisa menutup mata, kelak Naya pasti akan meminta dibuatkan akun social media. Ada beberapa “aturan” yang selama ini saya terapkan untuk diri sendiri dan akan saya terapkan juga pada Naya.



First thing first, if you would not want your parents, your teachers, your grandparents to read it, than you should not post it. If you don’t have anything nice to say, don’t say anything at all.



Percaya engga percaya, banyak perusahaan yang men-screening calon pegawainya lewat social media lho! Engga lucu kan ya kalau calon boss kita membaca postingan kita di social media yang asyik menghujat teman, atau bermesraan dengan pacar, berantem dengan teman?



Yang ke-2, buat password yang sulit ditebak dan ganti secara berkala.

Hari gini, gampang sekali orang yang tak dikenal meng-hack akun pribadi kita. Ada yang menggunakan akun hasil bajakannya untuk menipu meminta uang, ada yang buat jualan sampai tindakan kejahatan lain.



Ke-3, jangan terlampau mudah meng-accept friend request dari orang lain yang tidak dikenal. Banyak lho kasus penculikan atau perlakuan tidak senonoh di dunia maya menggunakan akun dengan identitas palsu.



Ke-4, jangan mengupload foto yang personal. Jangan sampai foto-foto seperti ini disalahgunakan pihak engga jelas.


Gampangnya sih, kalau kita engga mau seluruh dunia membaca atau melihat postingan kita, ya jangan posting. Yang paling aman, curhat di diary, engga bisa diakses orang yang engga dikenal, dan murni terkontrol oleh kita. Inga inga, there's NOTHING private about social media! 


3 Turn Ons

Day 8 on 10 day blog challange i joined. What makes me turn on, ha?:)))
1. Be punctual. I always have a thing with people who always be punctual.
2. Into music.
3. Smart.

Friday, April 18, 2014

Four Turn Offs

Seventh topic on 10 day blog challange. Its easy!:D I will write in Indonesia:D

1.Perokok. Tinggal merokok di depan saya, voila! Its a major turn off;)
2. Hobi mengumpat, memisuh, memaki atau mengucapkan kata kasar dan kotor lainnya. Saya engga pernah bisa mengerti apa enaknya dan apa bagusnya punya hobi seperti ini. Buat saya, orang yang suka memisuh engga punya kendali yang baik terhadap diri sendiri.
3. Suka engga nyambung. Malesin:p
4. Ga tepat waktu alias hobi ngaret.

Thursday, April 17, 2014

Pelajaran Dari Dinda

Sejak kemarin, timeline di berbagai social media mulai dari Path, Instagram, Twitter sampai Facebook diramaikan oleh komentar terhadap pernyataan Dinda Kusumadewi. Siapa itu Dinda?
 Exactly! Tidak ada yang tahu siapa Dinda sampai kemarin. Benar-benar hebat ya efek social media:D

Rupanya cerita berawal saat salah satu teman Dinda di Path meng-capture postingannya mengenai ibu hamil. Begini kurang lebihnya:



Banyak yang merasa ‘terganggu’ dengan pernyataan tsb dan dengan power of social media, it went viral. Semua merepath, regram, retweet atau repost di akun masing-masing.

Bagaimana dengan saya?
Pertama kali membaca postingan ini, saya langsung berpikir pasti manusia berjudul Dinda ini belum pernah hamil, tidak pernah punya keluarga yang sedang hamil atau kalaupun pernah punya, tidak cukup berempati. Intinya, cuek. Saya terbayang kalau saja Dinda pernah berjumpa dengan saya saat saya hamil, pasti saya habis-habisan dicap Dinda sebagai ibu hamil yang manja semanja-manjanya, engga mau susah tapi suka menyusahkan orang, dan hanya mau dingertiin terus. *quote langsung pernyataannya* :)))))

Yang membuat saya terkejut sebetulnya bukan itu. Pendapat satu orang yang tidak sesuai norma bisa saja hanya anomali dari satu populasi. Tapi coba baca komentar dari teman-teman Dinda lainnya. Lho? Kok sama saja? Bahkan ada yang mengusulkan pasang earphone dan pura-pura tidur. Errrr.. sebegitu cueknyakah anak muda masa kini –asumsi saya mereka masih muda karena pasti belum pernah hamil atau punya istri yang hamil- terhadap lingkungan sekitar? Jangan-jangan tanpa kita sadari, sebetulnya banyak sekali Dinda-Dinda lain di luar sana?

Saya segera memasang alarm untuk diri sendiri. Saya ingin mendidik Naya agar kelak jadi manusia yang bisa berempati terhadap lingkungan sekitar. Jujur, seperti kebanyakan orangtua lain saya pun ingin Naya menjadi anak pintar. Oleh karena itu, stimulasi yang saya berikan pun kebanyakan berhubungan dengan pengetahuan. Tapi setelah kasus ini saya jadi berpikir, apalah artinya Naya pintar matematika, fasih 7 bahasa, hapal Al Quran, juara kelas terus tetapi berberat hati memberikan kursinya di kereta kepada ibu hamil hanya karena menurutnya ibu hamil tadi cuma mau enaknya, manja dan enggan hidup susah? Apalah artinya Naya pintar piano, rajin shalat 5 waktu tapi hobi menyerobot saat mengantri atau parkir di tempat parkir untuk difabel? Apalah artinya Naya selalu ranking 1 tapi gemar mengumpat atau membuang sampah sembarangan? Apalah artinya Naya jagoan balet, pintar menari tapi gengsi minta maaf saat salah, segan mengucapkan terimakasih atau sulit bilang “tolong”?

Menurut saya, terkadang pendidikan di Indonesia ini agak lucu. Murid diberi stimulasi agar bisa pintar dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan tetapi hal yang paling mendasar di atas segalanya justru terlupakan. Makanya jangan heran membaca berita ada siswa pintar dikeluarkan dari sekolah karena menolak memberikan contekan pada teman-temannya. Bahkan siswa tadi pindah ke luar kota karena dihujat wali murid lain. Semua terjadi karena sistim pendidikan negara kita sungguh sangat mengagungkan nilai. Hasil yang terpenting, bagaimana caranya tidak ada yang peduli. Silakan mencontek, membeli soal, mencari bocoran kunci jawaban, terserah. Yang penting, nilai bagus, tidak memalukan nama sekolah.

Tentu sekolah tidak bisa disalahkan karena bagaimanapun, orangtualah yang harus mempunyai peran penting di sini. PR nih buat saya. Doakan saya ya, semoga bisa mendidik Naya dengan baik. *grogisendiri* :)))

Anyway, kali-kali mbak Dinda baca blog saya nih.

Halo Mbak Dinda,
Perkenalkan saya mantan ibu hamil beberapa tahun yang lalu. Percayalah, jadi manja dan menyusahkan orang lain tidak pernah ada dalam pikiran saya walaupun hamil. Perlu diingat kondisi kehamilan setiap orang berbeda. Betul, ada ibu hamil yang tetap perkasa, bahkan teman saya masih lari kesana-sini dan menyetir mobil sendiri saat hamil 9 bulan. Ada lagi yang masih dinas jaga UGD saat hamil besar. Jagoan. Kalau saja bisa memilih, saya pun ingin bisa hamil seperti itu. Tapi rupanya Allah berkata lain.

Saat hamil, jangankan berdiri, bahkan untuk duduk sendiri saja saya kesusahan karena sesak bukan main. Mandi, makan, minum, semua harus dibantu orang lain. Boro-boro menyetir mobil sendiri, melihat saja sulit. Saya masih sangat beruntung karena bisa mengajukan cuti untuk tidak bekerja dan masih bisa makan walaupun tidak bekerja, Saya juga beruntung karena tidak perlu naik kendaraan umum untuk pergi kemana-mana karena saya nyaris memang tidak bisa pergi ke mana pun kecuali ke UGD rumah sakit –yang bolak/i terjadi-. Tapi ada lho, ibu hamil yang walaupun hamil besar tetap harus bekerja untuk kebutuhan.  Ada juga lho ibu hamil yang mau engga mau harus tetap naik kendaraan umum seperti kereta karena tidak ada pilihan lain. Berangkat lebih pagi? Terdengar seperti solusi yang gampang ya memang. Tapi saat hamil, hal yang terlihat gampang pun akan jadi lebih sulit, Mbak.

Kebetulan saya punya teman yang sedang hamil dan tetap harus bekerja untuk makan sehari-hari-bukan untuk membeli earphone atau pulsa biar tetap bisa update Path-. Yaa maunya memang resign biar bisa leha-leha di rumah seperti anjuran Mbak Dinda, tapi dia kan engga bisa minta mama-papanya buat bisa makan dan ngasih makan anaknya.  Setiap hari pula dia harus naik kereta seperti Mbak Dinda. Inginnya sih dia berangkat pagi supaya mendapat kursi dan tidak harus “mengganggu orang-orang seperti Mbak Dinda yang sudah dapat kursi duluan”. Tapi di pagi hari, dia harus berjuang dengan muntah-muntahnya. Mungkin mbak Dinda belum tahu karena belum pernah hamil kan ya, ibu hamil kalau pagi tuh paling sering muntah-muntah. Apa Mbak Dinda lebih memilih teman saya tadi muntah-muntah di kereta? Di depan Mbak Dinda? Setelah itu, dia pun masih harus memandikan, memasak sarapan, mengantarkan anak pertamanya sekolah. Apa definisi manja, maunya nyusahin orang, minta dingertiin tapi engga mau ngertiin orang lain versi Mbak Dinda yang kayak gitu ya?

Saya tahu betul bagaimana perjuangan di antara hidup dan matinya membawa nyawa manusia lain selain diri sendiri. Menurut saya, siapapun yang pernah merasakan perjuangan seperti itu tidak pantas dijudge manja, nyusahin orang lain atau egois oleh orang lain yang bahkan belum pernah merasakannya. Pantaslah kalau banyak yang merasa sakit hati membaca postingan Mbak. Betulll, memang hak Mbak untuk beropini yang dipost di akun pribadi Mbak di social media.  Tapi namanya juga social media, there's nothing you put on social media is private. Hak semua orang juga untuk beropini menanggapi opini Mbak.  Kalau mau private, menulis di diary saja;) Lesson learned, think twice before you post anything in social media:D

Oh ya, kalau-kalau Mbak berpikir kenapa sih ibu hamil harus diprioritaskan buat dapet tempat duduk, ini jawabannya. Bukan karena manja:p




Regards,
Mantan Ibu Hamil Kece
-Halah-
:)))))


19 April 2014, 08.00
Rupanya permintaan maaf dari Dinda sudah beredar di dunia maya. Alhamdulillah, salut pada Dinda yang mau berbesar hati mengakui kesalahannya. Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, amin!

5 People Mean A Lot

For today's topic -which is the sixth day on my 10 day blog challange-, i have to write about 5 people that mean a lot to me, in no order whatsoever. Its kinda easy and difficult in the same time, since i have so many people that mean a lot to me. Its easy to think some names, but its difficult to narrow them down to only 5. I'll do my best!

1. Of course, my mom! She is my biggest inspiration of all time. I remember when i was a kid, all i want is just to be like her. I dont know what my life would be without her;) My current obsession is to make her happy:D

2. My dad. He was my role model. And i was his little angel;)

3. My baby, Naya. The beat to my heart, the sun to my shine.

4. My husband:)

5. My BFF. You know who you are:p

Wednesday, April 16, 2014

6 Things I Wish I Never Done

Topic for day 5 is pretty the same as one post i wrote about time machine.

Soooo, i think i will skip today's topic since my answer would be nothing. I dont have things i wish i never done. Im satisfied with all of the things i done because i believe its what made me now today:)

Adios!

Tuesday, April 15, 2014

Things Cross My Mind A Lot

Yay! its day 4 already, and im still survive!:)))

7 things that cross my mind a lot are:

1. When can i have holiday? I really need holidaaaaaay.
2. What my life would be in the next 5 years?
3. Will i ever have the gut to get a LASIK surgery?;p
4. Will i ever get a holiday?
5. Where will i be if i ever get a holiday?
6. I want a holiday.
7. Will i be home this year's lebaran?

PS: Yes, i write this post when i feel a lil bit depressed and stressed out, and yes, my last holiday was like years ago:))) #plsignore

Monday, April 14, 2014

Complete Version : Dokter Kita




8 Ways to Win My Heart

The third topic on 10 day blog challenge. Its really easy to win my heart, actually:) Anyway, since someone already won my heart:))), i guess i will write this just to remind me what my husband did to win my heart:p

1. Just be yourself. I dont like fake people.
2. People say that the best relationships start off as friendship first. So lets be friend first:D
3. Listen. Sometimes a girl just needs a listening ear.
4. Hand-written notes. Probably it sounds silly, but i do love hand-written notes more than flowers, chocolates, dolls or any other gifts.  Its really nice to know that someone really put thought to write something to you;)
5. Have a good sense of humor.
6. Remember little things about me.
7. Have a good taste of music.
8. Be my partner in crime;)

Not that difficult, right?;)

Sunday, April 13, 2014

Di Tabloid Nakita


Interview ini dilakukan lewat email sementara fotonya saat saya kebetulan sedang berada di Jakarta:)
Thank you, Nakita!

9 Things About Me

This is the second topic of 10 day blog challenge i joined:)
Since the topic is 9 things about me, well, lets see.

1. I dont like coffee. Even though my husband and all-of-my-doctor-friends are so into coffee, i dont like it at all. I dont like the smell, the taste, the appearance. I dont even like the coffee flavoured candy!:p

2. I really want to go to UK. Its like my childhood obsession. Lets cross fingers!

3. I love purple. Actually, i dont mind to have stuffs with other colors than purple. But almost every stuff of mine is purple, because people tend to give me purple stuffs;)

4. I really want to get LASIK surgery, but i still dont have the gut for it:))))

5. My parents named me 'META' after i was born for 40 days. They did not ready for a name since i was born preterm, 7 months of gestational age. They almost named me Kellaswari. Hmmm, how do you think? Will it sound better with Kellaswari?:p

6. I want to have a daughter since i havent married. I think, a daughter will make a good bestfriend, a shopping partner, a make-up mate, a salon-partner and -of course- a gossip-partner!

7. I gained my weight 25 kgs when i was pregnant:)) I looked like a baloon, seriously.

8. I miss breastfeeding! #EH :)))

9. Im afraid of cats. Still!

Saturday, April 12, 2014

10 Reasons I Love My Jobs

This is my first topic in 10 day blog challenge i joined. Today's topic is about reasons why i love my jobs. I did write the 'Job' as plural, because im aware that i have more than one job;)
Owkay, bring it on!

1. I love to be a doctor. Being a doctor is awesome. To save lives, to comfort people is some reasons why do i love my job. But among of all, i love to be a doctor because it always reminded me to be grateful for my life. Being a doctor -pediatrician especially- means you will see there are so many kids that have to live with their chronic diseases. You will wonder, what have they done to deserve that kind of diseases? Nothing. But they are struggling, they are not complaining, they even could still play with a lot of fun. Something that made me ashamed for complaining a lot, about weathers, phone signals, etc etc. Being a doctor always reminded me to be grateful that im healthy, i can breathe, i can walk, i can run, and i can do everything i want:)

2. I love to be a doctor. Being a doctor means long-life learning. I like to learn, anything.

3. I love to be a pediatrician. Because pediatrician is more than a doctor. Pediatrician is comfoter, arts and crafts maker, counselor, therapist, teacher,  investigators, magician, singer -sometimes:p-, and so much more. Being a pediatrician means that you not only treat the child or baby, but you treat the entire social condition. 

4. I love to be a pediatrician. I can be as silly as i want. I can take a purple stethoscope with puppet hanging around, i can sing children songs, i can do magic tricks while im working. Cool? Beyond!
 
5.  I love to be a writer. I love writing since i could write. How cool is it that we can do our hobby and call it work? To be able to write our stories and share them with others?Its pretty good, i think;)

6. I love to be a writer. Its amazing to know how people affected after reading my writings.

7. I love to be a blogger. I have met some great people through developing my blog. Its really nice to know that people really read my blog and sometimes ask me something through email. I made new friends and relatives, yay!

8. I love to be an announcer. How cool is that -again- we can do our hobby and call it work? I can hear the latest songs, i have the opportunity to interview famous singers, bands or celebrities and get paid? Hmmm,, dont you think its full-of-yayness?;;)

9. I love to be an announcer. I love talking, about anything. Ask my husband:p But as an announcer, i can talk as much as i want, and -again- getting paid? Its like a dream come true:p

10. I love to be a presenter. I like to study new things. Being a presenter means i have to study a lot of new things for me. I have to keep up-to-date about everything. And have i told you how i love being in front of camera?:p


Friday, April 11, 2014

10 Day Blog Challenge

I know i havent written for a while, thanks to my final research -which i hope will be done veeeeery soon-:p That's why i decided to join this blog challenge i found when i went blogwalking.

It was made by a photographer, but it wont be all about photos. I will have to write about 10 different topics every single day, as described in this:
So stay close, people!:*

Dalam Sebuah Nama

Untuk ukuran generasi saya, nama saya cukup panjang. Saya ingat jaman sekolah dulu, nama teman-teman sekelas selalu terdiri atas dua kata di daftar absensi, bahkan ada yang cuma satu kata. Karena saya sekolah di sekolah Katolik, banyak juga yang punya nama baptis tapi tidak disertakan dalam akte sehingga tidak dicantumkan juga pada daftar absensi.

Nama saya sendiri terdiri atas tiga kata, empat dengan nama keluarga. Panjang kan?:p
Kalau mau ujian, dari dulu rempongnya selalu waktu menghitamkan bulatan nama:))

Pada umumnya, saya dipanggil dengan Meta. Walaupun begitu, saya juga punya banyak nama panggilan.

Keluarga dekat, sepupu, mama dan kakak saya memanggil saya dengan "Neng". Ini adalah panggilan sejak saya kecil dulu sampai sekarang. Mama hanya memanggil saya dengan "Meta" kalau sedang marah atau mau ngomel. Di keluarga, saya juga terkadang dipanggil MetDom, kepanjangan dari MetMet Dombret. Katanya sih gegara waktu kecil saya tembem banget. Katanyaaaa:))) Sepupu yang lebih kecil dari saya biasanya memanggil TehMet, sampai sekarang:D Sementara suami -ikutan Naya- memanggil saya mama. Dulu sih saya dipanggil Meta oleh suami, tapi begitu Naya mulai bisa bicara dan ikut-ikutan memanggil saya "Meta", berubahlah semua:D

Beberapa sahabat saya saat SMA memanggil saya Odieth. Saya sendiri lupa asal muasal nama ini. Sepertinya dari kata "Hanindita" yang dimodifikasi oleh Zaky, seorang sahabat pada saat kami harus membuat nama untuk jaket kelas. Nama ini pula yang digunakan di kostum olahraga angkatan kami.

Teman-teman di radio dan televisi -yang terbilang dekat dengan saya- memanggil dengan "Metiauw", atau "Ceu". Sahabat saya memanggil "pret" -entah asal muasalnya bagaimana saya juga lupa-, dan rekan sekelompok saat ko-ass dulu memanggil saya "Dum" -jangan ditanya kenapa, saya juga lupa:)))-

Ini kenapa juga tetiba saya jadi ngomongin nama? Jadiiii ceritanya, perawat rekan kerja saya baru saja curhat. Dia bekerja paruh waktu di tempat praktek dokter spesialis anak dan merasa kesulitan memanggil nama anak-anak yang datang berobat di sana.

"Dok, saya tuh bingung kalau manggil nama anak di prakteknya dr. ******. Namanya aneh-aneh, panjang-panjang. Kalau saya salah manggil namanya, orangtuanya marah."

Errrr.. emang segimana anehnya sih sampai bisa salah?

"Pernah ya dok, saya manggil nama anak Elle. Saya kena omelan ibunya." Curhat si perawat.

Saya yang mendengarnya langsung ngakak engga karuan. Kalau saya ibunya, pasti juga ikutan ngomel deh. Gimana engga, si mbak perawat manggilnya 'E-L-E-K', lengkap dengan logat medok khas Jawanya itu:))) Kebayang engga perasaan orangtuanya, sudah susah-susah kasih nama bagus kok seenaknya di-pronounce senada dengan 'Jelek' dalam bahasa Jawa.

"Pernah juga ada yang namanya Candace. Saya engga ngerti gimana nyebutnya. Daripada salah saya panggil aja CANDA. Kok ya ga nyaut-nyaut orangtuanya. Akhirnya saya panggil CANDAS. Eh dateng-dateng saya diomelin lagi:)))"

Saya -teteeeup- ngakak abis-abisan dong haha. Dan ternyata bukan cuma itu aja 'derita' mbak perawat. Dia pernah membaca nama Chontelle menjadi errrrr *sensor* :)))), nama Houghton menjadi Honton, Xuxa menjadi Kuka, Veneece menjadi *sensor* , Hayevrieloushka menjadi Haye dan masih banyak lagi lainnya. Sukses membuat saya sakit perut karena terlalu lama tertawa:)))))

Setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya memang semakin lama, nama anak relatif menjadi lebih panjang dan unik dibanding sebelumnya. Hampir tidak ada nama-nama yang biasanya selalu merajai pasaran seperti Budi, Wati, Dewi, walaupun masih ada juga yang menamai anak mereka Putra/Putri.

Btw, saya jadi penasaran deh. Hayevrieloushka itu gimana nyebutnya yang benar?::)

Tuesday, April 8, 2014

Go Grab Yours!

Akhirnya, saya sempat juga nih mencari -dan membeli- majalah Dokter Kita edisi April 2014.
Berikut adalah artikel cerita sampulnya. Versi yang lebih jelas menyusul yaaa.



Friday, April 4, 2014

Ulang Tahun ke-3 Nayara

Alhamdulillah, akhirnya perayaan ulang tahun ke-3 Naya selesai juga. Karena segala macamnya saya sendiri yang mengurusi, lega banget setelah acaranya usai:)))
The Birthday Girl

Untuk menghemat -banyak- biaya, saya memang memutuskan banyak membuat perlengkapan DIY, syukurlah memang acara ini dipersiapkan sejak lama sehingga saya punya banyak waktu mengerjakan ini-itu di sela kesibukan.

Pertama, soal tempat. Untunglah saya sudah jauh hari survei, karena akhirnya bisa membooking tempat yang diinginkan dengan harga lama, harga 2013. Perbedaan harga dengan harga 2014-nya lumayan banget lho, hampir 50%-nya! Saya mensurvei beberapa tempat mulai dari Chipmunk, Fantasy Kingdom sampai rumah makan yang ada area playgroundnya. Pada akhirnya, pilihan saya jatuh di Wins Disc Children Party Place. Wins Disc ini sebenarnya adalah tempat penyewaan CD yang kata suami saya sangat terkenal di Surabaya beberapa belas tahun lalu saat laser disc masih happening. Di wilayah yang sama ada satu tempat khusus disewakan untuk acara ulang tahun anak -makanya diberi judul Children Party Place-. Tempatnya sangat luas, terbagi menjadi beberapa area. Ada area playground anak < 2 tahun, area playground anak > 2 tahun, area acara pesta, area makan dan dapur. Tempat parkirnya juga lumayan luas. Mainan yang tersedia di sana bermacam-macam, lengkap deh! WIns Disc menawarkan beberapa paket yang bisa diambil. Saya sekalian mengambil paket lengkap dengan MC, kue ulang tahun, dll.




Ruang Ganti popok





Dekornya cute banget ya. Sukaaa!


Selesai soal tempat, saya mulai mengurusi tema. Karena anak gadis minta tema spesifik ballerina, yang agak sulit ditemukan printilannya di pasaran -tidak seperti princess Sofia, Frozen, Hello Kitty atau karakter kartun lainnya-, jadilah saya harus memesan khusus. PR banget deh nih Naya! Awalnya saya ingin membuat tas botol, tapi sepertinya tas tote akan lebih bermanfaat sehingga tas tote deh akhirnya. Saya memesan gambar ballerina -yang saya dapat dari hasil googling dan sketching sebisanya- untuk anak cewek, dan gambar anak cowok untuk yang cowok. Kesemuanya saya kemas dalam kotak mika made in Pasar Pucang dengan pita yang saya dapatkan di toko buku dekat rumah.
Tote Bag hasil desain:p
Cookies

Saya juga mendesain sebisanya -maklum, ilmu pas2an:))))- undangan, thank you card, cupcake topper, pudding label beserta stikernya. Lumayanlah:p Selain itu, saya membuat buku tamu dan tanda pengambilan goodiebag. Tanda pengambilan goodiebag ini adalah gambar baju cewek dan cowok yang saya tempelkan di stik eskrim. Jadi tamu cewek nanti bakal mendapat goodiebag ballerina, sementara yang cowok mendapat goodiebag gambar anak cowok.

Made in saya:p

Buku Tamu bikinan saya:)))

PR selanjutnya adalah koordinasi dengan tim dekor. Ternyata, tim dekor yang saya hubungi sudah pernah mendekorasi pesta bertema ballerina, sehingga saya tidak perlu membuat segala macam perlengkapan dekorasi yang baru. Horeeeeee lebih muraaah:p

Acara ulang tahun Naya dimulai jam 15.30 teng. Teman-teman sekolah dan ballet Naya berdatangan satu per satu sejak jam tersebut. Demikian pula dengan anak-anak dari teman saya serta suami. Saya senang sekali melihat binar mata anak-anak kecil yang lucu ini begitu melihat playground yang ada. Kelihatan happy banget! Mungkin semacam surganya anak kecil gitu ya:))))

Sekitar pukul 16.00, barulah prosesi dimulai. Saking excitednya bermain di playground, banyak anak yang enggan mengikuti prosesi dan tetap ingin bermain:)))

MC yang ada sangat lucu. Jangankan anak-anak, saya saja tertawa terbahak-bahak mendengar banyolannya:p Ada acara game, bernyanyi dan menari bersama. Senang deh lihat anak-anak imut:D
Tamu-tamu kecil


Setelah tiup lilin dan potong kue, waktunya makan! Yang anak-anak sih teteuuuppp.. main lagi di playground:))))
Kue bohongan:p



Saya sangat bangga pada Naya yang super sweet selama acara berlangsung. Walaupun sebelum berangkat ke venue sempat ngambek karena -kakak-Aya-pokoknya-engga-mau-main-sama-anak-kecil-, tapi nyatanya saat acara, Naya mau lho bersalaman dengan teman-teman kecilnya dan mengucapkan terimakasih. Bahkan, saat seharusnya ayahnya memberikan sambutan, dibajak Naya:))) Naya yang maju ke depan dan bilang begini:
"Teman-teman, telimakasih ya sudah datang ke ulang tahun Aya yang ke-3. Telimakasih juga mama papa sudah melayakan ulang tahun Aya."

Walaupun sepertinya sih Naya ngomong begitu gegara dibisiki MC, tetap saja saya mbrebes mili:')
Kok bayi saya sudah besaaaaar:')

Naya juga mau bermain di playground walaupun soliter:p Tetap saja engga mau bermain sama anak kecil lainnya. Setidaknya mau mainlah:p
The Nugrohos:)

Setelah acara usai, saya terkapar panas tinggi:))) Saya pikir karena kecapekan, tapi ternyata panas tetap muncul keesokan hari dan lusanya.Setelah cek darah, mashaAllaaaah, dengue lagi!:)))
Gile nih nyamuk aedes aegypti, demen bener sama eikeeeh! Hanya saja karena saya tidak bisa ijin, jadilah saya tetap masuk ke rumah sakit dengan masker tertempel di muka:))

Senang, karena alhamdulillah acara ulang tahun Naya lancar. Dapat bonus pula, dengue fever:p
Itulah alasannya kenapa saya baru bisa update blog sekarang hehe. Anyway, foto-foto di post ini murni berasal dari handphone saya, yang dari kamera benerannya menyusul yaaa...

Friday, March 28, 2014

Talking Behind My Back?


Malam hari setelah Naya tidur adalah waktu rutin saya membuka laptop dan mengeceki email yang masuk ke inbox satu persatu. Semalam, ada satu email yang membuat saya termenung sesaat. Biasanya email yang masuk berkisar antara dari pembaca blog yang ingin menanyakan sesuatu atau pihak lain yang menawarkan kerjasama pada saya. Selain itu, bisa dipastikan isinya urusan rumah sakit:p

Email yang satu ini agak di luar biasanya. Datang dari seorang mahasiswi yang rupanya pernah rajin mendengarkan siaran saya saat acara curhat-curhatan dimana saya harus memberikan solusi atas masalah-masalah pendengar. Menurut cerita Mawar, sebut saja begitu, ia kebingungan harus bercerita entah ke siapa, dan akhirnya memutuskan mengirim email pada saya. So sweet ya:’)

Mawar bercerita kalau di kampusnya, dia cukup dikenal karena nllai-nilainya yang outstanding. Banyak temannya yang meminta contekan tiap ujian, tapi selalu ditolak Mawar karena menurut hati nuraninya tindakan seperti itu tidak benar. Mawar menulis, kalau saja teman-temannya meminta dia mengajari bahan ujian, dia akan bersenang hati membagi ilmu, asal bukan pada saat ujian berlangsung. Namun karena ini pulalah, banyak teman Mawar yang tidak menyukainya. Ada yang suka sekali ngomongin di belakang –dan yang diomongin banyak engga benarnya-, ada lagi yang suka menyindir, sampai ada juga yang menjauhi Mawar seolah-olah tidak mengenalnya.

Mawar bilang kalau ia sering merenung, bertanya-tanya apa kesalahan yang dia perbuat sampai teman-teman segitunya engga suka pada dia. Mawar sampai bertanya apa ia harus menurunkan nilai-nilainya? Atau mengingkari nurani? Atau bagaimana? Inginnya sih cuek, tapi engga bisa.

Membaca email ini pertama kali membuat saya teringat dengan cerita saya sendiri. Bukan karena nilai saya yang outstanding tentunya:p, tapi entah mengapa saya pun punya teman-teman yang suka membicarakan saya di belakang. (Ps: Saya baru tahu setelah menikah dengan suami. Jadi ceritanya mereka yang hobi ngomongin dan ngejelek-jelekin saya tuh sempat satu ganklah dengan suami. Engga mungkin kan ya suami saya bohong?;p).

Apapun penyebabnya, nilai outstanding, kaya raya, wajah cantik, banyak disukai orang, pintar bernyanyi, hebat dalam mengaji, jagoan menggambar, pakar design, ahli dance atau apalah, saya yakin akan selalu adaaaaaa saja orang yang tidak  menyukai kelebihan kita.Bahkan tanpa kelebihan pun, bisa saja ada orang yang tidak menyukai kita. Namanya juga manusia, urusan suka engga suka mah manusiawi, walaupun sering kali engga bisa dijelaskan. 

Saya engga keberatan juga kok ada orang yang engga menyukai saya. You can not please everyone and you can not make everyone like you, right?:D  Hak semua orang kok untuk menyukai atau tidak menyukai orang lain. Buat saya, engga masalah kok selama fair. Maksud saya, jangan bermuka dua, di depan saya menjadi teman tapi di belakang ngejelek-jelekin habis-habisan.

Sejujurnya, awal-awal saya mengetahui banyak orang yang saya anggap teman ternyata suka ngomongin di belakang, saya down. What have I done to deserve it? Sama seperti Mawar, saya juga suka bertanya-tanya apa salah saya dan harus bagaimana ke depannya.

Bagus juga sih, saya jadi bisa introspeksi. Mungkin saya kurang sensitif dan tak sengaja menyinggung perasaan teman,  mungkin saya jadi sombong, dan sejuta kemungkinan lainnya. Setelah mereview dan yakin seyakin-yakinnya kalau tidak ada satu pun kemungkinan tadi yang pernah saya perbuat, saya bertambah bingung. Jadi kenapa ya mereka kok segitu sebalnya dengan saya?

Saya engga bisa move-on deh. Sibuk mencari-cari alasan pembenaran untuk mereka tidak menyukai saya. Sampai seorang sahabat “menegur” saya dengan cerita perumpamaannya.

“Anggap saja A engga suka dengan B. Apa alasannya ya engga ada yang tahu, wallahualam. Terus B bersedekah jutaan rupiah ke masjid kompleks. Karena engga suka, A ngomongin B, katanya B bersedekah cuma biar dipuji orang banyak. Katanya uang yang B pakai buat sedekah engga halal. Dan sejuta katanya lagi. Sekarang Met, sedekah itu perbuatan baik engga? Tapi di mata orang yang engga suka, bahkan perbuatan baik pun bisa jadi sebaliknya. Terus kamu mau buang-buang waktu cari tahu kenapa A engga suka sama B? Buat apa?”

Saya pikir-pikir, benar juga ya. PR saya ya cuma sebatas introspeksi apa yang salah dengan saya. Kalau ternyata tidak ada, ya sudah. Its their problems, not mine. Ngapain saya yang rempong? Apalagi kalau sampai harus mengingkari hati nurani. Cuek sajalah! Lebih baik tenaga dan energi saya digunakan untuk hal-hal positif. Yang negatif sih engga perlu dipikirin, dilempar ke laut saja biar ketemu cewek matre.

Yaaa tapi kan engga enak Met dijauhin teman, diomongin di belakang.  



Well, a person who talks behind your back not worthy of even being called your friend. Don’t you think? Trust me, just let them go. If you don't get rid of the wrong friends, you'll never make room for the right ones.

A real friend has your back and comes to your defense when the situation calls for it and those who do not, are just not the people you should think of as friends.

Oh ya, apa yang saya lakukan begitu tahu “teman” mana yang pernah ngomongin saya di belakang? Selain cuek, setiap bertemu mereka saya pasang senyum termanis saya, kalau perlu pakai kedip-kedip bulu mata anti badai Katrina

I never worry about those who talk behind my back because I know, they are behind me for a reason;) -probably its because they're too busy talking about me?- I just have to smile to give them my sympathy:p

Thursday, March 27, 2014

The Friendship

Persahabatan antara cewek-cowok itu bullsh*t.

Begitu pernyataan yang saya baca saat sedang blogwalking. Errrr.. benarkah?

Entah mengapa, sejak kecil sahabat saya kebanyakan cowok. Bukan berarti saya engga punya sahabat cewek lho. Ada, tapi engga sebanyak yang cowok.

Menurut blog yang saya baca tersebut, persahabatan cewek-cowok tanpa perasaan terselubung itu impossible, engga mungkin. Eh tapi sejujurnya ya, dari sekian banyak sahabat cowok saya itu, saya engga pernah lho merasa suka sama salah satu atau dua atau lebih diantaranya. Dan setahu saya, kayaknya demikian juga sebaliknya. Hubungan kami memang murni sahabatan saja. Malah terkadang saya atau mereka yang rempong menjadi mak comblang masing-masing:p

Mungkin karena saya orangnya super cuek, sahabatan dengan sesama cewek yang biasanya lebih sensitif membuat saya terkadang engga bisa menjadi diri saya sendiri. Saya harus sangat berhati-hati kalau ngomong atau bercanda. Jangan sampai menyinggung deh. Sementara kalau dengan sahabat cowok, saya bisa bebas merdeka:D Selain itu kegiatan kecewek-cewekan semacam nyalon bareng, make up night, atau window shopping bersama agak kurang menarik buat saya. Kalau sama sahabat cowok, sekedar nongkrong di teras rumah sambil bercandaan saja sudah cukup:)))

Selama kuliah, saya punya sahabat cowok. Ada banyak sih, ada 8 orang. Semua cowok, kecuali saya. Di antara ke-8 orang tadi, ada satu yang paling dekat dengan saya. Saking dekatnya, semua orang mengira kalau kami pacaran. Bahkan beberapa cowok yang pernah mau mendekati saya sampai minta ijin dulu ke dia. Ngalah-ngalahin kakak saya sendiri deh, padahal saya dan kakak kandung juga satu kampus dan satu kelas:p

Saya sih cuek saja dibilang begitu, karena memang engga benar. Suka? Ah boro-boro, dia ini galak banget sama saya. Hobinya ngomel. Mulai karena rok yang saya pakai kependekan, siaran saya terlalu malam, sampai jadwal syuting saya yang terlampau penuh -katanyaaaa, menurut saya sih engga-:p  Sahabat saya ini juga yang jadi komentator di awal-awal saya siaran radio maupun TV. Jangan dikira komentarnya bagus melulu lho, kadang pedas banget:')

Mama saya sangat percaya sama dia. Kalau saya minta ijin untuk pergi ke luar kota misalnya, mama pasti bilang "Kata dia gimana?" . Jadilah sebelum meminta ijin apapun pada mama, saya merayu dia habis-habisan dulu supaya ikut membujuk mama. Kadang saya sampai berpikir kalau dia ini yang anak kandung mama saya, bukannya saya-_____-"

Waktu lulus dokter dan akan daftar spesialisasi, saya sempat galau gegara si sahabat. Ceritanya saya ingin mengambil pediatri, tetapi sahabat saya bilang "Yakin mau ambil anak? Sibuk lho! Kalau kamu jadi ppds anak nanti engga bisa siaran, syuting lagi. Ambil kulit aja deh, enak kan, masih bisa ngapa-ngapain."

Tapi karena memang suka anak-anak, saya tetap mendaftar mengambil pediatri. Setelah diterima dan menjalani masa PPDS, saya masih bisa siaran dan syuting, jadilah tiap siaran atau syuting saya foto lalu saya kirimkan ke dia. Ketika buku saya terbit , saya kirimkan foto covernya lewat email ke dia dengan note singkat, dari PPDS pediatri, BUKAN kulit:p

Sewaktu saya pertama kalinya dekat dengan cowok -yang sekarang jadi suami:p-, sahabat saya inilah orang yang pertama kali saya beritahu. Tumben-tumbenan, kalau biasanya adaaaaaaa saja komentar kurang darinya tentang cowok yang sedang mendekati saya, waktu sama suami saya, si sahabat langsung meng-ACC:D Mungkin itu juga yang membuat mama dan kakak saya langsung meng-ACC pula.

Sampai sekarang, saya sudah bersuami dan punya Naya, kami masih berhubungan baik. Saya masih sering cerita-cerita, masih sering BBM-an dan masih suka cela-celaan. Suami jealous? Engga tuh, karena suami tahu bagaimana hubungan kami jauuuuh sebelum menikah. Ah ya, si sahabat ini juga -akhirnya- akan menikah weekend ini. Saya ikut bahagia deh! Semoga langgeng, bahagia selalu sampai akhir masa ya pret!:D

Jadi benarkah persahabatan cewek-cowok itu impossible? ENGGA! Kami buktinya:D




Wednesday, March 26, 2014

Cover Majalah Dokter Kita

Akhir tahun lalu, sebuah pesan lewat WhatsApp masuk ke handphone saya. Mbak Titis, pengirim pesan memperkenalkan diri dari majalah Dokter Kita dan menawari saya pemotretan untuk dijadikan cover majalah tersebut. Eh? Saya? Engga salah ya? Saya kan bukan artis. Terkenal saja engga. Engga kebayang oplah majalahnya kalau saya yang jadi cover:))))

Anyway, karena kesibukan yang engga memungkinkan, saya hanya bisa mengiyakan tawaran tersebut tanpa dapat menjanjikan waktu. Eh kebetulan saya ingat kalau pada bulan Maret akan mengantarkan mama check-up tahunan di Jakarta. Ya sudahlah, sekalian saja kalau begitu. Janji pun dibuat, walaupun masih jauh-jauh hari sebelumnya.

Saya diminta untuk menyiapkan property pemotretan sendiri -untungnya dibantu mama saya yang super fashionable itu-. Kalau saya yang memilih waaaah bisa kacau balau kayaknya hahaha.

Pada hari-H, saya tiba di studio pemotretan tepat waktu. Untung lokasinya mudah dijangkau, kalau pakai acara nyasar kan agak ribet ya. Di sana, saya segera dimake-up oleh sang make up artist, mbak Riris yang asyik banget. Gosip deh ya kami:))) Saya juga mengobrol dengan mbak Titis dan mbak Ratna sekalian di-interview. Sehabis make up, pemotretan dimulai. Mungkin karena pada dasarnya saya banci kamera:p, pemotretan berlangsung lancar dalam waktu singkat. Total saya berganti baju empat kali, dan menyudahi sesi pemotretan selama kurang lebih setengah jam.

Ini adalah preview cover majalah yang dikirim ke saya. Majalahnya sendiri baru terbit awal bulan depan, edisi bulan April 2014. Beli yaaaaa:D
Kata mama, foto saya di sini kurang "dokter", sepertinya mungkin saya harus pakai jas putih ya biar dokter banget:/

Kata Naya begini "Mama kok cantik sekali di sini, tapi sekalang kok engga cantik lagi?" :))))
NAYOOOOOOOOO!>:/

Terimakasih majalah Dokter Kita!:)

Counting Down to Naya's Birthday Bash

Sejak bulan November 2013, saya sudah mulai merencanakan merayakan ulang tahun Naya yang ke-3. Selain lebay, saya juga merasa lebih aman kalau punya waktu panjang mengurus ini-itu. Maklum, jadwal saya suka engga bisa ketebak sih:(

Seperti tahun-tahun sebelumnya, awalnya pun saya berencana hanya membagikan goodie bag dan bento saja untuk keluarga dan teman-teman sekolah Naya. Tetapi, rupanya anak gadis saya ini ingin sekali ulang tahunnya dirayakan, melihat teman-teman yang lain.

"Ma, kapan kakak Aya ulang tahun? Nanti di KFC ya kayak *****, bial nanti ada chaki sama balonnya."

Begitulah kira-kira bunyi requestnya. Karena saya pikir Naya sudah cukup mengerti, oke deh, bolehlah untuk tahun ini ulang tahunnya dirayakan. Yang pertama saya pikirkan, dimana?

Tempat paling ideal menurut saya sebenarnya adalah di rumah. Tapi, rumah saya kecil mungil, engga mungkin deh mengundang banyak anak kecil untuk merayakan ulang tahun Naya. Yang paling mudah adalah restoran fast food. Banyak paket yang ditawarkan, dan sangat praktis. Tinggal datang, bayar, selesai. Mulai MC, tart, goodie bag semua sudah disediakan. Hanya saja, setelah berdiskusi dengan suami saya, kami memutuskan untuk mencari tempat lain yang makanannya bukan fast food. Kami ingin sekali menunjukkan bahwa merayakan ulang tahun di tempat selain restoran fast food juga bisa fun kok:)

Akhirnya saya si OCD ini survey di macam-macam tempat termasuk playground macam Chipmunk dan FunWorld. Tetapi, pilihan saya jatuh pada Wins Disc, Children Party Palace yang letaknya tidak jauh dari rumah. Selain karena letaknya yang dekat, di Wins Disc ini banyak sekali permainan yang bisa digunakan tamu-tamu undangan. Tempatnya luas, bersih, nyaman, dan memiliki tempat parkir lumayan luas. Setelah tanya-tanya, cocok dengan harganya, saya booking tempat ini untuk ulang tahun Naya.

PR saya selanjutnya adalah menentukan tema. Buat saya sih yang paling gampang adalah menggunakan tema karakter kartun seperti Mickey Mouse, Princess Sofia atau Pooh supaya lebih gampang mencari printilannya yang pasti gampang ditemukan. Saya menawarkan tema Princess Sofia untuk Naya yang segera ditolak mentah-mentah. "Kakak kan engga suka Princess Sofia maaa! Kakak sukanya ballelina!"


Ballerina? Di mana saya bisa menemukan pernak-pernik ballerina? Susah banget:'( Tapi untung waktu yang tersedia masih cukup lama sehingga saya putuskan untuk membuat sendiri. PR banget ya kak Naya!:))))

Saya mendesign undangan bertema ballerina, mencetak stiker label untuk kue dan dessert table sendiri. Untuk goodie bagnya, saya memesan tas tote kecil bergambar ballerina untuk teman cewek, dan anak cowok untuk teman cowok.

Tempat selesai, tema beres, goodie bag kelar, tinggal -yang paling penting!- menentukan jumlah undangan untuk menentukan jumlah paket katering. Ini agak sedikit repot yaaa. Saya inginnya mengundang teman seumuran Naya, teman sekolah, les balet dan keluarga. Tapi saya juga ingin mengundang teman-teman dekat saya dan suami yang punya anak seumuran dengan Naya. Karena itulah jumlah undangan yang tadinya direncanakan hanya 30 anak membengkak menjadi 60 anak. Tanggal yang saya pilih kebetulan adalah long weekend, sehingga saya deg-degan juga apakah yang bisa datang banyak atau engga. Saya segera menambahkan RSVP di undangan Naya supaya yang menerima bisa segera merespon bisa datang atau tidak.

Sayangnyaaaaaaa, hanya sedikit yang memberikan respons terhadap RSVP saya tadi, Sepertinya agak kurang hits yak RSVP di kalangan emak-emak Surabaya:))))

Yah saya dag-dig-dug saja deh semoga jumlah undangannya pas seperti yang diharapkan:D

Saya ikut memesan hidangan yang akan disediakan katering. Ini semua saya kerjakan sedikit-sedikit. Harap maklum, berhubung kerempongan  di rumah sakit, saya memang harus mencicil PR satu-satu. Apalagi beberapa bulan terakhir ini stase saya sedang berat-beratnya. Mau nangis deh rasanya *lebay*
Menggunting label kue Naya misalnya, saya lakukan di malam hari sambil mengerjakan revisi statistika penelitian. Rempong bener deh:)))

Semoga lancar kelak acaranya yaaa! Saya update secepatnya:D

Monday, March 24, 2014

Tiga Tahun Lalu

22 Maret 2011
Saya sedih luar biasa. Mama yang selama ini menemani saya di rumah sepanjang kehamilan bilang harus pulang sebentar. "Nanti mama dateng lagi bulan depan ya waktu kamu mau melahirkan." Begitu hibur mama. Entah karena hormon kehamilan atau memang dasarnya cengeng, saya menangis. Enggan ditinggal mama. Saya sudah beberapa minggu tidak bisa melihat, hanya bayangan yang bisa tertangkap. Muntah-muntah yang kata orang akan membaik di trimester kedua kehamilan justru bertambah parah. Saya juga sulit tidur. Begini salah, begitu salah. Rasanya kepanasan terus, dan bolak/i ke kamar mandi untuk muntah atau pipis. Suami sedang bertugas di stase yang luar biasa sibuk, kami hampir tidak pernah bertemu karena dia pergi subuh datang malam hari. Saya kesepian, bosan dan takut. Takut kalau ada apa-apa dan tidak ada orang di rumah. Lebih tepatnya, tidak ada mama.

Saya ingat beberapa minggu yang lalu kesulitan bernapas karena sesak. Saya ingat juga harus bolak/balik ke rumah sakit karena perdarahan. Berulang kali pula saya pingsan di awal kehamilan. Syukurlah memasuki minggu ke-30, sesak yang saya rasakan membaik. Echocardiography untuk memeriksa fungsi jantung pun sudah dinyatakan bagus. Tapi berdasar hasil USG 4D terakhir, air ketuban saya dikatakan menipis, sehingga kalau tidak bertambah setelah minum banyak, harus dioperasi.

Saya berdoa tak henti-hentinya agar tidak harus melahirkan prematur. Saya sering melihat bayi-bayi prematur di rumah sakit tempat saya bekerja. Begitu rentan, begitu rapuh. Semoga bayi yang kelak saya lahirkan engga prematur. Amin. Begitu doa saya selalu.

Kami baru saja pindah rumah. Barang-barang masih berantakan bertebaran disana-sini. Berpuluh dus bahkan belum dibuka, masih teronggok di sudut-sudut rumah. Satu-satunya orang yang menemani saya adalah mbak Sum, ART 15 tahun yang baru bekerja pertama kalinya. Dan satu-satunya hiburan saya adalah smartphone yang saya pegang dengan jarak kurang dari 10 cm agar terlihat.

Malam itu, saya sibuk BBM-an dengan Wida, teman saya yang sama-sama sedang hamil nun jauh di Australia sana. Kami sama-sama engga bisa tidur. Saya ingat kami BBM-an sampai jam 4 pagi waktu itu. Saya ingin sekali makan sambal bu Rudy, ketularan dia:))) Kemudian suami mengingatkan saya harus kontrol jam 9 pagi sehingga harus segera tidur.

23 Maret 2011
Saya bangun dengan malas. Sejujurnya saya malas sekali datang kontrol ke Sp.OG. Perasaan rikuh, deg-degan, malas semua campur jadi satu. Tapi suami saya mengiming-imingi sambal bu Rudy setelah kontrol. Jadilah semangat juga. #mureeeeh:))))

Pagi itu saya sudah agak khawatir. Bayi di kandungan saya yang biasanya jumpalitan engga karuan tetiba diam saja. Tidak terasa bergerak. Tapi waktu itu saya pikir karena saya kurang tidur, mungkin saja sekarang si bayi lagi tidur tenang.

Sesampai di poli untuk USG 4D, terlihat air ketuban saya habis. Tes NST yang dilakukan menunjukkan gerak bayi mulai menurun hingga saya harus segera dioperasi. Hari itu juga. Saking bingungnya, saya speechless. Engga tau harus ngapain, saya malah ketawa-ketawa dengan suami yang sama paniknya. Kami belum booking kamar di RS, belum ada babysitter, belum siap sama sekali. Saya langsung menelpon mama yang engga kalah paniknya. Beliau baru saja tiba tapi harus segera kembali ke Surabaya.

Setelah opname, saya bersiap-siap untuk operasi. Saya takut. Seumur-umur, saya belum pernah dioperasi atau opname. Lebih takut lagi saat tim dokter anestesi yang pre-op menunda operasi saya keesokan paginya karena harus melakukan pemeriksaan lebih mendalam lagi terhadap jantung saya. Saya super khawatir dengan bayi yang saya kandung. Apakah dia baik-baik saja? Kenapa tidak bergerak?

Saya ingat semalaman penuh menangis. Suami yang -akhirnya ya:p- menemani menenangkan saya tapi saya tahu kalau dia pun sama khawatirnya dengan saya. Pada akhirnya, saya hanya bisa berpasrah pada Yang Di Atas.

24 Maret 2011
Pagi-pagi, setelah solat Subuh, saya dipersiapkan untuk operasi. Memasuki kamar operasi yang sungguh familiar tambah membuat saya panik. Saya intip monitor di sebelah yang menunjukkan tensi saya lebih dari 160mmHg/120mmHg. Saya lihat kesiapan inkubator dan oksigen untuk bayi. Semua sudah oke. Tepat jam 8 pagi, operasi dimulai. Saya deg-degan minta ampun. Terutama ketika suami yang ikut mengoperasi menjelaskan apa-apa yang dia lakukan (saya yang minta). "Buka fascianya dulu ya." "Ini sudah kelihatan bayinya, sungsang." bla bla bla. Sampai ke "Bayinya sudah keluar, terlilit tali pusar 3x. Ketubanmu memang habis.". Jantung saya langsung mencelos. Saya perhatikan jam di dinding, menghitung detik demi detik. Kenapa bayi saya lama sekali engga menangis? Saya lihat bayi saya dibawa ke inkubator, biru. Alhamdulillah, tak seberapa lama setelahnya, terdengar juga tangisannya. Begitu keras, dan merdu di telinga saya:p

Dokter anestesi menawarkan untuk menidurkan saya tapi saya tidak mau karena ingin segera menyusui bayi saya. Sebetulnya, ada beberapa alternatif nama untuk bayi ini. Yang pertama Alaina, Marchie, atau Nayara. Saya masih belum bisa memutuskan memillih yang mana. Saya minta suami untuk segera ke NICU mengadzani bayi kami dan memintanya memotret. Begitu melihat foto perdananya yang usil, saya lagsung memutuskan sepertinya nama Nayara yang paling cocok untuknya:D

Drama ini masih belum usai karena dilanjutkan dengan drama selanjutnya berjudul menyusui serta hiperbilirubin yang sukses membuat saya Baby Blues Syndrome:))) Alhamdulillah semua drama, sinetron, FTV apalah itu usai juga:)))

24 Maret 2014
Selamat ulang tahun ke-3 Arshiya Nayara Avanisha Nugroho, pemicu detak jantung, penebar semangat, pembuat kebahagiaan kami. Semoga selalu sehat, jadi anak solehah, kebanggaan kami, pintar, ceria dan mau main biarpun jarang -eaaaa hidden agenda;p- dan kelak tercapai cita-citanya jadi plopesol sepesialis anak:)))
Anak unyil yang semalem ga mau bobo karena too excited mau happy birthday, bangun tidur langsung loncat pake topi minta tiup lilin, biarpun masih piyamaan, bau iler dan belum mandi:))

We love you!:*


Friday, March 14, 2014

Naya dan Gadget

Kemarin, saya janjian dengan seorang teman lama untuk playdate. Teman saya tersebut ibu dari 3 orang anak, 2 perempuan dan 1 lelaki yang usianya 5 tahun, 3 tahun serta 2 tahun. Selain memang ada kerjaan yang akan dibahas, saya juga punya hidden agenda nih sebenarnya:p

Tahu dong ya kalau anak gadis saya yang super bawel dan super genit itu engga pernah mau berinteraksi dengan sesama anak kecil? Naya juga sudah sejak lama enggan bermain. Kerjanya hanya membaca buku, menulis, menggambar dan menempel-nempel. Walaupun banyak orang yang bilang seharusnya saya bangga -which i am btw!- tapi tetap saja saya si emak parno ini khawatir. Saya khawatir nanti justru pada waktu Naya seharusnya belajar, dia malah sudah bosan. Makanya, saya rajin membawa Naya ke kegiatan yang banyak anak kecilnya, termasuk playdate.

Kami janjian playdate di salah satu foodcourt mall di Surabaya. Di sana kami mengobrol seru sekali. Teman saya tadi curhat mengenai anak tengahnya yang belum bisa berbicara. Dia tidak begitu khawatir karena ternyata anak sulungnya pun sebelumnya pernah didiagnosis speech delay saat 3 tahun.

Jujur, saya agak terkejut saat melihat ketiga anaknya yang juga sibuk sendiri. Anaknya yang pertama si 5 tahun memegang iPad dan memainkannya dengan mahir. Sepanjang pertemuan kami, tidak sekalipun matanya kontak dengan saya. Saat disuruh bersalaman, dia hanya menjulurkan tangan, kedua matanya tetap tertuju pada iPad. Anak yang kedua pun tak kalah sibuknya memainkan game console. Sama seperti kakaknya, tak sedikit pun ada interaksi dengan saya atau sang ibu. Yang membuat saya lebih terkejut lagi, bahkan anak bungsunya -si 2 tahun- mahir sekali memainkan iPhone milik ibunya. Sepanjang ingatan, selama 2 jam penuh, saya tidak mendengar anak-anak ini berkomunikasi dengan sang ibu atau babysitter selain pada saat baterai gadgetnya mau habis. Tangan sibuk memegang gadget, mata fokus tertuju pada layar.

Lalu bagaimana dengan Naya?

Mungkin karena bosan, Naya meminta ijin untuk pergi ke toko buku yang jaraknya dekat dari foodcourt, lalu datang membawa beberapa buku yang dibeli, dan sama sibuknya seperti ketiga anak teman saya tadi. Sibuk membaca, menulis, menggambar. Kemudian setelah bosan, Naya berlari-lari kesana kemari. Beda banget ya? Gagal deh hidden agenda saya:))))

Di jaman sekarang dimana gadget sudah bertebaran dimana-mana, rasanya tidak aneh melihat anak kecil -bahkan bayi- memegang gadget. Entah memang dibelikan khusus untuknya atau meminjam punya orangtua. Saya punya teman yang share di Path sudah mendownload banyak aplikasi untuk bayinya yang masih berusia 3 bulan. Serius lho! Ada permainan mengenalkan angka, huruf sampai warna.

Sebenarnya boleh engga sih memberikan gadget pada anak ini masih kontroversial. Namanya juga anak jaman sekarang. Kalau engga dikasih, nanti ketinggalan dong dengan anak lain? Lagi pula, tujuannya kan baik. Bisa merangsang kreativitas anak kan? Belajar sambil bermain tentu akan lebih menarik dan menyenangkan buat anak. Betul?

Saya pribadi termasuk pada golongan mereka yang memilih tidak memberikan gadget pada anak. Saya percaya, bahwa di tahun-tahun awal kehidupannya, yang lebih Naya butuhkan adalah interaksi positif, bonding, dan stimulasi yang -lagi-lagi- diberikan oleh orangtua serta keluarga dekat. Betul memang, pembelajaran lewat iPad pastinya menyenangkan. Siapa sih yang engga tertarik melihat animasi berwarna-warni memperkenalkan warna? Tapi ini jadi tantangan buat saya, sebagai orangtua yang ingin menstimulasi Naya tanpa gadget. Saya harus membuat sesuatu untuk memperkenalkan warna dengan cara lebih menarik. Saya ingat waktu Naya bayi, saya sering bercerita padanya mengenai warna. Visualisasinya saya pakai kertas warna biasa dan boneka jari. Buktinya, Naya tertarik juga kok:) Saya masih ingat gelak tawanya waktu itu. Bonusnya, bonding antara Naya dengan saya lebih kuat. Menurut saya, menjalin bonding dengan Naya adalah salah satu bentuk investasi. Saya ingin Naya percaya pada saya. Kelak, saya yakin kepercayaan ini akan sangat berguna bagi saya dalam mendidik Naya, terutama kalau sudah remaja. Saya ingin sayalah orang pertama yang dituju Naya saat ada masalah. Saya ingin sayalah yang pertama tahu apapun yang terjadi dalam hidup Naya. Saya ingin Naya datang ke saya untuk meminta saran saat clueless. Semoga Naya engga bakal berpikir untuk berbohong pada saya, karena tahu Naya bisa percaya saya. So much for a bonding ha?:p

Saya pernah punya pasien, anak berusia 7 tahun yang dikonsulkan karena belum bisa menulis. Hasil pemeriksaan IQ menunjukkan anak ini normal, bahkan di atas rerata. Selidik punya selidik, kemampuan motorik halusnya agak terlambat karena dia lebih terbiasa menekan layar tablet dan tombol game console dibanding memegang pensil.

Tidak semua negatif tentu saja. Saya pun sering mendapat laporan bagaimana teknologi yang tersedia dalam gadget justru bisa sangat membantu dalam belajar. Ada yang hapal huruf-huruf karena sering bermain dengan aplikasi huruf di iPad. Ada juga yang merasa terbantu belajar bahasa Inggris karena aplikasi vocabulary, dan lain sebagainya.

Menurut saya pribadi, sama seperti semua hal lainnya, penggunaan gadget untuk anak bisa positif tapi bisa juga sebaliknya. Saya sendiri berencana baru akan mengenalkan gagdet pada Naya di atas 4 tahun, itu pun dengan pembatasan penggunaan. Seminggu 2 kali, masing-masing setengah jam misalnya, dengan aplikasi yang saya pilihkan khusus:D

Saya punya iPad, laptop, iPhone, game console -punya suami sih- dan tidak pernah menggunakan gadget tadi untuk bermain. Pada dasarnya saya memang engga begitu suka main sih ya. Paling tablet saya gunakan untuk membaca e-book atau majalah via Scoop. Akhirnya Naya pun sepertinya engga begitu tertarik untuk memegang gadget saya. Walaupun terkadang dia bilang "Mama, kenapa kakak Aya engga punya iPad kayak si A, si B atau si C?"

"Memang kakak Aya mau ngapain kalau punya iPad?"
"Yaaa, mau baca-baca buku sama majalah."
"Kan sudah mama belikan buku sama majalah beneran."
"Iya. Tapi mama kok punya iPad?"
"Iya di sini ada buku-buku mama yang tebel2 itu lho kak buat di rumah sakit. Kalau ga pake iPad, mama musti bawa banyaaaak banget dong."
"Kok punya si A si B si C itu bisa buat main ma?"
"Iya, nanti ya kalau kakak Aya sudah besar juga bisa."

Sudah. Naya puas mendengar jawaban kayak gitu:D

Saya lebih senang Naya bawel bertanya-tanya tanpa henti pada saya daripada sibuk sendiri dengan gadget walaupun kadang bikin pusing:p Saya lebih senang Naya berlari-larian, berlompatan, gelantungan kian kemari daripada duduk manis anteng di depan gadget. Saya lebih senang tangan Naya sibuk mencoret-coret asal bukan di karya ilmiah saya dan menggambar segala macam daripada sibuk menari di atas gadget. Saya lebih senang memikirkan dan membuat sendiri fasilitas stimulasi Naya kalau perlu yang old-fashioned daripada menyerahkan stimulasi Naya kepada gadget. Saya lebih senang mengajak Naya role-play dokter-dokteran, jual-jualan, masak-masakan biarpun saya capek dan ngantuk setengah mati daripada Naya role-play dengan gadget.

 Engga takut Naya ketinggalan, Met?

Engga sama sekali tuh. Di segala macam tes skrining tumbuh kembang, engga pernah ada milestone "harus bisa memainkan gadget ini" atau "harus mahir memakai gadget itu". Jadi, saya yakin tanpa gadget pun, dengan stimulasi yang tepat, Naya bisa bertumbuh dan berkembang secara optimal. Kelak, dengan tumbuh kembangnya yang baik, jangankan gadget macam iPad atau game console, pesawat terbang saja saya yakin bisa Naya terbangkan! Wekekekekek. #lebay

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates