Tuesday, August 26, 2014

Lil Ballerina

Entah mengapa, saya sudah merasa kalau Naya memang sering sekali engga percaya diri sejak dulu. Setiap bertemu dengan orang baru, Naya akan malu-malu, menyembunyikan diri di belakang saya atau bahkan ngumpet di balik meja. Mungkin ini menurun dari saya yang juga sangat pemalu. #pret :)))

Kekhawatiran saya ini pun didukung dengan hasil psikotest Naya yang menyatakan bahwa memang Naya engga pede-an. Tanyakan apa saja pada Naya, pasti akan dijawab dengan "Engga tahu" atau "Engga bisa". Padahal sebenarnya dia bisa. Naya juga akan diam seribu bahasa di lingkungan selain di rumah. Kalau di rumah, engga bisa diaaaaam. Kalau kata bapaknya, jago kandang.

Saya sudah mencoba segala cara untuk meningkatkan kepedean Naya. Setiap saat saya puji Naya, saya yakinkan kalau dia pasti bisa. Tapi sepertinya tidak ada gunanya. Naya tetap saja engga pede-an:( Hampir putus asa nih saya, hiks.

Saya kemarin browsing mencari tempat yang dapat membimbing anak seusia Naya modelling. Maksud saya sih supaya Naya engga pemalu dan pede. Kebetulan, tempat yang saya survey sedang mengadakan show di salah satu mall Surabaya. Saya sengaja mendatangi mall tersebut dengan Naya untuk melihat bagaimana sih modelling untuk anak itu. Eh ya ampun, saya malah ketakutan sendiri melihatnya:)) Coba bayangkan ya, anak seusia Naya dipakaikan baju berbulu macam burung merak, menggunakan sepatu high heels berwarna keemasan, topi bulu tinggi, serta make up full, lengkap dengan bulu mata palsu dan eye shadow berwarna-warni. Anak tadi memang pede sekali berlenggak-lenggok di atas panggung. Tapi, maaf ya no hard feeling, saya jadi merasa anak tadi tua sebelum waktunya. Kalau engga diumumkan MCnya (kebetulan teman saya sendiri, mantan partner siaran:p) anak tadi berusia 3 tahun, pasti saya pikir dia berusia lebih tua. So, sepertinya untuk les modelling engga dulu deh ya kak!:p

Hanya ada satu moment di mana saya melihat Naya bisa sangat percaya diri di luar lingkungan keluarga. Saat difoto:)))


Kalau sudah berada di depan kamera, walaupun fotografernya adalah orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya, studionya pun merupakan lingkungan baru, Naya bisa tetap bergaya dengan pede-nya.
Karena itulah, saya sering mengajak Naya berfoto. Saya benar-benar ingin mengembangkan rasa percaya dirinya. Huks. Kalau ada yang mau mengajak Naya berfoto, boleh lho yaaa:))))
Yang penting Naya pede!

Wednesday, August 20, 2014

Naya Masuk Sekolah

Mengupdate tulisan saya yang ini, sudah beberapa hari Naya masuk sekolah. Namanya saja emak-emak, Naya yang sekolah tapi saya yang dag-dig-dug sebelumnya. Sejuta deh rasanya! Saya khawatir Naya ternyata engga bisa mengikuti pelajaran di sekolah, takut kalau teman-temannya membuat Naya engga nyaman dan malah bikin Naya mogok sekolah, deg-deg-an takut keputusan saya memutuskan Naya sekolah di TK B salah, dan sejuta ketakutan serta kekhawatiran lainnya.

Kekhawatiran saya diperburuk saat seorang teman mengirimkan link ini. Kalau membaca pengalaman emak-emak yang lain, sepertinya lebih baik menyekolahkan anak di usia yang lebih tua daripada lebih muda. Saya sendiri punya pengalaman punya teman yang berusia muda saat masuk SD (5 tahun). Dia bisa mengikuti pelajaran, tapi saat sudah kelas 4 atau 5 jadi malas-malasan belajar dan hampir tidak naik kelas. Kalau kata guru saya, mungkin saja karena waktu yang seharusnya dia masih bermain sudah digunakan untuk bersekolah. Seram kan ya:"(

Sebenarnya sih, saya tahu kekhawatiran saya sungguh sangat tidak beralasan. Semua keputusan saya untuk Naya termasuk menyekolahkannya di TK-B sudah melalui konsultasi dan diskusi intensif dengan beberapa konsultan tumbuh kembang, beberapa psikolog serta psikiater. Bukan sekadar googling, membaca forum ibu-ibu, atau berbekal "katanya" "kata tetangga" "keponakan saya bla bla bla""tetangga saya bla bla bla" dkk dkk.  Walaupun usia Naya saat ini masih 3 tahun, dari hasil pemeriksaan dan pengamatan, usia mental Naya sudah mencapai 2x lipat dari umur sesungguhnya. Demikian pula dengan kemampuannya. Jadi mustinya engga usah khawatir yaaa. Tapi tetap saja, namanya emak-emak, kalau engga parno rasanya kurang lengkap:p

Naya sangat bersemangat mau sekolah. Semalam sebelumnya, Naya tidak bisa tidur karena sibuk menyiapkan seragam, tas sekolah sampai jepit rambut yang akan dipakai keesokannya. Saya sampai sebal karena Naya bolak/i mengecek tas sekolah. Rempong bener-____-"

Keesokan harinya, Naya bangun pagi sekali, langsung mandi dan mengenakan seragam. Wah saya terharu melihatnya. Anak unyil saya sudah TK-B:')

Mau pas foto tapi gayanya pose begini-__-"

Mungkin karena way too excited, menjelang jam masuk sekolah, Naya malah ketakutan, menangis engga mau sekolah. Eaaaaa, anak labil, emak galau:)))) Saya tanya kenapa Naya tidak mau sekolah, jawabnya karena takut teman baru. Setelah dijelaskan, mau juga Naya bersekolah walaupun di sekolah menurut gurunya menangis sebentar.

Saat pulang sekolah, Naya terlihat bahagia sekali. Dia bercerita diajarkan menghapal Pancasila, menghitung pecahan sampai menyanyikan lagu 17 Agustus. Saya lega sekali. Kekhawatiran saya tak terbukti:) Eh tapiiii, siklus berulang keesokan paginya. Naya menangis karena takut sekolah. Kembali saya bujuk sampai mau. Rasanya menurut saya masih wajar sih, karena di sekolah yang sebelumnya Naya pun seperti ini, setidaknya sampai 2 minggu pertama. Sekarang, setelah hampir seminggu Naya bersekolah sudah tidak ada lagi drama paginya. No more tears! *kok kaya iklan shampoo bayi ya:)))*

Saya belum pernah melihat Naya bersemangat sekali sekolah, rutin menceritakan saya pelajaran di sekolahnya sampai mati-matian menghapal lagu kebangsaan. Oh ya, kemarin Naya ikut upacara, sepertinya dia sangat terkesan sehingga bolak/i mengajarkan saya cara upacara di rumah-__-", Saya senang sekali melihat Naya bahagia, dan merasa yakin bahwa keputusan saya mengikuti rekomendasi para ahli untuk menyekolahkan Naya di TK-B adalah benar adanya:D

Sekarang PR saya ada 1 lagi nih, survey SD! Saya sih sejujurnya ingin Naya mengulang TK-B sampai 3 tahun sehingga bisa masuk SD saat berusia 6 atau 7 tahun. Tapi, sebelum Naya diterima di TK-B, pihak sekolah sudah mendapat catatan khusus dari Diknas kalau Naya tidak boleh sekolah di TK-B lebih dari setahun. Artinya, anak bayi saya tahun depan HARUS bersekolah di SD di usianya yang ke-4. Ehm.. mencari sekolah yang mau menerima Naya TK-B di umur 3 tahun saja setengah mati rasanya sampai emaknya ikut mutung, apa kabar ya mencari SD?

Oh ya satu lagi ding, saya harus bisa cuek, cukup tersenyum manis dengan kedipan mata *halah* setiap ada orang yang tidak tahu benar cerita soal Naya.  Entah berapa orang yang sudah menjudge saya dengan berbagai cara. Mulai dari menyindir halus sampai terang-terangan mengomeli saya saat mengetahui Naya sudah bersekolah di TK-B. Ada juga yang menakut-nakuti saya. Waduh, terima kasih banyak ya atas "bantuannya". Benar lho! Ada yang kaget mengetahui Naya sudah bersekolah di TK-B dan "bercerita" -entah benar apa engga- tentang keponakannya.

"Eh keponakanku dulu juga gitu. Pinter, akhirnya dimasukin ibunya ke SD padahal masih kecil banget. Akhirnya engga naik kelas karena engga bisa ngikutin, terus stress karena dianggep bodoh sama temen-temennya. Sekarang minderan banget."

Waktu saya tanya apa sebelum disekolahkan sudah dites macam-macam? Jawabnya engga pernah-_-"
Malas kan ya saya nanggepin yang beginian?-____________-"

Banyak juga yang malah meminta konta konsultan tumbuh kembang, psikiater dan psikolog Naya supaya anaknya bisa direkomendasikan untuk bersekolah lebih muda di usia sesungguhnya-_-" Saat saya tanya apakah anaknya juga "special" seperti Naya, jawabnya ya engga sih, masih normal tapi pengin sekolah lebih cepat biar keren. Kalau begini yang ambisius itu siapa coba?-__"

*BRB latihan senyum dengan kedipan mata*

Doakan yaa semoga Naya betah dan nyaman di sekolahnya yang baru, bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, bisa bersosialisasi dengan baik pula di lingkungannya. Selain itu doakan juga emaknya ini dianugerahi kesabaran tanpa batas bukan hanya untuk menghadapi anak unyil tapi juga untuk menghadapi para kaum pen-judge di luar sana:p Amiiin!

Tuesday, August 19, 2014

Hello, Malang!

Kurang lebih sebulan yang lalu suami mengabari akan pergi ke Malang dalam rangka halal bihalal dokter kandungan pada tanggal 16-17 Agustus 2014. Suami mengajak saya dan Naya ikut serta sekalian. Family time ceritanya:D

Kebetulan saya bebas dinas jaga pada hari tersebut *tumben-tumbenan:p* sehingga saya iyakan saja ajakan suami. Setelahnya, as always, saya mulai menyurvey tempat-tempat yang akan dikunjungi selama di Malang.

Kami berangkat dini hari setelah shalat subuh dari Surabaya. Naya sangat excited walaupun semalaman sebelumnya tidak bisa tidur karena batuk pilek tertular teman sekelas. Jalanan tidak begitu ramai sehingga perjalanan santai kami bisa ditempuh hanya 2 jam. Naya tertidur sepanjang perjalanan dan baru bangun persis saat kami tiba di kota Malang.

Sesampainya di Malang, kami berkeliling mencari sarapan yang searah dengan hotel tempat menginap di Batu. Karena kesulitan mencari penjual makanan di pinggir jalan, kami memutuskan pergi ke Alun-alun kota Batu. Eh lucu lho tempatnya, sangat eye-catching! Ada bianglala warna-warni dan taman yang sungguh asri. Suami memesan nasi jagung dan batagor, sementara saya berdua Naya membeli pecel. Kami menyempatkan diri berkeliling di alun-alun kota Batu.

Setelah dari alun-alun, kami segera menuju Jatim Park 2. Berdasar survey hasil googling, saya memang lebih tertarik dengan Jatim Park 2 dibanding Jatim Park 1. Sayangnya, saat kami sampai di sana, Jatim Park 2 masih tutup. Mbak penjaga loket menyarankan kami ke Jatim Park 1 dulu karena jam bukanya yang satu setengah jam lebih awal dari Jatim Park 2. Okelah, kami pun berangkat ke Jatim Park 1.

Di sana rupanya loket baru dibuka. Membayar Rp. 75.000/orang, kami berhak menaiki semua wahana dan berkunjung ke museum pengetahuan, sains, taman sejarah dan tempat-tempat lainnya. Btw kalau weekdays, bayarnya hanya Rp. 50.000/orang. Lumayan murah ya!

Kami tidak lama di Jatim Park 1 karena Naya rupanya tidak enak badan, berulangkali minta pulang karena ingin tidur. Jadilah kami cuma sempat berfoto-foto saja:D
Sebenarnya, fasilitas permainan dan museum yang ada lumayan lengkap, hanya sayang menurut saya banyak yang terlihat ditelantarkan. Kurang maintenance-nya begitu.




Hanya sejam di Jatim Park 1, kami langsung menuju hotel untuk segera check-in. Karena kamar masih terisi penuh dan belum ada yang check-out, kami bertiga menunggu di mobil sambil tiduran:)))

Kami menginap di Singhasari Resort. Tempatnya sangat luas dengan fasilitas lengkap, mulai dari kids club, kids playground, fitness dan sauna area, sampai massage spa ada. Saya yang iseng baca-baca visitor's guide terkesan karena ada fasilitas babysitting segala di hotel ini. Keren ya:D

Di hotel, Naya panas tinggi dan meminta tidur. Jadilah saya menjaga Naya semalaman sampai tidak bisa mengikuti acara inti halal bihalal di malam hari. Rencana kami mengunjungi Museum Angkut pun buyar karena Naya sakit:)))

Keesokan paginya, sehabis sarapan kami langsung menuju ke Surabaya. Yaaaa..jauh dari ekpektasi ya, tapi saya senang karena bisa menghabiskan waktu dengan keluarga:)

See you next time, Malang!

Tuesday, August 12, 2014

M. Quraish Shihab Menjawab

Seperti yang pernah saya tulis di sini, saya memang sering kebingungan menjawab pertanyaan Naya soal berbagai hal. Tapi yang paling membuat saya galau bukan kepalang adalah kalau kebagian pertanyaan soal agama. Bukannya apa-apa, saya seringkali kesulitan menemukan cara menjelaskan sesederhana mungkin dengan bahasa sederhana yang dapat dimengerti Naya.

Pada akhirnya, saya menganggap pertanyaan-pertanyaan Naya tadi sebagai suatu "teguran" agar saya lebih rajin belajar dan memperdalam ilmu agama. Jujur, akhir-akhir ini saya memang jarang membaca buku agama, tetapi sekarang jadi sering mengunjungi bagian buku-buku agama di toko buku nih gegara Naya. Thank you ya kakak Aya!

Dari semua buku yang saya borong, ini adalah buku favorit saya!

Buku "M. Quraish Shihab Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Islam" ini adalah terbitan Lentera Hati, dan terdiri atas 172 halaman. Ada 9 bagian mulai dari tentang Allah, Nabi dan Rasul, al-Quran, Malaikat jin dan setan, hari kiamat dan akhirat sampai dengan Islam dan hubungan sosial. 

Terlepas dari issue beliau syiah yang entah benar atau engga, menurut saya Quraish Shihab berhasil merangkum pertanyaan-pertanyaan anak tentang Islam dan menjawabnya dengan sangat sederhana tanpa menghilangkan esensinya. Pertanyaan yang ada di buku ini memang benar-benar dari anak yang dihimpun oleh sekolah Cikal, Jakarta.

Salah satu contoh pertanyaan Naya yang saya temukan juga di buku ini misalnya:

"Allah itu laki-laki atau perempuan?"

Quraish Shihab menjawab:
Semua makhluk punya pasangan. Ada lelaki, ada perempuan, ada jantan dan ada betina, ada senang dan ada susah, ada langit dan ada bumi, ada malam dan ada siang, ada positif dan ada negatif, demikian seterusnya. Allah menciptakan seperti itu untuk kemaslahatan yang dibutuhkan manusia dan agar makhluk meraih apa yang diharapkan melalui kerja sama atau kehadiran pasangannya. Manusia misalnya, ingin hidup tenang, mencintai dan dicintai, memiliki anak dan keturunan. Nah, keinginannya itu tidak dapat wujud kecuali ada pasangannya, ada lelaki dan ada perempuan. Allah tidak demikian. Dia Maha Sempurna, karena itu Dia tidak memiliki pasangan. Dia bukan lelaki, bukan juga perempuan, karena itu pula Allah tidak mempunyai anak, karena kalau Dia beranak berarti Dia butuh, sedang Allah tidak membutuhkan apa pun. Allah berfirman: "Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan, agar kamu sadar (bahwa hanya Dia yang Sempurna, tanpa pasangan..bukan lelaki dan bukan juga perempuan)" (QS. adz-Dzariyat [51]:49).

Saya suka sekali membaca buku ini, very recommended!

Saturday, August 9, 2014

Naya dan Agama

Berikut adalah beberapa pertanyaan Naya menyangkut agama yang sukses membuat saya kebingungan menjawab.

Naya: "Mama, kenapa sih kita halus makan? Kan nanti pupup juga."
Meta: "Iya kak, kalau engga makan nanti kita sakit."
Naya: "Telus kalau sakit nanti mati? Katanya semua olang pasti mati nanti. Kenapa halus hidup kalau gitu?"
Meta: "Itu namanya siklus kak. Pasti ada awal, ada akhir. Ada hidup, ada mati. Ada sehat, ada sakit."
Naya: "Kenapa Allah bikin siklus itu ma? Kan lebih enak kalau engga usah ada yang hidup bial ga ada yang mati. Ga usah sehat, tapi ga ada yang sakit juga."

Lain kesempatan,
Naya: "Mama, Allah itu baik ya?"
Meta: "Iya kak, Maha Baik."
Naya: "Manusia yang ciptain Allah?"
Meta: "Iya kak."
Naya: "Telus kenapa ada yang masuk nelaka?"
Meta: "Ya manusianya yang nakal, engga baik berarti"
Naya: "Kenapa Allah engga ciptain manusianya baik aja ma bial masuk surga semua"
Meta: "Semua manusia itu nantinya pasti masuk surga kok kak. Tapi harus dihukum dulu sesuai tingkah lakunya di dunia"
Naya: "Kenapa ma kok begitu? Kalau memang baik, mustinya Allah "

Suatu pagi,
Naya: "Mama, kenapa kakak agamanya Islam? Apa cuma karena mama sama papa agamanya Islam kakak jadi halus Islam? Kalau nanti kakak udah gede maunya agama Klisten atau Budha gimana? Kalau kakak engga mau beldoa di mesjid, maunya di geleja gimana? Kan agamanya kakak. Mustinya ya telselah kakak."
Meta: *speechless*

Lain hari,
Naya: "Mama, kenapa sih Quran kok bahasa Alab? Kenapa engga bahasa Indonesia aja?"
Meta: "Iya kak, supaya artinya kalau diterjemahin ke bahasa lain engga berubah."
Naya: "Memangnya yang neljemahin engga ngelti bahasa Alab? Kok bisa sampai belubah?"

Kalau ini adalah pertanyaan Naya saat masih berusia 2 tahun:
Naya: "Mama, Allah itu cewek apa cowok sih?"
Meta: "Bukan cewek bukan cowok kak."
Naya: "Mama liat dong Allah pake pita engga, pake lok engga, pake celana engga. Mama tuh pelnah ketemu Allah engga sih?"
Meta: "Engga kak."
Naya: "Mama mustinya engga usah solat. Jangan-jangan Allah itu cuma pula-pula aja, engga ada."
Meta: "Ada kak. Yang ciptain kita kan Allah. Allah itu kayak angin, engga ada wujudnya kan? Tapi kan ada."
Naya: "Mama, angin itu kan ada lasanya, adem. Allah apa lasanya?"
Meta: *bingung*

Serius, saya seringkali kebingungan menanggapi pertanyaan Naya terutama soal agama. Saya khawatir salah menjawab, tapi menjawab dengan bahasa sederhana yang bisa dimengerti unyil berusia 3 tahun ini juga tidaklah mudah. PR buat saya nih, mungkin jadi teguran dari Allah juga supaya saya lebih memperdalam ilmu agama ya:))))

Saya sudah membeli beberapa buku agama untuk dibaca, nanti saya share ya hasilnya:D
Sementara ini, doakan saya supaya Naya engga bertanya yang macam-macam dulu:p

Friday, August 8, 2014

Perjalanan Naya

Menyambung kembali tulisan soal Naya yang ini nih!

Setelah mendapat surat rekomendasi dari psikolog yang khusus menangani anak gifted, kali ini PR saya adalah mencari sekolah yang bersedia menerima Naya di TK-B dalam usianya yang tiga tahun. Saya sendiri sejujurnya sudah dalam taraf "mutung" karena sudah mendaftar ke 15 sekolah, mengikuti seleksi masuk, tes psikologi sampai tes wawancara tanpa hasil. Saya khawatir kali ini akan mengalami hal yang sama. Saya sih personally engga masalah ya, tapi bagaimana dengan psikis Naya? Saya sudah mencoba mati-matian mengembalikan kepercayaan diri Naya setelah jadi minderan gegara tidak diterima di 15 sekolah tsb. Kalau dengan surat rekomendasi psikolog yang ini pun saya harus kembali mengulang pengalaman yang sama, saya angkat tangan deh! Mendingan engga usah mencoba mendaftar.

Syukurlah, dari psikolog yang menangani Naya, saya mendapatkan 3 sekolah yang kemungkinan mau menerima Naya. Sekolah ini ketiganya adalah sekolah umum tapi menerima anak special needs di kelas umumnya. Saya si ratu survey segera mendatangi ketiga sekolah ini untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Naya sengaja tidak saya ajak supaya seandainya Naya tidak bisa diterima, tidak akan kecewa.

Sekolah yang pertama adalah sekolah yang cukup terkenal. Saya sering mendengar namanya direkomendasikan di forum ibu-ibu. Lokasinya tidak jauh dari rumah, dan bangunannya bagus. Secara umum sesuai deh dengan kriteria saya dalam mencari sekolah untuk Naya. Hanya saja, yang cukup mengganjal adalah sekolah ini berbasis agama Kristen. Saya engga keberatan karena saya pun dulu pernah bersekolah di sekolah Katolik selama 9 tahun. Tapiiiii, rupanya di sekolah tersebut, agama Kristen diterapkan secara menyeluruh. Apapun dihubungkan dengan agama. Saya jadi pikir-pikir dulu deh. Apalagi Naya masih sangat muda. Jadilah sekolah pertama ini saya skip.

Sekolah yang kedua pun letaknya tidak jauh dari rumah. Saya pernah meliput sekolah ini waktu masih bekerja di stasiun televisi. Sekolah ini cukup terkenal dan bisa dibilang unggulan di antara sekolah swasta. Namun karena berbasis agama Kristen juga, saya skip lagilah sekolah ini.

Sekolah yang ketiga tidak pernah saya dengar namanya sebelum ini. Lokasinya lumayan jauh dibanding kedua sekolah lainnya. Saya googling untuk mencari review dari orangtua murid, tapi hampir tidak ada yang saya temukan. Saya mulai ragu-ragu. Kok namanya engga terkenal begini ya? Jangan-jangan kualitasnya pun diragukan?

Karena tidak ada pilihan lagi, saya menelepon pihak sekolah dan diminta datang di hari yang ditentukan. Saya ingat waktu itu adalah hari pertama tahun ajaran baru anak sekolah. (Naya memang terlambat mendaftar karena ya itu tadi, emaknya yang kece ini sempat mutung:p)

Saya datang ke sekolahnya mengajak Naya karena kepala sekolah ybs ingin mengobservasi Naya. Ternyata sekolah ini termasuk baru, sehingga bangunannya masih bagus dengan halaman yang cukup luas. Menggunakan metode pengajaran Montessori, sekolah ini berbasis agama Budha. Saya mulai kembali ragu. Namun setelah berdiskusi dengan kepala sekolahnya, saya malah jadi yakin menyekolahkan Naya di sana. Menurut beliau, walaupun berbasis Budha namun di playgroup serta TK, anak-anak diajarkan agama secara universal. Barulah di tingkat setelahnya, diajarkan agama sesuai kepercayaannya. Saya melihat beberapa foto murid berjilbab di website mereka:)

Hari itu, Naya diminta ikut trial dengan teman-teman dari TK-B. Saya melihat sendiri betapa bersemangatnya anak-anak sekolah tsb bersekolah. Mereka tampak enjoy sekali dalam belajar. Setiap pagi ada circle time dimana murid playgroup A-B-TK A-TK B berkumpul membentuk lingkaran dan saling bercerita tentang apa saja, berdoa dan bernyanyi bersama. Hal ini supaya anak dapat menempatkan diri saat bergaul dengan anak yang lebih kecil, sebaya dan lebih besar. Ini yang saya cari buat Naya!

Saya melihat betapa anak-anak yang bersekolah di sana merasa senang belajar, tidak ada paksaan sama sekali. Saya bisa bilang begini karena di sekolah-sekolah Naya sebelumnya, saya sering melihat murid-murid yang ngambek atau menangis karena harus masuk sekolah. Di sekolah ini, tidak ada pemandangan begitu yang saya temukan. 

Awal trial, Naya tampak masih takut namun lama-lama malah dia yang bersemangat sekali bersekolah. Sepulang sekolah, Naya menelepon saya meminta dibelikan pensil baru, penghapus baru serta rautan baru untuk bersekolah di TK-B. Setiap saat Naya menceritakan harinya di TK-B. Saya belum pernah lho melihat Naya se-excited ini, sesenang ini dan sesemangat ini.

Setelah menjalani trial selama 2 hari, saya diminta menunggu kabar apakah Naya bisa diterima di TK-B atau tidak. Serius, saya menunggu dengan deg-degan. Naya sudah bertanya terus kapan dia masuk sekolah di TK-B. Naya sudah meminta dibuatkan seragam, dibelikan tas baru dan sepatu baru untuk TK-B. Setiap hari Naya menghapal bunyi Pancasila, menghapal lagu-lagu yang diajarkan di TK-B sampai berlatih menggunting yang rapi karena waktu trial diajarkan menggunting. Bagaimana coba kalau Naya engga diterima? Duh membayangkannya saja hancur hati ini:'( Setiap hari, Naya tak lupa berdoa kepada Allah meminta supaya diterima di TK-B. Engga sampai hati saya melihatnya.

Hampir 3 minggu menunggu (karena liburan panjang lebaran), saya dipanggil untuk datang ke sekolah. Saya benar-benar dag-dig-dug. Diterima atau engga? Kalau engga diterima, saya musti bilang apa ke Naya? Kalau engga diterima, apa rencana saya selanjutnya buat Naya? Segala pikiran sejenis berkecamuk di otak saya.

Di hari yang ditentukan, saya ijin sebentar dari rumah sakit untuk datang ke sekolah. Saya sengaja tidak membawa Naya. Setelah menunggu beberapa menit, saya bertemu kepala sekolah yang memberikan kabar menyenangkan buat kami. Alhamdulillah, Naya diterima!
Anak unyilku sudah TK-B:')

Naya super happy mendengar kabar ini, saya juga jadi ikut happy:D

Semoga Naya merasa nyaman di sekolahnya yang baru ini ya, amiiiin!

Thursday, August 7, 2014

A Better Person

Tulisan ini dibuat dalam rangka hari anak nasional beberapa hari yang lalu. Baru tahu kalau masih nangkring di draft:)))) Maklum deh ya, sibuk mudik *alesan*:p

The best love is the one that will bring out your best qualities and make you want to be a better person.
Sejak dulu kala, saya dikenal teman-teman terdekat dan keluarga karena pelupa. Bukan pelupa terhadap hal-hal penting seperti dosis obat atau hasil pemeriksaan laboratorium pasien lho. Kalau soal yang saya anggap penting seperti ini, wah saya bisa ingat berbulan-bulan:D

Saya memang cenderung melupakan (atau kurang memerhatikan ya?) hal-hal sepele seperti di mana menaruh handphone, di mana meletakkan kunci, di sebelah mana memarkir mobil dsb dsb. Saking parahnya "penyakit" ini, kerabat dekat saya engga pernah heran kalau menemukan handphone saya yang konon sudah hilang berhari-hari di dalam freezer kulkas. Pernah juga jam tangan yang selalu saya pakai tiap hari ditemukan di dalam tempat sampah. Atau yang sempat membuat saya malu bukan kepalang, melaporkan kehilangan mobil di tempat parkir salah satu mal Surabaya sampai membuat para satpam heboh, lalu baru ingat kalau saya datang ke mal tersebut dengan taksi dan bukannya membawa mobil sendiri:p

Setelah ada Naya, saya mulai memerhatikan hal-hal yang selama ini saya anggap sepele dengan lebih fokus. Saya engga pengin ada kejadian meninggalkan Naya di mal karena lupa datang ke mal dengan Naya (Pssstt.. beberapa tahun yang lalu saya pernah meninggalkan ponakan saya karena lupa:p). Saya juga engga pengin kelupaan menyimpan ASIP di kulkas sehingga harus dibuang. Saat ini Alhamdulillah, saya merasa sudah jauh berubah sejak sebelum ada Naya. Saya tidak pernah lagi kelupaan di mana menaruh barang, tidak lagi juga lupa dimana memarkir mobil:D

Saya merasa banyak berubah setelah ada Naya. Bukan hanya sifat pelupa saya saja, tapi masih banyak yang lainnya.

Dulu, hidup saya cenderung tidak teratur. Sesempatnya saja. Saya bisa makan siang pukul 4 sore, dan makan malam pukul 10 malam. Saya bisa shalat Maghrib sesaat sebelum azan Isya berkumandang. Saya sering menonton infotainement yang sebetulnya setiap hari isinya sama saja. Saya bekerja hampir 20 jam sehari, dengan jadwal tidur yang tak tentu. Kadang tidur dalam sehari, kadang juga engga sama sekali.

Setelah ada Naya, saya merasakan hidup saya menjadi jauh lebih teratur. Saya tidak mau Naya mencontoh saya menjadi tidak teratur. Sehingga saya mendisiplinkan diri untuk membuat hidup saya menjadi teratur. Saya tidur tepat waktu, shalat pun diusahakan tepat waktu, makan pagi-siang-malam tepat waktu. Saya merasa lebih sehat dan segar:D

Dulu, saya paling ogah berolahraga. -sekarang juga sih sebenarnya;p- tapi karena sering berkeliling di taman-taman kota Surabaya dengan Naya, saya membiasakan diri untuk setidaknya berjalan sehatlah. Saya juga hobi ngemal:p Rasanya dulu tiap weekend hampir pasti berjalan-jalan ke mal. Setelah ada Naya, saya ingin Naya merasakan weekend tanpa mal. Berwisata kan tidak harus ke mal ya? Jadilah saya jarang ke mal. Lumayaaaan, irit banyak:p

Its true, the best love is the one that makes you a better person. I love my babygirl, and it makes me what i am today. A better person:)

Wednesday, August 6, 2014

Temper Tantrum

Kemarin, saya dicurhati seorang teman yang mempunyai anak sebaya Naya. Menurutnya, Rico, anggap saja begitu nama sang anak, gampang sekali berubah menjadi "monster" sejak berulang tahun yang kedua. Apa saja bisa membuatnya marah besar. Tidak diijinkan menonton televisi, Rico akan menangis, berteriak-teriak bahkan meludahi ibunya. Tidak diperbolehkan memakan permen terlalu banyak, Rico bisa sampai menjambak rambut neneknya. Saat di mall dan meminta mainan, Rico akan bergulingan di lantai, menendangi kaki ibunya sampai dibelikan. Begitu seterusnya.

"Lama-lama karena males dan capek, ya sudahlah, gue kabulkan semua permintaannya. Daripada gue emosi, darah tinggi, stroke terus mati muda?" Begitu komentar teman saya yang disambung dengan pertanyaan, "Emang anak gue normal ga sih? Menurut lo musti dibawa ke psikiater anak gitu ga, Met?"

Saya yakin, apa yang dialami oleh teman saya banyak juga dialami oleh orangtua lainnya. Temper Tantrum, istilahnya, adalah perilaku tidak menyenangkan, mengganggu sampai merusak yang merupakan ledakan luapan emosi tidak terkendali. Temper tantrum adalah bagian normal dari proses perkembangan anak, satu periode perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Namanya juga periode ya, pasti akan ada akhirnya. Biasanya sih, memasuki umur 4 tahun mulai hilang kok.

Tantrum pada umumnya mulai muncul saat anak berusia setahun dan semakin parah di usia 2 tahun. Makanya ada istilah Terrible Two untuk mereka yang berumur 2 tahun:D Kenapa 2 tahun? Karena di umur tersebut, anak baru mulai memiliki "kesadaran diri". Namun karena kemampuan berkomunikasinya masih sangat terbatas, anak jadi tidak bisa menyampaikan maksudnya. Inilah yang membuat emosi anak meledak-ledak.

Ada beberapa penyebab munculnya temper tantrum ini. Penyebab tersering adalah lelah dan lapar yang membuat anak lebih sensitif dan gampang emosi. Yah ini sih orang dewasa kayak kita juga ya! Kalau lelah atau lapar bawaannya pengin makan orang:p Selain itu adalah mencari perhatian atau kalau keinginannya tidak dituruti. Ada penelitian yang mengungkapkan faktor penyebab tantrum dari pihak lingkungan (bukan dari anak sendiri) , yaitu kurangnya perhatian orangtua, sibling rivalry, disiplin atau peraturan yang tidak konsisten, terlalu protektif atau justru terlalu permisif.

Bagaimana dengan Naya?
Alhamdulillah, sampai saat ini (engga tahu lagi kelak ya, tapi engga minta juga:p) Naya engga pernah tantrum yang sampai mengganggu saya. Dulu memang Naya bakal rewel saat mengantuk. Tapi itu pun dia hanya akan merengek dan ngomong "Pokoknya kakak engga mau bobo! Kakak engga mau bobo! Kakak engga mau bobo!" dst dst dst sampai akhirnya dia tertidur dengan sendirinya:)))) Sekarang sih sudah engga lagi:)

Dulu, waktu Naya tantrum, ini yang selalu saya lakukan. Mungkin bisa dijadikan masukan  buat orangtua yang pusing menghadapi anak tantrum nih!

First thing first, jangan ikutan tantrum:))) Ini penting banget. Karena kalau kita jadi ikutan emosi, engga bakal ada berhentinya. Anak malah jadi membenarkan ngamuk-ngamuknya dia karena ada contoh nyata di depan mata. "Mama aja ngamuk-ngamuk kok sama aku. Kenapa aku engga boleh ngamuk juga?"

Kedua, cuek. Sampai dia tenang, saya engga bakalan mendekati atau mengajak bicara. Saya memang membuat "peraturan" dengan Naya. Kalau Naya ingin sesuatu dari saya, harus langsung dibicarakan. Kalau dia malah rewel atau menangis, saya tidak akan mengajak bicara atau menanyakan ada apa sampai ia tenang. Terkadang, saya peluk Naya sampai dia tenang. Tanpa bicara apapun.

Saat anak sudah mulai tenang, barulah cari tahu apa penyebab tantrumnya. Jika karena keinginannya tidak dipenuhi, jelaskan kenapa kita tidak bisa mengabulkan secara sederhana.

Jangan menawarkan "imbalan" untuk menghentikan tantrumnya, karena bisa menjadi kebiasaan untuk anak.

Jangan lupa beri pujian, pelukan atau ciuman kalau anak sudah berhasil mengendalikan tantrum.

Yang terakhir, biasanya saya minta Naya meminta maaf karena sudah merengek-rengek. Ini untuk membuat Naya tahu kalau apa yang dia lakukan itu salah, supaya tidak diulangi lagi.

Sabar ya moms! Tantrum pasti berlalu:)

antrum sebenarnya adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi pada anak. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.

Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/anak/mengenal-temper-tantrum-pada-si-kecil
antrum sebenarnya adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi pada anak. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.

Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/anak/mengenal-temper-tantrum-pada-si-kecil

Tuesday, August 5, 2014

My Lil Drama Queen

Sudah pada tahu dong ya kalau anak gadis saya satu-satunya ini super sensitip *iya pake P*?
Saking sensitifnya, terkadang respon Naya terhadap suatu hal menurut saya bisa lebay banget. Penuh drama deh:)))

Untunglah saya engga mengijinkan tv lokal menyala di rumah. Kebayang engga kalau dia menonton drama ala-ala telenovela? Hadeuh, alamat beneran jadi drama queen nanti.

Beberapa contoh betapa "drama" nya Naya.

Suatu hari, sepulang mudik, saya dan Naya pergi naik mobil berdua saja ke rumah. Di jalan, kami ngobrol-ngobrol.
M: "Kak, mama sedih deh. Liburnya selesai, jauh lagi dari uti nih. Kapan ya uti ke Surabaya?"
N: "Mama kok gitu sih?" *pasang tampang manyun*
M: "Ha? Gitu gimana kak?"
N: "Ya gitu, kok maunya deket-deket uti telus?"
M: "Lho, kan uti mamanya mama. Ya engga apa-apa dong?"
N: "Kalau mama mau deket-deket uti telus, nanti mama kakak tinggal lho ya! Mama tu halus pilih. Uti atau kakak!" *ngambek*

Lain kesempatan, saya dinas jaga malam di rumah sakit. Memang biasanya, saya biasakan menyempatkan diri menelepon Naya menanyakan kabarnya. Nah hari itu, saking hecticnya pasien yang ada, saya engga sempat menelepon Naya. Sampai akhirnya, Naya yang menelepon saya.
N: "Halo mama? Mama kok engga nelpon kakak Aya? Mama sudah lupa ya sama kakak? Lupa punya anak namanya kakak Aya?" *ngambek*
M: *nahanngakak*

Suatu sore, saya habis pulang jaga dan berpenampakan mirip zombie karena tidak tidur 2 hari. Sampai rumah disambut Naya yang ngoceh bertanya tak henti-henti. Jujur, kepala saya pusing nyut-nyutan mendengarnya.
M: "Kak, bisa diem sebentar engga? Mama ngantuk banget, mau bobo dulu. Nanti lagi ya."
N: "Aaaah mama, kakak itu maunya sekalang! Mama jaga telus, ke lumah sakit telus, bobo telus, waktu sama kakaknya kapan?"
M: *langsungmelek* "Iya maaf yaaaa. Engga apa-apa deh kakak mau nanya terus."
N: "Mama pusing ya kalau kakak ngomong telus? Kakak Aya itu emang gitu anaknya ma. Sukanya nanya-nanya telus. Kalau mama engga suka, ganti anak aja. Mama ganti anak bayi yang engga bisa ngomong aja." *ngambek*

Yasaalaaaammmm... Saya yang super engga sensitif ini sering kesulitan berhadapan dengan anak gadis yang super sensitif.

Yang terbaru, kemarin saya pulang agak sore karena harus kuliah S2 terlebih dahulu. Saya meminta Naya memeluk saya. Lihatlah bagaimana jawabannya:
video

Wednesday, July 30, 2014

Kakak Aya Pulang Kampung Part 3

Hari lebaran pertama, kami sekeluarga bersiap sejak subuh utuk shalat Ied di mesjid dekat rumah. Suami agak bingung karena tidak seperti di Surabaya, shalat Ied di mesjid agung Bandung lelaki dan wanita boleh digabung.


Setelah shalat Ied, kami bersalaman dan bermaaf-maafan, kemudian makaaaaan!:D
Mama saya memasak sop buntut dan sambal ati kentang, sementara saya menyumbang rendang. Menyumbang, bukan memasak:p Saya memesan rendang langganan yang menjadi menu unggulan di rumah haha. Bahkan suami saya yang engga suka rendang pun jadi ketagihan lho! Naya sih engga perlu ditanya ya:p Kalau mau memesan rendang Unisyam yang enak banget ini, bisa lihat instagram @ratufitri. Enaaaaak!

Acara selanjutnya setelah makan-makan adalah nyekar atau berziarah ke makam ayah saya. Pemakaman Sirnaraga penuuuuuh sesak, sepertinya semua orang pun punya acara yang sama dengan keluarga kami:D

Setelah itu, kami pergi ke Punclut, daerah atas utara Cimbuleuit untuk makan siang. Buset dah, makaaaan melulu ya acaranya:p

Di Punclut, kami menyantap makanan khas Sunda di saung bambu. Duh suasananya mantap benar:p
Setelah dari Punclut, saya, mama dan Naya pergi ke salah satu departement store untuk membeli otoped. Jadi ceritanya, mama saya sudah lama menjanjikan Naya otoped sebagai hadiah lebaran. Karena ditagih terus menerus oleh anak gadis, pergilah kami membeli mainan baru Naya. Saya berharap sekali Naya suka dan mau bermain otoped.

Naya memilih sendiri otoped dan helmet berwarna biru bergambar Mickey Mouse. Tapi walaupun excited, sepertinya lagi-lagi engga bertahan lama nih. Soalnya, baru dipakai 2 hari, sekarang sudah teronggok di pojokan rumah-_____-"

Keesokan harinya, saya dan mama mengawali hari dengan berkunjung ke mal untuk membelikan keponakan saya sejumlah baju baru. Lalu, saya, suami dan Naya berjalan-jalan mengelilingi kota Bandung. Suami "nyangkut" cukup lama di Eiger Store. Dia excited berat melihat perlengkapan backpacking yang super komplit. Hari kedua lebaran ini lalu lintas Bandung mulai macet. Penuh dimana-mana. Kami pergi ke Trans Studio Mall, hanya untuk kembali lagi karena engga kebagian tempat parkir. Karena anak gadis mulai kelaparan, kami ke Atmosphere untuk makan. Good place, good ambience and good foods:)

Overall, 5 hari di Bandung benar-benar menyenangkan untuk kami bertiga. Saya, suami dan Naya menjadi semakin dekat. Saya juga senang sekali bisa berlebaran bersama mama dan keluarga kakak saya. It was the best Eid Mubarak since years! Semoga tahun depan bisa berjumpa Ramadhan lagi, bisa berlebaran bersama lagi, amiiiiiiin!

Kakak Aya Pulang Kampung Part 2


Masih dalam rangkaian acara #mudik lebaran, hari ke-2 kami di Bandung diawali dengan kunjungan ke De'Ranch Lembang. Karena sehari sebelumnya saat ke Kampung Gajah jalan bisa dibilang kosong, kami pede banget kalau kali ini pun begitu. Rupanya justru sebaliknya saudara-saudara. Maceeeeet, hiks! Di De'Ranch-nya pun banyak sekali pengunjung, sejujurnya saya hampir tidak bisa menikmati:(

Tiket masuk yang harus dibayar Rp. 8.000,00/orang. Cuaca hari itu cukup cerah, dengan udara dingin. Cocok untuk bermain deh! Di De'Ranch ini, ada beberapa wahana permainan seperti horse riding, balon air, sepeda, memanah sampai membuat kue. Naya hanya meminta naik kuda dan membuat kue. Biaya yang dikeluarkan untuk setiap permainan sekitar Rp. 20.000,00-Rp. 35.000,00. 

Saat menghias kue, kita juga bisa membawa pulang kue dan sertifikat. Lucu ya?:D

Saat melihat-lihat permainan lain, rupanya Naya tertarik bermain balon air. Saya sendiri ragu apakah Naya berani atau tidak karena melihat pengunjung lain yang bermain di balon air rata-rata anak yang lebih besar, antara 8-10 tahun. Tapi Naya bolak/i meminta. Saya tanyakan pada petugas yang berjaga, bolehkan anak berusia 3 tahun seperti Naya ikut bermain, menurutnya boleh asal berani.
Jadilah Naya saya daftarkan bermain balon air. Saat masuk ke dalam balon dan udara mulai ditiupkan, Naya senang sekali dan tertawa-tawa. Lalu begitu sudah dilemparkan ke dalam air, Naya mulai ketakutan dan #kemudianmewek :)))) Rugi bener dah, bayar Rp. 20.000 hanya untuk sekian detik. Hahaha tapi saya bangga Naya sudah berani mau mencoba:D

Di De'Ranch, banyak juga jajanan yang dijual, kebanyakan mengingatkan saya pada masa kecil. Misalnya es goyang, gulali, dll. Namun saya tidak tahu apakah rasanya oke atau tidak karena saya berpuasa:p Kata Naya sih, enak banget:p

Karena pengunjung De'Ranch sudah terlalu ramai, kami memutuskan pulang dan menuju Floating Market. Tempat ini konon lagi happening berat. Menawarkan pemandangan alam yang luar biasa, dan ada kawasan khusus penjual makanan yang ada di dalam kapal, jadi suasananya benar-benar macam floating market. Untuk membeli jajanan di sini, kita harus membeli koin terlebih dahulu. Lagi-lagi, karena pengunjung terlalu ramai, daripada asma saya kambuh, kami hanya sebentar di tempat ini dan langsung pulang:D



Sampai di rumah, karena gempor, Naya langsung tidur. Saya sendiri awalnya berniat mau membantu mama menyiapkan hidangan lebaran. Tapi apa mau dikata, gegara ngelonin anak gadis, saya pun ikut bablaaaaas sampai pagi:)))

Bagaimana kisah lebaran keluarga kami? Tunggu di postingan selanjutnya ya!:D

Tuesday, July 29, 2014

Idul Fitri 1435H

Kami sekeluarga mengucapkan 'Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin. Selamat berkumpul dengan keluarga merayakan lebaran:)'



Sunday, July 27, 2014

Kakak Aya Pulang Kampung Part 1



Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, setelah sekian lama akhirnya tahun ini Alhamdulillah saya bisa mudik juga untuk berlebaran di Bandung. Yaaaayyy!

Dari jauh hari sebelumnya, saya sudah survey kiri kanan untuk menyusun acara selama kami di Bandung. Deg-degan juga sih, karena saya tidak bisa memprediksi apakah di saat libur lebaran seperti sekarang tempat wisata yang ingin dikunjungi padat atau tidak. Malas juga kan ya kalau ramai sekali, malah nantinya jadi engga menikmati.

Hari Jumat pagi, saya dan suami masih harus ke rumah sakit dulu. Naya sudah bingung engga karuan terkait kelincinya.
N: "Mama, kalau kita pulang kampung, Clovel gimana? Nanti siapa yang kasih makan? Mama belikan Clovel tiket pesawat juga dong biar Clovel mudik juga."
M: "Engga bisa kak, di pesawat engga boleh bawa kelinci."
N: "Engga apa-apa ma. Nanti bial Clovel kakak pangku. Nanti kakak yang minta ijin paknya bial boleh."
M: "Engga boleh kak. Nanti bisa-bisa kita engga jadi mudik lho."
N: *mewek*--> Super susssssaaaah deh punya anak super sensih!

Untunglah ribut-ribut soal kelinci engga bertahan lama, karena diselamatkan yangti yang datang untuk menjemput si Clover. Naya tenang, kami senang:D

Sepulang dari rumah sakit, kami semua langsung ke bandara. Naya senaaaang sekali, tak hentinya menyanyi dan bertanya di jalan.

"Mama, kenapa pesawat sayapnya diem aja bisa telbang? Kok kalau bulung halus gelak-gelak sayapnya? Tapi kok helikoptel sayapnya halus mutel-mutel?"

"Papa, kenapa sun itu kalau digambal ada galis-galis di kelilingnya? Kok kalau moon engga ada? Kan sama-sama ada sinalnya?"

"Mama, kenapa semua olang Islam halus lebalan? Emang kalau engga lebalan kenapa?"

dan seterusnya, dan seterusnya...

Kami sampai di bandara 1,5 jam sebelum boarding sehingga masih sempat bersantai dulu dan makan siang. (Kebetulan saya sedang engga puasa). Bandara saat itu terhitung belum begitu ramai, mungkin karena masih hari kerja terakhir yaa. Di pesawat pun Naya senang sekali, bertanya tak ada habisnya.

Kakak Aya pulang kampung
Alhamdulillah penerbangan berjalan cukup lancar. Kami tiba di Bandung sesuai waktu perkiraan. Sampai di rumah, kami berkangen-kangenan dengan keluarga. Ada anggota baru di keluarga kami, keponakan saya. Lucuuuu banget! Huks, jadi pengin punya bayi lagi #eh #kode :))))

Masih pantes kan ya gendong bayi? #kode
Hari pertama ini, kami habiskan dengan mengunjungi rumah makan Rasa. Rumah makan ini sudah berdiri sejak jaman dahulu kala dan mempunyai nilai nostalgia tersendiri buat saya. Es krim homemadenya tak ada tandingan deh! Naya senang sekali karena diperbolehkan makan es krim. Dia memesan ballerina ice cream yang langsung dihabiskan. Tandas.

Keesokan harinya, kami pergi ke Jonas Banda untuk berfoto keluarga. Tema yang disiapkan adalah hitam putih. Saya sudah lamaaaaa banget engga punya foto dengan mama dan kakak, jadilah semangat sekali saat diajak berfoto:D

Karena tergoda saat melihat-lihat contoh foto lain yang lucu-lucu, akhirnya saya juga memesan paket foto keluarga untuk berfoto dengan suami dan Naya. Hasilnya lucu-lucu lho! Nanti saya upload kalau sudah selesai yaaa. Pemotretan berjalan cukup cepat karena semua banci foto:))) Naya sih jangan ditanya ya, foto belum dimulai, eh dia sudah pose duluan:))))

Sepulang dari Jonas, kami bertiga melanjutkan petualangan ke Kampung Gajah Wonderland. Lokasi tempat rekreasi ini terletak di Bandung Utara, tidak begitu jauh dari rumah saya. Sepanjang perjalanan, Naya tertidur. Kurang lebih 45 menit (karena macet), kami sampai juga di Kampung Gajah.

Naya semangat sekali melihat permainan-permainan yang ada di sini. Saya was-was karena cuaca terlihat mendung dan mulai ada tetesan air hujan. Kasihan juga kan ya kalau Naya engga jadi main karena hujan? Eh tanpa disuruh, Naya langsung berdoa kepada Allah memohon tidak hujan. Saya kaget juga:)))
Alhamdulillah, hujan tidak menunjukkan tanda-tanda kembali turun.

Untuk bermain di Kampung Gajah, kita bisa membeli tiket terusan seharga Rp. 150.000,00 (Weekdays) atau Rp. 200.000,00 (Weekend). Saya memutuskan untuk tidak membeli tiket terusan karena merasa banyak permainan yang belum bisa dicoba Naya. Ternyata keputusan saya tepaaaat sekali saudara-saudara:D Seharian bermain, kalau saya hitung-hitung total damage cost untuk kami bertiga tidak sampai Rp. 250.000,00.  Bayangkan kalau kami membeli terusan untuk bertiga jadi Rp. 600.000,00. Jauh kan:D #emakirit


Walaupun mendung, Bandung tidak hujan siang itu sehingga pas rasanya untuk bermain. Mungkin karena masih bulan puasa, Kampung Gajah tidak ramai sama sekali. Kami bisa bermain tanpa mengantri lho! Padahal kata orang-orang, biasanya kalau weekend Kampung Gajah itu ramai minta ampun.

Kami mencoba berbagai macam permainan, sepuasnya deh. 
Setelah puas -dan gempor (emaknya)-, kami pulang ke rumah. Wah jalanan mulai macet, stress banget lihatnya. Tapi tetap saja Alhamdulillah senang sekali:)

DI rumah, kami berbuka puasa bersama (Syukurlah saya sudah puasa lagi), nikmat banget. Semoga bisa terulang tahun depan ya:')

Nantikan kembali kisah kakak Aya pulang kampung part selanjutnya:D

Thursday, July 24, 2014

Pediatric 2010

Lima tahun yang lalu, kami bertemu untuk pertama kalinya. Latar belakang kami berbeda jauh. Ada yang dari Aceh, ada yang dari Papua. Ada yang fresh baru saja lulus kuliah, ada yang sudah berbelas tahun meninggalkan kuliah. Ada yang sudah menjabat sebagai kepala Puskesmas bertahun-tahun, ada yang bahkan belum pernah bekerja. Ada yang sudah berkeluarga dan beranak tiga, ada yang belum menikah. Ada yang terbiasa hidup di kota besar, ada yang datang dari desa. Ada yang terbiasa dan lancar berurusan dengan laptop dan segala softwarenya, ada yang baru saja belajar.

Lima tahun yang lalu, kami datang ke tempat ini dengan satu tujuan dan harapan, menjadi dokter spesialis anak yang baik.
Selama lima tahun, kami berjuang bersama, melewati hari-hari penuh keringat, darah dan air mata. Semakin lama, kami semakin mengenal karakter masing-masing. Ada yang keibuan, mengayomi semua temannya layaknya seorang ibu pertiwi. Ada yang lugu, polos dan tegas. Ada juga yang cuek bebek. Ada yang super sensitif, ada yang tidak sensitif sama sekali:))) Lengkap.

Pertengkaran di antara kami sudah menjadi hal biasa. Urusan pasien di rumah sakit atau pekerjaan rumah sakit lain yang membuat kami "under pressure" menjadikan kami mudah sekali terpancing emosi. Sakit hati, ngambek, sampai sandal terbang menghiasi kisah kami:)))) Tapi Alhamdulillah, justru pertengkaran-pertengkaran itu yang membuat kami semakin kuat. What doesnt kill you makes you stronger, right?:D

Segala masalah yang terjadi pada masing-masing dari kami selama lima tahun ini terlewati dengan dukungan, doa, bantuan, perhatian dari semua. Bukan hanya masalah di rumah sakit, tapi segalanya. Masalah kesehatan, masalah rumah tangga sampai masalah keluarga.

Kami bukan lagi hanya sekadar teman sejawat, kolega atau sahabat. Kami adalah keluarga, Keluarga besar yang saling memaklumi perbedaan karakter, status dan latar belakang masing-masing. Keluarga besar yang selalu siap membantu. Keluarga yang selalu siap saling mengingatkan saat anggotanya salah, yang selalu ada.


We may not have it all together. But together, we have it all:)

Monday, July 21, 2014

Saat Semua Mudik


Tidak terasa ya sebentar lagi kita sudah akan merayakan hari lebaran. Pasti banyak yang sudah tidak sabar mengambil cuti untuk berlebaran di kampung halaman, termasuk saya yang -akhirnyaaaaa, Alhamdulillah yaa-bisa mudik juga tahun ini.

Tapi ada satu hal yang tak jarang membuat kita pusing tujuh keliling menjelang lebaran. Iyaaa betul! Apalagi kalau bukan waktu ART dan nanny kesayangan mudik ke kampung halamannya. Segala urusan rumah tangga mulai dari kegiatan memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah, menjadi tanggung jawab kita. Siapa yang tidak pusing? Belum lagi kalau ternyata sang ART dan nanny tidak janji mau kembali lagi setelah lebaran. Stress berlipat-lipat rasanya.


Sesungguhnya ketakutan terbesar seorang ibu adalah saat ART dan nanny pulang kampung waktu lebaran:p Bingung juga bagaimana mengurus rumah dengan efektif dan efisien, karena saya juga harus tetap bertugas di rumah sakit.

Syukurlah setelah browsing ke sana ke mari, saya menemukan banyak situs di Internet yang berisi panduan dan juga tips untuk segala jenis kegiatan rumah tangga. Seperti Bersih Bersih, yang berisi kumpulan artikel tentang kegiatan rumah tangga mulai dari membersihkan rumah hingga mengurus hewan peliharaan. Tips membersihkan rumahnya lumayan banget lho untuk menghemat waktu!

Nah kalau untuk urusan membersihkan rumah selama pembantu pulang kampung, satu cara untuk meringankan tugas kita adalah dengan mengajak anak turut membantu.Saya juga berencana mengerahkan Naya membantu selama ART mudik:D

Kuncinya adalah komunikasi. Ajak anak kita ngobrol dan minta tolong kepada mereka untuk membantu menjaga rumah tetap rapi.

Awalnya kita bisa mulai dengan meminta mereka langsung membereskan mainan-mainan yang digunakan untuk bermain. Jangan lupa kalau anak kita masih kecil,  hindari pemberian instruksi yang umum seperti “bereskan mainanmu” tapi sebaiknya lebih spesifik misalnya “kembalikan mainan boneka ke lemari dan mainan lego ke dalam kotak.”

Jangan lupa anak-anak tetap anak-anak jadi kalau ada kalanya mereka mengeluh malas atau ada mainan yang terlewat oleh mereka pada saat bersih-bersih jangan langsung memarahinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah menyiasatinya dengan menyalakan musik kesukaannya lalu menemaninya beres-beres sambil bersenandung dan bernyanyi bersama.Harus bersabar deh!

Selain itu, tentu saja tugas bersih-bersih yang kita berikan ke anak perlu disesuaikan dengan usia . Untuk anak seusia Naya sih,  menurut saya tugas yang diberikan cukup mengembalikan mainan atau barang yang mereka pakai.

Tapi untuk anak yang sudah lebih besar maka kita sudah bisa memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Misalnya, membuang sampah setiap minggunya atau tugas menyapu dapur atau ruang tamu.

Saya berencana rutin meminta Naya terlibat dalam kegiatan bersih-bersih agar membiasakan Naya memiliki tanggungjawab, membiasakan Naya berdisiplin dan secara tidak langsung mengajarkan Naya berempati pada orang lain. Naya perlu mengerti kalau rumah bersih itu bukanlah hasil simsalabim tapi berkat peran serta semua anggota keluarga. 

Nah satu hal lagi yang penting adalah  jangan lupa memberikan penghargaan kepada anak kita seusai bersih-bersih. Penghargaan disini tidak harus berupa hadiah, tetapi bisa sekadar ucapan terima kasih atau pelukan:D

Jadi tidak usah pusing lagi ya kalau ditinggal ART mudik karena ada asisten cilik yang akan merasa senang sekali bisa bantu-bantu di rumah!




Sunday, July 20, 2014

Iri Hati

Ada yang pernah terpikir kalau tuhan itu engga adil?

Saya pernah. Beberapa tahun lalu, saya punya seorang teman yang menurut saya sangatlah sempurna. Selain cantik, dia juga pintar, jago menyanyi, tinggal di rumah mewah, kemana-mana diantar sedan keluaran terbaru, dan bolak/i ke luar negeri saat liburan. Coba saja tanya teman-teman saya yang lain, pasti semua ingin menukar hidup masing-masing dengan hidup si Cantik, sebut saja namanya begitu. Termasuk saya.

Saya engga pernah ke luar negeri -waktu itu-, kemana-mana diantar supir angkot:p, menyanyi pun sumbang, cantik juga engga, kok bisa jauh banget yaaa. Sepertinya tuhan menciptakan si Cantik dengan segudang kelebihan tanpa menyisakan sedikit pun buat saya. Melas?:p Itu yang saya rasakan.

Tanpa saya sadari, rasa jealous pada si Cantik ini semakin menjadi-jadi sampai pada akhirnya suatu hari Cantik mengajak saya ngobrol. Dia bilang kalau selama ini iri pada saya. Hah? APAAA? *mulailebay:)))* Engga salah nih? Kok bisa? Apa yang bisa disiriki dari saya?

Menurutnya-menurutnya lhooo!-, saya ini punya banyak teman dimana-mana dan disenangi siapa saja, saya gampang bergaul, pintar bercerita, selalu senyum dan tidak pernah terlihat susah atau sedih. Selain itu, saya punya orangtua yang walaupun sibuk selalu meluangkan waktu untuk saya. Rupanya, di balik kesempurnaannya, Cantik sedang bersedih karena orangtuanya bercerai dan tidak pernah ada untuknya.

Jleb. Saya langsung merasa tertohok lho! Betapa selama ini saya sudah "menuduh" tuhan tidak adil, tidak memberikan saya kelebihan, padahal sesungguhnya kalau saja saya mau bersyukur, tuhan sudah menganugerahkan saya banyaaaaaaaaaaaak sekali. Alhamdulillah, saya diberi orangtua yang begitu menyayangi saya, Alhamdulillah saya diberi kesehatan, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk selalu senyum, Alhamdulillah.

Saya baru menyadari. Mungkin benar juga quote yang bilang "Jealousy is when you count someone elses blessings' instead of your own". Bukannya bersyukur atas segala nikmat yang saya punya, saya malah lebih berfokus pada nikmat orang lain. Bukannya melihat kelebihan diri, saya malah lebih memperhatikan kelebihan orang lain tanpa melihat kekurangannya.

Pada akhirnya, saya yakin Allah memang Maha Adil dan Maha Mengetahui. Iri hati boleh saja, selama dimanfaatkan untuk memacu diri berusaha lebih baik lagi. Tapi kalau sampai membutakan mata hati dan mempertanyakan keadilan Allah sih engga baiklah ya:D

Sesungguhnya, Allah Maha Adil:)

Saturday, July 19, 2014

Mengajar(k) Anak Berdoa

Sebaiknya sejak kapankah kita mengajarkan anak berdoa?

Menurut saya pribadi, tidak ada istilah terlalu dini atau terlalu awal untuk mengenalkan anak pada Penciptanya. Sejak hamil muda, saya selalu membiasakan diri mengajak bayi di kandungan untuk ikut berdoa setiap saat. Walaupun belum terbentuk sempurna, saya yakin Naya di dalam perut ikut mendengar doa saya. Dengan begitu saya berharap semoga Naya menjadi anak yang terbiasa untuk berdoa.

Setelah lahir pun, Naya sudah saya biasakan secara konsisten untuk berdoa bersama. Misalnya saja ketika dia mau menyusu, saya biasakan untuk membaca Bismillah dan doa singkat seperti "Ya Allah, Alhamdulillah Naya masih bisa mimik susu mama. Semoga bisa bikin Naya sehat dan pintar, amin!". Saat mau atau baru bangun tidur, saya kembali mengajak Naya berdoa. "Ya Allah, Alhamdulillah Naya masih bisa bangun pagi ini dalam keadaan sehat, lindungilah Naya selalu, Amin." Demikian seterusnya.

Saya juga mengajarkan Naya doa-doa bahasa Arab serta hapalan surat pendek dalam Al-Quran sejak kecil. Setiap bangun tidur, mau makan misalnya, saya akan membaca doa keras-keras dan perlahan agar Naya bisa mendengar. Tanpa harus saya ajarkan dengan khusus, ternyata Naya tetiba bisa hapal doa-doa dan hapalan surat pendek yang sering saya ucapkan tadi setelah berusia 2 tahun. Saya kaget juga lho waktu itu. Kok ujug-ujug Naya hapal doa ini-itu dan surat ini-itu? Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin saja kan Naya menghapal sejak dulu saat saya mulai membacakan doa atau hapalan surat pendek padanya? Otak anak kecil gampang sekali untuk menghapal bukan?:D
video

Ada masanya Naya protes, terutama saat saya ajarkan hapalan surat pendek yang menurutnya sulit.
Naya: "Mama, Allah itu memangnya cuma bisa ngelti bahasa Alab?"
Meta: "Ya engga dong, Allah kan Maha Pintar, bisa segala bahasa kak."
Naya: "Telus kenapa kita beldoa halus bahasa Alab? Memang engga boleh bahasa Indonesia atau Ingglis?"
Meta: "Boleh kok. Kalau kakak mau berdoa pakai bahasa kakak sendiri juga boleh."

Tapi begitu melihat saya atau bapaknya membaca hapalan surat atau doa dalam bahasa Arab, Naya juga tertarik ingin bisa:D

Naya mulai tertarik melihat saya sholat sejak usia 8 bulan dan ingin ikut sholat seperti saya. Walaupun pertamanya Naya lebih banyak "menganggu" karena malah asyik memainkan mukena saya sampai ngompol di sajadah, tetapi lama kelamaan, Naya mulai bisa serius mengikuti gerakan-gerakan sholat saya.
 
Saat ini, Naya sudah teratur shalat 5 waktu, bahkan terkadang mengingatkan saya untuk menyegerakan sholat tiap mendengar adzan. Alhamdulillah:)

Pada saat saya sedang tidak sholat pun, Naya yang biasanya ngomel-ngomel dan menyuruh saya sholat. "Mama, engga boleh malas sholat. Harus sholat. Nanti Allah engga senang kalau mama engga sholat."-____-"
Dulu, saya masih engga bisa menemukan cara menjelaskan Naya kenapa saya sedang tidak boleh sholat. Jadilah demi konsistensi mengajarkan sholat teratur pada Naya, saya ikut sholat juga walaupun tidak berniat.  Setelah umur 3 tahun baru-baru ini, saya jelaskan pada Naya kalau perempuan dewasa memang ada libur sholatnya dalam sebulan. Untungnya dia mengerti. Saat saya "libur" sholat, Naya mengajak pengasuhnya atau bapaknya sholat bersama.

Walaupun begitu, namanya masih anak-anak ya, terkadang Naya pun malas-malasan shalat. Alasannya, "Kakak lagi libul sholatnya ma. Memang kalau pelempuan itu ada libulnya."
Iyaaa, dia menirukan penjelasan saya saat sedang tidak sholat:)))

Saya tidak pernah memaksakan Naya karena memang Naya masih sangat muda. Yang penting Naya mengerti bahwa sebagai seseorang yang beragama, ibadah baik doa maupun sholat penting maknanya.

Beberapa tips mengajarkan anak berdoa ala saya:
1. Sedini mungkin, biasakan berdoa kapanpun dimanapun, dalam kondisi apapun. Saat Naya merasa takut, saya mengajaknya berdoa. Saat Naya merasa gembira, saya biasakan mengajaknya berdoa untuk bersyukur. Saat Naya sedih, saya juga mengajaknya berdoa. Lama-lama, Naya pun menjadi terbiasa sedikit-sedikit berdoa.
2. Rutin dan konsisten. Saya ingin beribadah menjadi "kebiasaan" hidup yang selalu dilakukan:D
3. Ajarkan perlahan dan bertahap. Saya mengajarkan surat pendek seperti An-Naas, Al-Ikhlas dulu pada Naya sebelum Al-Faatihah.
4. Children see, children do. Sesungguhnya cara paling mudah mengajari anak beribadah adalah dengan memberikan contoh:)



Tuesday, July 15, 2014

Sudah Sewindu

Sudah hampir sewindu -macam lagunya Tulus:p- saya tidak pernah berlebaran di kampung halaman. Iyaaa, sewindu. Kesibukan yang tidak mengenal liburlah yang membuat situasi seperti ini. Beberapa kali lebaran persis di hari-H saya malah sedang dinas di rumah sakit. Anak sakit kan tidak kenal libur ya?

"Emang ada pasien pas lebaran?"

Eh, jangan salaaaah. Karena semua dokter, klinik dan rumah sakit kecil tidak melakukan pelayanan saat hari raya, rumah sakit terbesarlah yang jadi jujugan orang-orang sakit. Jadi jawabannya bukan sekadar ada, tapi banyak:D

Tahun ini, saya berniat ingin sekali berlebaran dengan mama dan kakak saya. Rasanya rindu benar merasakan lebaran dengan mereka. Dari jauhhhhh hari -akhir tahun tepatnya. Iye emang saya lebay:p-, saya sudah mulai mengincar tiket pesawat Surabaya-Bandung dan merencanakan perjalanan mudik. Karena kebetulan saat itu sedang ada promo, saya langsung kalap membeli 3 tiket untuk saya, suami dan Naya. Saya sudah memperhitungkan jadwal jaga saya dan suami yang -menurut saya- seharusnya sudah jauuuuh berkurang. Jadilah saya sudah gembar/o pada mama kalau akan berlebaran di rumah. Mama menyambut dengan sangat gembira. Mama sudah menyiapkan sprei bergambar Tweety untuk Naya -tahu kan saya ketularan lebay dari mana:p-, membelikan kastengel kesukaan saya, bahkan membelikan Naya otopet untuk dimainkan di Bandung.

Baru seminggu yang lalu saya menerima jadwal jaga untuk bulan ini. Jreeeeeng! Sayang seribu sayang, rupanya lebaran tahun ini saya justru kebagian banyak jadwal jaga. Dua kali lipat dibanding biasanya:@ Salah perhitungan:))))

Lalu bagaimana? Tiket yang dibeli tidak bisa ditukar atau diganti tanggalnya karena promo.Suami pun terlanjur mengurus ijin dari rumah sakit. Saya sempat stress berat lho:)) Bukan karena apa-apa, tapi karena merasa tak tega dengan mama yang begitu bersemangat menyambut anak bungsunya nan kece ini berlebaran di rumah setelah sewindu lamanya. Apalagi setiap menelpon saya, mama mengingatkan ini-itu untuk berlebaran bersama. Contohnya, rencana untuk foto keluarga, rencana untuk bersilahturahmi bersama ke Jakarta dll. Manalah tegaaaaa sayaaaaa:@

Mau tukar jadwal jaga dengan teman pun rasanya tak mungkin. Memang teman yang lain tidak berlebaran juga? Saya pasraaaaah deh, cuma bisa berdoa:D

Alhamdulillaaaaah, Allah Maha Besar dan Maha Mendengar. Hari dimana saya memutuskan untuk pergi ke Bandung sampai pulang dari Bandung rupanya bebas jaga. Allahuakbar! Walaupun cuma beberapa hari, tapi terasa mewah sekali buat saya. Ada konsekuensinya sih, jadwal jaga saya sebelum mudik mepet banget, bisa 3 hari sekali:)))) -Makanya jarang bisa update blog---> alasan-:p
Ya sudahlah yaaa, yang penting mudiiiik! Yayyyy!

Doakan lancar yaaaa<3 p="">


Sunday, July 13, 2014

Fun Facts;)

Kalau dulu saya pernah menulis 11 hal tentang diri sendiri, kali ini saya ingin menulis 11 hal tentang Naya.

1. Naya super sensitif.
Maksud sensitif di sini bukan bisa merasakan yang gaib-gaib ya:p Kalau yang itu sih wallahualam.
Naya peka sekali terhadap lingkungan sekitarnya. Berlebihan alias lebay menurut saya! Misalnya saja Naya melihat tetangganya menangis. Bisa-bisa Naya sampai tidak tidur semalaman memikirkan kenapa tetangganya menangis. Sampai sekarang pun setiap Naya mau makan, dia akan  bertanya dulu apakah mama, papa, mbak pengasuh sampai ART di rumah sudah makan. Kalau semua sudah makan, baru deh Naya mau makan.

Mau belanja bulanan tapi tidak tahu apa saja yang habis di rumah? Tanya Naya saja. Pasti dia hapal. "Mama, telul habis, kentang habis, sabunnya mbak Siti juga habis, minyak goleng, bawang melah, bawang putih tinggal sedikit, supelpel juga tinggal dikit." Macam emak-emak ya?:p Waktu saya tanya kok Naya bisa hapal begitu? Jawabnya "Iya, halus ma. Kasihan papa engga bisa makan telul kalau habis. -Bapaknya memang pecinta telur- Mbak Siti engga bisa mandi kalau sabunnya habis, dll dll dll." So sweet ya?:')

Saya juga selalu menahan diri untuk tidak ngobrol masalah pasien di rumah sakit dengan suami di rumah, setidaknya tidak di depan Naya. Bukan apa-apa, karena Naya akan bersedih hati dan memikirkan pasien saya tadi -yang bahkan engga pernah ketemu Naya!-,lalu bolak/i bertanya, "Mama, pasien mama yang kejang kemalin gimana? Sudah sembuh? Sudah bangun?" dan percaya atau tidak, moodnya pun jadi berubah tergantung keadaan pasien tadi. Kasihan juga melihatnya memikirkan keadaan pasien saya.

Terlepas dari sisi positifnya, ada juga negatifnya dari ke-oversensitivitas-an Naya. Naya gampang sekali merasa "sakit hati" dan tersinggung. Bagi anak lain mungkin biasa saja, tapi Naya akan mengingat suatu kejadian yang menyinggungnya sampai berbulan-bulan, dan mogok bicara dengan orang yang membuat dia tersinggung. Padahal besar kemungkinan, orang tsb hanya bercanda. Maka dari itu, saya selalu ekstra hati-hati berbicara dengan Naya.

2. Naya punya fokus yang sangat tinggi.
Setiap melakukan sesuatu -apapun-, Naya tidak bisa diganggu gugat. Perhatiannya sangat fokus terhadap hal yang ia kerjakan, sehingga apapun yang terjadi engga bakal bisa mengganggu. Naya juga selalu menyelesaikan semua yang ia kerjakan. Misalnya, bermain congklak/dakon. Saya yang sudah dewasa saja terkadang bosan menunggu sampai biji congklak habis. Tapi Naya sabaaaar sekali menanti sampai permainan selesai. Seandainya saya memintanya memotong permainan untuk mengganti dengan permainan lain, Naya engga bakal mau. Dia bisa lho mengerjakan puzzle berjam-jam. -Sekali lagi- Saya saja yang sudah dewasa malaaaas. Hehe, apa memang saya saja yang pemalas ya:p

3. Naya banyak makan, dan engga pernah pilih-pilih.
Alhamdulillah, tidak menurun dari saya, Naya engga pernah pilih-pilih makanan. Semua yang ada dilahap. Semua jenis makanan diakunya sebagai makanan kesukaan. Mulai buah alpukat, anggur, jeruk, durian, nangka, mangga, pepaya, sayuran brokoli, bayam, kangkung sampai ayam, sapi, udang, ikan semua mau. Sehari Naya bisa makan lebih dari 5x lho! Tapi engga gendut-gendut ya:))) Yang penting sehat ya nak!:)

4. Naya engga suka bermain.
Sejak berusia 2 tahun, Naya benar-benar mogok bermain. Apapun. Boneka, masak-masakan, kasir-kasiran, lego, apa sajalah. Yang dia suka hanya buku dan belajar menulis. Akhir-akhir ini Naya tertarik dengan thinking games -yang sebenarnya untuk anak berusia 6 tahun ke atas- seperti Topple, congklak, Falling Monkeys, dll. Tapi karena lawannya -baca: saya- selalu bisa dikalahkan (bukan sengaja mengalah lho!), rupanya dia bosan dan mogok bermain lagi. Saya masih mencari jenis thinking games lain nih supaya Naya mau bermain. Oh ya, Naya terkadang masih mau bermain di area bermain dimana dia bisa berloncatan trampolin, berayun atau naik kuda. Walaupun engga terlalu lama dan hanya kadang-kadang saja, saya sudah bersyukur sekali. At least, Naya mau.

5. Naya sering meminta namanya diganti.
Naya pintar sekali mengarang nama. Bagus-bagus lho walaupun engga jelas apa artinya. Seingat saya, dia pernah meminta namanya diganti dengan Migiya, Atrisha, Alana, Miru, dan entah apa lagi saking banyaknya:)))

6. Naya punya tanda lahir.
Karena letaknya di wajah, beberapa kali Naya meminta tanda lahirnya dihilangkan. Malu katanya. Untunglah saya punya tanda lahir yang jauhhhh lebih besar di kaki dan bisa dijadikan contoh kalau tanda lahir itu bukan sesuatu yang memalukan. Akhirnya, Naya bangga sekali dengan tanda lahirnya itu.

7. Naya kepo:)))
Mungkin menurun dari saya kalau ini ya:))))) #salamkepo :p
Bukan hanya rajin bertanya mengenai sains yang ada di sekitar, Naya pun engga bisa engga ingin tahu soal apapun yang terjadi. Misalnya saya sedang BBMan lalu senyum-senyum sendiri, Naya pasti langsung merebut smartphone saya untuk melihat apa yang membuat saya senyum sendiri. Begitu pun kalau mendengar saya ngobrol dengan papanya, pasti Naya ikut bertanya. "Si X itu siapa ma? Temen mama di mana? Kampus? Doktel juga? Doktel apa? Punya anak? Namanya siapa? Umul belapa? dst dst" Kepo banget dah!:)))

8. Naya pemalu banget.
Walaupun kalau difoto gayanya numero uno, di rumah pun ngomongnya ga bisa dihentikan, di luar rumah Naya sangat pemalu. Ini sepertinya menurun dari saya #pret :))))
Naya membutuhkan waktu beradaptasi cukup lama dengan lingkungan baru, demikian juga halnya untuk bersosialisasi. Semua akan dia observasi dulu. Kalau menurutnya "orang baru" yang dia amati bisa berinteraksi baik dengannya, baru deh mau mingle. Naya juga engga pede-an, sepertinya karena Naya sangat perfeksionis.

9. Naya perfeksionis. Banget.
Naya seperti "memaksa diri sendiri" untuk selalu menjadi no 1. Ini PR banget nih buat saya-_-". Saking perfeksionisnya, Naya lebih memilih engga mau mencoba hal baru sama sekali lho daripada salah atau kalah.

Pernah suatu hari, Naya meminta ikut lomba mewarna. Tentu saja saya menyambut gembira. Naya bahkan sampai menelpon saya di rumah sakit untuk didoakan.
N: "Mama, kakak mau lomba. Doain yaaa supaya menang."
M: "Kak, engga usah menang juga engga apa-apa, yang penting kakak senang."
N: "Engga mau, maunya menang."
M: "Engga perlu kak. Menang apa engga itu engga penting. Yang penting itu usahanya kakak, dan kakak senang ikutannya,"
N: *diam* "Dadah mama" *tutuptelpon*

Beberapa menit kemudian, pengasuhnya menelepon saya karena Naya menangis minta pulang bahkan sebelum lomba dimulai. Padahal Naya sudah duduk manis di tempat lomba. Di rumah, saya bertanya kenapa Naya menangis dan batal ikut lomba. Jawabnya, "Takut kalah."

Duh, saya langsung sedih seharian mendengarnya. PR buat saya nih, bagaimana mengatur supaya perfeksionisnya Naya bisa diarahkan ke sisi positif.

10. Naya engga bisa diam.
Maksud engga bisa diam di sini adalah baik mulut dan motoriknya. Rumah selalu ramai dengan "kicauan"nya. Kalau sampai tidak ada suara Naya, kami serumah pasti curiga. Jangan-jangan dia lagi ngumpet di tudung saji. Saya pernah panik lho waktu itu, mencari Naya kemana-mana dan tak kunjung ketemu. Untunglah engga berapa lama, terdengar suara unyil nahan tawa:D

Siapalah yang nyangka si unyil ngumpet di sini?-__-"
Motoriknya pun engga bisa diam. Lompat-lompat, memanjat-manjat, menari balet atau apalah pokoknya bergeraaaak teruuus.

11. Naya bawel.
Sejak bayi pun, kemampuan verbalnya sudah terlihat jelas. Apalagi sekarang, Naya selalu berbicara menggunakan kalimat panjang, terkadang menyertakan kata-kata sulit yang membuat saya terkejut melulu. Misalnya konfirmasi, klarifikasi atau istilah lain yang saya juga tak tahu dari mana datangnya,

Contohnya nih, kemarin saat saya omeli karena dia minta es teh kotak milik saya walaupun cuma sedikit.
M: "Kak, jangan minum es teh punya mama terus. Kalau batuk gimana?"
N: "Mamaaaa, jangan khawatil. Sebetulnya minum es teh itu tidak menyebabkan batuk. Minum dingin juga engga. Yang membuat batuk hanyalah satu hal. "*ini beneran engga saya ubah lho, asli Naya ngomongnya beginih!*.
M: "Satu hal? Apa itu kak?"
N: "Kelupuk ma! Kan mengandung banyak minyak."
M: :))))))

Karena inilah, saya seringkali lupa kalau anak saya ini masih berusia 3 tahun. Saat Naya ikut saya mencoblos pun dia engga mau kalah berkomentar.
N: "Mama, olang2 ini pada mau pilih plesiden Indonesia ya?"
M: "Iya kak."
N: "Kenapa ya kok semua sibuk sekali? Padahal kan sudah jelas yang menang yang nomol 2, pak Jokowi." (Saya shocked banget dengernyaaaa! Engga ada koran atau TV lokal di rumah saya, entahlah dengar darimana si unyil ini).
M: "Ya belum tentu kak. Kan tergantung hari ini."
N: "ENgga kok. Yang menang yang nomol 2 ma, liat aja ntar. Mama pilih no 1 ya? Ya gpp sih, tapi jangan sedih ya kalau kalah."
-______________-"

Demikian beberapa fakta soal Naya. Nanti saya lanjutkan lagi kapan-kapan yaaa:D
Btw, setelah saya baca ulang, ternyata banyak yang mirip dengan ciri anak gifted ya?:D

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates