Thursday, October 30, 2014

Judul Buku Terbaru

Uhuk!

Seperti judul postingan ini, saya inshaAllah memang berencana menerbitkan buku selanjutnya tahun ini (atau awal tahun depan). Masih bergenre #MomLit seperti buku sebelumnya, Dont Worry to be A Mommy!, buku terbaru saya lebih membahas soal tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan sampai usia preschooler.

Buku ini masih diambil dari tulisan-tulisan blog, namun banyak juga yang tidak saya masukkan di blog:D

Nah, karena saya cukup rempong bulan ini -ps: ART dan nanny saya pulang kampung dan tak kembali lagi *sad* ditambah berencana pindahan rumah-, saya mau minta bantuan saja deh:)))

Pleaseee, kasih usulan judul buku buat saya yaaa.. Plus harapan apa saja yang diinginkan ada di buku tsb. Boleh ditulis lewat komen di bawah atau simple email me: metahanindita@yahoo.com.

Terimakasih yaaaa:*

PS: Mohon maaf kalau saya belum bisa membalas email yang masuk karena yaaa itu tadi, rempong kelas berat-_-"


Tuesday, October 28, 2014

Waktu Tidur Anak


Naya sudah semakin besar. Pertumbuhan sehat fisiknya bisa dibilang berkat dua hal utama, yaitu makanan bergizi dan tidur yang cukup. Berbeda dari kita-kita orang dewasa yang mudah tidur tanpa disuruh, mengatur waktu tidur anak-anak itu gampang-gampang susah. Kalau anak-anak sudah mulai mengenal mainan atau TV, waktu tidur mereka kadang menjadi tertunda atau berkurang. Buntutnya, orang tuanya yang jadi repot karena rutinitas rumah tangga yang lain menjadi berantakan.

Kalau bicara soal kebiasaan tidur setiap rumah tangga, yang dimaksud tentunya pada anak-anak karena mereka lah yang menentukan seisi rumah tidur atau tidak pada malam hari. Jadi, agar pola tidur semua anggota keluarga teratur, terapkan disiplin waktu tidur anak-anak sesuai umur mereka. Ini juga membantu membentuk jam biologis anak-anak dan mengatur ritme tidur-bangun mereka. Menurut National Sleep Foundation di Amerika, tidur itu penting bagi anak-anak karena langsung berpengaruh ke perkembangan mental dan fisik mereka.

Dalam dua bulan pertama, bayi baru lahir tidur hampir sepanjang hari dengan pola yang tidak teratur. Sekali tidur kadang cuma beberapa menit atau bisa sampai beberapa jam. Waktu bayi terbangun kebanyakan dihabiskan untuk keperluan makan dan ganti popok. Sebaiknya taruh bayi ke tempat tidur ketika ia mulai mengantuk, bukan ketika ia sudah tidur, jadi ia bisa cepat tertidur dan belajar cara tertidur sendiri. Waktu tidur siang bayi baru lahir bisa dikurangi dengan cara membawanya ke ruang terang dan agak berisik atau mengajaknya bermain. Dengan begini, bayi mudah tertidur pada malam harinya.

Hingga usia satu tahun, bayi mulai bisa tidur sepanjang malam tanpa terjaga. Bayi usia 2-12 bulan biasanya tidur malam selama 9-12 jam dan sampai empat kali tidur siang masing-masing selama 30 menit sampai dua jam. Bayi yang merasa aman bersama pengasuh jarang yang memiliki masalah tidur. Dalam enam bulan kedua, bayi juga lebih rentan mengalami gangguan tidur karena sakit.


Anak-anak di bawah usia tiga tahun memerlukan 12-14 jam tidur setiap hari. Menginjak usia 18 bulan, waktu tidur siang mereka akan berkurang menjadi hanya sekali dalam sehari selama 1-3 jam. Tidur siang sebaiknya tidak terlalu sore supaya tidak menunda waktu tidur malam. Perkembangan aktivitas motorik, kognitif, dan kemampuan sosial anak-anak pada rentang usia ini juga berpotensi mengganggu waktu tidur.

Dalam masa pra-sekolah, anak-anak di bawah usia 5 tahun umumnya tidur 11-13 jam setiap malam. Rentang usia ini juga rentan mengalami kesulitan tidur atau terbangun di tengah malam karena perkembangan daya imajinasi mereka, ketakutan pada malam, atau mimpi buruk.

Peningkatan aktivitas anak-anak usia sekolah bisa menyebabkan kesulitan tidur. Meskipun kelelahan akibat kegiatan fisik di sekolah bisa menimbulkan rasa mengantuk pada anak-anak, waktu tidur bisa tergeser ke siang hari sepulang sekolah. Aktivitas di rumah yang lebih menyenangkan, seperti menonton TV atau bermain komputer, semakin mengalihkan perhatian anak-anak pada waktu tidur malam.

Dengan mengetahui kebutuhan waktu tidur anak sesuai usia mereka, orang tua bisa merencanakan aktivitas yang bisa diberikan ke anak agar waktu tidur mereka konsisten. Hasilnya, orang tua juga bisa mengatur waktu mereka sendiri tanpa mengacaukan urusan rumah tangga:D

Sunday, October 26, 2014

Anak Mandiri


Salah satu hal yang saya khawatirkan dari Naya adalah kemampuannya kelak untuk mandiri. Sejak lahir, ada pengasuh atau saya sendiri yang siap 24 jam membantu Naya. Wajar kan ya kalau saya jadi khawatir Naya akan tergantung pada orang lain dan sulit mandiri?

Menurut saya, kemandirian adalah hal penting yang harus diajarkan pada anak sejak dini. Mengajarkan anak untuk mandiri bukan saja sekadar melatih kemampuan mengurus diri sendiri saja tetapi juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan self-esteem yang sehat. Ini penting untuk dasar pembentukan karakter anak.

Sedini apa kita bisa mengajarkan kemandirian pada anak?

Saya sendiri mulai melatih Naya mandiri sejak ia berulangtahun yang ke-2. Sebelumnya, saya atur lingkungan rumah supaya cukup bersahabat untuk Naya. Cukup bersahabat di sini maksudnya aman untuk digunakan anak-anak dan meminimalisir risiko yang bisa terjadi. Misalnya saya pilih tempat sampah yang tidak sulit membukanya untuk anak-anak, saya tempatkan keranjang baju kotor di tempat yang mudah terjangkau, saya pilihkan peralatan makan yang bebas-pecah atau saya letakkan keranjang mainan di lantai. 

Saya mulai melatih kemandirian Naya dari rutinitas sehari-hari. Saya biarkan Naya mulai makan sendiri setiap jam makan tiba. Saat mandi, saya minta Naya meletakkan baju kotornya sendiri ke keranjang. Setelahnya, saya minta Naya memakai sendiri pakaiannya. Begitu pula sehabis bermain, saya meminta Naya membereskan sendiri mainannya. Membuang sendiri sampahnya, memakai sendiri sepatunya, meletakkan sepatu yang habis dipakai di trak sepatu, mencuci tangan, menggosok gigi sendiri adalah beberapa hal yang saya latih untuk Naya kerjakan. Langsung berhasil? Tentu idak. Namanya saja baru dilatih, yang ada malah terkadang jauh lebih berantakan. Waktu makan jadi lebih lama, waktu berpakaian atau waktu membereskan mainan jadi lebih lama. Hasilnya pun jauh lebih acak-acakan dibanding jika saya sendiri yang langsung mengerjakan. 


Sejujurnya, dalam melatih kemandirian Naya ini saya pun ikut melatih kesabaran saya. Terkadang saya inginnya mengambil alih saja pekerjaan Naya, supaya tidak bekerja dua kali. Bayangkan, misalnya saja waktu Naya makan sendiri. Saya harus ada di sampingnya untuk sesekali membantu jika dia kesulitan. Untuk menyendok makanan di piring saja Naya harus berusaha keras dan membutuhkan waktu lama. Belum lagi kalau ada insiden tumpah yang membuatnya harus mengganti baju. Lalu setelah makan, membereskan meja makan yang seperti kapal pecah. Waktu yang sebenarnya bisa saja dihemat seandainya sedari awal saya menyuapi Naya.

Walaupun begitu, saya selalu mengingat pentingnya melatih kemandirian pada Naya. Saya sabar-sabarkan diri, bolak/I bilang pada diri sendiri “Kan engga bakalan begini terus. Pasti nanti ada manfaatnya.”

Alhamdulillah saat ini, di usianya yang ke-3 tahun, latihan kemandirian Naya sudah memperlihatkan hasilnya. Naya sudah bisa makan, mencuci piring dan gelas sendiri, mandi,memilih baju, memakai baju, memakai celana, pipis, pup sendiri (termasuk cebok dan flushing sendiri), dan lain sebagainya.
Latihan kemandirian Naya masih saya lanjutkan bertahap sesuai kemampuannya. Saat ini saya sedang melatih Naya membereskan tempat tidurnya mulai dari melipat selimut dan mengikat tali sepatunya sendiri. 

Ada beberapa tips dari saya untuk para orangtua yang berniat melatih kemandirian anaknya.
1.     Siapkan stok kesabaran tak terhingga:D Ingat terus bahwa proses ini tidak mudah dan membutuhkan kesabaran super dari kita. Memang seringkali kita malah jadi bekerja 2 atau 3 kali, tetapi ingatkan diri bahwa ini untuk melatih anak kita menjadi mandiri.
2.     Sesuaikan dengan usia anak. Jangan meminta anak berusia 2 tahun untuk mengikat tali sepatu sendiri, misalnya karena perkembangan motorik halusnya belum berkembang sampai ke tahap tadi.
3.     Siapkan waktu 15-30 menit lebih awal dari jadwal yang seharusnya agar tidak terburu-buru dan memberi anak waktu lebih untuk berlatih. Kalau biasanya waktu makan adalah setengah jam sebelum masuk preschool misalnya, geser waktu makan menjadi 45 menit – sejam sebelumnya agar jika terjadi “huru-hara” karena anak mengerjakan sendiri, anak masih bisa masuk preschool tanpa terlambat.
4.     Berikan kepercayaan anak untuk mengerjakan sendiri namun tetap awasi. Jangan memberi bantuan jika anak belum meminta karena ini akan mengurangi rasa percaya dirinya.
5.     Berikan pujian pada anak jika berhasil mengerjakan aktivitasnya sendiri. Jangan mengharapkan kesempurnaan karena pastinya hasilnya tidak akan sesempurna jika dikerjakan orang dewasa. Pujian ini penting untuk memupuk rasa percaya diri anak.
6.     Sebelum meminta anak mengerjakan sesuatu pastikan tidak ada bahaya yang terdapat di sekitarnya. Saat meminta anak mencuci piring sendiri misalnya, pastikan tidak ada pisau di dekatnya, saat melatih anak pipis sendiri, pastikan lantai kamar mandi tidak licin.
Selamat mencoba:D 

Friday, October 24, 2014

Smart Edufair 2014

Di beberapa bulan sebelum Desember, biasanya banyak sekolah yang mulai mengadakan full house dan membuka pendaftaran. Untuk beberapa sekolah yang terbilang favorit, malah pendaftaran yang di buka bulan ini adalah untuk 2 tahun mendatang lho, karena masuk dalam waiting list.

Tahun ajaran depan, rencananya Naya akan masuk ke Sekolah Dasar (walaupun saya masih setengah engga ikhlas dan berpikir ratusan kali sehingga opsi ini masih tentatif).  Saya tidak punya banyak waktu untuk survey mendatangi satu persatu sekolah incaran, makanya saya bersyukur sekali dengan adanya Smart Edufair 2014 di Grand City Surabaya ini. Pameran ini diikuti lebih dari 50 lembaga pendidikan ternama, dan namanya juga pameran, banyak penawaran spesial yang ada. (Baca: Diskon! -Emak irit-:p)

2 tahun yang lalu, saya pun mendatangi pameran yang sama dan berhasil mendapatkan sekolah prekindergarten untuk Naya dengan harga sangat menarik. Karena itu, begitu mendengar pameran ini diadakan lagi, segeralah saya berencana mendatanginya.

Kalau sebelumnya saya mendatangi satu persatu booth sekolah yang ada dan mencatat semua hasil survey, tahun ini perjalanan survey saya cukup mudah. Mudah sekali sih tepatnya. Saya tinggal mendatangi satu persatu booth dan menanyakan "Apa SD kelas 1 bisa menerima anak usia 4 tahun?"

Hampir semua menjawab tidak -as predicted- sehingga hampir semua booth pun bisa saya skip sessi tanya jawab dan surveynya. Sangat menghemat waktu sehingga saya punya banyak waktu spare untuk ngemall:p Hanya satu sekolah yang sepertinya tidak keberatan walaupun mensyaratkan Naya harus lulus tes masuk, dan ada rekomendasi psikolog yang rutin menghandle Naya.

Sekolah ini cukup terkenal di kalangan masyarakat Surabaya. Lokasinya pun berdekatan dengan rumah saya, hanya 5 menit menggunakan mobil. Saya pernah datang melihat bangunannya (iye, namanya juga emak surpey:p) dan terkagum-kagum melihat luas dan bersihnya gedung.

Kurikulum sekolah ini menggunakan bahasa Inggris full sebagai pengantar, dengan mata pelajaran bahasa Mandarin sebagai tambahan. Untuk anak kelas 1 SD, jam sekolahnya dari jam 07.45 - 13.00 (Btw, apa cuma saya ya yang waktu kelas 1 SD masuk jam 8 dan pulang jam 11?-_-").

Masalah biaya, uang masuk SD ini adalah Rp. 36.000.000,00, dengan SPP senilai Rp. 1.600.000,00, belum termasuk uang perlengkapan serta uang seragam.

Saya sebenarnya lumayan sreg dengan sekolah ini, hanya ada beberapa hal yang masih menjadi ganjalan. Yang pertama dan merupakan ganjalan terbesar, sekolah ini berbasis Kristen. Saya merasa masih terlalu dini untuk Naya mempelajari agama yang bukan agamanya, apalagi karena Naya masih belum mengerti benar soal agamanya. Yang kedua karena adanya pelajaran bahasa Mandarin. Tidak ada yang bisa bahasa Mandarin di keluarga kami, sehingga saya merasa pelajaran ini kurang perlu untuk Naya.

Tapi, entahlah ya, walaupun ada beberapa ganjalan, karena sekolah yang mau menerima Naya sangat terbatas, sepertinya saya perlu mempertimbangkan sekolah ini untuk SD Naya kelak.

Anyway, untuk para ibu (bapak sih biasanya engga ikut ambil pusing ya, terserah emak aja:p) yang sedang berencana memasukkan anaknya ke preschool atau kindergarten atau bahkan SD-SMP-SMA, bolehlah datang ke Smart Edufair 2014 ini. Diadakan dari 23-26 Oktober mulai jam 11.00-21.00m pameran ini diikuti berbagai sekolah dan lembaga pendidikan. Ambassador, Sayang School. MSCS, Pelita Gracia, Filadelfia, Rever, eRead, Bunga Bangsa, Cita Hati, Bethany, SNA, Logos, Nation Star Academy, Kinderland, Melodia, Kitchen Magic, Mind Edge, Maxi Brain, Kumon, St. Valent, Father's Heart, AELI, JRP, Al-Azhar adalah beberapa lembaga pendidikan yang mengikuti pameran ini.

Banyak deal dan promo yang ditawarkan, lumayan menarik lho! Dan sangat menghemat waktu daripada mendatangi satu persatu sekolah incaran.

Saran saya sebelum datang ke sini, tentukan dulu kriteria apa yang dicari dari sekolah anak. Sehingga di pameran, kita bisa langsung exclude sekolah yang tidak sesuai kriteria dan lebih menghemat waktu.

Selamat Mencari!:)

Thursday, October 23, 2014

How to Say No?

Coba diingat, berapa kali kita bilang jangan pada anak setiap harinya? Untuk orangtua yang punya anak seumur Naya, saya yakin banyaaaak sekali. Jangan naik lemari, jangan lompat-lompat di tempat tidur, jangan pegang air panas, jangan masuk lemari, makanan jangan dimainkan, dan seribu jangan lainnya. Sebagai toddler, anak seusia Naya memang sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi lingkungan sekitar. Hanya saja, seringkali larangan yang kita sampaikan justru seperti suruhan untuk anak. Semakin dilarang, malah justru semakin dilakukan.

Saya ingat betul, setiap melarang Naya melakukan sesuatu, Naya justru malah tambah semangat melakukan apa yang saya larang. Benar-benar menguji kesabaran menguras emosi deh:p

Anyway, hal ini ternyata normal sekali lho! Negativisme yang sering ditemui pada anak usia toddler adalah kecenderungan untuk menolak perintah, larangan atau nasehat orang lain dengan cara melakukan kebalikannya. Negativisme ini penting sebagai salah satu masa perkembangan anak, terutama dalam hal kemandirian. Di masa ini, toddler ingin memperlihatkan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu, tanpa campur tangan orangtuanya.

Selain itu, berulang kali mengucapkan kata jangan pada anak akan mengurangi nilainya. Karena terlalu sering mendengar kata jangan, anak jadi tidak bereaksi saat kita larang melakukan sesuatu.

Karena itulah, saya selalu berusaha untuk tidak mengatakan jangan pada Naya. Bukan berarti saya tidak punya larangan lho, hanya saja saya mengungkapkan larangan atau aturan saya bukan dengan kalimat yang menggunakan kata jangan.

Misalnya, saat Naya tidak mau tidur dan malah lompat-lompat di atas tempat tidur, daripada mengatakan “Kakak, jangan lompat-lompat di tempat tidur!”, saya memilih mengucapkan “Kak, tempat tidur kan gunanya buat tidur ya. Kira-kira benar engga kalau dipakai lompat-lompat?”. Sewaktu Naya menangis meminta es krim yang kesekian kalinya, daripada bilang “Jangan makan es krim banyak-banyak ah!”, saya memilih mengatakan “Kakak sudah makan cukup es krim kan tadi. Sekarang boleh pilih deh yang lainnya, puding atau buah?”
Demikian pula ketika Naya justru sibuk memainkan mie goreng dan bukannya memakan mie tadi, daripada mengatakan “Kak, jangan dimainkan mienya. Ayo dimakan!”, saya lebih memilih “Kakak, kalau dimainkan terus nanti makannya engga selesai-selesai. Kalau makannya engga selesai, kakak engga bisa ikut mama pergi lho nanti.”

Ajaib lho, dengan menerapkan “aturan” seperti ini, Naya bisa jadi lebih menurut dan tidak menguji kesabaran saya lagi hehe.

Menurut saya, pada intinya untuk menghadapi negativisme pada anak ini, berikan anak keputusan untuk menilai sendiri apakah perbuatan yang akan atau sedang dilakukannya. Jangan lupa untuk memberikan pujian ketika anak berhasil mengikuti aturan yang ditetapkan.

Yang terakhir, setiap dilanda emosi jiwa, ingatlah bahwa periode ini sangat penting untuk perkembangan kepribadian anak. Tarik napas panjang, sabar dan senyum:)

Monday, October 20, 2014

A Parent's Guide to Gifted Children

Saya pertama kali mendengar istilah Gifted pada saat membawa Naya berkonsultasi ke psikolog. Saya tidak tahu sama sekali arti gifted, apalagi dengan mengatasinya. Yang saya tahu adalah Naya berbeda dengan anak lain sejak dulu, dan saya tidak pernah tahu bahwa karakteristik seperti yang dipunyai Naya mempunyai nama tersendiri.

Sebagai ratu survey *salamkepo*, saya langsung browsing sana-sini mengenai anak gifted. Tidak banyak sumber yang buat saya masuk akal dalam membahas anak gifted. Sebagai orang yang sangat percaya dengan dasar ilmiah "evidence based", saya mencari banyak jurnal dan buku. Di Indonesia, sangat sulit menemukan buku mengenai anak gifted. Banyak blog bertebaran, tapi siapa yang bisa menjamin keakuratannya?:D

Dalam perjalanan browsing, saya menemukan banyak sekali review satu buku berjudul "A Parent's Guide to Gifted Children". Buku ini dinilai 4.1/5 di Goodreads. Membaca judulnya saja sudah membuat saya tertarik karena membuat saya merasa "This is what i really need!".

Lagi-lagi, saya kesulitan menemukan buku ini di toko buku (walaupun toko buku impor) Indonesia sehingga saya memutuskan membelinya via online. Setelah menunggu hampir sebulan (karena diimpor dari luar negeri), saya sangat excited membaca buku ini.

Buku ini terdiri atas 390 halaman dan terbagi menjadi 15 chapters.
1. Defining Giftedness
2. Characteristics of Gifted Children
3. Communication: The Key to Relationships
4. Motivation, Enthusiasm and Underachievement
5. Establishing Discipline and Teaching Self-Management
6. Intensity, Perfectionism and Stress
7. Idealism, Unhappiness and Depression
8. Acquaintances, Friends and Peers
9. Family Relationships: Siblings and Only Children
10. Values, Traditions and Uniqueness
11. Complexities of Successful Parenting
12. Children Who Are Twice-Exceptional
13. How School Identify Gifted Children
14. Finding a Good Educational Fit
15. Finding Professional Help

Walaupun buku ini banyak dijadikan referensi para ahli dan ditulis pula oleh psikolog yang ahli di bidang gifted children, membacanya sama sekali tidak membosankan. Bahasa yang digunakan cukup ringan dan mengalir, dan tidak seperti membaca text-book.

Buat saya, buku ini benar-benar banyak membantu saya mengenali Naya lebih dalam dan membuat saya mengerti harus bagaimana menghadapi Naya. I will give 5/5 in Goodreads for this book!:)

If you are parents to gifted children, a teacher to gifted student, or probably a psychology student that has interest in gifted children, you really should read this book!

Sunday, October 19, 2014

Reading Time: Our Time


Sepanjang ingatan, saya selalu menyukai membaca buku. Membaca membuat wawasan saya semakin luas, menambah pengetahuan dan mengenal dunia lebih dalam. Saya ingin Naya juga kelak gemar membaca seperti saya. Oleh karena itu, saya sudah merencanakan sejak jauh hari, untuk rutin membacakan cerita untuk Naya setelah lahir.

Menurut saya, tidak pernah ada istilah terlampau dini untuk membacakan cerita pada anak. Bayi sudah memulai ketertarikannya pada warna terang dan gelap (putih dan hitam) serta beragam bentuk sejak usia 2 bulan.  Dengan membacakan cerita, sebenarnya secara tak disadari, kita sudah memberikan berbagai stimulasi untuk tumbuh kembang anak. Stimulasi penglihatan kita berikan dengan menunjukkan berbagai bentuk dan warna. Stimulasi pendengaran pun dapat diberikan karena anak mendengar cerita kita. Saya membiasakan membaca cerita dengan intonasi yang semenarik mungkin. Saat di cerita ada tokoh yang menangis, saya tirukan bagaimana menangis itu. 

Bukan hanya penglihatan dan pendengaran, sensorik anak pun dapat kita stimulasi menggunakan kegiatan membaca. Saya minta Naya menyentuh halaman buku, mengikuti bentuk dengan jarinya. Ada juga buku yang sengaja saya beli khusus untuk menstimulasi sensorik Naya. Buku ini terdiri atas berbagai bahan yang dipakai untuk menyerupai kenyataan. Contohnya, halaman rumput di buku tersebut ditempeli oleh bahan dengan tekstur, warna dan bentuk rumput. Lalu, jubah seorang putri ditempeli oleh kain beludru yang sangat halus. Saya ingat, Naya sangat excited meraba-raba dan merasakan semua bahan di buku tersebut saat masih bayi. 

Saat membacakan cerita pada Naya, otomatis saya juga mengajak Naya ngobrol. “Tuh lihat Naya, anjingnya menangis. Yang mana sih anjingnya? Coba tunjuk!”. Ini pun adalah salah satu upaya saya menstimulasi perkembangan bicara dan bahasa Naya. 

Selain stimulus tumbuh kembang, saya membuat waktu membaca sebagai bonding time antara saya dan Naya. Karena ini adalah waktu khusus untuk kami, Naya selalu menantikan saat membaca bersama. Its our time!

Yang harus diingat adalah jangan memaksakan bayi untuk fokus saat dibacakan cerita. Terkadang, karena bosan, lapar atau mengantuk, kegiatan ini tidak bisa saya lakukan. Pada prinsipnya, saya mengikuti sejauh mana keinginan Naya. 

Setelah Naya semakin besar, terkadang kegiatan bercerita ini saya balik. Saya bercerita dahulu, kemudian saya minta Naya ganti bercerita pada saya.  Pernah juga saya meminta Naya bercerita sesukanya tanpa buku. Eh, ternyata dia bisa mengarang cerita lho!:))

Penelitian membuktikan bahwa membacakan cerita alias mendongengi anak dapat meningkatkan level IQ mereka kelak. Saya juga sering menyelipkan ajaran-ajaran khusus kepada Naya lewat cerita. Misalnya saja mengajari Naya tidak sombong dengan cerita si kura-kura dan kelinci yang angkuh, mengajari Naya selalu jujur dari cerita Pinokio sampai mendidik Naya patuh pada orangtua dari cerita Malin Kundang. 

Sampai saat ini, saya belum menemukan sisi negatif  dari membacakan cerita untuk anak. Jadi, yuk mulai bacakan cerita!


Wednesday, October 8, 2014

Happy Baby;)


A mother always puts her kids happiness and needs above her own.



Setelah menjadi ibu, saya mengerti benar ungkapan surga di telapak kaki ibu. Benar deh, sebelumnya saya belum pernah merasakan keinginan yang sedemikian kuat untuk membahagiakan seseorang, memenuhi segala kebutuhannya dan menyayanginya begitu hebat.



Her happiness is the only thing that really counts.



Tapi bagaimana ya cara membuat anak bahagia? Dengan memberikan mainan mahal? Dengan mengabulkan semua keinginannya atau bagaimana?



Para ahli perkembangan mengatakan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita berikan pada anak melainkan sesuatu yang kita ajarkan. Its not what we gave but we taught. 

Kalau saya disuruh mengingat momen paling membahagiakan yang pernah saya alami waktu kecil, saya akan mengingat masa di mana kami (papa, mama, kakak dan saya) kruntelan berempat di tempat tidur hari Minggu pagi. Saya juga ingat saat kami berempat main kartu saat mati lampu hanya diterangi nyala lilin. Momen membahagiakan yang saya ingat bukanlah saat papa membelikan saya mainan mahal atau membawakan saya sepeda baru. 

Saya percaya bahwa happy baby dibesarkan di lingkungan keluarga yang hangat dan damai. Bagaimana kita bisa bahagia kalau lingkungan kita penuh emosi kemarahan dan umpatan di mana-mana? Jadi sebenarnya, banyak lho yang bisa kita lakukan untuk membuat anak bahagia.

Pertama, bonding. Lakukan bonding sesering mungkin dan sedini mungkin. Laksanakan Inisiasi Menyusui Dini setelah bayi lahir, berikan ASI sampai 2 tahun atau lebih, berkomunikasi dengan anak sejak dalam kandungan. Ajak ngobrol, usap perut akan sangat membantu membentuk bonding dengan anak. Habiskan quality time dengan anak sesering mungkin, bisa dengan menstimulasi sesuai umur atau sekadar berjalan-jalan sore.

Selain itu, biarkan anak menangis atau marah. Saat Naya menangis, saya akan menanyakan padanya kenapa dia menangis? Apa karena habis dimarahi? Atau karena sedih mau saya tinggal jaga? Saya tekankan, "Nah itu namanya sedih kak. Engga apa-apa kalau kakak sedih terus menangis. Wajar kok." Demikian juga saat Naya marah. Saya kenalkan padanya emosi yang sedang dia rasakan bernama "marah". Saya ingin Naya tahu, its alright to be unhappy sometimes. Its part of life.

Saya juga mengajarkan Naya untuk berbagi dan peduli. Saya yakin, bahwa manusia akan merasa lebih bahagia saat merasa mempunyai arti lebih bagi sesama, bahkan pada saat masih kecil. Saya sering meminta tolong Naya mengambilkan barang. Lalu saat Naya mengambilkan dan memberikan barang tadi pada saya, saya akan mengucapkan terima kasih dengan wajah berseri-seri. Biasanya, Naya jadi senang sekali setelahnya. 

Terakhir, lagi-lagi, children see children do. Anak akan meniru apapun dari orangtuanya, termasuk mood. Jangankan anak seumur Naya, bayi dalam kandungan pun bisa merasakan emosi ibu dan mencontohnya lho! Maka itu, perbanyak senyum, perbanyak tawa. Happy mommy, happy baby!:)

Saturday, October 4, 2014

Naya dan Gifted

Karena merasa kekurangan informasi valid mengenai anak gifted (baca: dari ahlinya yang benar-benar mendalami bidang ini, bukan sekadar pengalaman. Bukannya menyepelekan pengalaman, tetapi saya sangat percaya pada hal ilmiah yang evidence based;) ), saya mencari buku referensi yang dapat dipercaya mengenai gifted ini.

Setelah browsing ke beberapa sumber, saya memutuskan memesan buku "A Parent's Guide to Gifted Children" di salah satu website buku impor. Kenapa buku ini? Buku ini ditulis oleh beberapa psikolog yang sudah puluhan tahun memang mendalami anak gifted. Selain itu, banyak psikolog lain yang merekomedasikan buku ini pada orangtua yang mempunyai anak gifted maupun pada mahasiswa psikolog yang mempelajari anak gifted.

Anywaaaay, saya belum habis membaca buku dengan total hampir 400 halaman ini. Masih saya resapi satu-satu #halah :)) Nanti kalau sudah selesai saya review yaaa.

Saya hanya ingin menuliskan sedikiiit saja bagian dari buku ini yang sempat membuat saya tercenung beberapa waktu.

Dalam buku ini, tertulis:

Common Characteristics of Gifted Children

1. Unusual alertness as early as infancy
Coba deh buka blog saya ini beberapa tahun lalu saat Naya baru lahir. Saya menulis betapa bingungnya saya karena tidak sesuai dengan ungkapan "sleeps like a baby", atau bayi-bayi lain yang hampir sepanjang hari tertidur nyenyak, Naya justru sulit sekali tidur. Sejak lahir. Saya sampai membawanya konsultasi ke dokter tumbuh kembang anak karena waktu tidurnya yang sangat pendek untuk ukuran bayi.

2. Rapid learner, able to put thoughts quickly
Saya memang merasa Naya gampang sekali diajari suatu hal baru. Satu dua kali mengulang, sudah deh dia akan bisa mengikuti. Tapi saya hanya mengira karena Naya masih kecil, otaknya gampang menyerap segala sesuatu.

3. Retains much information, very good memory
Pernah saya ceritakan juga di blog ini saat Naya masih belum 2 tahun, saya bawa dia ke Jember untuk dinas. Di dekat RS tempat saya bertugas, ada satu restauran fastfood lokal (Yang tidak terkenal, saya bahkan baru pertama kali mendengarnya). Kami tidak pernah makan di sana, tapi beberapa kali melewati tempat makan tsb. Berbulan-bulan setelahnya, saat saya sedang mencari alamat di pinggiran Surabaya, Naya tetiba berteriak melihat satu logo di pinggir jalan. "Mama itu kan tempat makan yang di Jembel. Kok di Sulabaya ada?" Saya yang engga ngeh menganggap Naya asal saja. Eh setelah saya ingat-ingat, baru deh saya ngeh maksud Naya. Ternyata memang benar, ada rumah makan yang sama di situ. Duh, maaf ya kak:'(

Masih dari postingan di blog ini, saya pernah menulis saat Naya berusia 2 tahun, saya ajak dia membeli bubur ayam langganan. Biasanya, saya tidak pernah mengajak Naya ke sana. Seingat saya, baru sekali sebelumnya. Saat di sana, Naya bertanya pada saya, "Mama kenapa ayamnya yang di tenda diganti?" Lagi-lagi, saya engga ngeh maksud Naya, karena saya lihat tendanya masih sama seperti biasanya. Berwarna kuning, dengan tulisan hitam dan merah, dan ada gambar ayam di sebelah kiri. Sama persis. Saya yakinkan Naya bahwa tidak ada yang beda, tapi anak gadis ini keukeuh bilang beda. Eh ternyata saat saya tanyakan ke tukang buburnya, benar lho beda! Kalau biasanya ayamnya menengok ke kanan, sekarang menengok ke kiri, sementara yang lainnya dibuat identik. Ya ampun, kakakkkk! Maaf yaaa:'(

Karena itu dan beberapa pengalaman lainlah, saya sangat mempercayai ingatan Naya. Kalau barang saya hilang misalnya, saya akan menanyakan Naya karena ia pasti ingat di mana dia pernah melihatnya:D

4. Unusually large vocabulary and complex structure for age
Soal ini banyak saya tulis di blog. Mulai dari kata macam klarifikasi sampai konsekuensi-_-"

5. Concern with social and political issues and injustices
Masih ingat postingan blog saya soal Naya yang hobi sekali ngomongin pak Jokowi?:@

6. Desire to organize things and people through complex games or schemes
DI postingan saya sebelumnya pun pernah saya tuliskan "kerempongan" Naya dalam mengatur buku, baju atau sepatu milknya.

7. Longer attention span, persistence and intense concentration
Naya tidak akan mau berhenti mengerjakan sesuatu jika belum selesai. Bermain congklak yang lamaaaa itu misalnya, harus diselesaikan satu persatu sampai bijinya habis. Walaupun emaknya ngantuk dan bosan, Naya sangat fokus dan tidak akan ter-distract dengan gangguan macam apapun. 

8. Largely self-taught reading and writing skills as a preschooler
Saya pernah menulis betapa kagetnya saya saat suatu ketika Naya bilang sudah bisa membaca (walaupun tidak lancar ya) dan menulis. Lho, siapa yang ngajarin? Kapan ngajarinnya?:)))
Bapaknya pun sampai menangis terharu ketika berulangtahun dan dihadiahi Naya kartu ulangtahun buatannya sendiri lengkap dengan tulisan acak-acakan Happy Birthday Papa!

9. Unusual emotional depth; intense feelings and reactions, highly sensitive
Coba hitung berapa kali saya bilang Naya lebay di blog ini? Duh, maaf ya kak. Menurut saya yang engga tahu menahu soal gifted ini sebelumnya, Naya memang sering sekali lebay. Saat saya jaga dan tidak sempat menelponnya, dia akan menelpon saya duluan. "Mama, kenapa engga nelpon kakak? Mama lupa ya punya anak kakak? Lupa kalau ada kakak Naya?"

Saat saya ngobrol dengan suami membicarakan pasien saya yang kejang misalnya, tetiba saja akan ada suara tangisan sendu dari Naya. "Mama, kasihan sekali pasien mama. Kapan sembuhnya? Please mama, diobatin sampai sembuh ya." Padahal boro-boro kenal dengan Naya, tahu namanya atau berjumpa saja tidak pernah.

Kalau saya ngobrol dengan orang lain dengan suara pelan, Naya selalu merasa kami sedang membicarakan dia. Jadi tetiba dia menangis saja merasa sedang diomongin. Lebay engga itu? Dulu menurut saya iya, banget. Tapi setelah saya membaca buku ini saya baru mengerti. Maaf ya kakaaaaak:*

10. Keen and sometimes unusual sense of humor, partically with puns.
Buat ukuran anak 3 tahun, menurut saya selera humor Naya agak "ajaib". Dia suka sekali memlesetkan kata-kata. Misalnya:
Saya: Kak, kakak mau engga mama buatin tabungan di bank? Jadi kakak bisa nabung di bank.
Naya: Engga usahlah ma. Kakak udah punya tabungan di bank kok.
Saya: Ha? Masa? Bank mana?
Naya: Bank Joni! (Lalu dia ketawa histeris tak henti-henti)
(Abang Joni adalah pedagang Aqua dan gas LPG langganan keluarga saya. Setiap bulan saya "menyimpan" uang di sana untuk membayar aqua dan LPG yang diantar mingguan).

Yang paling saya ingat adalah joke Naya kemarin.
Saya: Kak, besok orang-orang pada potong kambing lho buat Idul Adha.
Naya: Iya mama, pasti rame. Harus ramelah memang engga boleh sendirian potong kambing itu.
Saya; Kenapa emang?
Naya; Namanya juga potong royong! (Lalu kembali dia ngakak sampai nangis)
Saya agak telmi, masih bingung di mana letak kelucuannya, setelah saya pikir-pikir hahaha yaaa lumayanlah lucu juga:p

Aneh engga sih? Buat saya ajaib ya selera humornya unyil ini. Anak 3 tahun gitu lho.

Masih ada beberapa karakteristik gifted yang Naya banget dan akan saya tulis selanjutnya ya. Makanya, stay close:D

ps: Banyak yang menanyakan saya, jadi Naya itu gifted ya? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Memang begitulah yang dikatakan psikolog dan konsultan tumbuh kembang anak tentang Naya. Tapi saya sendiri lebih senang mengatakan kalau Naya "special" dan "unik", berbeda dengan kebanyakan anak yang seusia. Saya sedang mencari sebanyak-banyaknya informasi valid mengenai anak special ini, jadi jangan heran kalau sehabis gifted ini, saya akan share mengenai yang lain yang saya anggap mirip dengan keadaan Naya (saya juga belum tahu apa lagi selain gifted:p).

Cheers!

Sunday, September 28, 2014

Lawan!

Banyaknya berita mengenai pencabulan, penculikan, pelecehan seksual sampai penganiayaan anak di bawah umur tentunya membuat semua orangtua -termasuk saya- khawatir. Inginnya sih menjadi bodyguard Naya 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 356 hari setahun. Tapi, engga mungkin juga kan? Lalu harus bagaimana?

Ini ada video yang saya share, milik UNICEF yang dapat diperlihatkan pada anak kita. Gambarnya menarik, bahasanya sederhana sehingga mudah dimengerti anak. Naya serius sekali saat saya perlihatkan video ini. Dan dia bilang pada saya, "Kakak ati-ati mama. Mama dont wolly ya" :')

Semoga bermanfaat!
video

Saturday, September 27, 2014

Siap Hamil

Terkadang kita menjadi galau gundah gulana saat buah hati yang dinanti-nanti tak kunjung datang. Sebelum stress sendiri, ada baiknya kalau kita melakukan introspeksi, apakah kira-kira kita sudah menyiapkan tubuh untuk hamil?
 
Hidup sehat
Terapkan pola hidup sehat agar metabolisme tubuh berjalan baik. Coba diingat-ingat lagi, sudahkah kita beristirahat dengan cukup setiap harinya? Sudahkah kita melaksanakan pola makan sehat dengan gizi seimbang? Sudahkah kita teratur berolahraga? Ada penelitian yang menyatakan bahwa perempuan yang rutin berolahraga ringan akan lebih mudah hamil. Selain itu, sebaiknya, konsumsilah secara rutin makanan yang dipercaya dapat meningkatkan kesuburan dan meningkatkan kualitas sperma. Misalnya saja asam folat, vitamin D, vitamin C, vitamin E yang banyak terdapat pada buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan serta ikan. Hindari juga terlalu banyak mengkonsumsi makanan berlemak jenuh. Jauhkan kebiasaan buruk seperti merokok atau banyak junk food.

Jaga berat badan ideal.
Apa hubungannya ya program hamil dengan berat badan ideal? Sangat berhubungan. Ibu yang terlalu kurus atau terlalu gemuk menandakan kurang seimbangnya asupan nutrisi. Ibu yang terlalu kurus misalnya, dapat menurunkan fungsi reproduksinya. Demikian pula pada ibu yang terlampau gemuk. Hal yang sama berlaku pada calon ayah. Kekurangan asupan nutrisi berimbang menurunkan kualitas sperma.

Tahu kan cara mengukur berat badan ideal? Cara yang paling banyak dan umum digunakan adalah dengan mengukur BMI atau Body Mass Index.

BMI = (BB) / [(TB) * (TB)]

Body Mass Index= (Berat badan dalam kg)/ [(TB dalam cm) * (TB dalam cm)
Dengan interpretasi sebagai berikut:

BMI kurang dari 18.5 = berat badan kurang (underweight)
BMI 18.5 - 24 = normal
BMI 25 - 29 = kelebihan berat badan (overweight)
 

BMI lebih dari 30 = obesitas

Atasi stress.
Walaupun tampaknya tidak berhubungan, faktor psikologis justru berperan penting dalam siklus kesuburan seseorang lho! Proses ovulasi seorang wanita dapat terganggu karena kestabilan pengeluaran hormon yang dapat disebabkan stress. Makanya, kalau sedang ada masalah di keluarga, masalah di kantor, selesaikan dulu dengan baik. Jangan juga stress gegara bolak/balik ditanya “Kapan nih hamilnya?”. Cukup senyum dan jawab “Terserah Yang Di Atas”.;)

Lakukan check-up ke dokter.
Bila semua hal di atas sudah rutin dilakukan, ada baiknya segera periksa kesehatan ke dokter. Pastikan tidak ada masalah kesehatan pada kedua belah pihak baik calon ayah atau calon ibu.

Positive thinking.
Tetap jaga pikiran untuk selalu positive thinking. Jika sudah melakukan pemeriksaan ke dokter dan dinyatakan tidak ada kelainan, berdoa dan banyak beramal.

Good luck:)

Wednesday, September 24, 2014

1000 Hari Pertama

Entah sudah berapa ratus kali saya mendapat pertanyaan dari orangtua, "Dok, vitamin otak apa yang paling bagus buat anak? Mahal pun engga apa-apa, asal baik."

Siapalah orangtua yang tidak menghendaki punya anak pintar dan cerdas? Tapi apakah untuk pintar dan cerdas memang membutuhkan suplemen vitamin otak yang paling baik? Sebenarnya, bagaimanakah "membuat" anak yang pintar?

*
Perkembangan otak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Gen orangtualah yang membentuk struktur sirkuit otak, tapi yang menentukan bagaimana sirkuit otak ini berhubungan satu sama lain adalah kombinasi nutrisi, lingkungan dan stimulasi. 

Developing the brain is all about wiring it in the most efficient way. Bagaimana cara yang paling efisien itu?

Pernah mendengar betapa pentingnya 1000 hari pertama dalam kehidupan seorang anak?
1000 hari pertama atau yang sering disebut the first thousand days adalah periode sensitif tumbuh kembang anak. Dimulai dari 9 bulan 10 hari di kandungan, sampai seorang anak berusia 2 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa ini terjadi dengan sangat cepat dan tidak ditemukan pada periode usia lain. Perkembangan sel otak anak pada masa ini juga sangat menentukan proses tumbuh kembang anak di masa depan.

Maka dari itu, sejak hamil, calon ibu harus memperhatikan benar nutrisi yang seimbang. Demikian pula setelahnya, karena di atas 2 tahun intervensi nutrisi dinilai tidak efektif karena periode emasnya telah terlewati. Bukan hanya nutrisi, stimulasi pun memegang peranan penting. Nutrisi baik bila tidak diikuti stimulasi yang baik tidak mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Demikian sebaliknya, stimulasi baik tidak bisa dilakukan jika nutrisi tidak baik.

25% sel otak anak mulai dibentuk sejak dalam kandungan,70% sampai anak berusia 6 tahun. Karena itulah pemberian nutrisi optimal serta stimulasi sangat penting pada masa ini.Saat 1000 hari pertama inilah terdapat windows of opportunities dimana otak anak sangat efisien menyerap satu kemampuan. Optimal window yang pertama terjadi saat sinaps otak saling berhubungan dengan kecepatan tinggi. Saat ini adalah saat paling tepat untuk menstimulasi anak.

-->
Fungsi Otak
Window of Opportunity
Penglihatan
Lahir – 6 bulan
Perkembangan motorik
Sebelum lahir – 6 tahun
Kendali emosional
Lahir – 3 tahun
Bahasa/ Bicara
Lahir – 3 tahun
Logika/Matematika
1-4 tahun


Sebagai contoh, fungsi penglihatan pada otak mempunyai window of opportunity sejak lahir sampai usia 6 bulan. 6 bulan pertama ini sangat menentukan untuk perkembangan penglihatan anak. Meletakkan bayi di kamar yang gelap misalnya, dapat menyebabkan penglihatan anak tidak berkembang secara normal. Dan setelah lewat dari window of opportunity ini, sulit bahkan tidak mungkin mengembalikan masa kritis penglihatan anak. Penglihatan akan berkembang dengan stimulasi. Saat menggendong anak berusia dibawah 6 bulan, tunjukkanlah mainan atau orang, gambar atau tempat untuk menstimulasi penglihatan anak.

Contoh lain, fungsi bicara anak mempunyai window of opportunity sejak lahir sampai usia 3 tahun. Untuk anak bisa berbicara, anak harus mendengar terlebih dahulu. Kata-kata yang didengar anak di 3 tahun pertama akan mempengaruhi kosakata saat dewasa. Pada usia sampai 3 tahun, anak mempunyai kapasitas yang luar biasa untuk berbahasa. Maka dari itu berikanlah stimulasi bahasa sejak lahir. Ajak anak berbicara dengan jelas (bukan baby talk), jelaskan apa yang sedang kita lakukan, bacakan cerita atau ajak anak bernyanyi.

Bagaimana menstimulasi emosi anak? Perkembangan emosi di sini mencakup mengenali emosi senang/sedih/marah, memanajemen emosi yang kuat sampai membangun rasa empati. Karena window of opportunity perkembangan emosi terletak sejak lahir sampai 3 tahun, pastikan menstimulasi anak di usia ini. Respon anak saat sedang menangis dengan bahasa yang halus, pelukan atau ciuman untuk menenangkan.

Untuk menstimulasi logika atau kemampuan berhitung bisa dengan mengenalkan anak pada kegiatan menyusun balok, mengenalkan angka, lebih besar. lebih kecil atau sama dengan sampai mensortir bentuk benda.

The quality, quantity and consistency of stimulation from a child’s early experiences contribute to the structure of his brain and its capacities.  The effect of these experiences lasts for the rest of his life. Its important to give good stimulation and good nutrition in the first 1000 days:)

Tuesday, September 23, 2014

Tantangan Orangtua Masa Kini

Postingan ini saya tulis untuk mengikuti #ceritabunda di web ayahbunda berikut:D

Menjadi orang tua akan selalu penuh tantangan sebagaimana anak-anak pun mempunyai tantangan tersendiri di setiap masa. Bagaimana tidak, tidak pernah ada sekolah khusus, kursus intensif atau textbook merawat dan membesarkan anak dengan baik. Sehingga selama ini yang dijadikan acuan selain insting adalah lungsuran pengalaman dari sesepuh yang entah benar atau tidak, entah aman atau justru berbahaya, entah fakta atau mitos.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, tantangan terbesar orangtua adalah bagaimana membesarkan anak dengan fasilitas yang serba terbatas, bagaimana mengeksplorasi bakat anak tanpa tersedianya tempat kursus ini-itu, bagaimana mengisi waktu luang efektif anak tanpa sarana hiburan. Mungkin. Bagai impian menjadi kenyataan, semua fasilitas yang diidamkan orangtua berpuluh tahun lalu tersedia di masa kini. Mencari informasi semudah satu sentuhan di layar gadget. Mengeksplorasi bakat atau minat anak tinggal memilih beragam tempat kursus ini-itu yang menjamur. Mencari hiburan pun bisa dari televisi, radio, gadget atau playground yang ada di mana-mana. Selesaikah tantangan orangtua?

Justru di era digital yang segala ada dan informasi mengalir dengan deras dari segala arah inilah, menurut saya tantangan menjadi orangtua semakin berat.

Bagai dua sisi mata pisau, segala fasilitas super lengkap masa kini bisa menjadi sangat merugikan dan menguntungkan bagi kita.

Sering kali kita lihat di media, berita mengenai pencabulan, pemerkosaan bahkan pembunuhan yang korban maupun pelakunya masih anak di bawah umur. Tak jarang juga kita lihat tayangan sinetron (yang saya yakin bebas dilihat siapapun termasuk anak balita) tidak mendidik, mempertunjukkan anak di bawah usia yang mabuk-mabukan, perilaku bully , merokok atau adegan lain yang tak pantas. Lain sinetron, lain pula tayangan komedi yang dibungkus sajian musik dan sedang marak. Candaan yang cenderung mengarah ke fisik, hinaan personal sampai guyonan tak etis merajai televisi di waktu banyak anak kecil menonton televisi. Belum lagi banyak lagu berhias desahan plus goyang syur dan bersyair konotasi negatif menggantikan lagu anak-anak yang penuh keceriaan.

Di era digital seperti sekarang, semua orang bisa mengakses berita apapun dengan mudah, termasuk anak di bawah umur. Jangan kaget jika gambar porno bisa terakses as easy as a click. Demikian pula dengan video porno, SARA dan kekerasan.

Belum lagi permasalahan gadget. Saya pernah mendapati beberapa anak balita yang begitu menempel pada gadgetnya sampai speech delay karena tak pernah terstimulasi bicara. Beberapa kali pula saya melihat anak yang tidak mau bergaul dengan siapa pun karena terlalu sibuk dengan gadgetnya.

Kurikulum pendidikan yang semakin berat pun merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua. Saking beratnya, terkadang kita lupa bahwa ada yang jauh lebih penting daripada bisa membaca dan menulis sebelum masuk SD, ada yang jauh lebih mendasar daripada kemampuan berhitung yang luar biasa.

Karena takut anak tidak bisa mengikuti pelajaran berat di sekolah, kita sibuk mengajari berhitung, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana cara berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana berdisiplin, bagaimana bertanggung jawab, bagaimana bersopan santun, bagaimana bertingkah laku penuh etika luput diajarkan.

Di kala kita yakin sudah menanamkan pendidikan karakter dan moral bagi anak, tetap saja ada kekhawatiran yang muncul sebagai orangtua. Iya, inshaAllah anak kita dapat berperilaku baik sehari-hari, namun adakah yang bisa menjamin kalau anak kita tidak akan menjadi korban perilaku orang lain yang tidak baik, misalnya pencabulan atau bully?

Kalau membicarakan kekhawatiran sebagai orangtua saya yakin tidak akan ada habisnya. Namanya saja orangtua, apalagi ibu. It’s a mom’s job to worry about her children:D

Tapi takutkah saya menjadi orangtua di masa kini? Tidak.
Saya yakin seberat apapun tantangannya, dengan kasih sayang, perhatian dan pondasi yang kuat, saya bisa menjadi orangtua yang dapat membesarkan anak dengan baik. InshaAllah. Pondasi yang saya maksudkan tentunya adalah agama, pendidikan moral dan karakter dari keluarga, sekolah pertama anak.

Menjadi orangtua membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik. Saya percaya, children see children do. Saya yang biasanya sembrono menjadi lebih rapi dan teliti karena ingin anak mencontoh saya. Saya yang menganggap sepele ucapan terimakasih, maaf atau tolong mulai membiasakan diri mengucapkan kata-kata ajaib ini agar bisa dicontoh anak.

Jadi menurut saya, tantangan orangtua masa kini bisa dijawab dengan pondasi yang kuat, contoh yang baik dan tentunya doa tak terputus.

Saya bangga menjadi orangtua masa kini:D

Monday, September 22, 2014

Pengukuhan Guru Besar

Sabtu kemarin, sepupu saya resmi dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Airlangga. Hebatnya, sepupu saya ini mencatat rekor guru besar termuda. Keren yaaa.

Sejak dulu, saya menganggap sepupu saya ini jagoan. Selalu menjadi the best di studinya, dan selalu juga menjadi role model bagi saya. Engga heran makanya kalau bisa jadi profesor termuda. Gelarnya saja panjang macam kereta api:)))

Keluarga besar saya datang dari Jakarta dan Bandung, termasuk mama. Naya juga ikut mengenakan kebaya. Naya bilang "Mama, kakak juga mau jadi plopesor ya nanti."





Amiiiin kak, amiiiin!

Selamat untuk Prof. Thaha, dr. PhD, Sp.PD-KGH, FINASIM, FACP. Semoga ilmunya berkah dan bisa berguna bagi masyarakat luas:D

Im a super proud cousin!


Thursday, September 18, 2014

Her Name Is Today

Kemarin saat sedang mengikuti kuliah S2, guru besar yang mengajari kami materi nutrisi pada anak membacakan satu kutipan yang diambilnya dari Gabriel Mistral. Saya tidak tahu betul siapa gerangan beliau, tapi kata-katanya menempel di benak saya untuk beberapa lama.

We are guilty of many errors and many faults
But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life
Many of the things we need can wait, the child can not
Right now is the time, his bones are being formed, his blood being made
And his sense are being developed
To him we can not answer tomorrow, his name is TODAY

*

Terkadang saat melihat Naya, saya sering merasa terharu sendiri. Rasanya baru saja kemarin saya hamil dengan penuh perjuangan:p, baru saja kemarin saya membawa segala printilan menyusui setiap pergi, baru saja kemarin saya bingung setengah mati karena Naya sulit sekali tidur, baru saja kemarin saya menanti-nanti kata pertamanya, baru saja kemarin saya mengajarinya berjalan, baru saja kemarin saya membuatkan MPASI perdananya, benar-benar baru rasanya. Kenapa "tiba-tiba" Naya sudah berumur 3 tahun ya? Sudah lancar berbicara ini-itu, sudah bisa bertanya tanpa henti, sudah bisa split, bisa roll depan roll belakang, bisa makan sendiri, bisa mandi sendiri. Time really does fly.
Anak bayi saya:')

Betul, sejak ada Naya saya jarang sekali hang-out bersama teman-teman. Saya sangat mengurangi jadwal siaran radio saya. Saya sudah lama tidak syuting. Saya tak ingat kapan terakhir kali ke salon. Dulu, saya hapal semua lagu terbaru, mancanegara ataupun Indonesia. Sejak ada Naya saya lebih hapal lagu anak-anak macam Ruri Abangku dan Tukang Pos:))) Dulu, saya bisa membaca novel chiclit atau metropop kesayangan setiap hari. Sekarang, saya lebih hapal isi buku anak-anak seperti kisah perjuangan si Kelinci dalam lomba lari atau persahabatan si Gajah dan Semut. Dulu, saat ada waktu luang saya bisa dipastikan sudah melipir ke mall sebelah. Sekarang, di waktu luang saya lebih memilih menggunting dan menempel kertas berwarna atau menyembunyikan "harta karun" berupa potongan kertas berwarna dengan tulisan kata di atasnya. Dulu, setiap sore sepulang bekerja saya masih bisa leyeh-leyeh sekadar scrolling akun socmed untuk melihat apa yang sedang happening, sekarang sore saya diisi dengan mengantar Naya les. Dulu, malam saya isi dengan melihat tayangan talkshow atau infotainment di televisi. Sekarang, saya lebih sibuk mengarang permainan #Playandlearn untuk Naya.

Menyesalkah saya? Tidak. Sama. Sekali.

Karena hang-out dengan teman-teman bisa menunggu, siaran radio atau televisi bisa menanti. Pergi ke salon bisa ditunda, sama halnya dengan mendengar lagu terbaru atau membaca novel kesayangan. Pergi ke mall bisa nanti, update socmed bisa ditangguhkan. Tapi golden period Naya tidak akan pernah bisa diulang. Saat yang tepat untuk membentuk kecerdasan dan perilakunya adalah sekarang, tidak bisa ditunda atau ditangguhkan. Sebelum berusia 6 tahun, otak manusia sudah terbentuk 95%-nya.Sebelum 6 tahun, otak anak akan sangat sensitif dengan stimulasi. Pernah dengar kan kalau otak anak menyerap seperti spons?  Jadi menurut saya, sebelum 6 tahunlah waktu yang tepat untuk memberikan berbagai stimulasi tumbuh kembang, termasuk pendidikan karakter. 
Sebelum 6 tahun. Sebelum terlambat.

Saya bersyukur, walaupun bekerja masih dapat mendampingi Naya di setiap proses tumbuh kembangnya. Saya ada saat Naya mengucapkan kata pertamanya, saya pun hadir menyaksikan jalan pertamanya, konser balet pertamanya, wisuda pertamanya. Saya masih turun tangan membuat MPASI Naya setiap hari, membacakan buku cerita pada Naya setiap hari, dan bermain dengannya. Sampai hari ini pun setiap hari saya masih bisa mengajari Naya berhitung, menulis tegak bersambung atau membuat cerita. Segala kesusahan saya harus lari ke sana-sini demi bisa mengantar Naya, kurangnya waktu tidur, capeknya serasa hilang begitu saja setelah melihat Naya tumbuh menjadi anak sehat, pintar dan -semoga- sholehah. Alhamdulillah, betapa beruntungnya saya:)

ps: yes im a working mother, and im proud of it:D #ibubanggabekerja

Nanti kita nyalon dan hang-out bareng ya kak Aya!

 To her i cannot answer tomorrow, her name is TODAY:D

Wednesday, September 17, 2014

Serba-serbi Demam pada Anak

Kemarin saya dihubungi pihak Detik.com untuk memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan soal demam pada anak. Oh ya btw, saya memang salah satu narasumber Detik.com sejak kurang-lebih setahun yang lalu. Saya senang sekali diajak bekerjasama karena pada dasarnya saya ini pemalas. Suka malas buka-buka jurnal atau textbook terbaru untuk membaca update soal kesehatan. Mendingan baca novel deh:p Tapi, sejak jadi narasumber rutin mau tak mau saya harus banyak belajar untuk mempertanggungjawabkan jawaban saya terhadap berbagai pertanyaan.

Pertanyaannya terkadang antik, tapi suka tak suka, harus diakui yang "antik" seperti inilah yang banyak dijumpai di masyarakat kita:D

Kembali ke soal demam pada anak, saya mau membahas sedikit nih. Demam ini penting untuk diketahui orangtua dimana saja, karena hampir sebagian besar kunjungan ke dokter anak disertai keluhan panas atau demam. Semoga berguna ya:D
(Beberapa di antaranya mungkin bisa dibaca langsung di Detik.com)

1. Sebenarnya sakit demam itu apa sih?
Demam sebenarnya adalah mekanisme tubuh anak dalam melawan kuman yang masuk. Untuk menentukan anak demam atau tidak, gunakan thermometer pleaseeee, jangan tanganmeter:))
Percaya atau tidak, banyak juga lho orangtua yang membawa anaknya ke dokter karena menurut "tanganmeter" mereka panas, tapi setelah diukur dengan thermometer ternyata normal. Untuk semua orangtua yang mempunyai anak, menurut saya mempunyai thermometer adalah wajib hukumnya. Suhu di atas 37,5 derajat Celsius baru dapat dikatakan demam. Obat penurun panas baru diindikasikan saat suhu tubuh diatas 38 derajat Celsius.

2. Bolehkah dibalur bawang merah saat anak demam?
Memang benar bawang merah mempunyai sifat dapat melebarkan pembuluh darah sehingga dapat menurunkan suhu tubuh. Tapiiii, bawang merah juga dapat membuat iritasi pada kulit anak yang termasuk sensitif, selain itu bau bawang bisa membuat anak merasa engga nyaman. Padahal kenyamanan anak saat demam sangatlah penting.

3. Kalau dikompres alkohol bagaimana? ALkohol kan dingin, bisa cepat menurunkan panas?
Alkohol 70% yang beredar di pasaran mudah sekali diserap kulit sehingga bersifat toksis. Memang sih alkohol terasa dingin, tapi tidak mempengaruhi suhu tubuh anak. Bahkan, alkohol yang terhirup anak saat dikompres bisa menyebabkan koma. Yang benar adalah kompres menggunakan air hangat diseka ke seluruh tubuh. Bukan hanya ditempel di atas dahi ya.

4. Kalau dikompres dengan air es?
Kompres dingin tidak direkomendasikan untuk mengatasi demam karena dapat meningkatkan pusat pengatur suhu di otak , mengakibatkan badan menggigil sehingga malah terjadi kenaikan suhu tubuh. Kompres dingin mengakibatkan pembuluh darah mengecil (vasokonstriksi), yang meningkatkan suhu tubuh. Selain itu, kompres dingin mengakibatkan anak merasa tidak nyaman.

5. Benarkah saat demam anak harus diberi kopi supaya tidak kejang?
Tidak. Tidak ada hubungan antara kopi dengan pencegah kejang saat demam. Jangan berikan secara rutin juga yaa. Tidak pernah ada penelitian yang membuktikan bahwa kopi dapat mencegah atau mengobati kejang. Malah, kafein pada kopi dapat membuat anak hiperaktif, juga bisa meningkatkan asam lambung dan menyebabkan sakit perut.

6. Kapan harus ke dokter saat anak demam?
Jika demam terjadi pada bayi di bawah 3 bulan, bayi lebih dari 3 bulan dengan demam di atas 39 derajat Celsius dan tak membaik setelah diberi obat, demam tak membaik selama 3 hari, nyeri saat BAK, nyeri di bagian telinga, anak tidak mau makan atau minum sama sekali, kejang, kaku leher, terdapat ruam merah, muntah dan diare.

7. Bagaimanakah seharusnya pertolongan pertama saat anak demam?
Kenakan pakaian tipis, berikan minum yang banyak, minumkan obat penurun panas sesuai berat badannya (bukan sesuai umur ya), kompres basah ke seluruh tubuh dengan air hangat.

First thing first, saat anak demam, jangan panik. Its easy to say but i know its very hard to do:D

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates