Wednesday, July 30, 2014

Kakak Aya Pulang Kampung Part 2


Masih dalam rangkaian acara #mudik lebaran, hari ke-2 kami di Bandung diawali dengan kunjungan ke De'Ranch Lembang. Karena sehari sebelumnya saat ke Kampung Gajah jalan bisa dibilang kosong, kami pede banget kalau kali ini pun begitu. Rupanya justru sebaliknya saudara-saudara. Maceeeeet, hiks! Di De'Ranch-nya pun banyak sekali pengunjung, sejujurnya saya hampir tidak bisa menikmati:(

Tiket masuk yang harus dibayar Rp. 8.000,00/orang. Cuaca hari itu cukup cerah, dengan udara dingin. Cocok untuk bermain deh! Di De'Ranch ini, ada beberapa wahana permainan seperti horse riding, balon air, sepeda, memanah sampai membuat kue. Naya hanya meminta naik kuda dan membuat kue. Biaya yang dikeluarkan untuk setiap permainan sekitar Rp. 20.000,00-Rp. 35.000,00. 

Saat menghias kue, kita juga bisa membawa pulang kue dan sertifikat. Lucu ya?:D

Saat melihat-lihat permainan lain, rupanya Naya tertarik bermain balon air. Saya sendiri ragu apakah Naya berani atau tidak karena melihat pengunjung lain yang bermain di balon air rata-rata anak yang lebih besar, antara 8-10 tahun. Tapi Naya bolak/i meminta. Saya tanyakan pada petugas yang berjaga, bolehkan anak berusia 3 tahun seperti Naya ikut bermain, menurutnya boleh asal berani.
Jadilah Naya saya daftarkan bermain balon air. Saat masuk ke dalam balon dan udara mulai ditiupkan, Naya senang sekali dan tertawa-tawa. Lalu begitu sudah dilemparkan ke dalam air, Naya mulai ketakutan dan #kemudianmewek :)))) Rugi bener dah, bayar Rp. 20.000 hanya untuk sekian detik. Hahaha tapi saya bangga Naya sudah berani mau mencoba:D

Di De'Ranch, banyak juga jajanan yang dijual, kebanyakan mengingatkan saya pada masa kecil. Misalnya es goyang, gulali, dll. Namun saya tidak tahu apakah rasanya oke atau tidak karena saya berpuasa:p Kata Naya sih, enak banget:p

Karena pengunjung De'Ranch sudah terlalu ramai, kami memutuskan pulang dan menuju Floating Market. Tempat ini konon lagi happening berat. Menawarkan pemandangan alam yang luar biasa, dan ada kawasan khusus penjual makanan yang ada di dalam kapal, jadi suasananya benar-benar macam floating market. Untuk membeli jajanan di sini, kita harus membeli koin terlebih dahulu. Lagi-lagi, karena pengunjung terlalu ramai, daripada asma saya kambuh, kami hanya sebentar di tempat ini dan langsung pulang:D



Sampai di rumah, karena gempor, Naya langsung tidur. Saya sendiri awalnya berniat mau membantu mama menyiapkan hidangan lebaran. Tapi apa mau dikata, gegara ngelonin anak gadis, saya pun ikut bablaaaaas sampai pagi:)))

Bagaimana kisah lebaran keluarga kami? Tunggu di postingan selanjutnya ya!:D

Tuesday, July 29, 2014

Idul Fitri 1435H

Kami sekeluarga mengucapkan 'Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin. Selamat berkumpul dengan keluarga merayakan lebaran:)'



Sunday, July 27, 2014

Kakak Aya Pulang Kampung Part 1



Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, setelah sekian lama akhirnya tahun ini Alhamdulillah saya bisa mudik juga untuk berlebaran di Bandung. Yaaaayyy!

Dari jauh hari sebelumnya, saya sudah survey kiri kanan untuk menyusun acara selama kami di Bandung. Deg-degan juga sih, karena saya tidak bisa memprediksi apakah di saat libur lebaran seperti sekarang tempat wisata yang ingin dikunjungi padat atau tidak. Malas juga kan ya kalau ramai sekali, malah nantinya jadi engga menikmati.

Hari Jumat pagi, saya dan suami masih harus ke rumah sakit dulu. Naya sudah bingung engga karuan terkait kelincinya.
N: "Mama, kalau kita pulang kampung, Clovel gimana? Nanti siapa yang kasih makan? Mama belikan Clovel tiket pesawat juga dong biar Clovel mudik juga."
M: "Engga bisa kak, di pesawat engga boleh bawa kelinci."
N: "Engga apa-apa ma. Nanti bial Clovel kakak pangku. Nanti kakak yang minta ijin paknya bial boleh."
M: "Engga boleh kak. Nanti bisa-bisa kita engga jadi mudik lho."
N: *mewek*--> Super susssssaaaah deh punya anak super sensih!

Untunglah ribut-ribut soal kelinci engga bertahan lama, karena diselamatkan yangti yang datang untuk menjemput si Clover. Naya tenang, kami senang:D

Sepulang dari rumah sakit, kami semua langsung ke bandara. Naya senaaaang sekali, tak hentinya menyanyi dan bertanya di jalan.

"Mama, kenapa pesawat sayapnya diem aja bisa telbang? Kok kalau bulung halus gelak-gelak sayapnya? Tapi kok helikoptel sayapnya halus mutel-mutel?"

"Papa, kenapa sun itu kalau digambal ada galis-galis di kelilingnya? Kok kalau moon engga ada? Kan sama-sama ada sinalnya?"

"Mama, kenapa semua olang Islam halus lebalan? Emang kalau engga lebalan kenapa?"

dan seterusnya, dan seterusnya...

Kami sampai di bandara 1,5 jam sebelum boarding sehingga masih sempat bersantai dulu dan makan siang. (Kebetulan saya sedang engga puasa). Bandara saat itu terhitung belum begitu ramai, mungkin karena masih hari kerja terakhir yaa. Di pesawat pun Naya senang sekali, bertanya tak ada habisnya.

Kakak Aya pulang kampung
Alhamdulillah penerbangan berjalan cukup lancar. Kami tiba di Bandung sesuai waktu perkiraan. Sampai di rumah, kami berkangen-kangenan dengan keluarga. Ada anggota baru di keluarga kami, keponakan saya. Lucuuuu banget! Huks, jadi pengin punya bayi lagi #eh #kode :))))

Masih pantes kan ya gendong bayi? #kode
Hari pertama ini, kami habiskan dengan mengunjungi rumah makan Rasa. Rumah makan ini sudah berdiri sejak jaman dahulu kala dan mempunyai nilai nostalgia tersendiri buat saya. Es krim homemadenya tak ada tandingan deh! Naya senang sekali karena diperbolehkan makan es krim. Dia memesan ballerina ice cream yang langsung dihabiskan. Tandas.

Keesokan harinya, kami pergi ke Jonas Banda untuk berfoto keluarga. Tema yang disiapkan adalah hitam putih. Saya sudah lamaaaaa banget engga punya foto dengan mama dan kakak, jadilah semangat sekali saat diajak berfoto:D

Karena tergoda saat melihat-lihat contoh foto lain yang lucu-lucu, akhirnya saya juga memesan paket foto keluarga untuk berfoto dengan suami dan Naya. Hasilnya lucu-lucu lho! Nanti saya upload kalau sudah selesai yaaa. Pemotretan berjalan cukup cepat karena semua banci foto:))) Naya sih jangan ditanya ya, foto belum dimulai, eh dia sudah pose duluan:))))

Sepulang dari Jonas, kami bertiga melanjutkan petualangan ke Kampung Gajah Wonderland. Lokasi tempat rekreasi ini terletak di Bandung Utara, tidak begitu jauh dari rumah saya. Sepanjang perjalanan, Naya tertidur. Kurang lebih 45 menit (karena macet), kami sampai juga di Kampung Gajah.

Naya semangat sekali melihat permainan-permainan yang ada di sini. Saya was-was karena cuaca terlihat mendung dan mulai ada tetesan air hujan. Kasihan juga kan ya kalau Naya engga jadi main karena hujan? Eh tanpa disuruh, Naya langsung berdoa kepada Allah memohon tidak hujan. Saya kaget juga:)))
Alhamdulillah, hujan tidak menunjukkan tanda-tanda kembali turun.

Untuk bermain di Kampung Gajah, kita bisa membeli tiket terusan seharga Rp. 150.000,00 (Weekdays) atau Rp. 200.000,00 (Weekend). Saya memutuskan untuk tidak membeli tiket terusan karena merasa banyak permainan yang belum bisa dicoba Naya. Ternyata keputusan saya tepaaaat sekali saudara-saudara:D Seharian bermain, kalau saya hitung-hitung total damage cost untuk kami bertiga tidak sampai Rp. 250.000,00.  Bayangkan kalau kami membeli terusan untuk bertiga jadi Rp. 600.000,00. Jauh kan:D #emakirit


Walaupun mendung, Bandung tidak hujan siang itu sehingga pas rasanya untuk bermain. Mungkin karena masih bulan puasa, Kampung Gajah tidak ramai sama sekali. Kami bisa bermain tanpa mengantri lho! Padahal kata orang-orang, biasanya kalau weekend Kampung Gajah itu ramai minta ampun.

Kami mencoba berbagai macam permainan, sepuasnya deh. 
Setelah puas -dan gempor (emaknya)-, kami pulang ke rumah. Wah jalanan mulai macet, stress banget lihatnya. Tapi tetap saja Alhamdulillah senang sekali:)

DI rumah, kami berbuka puasa bersama (Syukurlah saya sudah puasa lagi), nikmat banget. Semoga bisa terulang tahun depan ya:')

Nantikan kembali kisah kakak Aya pulang kampung part selanjutnya:D

Thursday, July 24, 2014

Pediatric 2010

Lima tahun yang lalu, kami bertemu untuk pertama kalinya. Latar belakang kami berbeda jauh. Ada yang dari Aceh, ada yang dari Papua. Ada yang fresh baru saja lulus kuliah, ada yang sudah berbelas tahun meninggalkan kuliah. Ada yang sudah menjabat sebagai kepala Puskesmas bertahun-tahun, ada yang bahkan belum pernah bekerja. Ada yang sudah berkeluarga dan beranak tiga, ada yang belum menikah. Ada yang terbiasa hidup di kota besar, ada yang datang dari desa. Ada yang terbiasa dan lancar berurusan dengan laptop dan segala softwarenya, ada yang baru saja belajar.

Lima tahun yang lalu, kami datang ke tempat ini dengan satu tujuan dan harapan, menjadi dokter spesialis anak yang baik.
Selama lima tahun, kami berjuang bersama, melewati hari-hari penuh keringat, darah dan air mata. Semakin lama, kami semakin mengenal karakter masing-masing. Ada yang keibuan, mengayomi semua temannya layaknya seorang ibu pertiwi. Ada yang lugu, polos dan tegas. Ada juga yang cuek bebek. Ada yang super sensitif, ada yang tidak sensitif sama sekali:))) Lengkap.

Pertengkaran di antara kami sudah menjadi hal biasa. Urusan pasien di rumah sakit atau pekerjaan rumah sakit lain yang membuat kami "under pressure" menjadikan kami mudah sekali terpancing emosi. Sakit hati, ngambek, sampai sandal terbang menghiasi kisah kami:)))) Tapi Alhamdulillah, justru pertengkaran-pertengkaran itu yang membuat kami semakin kuat. What doesnt kill you makes you stronger, right?:D

Segala masalah yang terjadi pada masing-masing dari kami selama lima tahun ini terlewati dengan dukungan, doa, bantuan, perhatian dari semua. Bukan hanya masalah di rumah sakit, tapi segalanya. Masalah kesehatan, masalah rumah tangga sampai masalah keluarga.

Kami bukan lagi hanya sekadar teman sejawat, kolega atau sahabat. Kami adalah keluarga, Keluarga besar yang saling memaklumi perbedaan karakter, status dan latar belakang masing-masing. Keluarga besar yang selalu siap membantu. Keluarga yang selalu siap saling mengingatkan saat anggotanya salah, yang selalu ada.


We may not have it all together. But together, we have it all:)

Monday, July 21, 2014

Saat Semua Mudik


Tidak terasa ya sebentar lagi kita sudah akan merayakan hari lebaran. Pasti banyak yang sudah tidak sabar mengambil cuti untuk berlebaran di kampung halaman, termasuk saya yang -akhirnyaaaaa, Alhamdulillah yaa-bisa mudik juga tahun ini.

Tapi ada satu hal yang tak jarang membuat kita pusing tujuh keliling menjelang lebaran. Iyaaa betul! Apalagi kalau bukan waktu ART dan nanny kesayangan mudik ke kampung halamannya. Segala urusan rumah tangga mulai dari kegiatan memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah, menjadi tanggung jawab kita. Siapa yang tidak pusing? Belum lagi kalau ternyata sang ART dan nanny tidak janji mau kembali lagi setelah lebaran. Stress berlipat-lipat rasanya.


Sesungguhnya ketakutan terbesar seorang ibu adalah saat ART dan nanny pulang kampung waktu lebaran:p Bingung juga bagaimana mengurus rumah dengan efektif dan efisien, karena saya juga harus tetap bertugas di rumah sakit.

Syukurlah setelah browsing ke sana ke mari, saya menemukan banyak situs di Internet yang berisi panduan dan juga tips untuk segala jenis kegiatan rumah tangga. Seperti Bersih Bersih, yang berisi kumpulan artikel tentang kegiatan rumah tangga mulai dari membersihkan rumah hingga mengurus hewan peliharaan. Tips membersihkan rumahnya lumayan banget lho untuk menghemat waktu!

Nah kalau untuk urusan membersihkan rumah selama pembantu pulang kampung, satu cara untuk meringankan tugas kita adalah dengan mengajak anak turut membantu.Saya juga berencana mengerahkan Naya membantu selama ART mudik:D

Kuncinya adalah komunikasi. Ajak anak kita ngobrol dan minta tolong kepada mereka untuk membantu menjaga rumah tetap rapi.

Awalnya kita bisa mulai dengan meminta mereka langsung membereskan mainan-mainan yang digunakan untuk bermain. Jangan lupa kalau anak kita masih kecil,  hindari pemberian instruksi yang umum seperti “bereskan mainanmu” tapi sebaiknya lebih spesifik misalnya “kembalikan mainan boneka ke lemari dan mainan lego ke dalam kotak.”

Jangan lupa anak-anak tetap anak-anak jadi kalau ada kalanya mereka mengeluh malas atau ada mainan yang terlewat oleh mereka pada saat bersih-bersih jangan langsung memarahinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah menyiasatinya dengan menyalakan musik kesukaannya lalu menemaninya beres-beres sambil bersenandung dan bernyanyi bersama.Harus bersabar deh!

Selain itu, tentu saja tugas bersih-bersih yang kita berikan ke anak perlu disesuaikan dengan usia . Untuk anak seusia Naya sih,  menurut saya tugas yang diberikan cukup mengembalikan mainan atau barang yang mereka pakai.

Tapi untuk anak yang sudah lebih besar maka kita sudah bisa memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Misalnya, membuang sampah setiap minggunya atau tugas menyapu dapur atau ruang tamu.

Saya berencana rutin meminta Naya terlibat dalam kegiatan bersih-bersih agar membiasakan Naya memiliki tanggungjawab, membiasakan Naya berdisiplin dan secara tidak langsung mengajarkan Naya berempati pada orang lain. Naya perlu mengerti kalau rumah bersih itu bukanlah hasil simsalabim tapi berkat peran serta semua anggota keluarga. 

Nah satu hal lagi yang penting adalah  jangan lupa memberikan penghargaan kepada anak kita seusai bersih-bersih. Penghargaan disini tidak harus berupa hadiah, tetapi bisa sekadar ucapan terima kasih atau pelukan:D

Jadi tidak usah pusing lagi ya kalau ditinggal ART mudik karena ada asisten cilik yang akan merasa senang sekali bisa bantu-bantu di rumah!




Sunday, July 20, 2014

Iri Hati

Ada yang pernah terpikir kalau tuhan itu engga adil?

Saya pernah. Beberapa tahun lalu, saya punya seorang teman yang menurut saya sangatlah sempurna. Selain cantik, dia juga pintar, jago menyanyi, tinggal di rumah mewah, kemana-mana diantar sedan keluaran terbaru, dan bolak/i ke luar negeri saat liburan. Coba saja tanya teman-teman saya yang lain, pasti semua ingin menukar hidup masing-masing dengan hidup si Cantik, sebut saja namanya begitu. Termasuk saya.

Saya engga pernah ke luar negeri -waktu itu-, kemana-mana diantar supir angkot:p, menyanyi pun sumbang, cantik juga engga, kok bisa jauh banget yaaa. Sepertinya tuhan menciptakan si Cantik dengan segudang kelebihan tanpa menyisakan sedikit pun buat saya. Melas?:p Itu yang saya rasakan.

Tanpa saya sadari, rasa jealous pada si Cantik ini semakin menjadi-jadi sampai pada akhirnya suatu hari Cantik mengajak saya ngobrol. Dia bilang kalau selama ini iri pada saya. Hah? APAAA? *mulailebay:)))* Engga salah nih? Kok bisa? Apa yang bisa disiriki dari saya?

Menurutnya-menurutnya lhooo!-, saya ini punya banyak teman dimana-mana dan disenangi siapa saja, saya gampang bergaul, pintar bercerita, selalu senyum dan tidak pernah terlihat susah atau sedih. Selain itu, saya punya orangtua yang walaupun sibuk selalu meluangkan waktu untuk saya. Rupanya, di balik kesempurnaannya, Cantik sedang bersedih karena orangtuanya bercerai dan tidak pernah ada untuknya.

Jleb. Saya langsung merasa tertohok lho! Betapa selama ini saya sudah "menuduh" tuhan tidak adil, tidak memberikan saya kelebihan, padahal sesungguhnya kalau saja saya mau bersyukur, tuhan sudah menganugerahkan saya banyaaaaaaaaaaaak sekali. Alhamdulillah, saya diberi orangtua yang begitu menyayangi saya, Alhamdulillah saya diberi kesehatan, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk selalu senyum, Alhamdulillah.

Saya baru menyadari. Mungkin benar juga quote yang bilang "Jealousy is when you count someone elses blessings' instead of your own". Bukannya bersyukur atas segala nikmat yang saya punya, saya malah lebih berfokus pada nikmat orang lain. Bukannya melihat kelebihan diri, saya malah lebih memperhatikan kelebihan orang lain tanpa melihat kekurangannya.

Pada akhirnya, saya yakin Allah memang Maha Adil dan Maha Mengetahui. Iri hati boleh saja, selama dimanfaatkan untuk memacu diri berusaha lebih baik lagi. Tapi kalau sampai membutakan mata hati dan mempertanyakan keadilan Allah sih engga baiklah ya:D

Sesungguhnya, Allah Maha Adil:)

Saturday, July 19, 2014

Mengajar(k) Anak Berdoa

Sebaiknya sejak kapankah kita mengajarkan anak berdoa?

Menurut saya pribadi, tidak ada istilah terlalu dini atau terlalu awal untuk mengenalkan anak pada Penciptanya. Sejak hamil muda, saya selalu membiasakan diri mengajak bayi di kandungan untuk ikut berdoa setiap saat. Walaupun belum terbentuk sempurna, saya yakin Naya di dalam perut ikut mendengar doa saya. Dengan begitu saya berharap semoga Naya menjadi anak yang terbiasa untuk berdoa.

Setelah lahir pun, Naya sudah saya biasakan secara konsisten untuk berdoa bersama. Misalnya saja ketika dia mau menyusu, saya biasakan untuk membaca Bismillah dan doa singkat seperti "Ya Allah, Alhamdulillah Naya masih bisa mimik susu mama. Semoga bisa bikin Naya sehat dan pintar, amin!". Saat mau atau baru bangun tidur, saya kembali mengajak Naya berdoa. "Ya Allah, Alhamdulillah Naya masih bisa bangun pagi ini dalam keadaan sehat, lindungilah Naya selalu, Amin." Demikian seterusnya.

Saya juga mengajarkan Naya doa-doa bahasa Arab serta hapalan surat pendek dalam Al-Quran sejak kecil. Setiap bangun tidur, mau makan misalnya, saya akan membaca doa keras-keras dan perlahan agar Naya bisa mendengar. Tanpa harus saya ajarkan dengan khusus, ternyata Naya tetiba bisa hapal doa-doa dan hapalan surat pendek yang sering saya ucapkan tadi setelah berusia 2 tahun. Saya kaget juga lho waktu itu. Kok ujug-ujug Naya hapal doa ini-itu dan surat ini-itu? Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin saja kan Naya menghapal sejak dulu saat saya mulai membacakan doa atau hapalan surat pendek padanya? Otak anak kecil gampang sekali untuk menghapal bukan?:D
video

Ada masanya Naya protes, terutama saat saya ajarkan hapalan surat pendek yang menurutnya sulit.
Naya: "Mama, Allah itu memangnya cuma bisa ngelti bahasa Alab?"
Meta: "Ya engga dong, Allah kan Maha Pintar, bisa segala bahasa kak."
Naya: "Telus kenapa kita beldoa halus bahasa Alab? Memang engga boleh bahasa Indonesia atau Ingglis?"
Meta: "Boleh kok. Kalau kakak mau berdoa pakai bahasa kakak sendiri juga boleh."

Tapi begitu melihat saya atau bapaknya membaca hapalan surat atau doa dalam bahasa Arab, Naya juga tertarik ingin bisa:D

Naya mulai tertarik melihat saya sholat sejak usia 8 bulan dan ingin ikut sholat seperti saya. Walaupun pertamanya Naya lebih banyak "menganggu" karena malah asyik memainkan mukena saya sampai ngompol di sajadah, tetapi lama kelamaan, Naya mulai bisa serius mengikuti gerakan-gerakan sholat saya.
 
Saat ini, Naya sudah teratur shalat 5 waktu, bahkan terkadang mengingatkan saya untuk menyegerakan sholat tiap mendengar adzan. Alhamdulillah:)

Pada saat saya sedang tidak sholat pun, Naya yang biasanya ngomel-ngomel dan menyuruh saya sholat. "Mama, engga boleh malas sholat. Harus sholat. Nanti Allah engga senang kalau mama engga sholat."-____-"
Dulu, saya masih engga bisa menemukan cara menjelaskan Naya kenapa saya sedang tidak boleh sholat. Jadilah demi konsistensi mengajarkan sholat teratur pada Naya, saya ikut sholat juga walaupun tidak berniat.  Setelah umur 3 tahun baru-baru ini, saya jelaskan pada Naya kalau perempuan dewasa memang ada libur sholatnya dalam sebulan. Untungnya dia mengerti. Saat saya "libur" sholat, Naya mengajak pengasuhnya atau bapaknya sholat bersama.

Walaupun begitu, namanya masih anak-anak ya, terkadang Naya pun malas-malasan shalat. Alasannya, "Kakak lagi libul sholatnya ma. Memang kalau pelempuan itu ada libulnya."
Iyaaa, dia menirukan penjelasan saya saat sedang tidak sholat:)))

Saya tidak pernah memaksakan Naya karena memang Naya masih sangat muda. Yang penting Naya mengerti bahwa sebagai seseorang yang beragama, ibadah baik doa maupun sholat penting maknanya.

Beberapa tips mengajarkan anak berdoa ala saya:
1. Sedini mungkin, biasakan berdoa kapanpun dimanapun, dalam kondisi apapun. Saat Naya merasa takut, saya mengajaknya berdoa. Saat Naya merasa gembira, saya biasakan mengajaknya berdoa untuk bersyukur. Saat Naya sedih, saya juga mengajaknya berdoa. Lama-lama, Naya pun menjadi terbiasa sedikit-sedikit berdoa.
2. Rutin dan konsisten. Saya ingin beribadah menjadi "kebiasaan" hidup yang selalu dilakukan:D
3. Ajarkan perlahan dan bertahap. Saya mengajarkan surat pendek seperti An-Naas, Al-Ikhlas dulu pada Naya sebelum Al-Faatihah.
4. Children see, children do. Sesungguhnya cara paling mudah mengajari anak beribadah adalah dengan memberikan contoh:)



Tuesday, July 15, 2014

Sudah Sewindu

Sudah hampir sewindu -macam lagunya Tulus:p- saya tidak pernah berlebaran di kampung halaman. Iyaaa, sewindu. Kesibukan yang tidak mengenal liburlah yang membuat situasi seperti ini. Beberapa kali lebaran persis di hari-H saya malah sedang dinas di rumah sakit. Anak sakit kan tidak kenal libur ya?

"Emang ada pasien pas lebaran?"

Eh, jangan salaaaah. Karena semua dokter, klinik dan rumah sakit kecil tidak melakukan pelayanan saat hari raya, rumah sakit terbesarlah yang jadi jujugan orang-orang sakit. Jadi jawabannya bukan sekadar ada, tapi banyak:D

Tahun ini, saya berniat ingin sekali berlebaran dengan mama dan kakak saya. Rasanya rindu benar merasakan lebaran dengan mereka. Dari jauhhhhh hari -akhir tahun tepatnya. Iye emang saya lebay:p-, saya sudah mulai mengincar tiket pesawat Surabaya-Bandung dan merencanakan perjalanan mudik. Karena kebetulan saat itu sedang ada promo, saya langsung kalap membeli 3 tiket untuk saya, suami dan Naya. Saya sudah memperhitungkan jadwal jaga saya dan suami yang -menurut saya- seharusnya sudah jauuuuh berkurang. Jadilah saya sudah gembar/o pada mama kalau akan berlebaran di rumah. Mama menyambut dengan sangat gembira. Mama sudah menyiapkan sprei bergambar Tweety untuk Naya -tahu kan saya ketularan lebay dari mana:p-, membelikan kastengel kesukaan saya, bahkan membelikan Naya otopet untuk dimainkan di Bandung.

Baru seminggu yang lalu saya menerima jadwal jaga untuk bulan ini. Jreeeeeng! Sayang seribu sayang, rupanya lebaran tahun ini saya justru kebagian banyak jadwal jaga. Dua kali lipat dibanding biasanya:@ Salah perhitungan:))))

Lalu bagaimana? Tiket yang dibeli tidak bisa ditukar atau diganti tanggalnya karena promo.Suami pun terlanjur mengurus ijin dari rumah sakit. Saya sempat stress berat lho:)) Bukan karena apa-apa, tapi karena merasa tak tega dengan mama yang begitu bersemangat menyambut anak bungsunya nan kece ini berlebaran di rumah setelah sewindu lamanya. Apalagi setiap menelpon saya, mama mengingatkan ini-itu untuk berlebaran bersama. Contohnya, rencana untuk foto keluarga, rencana untuk bersilahturahmi bersama ke Jakarta dll. Manalah tegaaaaa sayaaaaa:@

Mau tukar jadwal jaga dengan teman pun rasanya tak mungkin. Memang teman yang lain tidak berlebaran juga? Saya pasraaaaah deh, cuma bisa berdoa:D

Alhamdulillaaaaah, Allah Maha Besar dan Maha Mendengar. Hari dimana saya memutuskan untuk pergi ke Bandung sampai pulang dari Bandung rupanya bebas jaga. Allahuakbar! Walaupun cuma beberapa hari, tapi terasa mewah sekali buat saya. Ada konsekuensinya sih, jadwal jaga saya sebelum mudik mepet banget, bisa 3 hari sekali:)))) -Makanya jarang bisa update blog---> alasan-:p
Ya sudahlah yaaa, yang penting mudiiiik! Yayyyy!

Doakan lancar yaaaa<3 p="">


Sunday, July 13, 2014

Fun Facts;)

Kalau dulu saya pernah menulis 11 hal tentang diri sendiri, kali ini saya ingin menulis 11 hal tentang Naya.

1. Naya super sensitif.
Maksud sensitif di sini bukan bisa merasakan yang gaib-gaib ya:p Kalau yang itu sih wallahualam.
Naya peka sekali terhadap lingkungan sekitarnya. Berlebihan alias lebay menurut saya! Misalnya saja Naya melihat tetangganya menangis. Bisa-bisa Naya sampai tidak tidur semalaman memikirkan kenapa tetangganya menangis. Sampai sekarang pun setiap Naya mau makan, dia akan  bertanya dulu apakah mama, papa, mbak pengasuh sampai ART di rumah sudah makan. Kalau semua sudah makan, baru deh Naya mau makan.

Mau belanja bulanan tapi tidak tahu apa saja yang habis di rumah? Tanya Naya saja. Pasti dia hapal. "Mama, telul habis, kentang habis, sabunnya mbak Siti juga habis, minyak goleng, bawang melah, bawang putih tinggal sedikit, supelpel juga tinggal dikit." Macam emak-emak ya?:p Waktu saya tanya kok Naya bisa hapal begitu? Jawabnya "Iya, halus ma. Kasihan papa engga bisa makan telul kalau habis. -Bapaknya memang pecinta telur- Mbak Siti engga bisa mandi kalau sabunnya habis, dll dll dll." So sweet ya?:')

Saya juga selalu menahan diri untuk tidak ngobrol masalah pasien di rumah sakit dengan suami di rumah, setidaknya tidak di depan Naya. Bukan apa-apa, karena Naya akan bersedih hati dan memikirkan pasien saya tadi -yang bahkan engga pernah ketemu Naya!-,lalu bolak/i bertanya, "Mama, pasien mama yang kejang kemalin gimana? Sudah sembuh? Sudah bangun?" dan percaya atau tidak, moodnya pun jadi berubah tergantung keadaan pasien tadi. Kasihan juga melihatnya memikirkan keadaan pasien saya.

Terlepas dari sisi positifnya, ada juga negatifnya dari ke-oversensitivitas-an Naya. Naya gampang sekali merasa "sakit hati" dan tersinggung. Bagi anak lain mungkin biasa saja, tapi Naya akan mengingat suatu kejadian yang menyinggungnya sampai berbulan-bulan, dan mogok bicara dengan orang yang membuat dia tersinggung. Padahal besar kemungkinan, orang tsb hanya bercanda. Maka dari itu, saya selalu ekstra hati-hati berbicara dengan Naya.

2. Naya punya fokus yang sangat tinggi.
Setiap melakukan sesuatu -apapun-, Naya tidak bisa diganggu gugat. Perhatiannya sangat fokus terhadap hal yang ia kerjakan, sehingga apapun yang terjadi engga bakal bisa mengganggu. Naya juga selalu menyelesaikan semua yang ia kerjakan. Misalnya, bermain congklak/dakon. Saya yang sudah dewasa saja terkadang bosan menunggu sampai biji congklak habis. Tapi Naya sabaaaar sekali menanti sampai permainan selesai. Seandainya saya memintanya memotong permainan untuk mengganti dengan permainan lain, Naya engga bakal mau. Dia bisa lho mengerjakan puzzle berjam-jam. -Sekali lagi- Saya saja yang sudah dewasa malaaaas. Hehe, apa memang saya saja yang pemalas ya:p

3. Naya banyak makan, dan engga pernah pilih-pilih.
Alhamdulillah, tidak menurun dari saya, Naya engga pernah pilih-pilih makanan. Semua yang ada dilahap. Semua jenis makanan diakunya sebagai makanan kesukaan. Mulai buah alpukat, anggur, jeruk, durian, nangka, mangga, pepaya, sayuran brokoli, bayam, kangkung sampai ayam, sapi, udang, ikan semua mau. Sehari Naya bisa makan lebih dari 5x lho! Tapi engga gendut-gendut ya:))) Yang penting sehat ya nak!:)

4. Naya engga suka bermain.
Sejak berusia 2 tahun, Naya benar-benar mogok bermain. Apapun. Boneka, masak-masakan, kasir-kasiran, lego, apa sajalah. Yang dia suka hanya buku dan belajar menulis. Akhir-akhir ini Naya tertarik dengan thinking games -yang sebenarnya untuk anak berusia 6 tahun ke atas- seperti Topple, congklak, Falling Monkeys, dll. Tapi karena lawannya -baca: saya- selalu bisa dikalahkan (bukan sengaja mengalah lho!), rupanya dia bosan dan mogok bermain lagi. Saya masih mencari jenis thinking games lain nih supaya Naya mau bermain. Oh ya, Naya terkadang masih mau bermain di area bermain dimana dia bisa berloncatan trampolin, berayun atau naik kuda. Walaupun engga terlalu lama dan hanya kadang-kadang saja, saya sudah bersyukur sekali. At least, Naya mau.

5. Naya sering meminta namanya diganti.
Naya pintar sekali mengarang nama. Bagus-bagus lho walaupun engga jelas apa artinya. Seingat saya, dia pernah meminta namanya diganti dengan Migiya, Atrisha, Alana, Miru, dan entah apa lagi saking banyaknya:)))

6. Naya punya tanda lahir.
Karena letaknya di wajah, beberapa kali Naya meminta tanda lahirnya dihilangkan. Malu katanya. Untunglah saya punya tanda lahir yang jauhhhh lebih besar di kaki dan bisa dijadikan contoh kalau tanda lahir itu bukan sesuatu yang memalukan. Akhirnya, Naya bangga sekali dengan tanda lahirnya itu.

7. Naya kepo:)))
Mungkin menurun dari saya kalau ini ya:))))) #salamkepo :p
Bukan hanya rajin bertanya mengenai sains yang ada di sekitar, Naya pun engga bisa engga ingin tahu soal apapun yang terjadi. Misalnya saya sedang BBMan lalu senyum-senyum sendiri, Naya pasti langsung merebut smartphone saya untuk melihat apa yang membuat saya senyum sendiri. Begitu pun kalau mendengar saya ngobrol dengan papanya, pasti Naya ikut bertanya. "Si X itu siapa ma? Temen mama di mana? Kampus? Doktel juga? Doktel apa? Punya anak? Namanya siapa? Umul belapa? dst dst" Kepo banget dah!:)))

8. Naya pemalu banget.
Walaupun kalau difoto gayanya numero uno, di rumah pun ngomongnya ga bisa dihentikan, di luar rumah Naya sangat pemalu. Ini sepertinya menurun dari saya #pret :))))
Naya membutuhkan waktu beradaptasi cukup lama dengan lingkungan baru, demikian juga halnya untuk bersosialisasi. Semua akan dia observasi dulu. Kalau menurutnya "orang baru" yang dia amati bisa berinteraksi baik dengannya, baru deh mau mingle. Naya juga engga pede-an, sepertinya karena Naya sangat perfeksionis.

9. Naya perfeksionis. Banget.
Naya seperti "memaksa diri sendiri" untuk selalu menjadi no 1. Ini PR banget nih buat saya-_-". Saking perfeksionisnya, Naya lebih memilih engga mau mencoba hal baru sama sekali lho daripada salah atau kalah.

Pernah suatu hari, Naya meminta ikut lomba mewarna. Tentu saja saya menyambut gembira. Naya bahkan sampai menelpon saya di rumah sakit untuk didoakan.
N: "Mama, kakak mau lomba. Doain yaaa supaya menang."
M: "Kak, engga usah menang juga engga apa-apa, yang penting kakak senang."
N: "Engga mau, maunya menang."
M: "Engga perlu kak. Menang apa engga itu engga penting. Yang penting itu usahanya kakak, dan kakak senang ikutannya,"
N: *diam* "Dadah mama" *tutuptelpon*

Beberapa menit kemudian, pengasuhnya menelepon saya karena Naya menangis minta pulang bahkan sebelum lomba dimulai. Padahal Naya sudah duduk manis di tempat lomba. Di rumah, saya bertanya kenapa Naya menangis dan batal ikut lomba. Jawabnya, "Takut kalah."

Duh, saya langsung sedih seharian mendengarnya. PR buat saya nih, bagaimana mengatur supaya perfeksionisnya Naya bisa diarahkan ke sisi positif.

10. Naya engga bisa diam.
Maksud engga bisa diam di sini adalah baik mulut dan motoriknya. Rumah selalu ramai dengan "kicauan"nya. Kalau sampai tidak ada suara Naya, kami serumah pasti curiga. Jangan-jangan dia lagi ngumpet di tudung saji. Saya pernah panik lho waktu itu, mencari Naya kemana-mana dan tak kunjung ketemu. Untunglah engga berapa lama, terdengar suara unyil nahan tawa:D

Siapalah yang nyangka si unyil ngumpet di sini?-__-"
Motoriknya pun engga bisa diam. Lompat-lompat, memanjat-manjat, menari balet atau apalah pokoknya bergeraaaak teruuus.

11. Naya bawel.
Sejak bayi pun, kemampuan verbalnya sudah terlihat jelas. Apalagi sekarang, Naya selalu berbicara menggunakan kalimat panjang, terkadang menyertakan kata-kata sulit yang membuat saya terkejut melulu. Misalnya konfirmasi, klarifikasi atau istilah lain yang saya juga tak tahu dari mana datangnya,

Contohnya nih, kemarin saat saya omeli karena dia minta es teh kotak milik saya walaupun cuma sedikit.
M: "Kak, jangan minum es teh punya mama terus. Kalau batuk gimana?"
N: "Mamaaaa, jangan khawatil. Sebetulnya minum es teh itu tidak menyebabkan batuk. Minum dingin juga engga. Yang membuat batuk hanyalah satu hal. "*ini beneran engga saya ubah lho, asli Naya ngomongnya beginih!*.
M: "Satu hal? Apa itu kak?"
N: "Kelupuk ma! Kan mengandung banyak minyak."
M: :))))))

Karena inilah, saya seringkali lupa kalau anak saya ini masih berusia 3 tahun. Saat Naya ikut saya mencoblos pun dia engga mau kalah berkomentar.
N: "Mama, olang2 ini pada mau pilih plesiden Indonesia ya?"
M: "Iya kak."
N: "Kenapa ya kok semua sibuk sekali? Padahal kan sudah jelas yang menang yang nomol 2, pak Jokowi." (Saya shocked banget dengernyaaaa! Engga ada koran atau TV lokal di rumah saya, entahlah dengar darimana si unyil ini).
M: "Ya belum tentu kak. Kan tergantung hari ini."
N: "ENgga kok. Yang menang yang nomol 2 ma, liat aja ntar. Mama pilih no 1 ya? Ya gpp sih, tapi jangan sedih ya kalau kalah."
-______________-"

Demikian beberapa fakta soal Naya. Nanti saya lanjutkan lagi kapan-kapan yaaa:D
Btw, setelah saya baca ulang, ternyata banyak yang mirip dengan ciri anak gifted ya?:D

Thursday, July 10, 2014

Guilty Feeling

N: "Mama, semua olang itu halus kelja ya bial dapet uang?"
M: "Iya kak. Mama kerja kan jadi dokter, papa juga."
N: "Kalau keljanya mbak apa? -Babysitter,Red-"
M: "Mbak yang nemenin kakak kalau mama engga ada. Yang nganterin kakak kemana-mana kan?"
N: *tetiba mewek, langsung memeluk saya* "Mama, maaf ya kakak belum kelja jadi engga punya uang buat bayal mama. Nanti kalau kakak sudah besal, kakak kelja yang lajin bial bisa bayal mama, jadi kita bisa sama-sama telus tiap hali."
M: *gantianmewek*

*

N: "Mama, kenapa ke lumah sakit telus? Kakak mau sama mama!"
M: "Mama kan jaga kak. Kasihan nanti anak-anak yang sakit kalau engga ada mama."
N: "Memangnya mamanya anak-anak itu mana? Kenapa harus mama Aya yang jagain? Mama Aya kan mamanya Aya!"
M: "Iya, tapi mama Aya kan dokter. Mamanya yang lain kan bukan."
N: "Ya udah kalau gitu kakak Aya beldoa semoga kakak Aya sakit telus ya!"
M: *meweeeeek* :'(

Percakapan seperti di atas ini adalah salah dua di antara banyak percakapan saya -sebagai ibu bekerja- dengan Naya. Lain kesempatan, pengasuhnya pernah bercerita kalau di tempat kursus musik Naya menangis saat menyanyikan sebuah lagu. Di akhir lagu tersebut, semua anak diminta memeluk mama atau papanya. Naya menangis karena tidak ada mama juga papa yang mengantarkannya ke tempat kursus, sehingga dia tidak bisa memeluk siapa pun.

Sedihkah saya? Tentunya. Saya merasa sedih sekali karena tidak bisa berada di samping Naya 24 jam. Saya merasa sedih tidak bisa menyaksikan perkembangan Naya di kelas musiknya. Saya merasa sedih tidak bisa mengambil raport Naya dan berdiskusi langsung dengan gurunya. Saya merasa sedih tidak bisa mengantarkan Naya mengikuti lomba mewarna. Benar-benar sedih.

Ada kalanya, saya ingin berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya saja. Tetapi, saya merasa menjadi dokter adalah panggilan hati, bukan sekadar pekerjaan atau profesi. Lebih dari itu, menurut saya, dokter adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga.

DI sisi lain, terus terang saya takut Naya justru menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya dibanding saya. Saya takut kelak pengasuhnya adalah orang pertama yang dicari Naya saat sedih atau sakit. Karena itulah, sejak Naya lahir, saya berjanji pada diri sendiri untuk mengatur waktu sedemikian sehingga bisa selalu menghabiskan quality time dengannya. However, for kids LOVE is spelled T-I-M-E:)

Saya memanfaatkan waktu menyusui sebagai bonding time. Sejak bayi, setiap menyusui, saya akan memandang lekat matanya, menceritakan apa saja yang terjadi dengan saya di hari tsb, atau menceritakan dongeng-dongeng lain. Saya ingat betapa excited-nya Naya mendengar semua itu. Kedua matanya berbinar, tangannya menggenggam erat tangan saya dan senyum sesekali muncul di wajahnya.

Saya berusaha membiasakan diri bekerja secara efektif. Saya mengerjakan semua tugas semaksimal mungkin agar tidak perlu membawa pekerjaan rumah sakit ke rumah. Seandainya ada tugas yang belum terselesaikan, saya selesaikan pada saat Naya sudah tidur. Pada saat pulang ke rumah, itulah waktu saya seutuhnya bersama Naya. Kalau mau ngeblog, ya saya kerjakan saat malam setelah Naya tidur. Kalau mau me-time entah sekadar membaca buku atau pijat refleksi, saya lakukan sambil menunggu Naya les. Inilah sebabnya mengapa saya memilih jam siaran subuh. Literally subuh lho! Saya harus berangkat jam 3 pagi untuk siaran mulai jam 4 sampai dengan 7 pagi. Alasannya simply agar kesukaan saya siaran tidak mengganggu waktu saya untuk suami dan Naya, karena jam segitu mereka berdua pastinya masih ngorok:p

Saya juga membiasakan diri menceritakan apapun yang saya alami pada Naya setiap hari. Dengan demikian, Naya tahu apa saja yang saya kerjakan saat tidak bersamanya. Contohnya ya hari ini.
M: "Kak, tadi di rumah sakit ada pasien namanya Bunga. Umurnya sama kayak kakak, 3 tahun. Dia sakit diare. Kasihan sekali, sampai harus diinfus."
N: "Diale itu apa ma?"
M: "Diare itu pup cair gitu kak, sakit perut juga makanya nangis terus."
N: "Telus mama apain?"
M: "Ya diobatin, kak."
N: "Sudah sembuh ma? Kenapa kok Bunga bisa diale?"
M: "Belum. Masih harus bobo di rumah sakit. Mungkin karena kurang bersih, makanya kakak harus rajin cuci tangan."
N: "Iya. Semoga Bunga cepat sembuh ya ma, kasihan di rumah sakit terus engga bisa ke mall." -____-"

Beberapa bonus yang saya dapat adalah menumbuhkan rasa empati pada Naya, plus mengedukasi Naya mengenai kesehatan. Paket lengkap kan:p

Dengan semakin besarnya usia Naya, Alhamdulillah saat ini Naya sudah mengerti benar. Terkadang kalau saya malas-malasan berangkat jaga, justru Naya yang mengingatkan dan menyemangati saya.
"Mama, engga boleh males. Kasihan adik bayi sama anak-anak yang sakit. Ayo belangkat!"
Duh, saya melting banget deh. Tadinya malas-malasan langsung semangat 45:D

Alhamdulillah, saya masih orang pertama yang dicari Naya kalau ada apa-apa. Saya masih jadi orang pertama yang dituju Naya sampai sekarang. (Walaupun sempat juga ngambek beberapa minggu gegara ditinggal dinas luar sebulan ke Soe:))))

Jadi, apakah sebagai ibu bekerja saya merasa bersalah?
Engga. Engga sama sekali, karena walaupun bekerja saya bisa memaksimalkan waktu saya untuk mendidik, merawat dan mengasuh Naya. InshaAllah:)

Saya bangga menjadi ibu bekerja:D

Perjuangan Dokter Indonesia

Halooo:)

Masih pada inget ribut-ribut soal dokter tahun lalu?
Nah, suami saya -yang hobinya memang memvideo atau memotret, sayang obyeknya bukan si istri:p- menggagas membuat video ini agar lebih banyak orang mengerti benar bagaimana perjuangan dokter itu. Yuk dilihat! Kalau mau kasih komentar boleh juga lho, dishare pun silakaaaan:D

video

Tuesday, July 1, 2014

Lebih Hemat Dengan iPrice

Siapa yang lebih suka online shopping dibanding offline? *tunjukmukasendiri*:))

Saya memang jauh lebih suka berbelanja online daripada offline. Alasannya banyaaaak. Menurut saya berbelanja online lebih praktis, lebih hemat dan lebih gampang. Misalnya saya mencari baju berwarna putih, tinggal search saja di beberapa online shop lewat internet. Saya bisa mencari sambil tiduran, sambil menunggu kemacetan di jalan atau bahkan sambil menunggu Naya selesai les. Kalau sudah ketemu yang sreg, tinggal transfer, tunggu sebentar, datang deh barang yang saya cari.

Bakal lain lagi ceritanya kalau saya mencari di mal. Saya harus menyisihkan waktu khusus untuk pergi berbelanja. Kalau dihitung-hitung, berapa uang parkir selama di mal, belum lagi biaya jajannya -pssst...saya paling engga tahan godaan dari bubble tea. Engga bisa engga beli!-. Itu pun belum tentu barang yang saya cari ada. Kalau engga ada, saya harus mencari ke mal lain. Boros waktu dan biaya deh. Kalau dihitung-hitung, berbelanja online jauh lebih hemat:D

Nah, buat yang suka berbelanja online macam saya, ada tips untuk bisa jauh berhemat nih! Sebelum kalap berbelanja online, klik dulu iPrice Coupons Indonesia. Di iPrice, kita bisa menemukan beragam kupon diskon dari beberapa online shop ternama yang terpercaya. Sebut saja misalnya Zalora, Lazada, Expedia, Qoo10 atau Groupon Indonesia.

Kupon-kupon diskon beberapa online shop ternama. Yay!
Caranya juga engga susah kok! Saya iseng mencoba kupon Zalora Juli 20% tanpa syarat dan ketentuan. Tinggal klik "Dapatkan Kodenya*. Lalu akan muncul kode yang harus dimasukkan. Secara otomatis iPrice pun akan mengarahkan ke situs Zalora. Pilih-pilih deh barang yang dimau.
Saya tertarik dengan shampoo Kuda yang sedang happening banget. Banyak sih dijual di berbagai online shop di Instagram. Tapi saya ragu-ragu dengan keasliannya. Kalau di Zalora kan sudah pasti terpercaya ya:D
Godaan shampoo kuda:p


Kemudian setelah check out, masukkan kode kupon yang tadi didapat dari iPrice. Voila! Harganya langsung berkurang otomatis sesuai jumlah diskonnya:D Hebatnya lagi, kita sama sekali engga perlu bayar sepeser pun lho untuk menggunakan kupon diskon dari iPrice. Jadinya hemat banget kan ya?

Doa saya satu nih sekarang. Ya Allah, berikanlah hambaMu ini kekuatan dan ketahanan mental untuk tidak kalap setiap melihat kupon diskon di iPrice:D

Lumayan banget buat yang lagi cari-cari keperluan lebaran. Apalagi sekarang harga apa-apa naik semua *ratapan emak-emak*. Selamat berbelanja online!

Monday, June 30, 2014

Liebster Award -2

Ini adalah kali kedua saya ditag dan diestafetkan tongkat untuk mengikuti Liebster Award. Sama seperti sebelumnya, saya diminta menulis 11 hal mengenai diri sendiri, menjawab pertanyaan dari pemberi tongkat estafet -Thank you mbak Rina Susanti!- dan memberikan 11 pertanyaan untuk diestafetkan kembali ke 11 blogger lainnya.

Owkay, saya mulai dari menulis 11 hal mengenai saya ya!

1. Saya suka warna ungu. Sebenarnya engga semua barang yang saya punya harus ungu juga, tapi karena semua orang tahu saya penyuka warna ungu, jadilah saya sering dikasih barang-barang ungu. Mulai dari baju, sepatu, tas, map, buku, arloji sampai sprei semua ungu:))) Naya juga hapal banget kalau emaknya suka ungu, makanya setiap lihat pernak-pernik ungu pasti dia teriak "Mamaaaa, purpleee! Buat mama!".

2. Saya suka banget buah pepaya. Saking sukanya, saya pernah terkena hiperkarotenemia. Seluruh badan saya menguning hampir oranye:))) Syukurlah saya tinggal di Indonesia dimana pepaya mudah ditemui dan murah meriah. Waktu mengikuti program exchange di Denmark, setengah mati deh mencari buah pepaya. Mahalnya juga minta ampun:@

3. Terkadang saya kangen banget aktif ngMC atau mengajar public speaking seperti dulu. Tapi kalau melihat Naya yang kelihatan senang sekali saat saya bisa menemaninya, hilang deeeeh kangennya!:)))

4. Saya engga suka main game. Boleh dicek gadget saya, tidak ada permainan yang saya download. Biarpun orang-orang heboh main Candy Crush, Minion Rush, HayDay, apalah namanya, saya engga pernah berminat sama sekali:D

5. Saya engga bisa naik sepeda roda dua:p Waktu kecil, saya diarang keras oleh mama naik sepeda, mungkin karena itu juga saya jadi takut mencoba dan engga bisa sampai sekarang.

6. Saya paling panik kalau handphone habis baterai atau engga bawa charger. Pasti panik kelas berat.

7. Saya punya bakat alergi besar. Gampang banget deh keluar alerginya. Mulai gatal gegara makan sea food, bersin dan pilek setiap pagi, sampai bersin setiap kena bulu kucing.

8. Dari semua socmed yang saya punya, saya lagi suka-sukanya sama Instagram. Yang dilihat apalagi kalau bukan online shop:))) Saya lagi suka melihat online shop yang menjual batik sama kebaya. Engga jelas deh kenapa, lagi suka saja:D

9. Saya lagi berusaha merajinkan diri menulis nih demi bisa merilis buku lagi:)))

10. Setiap beli bakso, saya engga pernah memesan bakso *ruwet*:)) Serius, setiap beli bakso, yang saya pesan cuma gorengannya sama tahunya saja, engga pakai bakso:D

11. Dari semua mall di Surabaya, saya lebih memilih Galaxy Mall dibanding lainnya. Selain karena dekat banget, menurut saya isi Galaxy Mall sudah sangat lengkap. TP pastinya lebih lengkap sih tapi saking lengkapnya, terkadang saya suka bingung mencari:D

11 Pertanyaan dari mbak Rina:

1. Siapa nama panggilan akrabmu di dunia maya/blog? Meta
 
2. Siapa inspirasi terbesarmu buat nulis dan ngeblog? Keluarga, lingkungan sekitar
3. Apa inspirasi terbesarmu untuk jadi penulis atau blogger bermanfaat? Keluarga
4. Pernahkah berpikir untuk berhenti menulis atau ngeblog?Never:D
5. Pernah dengar istilah Blog sampah atau blog nyampah? Baru dengar 
6. Apa pandanganmu tentang blog sampah alias blog yang diisi cuma untuk naikin traffic blog tanpa mementingkan kualitas/isi blog? Selama isinya engga copas dari blog/web lain no problemo:D
7. Bagian apa yang terpenting dari sebuah blog? Gampang diakses dan isinya. Kadang ada yang susah banget diakses, kebanyakan hiasan layout malah bikin malas karena ribet.
8. Kenapa isi blog harus menarik?Errr.. saya sih engga pernah merasa isi blog saya harus menarik. Saya menulis murni sebagai terapi jiwa;)
9. Hal yang belum tercapai dalam hidupmu? Banyaaaak! Naik haji, ke luar negri sama mama dan keluarga, LASIK (!!!), ke UK, dll
10. Apa impian terbesarmu yang menurutmu sulit diraih?Engga pernah merasa sulit meraih apapun. Selama berusaha dan berdoa, suatu waktu nanti PASTI bisa:D
11. Siapa blogger favoritmu?Errr.. siapa ya, lagi suka --> gurufunky.com :D

Saturday, June 28, 2014

Unity in Diversity

Seperti yang pernah saya tulis di sini, hingar bingar capres cawapres sudah mulai memanas sejak kedua belah pihak menyatakan resmi mengikuti pemilihan. Mulai dari obrolan di warung sebelah, sampai updatean social media pasti ada unsur capres cawapresnya. Ada yang mengganti profile picture untuk menahbiskan diri sebagai pendukung resmi pasangan capres yang satu. Ada lagi yang sibuk bolak/i men-share link berita yang menyerang pasangan capres lain. Ada lagi yang selalu menanggapi status socmed temannya dengan pendapat soal capres dukungannya.

Obrolan mengenai pemilihan presiden ini pun ternyata bukan cuma memenuhi linimasa di socmed saja. Saya pernah ditanyai oleh orangtua pasien mengenai pilihan saya. Saat naik taksi pun, saya pernah diajak ngobrol sang supir mengenai pemilihan presiden. Dimana-mana, sepertinya topik ini sedang happening berat, hampir menutupi berita soal piala dunia atau bahkan datangnya bulan Ramadhan.

Awalnya, saya senang lho melihat ini. Artinya, masyarakat negara kita tidak apatis terhadap kehidupan politik di negara ini. Siapa sih yang engga bercita-cita mempunyai pemimpin negara yang adil dan baik sehingga semua masyarakatnya sejahtera?

Tapi itu cuma awalnya. Lama-lama, saya melihat di linimasa banyak sekali teman saya yang malah jadi musuhan hanya karena berbeda pilihan presidennya. Hal ini didukung pula oleh banyak media massa yang -sayang sekali, shame on you!- tidak netral dan dijadikan jujugan pembacanya tanpa men-cross-check berita tersebut. Satu hari semua pendukung capres A men-share link berita tentang "aib" pasangan capres cawapres B (entah benar atau tidak), keesokan harinya pendukung capres cawapres B mencounter balik berita tersebut dengan link berita lain (entah benar atau tidak), dan begitu seterusnya. Kapan selesainya:/

Banyak juga teman saya di socmed yang seolah menjudge pilihannya adalah yang paling benar, yang memilih selain pilihannya berarti bodoh atau buta mata hati. Ada lho! Banyak! Ada juga yang menjudge pendukung capres tertentu adalah kafir. Ada! Banyak!

Coba saya tanya, ada berapa teman yang sudah anda unshare, unfollow, unfriend selama pilpres sampai hari ini? Saya jengah membaca kata-kata kasar dari para pendukung capres cawapres kepada pendukung lawannya. Saya sendiri sudah mempunyai pilihan yang saya yakini terbaik, tapi saya tidak pernah sedikit pun memandang rendah siapa pun yang berbeda pilihannya dengan saya.

Sejak kecil, saya diajarkan mengenai indahnya toleransi dalam perbedaan. Entah itu perbedaan suku, agama, ras atau apapun termasuk perbedaan pilihan, dengan toleransi, kita akan hidup dengan damai. Masih ingat Bhinneka Tunggal Ika? Apakah semboyan tersebut sudah tidak relevan digunakan saat ini di negara kita?

Sejujurnya, saya khawatir dengan situasi seperti ini. Seandainya nih, kelak yang memenangkan pilpres adalah pasangan A. Apa yang akan terjadi? Apakah pendukung pasangan B yang gembar-gembor menjelekkan pasangan A dan semua pendukungnya akan keluar dari Indonesia? Apakah pendukung pasangan B akan menerima hasil pilpres dengan sportif? Atau justru berlindung di balik pembelaan "Ah, pasti licik deh itu orang. Lihat saja waktu kampanye, semua hal dilakukan asal menang. Pasti curang! Pasti!"? Demikian juga dengan sebaliknya. Kalau yang menang adalah pasangan capres B, apakah semua pendukung pasangan A yang sebelumnya sibuk membuka aib pasangan lawan akan keluar dari Indonesia?

Saya khawatir, siapapun yang menang dalam pilpres ini, bangsa kita akan semakin sulit untuk bersatu karena perbedaan. Saya khawatir, siapapun yang menang dalam pilpres kelak, akan terjadi ribut-ribut karena pihak lain yang tidak terima. Kalau ini sampai terjadi -Naudzubillah-, bukankah kita sendiri yang rugi?

Saya meyakini bahwa kedua pasangan capres cawapres adalah yang terbaik di negara kita. Masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Tidak perlulah hanya karena perbedaan pilihan, lalu persatuan dan kesatuan bangsa menjadi taruhannya. Mari berdoa bersama-sama, siapapun yang menjadi pemimpin negara kita kelak adalah yang terbaik untuk bangsa kita. Amin.

*Ditulis setelah melihat ada teman dekat yang berantem gegara beda pilihan capres-_____-"

Friday, June 27, 2014

Knowledge is Power but Character is More

Kemarin saya mengantar Naya ke salah satu mal di daerah Surabaya Barat -iye, ujung ke ujung dari rumah kami- demi melihat Tweety, karakter favoritnya tampil dalam Looney Tunes Football Show. Karena menyadari betapa jauh dan macetnya jalan ke sana, saya berangkat dari rumah 2,5 jam sebelum acara.

Benar saja, macetnya minta ampun! Kami sampai di sana tepat sejam sebelum acara dimulai. Naya sangat excited melihat banner dan panggung berhias Tweety dimana-mana. Saking excitednya, Naya bersedia menunggu di depan panggung walaupun masih harus menunggu sejam.

Sebagai orang yang pertama menduduki area menonton, Naya mendapat tempat duduk paling depan, persis di depan panggung. Naya duduk menanti dengan sabar sambil tak henti bernyanyi atau bermain tebak-tebakan. Beberapa menit sebelum acara dimulai, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya mendekati tempat duduk kami. Anaknya, saya taksir berusia sekitar setahun di atas Naya sedang menangis histeris. Rupanya, mereka datang terlalu mepet dengan jadwal acara sehingga tidak kebagian tempat duduk di depan dan harus menonton sambil berdiri di belakang. Anak tadi merasa tidak puas kalau harus melihat pertunjukan dari belakang sehingga menangis histeris sampai berguling-guling di lantai dan meminta maju ke depan.

Ibu tersebut-tidak berbicara apapun pada kami-langsung saja menurunkan anaknya dari gendongan dan berdiri tepat di depan tempat duduk kami. Tentu saja ibu dan anak tsb menghalangi pandangan kami. Saya memberanikan diri menegur ibunya, yang dibalas dengan kasar. Ibu tadi meminta saya mengerti kalau anaknya ingin melihat pertunjukan dengan jelas.

Heh? Lalu apa kabar anak saya yang juga ingin melihat pertunjukan dengan jelas bu?

Saya jadi ingat postingan Path seorang teman yang bilang kalau dia baru saja melihat seorang ibu menceboki anaknya di wastafel -iye, di wastafel di depan orang banyak!- foodcourt sebuah mal ternama. Si anak rupanya baru saja BAB di disponya, dan karena tidak mau ke toilet yang cukup jauh, sang ibu mengambil jalan pintas dengan membersihkan anaknya di wastafel. Ewwwww.

Lain kesempatan, saya pernah mengajak Naya menyaksikan pertunjukan grup musik asal Australia, Hi-5 di convention hall mal terbesar Surabaya. Kami datang awal -as always:p- sehingga bisa mengantri di urutan pertama. Menjelang pintu gerbang akan dibuka, tetiba seorang anak berusia sekitar 5 tahun menyerobot antrian kami. Saya celingukan mencari orangtuanya. Sang ibu datang tergopoh-gopoh di belakang tanpa ba-bi-bu, dengan penampilan necis, langsung menempati posisi sama dengan anaknya, di depan kami. Saya menegur ibu tadi, yang dibalas dengan omongan kurang lebih seperti ini "Halah, cuma disalip satu orang saja kok pakai keberatan sih, toh tempatnya masih luas. Anak saya ini fansnya Hi-5, engga sabar pengin bertemu. Engga kasihan?"

Saya yakin, semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Kalau mengikuti hati sih, apalagi mengingat betapa sulitnya  waktu hamil dan melahirkan, saya inginnya semua yang paling bagus, paling nyaman, paling enak, paling depan untuk Naya. Tapi saya pikir-pikir lagi, apakah yang terbaik untuk Naya selalu berarti yang terbagus, terenak, ternyaman atau terdepan?

Saya mendidik Naya dengan keras. Benar lho, sampai mama saya sering menangis melihat saya mendidik Naya. Sejujurnya, terkadang saya pun suka merasa tidak tega. Tapi saya yakin inshaAllah akan ada hikmah yang diambil Naya kelak. Saya selalu meyakini motto sekolah saya saat SMA, Knowledge is Power but Character is More. Pengetahuan memang penting, tapi karakter jauh lebih penting. Tugas saya sebagai orangtualah untuk mulai membentuk karakter Naya.

Sejak Naya bayi, saya selalu membiasakan mengatakan terimakasih, maaf, permisi dan tolong, bahkan sebelum Naya bisa berbicara. Saya yakin Naya mengerti walaupun belum bisa mengikuti. Kelihatannya sepele ya, tapi sesungguhnya dari yang sepele inilah karakter bisa terbentuk. Seperti sabar menunggu giliran saat mengantri. Sepertinya sepele banget kan ya? Tapi dari mengajari Naya mengantri, saya bisa mengajarkan pada Naya banyak hal mulai dari menghargai orang lain, berdisiplin, jujur sampai tidak korupsi. Lah apa deh hubungannya sama korupsi? Coba dirunut, seseorang yang tahu benar mana miliknya, kapan gilirannya dan malu untuk mengambil yang bukan miliknya atau bukan gilirannya pasti malu juga buat korupsi kelak kan?:D

Saya juga membiasakan Naya untuk tidak tinggal diam saat melihat sesuatu yang menurutnya tidak benar. Jangan kaget ya kalau bertemu dengan anak saya di mal menegur orang yang merokok di muka umum terlebih saat menyadari ada anak kecil di sekitarnya:p Jangan kaget juga kalau pas bepergian ke tempat umum ditegur anak saya karena membuang sampah sembarangan:D Karena menurut saya, mereka yang tahu tapi diam dan mendiamkan sama salahnya dengan yang melakukan. Tahu ada yang korupsi tapi tidak melaporkan misalnya, sama salahnya dengan yang korupsi. Ih ini emak lebay amat, cuma buang sampah sembarangan ngomongnya jauh amat sampai ke korupsi segala. Ingat, semua yang besar berawal dari hal sepele:)

Disclaimer: Saya bukan melabeli diri sebagai orangtua yang paling baik atau benar. Tidak sama sekali, karena buat saya semua orangtua mempunyai cara parenting yang berbeda, walaupun satu tujuan, memberi yang terbaik untuk anaknya:)

Wednesday, June 25, 2014

Update on Naya

Cukup lama engga update blog nih! Maaf ya, saya lagi sibuk nih menggarap calon buku terbaru saya -ayo semua teriak amiiiin!-haha. Semoga segera selesai ya, doakaaan:D

Anyway, sesuai janji sebelumnya nih, menyambung postingan yang ini, saya mau melanjutkan cerita soal Naya.

Sejujurnya, saya sudah hampir putus asa karena berulang kali dijudge ini-itu oleh banyak orang. Lama-lama sebal juga lho dicap sebagai ibu yang ambisius dan terlalu memaksakan anak. Mulai dari keluarga, teman saya, bahkan oleh orang engga dikenal yang baru pertama kali bertemu. Akhirnya, saya sudah memutuskan tidak akan menyekolahkan Naya sesuai dengan kemampuannya yang setara TK-B atau kelas 1 SD seperti rekomendasi psikolog walaupun Naya marah-marah terus. Sudahlah, di sekolahnya yang sekarang saja sudah cukup. Setidaknya menurut saya lumayan untuk "memaksa" Naya bersosialisasi dengan teman sebaya.

Sebagai kompensasi, saya membeli banyak buku pelajaran anak TK-B dan kelas 1 SD untuk Naya belajar sendiri di rumah. Puaskah Naya? Sadly, no. Naya masih bolak/i bertanya pada saya, "Kenapa kakak masih di pre-k-1? Kapan masuk TK-B nya? " dibumbui oleh beberapa kali mogok sekolah. Naya juga masih sangat rendah diri. Segala kegiatan yang biasanya sangat dia sukai berganti menjadi musuh bebuyutan. Kalau biasanya setiap hari minta les balet, sekarang enggan. ("Kakak engga bisa balet. Kakak kan engga pintal, buktinya ga ada sekolah yang mau nelima"). Biasanya bertanya terus kapan jadwal les piano saking sukanya, tapi sekarang Naya juga mogok latihan piano ("Kakak engga bisa ma, kakak itu engga bisa apa-apa. Makanya ga ada sekolah yang mau"). Bahkan kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, mengganti baju sendiri pun enggan Naya lakukan. ("Kakak itu memang engga pintal ma. Semua pokoknya engga bisa.")

It really broke my heart. Deeply:'(

Tapi saya merasa tidak punya pilihan lagi selain berdoa memohon petunjuk.

Sampai suatu hari, sekretaris di rumah sakit tempat saya bekerja dengan berseri-seri memanggil saya untuk menunjukkan berita di harian Jawa Pos. Rupanya ada artikel mengenai seorang anak ber-IQ tinggi yang dibina oleh Prof Yohanes Surya sehingga di usianya yang ke-10, anak ini sudah bersekolah setara kelas 2 SMA. Saya langsung tertarik membacanya dan berusaha mencari cara menghubungi Prof Yohanes. Prof Yohanes Surya adalah seorang ilmuwan sangat terkenal sejak saya kecil dulu. Saya ingat waktu SMA, kami sekelas mengikuti seleksi olimpiade Fisika dengan buku-buku beliau. (PS: Saya ikut-ikutan doang demi ngecengin ketua OSIS yang ikutan juga hahaha).

Kembali ke topik. Setelah browsing sana-sini, saya mendapatkan alamat email beliau dan langsung menceritakan soal Naya. Karena Prof Yohanes Surya adalah pendiri Surya University (2013) di Serpong yang merupakan pusat penelitian, dan salah satu clusternya adalah National Centre for Gifted and Talented (NCGT), saya sungguh berharap Prof Yohanes dapat memberikan pencerahan berdasarkan banyaknya pengalaman beliau menangani anak seperti Naya.

Saya menanti balasan email beliau dengan harap-harap cemas. Alhamdulillah, email saya dibalas beliau setelah 2 hari. Beliau meminta saya menghubungi salah satu konsultannya yang kemudian merujuk saya ke ibu Evy Tjahjono, seorang psikolog khusus anak berbakat atau istilahnya Cerdas Istimewa/Berbakat Istimewa (CIBI). Beliau adalah konsultan di NCGT. Tak menunggu lama, saya langsung mengemail beliau untuk menceritakan Naya panjang lebar. Alhamdulillah lagi, email saya direspon dengan cepat. Kebetulan sekali, beliau sedang berada di Surabaya dan memungkinkan saya berkonsultasi langsung. Allah Maha Baik ya, di saat saya sudah putus asa dan kerjaannya cuma bisa nangis doang, jalan mulai terbuka satu per satu:) Alhamdulillah.

Satu minggu setelah saya mengirim email pada ibu Evy, kami janjian untuk bertatap muka. Saya membawa semua medical record Naya, termasuk status tumbuh kembangnya sejak lahir, buku laporan kemajuan dari sekolahnya yang dulu dan sekarang, sampai buku-buku untuk anak TK-B dan kelas 1 SD yang Naya kerjakan.

Kami berdiskusi dengan sangat intens. Saya lega sekali bisa menceritakan semua soal Naya tanpa takut bakal dijudge ini-itu. Total hampir 3 jam saya bercerita. Naya tidak ikut di dalam ruangan karena pada sessi pertama ini, rupanya ibu Evy ingin mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari saya.

Kesimpulan yang diambil setelah interview dari ibu Evy adalah sepertinya Naya menunjukkan tanda-tanda anak gifted. Walaupun sebenarnya IQ masih bisa berubah, dan gifted belum bisa terlalu dilihat pada anak seumur Naya, tapi banyak ciri-ciri gifted terdapat di Naya.

Sumber : http://ryaneducationforall.blogspot.com/2011/10/deteksi-dini-terhadap-anak-anak.html



Sumber: http://hernapgsd.edublogs.org/2012/06/25/karakteristik-anak-unggul-gifted/


Setelah saya yang diinterview, giliran Naya yang akan diobservasi. Karena jadwal beliau cukup padat selama di Surabaya, Naya direncanakan bertatap muka  minggu depannya.

Seperti biasa, Naya malu-malu dan tidak mau berbicara sama sekali saat pertama kali bertemu dengan ibu Evy. Tapi karena beliau sangat telaten, lama-lama Naya mau diajak bermain. Rupanya observasi beliau dilakukan dengan bermain bersama Naya. Naya diajak bermain mulai congklak (sampai selesai lho! Benar-benar sampai biji congklaknya habis. Saya yang baru saja selesai jaga sudah bolak/i menguap melihatnya:)))), boardgame keseimbangan, permainan soal bentuk dan warna sampai permainan imajinasi dan kreativitas. Total tatap muka berlangsung selama 2 jam lebih sedikit dan harus diakhiri karena Naya kelaparan:)))))

Hasilnya kesimpulan awal beliau mengenai kemungkinan Naya adalah anak gifted terkonfirmasi. Walaupun belum dapat dipastikan karena masih berumur 3 tahun, tapi karena ciri-ciri anak gifted semua ada di Naya, saya harus banyak-banyak membaca mengenai hal ini karena tentu cara mendidik akan sangat berbeda. -PR lagi dah!-

Doakan kami ya! Soal Naya saya update lagi kapan-kapan;)

Saturday, June 14, 2014

Cengeng

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cengeng artinya 1. mudah menangis;suka menangis; 2. mudah tersinggung (terharu dsb); 3. lemah semangat;tidak dapat mandiri.

Di postingan ini, yang ingin saya bahas adalah cengeng berdasarkan pengertian yang pertama, mudah menangis;suka menangis. Sepanjang ingatan, saya bukanlah orang yang cengeng. Didikan dari papa yang begitu keras seakan membuat saya merasa tabu untuk menangis. Saat sedih atau emosi, saya lebih memilih untuk mengungkapkan lewat tulisan. Mungkin itulah asal muasal mengapa saya begitu suka menulis.

Semua berubah setelah saya melahirkan Naya. Entah kenapa, saya jadi gampang sekali terbawa perasaan. Cengeng. Saya menangis saat Naya pertama kali menelpon saya di rumah sakit hanya untuk bilang "Mama ayo pulang! Kakak ngangeng! *baca:kangen*, saya menangis saat Naya sakit sementara saya tidak bisa meninggalkan tugas jaga, saya menangis saat Naya ngambek tidak mau bicara lewat telpon sewaktu saya dinas di luar pulau, bahkan saya bisa menangis saat melihat bintang film Korea menangisi kepergian anaknya di salah satu drama Korea. Iya, saya akui saya menjadi cengeng.

Akhir-akhir ini pun, saya merasa benar-benar cengeng.

Suatu pagi, Naya bertanya pada saya.
Naya: "Mama, kalau mau dapet uang halus kelja ya?"
Meta: "Iya kak."
Naya: "Mama keljanya dotel anak, papa keljanya dotel kandungan. Kalau mbak Yaci keljanya apa?"
Meta: "Mbak kan yang nganterin kakak sekolah atau les pas mama di rumah sakit. Yang nemenin kakak pas mama papa engga ada. Itu kerjanya."
 Tetiba Naya memeluk erat saya dengan suara lirih.
"Mama, maaf ya kakak Aya engga punya uang buat bayal mama. Nanti kalau sudah besal, kakak kelja bial dapet uang buat mama jadi mama bisa nemenin kakak telus."
Saya? Engga bisa ngomong karena sibuk menyembunyikan air mata:)))
Cengeng? Mungkin;)

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya memang sedang sibuk mencari sekolah yang mau menerima Naya. Total saya menyurvei 15 sekolah. Ada satu sekolah yang benar-benar membuat saya kecewa. Sejak awal, sekolah tsb memberi harapan bahwa mungkin bisa saja Naya diterima. Naya sudah sangat bahagia mendengarnya. Sebelumnya, ada satu hari khusus yang dijadwalkan untuk mendatangkan psikolog agar bisa mengobservasi dan mengetes Naya apakah siap bersekolah di kelas yang lebih tinggi dari usianya.  Saya persiapkan semuanya dari jauh hari. Saya ijin dari rumah sakit -jangan dikira gampang lho buat ijin walaupun cuma satu hari-, saya persiapkan mental Naya. Saya tanyakan Naya berulang-ulang, benarkah Naya mau bersekolah di kelas yang lebih tinggi? Naya selalu menjawab iya.

Pada hari-H, kami datang ke sekolah tsb dengan harapan tinggi. Naya bahkan berangkat dengan ceria dan penuh senyum, berharap akan segera bersekolah di sekolah tsb pada kelas yang lebih tinggi.
Sampai di sana, saya agak bingung karena sayalah yang dites. Saya diminta menggambar pohon, orang, dan rumah. Naya malah tidak dites apa pun. Saya pikir waktu itu mungkin belum giliran Naya. Sampai siang, Naya belum juga dites. Bolak/i Naya bertanya "Mana tesnya? Kakak kan mau sekolah disini."

Setelah saya dites -Naya belum dites atau bahkan dilihat langsung oleh psikolognya- saya diminta berdiskusi dengan psikolog tadi, hanya untuk diingatkan betapa bahayanya "memaksakan" anak saya bersekolah di kelas yang lebih tinggi seakan-akan menjudge saya sebagai ibu yang luar biasa ambisius, tanpa memikirkan kebutuhan anak. Saya setengah mati menahan air mata saya di ruangan itu. Bukan karena kesal karena Naya tidak diterima, bukan. Hanya saja mungkin saya naif, tapi saya berpikir sebagai seorang psikolog sebaiknya tidak cepat benar mencap seseorang, bahkan tanpa melihat latar belakang atau alasannya. Bagaimana beliau bisa menyimpulkan saya yang memaksakan Naya bersekolah di kelas yang lebih tinggi kalau melihat kemampuan Naya saja tidak? Bagaimana beliau bisa bilang saya yang terlampau ambisius saat sebetulnya advis untuk bersekolah di kelas yang lebih tinggi itu datang dari seorang psikolog lain yang sama profesionalnya seperti beliau? Engga mungkin dong ya saya ujug-ujug meminta Naya sekolah di kelas yang lebih tinggi tanpa ada alasan atau rekomendasi dari seseorang yang berwenang di bidangnya?

Yang membuat saya akhirnya menangis adalah melihat Naya yang begitu tahu tidak jadi bersekolah di sekolah tsb menjadi sangat rendah diri. "Kakak Aya engga pintal ya ma? Kok engga ditelima di sekolah itu?". Semua ketrampilan yang biasanya dia lakukan pun jadi enggan dilakukan. "Kakak Aya engga bisa ma, Kakak kan engga pintal." Saya cengeng ya? Mungkin;)


Saya pun jadi super sensitif kalau ada orang yang tak begitu kenal dekat dengan saya -tentu engga mengerti benar jalan cerita soal Naya- tetiba ikut menjudge saya lebaylah, ambisiuslah, atau apalah. Ada juga yang tetiba menyalahkan saya terlalu overprotective pada Naya sehingga sulit bersosialisasi dengan teman sebaya. Ada. Biasanya sih saya bisa cuek, tapi engga tau ya, tidak kali ini. Pengaruh hormon kali. Namanya hormon ibulebay;p

Pada prinsipnya, saya -seperti ibu yang mana pun di mana pun- menginginkan yang terbaik buat Naya. Saya engga pernah dan engga akan pernah memaksa Naya untuk melakukan apapun yang tidak membuatnya bahagia. Saya engga peduli dijudge macam-macam oleh orang lain. Semua keputusan saya untuk Naya, sekecil apapun, telah melalui proses konsultasi ke pihak yang kompeten (Bukan cuma "Katanya" atau "Dulu anaknya tetangga bla bla bla") dengan sangat berhati-hati. Dibilang ambisius kek, lebay kek, overprotective kek, terserah. Yang jelas perjuangan saat hamil saya sungguh berat, begitu pun saat melahirkan dan sesudahnya. Situ ikut repot pas hamil? Ikut rempong pas nyusuin? Ikut ribet ngasuh? Kalau engga, you'd better just shut up;)

Walaupun begitu, banyak juga yang berbaik hati pada Naya dan saya. Saya menerima banyak sekali email dari pembaca blog ini yang memberikan masukan atau saran. Terima kasih banyak ya, semoga Allah SWT yang membalas. Maafkan kalau belum sempat dibalas:)

Lalu bagaimana Naya sekarang? Saya ceritakan di postingan mendatang ya! Stay tune:p

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates