Thursday, August 17, 2017

Stunting: Bukan Hanya Sekadar Pendek

Menepati janji saya nih pada beberapa pembaca blog, kali ini saya akan membahas lebih dalam lagi mengenai stunting. Sebelumnya, saya sudah pernah membahas stunting pada anak tapi hanya sekilas saja. Semoga berguna untuk buibu dan pakbapak semua yaa:D

Stunting itu apa sih sebetulnya?
Stunting (pendek berdasarkan umur) adalah tinggi badan yang berada di bawah minus 2 standar deviasi (<-2 SD) dari tabel status gizi WHO.

Apa penyebab stunting?

Ada beberapa faktor penyebab stunting, mulai dari malnutrisi dan kurangnya status kesehatan ibu hamil, malnutrisi pada anak akibat praktik pemberian makan yang salah dan juga infeksi.

Mengapa stunting bisa terjadi?
Jadi normalnya, saat bayi naik berat badan sesuai dengan seharusnya, tinggi badan pun akan bertambah. Jika tinggi badan bertambah sesuai dengan seharusnya, demikian pula dengan lingkar kepala sehingga terlihat proporsional. Maha besar Allah dengan segala ciptaanNya. Kebayang engga sih kalau berat badan naik terus, tinggi badan naik terus tapi lingkar kepala engga bertambah? Atau sebaliknya, berat badan engga bertambah tapi tinggi badan naik terus, lingkar kepala naik terus?:D

Nah pada kondisi berat badan yang naik tidak seperti dengan seharusnya atau malah tidak naik-naik, tinggi badan juga tidak akan naik untuk "menjaga" keproporsionalan tubuh. Jika ini terjadi berkepanjangan, jadilah anak akan stunting alias pendek.

Anak saya engga terlihat kurus lho. Kelihatannya biasa, baik-baik saja. Apa bisa stunting?
Bisa banget. Coba kembali lihat definisinya deh, Stunting adalah tinggi badan yang kurang (pendek berdasarkan umur) BUKAN berat badan yang kurang.

Kalau berat badan kurang apa dong namanya?
Berat badan yang kurang berdasarkan umur disebut underweight. Pada saat anak mengalami underweight, bisa saja tingginya berdasarkan umur masih normal. Namun kalau kondisi underweight ini berlangsung terus menerus, lama-lama anak dapat mengalami stunting. Bisa dimengerti ya? Saya agak kesusahan menjelaskan dengan bahasa sederhana nih hehe. Tapi insyaAllah ini sudah sederhana banget:D

Apakah anak stunting pasti gizi kurang atau gizi buruk?
Belum tentu. Anak stunting banyak yang status gizinya baik lho! Status gizi ditentukan berdasarkan proporsi tinggi badan dan berat badan. Jika beratnya underweight dan tingginya stunted alias kurang, status gizinya masih bisa baik kan?

Tapi bapak ibunya pendek kok memang, masa anaknya bisa tinggi dok?
Di dunia medis, ada yang namanya tinggi potensial genetik (TPG), yaitu perkiraan tinggi anak kelak saat dewasa yang diukur dari tinggi badan orangtuanya. Rumusnya adalah:
  • TPG anak laki-laki = ((TB ibu (cm) + 13 cm) + TB ayah (cm))/2 ± 8,5 cm
  • TPG anak perempuan = ((TB ayah (cm) - 13 cm) + TB ibu (cm))/2 ± 8,5 cm
Sebagai contoh kasus nih ya, anak perempuan (sebut saja namanya Mawar, bukan nama sebenarnya LOL) yang tinggi ibunya 150 cm, dan tinggi ayahnya 160 cm, maka kelak saat dewasa perkiraan tingginya adalah:
((160-13) + 150)/2 ±8,5 = (147 + 150)/2 = 148,5 ±8,5 = 140 - 157 cm

Jika nutrisi dan stimulasi optimal maka tingginya kelak bisa mencapai 157 cm, lebih tinggi kan tuh dari ibunya? Lalu kalau Mawar menikah dengan suami yang tingginya 165 misalnya, anaknya bisa lebih tinggi lagi kalau nutrisi dan stimulasinya optimal. Nanti anaknya Mawar punya anak yang lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi demikian seterusnya.

Saya jadi ingat omongan guru saya nih! Beliau bilang orang-orang di Jepang beberapa ratus tahun yang lalu terkenal pendek-pendek. Namun karena nutrisi serta stimulasi yang optimal, coba lihat orang Jepang sekarang. Tinggi-tinggi dan ganteng-ganteng eaaaa,  menyaingi tinggi orang Eropa.

Bayangkan deh kalau orangtua di Jepang beberapa generasi lalu "pasrahan" seperti layaknya orangtua di Indonesia saat ini, tidak mencari tahu ada apa saat anak mereka terlihat pendek.  "Ya sudahlah wong bapak ibunya juga pendek, gimana mau tinggi?". Pasti sampai sekarang pun orang Jepang tetap pendek seperti dulu kan?

Ah engga apa-apa deh pendek sekarang, nanti kayak keponakan saya dok, Pas puber nanti tinggi-tinggi sendiri kok. 
Sumber: Google
 Lihat dulu yuk pola pertumbuhan tinggi manusia. Yang paling pesat adalah 3 tahun pertama, kemudian melandai dan akan meningkat lagi saat pubertas. Jadi memang betul banget, pada saat pubertas, tinggi badan akan cepat meningkat. Tapi bandingkan dengan 3 tahun pertama deh, kira-kira lebih optimal mana jika saat 3 tahun pertama dimaksimalkan, saat pubertas juga dimaksimalkan atau jika hanya saat pubertas saja dimaksimalkan?:D

Ya sudahlah engga apa-apa pendek, anak saya pintar kok dok.
Beberapa penelitian menunjukkan kalau stunting memiliki beberapa dampak jangka panjang termasuk menurunnya kognitif seseorang, berkurangnya kapasitas kerja serta menurunnya kekebalan tubuh.

Ada penelitian jangka panjang pada anak dari Guatemala yang menunjukkan ternyata anak yang mengalami stunting pada usia 2 tahun ternyata bersekolah lebih rendah (dalam artian tidak meneruskan pendidikan lebih tinggi) , memiliki nilai performa kerja lebih rendah, penghasilan perkapita lebih rendah dan kemungkinan lebih tinggi hidup miskin pada saat dewasa dibandingkan dengan mereka yang tidak stunting.

Ada lagi penelitian jangka panjang pada anak dari Brazil, Guatemala, India, Filipina dan Afrika Selatan yang menunjukkan kalau stunting pada usia 2 tahun ternyata berhubungan dengan tingkat pendidikan. Mereka yang stunting pada usia 2 tahun setidaknya satu tahun lebih awal menyelesaikan pendidikan dibandingkan dengan yang tidak stunting. (Dalam artian tidak meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi).

Diestimasikan pula anak yang stunting menghasilkan penghasilan 20% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak stunting saat dewasa.

So, if you think its ok to be short, or probably its still ok to be thin, PLEASE think again. Because cognitive problems is NOT ok.

Tapi anak saya pendek dan pintar kok dok?
Pertama, siapa sih orang tua yang engga bilang anaknya pintar?:p Yang kedua, kalau saya pribadi sih, akan sangat kepikiran "Jangan-jangan seharusnya bisa lebih pintar dari ini?".

Apakah stunting bisa disembuhkan?
Eh bukan disembuhkan sih ya mungkin istilahnya, tapi dikejar atau catch up. Dampak stunting ini irreversible alias tidak dapat diperbaiki. Tapi, di-catch up masih bisa. Ada penelitian nih yang melakukan catch up pada anak-anak stunted. Yang satu dilakukan catch up saat berusia 5 tahun, kelompok satunya dilakukan catch up saat berusia 2 tahun. Hasilnya yang di-catch up saat 5 tahun tidak ada perubahan, sedangkan yang di-catch up saat 2 tahun ada yang kognitifnya sama dengan anak tidak stunting, namun ada juga yang kognitifnya tetap di bawah anak tidak stunting.

Catch up apa yang harus dilakukan?
Selain memperbaiki nutrisi, tentu juga stimulasi.

Karena dampak yang irreversible ini makan mencegah stunting sangat penting. Bagaimana caranya? Tunggu di postingan saya selanjutnya yaa:D Saya memang sengaja menulis tidak terlalu panjang supaya mudah dimengerti dan yang membaca tidak pusing hehehe.

Di hari kemerdekaan Indonesia ini, tentunya banyak pihak yang mengharapkan Indonesia yang lebih baik dari berbagai segi. Saya sendiri berharap semoga generasi penerus bangsa kita ini selalu sehat dan bisa terbebas dari stunting, karena stunting bukan hanya sekadar pendek, tapi lebih dari itu. Jika Indonesia terbebas dari stunting, penghasilan per kapita akan lebih tinggi, kapasitas kerja masyarakatnya lebih tinggi, pendidikan lebih tinggi, dan seterusnya.

Karena sesungguhnya "perjuangan" tidak selalu berupa perang melawan penjajah, tapi bisa sesederhana orangtua yang aware (dan tidak gampang ikut-ikutan tren:p) terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan para generasi mendatang yang akan membawa Indonesia kelak. Semangat ya buibu pakbapak, demi Indonesia yang lebih baik. Better generation for better Indonesia.

Merdeka!

5 comments:

Siti Rohmah Romdiani said...

Dok nanti bahas juga ya catch up stimulasi itu gimana

christine sil said...

Makasih dok, ditunggu postingan berikutnya agar anak gizinya bagus

gaya fashion stylist said...

great

Terimakasih Bijaksana said...

Ditunggu lanjutannya dok..kalo bisa sama tabel ideal bb dan tb anak per usia dong dok...

Anonymous said...

dok ditunggu postingan tentang stimulasi catch up-nya bagaimana

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...