Showing posts with label motherhood. Show all posts
Showing posts with label motherhood. Show all posts

Tuesday, August 13, 2019

Serba Salah

Alhamdulillah, buku ke-9 saya sekaligus buku seri ke-4 dari Mommyclopedia akhirnya terbit jugaaa. Keinginan saya sejak pertama kali menulis buku di tahun 2008 sebetulnya adalah menulis 1 buku setiap tahunnya. Sempat skip 2x karena saya hamil (dan bermasalah banget sampai tidak bisa melihat. Jdi kan ya boro-boro menulis #lahkokcurcol) dan melahirkan bayi prematur yang butuh perawatan lebih hehe. Tapi syukurlah, setelah itu, keinginan saya bisa tercapai terus.

 Sejujurnya, saya sudah merencanakan menulis buku Mommyclopedia seri ke-4 sejak 2 tahun yang lalu dan mulai menyusun draftnya sejak lama. Bukan tentang MPASI, melainkan tentang..errrr...kasih tahu engga ya:p.. Ada deh pokoknya, biar jadi buku seri selanjutnya aja ya hehe. Ternyata, dalam perjalanannya, malah banyak yang request saya membukukan highlight mengenai MPASI di Instagram. Karena itulah, buku yang rencananya akan saya jadikan seri ke-4 jadi mundur disela buku mengenai MPASI ini hehe.

Buku seri ke-4 ini berjudul Mommyclopedia: 567 Fakta Tentang MPASI. Fakta nomor 432 akan membuatmu terkhezoed! Saya sengaja membuat isinya bernomor, hanya poin-poin saja,  supaya lebih ringan dan mudah dibaca orang dengan background pendidikan apapun. Setiap nomornya berisi fakta singkat mengenai MPASI, hanya 1-4 kalimat saja. Saya paham bahwa minat baca kebanyakan orang Indonesia masih rendah, pastinya mumet kalau disuruh baca buku yang monoton penulisannya, apalagi kalau banyak bahasa medisnya. Harapannya, semoga dengan penulisan yang seperti ini, buibu pakbapak lebih paham karena selain lebih detail, lebih fokus, bahasanya pun sengaja saya pilih yang paling sederhana. 

Kenapa 567? Engga ada pertimbangan khusus kok, memang kebetulan saja poin yang saya tulis berhenti di 567:D

Thursday, January 31, 2019

Mom Shaming

Weits, ada apa nih sampai saya ikut menulis soal mom shaming?
Diambil dari Google

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapat ibu dari seorang pasien yang datang ke tempat praktik dan mendeklarasikan dirinya sebagai anti vaksin. Sejak lahir hingga usia 7 bulan, anaknya memang tidak diberikan vaksinasi apapun. Sebagai seorang dokter yang mempunyai tanggung jawab untuk mengedukasi sesuai EBM, tentu saja saya tidak tinggal diam. Karena alasan ibu tersebut tidak mengimunisasi anaknya adalah kehawatiran anaknya akan menjadi autis, maka saya tunjukkan beberapa jurnal mengenai hoax terkait autis dan imunisasi yang kebetulan ada di laptop saya.

Panjang lebar saya jelaskan, termasuk bagaimana keputusan ibu tadi untuk tidak mengimunisasi anaknya bukan hanya berdampak pada anaknya sendiri tapi juga pada anak-anak lain dan lingkungannya karena herd immunity. Saya sangat terkejut menerima respon dari sang ibu yang menanggapi edukasi saya sebagai mom shaming. Eh? Gimana?

Tuesday, December 25, 2018

Terbully

Setelah sekian lama tak mengisi blog, akhirnya hari ini saya tergugah untuk beberes debu di sini nih hehe! Mungkin banyak yang bertanya-tanya ya, ke mana aja sih saya sampai tak juga sempat untuk menulis di blog sekian lama?

Sebenarnya, saya masih rajin menulis kok:p  Hanya saja memang medianya tak lagi hanya blog saja. Untuk mengedukasi orang tua mengenai kesehatan anak, saya lebih sering menggunakan Instagram Story untuk menulis. Saya juga masih berjuang menyelesaikan draft buku Mommyclopedia seri keempat, dan tentunya penelitian-penelitian ilmiah saya. (Duh, doakan segera selesai sayaaa. Pening akutuuuu)

Oh ya, ngomong-ngomong soal Instagram nih. Jadi, seperti yang saya sebut sebelumnya, tahun ini saya lebih sering menggunakan media Instagram Story untuk mengedukasi orang tua. Why? Kalau sudah mengikuti blog saya sejak dulu mungkin sudah paham benar nih, saya memulai mengedukasi sebenarnya sudah sejak lama, lebih dari 10 tahun lalu. Lewat blog, buku, dan lain sebagainya. Hanya saja, saya merasa selama ini apa yang saya sampaikan masih belum terlalu memberikan dampak bagi banyak orang.

Sunday, March 18, 2018

Last Day in Rotterdam

Walaupun saya mengira akan terlambat bangun pagi ini karena tidur sangat larut malam sebelumnya, namun pagi hari benar, mata saya sudah terbuka lebar. Menunggu waktu subuh dengan menulis blog, membalas email, dan beberes, saya sudah siap untuk menjalani hari Masterclass terakhir ini. Rencananya sih, acara akan selesai pukul13.00.

See you, Rotterdam! Source: Google
Materi yang diberikan sebagai pemungkas dan penutup acara sebetulnya kurang terlalu berhubungan dengan praktik saya sehari-hari, walaupun begitu menyenangkan sekali mengikuti diskusi orang-orang pintar dari banyak negara ini:D Rotterdam saat itu sangat berawan, dan menurut ramalan cuaca akan hujan seharian. Waktu coffee break, saya sempatkan untuk kembali ke kamar, packing dan check-out. Rencananya, begitu acara selesai, saya akan mengejar kereta ke stasiun pusat Rotterdam untuk naik kereta kembali ke Amsterdam.

Acara tepat selesai pukul 13.00 (benar lho, tak kurang dan tak lebih semenit pun!). Begitu selesai, mengambil sertifikat, saya langsung lari menuju stasiun metro karena menurut aplikasi 9292 yang saya download, kereta menuju stasiun pusat Rotterdam akan berangkat tepat pukul 13.07 (dan memang benar, sangat tepat waktu hingga ke menitnya).

Wednesday, February 28, 2018

Persiapan ke Belanda

Selain mempersiapkan mental akan berjauhan dengan Naya, menjelang keberangkatan ke Belanda, saya pun mempersiapkan banyak hal, termasuk (salah satunya) mengatur apa saja yang akan saya bawa. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, kali ini saya hanya memiliki waktu persiapan yang cukup singkat. Bukan apa-apa, tapi memang dikarenakan kesibukan yang demikian hecticnya. (Bisa dibaca di sini).
Naya kelihatan setengah mati nahan nangis ga sih?

Kalau biasanya saya sudah mulai packing sebulan, bahkan 2 bulan (kalau jangka panjang, ke luar negeri pula) sebelumnya. Nah di perjalanan kali ini, cukup hanya dalam 2 minggu saja. Prestasi luar biasa lho ini buat saya yang super OCD:p

Yang pertama saya cari tahu tentu adalah cuaca selama di sana. Berdasarkan weather.com, saat kedatangan saya di Amsterdam, suhunya berkisar antara -6 derajat Celsius hingga -2 derajat Celsius. Eh gimana? Engga salah? Iyeee, engga salah. Serius, bahkan suhu tertingginya saja -2 derajat! Saya yang paling tak kuat dingin ini langsung migren deh pasti. Di akhir masa tinggal saya di Belanda, suhunya masih berkisar antara 10-16 derajat Celsius. Yaelah, tetap saja saya pasti tak tahan:)))

Tuesday, February 27, 2018

Sebelum ke Belanda

Pertama kali menerima kabar bahwa aplikasi untuk meneruskan pendidikan sementara waktu di Belanda diterima, yang terpikir oleh saya adalah: Bagaimana dengan Naya? Rasanya saya tak sanggup berpisah lama dengannya, apalagi karena suami pun akan berada di Belanda bersama saya.

Akhirnya saya mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk menyekolahkan Naya di Belanda. Googling sana-sini, bertanya ke banyak pihak, rupanya tak terlalu sulit kok. Semakin semangatlah saya. Di mana pun rasanya pasti menyenangkan kalau bisa bersama keluarga, bukan?
My BFF

Tugas saya selanjutnya adalah meyakinkan Naya untuk sementara berpindah sekolah ke Belanda. Inilah yang sangat sulit. Sejak dulu, memang Naya susaaaaah sekali berkompromi kalau untuk urusan sekolah. Pernah lho, ia demam tinggi sampai 40 derajat, dan tetap memaksa ingin ikut ulangan ke sekolah. Menangis semalam, padahal saya tahu benar bahkan untuk membuka mata saja pasti sulit. Karena saya sudah menduga akan banyak sekali kesulitan meyakinkan Naya, saya mempersiapkan argumen dan pendapat yang didapat dari berbagai sumber. Sejak berbulan-bulan sebelumnya, saya memberikan afirmasi perlahan pada Naya dengan harapan, ia akan luluh juga dan mau berpindah sekolah sementara ke Belanda.

Friday, February 23, 2018

Kehectican Februari

Februari ini rasanya super hectic dan melelahkan sekali untuk saya. Walaupun begitu, saya sangat bersyukur karena diberi banyak "hadiah" oleh Allah Swt di bulan ini. Mulai tanggal 1 Februari, saya memutuskan untuk cuti berpraktik di rumah sakit swasta karena merasa tak mampu membagi waktu dengan baik. Apalagi, karena perkuliahan saya sudah memasuki masa-masa ujian akhir semester.Selain itu, saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Naya sebelum saya pergi ke Belanda meneruskan studi. (Kemudian mewek) :'(

Jadi ceritanya, selama 2 tahun menjalani kuliah subspesialisasi di bidang Nutrisi dan Penyakit Metabolik ini, saya pun harus mengikuti stase luar di luar negeri untuk mendalami inborn error metabolism. "Kebetulan" sekali (saya beri tanda petik karena saya percaya tak ada hal yang kebetulan), di saat yang sama suami saya dikirim untuk melanjutkan studi pula ke Belanda. Oleh karena itu, saya melamar dan mengajukan proposal untuk bersekolah di sana. Pikir saya, kalaupun harus berjauhan dengan Naya, setidaknya saya masih bisa berdekatan dengan suami. Tak apalah beda kota juga, asal masih satu negara. Beda negara asal masih satu benua pun tak masalah deh. Di Eropa, satu negara dengan yang lainnya kan berdekatan, begitu pikir saya.

Talkshow Mommyclopedia

Pada tanggal 10 Februari yang lalu, bertempat di gedung Gramedia Expo, saya dan tim Mommyclopedia mengadakan talkshow terkait launchingnya Mommyclopedia Batita dan Nutrisi. Saya yang baru saja malamnya tiba dari Jakarta, merasa tak enak badan. Sepertinya kelelahan karena memforsir tenaga.

Sebelum berangkat ke acara tersebut, saya masih sempat memvisite puluhan pasien hahaha. Benar-benar deh. Hidung pun meler tak henti-henti. Mau minum obat, tapi takut teler dan mengantuk. AKhirnya, berdoa saja semoga semuanya berjalan lancar.

Thailand day-3 + 4

(Disclaimer: Saya menulis postingan ini sejak sebulan yang lalu, namun karena kehectican tiada tara, baru bisa dipublish sekarang hehe. Tak apa yaa;))

Hari ke-3 di Thailand kami habiskan di Pattaya. Usai menyelesaikan sarapan, tujuan pertama kami adalah ke Pattaya Hill yang merupakan pusat tertinggi kota Pattaya. Dari sini, kita dapat melihat situasi Pattaya dari atas. Perjalanan dari hotel ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit dengan bis. Dari tempat parkir ke bis menuju atas, lumayan banget jalannya. Saya sukses ngos-ngosan karena harus berjalan menanjak.

Tapi rupanya, kelelahan tadi terbayar tunai melihat pemandangan dari atas. Baguuuus dan bersih sekali. Naya pun rupanya menyukai pemandangan ini karena -tumben-tumbennya- minta berfoto beberapa kali.

Selepas dari sana, kami menuju Pasar Terapung atau floating market. Menurut saya sih tidak terlalu spesial, mirip-mirip dengan floating market yang ada di Bandung. Bedanya, jajanan dan makanan yang dijual di sana khas Thailand seperti sticky mango rice, tom yam, dan makanan lainnya.

Saturday, January 27, 2018

Mommyclopedia Nutrisi

1. Ini buku apaan sih?
Buku #Mommyclopedia3 ini adalah seri ke-3 dari Mommyclopedia dan terdiri atas 208 halaman berisi tentang tanya jawab tentang nutrisi di 1000 hari pertama kehidupan anak.
2. Memangnya buku Mommyclopedia ada berapa seri?                                                       
Sampai sekarang, sudah ada 3 seri. Yang pertama adalah Perawatan Lengkap Bayi 0-1 Tahun, dan yang kedua adalah Perawatan Lengkap Batita, dan inilah yang ke-3.

3. Apakah buku ini sama konsepnya dengan buku Mommyclopedia sebelumnya? 

Sebetulnya konsep dasar Mommyclopedia adalah membahas mengenai kesehatan anak dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami dan diikuti. Jika di dua buku Mommyclopedia sebelumnya, saya menggunakan full warna dan ilustrasi, tidak demikian dengan buku ketiga ini. Buku ketiga ini berfokus membahas masalah nutrisi pada anak dengan sangat detail, sehingga kurang memungkinkan untuk dibuat full warna dan ilustrasi. 

Saya sengaja membuat buku ini dalam konsep tanya jawab agar walaupun pembahasan sangat fokus dan detail, pembaca masih dapat mengikuti dan mengerti dengan mudah. 

Selain itu, saya memang ingin buku ini dapat dijangkau oleh semua orangtua dari berbagai kalangan. Karena apa yang saya tulis ini wajib banget diketahui oleh para "penumbuh" generasi masa depan bangsa. Oleh karenanya, mencetak buku ini hanya dalam satu warna (ungu:p) untuk menekan harga saya anggap sangat beralasan. 

Tuesday, January 23, 2018

Thailand day-2

Hari ke-2 di Thailand, acara kami dijadwalkan lumayan padat. Karena itu sejak pagi hari, kami sudah bangun untuk bersiap-siap. Naya tampak bersemangat dan tak sabar untuk mengeksplorasi kota Bangkok.Tak henti-hentinya ia bertanya "Kapan berangkatnya?". Hari ini juga kami check out dari hotel di Bangkok karena akan menuju Pattaya. Jadi packing lagi deh:D
Chibi-chibi

Tujuan pertama kami adalah Wat Arun. Wat (candi) ini adalah tempat tujuan wisata yang paling terkenal di Bangkok. Perjalanan dari hotel ke candi ditempuh dalam waktu 20 menit saja. Sepanjang perjalanan, banyak sekali bangunan khas Thailand di sana-sini dengan foto raja yang dipajang dimanapun. Satu hal yang tetap membuat saya terkagum-kagum: kebersihannya! Benar-benar bersih!

Monday, January 22, 2018

Sawardika Thailand!

Setelah sempat "nongol" di awal 2018 kemarin, rupanya saya dihantam (deuh bahasanya haha) dengan kesibukan tiada tara. Tugas menumpuk, pekerjaan tak kunjung usai terus mewarnai hari-hari saya. Hingga, saat suami mengajak kami (saya dan Naya) berlibur, rasanya campur aduk. Bingung. Senang tentu, karena akhirnya bisa terbebas sementara dari rutinitas. Tapi sekaligus enggan, karena takut semua pekerjaan yang belum terselesaikan akan tertunda sehingga "hutang" tugas semakin menumpuk.
Yang kiri happy bgt mau family time, yang kanan mulai komat/i takut turbulens pesawat:))

Demikian pula dengan Naya. Walaupun liburan panjang semester kemarin (hampir 3 minggu karena disambung natal dan tahun baru), ia tidak ke mana-mana sama sekali, rupanya untuk ijin tak masuk sekolah sangat berat buat Naya. Ini sih saya sudah mahfum sejak dulu:D
Dengan jaket yang belum hilang:))

Tapi karena suami meyakinkan berulangkali dengan alasan ini akan menjadi family time kami yang terakhir sebelum ia (dan saya!) pergi ke luar negeri tanpa Naya untuk beberapa lama, ya sudah deh, berangkaaaaat! Sebelum berangkat, saya kekurangan tidur berhari-hari karena berusaha mengejar mengerjakan tugas segala macam. Saking sibuknya, tahu tidak, saya baru packing H-1 lho! Buat yang mengikuti blog ini pasti tahu benar, kalau packing H-1 itu "prestasi" luar biasa untuk saya hahaha. FYI, biasanya saya sudah mulai packing 3 minggu atau bahkan sebulan sebelumnya, walaupun dibilang lebay sama Naya:D

Tuesday, November 21, 2017

FAQ: Mommyclopedia-2



1. Ini buku apaan sih?
Buku #Mommyclopedia2 ini adalah seri ke-2 dari Mommyclopedia.  Terdiri atas 164 halaman berisi tentang panduan lengkap merawat batita (1-3 tahun), buku ini dicetak penuh warna dan penuh ilustrasi supaya ringan dibaca, juga mudah diikuti.
2. Memangnya buku Mommyclopedia ada berapa seri?                                                       
Sampai sekarang, sudah ada 2 seri. Yang pertama adalah Perawatan Lengkap Bayi 0-1 Tahun, dan yang kedua adalah yang ini. Awal tahun depan, insyaAllah akan terbit seri ke-3 mengenai nutrisi pada anak.

3. Apa beda buku ini dengan buku sejenis? 

Saya memang sengaja menbuat konsep buku yang ringan dibaca dan mudah diikuti. Sebagai ibu, saya mengerti benar bagaimana kesibukan orangtua. Bisa tidur cukup saja Alhamdulillah, kok baca buku:p Karena itulah, Mommyclopedia ini juga dilengkapi oleh aplikasi untuk mempermudah orangtua mengakses informasi. Tinggal scan QR code dalam halaman buku, kita bisa langsung terhubung ke aplikasi. Aplikasinya juga bisa didownload di Appstore dan Playstore.
4. Apa isi buku ini?                                                                                                                    
Selain perawatan batita, buku ini juga membahas nutrisi batita, kesehatan batita, tumbuh kembang dan pertolongan pertama pada kecelakaan. 

5. Berapa harga buku?
Buku ini dijual seharga Rp. 98.000,00 belum termasuk ongkos kirim.  Tapi selama masa pre-order, ada 2 paket promo yang bisa dibeli. Paket pertama, 1 buku Mommyclopedia-2 dan 1 folded bag seharga Rp. 165K, termasuk free ongkos kirim se-Pulau Jawa. Sementara paket kedua, 1 buku Mpmmyclopedia-1, 1 buku Mommyclopedia-2 dan 1 folded bag seharga Rp. 250K, termasuk free ongkos kirim se-Pulau Jawa. Bagi yang mengikuti pre-order, pengiriman buku akan dilakukan menggunakan kurir dari Surabaya. 




6.  Berapa harga Mommyclopedia Folded Bag? Bisakah dibeli terpisah dengan buku?
Folded Bag (Tas lipat)  dapat dibeli sepaket dengan buku selama masa promo seharga Rp. 165.000,00 (Free ongkir Pulau Jawa).  Sayangnya, selama periode pre-order ini, folded bag hanya dapat dibeli bundling dengan buku. Tapi, kalau ingin membeli bukunya saja boleh kok.

7. Bagaimana cara order buku ini?
Sila email ke mommyclopedia@gmail.com atau DM IG @mommyclopedia, lalu tunggu balasan yang akan dilengkapi dengan jumlah total pembayaran dan nomor rekening. Setelah itu, kirim kembali bukti transfer, buku akan segera dikirim ke alamat pemesan:)
Untuk periode pre-order ini, pemesanan hanya dapat dilakukan lewat email dan IG @mommyclopedia.

8. Apakah buku ini dijual di toko buku?
Yes! Buku Mommyclopedia: Panduan Lengkap Merawat Batita ini bisa didapatkan di toko buku seluruh Indonesia mulai Desember 2017.

9. Bisakah menjadi reseller buku ini?
Bisa doooong! Langsung hubungi lewat Whatsapp yaa, lumayan banget lho!

10. Apa ada acara launching?
Pastinyaaa. Pantengin terus IG: @mommyclopedia dan FB-nya yaa. Nanti saya akan memberikan kesempatan pembaca blog saya untuk ikut hadir saat acara launching. Berminat?;)

Friday, November 17, 2017

Pentingkah Vitamin untuk Anak?

Seandainya saja saya mendapat 1000 rupiah setiap kali ada yang meminta vitamin penambah nafsu makan untuk anaknya, pasti deh sekarang saya sudah kaya raya. Mungkin bisa ikut Princess Syahrini ke Iceland pakai boot dan longcoat bebuluan #eh.

Hehe, saya cuma mau menunjukkan betapa sering (dan banyak)-nya orangtua yang menanyakan vitamin penambah nafsu makan untuk anak. Terkadang disertai dengan tambahan "Yang paling bagus, yang paling mahal ya dok! Apapun saya lakukan asal anak saya pintar makan dan cerdas!".

Sayangnya, saya bukan pedagang vitamin sehingga setiap permintaan demikian tidak dapat serta merta saya resepkan:p Eh, bukan itu sih alasannya, becandaaa:))) Terus kenapa? Karena pemberian vitamin sesungguhnya tidak serta merta dapat langsung menyelesaikan masalah anak yang mengalami gangguan makan.

Sebagai contoh nih, saya punya pasien yang sukanya melepeh makanan. Sebut saja namanya Duri ya! (Bosan kalau Mawar atau Melati hyahaha).  Orangtuanya mengeluhkan kalau Duri ini seolah tidak memiliki rasa lapar. Dalam 24 jam, ia tahan hanya makan roti tawar 5 gigit dan susu UHT sekotak, titik. (Duh, seandainya saya bisa seperti itu, pasti sudah langsing deh. Sayang, walaupun kadang tak merasa lapar, saya suka lapar mata melihat makanan enak. Yah gimana mau langsing:'( #kokjadicurcol).

Sunday, November 5, 2017

Bisnis Buku

Linimasa di media sosial kini seringkali menampilkan berita "mati"nya usaha yang sudah berdiri berpuluh-puluh tahun, entah karena memang daya beli masyarakat menurun, atau era digitalisasi. Sebut saja Matahari, departement store yang namanya sudah begitu melekat di masyarakat Indonesia. Sewaktu kecil dulu, saya ingat selalu membeli pakaian, sepatu hingga tas sekolah baru di pusat perbelanjaan ini. Bahkan sampai sekarang, saya masih sering mengunjungi Matahari untuk membeli berbagai kebutuhan. Ditutupnya beberapa cabang Matahari (dan bisa jadi, cabang lain akan menyusul) sempat membuat saya terkejut. Masa sih?

Tak hanya Matahari, Ramayana, Lotus di Jakarta hingga bisnis ritel macam Debenhams pun perlahan mengikuti jejak menutup satu persatu outletnya. Demikian pula dengan bisnis supermarket seperti Hypermart.

Sebetulnya, saya tidak terkena imbas dari penutupan beberapa bisnis ini secara langsung. Toh sejujurnya, saat ini saya lebih sering berbelanja online. (Mungkin saya juga nih salah satu penyebab bisnis offline jatuh:p). Entah lewat Tokopedia, Shopee atau Instagram. Engga ngefek-ngefek amat sih:D

Saturday, November 4, 2017

Subspesialisasi Dokter Anak


Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan “Apa sih bedanya dokter spesialis anak dan spesialis anak nutrisi?”. Tak hanya itu, sering juga saya ditanya “Harusnya anak saya ini datang ke dokter spesialis anak yang mana?”. Karena itulah, kali ini saya akan membahas mengenai subspesialisasi pada anak.

Jadi saat seseorang kuliah di Fakultas Kedokteran, ia akan lulus s1 dalam 4 tahun (bisa lebih, tidak bisa kurang) dengan gelar S.Ked  atau Sarjana Kedokteran. Sarjana Kedokteran tentu belum boleh berpraktik, karena masih harus menjalani pendidikan klinis selama minimal 2 tahun sebelum akhirnya mendapat gelar dokter. (Di kurikulum yang baru, durasi pendidikan sedikit diubah), Dokter yang dimaksud di sini adalah dokter umum.

Ia dapat berpraktik sebagai dokter umum. Di antara dokter umum ini, ada yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan spesialis. Pendidikan spesialis pun bermacam-macam, salah satunya adalah spesialis anak. Pendidikan untuk mendapat gelar spesialis anak ditempuh dalam waktu rata-rata 5 tahun. Begitu lulus, tentunya ia dapat berpraktik sebagai dokter spesialis anak umum.

Nah, di antara dokter spesialis anak umum ini, ada juga yang berkesempatan melanjutkan pendidikan subspesialis. Pendidikan subspesialis  ditempuh dalam waktu rerata 2-3 tahun. Jika melihat gelar (K) di belakang SpA, itu adalah singkatan dari Konsultan, dokter anak yang sudah menjalani pendidikan subspesialis.

Subspesialis dokter anak yang ada di Ikatan Dokter Anak Indonesia terbagi dalam 14 bidang:

1. Neonatologi/ Perinatologi
Dokter spesialis anak yang mendalami bidang ini ahli dalam urusan bayi baru lahir. Bayi risiko tinggi, resusitasi (bantu napas) bayi baru lahir, dll.

2. ERIA  (Emergensi dan Rawat Intensif Anak)
Sesuai dengan namanya, dokter spesialis anak ini menangani kasus-kasus pada anak yang membutuhkan perawatan intensif. Anak yang dirawat di PICU (Pediatric Intensive Care Unit) misalnya, akan berada di bawah penanganan mereka.

Monday, September 25, 2017

TB pada Anak



Saya sering kedatangan pasien anak dengan keluhan tidak mau makan sehingga berat badannya tak sesuai dengan seharusnya alias gizi kurang/buruk. Sebaliknya, ada pula yang datang dengan keluhan berat badan tak kunjung naik walaupun banyak makannya.
Dari semua pasien ini, percaya atau tidak, setelah diperiksa ternyata banyak yang menderita infeksi tuberculosis atau TB.  Saat saya menyampaikan diagnosis ini, hampir semua orangtua merasa tidak percaya karena merasa anaknya “sehat-sehat saja”. Padahal please note, anak yang gizi kurang (apalagi buruk) atau tidak mau makan BUKANLAH sesuatu yang normal, dan bukan indikasi anak yang “sehat-sehat” saja:D

Sumber: Google
Karena memang kasusnya sering sekali ditemukan, saya akan membahas Frequently Asked Question (FAQ) dari TB pada anak ini ya!

Thursday, September 21, 2017

Mencegah Stunting

Prevention is better than cure
Begitu kata ungkapan. Dalam hal stunting, ungkapan ini betul banget! Jika seorang anak sudah mengalami stunting, maka sifatnya irreversible atau tidak dapat diperbaiki. Padahal, seperti yang sudah dibahas di beberapa tulisan saya sebelumnya (baca juga: tulisan ini, tulisan ini dan ini ya!) , stunting bukan hanya sekadar membuat anak jadi lebih pendek dari potensinya kelak, tapi juga dapat mempengaruhi banyak hal.
Sumber: dari sini


Sumber: https://diningforwomen.org/foodforthought/gardens-for-health-international-2/
Banyak penelitian yang menunjukkan jika anak stunting berhubungan dengan rendahnya prestasi pendidikan, menurunnya lama pendidikan, dan rendahnya pendapatan saat anak tersebut dewasa dibandingkan dengan yang tidak stunting. Anak stunting memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Maka itu, angka stunting di suatu negara dapat dijadikan prediktor buruknya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) karena dapat menurunkan produktivitas suatu bangsa di masa yang akan datang.

Monday, September 11, 2017

BAB Bayi ASIX

Beberapa hari lalu saya diberikan pertanyaan oleh Mommies Daily mengenai BAB pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Saya share di sini yaa:D
Sumber: Google


Apakah benar, pola buang air besar pada bayi akan dipengaruhi oleh usia mereka? Mengapa?
Betul. Hal ini karena komposisi ASI selalu sesuai dengan tahap perkembangan sistem pencernaan bayi sehingga zat makanan mudah dicerna.

Bagaimana frekwensi  BAB bayi yang baru lahir hingga usianya 6 bulan, hingga mengenal MPASI?
Bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium, minimal 1x pada hari pertama. Kemudian bayi BAB minimal 2 di hari ke-dua, minimal 3x di hari ketiga. Setelah itu lebih dari 3x, sampai berusia satu bulan. “Lebih” di sini pun sangat variatif. Ada anak ASIX yang bisa BAB sampai 10x/hari di minggu pertama, ada yang hanya 4x, tapi yang jelas minimal 3x.
Di atas usia 4-6 minggu, bayi ASIX mulai akan jarang BAB-nya, bahkan ada yang sampai 10 hari tidak BAB. Itu pun normal banget.  Selama tidak ada keluhan lain, berat badan naik baik, tidak apa-apa.

Saturday, September 2, 2017

Lagi, Tentang MPASI

Kali ini, saya akan membahas beberapa "kebingungan" yang sering kali dilakukan orangtua berhubungan dengan pemberian MPASI anak. Saya sengaja mengangkat topik ini karena terus terang, sering sekali kebingungan dengan aturan MPASI yang berbeda (dan sedang ngetren) di luar sana (baca: social media). Bingung kenapa? Karena TIDAK JELAS sumbernya:)))) Lebih bingung lagi karena yang tidak jelas sumbernya ini justru yang paling banyak dishare dan diikuti orangtua se-Indonesia.

Perbedaan pendapat sih tak masalah ya menurut saya, karena jangankan orang awam, asosiasi dokter spesialis anak pun di seluruh dunia kadang mengeluarkan rekomendasi yang berbeda. Misalnya saja mengenai kapan pemberian MPASI yang tepat. WHO dan IDAI merekomendasikan tepat di usia 6 bulan, sedangkan ESPGHAN (European Society Pediatric Gastrohepatology and Nutrition) merekomendasikan di antara usia 17 minggu hingga 26 minggu. Lalu yang tepat yang mana? Ya bisa kedua-duanya selama ada bukti ilmiah yang beralasan. Ingat ya, selama ADA BUKTI ILMIAH-nya. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...