Friday, November 15, 2013

Dokter Oh Dokter

Masih ingat dengan postingan saya soal Emang Enak Jadi Dokter? dan Respond to -Emang Enak Jadi Dokter?

Baru saja postingan itu saya buat belum ada sebulan. Saya masih ingat komentar pedas maupun yang mengkritik saya, seperti:


Waktu itu saya jelaskan di postingan setelahnya bahwa saya engga pernah ber-negative thinking terhadap siapapun. Saya menulis berdasarkan hasil googling saya yang kebanyakan memang ber-negative thinking terhadap dokter. Semua dibilang malpraktik. Segala dibilang dokter mata duitan. Tidak ada hasil googling dengan keyword "Dokter di Indonesia" waktu itu yang memberitakan suatu hal baik tentang dokter. Seakan-akan kalau dokter berbuat baik pada sesama, menyembuhkan pasien ya memang kewajibannya, bukan prestasi yang layak masuk media. Sekali lagi, berarti bukan saya dong ya yang ber-negative thinking?;)

Beberapa hari belakangan, social media heboh dengan berita (lagi-lagi) malpraktik. Saya sendiri juga bekerja di bidang media, dan tahu benar bahwa issue di bidang kesehatan sangat menarik minat pembaca atau penonton. Belum tentu berita yang ada benar, bisa jadi memang judulnya yang diberi banyak bumbu supaya terlihat wah. Makanya pertama kali mendengar kasus ini, saya mencari info sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber untuk mengetahui benar masalah. Kali ini kejadiannya di Manado, tiga orang dokter residen ilmu kandungan divonis bersalah karena "malpraktik" terhadap seorang wanita yang meninggal setelah dioperasi. Pasien, berusia 25 tahun dan mengalami emboli air ketuban. Operasi dilaksanakan, kemudian bayinya selamat namun pasien tadi meninggal setelah operasi. Keluarga pasien mengaku tidak dijelaskan dulu kemungkinan pasien bisa meninggal sehingga menuntut dokter tadi dipenjara.

Emboli air ketuban adalah kondisi yang sangat berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Saat ini terjadi, memang operasi sesegera mungkin adalah tindakan yang sesuai prosedur. Sepersekian detik pun sangat berarti. Time saving is life saving. Bagaimana kalau dokter yang menerima pasien ini memutuskan menjelaskan panjang lebar kepada keluarga mengenai tindakan dan risiko yang bisa terjadi saat operasi? Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan keluarga akan bertanya detail, membutuhkan waktu untuk berdiskusi satu sama lain yang tidak mungkin memakan waktu sebentar. Penjelasan bisa diberikan, tapi nyawa tidak terselamatkan. Lagi-lagi dokter yang pasti kena bukan? Pasti akan tetap dianggap malpraktik.

Kalau begini ceritanya, sedikit-sedikit dituduh malpraktik, jangan salahkan dokter kalau ada kecelakaan di pinggir jalan lantas tidak mau menolong karena takut. Jangan-jangan nanti kalau korban kecelakaannya meninggal, kami dibilang malpraktik? Jangan salahkan kami kalau enggan menolong pasien gawat darurat yang diantar polisi atau orang lain bukan keluarga. Nanti kalau ada apa-apa, jangan-jangan kami yang dipenjara?

Hari ini, seorang senior saya, dr. Ario Jatmiko sp. B(K). Onk menulis buah pikirnya di harian Jawa Pos. Mirip seperti curahan hati saya.Betapa tidak dihargainya profesi dokter menimbulkan ide untuk demo seperti buruh. Seperti kata ungkapan, if someone does not appreciate your presence, then make them appreciate your absence. Bagaimaa kalau dokter se-Indonesia demo mogok kerja?


Ada satu hal yang membuat saya istighfar berkali-kali ketika membaca tulisan ini. Menurut dr. Ario, ibu menteri kesehatan kita berkata "Kalau mogok, kalian akan saya bunuh pelan-pelan." terhadap para dokter di forum Urun Rembug Dokter Indonesia 2013. Astaghfirullah, bu istighfar yuk! Rasanya omongan macam ini sangat tidak pantas bagi seseorang yang berpendidikan, apalagi seorang pejabat negara.

Coba baca alinea terakhir tulisan tsb. Saya kutipkan yaa..
"Saya mohon petunjuk Bapak Presiden, Ibu Menkes, Bapak Menkeu, atau siapa sajalah, bagaimana cara dokter (dengan istri dan dua anak) merencanakan masa depan keluarga dengan pendapatan Rp. 1.200.000,00 per bulan?"

Saya tidak mengerti politik. Saya tidak mengerti bagaimana maksud pihak-pihak tertentu menjanjikan biaya rumah sakit gratis, biaya pelayanan kesehatan ini-itu gratis untuk masyarakat saat kampanye, sementara dengan 240 juta rakyat budget kesehatan hanya 2.7% APBN. Positive thinking, mungkin saja petinggi-petinggi ini berharap masyarakat Indonesia selalu sehat semua, sehingga hanya sedikit yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Atau apakah hanya pencitraan?  Terserahlah nantinya bagaimana, yang penting janji dulu ke masyarakat supaya terpilih. Entahlah.

Saya tidak mengerti hukum. Saya engga tahu sama sekali bagaimana bisa seseorang yang berusaha menyelamatkan nyawa orang lain TANPA DIBAYAR, sesuai prosedur bisa divonis hukuman penjara hanya karena orang yang diselamatkan tadi meninggal dunia. Apakah tidak bisa menjadi Tuhan adalah suatu kesalahan yang harus dihukum? Entahlah.

Saya tidak mengerti ilmu Kriminologi. Apakah seseorang yang berusaha menolong kemudian orang yang ditolongnya meninggal karena penyakit sendiri adalah suatu tindakan kriminal? Apakah si penolong tadi bisa dikatakan sebagai penjahat? Entahlah.

Saya hanya mengerti satu hal, bahwa sebagai dokter kami harus menolong sesama yang membutuhkan semaksimal mungkin. Kami bukan dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Kami hanya bisa berikhtiar.  Masalah hidup dan mati adalah rahasia Yang Di Atas. Orang yang sehat saja bisa meninggal dalam tidur kan?

Percayalah juga kalau rejeki sudah diatur. Mungkin uang Rp. 1.200.000,00/bulan kelihatan engga masuk akal di jaman serba-mahal begini. Apalagi buat yang sudah berkeluarga dan punya anak. Hari gini, uang pangkal masuk sekolah saja bisa belasan juta! *curcol:p* Tapi kalau Allah berkehendak, pintu rejeki bisa terbuka dari segala penjuru.

Yakinlah, sebutir niat baik pun akan tercatat, Gusti Allah mboten sare. Ada timbangannya sendiri-sendiri kelak. Tak mengapa dihujat atau direndahkan, diledek sampai "dianiaya" di dunia, hanya Allah yang Maha Tahu. Tetap semangat yuk TS!:)

Salam TS!

145 comments:

Anonymous said...

1. Buat yg komen (Aldo A). Emg ga byk pasien yg sok tau,byk nuntut mcm2 tp skrg makin byk krn berita yg memojokkan dokter.
2. Saya stuju klo dokter mogok 3 hari aja pasti NKRI kolaps.dgn bgitu org mgkn baru sadar.
3. Mentrinya emg payah,dia dokter tp bkn klinisi yg tiap hari ngadepin pasien. Mrk cm dokter politik yg disetir politisi

dave said...

saya rasa hipocrates oath sudah harus di tinjau ulang. waktu zaman itu, dokter dianggap dewa... sekarang dokter dianggap sebagai penyedia jasa.
seharusnya apabila dianggap seperti itu, dokter memiliki hak untuk memilih mana pasien yg mau di tangani atau tidak. juga dapat menolak pasien yang berpotensi mendatangkan masalah dikemudian hari.... lama kelamaan defence medicine yang akan berjalan

Anonymous said...

Koq seorang Menteri Kesehatan ngomongnya geblek banget? Ini negara Demokrasi bu, bukan negara mafia yang bisa seenak jidatnya mau membunuh orang! Ibu itu seorang dokter, bersikaplah profesional dan santun dalam segala hal. Jangan seperti preman pasar gitu dong bu!

Anonymous said...

Tidak sepantasnya seorang pejabat negara seperti ibu MENKES bicara seolah2 sudah dirinya yang paling benar. Tempo hari juga kan ibu MENKES ngomong soal dokter yang tidak lulus kompetensi mendingan menjadi pejabat atau Bupati saja. Apakah bentuk kekecewaan ibu MENKES harus mengeluarkan statemen yang sangat tidak berbobot seperti itu?

Anonymous said...

Dibunuh pelan2..? Trus impor dokter asing..? Coba ibu menkes pengabdian dulu di pedalaman papua..barang 3 bulan aja..biar tau rasanya..apa yg keluar dari mulut anda mencerminkan kualitas anda bu menkes

Anonymous said...

Bu mentri YTH,
Bu mentri lupa ya biaya yang ibu keluarkan sampai ibu jadi seperti sekarang ini? Kami juga ingin lho seperti bu mentri..

Anonymous said...

Ijin share yaahh.. semangat para dokter! :)

Anonymous said...

yakin itu.bu menkes yg ngomong?... beneran?....... bener MENTRI KESEHATAN ?.......

thinkfirst said...

Smenjak sy belum mengambil sumpah dokter pun isu2 malpraktek sdh berkembang.. Buruh saja minta gaji 4jt..tp dokter disuruh "mengabdi" dg gaji seadanya..
Dulu saat masih kuliah S1, Salah seorang professor di kampus sy bicara, "bila kriminalisasi dokter trs berlanjut, mending qt keluar negeri sj dimana qt lebih dihormati"
Biar sj smua rakyat indonesia plus politisi koplaknya itu merasakan brp besar fee dokter dr luar..
Agree TS?

Anonymous said...

Suatu saat nanti di Indonesia:
1. tidak ada dokter yg mau operasi pasien yang sudah gawat dan berisiko biarpun pasien sangat butuh operasi,pasien pun mati krn dokter tidak mau operasi krn saking takut malpraktek
2. pasien yg dirujuk ke RS yg ada fasilitas lebih baik, sering ditulis media ditolak krn miskin... dampaknya pasien memaksa tidak mau pindah RS pdhl pasien butuh fasilitas lebih baik akhirnya pasien mati
3. Dokter indonesia pindah ke negara lain atau pindah profesi jadi pedagang, caleg, artis dll yg lebih menjanjikan uang untuk keluarga. Indonesia makin kekurangan dokter

Jujur di RS tempat sy bekerja poin 1, 2, dan 3 sedang terjadi

salam kenal TS... sy suka tulisannya....

Anonymous said...

Saya suka tulisan mbak, saya yakin tidak ada seorang dokter pun yang mengambil tindakan tanpa mempertimbangkan keselamatan pasien. Mereka pasti mempertimbangkan baik buruknya tindakan sebelum bertindak. Indonesia perlu berbenah masalah ini. Menjadi dokter itu tidak mudah, bahkan dari saat kuliah saja sudah susah. Kita harus punya jam kuliah lebih banyak daripada yang lain, bahkan untuk tidur 6 jam saja perhari tanpa galau dengan tugas, praktikum, ujian dan lainnya sudah suatu hadiah yang luar biasa.
Apalagi nanti saat jadi dokter?
Hargai kami, Insya Allah kami ada untuk membantu semaksimal kami, untuk kelanjutannya hanya Allah yang tahu...., Kami hanya manusia bukan Tuhan....

Anonymous said...

untuk bisa jadi dokter udahbterlalu banyak yang kita korbankan. waktu, tenaga , biaya. dan kalau menkesnya berbicara seenaknya " mau membunuh para dokter " ya dri pada susah ya mending dia aja yang dibunuh duluan. katanya banyak pengelaman tapi kayaknya hanya pengalaman jadi pejabat di balik meja. apakah masih pntas disebut teman sejawat ?

Anonymous said...

Saya setuju Ts Meta. Sebagai tenaga medis, kita berusaha semaksimal mungkin mengandalkan segala kemampuan yang TERBAIK yang kita punya. Kita menjalankan profesi berdasarkan sumpah yang kita ucapkan. Sayangnya, bagi sebagian orang... PROFESI DOKTER selalu menjadi KAMBING HITAM dan SASARAN yang EMPUK untuk diintimidasi. Padahal, NIAT MENOLONG tapi jadinya KESALAHAN TIDAK TERAMPUNI. Setiap TINDAKAN MEDIS ada resikonya, tapi saat kita sudah bertindak sesuai prosedur. Bukankah, selanjutnya adalah HAK TUHAN? Sehebat apapun kita menjelaskan, pada dasarnya BANGSA INI tidak bisa menghargai jasa tenaga medis. Bagi orang awam, ketika ada kematian atau kesalahan ITU PASTI SALAH DOKTERNYA. Itulah resiko kita sebagai dokter. Semoga kedepannya, semua dokter indonesia bisa mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin dibangsa yang KATANYA ADIL dan MAKMUR ini. Salam kenal TS.

Anonymous said...

komentar bu menkes kalau tidak lulus kompetensi jadi pejabat atau bupati saja? mungkin sebagian besar pejabat yang dokter kalau diuji kompetensi tidak lulus... makanya kebijakan dan komentarnya seperti ini.. kompetensi mereka mewakili tenaga kesehatan dan membuat kebijakan di bidang kesehatan memang diragukan...
sebaiknya dokter lebih bersikap pasif dulu munngkin ya.. sampai keluar undang-undang yang melindungi dokter... pasien gawat tanpa acc pasien atau keluarga untuk tindakan... ditunda saja dahulu.. kelihatannya mereka lebih menerima kalau pasien meninggal sementara dokter menunggu persetujuan keluarga untuk tindakan drpd meninggal di meja operasi...

Anonymous said...

Sedikit cerita pengalaman pribadi:
3 thn yang lalu, saya ditelpon (RS di jogja) karena ada pasien rujukan dari RSUD Muntilan.

Pasien 20 thn, hamil 8 bulan, kembar. Sang ibu ini dalam keadaan koma, selama diperjalanan muntilan jogja kejang lebih dari 6x.
Tekanan darah tercatat tertinggi 220/160. Pasien sudah terpasang alat bantu nafas (ET).

Ketika saya periksa, kedua bayi masih baik. Akhirnya kita putuskan utk oprasi, dengan terpakasa untuk menyelamatkan bayinya krn menyelamatkan ibunya adalah mustahil.
Keluarga setuju. Saya diskusi ke dr.anestesi, dia bilang ya mau nggak mau ya harus mau. Okelah akhirnya operasi.
3,5 jam oprasi dan kalau nggak salah transfusi total 12 kantong darah.

Yang terjadi akhirnya: alhamdulillah setelah dirawat di ICU seminggu lebih ibunya sehat tapi kedua bayinya yang meninggal.

Artinya apa, semua itu Allah yang menentukan. Yang sebelumnya saya pikir bayi bisa selamat dan ibunya yang meninggal, tapi dibalik sama Allah. .. Itu tadi
...Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah. Dokter hanya bisa berusaha, tapi Tuhan-lah yang menentukan.

Satu lagi, ternyata pasien ini adalah jamkesmas. Dan biaya habis 16 juta yang nanggung pemerintah 1,2 juta dan sisanya rumah sakit.

Tapi ini tdk pernah diekspos, mungkin memang hal yang sepele yang tdk menarik buat konsumsi berita di tv, inet, atau blog-blog.

dan untuk TS yang terkena musibah, pesen saya "jika jadi dokter masihlah dianggap kurang, cobalah jadi Tuhan..." (mungkin itu yang dimaui oleh pasien dan LSM)

Anonymous said...

Benarkah itu omongan Bu Menkes? apabila bnr, maka sangat disayangkan sekali perkataan seperti itu keluar dari seorang Menteri yang katanya seorang dokter juga. Jika kriminalisasi dan diskriminasi terhadap dokter trs berlanjut, maka jangan heran jika dikemudian hari banyak dokter Indonesia yang hijrah ke luar indonesia dan tidak akan ada yang mau lagi menjadi dokter. Dokter asing pun tidak ada yang mau praktek di Indonesia.

unnamed said...

Komen bagus bu menteri kesehatan, kami akan slalu menunggu komen2 BERKUALITAS dari anda...
Nb: TS sekalian salam kenal, tetap kompak untuk memperjuangkan hak2 kita!

Anonymous said...

Seorang doktr dituntut hrs pasien plang dengn sembuh n tdk blh mnggal, ap bs ts mnjmin 1 nyawa it hak Allah, trus menkes sm skli g' ad pedulinya sesm TS, malah tmbh memojokkn n tragisnya bunuh peln2, smg kelak menkes bs sadar dgn smua ini.

bayu said...

Nice article. Termasuk hubungannya dengan kriminalisasi dokter ini. Ijin share mbak.. :)

Anonymous said...

Tetap semangat untuk para dokter Indonesia, jasamu sangat berharga bagi kami para pasien... kesembuhan seutuhnya dari Allah.. Semoga Rizki berkah nan Luas berlimpah untuk parw dokter di Indonesia... Aamiin

acin salim said...

ijin share ya.....

Anonymous said...

Ijin share ya....

Anonymous said...

jujur aja, kalo saya sih sekarang udah mulai menganut defensive medicine..

Anonymous said...

astagfirullah bu menkes ckckck salam kenal mbak....ijin share ya.....nice artikel

Ann said...

Mb Meta, makasih postingnya. Walo sy bukan dokter tp teman2 sy byj yg dokter.
Sbnernya baik buruknya seseorg bukan dr profesinya tp dr masing2nya.
Contohnya sy yg tgl dkota kecil, dokternya terbatas n tarifnya ampun2an. Wkt anak sy sakit dberi obat dan sy yg memang sgt hati2 u/ anak menghubungi teman dr yg tgl dJkt. Sy critakan kondisi anak sy, mulai bb smpai suhu badan kondisi lidah dll. Dan tmn sy mnyimpulkan dosis yg dibwrikan u/ anak sy tlalu tinggi. Pantas yg berobat lgsg sembuh.
Tp dr pd menjudge, sy lbh memilih bsikap bijak dg mencari second opinion. Dan akhrnya kembali pd qta sbg konsumen. Memilih yg mana. Karna sy pribadi jujur tdk suka profesi sy digeneralisir sbg penghabis anggaran negara (PNS) karna sy sbg pns pergi jam 6pagi sblm jam 8 sdh dkantor plg jam 8pm jam 10pm baru drumah.

Anonymous said...

Saya mau berkomentar sedikit, tentang tulisan TS. Bagi Anda yg tidak tahu bagaimana rasanya berada di pihak dokter, mohon dihargai.

Memang banyak koq pasien yg berterima kasih pada dokter, tapi banyak juga pasien yg menuntut ini-itu, memaki, dll. Banyak pasien yang mengganggap bahwa "dokter bukan manusia", pernahkah Anda berpikir bagaimana rasanya dokter yang punya kehidupan pribadi dan keluarga ditanya oleh pasiennya saat hari libur nasional: "Koq dokter libur juga?" Apakah dokter bukan manusia juga? Apakah dokter tidak berhak menuntut gaji yang sesuai dengan segala resiko yang dikerjakannya? Tuhan memang tidak pernah tidur, tapi kenyataannya sekarang hal seperti itulah yg terjadi.


Mungkin saya setuju dengan ide jika para dokter mogok di seluruh Indonesia atau lebih baik pindah keluar negri sekalian, bisakah Anda rasakan bagaimana rasanya tidak ada kami? Bisakah Anda lebih menghargai keberadaan kami?
Kami tidak pernah minta tanda terima kasih atau apapun, tapi meminta hak yang pantas kami dapatkan disini.

Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Hanya saja jauh sekali perbedaannya dokter yang bekerja di kantor menghadapi dokumen/rapat dengan dokter yang bekerja di puskesmas/RS (sebagai klinisi) mengahadapi pasien, dari gaji sudah pasti berbeda. Dari risiko pekerjaan pun jauh berbeda.

Pikirkanlah orang lain, hargailah orang lain.

Anonymous said...

Saya sebagai istri seorang dokter residen obgyn, dan saat ini saya sedang mengandung anak kedua saya dengan usia kehamilan 13 minggu. Sebagai seorang istri saya sangat terpukul mendengar pemberitaan "malpraktik" ini karena saya melihat sendiri bagaimana pengorbanan suami saya meninggalkan istri & anaknya hanya untuk memperjuangkan kehidupan orang lain. Walaupun saat ini masih menempuh pendidikan, tapi suami saya sangat bertanggung jawab penuh atas keselamatan pasien. Jangankan waktu untuk keluarga, untuk tidur saja hampir tidak ada. Tolong sebagai sesama manusia kita berfikir dari dua sisi jangan hanya diambil dr sisi negatifnya. Dokter bukanlah Allah SWT. Dan saya yakin semua dokter pasti memiliki rasa tanggung jawab yang begitu besar untuk keselamatan pasiennya karena dokter tidak akan melupakan pengorbanannya yang begitu berat untuk menempuh jalur pendidikan sebagai dokter. Semoga masalah ini cepat diperoleh jalan keluarnya, Amin Ya Rabb ..

Anonymous said...

Salam kenal Mba Meta...saya tertarik untuk sedikit memberikan komentar dan masukan untuk terkait tulisan Anda. Saya bukan seorang dokter, tetapi kebetulan bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan cukup sering terlibat dan bekerja sama dengan para dokter. Jujur, kesan saya terhadap sebagian besar dokter selama proses bekerja sama itu bukan kesan yang bisa saya katakan sebagai kesan yang baik. Ciri khas mereka adalah merasa diri sebagai orang yang harus dihormati, matre dan ingin dilayani, dan bahkan yang lebih parahnya, mereka seringkali terlihat bertengkar dengan teman seprofesi (sesama dokter) hanya karena gengsi atau ingin menjadi yang lebih dihormati.

Tapi, saya sadar bahwa tidak semua dokter seperti itu. Saya menganggap tulisan Mba Meta sebagai salah satu usaha "pembuka mata" bagi masyarakat yang selama ini memang sudah memberikan cap negatif kepada dokter (di Indonesia khususnya) dan saya menghargai hal tersebut. Namun, saya rasa seperti setiap hal di dunia ini, pasti ada pro dan kontra (bahkan di hal yang paling baik sekalipun, pasti ada saja orang yang bisa mengeluarkan komentar/pikiran negatif) sehingga saya rasa sah-sah saja jika ada orang yang memberikan tanggapan yang tidak sejalan dengan pikiran Mba, dan bisa saja orang-orang yang Mba bilang memberikan komentar pedas atau kritikan itu memang punya pengalaman pribadi yang kurang menyenangkan dengan profesi dokter sehingga mereka memberikan sudut pandang lain mengenai profesi dokter tersebut.

Mengenai "semangat" mogok yang saya baca dari kebanyakan komentar terhadap tulisan ini, saya hanya bisa bilang:
1. Mogok selama 3 hari belum tentu memberikan pemecahan masalah untuk jangka waktu yang panjang
2. Bukankah para dokter yang menuntut ilmu sebegitu lama (dengan susah payah pula) seharusnya bisa memilih jalan yang lebih bijaksana daripada para buruh?
3. Ada 2 kalimat bagus yang mungkin lebih bermanfaat (jika direnungkan dan dilakukan) daripada terus menerus saling menyalahkan atau membela diri sendiri: "tidak peduli orang lain berbuat benar atau salah, saya tetap harus berbuat benar" dan "walaupun diri sendiri benar, tetap harus bersikap raman"

Happy reading :)

Anonymous said...

Kalau ada yg suka mendengar " bekerja dengan cucuran keringat, darah dan air mata" seperti-nya memang sesuai dengan profesi dokter. Saya seorang dokter yg kebetulan bekerja di perusahaan, tapi 2-3 tahun yg lalu saya bekerja di sebuah klinik swasta yg menjalin kerjasama dengan jamsostek dan saya hanya mendapat 1000 rupiah/pasien (lebih murah dari tarif parkir 2000 rupiah/kendaraan). Itu yg membuat saya bingung "pantaskah dokter yg kuliah + coass selama 6 tahun mendapat penghasilan seperti itu?" Tapi yakinlah wahai teman-teman seprofesi bahwa pendidikan itu penting, saran saya belajarlah dengan giat, raih prestasi setinggi mungkin, pelajari bahasa inggris semantap mungkin, begitu kita lulus, cari peluang kerja di luar negeri. Disana pemerintah lebih menghargai tenaga medis, pasien lebih menghargai profesi dokter, dan MENTERI KESEHATAN adalah orang yg selalu melindungi teman-teman seprofesi, bukan malah menghancurkan kawan sendiri. Mungkin "dia" lupa sumpah hipocrates "teman sejawat seperti keluarga kandung" atau jangan-jangan kepada keluarga kandung pun "dia" seperti itu? Saya setuju seluruh dokter indonesia mogok nasional, kita tidak perlu blokir jalan, bikin huru-hara di jalan tol, bakar-bakar ban, ngerusak kendaraan atau ngerusak pagar, cukup seluruh dokter indonesia tinggal di rumah dan tidak bekerja selama 3 hari. Untuk yg bercoment buruk tentang profesi dokter, silahkan coba dulu tahapan pendidikan dokter selama 6 tahun, lalu coba bekerja di klinik atau rs.

Anonymous said...

Sy direktur sebuah klinik rawat inap. Kalau dulu yg menderita rsud saja krn adanya jamkesmas dan jampersal, skrg mari kita menderita bersama sama.. Askes saja turun klaim 6 bulan sekali. Apalagi ini? Bpjs? Kalau sistem yg ada msh amburadul mbok jgn nambah2in..diperbaiki dulu yg sudah ada

Anonymous said...

Andaikan ibu MenKes mau mencoba berada di sisi kami,dokter di perifer,paling ujung indonesia timur...yg stiap hari berkutat dgn pasien2 yg mungkin bau badannya saja buat Ibu enggan bernapas,belum resiko penularan HIV tertinggi,standby 24 jam, dan itu adalah daerah "merah" alias daerah konflik.... Hanya 3 hari,Bu kami minta ibu bersama kami di sini....Mandampingi kami memberi pelayanan pd pasien2 yg dibayar melalui Jamkesmas hanya Rp 6000/pasien. Sbnrnya tanpa mengancam-pun kami dan keluarga kami sdh dibunuh pelan2 Bu...

Anonymous said...

Saya setuju dengan host masalah dilema residen manado. Pada kasus emboli air ketuban, bila air ketuban masuk ke paru berapa lama pasien dpt bertahan ? Saya rasa tidak lama, cuma selama anda dapat menahan nafas, makanya harus secepatnya di ambil tindakan intervensi. Sedangkan bila harus nunggu persetujuan keluarga pasien ( dmn seringkali waktu menunggu persetujuan keluarga harus nunggu si A, si B, dan kadang si A, si B masih kerja atau apa ) mau brp lama pasien nunggu nahan nafas ?

Anonymous said...

Salam kenal mbak meta..
Saya sendiri seorang resident pediatri di salah satu RS di sumatera utara. Saya bnr bnr merasa sedih,kesal dan jelas merasa terzolimi dengan kejadian dan opini publik terhadap profesi dokter di negeri ini. Seharusnya jg tidak pantas ucapan seperti itu diucapkan oleh seorang Menkes yg jelas jelas merupakan seorang dokter.
Perjuangan kita menjadi seorang dokter jg membutuhkan biaya dan tenaga dan pengorbanan yg tidak sedikit.. bahkan utk sekolah sarjana kedokteran saja bisa menghabiskan dana sebesar hrg sebuah rumah. Profesi dokter itu memaksa kita menghabiskan sebagian besar wkt di rs.. menghadapi pasien.. meninggalkan keluarga di rumah. Anak yg masih bayi tidak dapat diurus..mengurus suami terbengkalai bahkan mengurus diri sendiri kami tidak sempat. Bahkan para dokter atau dokter muda itu tidak pulang dan menginap di rs dengan hitungan bisa diatas 36 jam.. demi apa? Demi kepentingan pasien.. bukan kepentingan diri kami. Seharusnya sedikit penghargaan yg dberi negara kepada dokter2nya adalah asuransi kesehatan, krn para tenaga medis ini terpapar dengan berbagai macam penyakit dan kami sendiri bahkan tidak sempat menjalankan pola hidup sehat, salah satunya dengan makan teratur. Setidaknya ucapan "terima kasih" dari pasien atau keluarga pasien saja sudah membuat hati dan raga yg letih bs menjadi segar kembali.
Sudah saatnya para dokter di Indonesia bangkit dan kompak menghadapi segala ujian dan cobaan dan dukungan penuh kepada sesama TS.

Tini Lansia said...

Disaat kita tidak mengerti mengapa semua harus terjadi, marilah kita belajar untuk tetap percaya pada kebaikan hati ALLAH. Karena DIa adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan waktu kesesakan.

Anonymous said...

Sudah jangan banyak bicara. Mari qt demo ramai2. Tidak usah susah2, cukup tinggal dirumah selama, jangan ada yang buka praktek. Yang buka praktek berarti bukan teman sejawat dan berarti tidak menghargai "saudara sekandung". Manado, gorontalo, jakarta dan samarinda sudah setuju mogok. Mogok akan dilakukan 3 hari terhitung Senin 18 nopember 2013 sampai rabu 20 nopember 2013. Mohon dukungan TS se-indonesia.

Anonymous said...

POGI daerah lain kok belum ada seruannya ya? ayuuk mogok saja sehari saja...

Anonymous said...

Selama ini kami terlalu banyak diam dan hanya sebagai pengamat sambil tetap menjalankan pengabdian kami untuk tetap teguh melayani pasien-pasien kami. Tetapi sekarang saatnya kami harus mengingat janji kami yang akan memperlakukan teman sejawat kami sebagai saudara kandung, bagaimana jika saudara kandung anda diperlakukan spt TS kami?? Apa karena selama ini kami diam maka kami bisa di perlakukan rendah?? Ini saatnya kami bersatu menunjukkan kepada anda bahwa kami punya suara untuk didengar, lebih baik bertindak melakukan sesuatu daripada hanya terus-terusan menjadi pengamat yang pura-pura tuli dengan suara hati yang menjerit melihat "saudara kandung" kami mendapat perlakuan spt itu. Kami bukan penjahat yang lantas mendapat hukuman pidana.

Anonymous said...

1. Dari dulu kan sudah dibunuh pelan-pelan. Saya masih ingat pertama kali PTT di sebuah kabupaten baru, gaji saya yang PTT tempat sangat terpencil yang cuma 1.720.000 tersebut telat dibayar selama 9 bulan,terpaksa ngutang sama orang tua dan perawat di puskesmas cuma buat makan. Insentif dari daerah juga tidak ada. Praktek juga tidak bisa karena mayoritas masyarakat miskin, dan saya tidak mau dagang obat karena yang saya berikan adalah jasa.
Coba menkes mikir. Coba kalo buruh belum dibayar 9 bulan, mereka demo kemudian semua maklum.
2. Kasus emboli air ketuban adalah komplikasi yang tidak dapat diduga dan tidak diinginkan bersama. Kalau sudah melakukan tindakan sesuai dengan SOP, sebenarnya tidak bersalah.
3. Terkadang SOP bukannya tidak diikuti, tapi tidak ada fasilitas/alat untuk menjalankan SOP tersebut, terutama di rumah sakit pemerintah.
4. Pilot ada waktu pembatasan jam terbang agar meminimalisir terjadinya human error. Dokter? Tidak ada.
5. Terlepas dari salah/benar kadang mogok merupakan satu-satunya cara untuk membuat mata penguasa jadi melek. Dalam hal ini, saya bukan menganjurkan untuk mogok.

Anonymous said...

Setuju banget nih, drpada kita yg dibunuh mending bunuh dia duluan. Kalo ngga bisa bunuh fisiknya bunuh aja jabatannya

Anonymous said...

Hanya ingin menulis unek2 jawaban dari pertanyaan salah satu komentar yg ada. Mohon dibacanya dgn hati damai ya, sy menjawabnya sm skali bukan nada marah2 kok, hanya apa yg kebetulan sy pikirkan :)
1. Apakah mogok 3 hari ini memecahkan mslh? Belum tentu. Tapi ini resiko yg patut dicoba. Kalo masih ditanyakan bgmana nasib para pasien nanti, sejauh yg saya tahu, para dokter ini tdk akan tutup mata jk ada hal darurat di depannya. Rumah sakit setahu sy jg tdk menyatakan tutup kok :)
2. Seharusnya memilih jalan yg lebih bijaksana drpd buruh. Begitu mau. Hati para dokter ini begitu miris saat terpaksa memilih sperti ini. Andaikan ada jalan lain. Tp selama ini bgitu byk kasus dmn para dokter ini sudah tutup mata sambil terus bekerja, pdhl jelas2 kasus2 tsb melukai teman sejawat, saudara kandung sendiri.
Di saat sperti ini, saat berjuang melalui perundingan2, mentri kesehatan yg seharusnya sdikit membela malah mengancam sperti ini. Jadi, siapa lg yg mau membela? Jalan apalagi yg harus ditempuh? Sperti headline tulisan dr. Ario tsb, demo itu 'pil pahit' para dokter. Jika masih ada jalan lain, tolong dibantu..
3. "Tdk peduli org lain salah atau benar, yg penting sy ttp berbuat benar". Setuju sekali utk bahan perenungan semua! Tp ada suatu hal kecil lain mengglitik hati, saat kebenaran diputarbalikkan, apakah salah menyatakan apa yg benar?

Maaf yaa utk tulisan yg sy komentari, sy amat senang ada bahan perenungan dan pandangan pro-kontra sperti ini utk para dokter. Benar2 menjadi masukan dan renungan. :)

Semangat TS!

Anonymous said...

Ngomong menkes sekelas WTS, bener2 asal ngomong, ga dipikir dan jorok banget!! Kalo memang kita kompak, ayook kita mogok rame2 dan demo ke tempatnya menkes atau presiden, kalo ga merayap2 minta ampun anjing2 pengacara, kejaksaan dan seluruh manusia kelas binatang di negeri ini karena kita ga kerja ( maaf!!ga ada pembatasan kata2, karena kata2 dari moncongnya menkes juga ga ada pembatasan dan tanpa otak!!! )mudah2an laknat Tuhan ga kena ke kamu wahai menkes dan manusia2 kelas binatang yang membuat, membiarkan, menjerumuskan kejadian ini...kami adalah profesi termulia dan teratas di bumui ini, kami dapatkan dengan curahan air mata dan tetes darah buat meraihnya, hati2 wahai kalian orang2 kelas binatang tanpa otak, yakinlah: KARMA itu ada, kalian menginjak2 kami, dalam waktu dekat kalianlah yang akan lebih diinjak2 lagi,hati2 kalian...

Anonymous said...

Klarifikasi untuk TS, bahwa hak dokter untuk mau praktek atau tidak praktek,untuk di Manado, dokter SpOG menyatakan secara pribadi masing2 sepakat tidak praktek selama 3 hari terhitung mulai senin. Namun, layanan emergency tetap buka, hanya poliklinik dan operasi elektif yg tidak ada. Sebagai tambahan info, rencana hari Senin 18 Nov akan ada aksi keprihatinan, akan ber"demo" ke DPRD dan Gubernur. Aksi ini sebagai trigger untuk aksi yg lebih besar. Tujuannya untuk tercapainya perlindungan hukum pada dokter dalam melakukan tindakan medis yang telah sesuai prosedur.

Anonymous said...

Menkes kita itu salah profesi... Di artikel lain di Kompasiana disebutkan bahwa menkes juga akan MENEMBAK pelan2 org2 yg mau berobat ke luar negeri. Harusnya menkes kita itu profesinya pemburu kanibal di tengah hutan... Ckckck... Tidak menyangka kata2 itu muncul dari seorang menteri. Bu Menkes, tolong kalo ga bisa ngomong dgn baik, balik lagi aja ke play group spy bs disekolahin lagi mulutnya...

Anonymous said...

if someone does not appreciate your presence, then make them appreciate your absence

Sesuatu yg langka lebih dihargai

Anonymous said...

Diantara semua komentar post ini, untuk saya komentar yg diatas ini lebih berbobot.. Lebih mendinginkan suasana..

Dan mari kita lihat, siapa yg lebih bisa menggunakan hati daripada emosi..

Belajar dong dr medrep ini..

Anonymous said...

Statement sejawat menkes, kalau mogok dia mau bunuh dokter perlahan lahan. Walau pun saya nggak mendengar secara langsung tapi saya tidak kaget kalau sejawat menkes ini akan bicara begitu. Sejawat yg satu ini memang kapabilitas nya hanya sampai itu saja...... sangat dangkal. Misalnya dalam hal BPJS, sebagai dokter bedah saya diberitahu bahwa dalam layanan BPJS khususnya pada beberapa prosedur bedah, standar prosedur yg direkomendasi untuk pasien BPJS kembali ke prosedur konvensional antara lain pada hernia tidak boleh menggunakan mesh graft, pada kholesistektomi tidak menggunakan laproskopi. Apalagi prosedur operasi lain yg minimal invasif. Jadi standart layanan BPJS untuk bidang pembedahan kembali menggunakan tehnik konvensional yang secara evidence base memiliki angka morbiditas bahkan mortalitas lebih tinggj. Sayangnya pihak IDI tidak melakukan respon mengenai standart layanan dalam program BPJS inj. Mereka lupa bahwa tabun 2015 dokter asing akan masuk dengan kemampuan yg belum tentu lebih baik dari kemampuan dokter lulusan di Indonesia. Waduh sedih banget pasien BPJS nanti mereka nggak sadar kalau hanya mendapat layanan yg memiki resiko morbiditas dan mortalitas lebih tinggi. Kesimpulannya kalau dokter saja akan di"bunuh" apalagi pasien. Coba deh sejawat Menkes tolong sejawat memeriksakan diri ke bagian Geriatri dulu.

Anonymous said...

Hei bung yg bekerja sbg rep obat (farmasi)..wajar dokter sombong sama lu smua,krn sblm dokter itu mjd besar,elu2 smua jg ga pduli sm dokter itu! Setelah dy besar,baru lu berlomba menjilat!!
Udah lah,ga usah sok bijak lu..

Anonymous said...

Dear mba meta

Silahkan, dilihat.. Betapa hebatnya rekan anda yg satu ini..

Anonymous said...

jangankan dokter mbak, sy programmer juga kek gitu, keknya sih musti pinter2 aja memposisikan diri supaya gaji bisa gede....

Muchtar Prawira said...

Mungkin komen bu mentri tersebut menggambarkan bagaimana kondisi penguasa Indonesia terhadap orang berpendidikan yang "mengancam".

Anonymous said...

pada dasarnya ngomongan ibu Menkes kita ini sama sekali ga berbobot dan tidak mencerminkan kalau dia seorang dokter. sudah menuding dokter2 tidak profesional lah, sampe mau membunuh dokter secara perlahan lahan hanya karena demo. emang kalo ga berdemo ibu Menkes mau mendengar jeritan dokter2 yg di daerah terpencil??? Think again kata iklan!

Risma Banjarnahor said...

Sungguh malulah seorang menkes kog ngomongnya asalan begitu

Anonymous said...

sedari belum masuk fakultas kedokteran saya lebih suka dokter dianggap sebagai "konsultan" dan "praktisi" daripada "makhluk amal". Ada konsultan pajak, konsultan hukum, dan dokter adalah konsultan kesehatan yang berhak mendapat fee pantas sesuai dengan yang dia lakukan. Kesehatan bukanlah "hak". Kesehatan adalah reward bagi mereka yang berjuang untuk mempertahankan atau meraihnya. Apakah mereka yang merokok sejak SD bisa dibilang berhak punya paru2 yang sehat semasa tua? Karena itu janganlah jadikan "kemanusiaan" dan "keihklasan" sebagai alasan untuk menginjak-injak dokter, karena reward berupa kesehatan itu memang tidak bisa didapat dengan cuma-cuma.

Anonymous said...

to whom it may concern
sabar sabar sabar semua profesi ada resikonya mbak, mas, pak, bu bukankah setelah ada kejadian ini ( baca ; musibah ) maka kondisi semua dokter di indonesia kerjanya lebih tambah maksimal dan profesional dan di beri kedudukan yang lebih tinggi lagi oleh Dzat yang Maha Kuasa
Karena dimana mana di negri kita ini selalu ada oknum yang selalu memperkeruh suasana so apapun profesi kita sebagai buruh, kantoran, wiraswasta, profesional atau dokter sekalaian pun do what you like and like what you do ( baca bekerja dengan hati ) so selama kita menjalankan dengan iklas pasti akan mendapat imbalan yang setimpal nantinya Gusti Allah mboten Sare dan selalu bersama orang2 yang sabar

Anonymous said...

Slm knl smua, sy bkn seorang dokter dan hmpir tdk mmiliki teman akrab seorang dokter. adanya cm di fb tp gk mutual friend.
persoalannya akumulutif n ujung2nya yg salah adalah pemerintah, penyelenggara negeri ini.
1. knp hrs ada pasien miskin? ya krn sistem ekonomi liberal udh bercokol kuat di negri kita, yg kaya makin kaya, yg miskin makin miskin, trmsuk miskin ilmu yg mbuat org2 miskin tsb brpkir dokter adalah Tuhan, kami "kaum" yg wajib dibantu negara (brdasarkan UUD) lwat jamkesmas.
2. knp hrs ada daerah terpencil? makanya pmbangunan itu jgn cm ke jawa saja, lihat tuh 45% APBN 2013 aloksinya ke jawa timur???
3. elit negeri ini sangat sering mnggunakan politik pengalihan isu. untuk mengalihkan isu-isu besar di negara kita, mreka rela berskenario/berkonspirasi utk mengalihkan perhatian publik. contoh : org lbh suka ikuti berita Rafi Ahmad yg tertangkap krn narkoba justru ktika di luar rmh trjdi banjir besar sepanjang sejarah kota jakarta. mksd sy gini, jgn2 memang pemerintah pengen koq dokter-dokter mogok biar publik lupa soal hambalang, century, sapi impor, skandal MK dll??? buktinya sdh ada pernyataan resmi IDI blom soal ucapan menkes? hati2 jgn terjebak bapak ibu dokter yg terhormat.

Helda said...

Aamiin

Anonymous said...

Sama kita ts, drpd ada masalah di kemudian hari.

Anonymous said...

Anggapan pelayanan kesehatan di luar negeri lebih baik? Atau dokter luar negeri lebih superior dan lebih empati thdp pasien?..sy ceritakan pengalaman pribadi, saya residen bedah, suatu hari di RS. Pusat Jantung Harapan kita, saya punya pasien laki 35 tahun menderita endocarditis dengan vegetasi di salah satu daun katup jantungnya, pasien berasal dari daerah kalimantan, ASKES, dengan alasan dekat ke negara tetangga dan ingin dapat pelayanan terbaik beliau berobat disana, dirawat 5 hari dan dinyatakan harus operasi dengan biaya hampir 200 juta, akhirnya pasien memilih utk kembali ke indonesia dan di rujuk ke RS harapan Kita, yg bikin saya miris adalah: saat pulang pasien tersebut diharuskan utk beli antibiotik sebanyak 30 vial, menurut dokter disana ini obat tidak ada di indonesia dan pasien harus mengeluarkan hampir 25 juta rupiah, kenapa??? Hanya karena uang!! Taukah teman sejawat obat apa itu? Ceftriaxon yang byk berserakan di indonesia dan masuk DPHO askes...kasian kan pasien ini dikibuli...mungkin masih banyak cerita seperti ini ... Bgmn? Apakah masih menganggap dokter indonesia lebih tidak bermoral??!!

ang said...

ini nih... yang satu nuntut kesempurnaan 'jasa', yang yang lain merasa sudah sekuat tenaga tapi tetap terpojok.
dimana2 sama kok, kalo ga puas ada yg diam aja ada yg nyerocos puedes.
kalo kebetulan kena yg pedes gitu, jangan terus mewek. kalo terus2an disemprot, coba introspeksi. bagaimanapun juga dokter itu profesi krusial, dan seperti yang anda tau sendiri bahwa pendidikan dokter itu pengorbanan besar sekali. sewajarnya bila masyarakat berekspektasi tinggi terhadap para dokter.
saya tidak bermaksud untuk membela salah satu pihak, namun untuk saya sendiri, ketika ada seorang yang saya antar ke RS untuk mendapatkan perawatan secepatnya, pikiran saya akan terfokus pada kecepatan pelayanan dari RS dan tim dokter-perawat. kalau akhirnya saya merasa tidak puas lantas marah2 pada tim dokter, mohon maaf. kalau sudah bingung, orang umum biasanya tidak dapat memikirkan hal lain selain yang dibingungkan itu. maunya 'harus sembuh, harus beres'
jadi ya, baik untuk dokter dan masyarakat, mohon saling memaklumi...

dan untuk sesuatu tentang bu MENKES, sudahlah saudara2 jangan terlalu merisaukan itu. beliau hanya menggambarkan betapa pentingnya dokter, jika benar terjadi dokter mogok akan sangat mengguncang dunia. karena itu dokter dilarang keras mogok kerja...

salam =)

Anonymous said...

Di depan mata sy yg bekerja di RS para pasien jamkesmas,jampersal atau jam jam dan kes kes yg lainnya tuh gak bener2 miskin semuanya,hp punya,gelang emasnya d tangan malah lebih banyak dr pny sy d rumah,malah ada yg d antar pake mobil pribadi,tp ngaku miskin..dokternya ngelus dada sambil tutup mata..ya tetap dikerjakan tuh..gila kan yg menggagas jam jam an dan kes kes an itu..lebih gila dan gak tau diri lagi yg pake jam jam an dan kes kes an itu untuk berobat pdhl mampu..

Klo rakyat kecil pny wakil2 rakyat bahkan LSM yg mau orasi dan mbela mati2an saat katanya HAM nya dlanggar..lha kami para dokter,prawat,bidan atau tenaga medis lainnya ini klo HAM nya d langgar mau ngadu kemana??manusia juga kami ini!!!coba liat mana ada LSM yg ngajuin diri mbela kami kek,anggota DPR gak ada yg komen memperjuangkan hak km juga,tivi juga gak ada tuh yg nayangin (gak menjual kaleeee kasusnya), coba klo kasus pasien jamkes gak cepet d operasi ato hrs nunggu lama d tangani whaaaeeelllaaaahhh yg antre nayangkan beritanya sdh bderet..dari berita tgh mlm sampe besoknya aja msh ada lagi..belom headline surat di surat kabar...wuzzzz apalg klo ada LSM nya...makin moyyyyy beritanya..asekkkkk...besoknya ribut sedaerah..bupati manggil direktur RS..direktur rs manggil dokternya..mau tau akhirnya..teori yg katanya para pengguna jam jam an dan kes kes an itu hrs pny kk,ktp,surat rujukan,anc bidan rutin,buku KIA hrs ada...halahhhh bullshit semuanya..itu yg jelas berita hrs ilang,bupati gak mau tau gmn caranya,direktur jg gak ambil pusing syarat2nya gak lgkp,meskipun RS hrs merugi yg penting citra pribadi d masyarakat bagus...ya dkerjakan itu pasiennya..doktermya lageeeee yg maju d ruang operasi...

Halah bpjs....ganti nama cm ganti proyek aja...klo yg ngurus lembaganya sama mustahil jd perbaikan bagi kami para pekerja medis...

Klo dokter aja mau (dpaksa dan terpaksa sih sebenernya) buat nglayani pasien poli rawat jalan jam jam an dan kes kes an dgn biaya kurang dr 5000 rupiah brarti yg gak berperikemanusiaan dan bukan manusia adalah orang2 yg mbuat kebijakan itu dan yg bermain d dalamnya..

Untuk mengabdi kami ini butuh HIDUP dl bung!!! Hidupilah dan hargailah km layak..

Mau mogok d bilang jangan..biar ms pny ht nurani
Minta gaji dan bayaran layak d bilang matre
Wong minta ruang operasi+alat oprasi layak aja gak d kasih2
Lha kami ini bolehnya nuntut apa???
(Yg ga pny tuntutan hidup cm para pendeta,biksu,pertapa) kami mah ms pny nafsu dunia...manusiawi ada tuntutan..untuk sandang pangan papan layak sesuai hak kami

Anonymous said...

hebat..mending byk2 istighfar bung..mdh2an kamu sehat sllu

Anonymous said...

maaf cm mau komentar sbg pasien yg pernah melahirkan 2 kali di slh satu negara maju.. jujur saja ya,bkn sy menjelekkan atau meragukan kemampuan dokter di indonesia,tp dgn melihat kondisi kesehatan di indo saya mmg lbh memilih utk melahirkan di negara tmpt sy merantau,sebut saja negara A. saya prnh hamil kembar dan dideteksi twin to twin transfusion syndrome shg menyebabkan satu anak saya meninggal dlm kandungan meski sdh berusaha diselamatkan dokter disini. saya ga prnh merasa malpraktik krn itu mmg sdh takdir Allah,tp sy justru mrs amazing dgn pelayanan kesehatan disini trutama sang dokter yg berusaha mati2an menolong kami saat itu. satu hal yg sy temukan dlm diri dokter itu yg mnrt sy TIDAK DIMILIKI oleh kebanyakan dokter di indonesia adalah sikap TULUS dan TIDAK SOMBONG. karena profesi dokter di indo itu msh dianggap DEWA shg menyebabkan pandangan masyarakat tinggi sekali kalau bs jd dokter,terlebih si dokternya yg bs jd SOMBONG. sorry yaaa.. ini berdsrkan pengalaman saja. saya tau mmg tdk semua dokter di indo spt itu,dan sampai detik inipun blm prnh ada dokter di indo yg bikin sy "jatuh hati". klopun ada dokter yg dianggap hebat oleh masyarakat indo pastilah biayanya mahal dan pasiennya ramai sampai tdk sempat utk konsultasi. hal2 ttg MANNERS inilah yg hrs byk dipelajari oleh dokter di Indonesia.. maaf kalau tdk berkenan tp sy komentar berdsrkan pengalaman saja.

Anonymous said...

Saat masyarakat lupa cara mengeja.. Dokter itu dieja d-o-k-t-e-r
BUKAN T-u-h-a-n

Anonymous said...

saya pikir, para dokter jangan terlalu orogan lah.masyarakat juga punya hati untuk bisa membedakan tindakan kalian ini arogansi apa tidak. pertanyaannya, dari sekian kasus mallpraktek yang dilakukan, berapa sih yang maju kepengadilan atau dibahas oleh majelis kode etik profesi dokter? dari sekian pengaduan itu, berapa sih yang memutus bahwa dokter salah? kenyataannya IDI dan Majelis kode etik selama ini selalu membela dokter sehingga yang muncul di benak masyarakat ketika mereka di zalimi dokter adalah PERCUMA DILAPORKAN.TOKH DOKTER TIDAK PERNAH SALAH DAN AKAN DIBELA OLEH IDI DAN Majelis kehormatan dan kodek etik.
bersyukurlah, ada reformasi sehingga pasien mulai pintar dan berani menggugat ketidakprofesionalan dokter mulai dari operasi yang tidak sesuai standar SOP, pasien sekarat mereka lebih memilih ngoprasi di RS swasta karena bayarannya lebih gede, merekomendasikan obat super mahal hanya karena dokternya kerjasama dengan perusahaan farmasi tertentu dan dijanjikan bonus mobil, dll.
kalau sekarang dokternya mau mogok, silakan. dan saya berharap pada saat itu terjadi, menteri kesehatan berani mengambil tindakan tegas.
sekali lagi,masyarakat juga punya hati.mereka bisa memberikan penghargaan ketika dilayani dengan tulus dan mereka bisa kecewa ketika mereka tidak mendapatkan perawatan tulus. masyarakat juga masih punya hati untuk memaafkan keteledoran kalian atau sesuatu diluar kendali kalian.asal penjelasannya dengan hati bukan membela diri dan menyalahkan pasien. ingatlah, costumer atau pasien adalah raja dan tenaga medis atau tenaga apapun yang bersifat memberikan jasa adalah pelayan. raja bukan makhluk tak berhati bahkan mereka adalah makhluk yang memiliki kelapangan hati yang maha luas untuk bisa menerima kenyataan dan memaafkan sekalipun mereka mungkin awalnya marah.tidakkah kalian para dokter pernah berada dalam posisi ini yakni sebagai pasien? agar kalian bisa merasakan betapa luasnya dada mereka untuk memaafkan walaupun mungkin harus menangis dan kehilangan sesuatu yang kalian cintai? apakah mereka tidak berhak untuk marah,menangis dan bertanya walaupun itu mungkin hanya sekedar untuk mencari sesuatu yang bisa menenangkan hati mereka? lalu kenapa kalian harus marah dan balik menghujat mereka dan dengan arogansi mengancam untuk tidak melayani pasien?
tanyalah diri kalian, keinginan mogok ini murni dari arogansi kalian yang merasa diinjak-injak profesinya atau karena kalian merasa di zalimi? kalau yang pertama yang menjadi alasan maka sekalipun bukan dokter tapi saya yakin anda telah melanggar kode etik profesi kalian. dan kalau alasan kedua maka hal itu wajar tapi gak mesti mogok kali.hanya perlu penjelasan lembut dan kerendahan hati kalian untuk berkata lembut pada pasien dan keluarganya bahwa kalian minta maaf, itu diluar dari kemampuan kalian.bukankah emosi (pasien) harus dijinakkan dengan merendahkan hati (oleh dokter)?
terakhir, saya akan sangat merasa heran kalau yang menggagas mogok ini adalah dokter yang beragama ISLAM!! kalau kalian bertanya kenapa heran, berarti anda tidak mempelajari nilai dan ajaran agama anda dengan benar.
salam hangat untuk teman dokter yang saat ini merasa tercabik harga dirinya. tunjukkan bahwa kalian bisa memberi hal lebih bahkan ketika orang lain tidak menghargai anda. maka pada saat itulah anda menjadi dewa setingkat dibawah TUHAN.terakhir, sahabat doker yang luar biasa, sadarilah anda adalah perwakilan TUHAN di dunia ini untuk memberi harapan dan memberi "keselamatan". karena itulah anda terpilih.sebagai wakil TUHAN maka mungkin sahabat sekalian bisa meniru sifat TUHAN yang tidak pernah dendam dan marah apalagi mogok memberi rejeki pada hambaNYA yang tidak taat, yang kafir dan apalagi mengumpatNYA. bila anda melakukan dengan iklas maka biarlah TUHANyang membayar lebih di akhirat kelak yang mungkin lebih besar dari gaji kalian saat ini.

Anonymous said...

Saya seorang dokter, jujur saya jengah jg dgn pemberitaan di media ttg profesi sy ini, perlu semua org ingat, BEDAKAN dokter sbg profesi dan kami orang-orang yg menjalankannya. Tidak ada yg akan mengatakan orang berusaha menyembuhkan orang sebagai hal kriminal, tp itulah yg sdg tjd. Apa ada dokter yg sombong,mata duitan, kasar dll. Ya tentu saja ada, kami ini MANUSIA BIASA, jgn semua digeneralisir, klo anda ketemu dgn oknum dokter spt itu ckp doakan agar cpt bertobat dan cr dokter lainnya. Mgkin tdk semua org mengerti,kami adlh profesi 1x24 jam, spnjang tahun, kami adlh profesi yg jika libur dianggap aneh, jika bicara ttg uang dianggap matre*pdhl yg dituntut adlh hak kami sendiri, kesalahan apapun tdk ada ampun, seolah kami malaikat yg maha sempurna, jika demo diberi level haram bahkan direncanakan dibunuh pelan pelan, dibandingkan dgn dokter asing pun dblg masih anti nasionalisme dll. Ketika smua S1selesai 4 th kami min 6 th, ktk yg lain S2 2 thn, utk jd spesialis min 4 thn, bgtu luluspun kita diharuskan ikut ujian komptensi tiap 5 thn, hrs mngikuti acara ilmiah yg tdk murah utk ttp berijin praktek, sementara pengobatn alternatif menjamur tanpa ijin dimana2 semua masa bodoh dan dianggap lumrah *standar ganda. Tp benar itu adlh pilihan kami, tak pernah sedikitpun menyesal dengan kesempatan yg diberikan kpd kami utk menolong sesama. So before you judge us please try to know us first. Jika bertanya ttg mahalnya obat, mahalnya kuliah kedokteran saat ini, kacaunya sistem kesehatan yg ada, monggo tanyakan pd para pejabat pembuat kebijakan, yg saking hobinya menjual bangsa plus fans berat KAPITALISME bahkan pk acara mengancam mendatangkan dokter asing alih2 mencoba meningkatkan kualitas bangsanya sendiri. Jadi mari kita lihat,saya, anda, kita bangsa Indonesia sedang dlm SIAGA MERAH. Saking seringnya kita melihat korupsi,smp tdk percaya lg masih ada org yg pny hati nurani. Semoga kita mjd lbh bijak, tdk semua yg tertulis di media adlh benar, media bs membuat setan tmpk spt malaikat bgt pula sebaliknya. Hargai orang lain apapun profesinya sebagaimana kita mau dihargai bukan? Salam dokter Indonesia. Merdeka!

Anonymous said...

kalian para dokter sebaiknya pandai pandai bersyukur, kalian sudah disumpah dengan sumpah profesi, sudah lupakah? di Strata pelayanan kesehatan pendapatan kalian lebih tinggi dibanding profesi perawat, bidan, radiografer, frmasi, analis. terlebih ada jasa pelayanan jika kalian di RS. sudahlah yang namanya penyedia jasa apapun itu rentan komplain dari consumennya. asal kalian bekerja sesuai SOP tentu kalian tidak perlu berurusan dgn meja hijau. tidak usah byk mengeluh di ruang publik. tidak elok dibca masyarakat luas. coba lebih arif diskusikan dengan pengambil kebijkn. daripada berkoar-koar disini tidak ada gunanya

Anonymous said...

Ibu2 dan bapak2...kalo mau membandingkan kerja dokter indonesia sama luar negri harusnya dilihat teliti..coba dicek apa ada yang gaji pegawai negrinya lebih rendah dari dokter indonesia???dibayar 2000 rupiah bu..sama spt tukang parkir..operasi caesar dapatnya 200rb per operasi dan turunnya paling bagus 3 bulan ke depan( 2 bulan puasa dl sekeluarga)

Apa ada yang jam kerjanya "segila" dokter di indonesia??di luar negeri jangankan sdh lulus dokter spesialis masih sekolah ambil spesialisasi mereka dibayar..kami tidak!mereka ada batasan jam kerja,seminggu max sekian jam..lha d indonesia mana ada..klo perlu pas libur kerja juga..

Saya tahu memang sulit kalau berbicara kemanusian dicampur sama urusan gaji demi mengepulnya asap dapur..balik lagi belum pernah sy temukan pekerja apapun di dunia ini yg kalau diminta korting habis2an atas pembayaran jasa/barang dagangannya trus bisa memberikan tetap dengan tersenyum..kami juga gak buta tuli mata hatinya..untuk kemanusiaan ada..kami laksanakan..tapi kalau seumur hidup pengabdian terus yg diminta tanpa imbalan layak ya mana tahannnnn..

Bagi yg lebih sreg ke luar negri untuk berobat itu sah2 saja..itu pilihan..kalau saya pribadi diberi kesempatan,fasilitas,sarana prasarana, hak dan kewajiban spt dokter d luar negeri oleh pemerintah wahhh saya bakal senyum terus bu..di rumah pun gak hilang senyum saya..hahaha,dokter itu sakit juga kepalanya bu,konsultasi lama pasien di luar marah2 gr2 antrinya lama,konsultasi sebentar muncullah kritik spt yg ada di atas..realitanya mmg repot..

Gak semua pasien sy rewel dan rese'(tp jumlahnya bs d hitung dgn jari dalam sebulan) bagi para pasien yg berhati mulia sy ms menghargainya..bahkan buah pisang setandan,kue d antar kerumah,keluarganya datang ke klinik sekedar menyapa sy juga ada..sy bertrima kasih pada orang2 spt anda..anda pasien2 sy yg msh menghargai cucuran keringat sy dgn LAYAK..bagi orang2 spt mereka sayapun bersikap LAYAK..

Terus terang saya gak suka sekali dengan obralan janji para pejabat/calon pejabat..BEROBAT GRATIS ditanggung negara,eyang buyut kita aja punya slogan JER BASUKI MAWA BEA..semua itu ada harganya..bahkan untuk sembuh!! Jadi pengobatan gratis itu klo dgembar gemborkan hanya membikin masyarakat bodoh moralnya ttg kesehatan dan jauh dari usaha hidup sehat..lha bayangkan berani menikah dan merencanakan pny keturunan kok menggantungkan persalinan istrinya pada gratisan,bahkan ada yg berani gak pny simpenan duit buat lahiran gr2 menyepelekan keadaan dan menganggap PASTI GRATIS..9bln lho..panjang kan waktu nabungnya...hadehhhhhh,bahkan bikin orang buaaaannyyyyaaaakkkk yg gak pny malu lagi,mampu tp ngaku miskin..

Tapi pada gak percaya ya klo dokter itu juga merana..gaji pas dokter umum 1,2 jt sebulan..lha itu klo gak buka lapak tambahan gak hidup itu,kok ya sampe segitunya aja gak ada tuh yg demo,pada d pendam semua..(Dan meletupnya sekarang deh dengan semua testimoninya masing2 teman sejawat) mungkin ini jalannya ya..dari yg DIATAS,semoga ada hikmahnya

Semoga besok ada keteduhan buat mbak ayu,dkk..
Sejahtera dokter indonesia!!!!

Anonymous said...

Salam kenal,,
Pertama, Jd ingat scene dlm film 300 kata2 leonidas bahwa "setiap orang dapat dinilai dari kata2 yg dikeluarkan, bahkan kurir", apalagi Menteri yg notabene mjd orang nomor 1 dlm pembuatan kebijakan di bidang kesehatan. Bukan sok tau tp jika dr kata2nya saja kita bs menilai maka kita bs memprediksi kebijakan macam apa yg akan ditelurkan semasa pemerintahannya. Artinya, analisa sy dunia kedokteran blm bs mengandalkan perbaikan di masa jabatan dia. IRONIS 1

Kedua, sekedar berbagi bhw kita bs smakin aware n blajar ttng budaya kita. Di negara maju, jika seorang anak buah bersalah maka atasan siap pasang badan menanggungnya sesuai batas kewenangan n tg jwbnya (bukan brati membela mati2an pdhal salah). Kembali ke case diatas, seharusnya menkeslah yg kmudian mengklarifikasi, melindungi, menjaga reputasi rekan sejawatnya (pasang badan), dia siap bertg jwb melalui kewenangannya menyelidiki n memberikan pemberitaan di media sesuai kondisi riil (skalipun SEANDAINYA memang hrs memberi sanksi thdp rekan sejawat JIKA terbukti bersalah). Maka masalah kelayakan n SEHARUSNYA bgmn masing2 kita bs menilai sendiri. IRONIS 2

Ketiga, sy seorang PNS pusat di jkt dan istri sy dokter. Dg modal 20 sd 30jt utk biaya pendidikan di Univ. Negeri sy bs mdapat penghasilan lbh dr istri sy (saat ini) yg mhabiskan ratusan juta utk biaya pendidikan. IRONIS 3

Sy kerja senin sd jumat dan istri sy senin sd minggu. IRONIS 4

Sy bangga dg profesi istri sy beserta rekan2 sejawatnya, sy bangga dg dedikasi n integritas profesi dokter di Indonesia. Sy hny bs memberikan support melalui komen ini. Kalian ada di jalan yg mulia, n jalan mulia memang tdk mudah di negeri ini. Pd dasarnya stiap permasalahan akan ditempuh dg cara lunak dl, jika tdk mdapat hasil maka langkah cenderung frontal. Jika dokter berencana mogok, demo dll sy yakin itu bukan mrupakan langkah instan n ptama, tp krn berbagai langkah lainnya sdh tdk efektiv. Menurut sy itu sah2 sj utk menyuarakan aspirasi. Tetap tawakal n berusaha, Insya Alloh ga akan ada yg sia2, ingat "ROME WASN'T BUILT IN A DAY"

Anonymous said...

kesehatan, perawat, radiolog,. Kami punya sesuatu yg telah kami pelajari dan itu ada di dalam otak kami, tp kami tetap perlu hal
saya hny ingin masyarakat mengerti, mengobati pasien sama halnya dgn menjalankan pesawat, sang pilot minimal perlu co-pilot, perlu pengawas menara, perlu ijin terbang, yg perlu sebuah alat yg namanya pesawat, jika tidak pengetahuan sang pilot akan sia"..
Memang ada oknum dokter yg mungkin bekerja tidak baik, melanggar sumpah dan kode etik.. dan ketika hal itu terjadi itulah yg menjadi konsumsi publik.
tapi ada berapa bnyak berita yang mngabarkan tentang pengorbanan kami?? Ayah saya seorang dokter assisten bedah, selama pengabdiannya lebih kurang 30thn di dunia kedokteran, dia akhirnya harus berhenti bekerja sebelum masa pensiunnya berakhir akibat penyakit fibrosis paru akibat infeksi kronis yg dialaminya akibat terjangkit pasien,, selama kariernya dia melihat teman sejawatnya yg menderita hepatitis akibat terjangkit pasien,, saya pun ketika sy belum 1thn bekerja saya sudah harus memproteksi diri saya dgn vaksinasi rabies krn kami mau tidak mau harus melakukan pemeriksaan pada pnderita rabies di daerah kami,, belum lagi kontak dgn penderita HIV Aids, TBC, dan penyakit lainnya, ditambah pula ketika kami menangani kasus emergency di UGD kami harus terpapar dgn material darah atw lendir pasien krn kami tidak sempat menggunakan handscoen(sarung tangan) atau disaat persediaan handscoen atau masker di rumah sakit habis,. Tp tidak pernah ada yg menyadarinya selain kami para dokter dan rekan" medis kami,, karena itu jika anda berkata bahwa bahwa Tuhan tidak akan berhenti memberi rejeki sekalipun pada yg mengumpatnya dan kami seharusnya berlaku sama seperti itu.. mohon maaf kami hny manusia biasa,, FYI: mogok yg kami lakukan tidak seperti mogok" yg dilakukan profesi yg lain.. lagipula kami selalu menghimbau,, mencegah lebih baik drpd mengobati,,

Anonymous said...

Ya.. kami memang bersyukur,, kami mmg punya jasa medik dari pasien,, tp apakah kami perlu mengatakan berapa jasa medik kami dibandingkan resiko pekerjaan kami?? Apakah kami perlu mengatakan berapa jasa medik kami setelah di potong untuk di bagi dgn mereka yg notabene nya tidak pernah memberikan tindakan medis tapi mendapat jasa medik?? Apakah kami perlu memaparkan ketidak seauaian SOP dgn ketersediaan penunjang medis ketika kami dituntut untuk menjalankan SOP di daerah?? Apakah anda tau bahwa di daerah" yg tidak terpencil sekalipun kami harus mengambil resiko untuk memberikan obat berefek samping tinggi tanpa bisa memberikan penjelasan memadai pada keluarga karena waktu yg kurang dan ketidak tersediaan obat demi menolong pasien yg sedang kejang, sekalipun ada resiko besa?? Perlukah kami menjabarkan satu persatu resiko yg kami hadapi?? Kemudian anda silahkan hitung berapa Jasa medik yg seharusnya kami dapat.. kami tidak prnah berkoar" tentang hal itu bukan?? Mungkin sudah saatnya..

hata said...

Apa ada ya seorang Dokter yg berangkat dari rumah dengan suatu niatan : "Saya akan buat pasien saya tidak sembuh" atau "Saya akan bunuh pelan-pelan pasien-pasien saya".
Kalau keterbasan kemampuan, saya akui dokter sebagai manusia juga punya keterbatasan.
Masalahnya apakah yang punya "niat baik" untuk menolong tapi "tidak punya kemampuan" untuk menyelesaikannya harus dihukum? Kalau harus dihukum apakah karena niatnya atau karena kekurangannya.

Anonymous said...

We're not playing to be God. So, dont expect us to be God.
Kita punya keluarga yg harus dihidupi, sama kyk buruh2 itu, cb lah ibu menkes bagaimana rasanya bekerja dgn risiko tinggi terhadap diri sendiri ataupun nyawa org lain dgn gaji seperti itu. Cb lah menempatkan diri seperti kita di JAMAN SKRG.
Ibu menkes yg berpendidikan tinggi.. Tolong becandaan jg dipikir, jgn anggap sepele becandaan mu. Banyak pihak yg mendengarkan omongan ibu menkes yg katanya sangat berpendidikan ini loh.

Anonymous said...

masyarakt mungkin tidak tau bahwa yg membutuhkan kenaikan gaji atau tunjangan ini merupakan dokter yg bagaimana...sedikit mengambil kesimpulan adalah dokter2 yg merupakan dokter yg bekerja di bawah pemerintahan atau pns dan juga dokter2 yg mengabdikan diri ke daerah terpencil untuk mengabdikan diri. sedangkan dokter2 yg bekerja baik praktek swasta maupun di RS/klinik swasta pasti tidak terlalu memikirkan ini krn penentuan tarif sendiri atau kebijakan dari RS/KLINIK swasta trsbt.
dari sini bisa dibilang bahwa dokter yg bekerja dibawah pemerintah seharusnya sudah tau akan adanya askeskin, jamkesmas yg sebenarnya akan memberikan tarif/biaya jasa yang kecil. jadi apabila mengharapkan gaji yg besar, sebaiknya bekerja di RS/klinik swasta atau praktek sendiri namun jika memilih bekerja sbgai dokter PNS maupun PTT maka jgn berharap gaji yg besar namun pengabdian yg diutamakan...dengan sedikit slogan "be profesional, money comes later". kesimpulannya kalau mau bekerja sebagai dokter dgn alasan kemanusiaan maka bekerjAlah sebagai PNS atau dokter ptt namun kalau untuk mencari penghasilan yg besar maka bekerjalah di RS/KLINIK Swasta.
disini jg disimpulkan bahwa gaji kecil dokter PNS atau Ptt krn kebijakan pemerintah yg menetapkan tarif yg sangat kecil bagi dokter namun mengharapakan hasil maksimal dari pekerjaan dokter dan ditambah janji2 omong kosong berupa pengobatan gratis padahal pengobatan gratis juga ditentukan obat2 yg akan di gratiskan (obat2 generik atau obat2 paten yg jumlahnya dibatasi)
saya berharap bahwa rekan2 dokter lebih bisa kembali kepada tujuan masing2 menjadi dokter dan lebih menentukan apa yg diharapkan yaitu bekerja untuk pengabdian atau bekerja untuk mencari keuntungan.
dan sekarang mungkin anak2 siapapun jangan pernah diiming2kan bahwa menjadi dokter akan menjadi orang kaya ttp menjadi dokter dengan alasan utama untuk membantu orang lain.
dokter manapun tidak mampu menyembuhkan, ttp ALloh SWT yg menyembuhkan. dokter hanya berusaha 99% namu 1% tetap Alloh SWT yg menyembuhkan.
kepada masyarakat, kesehatan dan kematian hanya Alloh yg menyembuhkan namun hanya berdoa saja belum tentu menyembuhkan namun berusaha melalui seseorang yg juga mengetahui ilmunya yaitu dokter.
jika masyarakat tidak mau memeriksakan keluarganya silahkan ke pengobatan alternatif yg mana khasiatnya hanya berdasarkan pengalaman tanpa penelitian lebih lanjut yg resikonya tidak diketahui...
semoga bermanfaat.
maaf kalau ada kata2 yg tidak berkenan...
maju dokter indonesia
sehat selalu masyarakat indonesia

Anonymous said...

Impor dokter asing? Memang nya ada dokter asing yg mau dibayar gaji Rp. 1.200.000 per bulan?? Sy rasa sebagian besar masyarakat Indonesia termasuk politisi nya Kl berpikir ga pakai otak, bayangkan brp besar biaya yg dikeluarkan utk meraih gelar seorang dokter. Setelah lulus dibayar 1,2 jt! Plus hrs punya tgg jwb moril, dll.. Bandingkan dgn buruh yg mungkin hnya lulus smp / sma dibayar 2,2 jt! Edan tenan....

Anonymous said...

Turut berduka cita atas kasus dr ayu.
Buruh berdemo untuk kesejahteraannya. Wajar. Guru kalau diingat waktu zaman gusdur demo besar 2an ..berhasil dapat uang sertifikasi. Dokter.......memang harus ada gerakan nasional merubah nasib. Trims

Beta Bet said...

Salam kenal mbak meta...
wow... aye punya temen dokter,
karna bnyak praktek dan sekali praktek waktunya gag sebentar malah ga sempet tuh jalan-jalan keluar negeri ato hura-hura shopping... :)

sebenernya stiap manusia tidak bisa mengarapkan dokter sebagai penolong, hanya Allah sebagai penolong, dokter hanya perantara saja, kalau pola pikir manusia bergantung pada Allah, insyaAllah manusia akan tegar dan berlapang dada atas sgala risikonya dan tidak lagi menyalahkan dokter.

manusia memang suka "sawang sinawang" dan selalu melihat rumput tetangga lebih hijau. :)

tetep semangat yaa para dokter, smoga Allah memberi kekuatan dan keberkahan dari stiap amal dan niat baik Anda sekalian, aamiin.

tetep tabah yaa para pasien, smoga Allah memberi kekuatan dan kesembuhan pada penyakit yang diderita, menjadikannya kafarat penebus dosa yg telah lalu. Aamiin. :)

dian said...

yuks..coba demo gak kerja barang 1 minggu ajaaa..mungkin bu menkes bisa kerja buat gantiin kita dulu selama 1 minggu ituu,,khan dia hebat,,,kita khan partner bu menkes yah? kok malah kayak dianggap musuh yah? yang harus bu menkes pikirin khan bukan cman pasien tp pekerja nya juga, yah dokter, yah perawat, yah supir ambulans jugaaa...namanya ajah mentri kesehatan,,smua aspek dung bu..

Anonymous said...

Jujur saya kaget waktu ayah dan pacar saya yg keduanya berprofesi dokter bercerita demikian..... Walaupun saya sendiri berbeda profesi dari mereka berdua, saya sangat tahu bagaimana perasaan pahitnya menjadi seorang dokter.... Banyak orang yang mengatakan sekolah dokter cukup mahal, akan tetapi ujian testnya pun sangat sulit. Bahkan ada orang yang rela membayar sampai triliyunan demi anaknya masuk kedokteran pun ternyata juga tidak diterima karena gagal di testnya. Bahkan saya ingat betul bagaimana perjuangan ayah saya saat awal menjadi dokter hanya digaji 15.000 per bulan pada tahun 1990an dan digaji 200-300ribu pada awal milenium.... Dan sekarang perjuangan dokter hanya dianggap sampah enteng yang tidak perlu dihargai.... Wajar saja jika dokter ingin mogok kerja, karena banyak masyarakatnya yang tidak menghargai..... Kalaupun MenKes berkata demikian, apakah bu MenKes tidak merasakan perasaan yang sama dengan dokter lain.... Atau hanya dokter ecek2 saja yang hanya ingin menang nama.... Seharusnya menjadi seorang pemimpin itu bisa merangkul anak2nya untuk menyelesaikan masalah ini....

Anonymous said...

makanya dia jadi pejabat (Menkes)...mgk krn tidak lulus kompetensi juga

Anonymous said...

Izin share Dr.meta...

Anonymous said...

Wajar dong kita ngomong sedikit kasar begini ,lah wong kepalanya (dibaca : IBU MENKES TERHORMAT) aja bisa ngomongnya kayak preman pasar

Anonymous said...

Ibu menkes masih inget ga yahh prosedur2 terapi dan obat2an juga definisi + patofisiologi penyakit. Jangan2 lupa krn ketutup keduniawian politik. Mgkn kalau BELIAU jd klinisi (dr yg bertatap muka dgn pasien) mungkin dia org pertama yg melakukan malpraktek krn memberikan terapi yg "ga banget" dia kn jd menkes pastinya dan harusnya dia jago dong u/ kd klinisi/org pintar di dunia medis

Anonymous said...

Biar allah swt nanti yg akan membalas nya di akhirat kelak. Sesungguhnya pembalasan allah adalah yg paling menyakitkan

Anonymous said...

Jangan disamain bung. Programmer dengan dokter sangat berbeda. Di programmer tdk disumpah profesi, tdk ada beban psikis saat berkutat dengan apa yg dikerjakannya. Dan yg jls tdk berhubungan dgn nyawa

Anonymous said...

Apakah mbak Meta pernah berpikir dari kacamata pasien? Jika mbak ditempatkan pada posisi pasien?Jika pernah mungkin mbak akan mengerti mengapa begitu banyak pandangan miring mengenai dokter Indonesia.

Anonymous said...

Saya sangat setuju atas pernyataan bahwa "dokter itu bukanlah tuhan".
Yg menjadi masalah adalah: Karena ke ahlian mereka (dokter) mreka sendiri terkadang memposisikan dirinya sebagai penentu keselamatan/kesembuhan pasien (byk dilakukan oleh dokter spesialis).
Contoh real (sy harap rekan rekan jujur dan terbuka). Kebanyakan dokter menjalankan bisnis "kemitraan" dgn farmasi. Pemberian obat2an yang terkadang sulit dijangkau oleh pasien, namun dokter ttp ngotot klo pasien harus tebus obat itu. Nah loh??? Pasien yg jd KORBAN.
Contoh 2 : Disaat pasien dlm kondisi gawat dan perlu tindakan yg cepat (CITO). Tapi selalu saja ada dokter yg minta negosisasi kpd keluarga pasien ttg bayaran jasa. dengan bahasa yg sedikit di dramatisir seolah olah pasien hrs ditangani oleh dokter tsb. Siapa yg jadi korban?? PASIEN KAN?

Masih byk kasus kasus serupa. Dikota kota besar biasanya byk dokter yg materialistis (maaf).
Disinilah fungsinya hukum sebagai pembatas atas hak dan kewajiban pasien dan tenaga medis. Tolong sekali lagi, jujurlah dari hati nurani kalian. Jgn arogan dengan profesi "yg katanya lbh byk misi sosialnya". kita semua adalah simbiosis mutulisme. Masyarakat akan mengerti bila dokter jg mengerti atas kondisi masyarakat.

Anonymous said...

Kali aja yg komen pedas itu bukan TS. Kapan ya dokter2 di Indonesia bs sprti dulu wktu thun 1908, wktu gerakan Boedi Oetomo?

Indra Kariadi said...

Banyak komen diatas yg tidak mendukung dokter, okelah memang ada dokter yg tidak layak didukung, tapi coba pikir dengan otak masing masing, pantaskah sekolah s1 4tahun, koas 2 tahun, belum terhitung hari libur jaga dan pengorbanan yang jauh lebih dibanding fak fak lain dibayar HANYA 1,2 juta perbulan! Soal dokter di swasta, dokter di klinik pribadi tidak usah diurus. Layak kah itu gaji demikian? Buat yg komen pedes2, anda lulusan mana? Fak apa? Anda kuliah berapa tahun? Minta gaji berapa anda? 1,2 juta bisakah untuk hidup layak?! Anehnya masyarakats sekarang ini tidak lagi menyembah dokter seperti dewa tapi memaksa dokter berlaku seperti pertapa.

Indra Kariadi said...
This comment has been removed by the author.
Anonymous said...

Obyektif:
gak ada obat murah dengan kualitas baik..boong banget klo itu ada..perusahaan obat juga gak mau rugi..sy sendiri mengalami,pake obat jatahan buat yg gak mampu itu baru manjur klo masuk dosis sampe ada yg 4kali lipat!!gr2 obat yg begituan itu juga banyak pasien sy yg hrs berakhir d meja oprasi..pantaskah obat spt itu d bilang layak??

Sy pribadi selalu jujur sm pasien sy..mau yg bagusan apa yg biasa??pilihan d tangan pasien saja..

Dokter yg terapinya baik pst dengan keputusan diagnosis tepat dan obat yg baik pula..(Maaf..gak semua merek obat dgn isi sama tp pny khasiat dan efek kerja yg sama) itulah keunggulan dan rahasia farmasinya dlm mengolah obat..tp kembali lg sebaik apapun obat tp tdk dgn penggunaan tepat ya gak sembuh..

Ada dokter yg "gak baik" tp msh byk yg baik juga..kami ini ibarat juga hrs mencari peluang usaha apalagi sih selain hanya dari gaji yg jauh dr layak..balik lagi kannnnn..kalo gaji km layak gak perlu kami ini buka praktek pribadi,cari pasien sendiri,obat semua dr pemerintah bagus2 pst dipakai..gak capek lari sana sini pindah tempat praktekan..semuanya terkonsentrasi d rs pemerintah..
Kami ini hanya pion d garda terdepan yg berhubungan lgs dgn pasien..buta dgn konspirasi kelas atas..

Anonymous said...

saya rasa dokter umum PNS tidak ada yang digaji 1,2 jt.. dokter PNS lgsung ke 3B gaji berkisar 2,2 jt.. ditambah tunjangan daerah, ditambah jasa pelayanan. jadi rata2 sekitar 4 - 6 juta perbulan. kalau dokter spesialis jasa pelayanan berkisar 5 jt sd 15 jt tergantung jumlah pasiennya.. jadi jangan lagi bilang dokter cuma digaji 1,2 jt... jujur sajalah.. kita sebagai dokter harus banyak bersyukur dan tidak suka mengeluh... soal kriminalisasi dokter saya juga tidak setuju.. advokat harusnya tidak asal tuntut, asal dokter bekerja sesuai sop mana boleh dikriminalisasi...

Anonymous said...

Betul sekarang yg ditrimakan 4-6jt tgantung daerahnya..tp tetap sj bandingkan yg baik dgn sarjana2 lain..dgn resiko dan lama studi yg jauh beda..sudah layak kah?mana demo kami selama ini??gak ada kan..inipun hanya tulisan bisu tempat kami utarakan isi hati kami..salah lagi??atau gak bersyukur lagi??untuk yg ini maaf jika sy pun sepakat jg berpendapat IYA kami dokter di indonesia msh kurang dihargai jasanya oleh pemerintah..buktinya sudah gak banyak lg dokter mau jd PNS..

Anonymous said...

Ketika Anak saya dirawat di singapura dan malaysia dgn dokter 24 jam disampingnya. Dan anak saya meninggal diindonesia tanpa dokter disampingnya padahal saya minta tim dokter yg menangani. Disini tim dokter tidak bisa kata Rumah sakitnya. Apa dan siapa yg salah ketika pada saat sya di luar negri ternyata banyak dokter dan kluarga dokter dr indonesia yg berobat. Yuk kita sama-sama introspeksi krn saya jg tdk brusaha generalisasi sluruh dokter.

Anonymous said...

Saya setuju, saya suka solusi second opinion dan hasilnya menarik.ternyata Tidak smua dokter serius jadi dokter, beberapa serius sisanya... ah sudahlah..

Anonymous said...

Belajarlah jadi dokter yg bermoral itu aja.. bahkan montir gk dibayar ketika gk berhasil, cm dokter yg klo berhasil ato gagal tetep dibayar..

Anonymous said...

Setuju ini adalah satu dr jutaan kasus, yg hilang dr kita adalah moral saat dokter tak siap disalahkan dan tak siap berbenah diri kita akan jadi sangat parah.. smoga ada jln keluar.

Anonymous said...

saya seorang sarjana, bekerja dgn gaji berkisar 3,5 juta. pekerjaan saya juga mengandung resiko, dan saya tidak bisa bekerja di lebih dari 1 institusi seperti dokter.. gaji saya juga tidak lebih dari pendapatan dokter. wang sinawang saya melihatnya dalam hal ini.. mugkin dokter melihat kami memiliki gaji yang cukup besar, sebaliknya kami melihat dokter berpendpatan lebih dari cukup.. memang manusia tidak ada batas puasnya kalau tidak direm..

Anonymous said...

Menyalurkan puisi ungkapan isi hati:

Wimpie Pangkahila

PUISI NURANI DOKTER

Hari ini adalah sebuah makna
Ketika seluruh dokter di Nusantara
Menunjukkan solidaritasnya
Kepada tiga dokter di Manado Sulawesi Utara
Yang dipidana karena pasien meninggal dunia
Padahal telah melakukan tindakan sesuai standar profesinya
Padahal mereka bukan malaikat penjabut nyawa

Hari ini aku ingin katakan kepada siapa saja
Tidak ada dokter yang ingin pasiennya kehilangan nyawa
Karena dokter memang dididik untuk mengatasi masalah sesama
Maka dokter berhak mendapatkan penghargaan dari hasil profesi
Bukan makan dengan rakus dari hasil korupsi
Bukan seperti si Akil dan para sejawatnya
Bukan pula menipu masyarakat melalui iklan di media massa
Yang dibiarkan saja sekian lama

Saudaraku, jadikanlah hari ini sebagai hari baru
Ketika dokter tidak lagi mau diperalat dan diperdaya
Oleh penguasa, oleh organisasi, dan oleh siapa saja
Maka tunjukkan kepada bangsa ini
Bahwa dokter Indonesia akan selalu bertindak sesuai standar profesi
Dan dijiwai oleh sumpah dokter yang universal di seluruh dunia
Karena berurusan dengan nyawa manusia

Sudah cukup lama kita diam bagai tak berdaya
Karena semua pihak seolah mati rasa
Ketika ada dokter dianiaya dalam menjalankan profesinya
Ketika dokter sengsara dalam tugas di pelosok jauh di sana
Saudaraku, kinilah saatnya kita bersatu hati
Bangkit kembali melanjutkan semangat juang para dokter pendahulu
Ketika melawan ketidakadilan dalam masa penjajahan
Yang kini terulang kembali oleh bangsa sendiri
Salamku untuk semua saudara di seluruh pelosok negeri

Denpasar, 18 November 2013

Anonymous said...

Kalo anda yg coba sekali2 lihat kehidupan dokter gmn?

Anonymous said...

Saya dokter umum digaji 1,2 jt dibayar 3 bln sekali. Anda bisa blg apa?

Anonymous said...

Berbuat baik itu ga rugi bahkan ketika tidak ada satupun org Y̶a̶n̶g̶ mengatakan terima kasih,,bukankah allah itu maha adil,,semangat untuk seluruh praktisi kesehatan indonesia,,qta percaya dan qta di percaya,,

Anonymous said...

Sy berasal dari keluarga dokter,saya bisa liat perjuangan abang dan kakak saya sekolah sampai menjadi spesialis,disaat sy tertidur mereka belajar dg buku yg tebalnya melebihi tebalnya kitab suci,perjuangan pagi siang malam subuh selalu sigap,disaat kakak saya hamil tua,subuh2 atau malam2 dtg pasien memohon bantuan,dan kakak sya lgs menuju rumah pasien tsb,betapa mulianya pekerjaan seorg dokter itu.. . Dan sya pun seorg pasien disaat sy berobat,jika saya kurang sreg dg dokter yg saya kunjungi,sy pindah k dokter lain saja... Yg saya ingat adalah dokter juga manusia,bs emosi,dan bisa merasakan lelah,lelah batin dan fisik. Jadi kalo ada yg blg coba liat disisi pasien, coba juga kita melihat sisi dokter.. Yang jelas tdk ada dokter yg ingin pasiennya sakit berkelanjutan,dan kalo merasa dokter 1 tdk baik..coba kita cari dokter yg lebi baik..(Second opinion).

Anonymous said...

Saat tuntutan perut dan keluarga yg teriak2 ngk bisa dinafkahi hanya 1.2 jt. Apakah anda masih bisa berpikir untuk berbuat baik terlebih dahulu? Ditambah lagi saat usaha dan pengorbanan anda jangankan dianggap malah dilecehkan. Saya dokter terkecil dgn derajat dokter internship hanya bisa mengelus dada melihat masa depan yang akan terjadi. Berobat gratis dgn mengindahkan kesejahteraan para klinisi adl bentuk eksploitasi zmn Ini.

Terpaksa berpikir ulang utk berkiprah dinegri sendiri di bidang ini.

Anonymous said...

Tidak bisa memungkiri kalau kualitas kesehatan di Indonesia masih misserable..

Anonymous said...

assalamu'allaikum sedih mmg qta sebagai tenaga medis di negeri kita sendiri ini..kita dituntut untuk selalu menjadi seorang malaikat yg selalu bs menyembuhkan smua org..tp itu semuakan kembali kepada Allah SWT..pengenx sih smua yg datang berobat kepada kita akan sembuh dan sehat wal afiat, tp akan berbeda jk Allah berkehendak lain..
Dan menurut saya sebenarx org yg lebih bisa menghargai jasa tenaga kesehatan spt Dokter, Bidan, Perawat, dll justru adalah masyarakat golongan menengah kebawah!! sedang org2 dng golongan menengah keatas bahkan org "elite" hny memandang kita ini sebelah mata bahkan lbh terkesan bahwa kita ini "babu" mereka! sangat2 menyedihkan..

Anonymous said...

iki mentrine durung tau mangan empuke sandal tah?

Anonymous said...

Hahaha mentrine lulusan harvard cak..sandale empuk kabeh ndek kono(bahan bulu domba jeh)..durung ngerti empuk e sandal swallow cak..yok opo???d kenalno tah mbek swallow???

Anonymous said...

Saya bukan siapa2,saya banyak salut dan menaruh hormat dgn pr dokter yg mmg bnr2 bekerja sesuai sumpah n etika kedokteran walau digaji tdk sbrp krn saya sdh merasakan sendiri bentuk pengabdian mrk saat menolong almh. ibu saya selama perawatan beliau tapiii saya jg sekaligus sedih tdk kepalang saat saya mndapati slh satu (ah sy sebut oknum) dokter dr tim dokter yg merawat ibu sy dengan sikap malas n ogah2an saat diminta membantu rekan juniornya yg kesulitan memasang ventilator pd ibu sy pdhl saat itu ibu saya dlm keadaan sgt membutuhkan alat itu n pd akhirnya alat itu terpasang atas bantuan dokter yg lbh senior lainnya. Saya tahu kuliah kedokteran itu bth byk pengorbanan biaya,waktu,fisik bahkan mental tapi bukankah berkuliah dimana adlh pilihan diri sendiri dgn sgl konsekuensi hasil n masa dpnnya. Di Indonesia ini byk kok profesi yg kurang dihargai dgn digaji tdk sesuai standar layak hidup baik itu yg lgsg berhub dgn nyawa atau tdk lgsg berhub (krn sy menghormati semua profesi sm penting spt halnya manusia sbg mahluk sosial yg dlm hidupnya pasti akan slg membutuhkan). Jd bgmn kita sbg warga negara Indonesia utk menempatkan diri kita dgn segala hak dan kewajiban yg tlh di atur UU memperjuangkan semuanya mnjd layak dan tetap berpegangan bahwa semua warga negara adalah sm di mata hukum apapun profesinya, katakan salah bila salah n katakan benar bila benar.

Anonymous said...

Akhirnya saya hanya ingin mengajak kita semua utk bersama2 bijak, baik sebagai tenaga kesehatan, pemerintah, media, maupun masyarakat utk mau lebih lagi meninjau kasus2 ini. Begitu byk berita dan pandangan ttg tenaga kesehatan yg harus diluruskan oleh media dan dipahami dgn betul oleh masyarakat umum sebelum berkomentar, begitu byk kebijakan dan tindakan yg harus diambil dan diperbaiki oleh pemerintah mengenai sistem kesehatan di Indonesia, dan begitu byk pe-er para tenaga kesehatan utk meningkatkan ilmu dan kemampuan agar semakin mampu dalam memberikan yg terbaik utk sesama. Tidak boleh lg ada pihak yg menjatuhkan pihak lain, ataupun membentuk pandangan dan opini negatif terlebih dahulu tanpa tahu duduk perkara yg sebenarnya. Niscaya jika semua bs mengamalkannya, Indonesia bs lebih baik lg, walau memakan waktu yg (kemgkinan besar) lama.

Anonymous said...

Dokter skrg kn ada yg namanya dokter internship
Cb deh dr refresh update informasi lagi ttg perkembangan terbaru ttg dr internship

Anonymous said...

Izinkan saya memberI komentar. Saya kira semua dokter di Indonesia telah mlakukan tugasnya sesuai dgn ilmu yg diperoleh slma pendidikan. Knp ada yg namanya terkesan mlambat2kn tindakn pd kasus yg trjadi pd pasien Dr.ayu krn dlm pendidikan atau di rumah sakit pendidikan semua kasus ditata laksana sbgmana proses yg terjadi seharusnya, misal pd persalinan anak kedua maksimal trjadinya proses persalinan normal hingga terjadinya pembukaan sempurna mbutuhkn wktu 6-8jam, dlm periode itu diobservasi tanda2 vital pasien, dan denyut jantung bayi, jika ada hal2 mncurigakn misalnya trjadi gawat janin (denyut jantung janin kurang atau lbih dari normal ) maka indikasi operasi segera harus dilakukan.
Kmudian mngenai gaji dokter umum 1,2 jt sebulan memang benar ada, yakni gaji dokter umum yg bru selesai dan diwajibkan menjalani internship, gaji trsebut dirasa sngat kurang ktika trjadi si dokter internship penempatan tugasnya jauh diluar daerah tempat dia brasal. Satu kasus junior saya yg dri sumatera ditempatkn ke kalimantan. Shingga utk biaya sehari2 masih meminta kepada orgtuanya.
Kmudian crita mngenai dokter yg sombong itu tdk selalu benar. Pada dasarnya kami brangkat dr rumah dgn niat mmbantu org sakit. Tetapi ada bbrpa kasus, misalnya skrng kita lihat pada kasus program jakarta sehat, jumlah kunjungan pasien setelah program trsebut diluncurkan meningkat lbih dari 200% kunjungan dibandingkan sebelumnya. Sementara jumlah tenaga kesehatan tidak bertambah. Otomatis tenaga medis kewalahan, blum lg ada pasien dan keluarga pasien yg maunya bnyak (minta didulukan, minta diperhatikan, minta semuanya bhkan sampai curhat dlm jam pelayanan atau atur sana sini seolah2 kami pesuruh yg siap mlayani). Mungkin utk separuh atau 2/3 jumlah pasien pertama kami bisa memasang wajah biasa /tersenyum tpi setelah itu kami, yg juga manusia, lelah. Saya tahu persoalan tersebesar selalu akan muncul pd sektor2 jasa pelayanan. Karena nilai kepuasan masing2 pihak berbeda2, ada org yg brsabar jika mnerima sedikit /dlm jumlah biasa tetapi ada org yg menuntut benar2 suatu kesempurnaan.
Mnurut saya Indonesia ini masih jauh dr kriteria sehat yg sepenuhnya. Masih bnyk masalah2 kesehatan yg blum terbenahi. Janganlah saudara2 smua mbandingkan kita dgn negara lain /luar negeri. Bersyukur anda mampu berobat keluar negeri dan mnghujat kinerja dokter dlm negeri, meanggapnya tdk becus, malpraktek atau apasaja. Tetapi perlu diingat tidak ada yg namanya dokter dgn sengaja mnyebabkan kematian di negeri ini. Yg ada pasti mereka telah berupaya semampunya utk mnolong pasien2 mereka.

Anonymous said...

Betul sy pun bgtu. Seringkali mjumpai dokter yg marah2 ga jelas. Walopun msh ad dokter yg baik. Sungguh mngambil hikmah itu sulit. Bgtupun instropeksi.
Salam

Anonymous said...

Mas/mbak maaf kalo saya menambahkan, ibu menkes kita skrg itu setau saya memang pernah PTT di pedalaman, tepatnya di Ende, NTT saat beliau masih jadi dokter umum. Saya rasa bolehlah kita berkomentar ttg kata2 beliau yang kurang pantas itu, tetapi mgkn tidak perlu menjudge orang. Kita tidak mau jadi seperti org yang kita benci kan? Saya sendiri juga seorang dokter dan sedang PTT juga. Peace...

Anonymous said...

Sedih sekali mendengar cerita TS. Saya mempunyai klinik dan bekerjasama dengan beberapa dokter umum.Ingin sekali rasanya saya memberi sesuatu yang lebih dari klinik yang lain kepada dokter dan paramedis lain, tetapi tarif tidak bisa kita sesuaikan karena di pedesaan. Akhirnya kita subsidi silang dengan pendapatan saya sbg Sp PD. Terus terang pengabdian mereka luar biasa,Saya hanya bisa selalu berdoa semoga selalu diberkahiNya. Pilihan dokter pada obat paten dan generik tergantung pd nurani masing2. Masih banyak sejawat yang mengedepankan nurani karena rejeki datangnya tdk sll dr jasa medik. Saran saya selagi masih bisa, berwiraswastalah dibidang selain medis, Insyaallah diberi kemudahan karena kita sll memberi kemudahan pd org lain Amiin

Solusi mencari pekerjaan said...

dokter bukan tuhan. betul 100%. jadi kalo ada dokter yg salah ya wajar dan lumrah. dan dapat hukuman juga ya wajar, wong dia berbuat salah toh. yg aneh ko semua dokter kayak kebakaran jenggot. ingat dok jangan arogan, yg profesional dong kalo kerja.

Solusi mencari pekerjaan said...

dokter bukan tuhan. betul 100%. jadi kalo ada dokter yg salah ya wajar dan lumrah. dan dapat hukuman juga ya wajar, wong dia berbuat salah toh. yg aneh ko semua dokter kayak kebakaran jenggot. ingat dok jangan arogan, yg profesional dong kalo kerja.

AuLia said...

Satu hal yang sering dilupakan dokter adalah memebrikan KIE, informed consent. Pasien bukan hanya membutuhkan medikasi (obat), dan tindakan medis, jadi apabila dokter memberikan KIE mengenai penyakit pasien tersebut, terapi, medikasi yang akan direncanakan, dan efek samping, dll, Kemungkinan kecil pasien akan menuduh dokter tersebut melakukan Malpraktik, karena dokter tersebut melakukan sesuai dengan SPO

Rheananda Ariesta said...

Benar apa yang dikatakan oleh Aulia, kebanyakan dokter tidak memerikan informasi secara jelas terhadap pasien mengenai penyakitnya, tindakan Medis yang akan diberikan, dan medikasi atau obat yang diresepkan, sebagian besar dokter menganggap pasiennya adalah orang yang awam, jadi jangan salahkan pasien yang menuduh dokter melakukan malpraktik, mungkin hal tersebut karena pasien yang bersangkutan merasa tidak diberikan informasi oleh dokter, dan tidak mengetahui bahwa dokter tersebut telah melakukan prosedur sesuai dengan SOP, sebagai renungan juga kepada para dokter untuk memberikan informasi yang jelas kepada pasien.

Anonymous said...

Salam kenal mbak Meta. Ini mbak Meta yg dulu penyiar di radio E*S atw Ist*r*,ya. Melenceng dari topik.

I'm not a doctor but that job was my future for 7 years ago. Ada satu kejadian yang tidak mengenakkan terkait pelayanan kesehatan tentang jamkesmas atau apalah. Nenek saya berobat ke RS terbesar di hero city. Karena beliau pasien jamkesmas tidak dilayani dengan baik oleh suster,dalam hati saya dongkol dan ketus dengan susternya. sembarangan ngelayaninnya,waktu saya masih kuliah. Sampai orang tua hendak mengalihkan rs tapi karena kondisi beliau yang tidak memungkinkan jadi menunggu giliran yang memang lama dengan kondisi yang sangat ricuh. Tapi alhamdulillah banyak teman saya yang sudah dokter sehingga segera ditangani. saya sangat terharu dengan pekerjaan kalian, many thumbs for u all. Jangan tinggalkan pasien Anda atas omongan Ibu Menkes yang sangat tidak sopan dan tidak sepantasnya even just a joke. Bekerjalah dengan hati karena hanya itu pernah saya dengar dari teman saya sebagai dokter. Jangan tinggalkan negeri ini demi penghargaan yang lebih baik tapi lihatlah negara Anda. Mungkin terlalu munafik tapi kenyataan karena Anda butuh dihargai dengan sangat tapi jangan tinggalkan masyarakat miskin atau masyrakat daerah terpencil. Mungkin bagi sebagian orang tidak memerlukan pengorbanan untuk berobat ke rumah sakit yang memadai tapi masyrakat yang kurang mampu. Dan saya mohon kepada para dokter di Indonesia untuk selalu bekerja dengan hati karena yang Anda hadapi adalah mereka yang bernyawa sebagaimana Anda.
I am very appreciate for all Indonesia doctors.
Sukses selalu mbak Meta as doctor, MC, and your side jobs.
*maaf kalo ada kata yang kurang berkenan.

Anonymous said...

Masalahnya bisa dicari
1. Berapa perbandingan jumlah dokter dan pasien di luar negeri.
2. Berapa gaji yang diterima dokter di luar negeri dibandingkan dengan di indonesia
3. Memang ada dokter yang marah2 tapi apakah anda tahu hari2 yang telah dijalaninya atau masalah yang sedang dihadapinya saat berjumpa dengan anda?
Setidaknya pernahkah anda berfikir dari sudut lainnya?
Terima kasih

Anonymous said...

Saya mohon maaf atas sikap sebagian teman sejawat yang mungkin memang kurang tepat. Hanya saja di satu sisi kami tetap manusia biasa dengan batas kesabaran
Selain itu pada forum informal semacam ini mungkin saja ada pihak2 yang hanya mengadu domba.
Saya paham jika muncul komentar semacam ini dari salesman farmasi namun di sisi lain anda dan perusahaan tempat anda bekerja jugalah yang menimbulkan hal ini dengan cara anda menawarkan produk anda
Jika anda tahu sikap mereka salah tegurlah dan lakukan yang benar seperti yang telah anda tulis
Karena perubahan dimulai dari diri sendiri
Mohon direnungkan
Terima kasih

Anonymous said...

Sesuai saran anda saya ingin menyarankan agar dokter yang bisa praktek di luar negeri untuk pindah saja supaya dapat mengelola pasien dengan kualitas yang di harapkan
Jadi saat ada perlu dokter sudah siap
Win2 solution bukan?

Anonymous said...

Pada kondisi seperti ini sering ada dokter yang bersedia jasanya tidak dibayar jika pasien memang tidak mampu
Tapi bagaimana dengan alat yang digunakan apakah tidak perlu beli?
Apakah ada toko peralatan dan pabrik obat yang bersedia tidak dibayar?
Jika ada tolong di share ya karena kami butuh pihak2 yang bersedia
Belum lagi tolong yang mampu jangan pura2 tidak mampu ya
Terima kasih

Anonymous said...

Dokter memang sangat mungkin jadi arogan tapi apakah profesi lain tidak?
Saya paham kami mungkin sering dipandang negatif
tapi saat kami melakukan yang benar menurut SOP dan disalahkan apa yang harus kami perbuat?
1 Menolong tapi divonis bersalah
2 Pura2 tidak tahu dan pergi saja yang penting saya tidak melakukan kesalahan menurut hukum dan SOP
Saya yakin dengan cara seperti ini banyak dokter akan memilih untuk acuh tak acuh dan jika terpaksa beralih profesi.
Jika anda yakin sekali dokter memang harus seperti itu anda harus menjadikan anak2 anda dokter yang sesuai dengan harapan anda
Jujur pada saat2 tertentu saya ingin sekali mengulang waktu dan beralih ke profesi lain
Memang sebagai manusia kita harus sawang sinawang akan tetapi jika anda terus berpikiran dokter tidak pantas berbuat seperti itu tentu tidak perlu merasa kehilangan jika ada yang benar2 memilih untuk mogok
Bukankah itu hak asasi manusia yang dijamin oleh undang2 kecuali dokter bukan manusia lagi

Solusi mencari pekerjaan said...

kalo memang dokter ayu tidak bersalah buktikan di pengadilan. apakah anda membenarkan yang salah? apakah anda selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. silahkan renungkan. yg salh hrs di hukum. kalo dokter ayu benar kenapa MA memutuskan bersalah. JADI YG BENAR ITU SIAPA DOKTER AYU APA MA. TOLONG JAWAB DOK........
SAYA GAK MAU YG BENAR JADI SALAH. YG SALAH JADI BENAR......BUKTIKAN KALO DOKTER AYU ITU BENAR DI PENGADILAN.

Solusi mencari pekerjaan said...

kalo memang dokter ayu tidak bersalah buktikan di pengadilan. apakah anda membenarkan yang salah? apakah anda selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. silahkan renungkan. yg salh hrs di hukum. kalo dokter ayu benar kenapa MA memutuskan bersalah. JADI YG BENAR ITU SIAPA DOKTER AYU APA MA. TOLONG JAWAB DOK........
SAYA GAK MAU YG BENAR JADI SALAH. YG SALAH JADI BENAR......BUKTIKAN KALO DOKTER AYU ITU BENAR DI PENGADILAN.

Nanda said...

Pernah terpikir engga kalau kasus malpraktik yang marak beredar disana-sini murni bukan mutlak kesalahan dokternya? Yang sering, pasien mengira atau menuntut malpraktik, padahal yang terjadi hanyalah perjalanan penyakit biasa.==> dr Meta said...
Honestly, kebanyakan dokter tidak memerikan informasi secara jelas terhadap pasien mengenai penyakitnya, tindakan Medis yang akan diberikan, dan medikasi atau obat yang diresepkan, sebagian besar dokter menganggap pasiennya adalah orang yang awam, jadi jangan salahkan pasien yang menuduh dokter melakukan malpraktik, mungkin hal tersebut karena pasien yang bersangkutan merasa tidak diberikan informasi oleh dokter, dan tidak mengetahui bahwa dokter tersebut telah melakukan prosedur sesuai dengan SOP, sebagai renungan juga kepada para dokter untuk memberikan informasi yang jelas kepada pasien.

Sang Keadilan Hukum said...

Jika terjadi kesalahan dan atau kelalaian dalam kegiatan melakukan profesi, kesalahan/kelalaian itu biasanya disebabkan oleh perbuatan di luar batas kewenangan atau melampaui batas kewenangan yang diatur dalam profesi itu.Orang-orang yang bertindak di luar batas kewenangan atau melampaui batas kewenangan biasanya tidak memahami faktor resiko yang sangat mungkin terjadi jika tindakan itu dilakukan dan bagaimana cara mengeliminir dampak negatif jika resiko itu terjadi.

Heboh kasus "kriminalisasi" dr. Ayu?
Benarkah "kriminalisasi"?
Mari berfikir legalistik saja.
Apakah residen (dokter yang sedang belar) memiliki kewenangan/berwenang melakukan tindakan bedah sesar (caesarean section atau cesarean section)?Karena ada yang memberikan info peristiwa meninggalnya pasien yang ditanganinya terjadi di saat dr.Ayu dkk berstatus dokter residen.Jika kejadian itu terjadi saat dr.Ayu dkk sudah berstatus sebagai dokter spesialis, sy juga sepakat bnahwa ini kriminalisasi, apalagi jika tindakan itu sudah sesuai standar profesi.Tetapi jika peristiwa itu terjadi jika mereka bersatatus sebagai dokter yang sedang belajar (residen), apakah residen memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan bedah sesar?Pertanyaan berikutnya, apakah saat itu tidak ada dokter konsulen yang bertugas jaga?

Anonymous said...

Berhak, statusnya sudah chief; alias dianggap memiliki keahlian setara dengan spesialis. Dalam pendidikan residensi (calon spesialis) ada tindakan tertentu yang boleh dan wajib dikerjakan tanpa menunggu supervisornya apabila terpaksa (emergensi). Ini berlaku di semua rs pendidikan.
Mungkin kalo dokter ayu melakukan kelalaian seperti meninggalkan gunting atau salah memberikan obat dsbnya tidak akan seramai ini ts yg membelanya, tapi ini dia bertindak untuk menyelamatkan pasien, justru kalo operasi itu tidak dilakukan dia salah.
Faktanya di dunia sekalipun, dokter dokter dari luar negeri heran kenapa kasus ini malah jadi kasus pidana, dan pasal yg dipakai pasal pembunuhan, seolah olah dokter ingin mencelakakan pasiennya. Anehnya keadilan hukum indonesia.

Anonymous said...

Mohon maaf, saya bukan basic kedokteran, saya karyawan swasta tapi numpang ikut komentar.
Dari curhatan panjang lebar diatas, saya cuma mau ambil 1 poin saja yaitu mengenai gaji dokter yang cuma 1,2juta.

Salah satu sumpah Dokter itu kan akan MEMBAKTIKAN diri ya? Satu yg saya ingat ketika menyebut kata 'berbakti' adalah totalitas tanpa kecuali. Ingat kata berbakti kepada orangtua, sesalah apapun orangtua kita, kita harus tetap berbakti kepada mereka, melupakan segala kesalahan mereka, tetap menghormati mereka.

Mendengar kata 'berbakti' Saya juga ingat bakti beberapa guru yg menempatkan dirinya di pedalaman primitif dan tidak digaji sepanjang pengabdiannya. (saya ga usah sebut namanya). Yahh memang sih dia gak bisa naik sedan model terbaru atau berdandan dengan barang2 branded seperti kebanyakan dokter2 indonesia.

Sekarang yg jadi pertanyaan, apakah bapak/ibu dokter ini tidak mengetahui bagaimana kondisi dan pelayanan negara kita terhadap para dokter? Kenapa setelah selesai masa kuliah yang panjang/melelahkan dan menghabiskan uang yg begitu banyak baru mengeluhkan gaji dokter? Yg buntut2nya menurunkan kualitas pelayanan dokter itu sendiri kepada para pasiennya.

Rasanya agak memalukan bila seseorang yg berprofesi di bidang bakti dan pelayanan membicarakan masalah gaji yg kecil.

Menurut saya bukan suatu kesalahan sih kalau meninggalkan profesi yg bersifat pelayanan, dan masuk ke dunia komersil, disana gaji lebih besar, duduk di ruang ber-ac, dapat mobil perusahaan dan benefit-benefit lainnya. Posisi mulia yg anda pegang saat ini pasti masih banyak diincar oleh orang lain yg memang bisa total 100% melayani masyarkat indonesia.


Anonymous said...

Gerakan sehari tanpa pasien,,, ada ga ya??

hipocrates said...

Tidak akan ada habisnya... Yg ngerasa sebagai rakyat merasa dokter itu ya hny dokter *lupa dokter jg bagian dr rakyat, mrk ya taunya dokter adlh makhluk termulia dianugerahi kesempatan penyembuh diibaratkan perpanjangan tangan Tuhan, yg hidupnya serba berkecukupan dan serba nyaman. Sementara dokter di Indonesia merasa haknya dikebiri, harga dirinya dilecehkan dan dizolimi oleh sistem bangsany sendiri. Realistis saja brp bnyk jumlah penduduk kita, brp bnyk dokter yg ada, brp sanggup negara yg hutangnya saja dimana2, kuasa asing merajalela mampu mengakomodasi semuanya. Ketidaksinkronan itu yg trjadi, masuk akalkah berharap pelayanan baik, obat murah, sementara dokter jg dihargai rendah, masuk akalkah 1 orang dokter mengcover 5000 penduduk di negaranya dan kmd diharapkan pelayanan spt negara tetangga. Tentu tidak masuk akal tp itu yg terjadi. Jgnlah gemar berapriori, buka mata, buka hati. Saat semua mencaci sesuatu yg tdk dia ketahui sesungguhny itu sesuatu yg keji... semoga seluruh rakyat sehat sehingga tidak perlu ke dokter dan seandainya sakit cukuplah pengobatan non dokter yg mengobati. Benar masih bnyk ribuan orang yg ingin menjadi spt kami, titel dokter yg begitu wow... tp lihatlah mulai saat ini, dimana semua hny ingin menang sendiri, suatu saat hny akan ada bbrp org yg masih bersedia belajar bertahun2, kurang tidur, dan senantiasa siap sedia dituntut, dipolitisi dan di bui... di luar negeri dokter sdh bukan lagi idaman, pengacara, pengusaha adalah impian... dan mungkin kita sdh mulai mengerti mengapa...*mungkin dokter tidaklah sempurna, tapi tak seorangpun yg tdk pernah berhub dengannya baik langsung maupun tdk langsung...dan bukankah kita sll diajari rakyat dari bangsa yg besar adlh rakyat yg bs menghargai jasa org2 yg pernah membantunya.. ntah itu ortu, guru, tukang sapu, pembantu, buruh ataupun yg namanya dokter..sekian dan Sehat selalu Indonesiaku...

Anonymous said...

Dalam putusan, majelis kasasi menemukan kesalahan yang dilakukan dr Ayu dan dua koleganya. Kesalahan para dokter itu, menurut hakim, yakni tidak mempertimbangkan hasil rekam medis dari puskesmas yang merujuk Siska Makatey.

Rekam medis itu menyatakan, saat masuk Rumah Sakit (RS) Prof RF Kandou, Malalayang, Manado, keadaan Siska Makatey adalah lemah. Selain itu, status penyakitnya adalah berat. Kesalahan kedua, seperti dalam pertimbangan majelis kasasi, sebelum menjalankan operasi darurat kelahiran atau cito secsio sesaria, ketiga dokter itu tidak pernah menyampaikan kepada keluarga pasien setiap risiko dan kemungkinan yang bakal terjadi, termasuk risiko kematian.

Dalam dakwaan jaksa bahkan dijelaskan, tanda tangan Siska yang tertera dalam surat persetujuan pelaksanaan operasi berbeda dengan tanda tangan Siska pada kartu tanda penduduk (KTP) dan Kartu Askes-nya. Dokter Hendy-lah yang bertanggung jawab untuk meminta tanda tangan Siska.

Kesalahan ketiga, para dokter itu melakukan kelalaian yang menyebabkan udara masuk ke dalam bilik kanan jantung Siska. Hal itu menghambat aliran darah yang masuk ke paru-paru hingga terjadi kegagalan fungsi jantung. Berefek domino, hal itu mengakibatkan kegagalan fungsi jantung.

Dalam dakwaannya, jaksa menjabarkan, sebelum melakukan operasi, dokter tidak melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan jantung dan foto rontgen dada. Padahal, sebelum dibius, tekanan darah Siska tergolong tinggi, yaitu mencapai 160/70.

Pemeriksaan jantung baru dilakukan pasca operasi dilaksanakan. Dari pemeriksaan itu disimpulkan Siska mengalami kelainan irama jantung. Denyut nadi Siska, pascaoperasi mencapai 180 kali per menit. Hal itu pertanda bahwa pada jantung pasien terjadi kegagalan akut karena terjadi emboli, yaitu penyumbatan pembuluh darah oleh suatu bahan seperti darah, air ketuban, udara, lemah atau trombus.

Anonymous said...

Maksud koment diatas, dak semua dokter itu benar, kadang dokter itu salah dan kalau salah, melakukan keteledoran APALAGI SAMPAI MENGHILANGKAN NYAWA ORANG, ya dah sepantasnya dapatkan ganjaran.

Dokter warga negara juga, sama seperti pasien, kalau melanggar undang2 yang dah sepantasnya dipidanakan.

Seperti supir bus, kalau lakukan keteledoran sampai menghilangkan nyawa seseorang, ya, tetep saja harus dipidanakan. Dak bisa direlakan gitu saja. Korban itu tetep punya keluarga.

Bayangkan saja situ punya keluarga, dokter/bukan dokter, terus keluarga situ meninggal karena dokternya salah potong atau apa kecelakaan terus situ sekeluarga tau, pa situ mau diam saja ? dak toh ?

Jadi bok ya dimaklum, kalo salah sampai mengilangkan nyawa dokternya dipidana ya dah sepantesnya, dokter juga warga negara sama perti pasien toh ?

Kalo soal gaji kecil, ya itu tanyakan saja ma rumah sakitnya atau pemerintah. Masak rumah sakit yang sekali operasi biayanya nyekek rakyat kecil 700 juta-1 1/2 M, gajinya kecil, aneh to ?

Anonymous said...

saya setuju bila moral kebanyakan dokter indonesia sekarang sudah berada di ambang kritis. hal ini di perparah karena ketidak peduliannya pemerintah terhadap dokter dan mahalnya biaya untuk menjadi seorang dokter. makanya butuh solusi untuk menaikkan tunjangan dokter dan merendahkan biaya pendidikan menjadi dokter.

Anonymous said...

salam kenal,
saya seorang dokter dan saya berasal dari keluarga besar dokter. saya sudah lama "pensiun jadi dokter" dan berwiraswasta.ada kejadian menarik saat saya dibohongi teman relasi bisnis sekian ratus juta. nah pada suatu kesempatan, saya bisa melampiaskan "dendam" saya dgn membuat relasi saya tsb rugi lebih banyak dari yg saya alami.Relasi saya tsb berkomentar pada saya "dokter kok gitu kelakuannya" dan saya dengan tegas menjawab "saya sdh lama pensiun jadi dokter, dan dalam berbisnis saya bukan seorang dokter, saya hanya manusia biasa. Jadi kalo kamu bunuh saya, maka saya pun dengan senang hati membunuhmu juga". saya bisa bebas bereaksi sesuai dgn keinginan saya. Coba bayangkan susahnya jika jadi dokter sungguhan.... apakah bisa membalas "serangan2x" yg dialamatkan pada profesinya?? ndak mungkin bisa !!!

Anonymous said...

Profesi dokter itu sangat berjasa, pengabdian terhadap masyarakat. Semua profesi juga punya konsekuensi masing2, positif dan negatif, kembali pada pilihan masing2 ketika memutuskan kerja sebagai dokter. Jika tidak setuju dgn konsekuensi, tidak usah memilih jadi dokter. Jikalau semua profesi yang ada di Indonesia saling mogok, karna masing2 profesi merasa paling berjasa, waduh hello kurang kerjaan banget deh. Coba bayangkan jika pasien mogok, trus dokter kerja apa? Mgkn 1 hari pasien jgn masuk rumah sakit, trus dokter mau ngapain coba??

Anonymous said...

harusnya yang ngeliat salah atau tidaknya lembaga kode etik dari dokter.. kalo ada pelanggaran baru diserahkan ke pihak hukum.. menurut saya hehehe
muhiqbal.student.ipb.ac.id

Anonymous said...

Sebelum berkoar2 di blog. Tujuan dokter berdemo dan mogok kerja itu apa sih? Mau berupaya melihatkan super powernya sebagai healer? dengan tidak bekerja selama 3 hari bisa melumpuhkan negara. tujuannya apa? menginginkan dr. Ayu dkk dibebaskan. = dokter2 itu sandera hukum. Maunya hukum nurut dengan dokter yg notabene bersuper power "Healer".
Pernah kah MBAK lihat salinan putusan PN manado dan MA tingkat kasasi?
Saya tidak pernah menyalahkan malpratik dr. Ayu dkk tentang teknik pembedahannya. TP Malpraktik prosedural nya itu dengan jelas SALAH. dan itulah mereka di hukum karena menyebabkan kematian seseorang tidak dikehendaki. BACA putusannya secara hukum jgn ngertinya malpraktik = penjara. Baca salinannya. Jgn mentang2 jadi dr kaya udah jadi TUHAN. Sekolah dokter apa susahnya duit 500jt jg bisa buat masuk di Unair. kualitas dr lokal emang payah. COba anda mau specialist...apa gak susah jg kalo tanpa duit ama koneksi. PAYAH. SOK dewa.

manusia said...

ah kalo saya mah santai bae, tak ada rotan akarpun jadi, tak ada dokter, dukun pun jadi...

:D

Anonymous said...

salah siapa mentrei kesehatan dokter :p

baba ukaka said...

THANKS TO BESAR DR UKAKA UNTUK MENGATASI MASALAH MY EMAIL IS HIS (ukakaspellhome@gmail.com)

saya menikah dengan suami saya selama 5 tahun kami hidup bahagia bersama selama bertahun-tahun ini dan tidak sampai ia melakukan perjalanan ke Italia untuk perjalanan bisnis di mana ia bertemu dengan seorang gadis dan sejak itu ia membenci saya dan anak-anak dan mencintainya saja. jadi ketika suami saya datang kembali dari perjalanan ia mengatakan ia tidak ingin melihat saya dan anak-anak saya lagi sehingga dia mengantar kami keluar dari rumah dan sekarang dia pergi ke Italia untuk melihat bahwa wanita lain. jadi saya dan anak-anak saya sekarang sangat frustrasi dan saya hanya tinggal dengan ibu saya dan saya tidak akan memperlakukan baik karena ibu saya menikah dengan pria lain setelah kematian ayah saya jadi pria yang menikah untuk tidak memperlakukan dia dengan baik, i dan anak-anak saya di mana begitu membingungkan dan saya sedang mencari cara untuk mendapatkan suami saya kembali ke rumah karena saya mencintai dan menghargai dia begitu banyak sehingga suatu hari ketika saya sedang browsing di komputer saya saya melihat kesaksian tentang mantra ini kastor DR UKAKA kesaksian bersama pada internet oleh seorang wanita dan terkesan saya begitu banyak saya juga memikirkan mencobanya. Pada awalnya saya takut tetapi ketika saya berpikir tentang apa yang saya dan anak-anak saya melewati jadi saya menghubungi dia dan dia mengatakan kepada saya untuk tetap tenang untuk hanya 24 jam bahwa suami saya akan datang kembali ke saya dan saya terkejut terbaik saya menerima panggilan dari suami saya pada hari kedua meminta setelah anak-anak dan aku menelepon DR. UKAKA dan dia mengatakan masalah Anda diselesaikan anak saya. jadi ini adalah bagaimana saya mendapatkan keluarga saya kembali setelah stres panjang rem oleh seorang wanita yang jahat, supaya dengan semua bantuan ini dari DR UKAKA, saya ingin kalian semua di forum ini untuk bergabung dengan saya untuk mengatakan terima kasih besar untuk DR UKAKA, dan i akan juga saran untuk setiap satu masalah tersebut atau serupa atau masalah apapun juga harus menghubungi dia email nya) (ukakaspellhome@gmail.com ia adalah solusi untuk semua masalah Anda dan kesulitan-kesulitan dalam hidup. sekali lagi alamat email-nya adalah (ukakaspellhome@gmail.com)

HE IS SPESIALISASI BERIKUT SPELL.

(1) Jika Anda ingin kembali mantan Anda.
(2) jika Anda selalu memiliki mimpi buruk.
(3) Jika Anda ingin dipromosikan di kantor Anda.
(4) Jika Anda ingin perempuan / laki-laki untuk berjalan setelah Anda.
(5) Jika Anda ingin anak.
(6) Jika Anda ingin menjadi kaya.
(7) Jika Anda ingin mengikat suami / istri menjadi milik Anda selamanya.
(8) Jika Anda memerlukan bantuan keuangan.
(9) Bagaimana Anda telah scammed dan Anda ingin memulihkan Anda kehilangan uang.
(10) jika Anda ingin menghentikan perceraian Anda.
(11) jika Anda ingin menceraikan suami Anda.
(12) jika Anda ingin keinginan Anda untuk dikabulkan.
(13) Kehamilan mantra untuk hamil bayi
(14) Garansi Anda memenangkan kasus pengadilan mengganggu & perceraian tidak peduli seberapa tahap apa
(15) Hentikan pernikahan Anda atau hubungan dari berantakan.
(16) jika Anda memiliki penyakit apapun seperti (HIV), (KANKER) atau sakit apapun.
sekali lagi pastikan Anda menghubungi dia jika Anda memiliki masalah ia akan membantu Anda. alamat email-nya adalah (ukakaspellhome@gmail.com) menghubunginya segera.

Anonymous said...

Dokter juga manusia.
Ya.. Layaknya manusia kebanyakan.
Lebih mengutamakan uang daripada keselamatan pasien yg sdg sekarat

pratama. adhi said...

Dari sinilah saya selalu mencari informasi dari beberapa teman dan sahabat saya untuk memberikan masukan serta arahah agar aku bisa kuliah di fakultas kedokteran. Akhirnya saya diberikan Salah satu teman dari teman saya memberikan Saya NOMOR HP untuk saya Hubungi, hingga saya langsung menghubungi No HP tersebut, aku menelepon No HP itu sebanyak 2 kali baru bisa terjawab, akhirnya saya berbicara dan menyampaikan keluhan saya selama ini.

Dia merespon pembicaraan saya dan saya diberi petunjuk Untuk mengikuti 1 kali tes lagi, tapi bukan melalui jalur SNMPTN dan alur kerjasama. Penyampainyannya begini kalau memang adik mau saya bantu dengan janji kelulusan, maka saya akan bantu, tapi dengan 1 catatan adik harus menuruti apa yang akan nantinya saya arahkan, DAN SAYA JAWAB IYA SAYA SIAP, akhirnya dia menyuruh saya UNTUK MENGIKUTI JALUR NONSUBSIDI. Dan Saya jawab bukankah melalui jalur itu harus membayar terlalu banyak, katanya YA benar yang adik bilang, bahkan bisa sampai membayar ratusan juta. Tetapi adik tidak usah khawatir, saya bisa meluluskan adik dengan pembayaran hanya sebesar Rp. 20.000.000, saya menjawab bukankah biaya itu sangat sedikit, untuk jalur nonsubsidi, Ya adik memang benar apa yang adik bilang,

Dan saya jawab kalau biaya segitu pastinya saya sangat mau. Singkat cerita, hingga akhirnya berkat dia saya dinyatakan LULUS fakultas kedokteran UI yang saya idamkan. Dan itu menjadi rasa syukur yang amat mendalam bagi saya.

Dan darisinilah saya mengetahui kalau orang yang membantu saya hingga LULUS, adalah PEJABAT DIKTI DARI PUSAT, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi yang membidangi bagian kemahasiswaan.

Dia Adalah Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan.

Bpk Dr. Widyo Winarso
Ini No Hp-nya 0857-5619-0157.

Anda mau seperti saya yang bisa kuliah di fakultas kedokteran, langsung saja m'hubungi No hp Bpk Dr. Widyo Winarso, Semoga beliau bisa membantu kelulusan anda seperti beliau meluluskan saya dengan hanya mengeluarkan biaya sebesar 20 juta saja.

Semoga bermanfaat.

dodik said...

Koq seorang Menteri Kesehatan ngomongnya geblek banget? Ini negara Demokrasi bu, bukan negara mafia yang bisa seenak jidatnya mau membunuh orang! Ibu itu seorang dokter, bersikaplah profesional dan santun dalam segala hal. Jangan seperti preman pasar gitu dong bu!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...