Thursday, November 28, 2013

Surat Untuk Sejawat

Disclaimer: Sebenarnya saya sudah "berjanji" pada diri sendiri untuk tidak menulis ramai-ramai soal dokter lagi. Bukan apa-apa, jujur, saya capek juga membaca beratus komentar negatif yang masuk tiap harinya. Saya percaya, when negativity surrounds you, you can not produce a positive life. Bukan berarti juga saya menutup mata dan hati terhadap pandangan orang lain. Engga sama sekali, selama disampaikan dengan baik dan benar. (Baca: Bukan cuma komentar dari orang yang bahkan tidak mau menuliskan nama aslinya hanya untuk menyerang dengan kata-kata kasar). Kalau mau berdiskusi, boleh-boleh saja kok:)

Tapi rupanya tangan saya gatel juga nih ingin menulis setelah membaca respons banyak orang terhadap aksi dokter di timeline Twitter, Path atau Facebook. Seorang teman mengingatkan saya, people will always find something (bad) to say about us and to judge, so why bother? Benar juga, toh semua orang bebas beropini kan?:)

Rekan sejawat yang saya hormati,
Kemarin, tanggal 27 November 2013, kita sebagai dokter se-Indonesia melakukan aksi solidaritas. Ada yang berdoa bersama, tafakur sampai membagikan bunga. Kita memasang pita hitam di lengan jas putih sebagai tanda berbela sungkawa atas tindakan kriminalisasi profesi kita. Sungguh sangat"mengerikan" menyandang gelar dokter di negara tercinta ini. Niat yang baik tak lagi cukup. Usaha yang maksimal tak lagi dinilai. Menyedihkan mengetahui setiap saat kita bekerja menolong orang, ada kemungkinan besar pula kita dianggap sebagai pembunuh.  Yang saya ketahui, aksi solidaritas kemarin memang disepakati serentak agar memberikan efek massive pressure pada pemerintah untuk segera membenahi sistem pelayanan kesehatan agar kita sebagai dokter dapat merasa aman saat bekerja. Jika sistem pelayanan kesehatan sudah baik, tentu tak hanya dokter yang senang, pasien notabene masyarakat pun akan ikut sejahtera. Kita ingin sekali orang-orang mulia yang berpengaruh di pemerintahan mengetahui betapa acak-acakannya sistem pelayanan kesehatan kita.

Rekan sejawat,
Banyak reaksi yang menyambut aksi kita kemarin. Lihat saja di timeline twitter, Facebook atau Path. Hampir semua orang berlomba-lomba menghujat profesi kita. Tak sedikit pula media yang memberitakan dengan tidak berimbang. "Dokter Mogok, Pasien Terlantar." Begitu bunyi banyak headline media massa, diperburuk oleh orang-orang yang berkoar di sosmed tanpa mau bersusah payah meng-kroscek benar tidaknya berita tsb. Tidak tahukah mereka bahwa kita tidak pernah berniat menelantarkan pasien? Tidak mengertikah mereka yang menghujat kita dengan membawa sumpah dokter (entah mereka tahu benar bunyinya atau tidak), bahwa aksi yang hanya dijalankan beberapa jam itu tetap menomor satukan pelayanan? Pelayanan emergency tetap dibuka, pasien gawat darurat masih dilayani.  Di tempat saya bertugas, aksi solidaritas ini hanya berjalan selama 25 menit. Pasien rawat jalan (baca: TIDAK emergency) ditunda pelayanannya 25 menit.  Hanya 25 menit. Kita belajar seumur hidup, mengorbankan banyak hal, bekerja keras tak kenal waktu, untuk apa lagi kalau bukan untuk pasien? Bagaimana bisa kita menelantarkan mereka?

Rekan sejawat,
Setidaknya ada satu hal yang bisa kita catat dari reaksi masyarakat. Bahwa profesi kita sangat dibutuhkan. Bahwa walaupun dihujat besar-besaran, dokter masih sangat diperlukan.  Semoga hal ini bisa menyadarkan pemerintah untuk sesegera mungkin membenahi sistem pelayanan kesehatan.

Rekan sejawat,
Saya tahu betapa sedihnya kita semua mengetahui profesi kita, yang kita usahakan seumur hidup dengan sekian pengorbanan, dihujat oleh orang banyak. Saya tahu, bagaimana marahnya kita saat semua orang mencaci-maki dokter. Saya juga mengerti, mangkel sekali rasanya ketika masyarakat menjelek-jelekkan profesi dokter.  Saya tahu, banyak pemberitaan tak berimbang yang membuat profesi dokter tambah dijudge ini-itu. Percayalah, saya mengerti. Tapi please, jangan tersulut emosi. Banyak rekan sejawat yang menulis status di sosmed "Rasain tuh gimana rasanya engga ada dokter!" atau "Kalau sakit, engga usah ke dokter ya! Ke dukun aja sekarang!" dan komentar kasar sejenis lainnya. Walaupun kesal juga, saya tetap merasa pernyataan seperti ini tidak pantas. Bagaimanapun, selain pointless, komentar-komentar kasar hanya menambah rusuh suasana. Jangan jugalah mendiskreditkan profesi lain. Kita sama-sama manusia yang membutuhkan orang lain. Tanpa polisi, wartawan, hakim, pengacara, jaksa, buruh, tentu kita tidak bisa bekerja sebagai dokter dengan baik. Tunjukkanlah kalau kita memang tidak arogan, seperti apa yang dianggap banyak orang. Buktikanlah kalau memang kita berpendidikan. Tidak usah menanggapi komentar kasar asal lewat atau asal ngomong tanpa tujuan dengan balasan komentar yang sama kasarnya.

Rekan sejawat,
Reaksi masyarakat terhadap profesi kita memberikan kita banyak hikmah. Kita disadarkan pentingnya komunikasi dalam menghadapi pasien, dan dituntut untuk bekerja lebih hati-hati lagi.
Sekali lagi, jangan tersulut emosi. Ingat lagi apa sih tujuan kita ingin menjadi dokter? Apa tujuan kita bekerja sedemikian kerasnya? Apakah untuk status supaya kita bisa menganggap masyarakat tak berdaya tanpa kita? Apakah untuk penghargaan? Atau memang untuk menolong?
Saya tahu, sulit untuk menghapus citra negatif profesi kita di mata masyarakat. Tapi, kita bisa mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri. Hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil bukan?

Semua orang bebas beropini, termasuk yang negatif. Tak perlu kita ikut negatif pula. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menghujat kita? Negativity only leads you nowhere. Tetap semangat, hati-hati dalam bekerja, tetap percaya Gusti Allah mboten sare. Bahkan sebutir niat baik pun akan dihitung kelak. Toh, in the end, its the only thing that matters, right?:)

Wednesday, November 27, 2013

Mau Ulangtahun:p

Memang ulangtahun Naya yang ke-3 masih lamaaaa banget, tetapi anak gadis saya ini sekarang sedang rajin sekali mengingatkan saya untuk merayakannya. Saya ngerti sih sebabnya. Hampir setiap hari di sekolah Naya, ada yang berulangtahun. Ada yang dirayakan di sekolah, ada juga yang di luar sekolah seperti restoran fastfood.

Selama ini kami tidak pernah merayakan ulangtahun Naya. Pertimbangannya, karena Naya masih terlalu kecil untuk mengerti, selain itu -lagi-lagi:p- masalah waktu. Saya dan suami sama-sama sibuk untuk mengurus printilan ulangtahun. Tapi lain ceritanya kali ini. Naya sudah cukup besar, sudah mengerti arti ulangtahun, dan kami ingin sekali ulangtahun Naya dirayakan walaupun sederhana. Setidaknya Naya pernah merasa ulangtahunnya dirayakan. Selain itu, saya dan suami sudah lumayan bisa membagi waktu.  Saya yang rada OCD kalau soal planning, excited banget merencanakan ini-itu buat ulangtahun Naya:D Sama excitednya dengan yang mau berulangtahun:p

"Mama, nanti sebental lagi kalau kakak Aya birthday yang ke-3, happy birthday-nya di KFC ya. Kakak Aya nanti kan udah besal, ga takut lagi sama Chaki (Badut ayam icon KFC, Red)."

Atau:
"Mama, kakak Aya maunya happy birthday di Wendy's kayak ******* (temannya), bial banyak balonnya."

Saya memang engga anti-fastfood. Buat saya, fastfood untuk sekedar treat sekali-sekali engga masalah kok. Saya sendiri juga suka makan ayam KFC, apalagi yang original. Bumbunya enak banget! *apadehini*:))) Selain itu, restoran fastfood macam KFC atau McD ini menyediakan paket ulangtahun anak yang all-in. Semua sudah diurus, mulai makan, kue, acara, sampai goodiebag. Tahu beres. Praktis dengan harga yang sangat bersaing.

Hanya saja setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan untuk tidak merayakan ulangtahun di fastfood. Bukan apa-apa, kami ingin sekali menunjukkan bahwa makanan sehat pun bisa jadi fun kok. Konsekuensinya, saya harus mengurus semua dari tempat, dekorasi, acara, konsumsi sampai goodiebag. Horeeee!:;)

Untuk tempat, inginnya sih di rumah. Tapi tentu tidak mungkin karena rumah kami kecil mungil:)) Tidak mungkin juga di hotel karena mahal:p Saya masih survey banyak tempat nih. Doakan lancar ya:p

Thursday, November 21, 2013

Kakak Aya Ngaji

Update soal Naya nih!

Seperti yang pernah saya tulis disini, saya memang sempat khawatir karena Naya enggan bermain. Kerjanya belajaaaar terus. Engga mamanya bangetlah!:p

Tapi setelah saya tanyakan ke dokter konsultan tumbuh kembangnya, menurut beliau tidak masalah. Lega deh saya. Masih normal kok:p

Sekarang Naya sering sekali merengek minta diajarkan membaca. Alasannya begini:
"Kakak Aya mau baca buku celita sendiliiii. Nunggu mama dali lumah sakit lama. Mau baca maaa!"
 Kebayang engga sih, anak bayi saya yang satu ini rewel dan menangis karena minta diajari membaca?-___-"

Jujur saya sendiri agak takut mengajari Naya membaca atau berhitung. Saya pernah membaca di jurnal tumbuh kembang bahwa anak di bawah usia 6 tahun tidak boleh diajarkan membaca, apalagi berhitung karena memang belum waktunya. Lah anak saya sendiri memaksa terus. Bingung.

Selain merengek terus minta belajar membaca, Naya masih sering bertanya hal-hal yang saya engga ngerti bagaimana menjawabnya. Misalnya:

Naya: "Mama kan dotel anak ya? Jaganya jagain anak-anak kan?"
Meta: "Iya kak."
Naya: "Kalau papa dotel kandungan, belalti jagain kandungan-kandungan ya ma?"
Meta: "Eh bukaaaaan. Papa itu jaga orang hamil kak."
Naya: "Kenapa namanya dotel kandungan ma? Bukan dotel olang hamil?"
-__________-" (Saya musti jawab gimana coba iniiiiii)

Saya juga belajar banyak dari Naya. Terkadang sebagai ibu, saya suka gemes kalau Naya sudah mulai bertanya. Inginnya cepat selesai saja, sehingga langsung saya jawab. Padahal mungkin yang saya maksudkan tidak sama dengan Naya. Contohnya nih, suatu hari ketika kami sedang naik mobil dan melewati sungai.

Naya: "Mamaaaa, ini sungai temannya laut ya?
Meta: "Iya betul kak."
Naya: "Tuh lihat ma, ada ikannya banyaaaak sekali. Ikan lele, ikan paus, ikan duyung, macem-macem."
Meta: "Hmmmm" *sibuk nyetir*
Naya: "Ma, ada buayanya juga tuh."
Meta: "Oh ya?"
Naya: "iya, ada kudanya juga."
Meta: (Karena saya pikir kuda engga mungkin ada di air, saya mengkoreksi kata-kata Naya.
           "Kak, kuda kan engga bisa berenang. Ya ga mungkin dong ada di sungai."
Naya: "Ada kok ma."
Meta: "Ah, kakak ini kok ga mau dibilangin. POKOKNYA kuda itu engga bisa ada di air!" *mulai bete*
Naya: *pasang tampang mau mewek* "Ada ma, namanya kuda laut."
Meta: *ngakak*
Saya langsung banyak-banyak istighfar lho! Ya ampuuun, saya kok egois banget ya, cuma karena biar cepat selesai langsung memotong imajinasi Naya yang ternyata lebih benar dari saya:(
Maaf ya kak:(

Ini saya attach video waktu bayi 2.5 taun saya mengaji . (POKOKNYA tetap bayi saya! Mau sudah 17 tahun juga masih bayi saya;p)
video




Wednesday, November 20, 2013

Review- Ayahbunda

Yayyy!
Resensi "Dont Worry to be a Mommy!" dimuat di majalah Ayahbunda terbaru:)
Terimakasih Ayahbunda:*

Friday, November 15, 2013

Dokter Oh Dokter

Masih ingat dengan postingan saya soal Emang Enak Jadi Dokter? dan Respond to -Emang Enak Jadi Dokter?

Baru saja postingan itu saya buat belum ada sebulan. Saya masih ingat komentar pedas maupun yang mengkritik saya, seperti:


Waktu itu saya jelaskan di postingan setelahnya bahwa saya engga pernah ber-negative thinking terhadap siapapun. Saya menulis berdasarkan hasil googling saya yang kebanyakan memang ber-negative thinking terhadap dokter. Semua dibilang malpraktik. Segala dibilang dokter mata duitan. Tidak ada hasil googling dengan keyword "Dokter di Indonesia" waktu itu yang memberitakan suatu hal baik tentang dokter. Seakan-akan kalau dokter berbuat baik pada sesama, menyembuhkan pasien ya memang kewajibannya, bukan prestasi yang layak masuk media. Sekali lagi, berarti bukan saya dong ya yang ber-negative thinking?;)

Beberapa hari belakangan, social media heboh dengan berita (lagi-lagi) malpraktik. Saya sendiri juga bekerja di bidang media, dan tahu benar bahwa issue di bidang kesehatan sangat menarik minat pembaca atau penonton. Belum tentu berita yang ada benar, bisa jadi memang judulnya yang diberi banyak bumbu supaya terlihat wah. Makanya pertama kali mendengar kasus ini, saya mencari info sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber untuk mengetahui benar masalah. Kali ini kejadiannya di Manado, tiga orang dokter residen ilmu kandungan divonis bersalah karena "malpraktik" terhadap seorang wanita yang meninggal setelah dioperasi. Pasien, berusia 25 tahun dan mengalami emboli air ketuban. Operasi dilaksanakan, kemudian bayinya selamat namun pasien tadi meninggal setelah operasi. Keluarga pasien mengaku tidak dijelaskan dulu kemungkinan pasien bisa meninggal sehingga menuntut dokter tadi dipenjara.

Emboli air ketuban adalah kondisi yang sangat berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Saat ini terjadi, memang operasi sesegera mungkin adalah tindakan yang sesuai prosedur. Sepersekian detik pun sangat berarti. Time saving is life saving. Bagaimana kalau dokter yang menerima pasien ini memutuskan menjelaskan panjang lebar kepada keluarga mengenai tindakan dan risiko yang bisa terjadi saat operasi? Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan keluarga akan bertanya detail, membutuhkan waktu untuk berdiskusi satu sama lain yang tidak mungkin memakan waktu sebentar. Penjelasan bisa diberikan, tapi nyawa tidak terselamatkan. Lagi-lagi dokter yang pasti kena bukan? Pasti akan tetap dianggap malpraktik.

Kalau begini ceritanya, sedikit-sedikit dituduh malpraktik, jangan salahkan dokter kalau ada kecelakaan di pinggir jalan lantas tidak mau menolong karena takut. Jangan-jangan nanti kalau korban kecelakaannya meninggal, kami dibilang malpraktik? Jangan salahkan kami kalau enggan menolong pasien gawat darurat yang diantar polisi atau orang lain bukan keluarga. Nanti kalau ada apa-apa, jangan-jangan kami yang dipenjara?

Hari ini, seorang senior saya, dr. Ario Jatmiko sp. B(K). Onk menulis buah pikirnya di harian Jawa Pos. Mirip seperti curahan hati saya.Betapa tidak dihargainya profesi dokter menimbulkan ide untuk demo seperti buruh. Seperti kata ungkapan, if someone does not appreciate your presence, then make them appreciate your absence. Bagaimaa kalau dokter se-Indonesia demo mogok kerja?


Ada satu hal yang membuat saya istighfar berkali-kali ketika membaca tulisan ini. Menurut dr. Ario, ibu menteri kesehatan kita berkata "Kalau mogok, kalian akan saya bunuh pelan-pelan." terhadap para dokter di forum Urun Rembug Dokter Indonesia 2013. Astaghfirullah, bu istighfar yuk! Rasanya omongan macam ini sangat tidak pantas bagi seseorang yang berpendidikan, apalagi seorang pejabat negara.

Coba baca alinea terakhir tulisan tsb. Saya kutipkan yaa..
"Saya mohon petunjuk Bapak Presiden, Ibu Menkes, Bapak Menkeu, atau siapa sajalah, bagaimana cara dokter (dengan istri dan dua anak) merencanakan masa depan keluarga dengan pendapatan Rp. 1.200.000,00 per bulan?"

Saya tidak mengerti politik. Saya tidak mengerti bagaimana maksud pihak-pihak tertentu menjanjikan biaya rumah sakit gratis, biaya pelayanan kesehatan ini-itu gratis untuk masyarakat saat kampanye, sementara dengan 240 juta rakyat budget kesehatan hanya 2.7% APBN. Positive thinking, mungkin saja petinggi-petinggi ini berharap masyarakat Indonesia selalu sehat semua, sehingga hanya sedikit yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Atau apakah hanya pencitraan?  Terserahlah nantinya bagaimana, yang penting janji dulu ke masyarakat supaya terpilih. Entahlah.

Saya tidak mengerti hukum. Saya engga tahu sama sekali bagaimana bisa seseorang yang berusaha menyelamatkan nyawa orang lain TANPA DIBAYAR, sesuai prosedur bisa divonis hukuman penjara hanya karena orang yang diselamatkan tadi meninggal dunia. Apakah tidak bisa menjadi Tuhan adalah suatu kesalahan yang harus dihukum? Entahlah.

Saya tidak mengerti ilmu Kriminologi. Apakah seseorang yang berusaha menolong kemudian orang yang ditolongnya meninggal karena penyakit sendiri adalah suatu tindakan kriminal? Apakah si penolong tadi bisa dikatakan sebagai penjahat? Entahlah.

Saya hanya mengerti satu hal, bahwa sebagai dokter kami harus menolong sesama yang membutuhkan semaksimal mungkin. Kami bukan dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Kami hanya bisa berikhtiar.  Masalah hidup dan mati adalah rahasia Yang Di Atas. Orang yang sehat saja bisa meninggal dalam tidur kan?

Percayalah juga kalau rejeki sudah diatur. Mungkin uang Rp. 1.200.000,00/bulan kelihatan engga masuk akal di jaman serba-mahal begini. Apalagi buat yang sudah berkeluarga dan punya anak. Hari gini, uang pangkal masuk sekolah saja bisa belasan juta! *curcol:p* Tapi kalau Allah berkehendak, pintu rejeki bisa terbuka dari segala penjuru.

Yakinlah, sebutir niat baik pun akan tercatat, Gusti Allah mboten sare. Ada timbangannya sendiri-sendiri kelak. Tak mengapa dihujat atau direndahkan, diledek sampai "dianiaya" di dunia, hanya Allah yang Maha Tahu. Tetap semangat yuk TS!:)

Salam TS!

Thursday, November 14, 2013

Ayo Main Nayaaa!

Children learn BEST through play. (Unknown)
Saya percaya, anak-anak akan belajar banyak hal dengan cara yang sangat menyenangkan setiap kali bermain.   "Pekerjaan" utama seorang anak ya memang hanya bermain, bukan?
Karena itulah saya agak khawatir pada Naya akhir-akhir ini. Sudah 4-5 bulan belakangan, Naya tidak mau bermain. Apa saja. Masak-masakan, tidak mau. Boneka, apalagi. Kasir-kasiran, tidak juga. Semua jenis permainan yang biasanya gemar Naya lakukan tidak lagi disentuh.

Saya sudah mengajak Naya main bersama. Dokter-pasien, penjual-pembeli, atau apa sajalah, semuanya tidak ada yang diminati. Padahal biasanya paling doyan. Sekarang benar-benar mogok main. Lalu apa saja yang Naya lakukan?

Setiap saat Naya ada di meja belajar Hello Kitty-nya. Mewarnai, menulis, menggambar, menempel, atau pekerjaan sejenis lainnya. Memang saya akui, kemampuan motorik halus Naya berkembang pesat. Di usianya yang ke 2.5 tahun sekarang, Naya sudah bisa menulis huruf A-Z, angka 1-10, menghubungkan titik-titik yang membentuk gambar dengan rapi, mewarnai tanpa keluar garis atau menggambar bentuk (lingkaran, kotak, segitiga) dengan jelas. Mungkin itu hikmahnya ya. Tapi tetap saja saya khawatir bukan main. Saking khawatirnya, saya sampai 'melepas' Naya di toko mainan dan menyuruhnya memilih. Apa saja yang ia mau. Apa saja. Hasilnya? "Kakak Aya mau ke toko buku aja, ma. Ga mau disini." Begitu jawabnya. -________________-"
 Ketika saya 'paksa', akhirnya Naya memilih mainan....puzzle-_-"
Hasil kerjaan anak bayi yang hobi bener belajar. Entah nurun sapa:p

Mungkin kekhawatiran saya tidak cukup beralasan ya, tapi tetap saja namanya emak, rasanya kurang afdol kalau engga parno saat ada yang "engga biasa" di anaknya::)

Oh ya, Naya punya daya hafal yang luar biasa. Saya ingat baru 4x mengajarkan surat Al-Fatihah padanya, dan dia sudah hafal benar. Saat ini Naya sudah hafal berbagai surat. An-Nas, Al-Ikhlas, sampai Al-Falaq. Jangan ditanya soal lagu. Segala macam lagu yang baru saja didengar langsung ditiru. Makanya saya masih pikir-pikir buat mengijinkan Naya nonton TV nih. Kebayang engga kalau dia langsung copy-paste semua yang didengarkan dari TV?

Saya ingat pernah kedatangan pasien, baru umur 4 atau 5 tahunan. Saat saya melarangnya makan cokelat, dengan kenes ia menjawab, "Kenapa? Masalahhhhh buat loooooe?". Ibunya bangga sekali:D
Semoga Naya engga pernah begitu ya. Saya masih merasa bahwa kalau mengijinkan Naya nonton TV, stimulasi yang masuk tidak bisa saya saring. Demikian juga dengan gadget. Naya sering menggunakan handphone atau tablet saya hanya untuk foto-foto-__________-"

Kembali ke soal bermain, saya benar-benar parno nih ada yang salah dengan Naya atau dengan cara pengasuhan saya. Saya takut kalau nanti saat Naya memang harus belajar dia justru tidak mau. Rencananya akan saya konsulkan Naya ASAP. Hasilnya saya update lagi nanti yaaa.. Doakan, tidak ada sesuatu yang serius:D

Regards,
Emak Parno:p





Book Review Contest

Sudah pada ikutan Book Review Contest-nya Stiletto belum?
Ini saya copas dari web resminya disini;;)

Banyak banget lho hadiahnya, ikutan yaaa!

Berikut Ketentuan Lombanya:
  1. Membuat review buku "Don’t Worry to be a Mommy!" di Blog pribadi masing-masing. Bagi yang tidak memiliki Blog, boleh membuat reviewnya di notes Facebook.
  2. Panjang review tidak lebih dari 500 kata (kurang lebih 1,5 halaman A4)
  3. Sertakan foto Anda atau foto anak Anda bersama buku ini dan posting bersamaan dengan review bukunya. 
  4.  Peserta wajib follow Twitter: @Stiletto_Book dan Like Fan Page Facebook: Stiletto Book
  5. Mengirimkan link review Anda ke email: stilovers@yahoo.com dengan subjek: Review DWTBAM - (Nama Anda), paling lambat 30 November 2013, pukul 23.59 WIB.
  6. Twit link postingan Anda dengan format: Review "Don’t Worry to be a Mommy" #DWTBAM by @MetaHanindita terbitan @Stiletto_Book - (Link review Anda). Jika tidak memiliki akun Twitter, boleh membuatnya di status Facebook.
  7. Penulis yang memiliki akun Goodreads, silakan salin review Anda dan unggah ke Goodreads. Link: https://www.goodreads.com/book/show/18722479-don-t-worry-to-be-a-mommy

Pemenang!
Pemenang akan diumumkan di website: www.StilettoBook.com pada tanggal 5 Desember 2013. Akan dipilih 3 pemenang, masing-masing mendapatkan:
  • Pemenang #1: Baby jumpsuit merek Mothercare, binder “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea Menggapai Mimpi & Girl Talk, serta satu paket serial Good Morning!
  • Pemenang #2: Baby towels, blocknote full colour “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea for Single Mom & Ladies’ Journey, serta satu paket serial Good Morning!
  • Pemenang #3: Baby toys, blocknote dan magnet “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea for Complicated Relationship & Hitam Putih Dunia Angel, serta satu paket serial Good Morning!

Monday, November 11, 2013

Kelas Inspirasi 2013


Pernah dengar Kelas Inspirasi?

Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti 1 hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar Sekolah Dasar, yaitu pada Hari Inspirasi.

Para profesional diajak untuk menceritakan mengenai profesinya. Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Bagi para profesional pengajar, Kelas Inspirasi dapat memberi pengalaman mengajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa. Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.
 (Diambil dari web resmi Kelas Inspirasi)

Pertama kali mendengar soal program ini, saya langsung sangat tertarik. Pertama, saya sangat suka mengajar. Bahkan dulu saya pernah bercita-cita menjadi guru:D Menurut saya, mengajar itu akan sangat menyenangkan untuk yang suka belajar seperti saya. Saya suka mengetahui hal-hal baru. Dengan mengajar, otomatis kita akan selalu berusaha lebih tahu ini-itu. Selain itu, saya selalu menyukai perasaan setelah berbagi. Rasanya... priceless deh;)

Sayangnya pada saat pertama kali KI diadakan di Surabaya, saya sedang sibuk-sibuknya bertugas. Boro-boro cuti satu hari, wong saya yang sedang kena demam berdarah saja sampai harus tetap masuk dengan infus di tangan:)))

Karena itu, saat mengetahui KI akan diadakan lagi tanggal 11 November ini, saya segera mendaftarkan diri. Kebetulan, stase saya sedang tidak terlalu sibuk. Bolehlah ijin sehari;) Ketika mendaftar, saya masih tak yakin benar akan mengenalkan profesi dokter. Saya pikir akan banyak dokter-dokter lain yang mendaftar, sehingga saya memilih profesi lain, yaitu penulis. Harapan saya, semakin banyak anak yang tertarik untuk membaca. Toh, bagaimanapun membaca dan menulis erat kaitannya.

Seminggu sebelum hari-H, ada briefing untuk para relawan. Sayangnya, saya tidak bisa hadir karena harus jaga RS. Walaupun begitu, pihak panitia -yang baik hati dan dermawan- menyempatkan diri briefing susulan untuk saya sendiri di suatu sore.

Pada saat briefing tersebut, saya mengetahui dari panitia kondisi sekolah yang akan saya datangi. Letaknya di Wonokusumo Kulon (12 tahun di Surabaya, saya sama sekali engga punya bayangan dimanakah ini). Sekolah ini mempunyai KLK atau Kelas Layanan Khusus, program pemerintah untuk menyekolahkan anak-anak tidak mampu yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup juga. Jangan heran, banyak anak jalanan, yang orangtuanya gelandangan atau tukang rombeng di kelas ini. Menurut kepala sekolahnya, sulit sekali membuat anak didiknya tetap bersekolah. Dalam sebulan, hanya beberapa hari saja mereka masuk, sisanya absen. Kalau ditegur, jawabnya "Kalau saya sekolah, ya saya nanti engga makan, Pak".

Nyeeeees banget. Anak kecil yang mustinya engga perlu repot mikirin segala macem selain sekolah dan bermain juga harus bekerja mencari uang demi bisa makan. Saya merasa tertampar banget lho ini, ingat waktu saya kecil dulu kadang buat sekolah saja malaaaasnya minta ampun. Padahal tinggal berangkat.

Anyway, mendengar ini saya justru tambah excited. Buat saya, menginspirasi anak-anak seperti ini adalah suatu tantangan yang harus bisa saya lakukan. Harapan saya, anak-anak ini akan termotivasi untuk mempunyai cita-cita setinggi mungkin. Akhirnya, saya "beralih profesi" dari penulis menjadi dokter. Pertimbangan saya, rasanya hampir semua anak pernah bercita-cita menjadi dokter;;)
Di sekolah tempat saya ditugaskan mengajar, hanya ada dua orang inspirator. Saya dan ibu Nia, seorang konsultan Child Protection dari UNICEF.

Beberapa hari sebelum hari inspirasi, saya mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena info dari panitia tidak ada LCD, papan tulis pun masih black board dengan kapur, saya tidak mungkin menyiapkan presentasi dengan laptop. Jadilah saya memutuskan untuk sharing dengan gimmick saja. Saya siapkan pulpen berbentuk suntikan yang sengaja saya pesan online dengan kilat khusus:p, buku ilmu pengetahuan tentang bagian tubuh manusia, serta buku Kecil-kecil Punya Karya yang ditulis seorang anak berusia 10 tahun, tidak berbeda jauh dengan usia anak-anak di SD tsb. Tujuannya tentu untuk memberikan mereka contoh. "Ini lho ada anak seumur kalian bisa nerbitin buku sendiri. Engga ada yang engga mungkin kok kalau berusaha terus."
Bolpen suntikan yang laris manis diminta anak SD;)


Hari-H, saya berangkat pagi hari karena belum tahu lokasi dengan pasti. Jaraknya lumayan juga ternyata dari rumah saya. Masuk ke gang dan pemukiman kumuh. Kebersihannya kurang terjaga, dan hampir jarang pepohonan yang ada karena sempitnya. Rupanya saya datang kepagian -as always-, belum ada relawan atau panitia yang datang ke SD tersebut. Saya menunggu di kantor pak Kepala Sekolah. Beliau akhirnya ngobrol panjang lebar.
Jadi guru sehari. Ternyata ada juga white boardnya.

Beliau cerita, ada anak didiknya yang jarang sekali masuk sekolah. Ayahnya sudah meninggal, ibunya terserang stroke dan lumpuh total. Setiap hari anak ini harus merawat ibunya. Menggendong ke kamar mandi, memandikan, sampai menyuapi makanan. Selain itu, karena tidak ada keluarga lain, dia juga harus 'bekerja' untu mencari makan. Sedih banget ya dengernya.

Ada lagi cerita yang lain. Seorang anak yang orangtuanya gelandangan, berniat sekali untuk sekolah. Hanya saja, kalau dia sekolah ayahnya akan marah besar karena dianggap mengurangi pendapatan keluarga. Dia diharuskan ikut mengemis atau sekadar mengamen di jalanan. Sekarang anak tadi sudah remaja, dan menjadi perampok. Pak Kepsek menceritakan ini pada saya dengan berkaca-kaca, merasa gagal mendidik. Saya yang hanya mendengar saja ikut mbrebes mili. #TeamMewek

:'(

Saya kebagian mengajar kelas 6 dan kelas 5, masing-masing selama satu jam. Saya keder juga begitu masuk ke kelas. Hampir semua berteriak-teriak saat saya bicara, dan berbicara kotor. Saya kaget lho, anak seumuran begitu bisa misuh-misuh. Kaget sekaligus juga prihatin tentu, karena pasti anak-anak tadi meniru lingkunga terdekatnya bukan?:(
Semuanya semangaaaaaaat!

Saya memperkenalkan profesi dokter pada mereka. Saat saya tanya "Siapa yang cita-citanya mau jadi dokter?". Dengan semangat mereka mengangkat tangan berteriak "SAYAAA!!" tapi lalu disambung dengan "tapi yo cita-cita ae buuuu. Kadohennnn jadi dokter. Jadi tukang bakso aelah ben bisa nyoba maem bakso." Salah satu murid tadi menjawab. Lagi-lagi saya hampir mbrebes mili. Duh, cengeng amat ya saya.

Anak-anak itu berebutan menjawab pertanyaan atau bahkan bernyanyi di depan kelas untuk mendapatkan hadiah dari saya. Semangat, seolah-olah tidak punya beban sama sekali. Saya sempat bertanya "Siapa disini yang suka boloooos?"

Banyak yang mengangkat tangan. Salah satunya menjawab keras "Sayaaa bu! Kalau Kamis pasti bolos. Mending cari uang nang kuburan, uakeh bu!". Polos, riang dan semangat. Khas anak-anak.

Setelah bercerita serba-serbi menjadi dokter, termasuk mengundang salah satu murid mendengarkan detak jantungnya sendiri dengan stetoskop dan menyelipkan beberapa edukasi kesehatan seperti harus cuci tangan dengan benar, atau tidak boleh jajan sembarangan, saya meminta mereka menuliskan cita-cita di kertas warna-warni. Kertas ini akan ditempelkan di 'Pohon Harapan". Harapan saya, semoga setiap melihat tulisan cita-cita mereka di dinding kelas, mereka akan selalu bersemangat berusaha mencapainya. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin bukan?;)

Bu Nia, anak-anak SD Wonokusumo dan pohon harapan mereka:)
Hampir separuh kelas menulis ingin menjadi dokter. Bahkan ada satu tulisan yang membuat saya tersipu malu:p. Jelas tertulis "ingin jadi seperti dokter Meta". So sweet ya:')

Setelah 3 kelas (4.5.6) selesai kami ajar, waktunya untuk penutupan. Kami menerbangkan balon cita-cita dan mimpi.

Fly your dreams to the bluest sky;) credit to @SuhardimanEko
Buat saya, justru sayalah yang sangat merasa terinspirasi. Alhamdulillah saya diingatkan untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt. Alhamdulilah saya diingatkan untuk lebih sering berbagi pada mereka yang tidak seberuntung saya. Alhamdulillah saya diingatkan untuk tidak gampang mengeluh. Maklum deh ya, saya tuh sering banget mengeluh. Surabaya panas, macet, capek di rumah sakit, susah banget istirahat, acara TV engga ada yang bagus, apa sajalah bisa saya keluhkan. Malu kan ya sama anak-anak tadi? *tamparmukasendiri*

Semoga walaupun singkat, saya bisa menginspirasi anak-anak tadi untuk belajar keras demi mencapai cita-cita yang setinggi langit. Saya tahu, apa yang saya lakukan mungkin sangat kecil artinya untuk pendidikan bangsa ini. Tapi sesuatu yang besar selalu berawal dari hal kecil bukan?:D

Hari inspirasi. Sehari berbagi, selamanya menginspirasi.

Speak Up!

Pada saat ditugaskan di Balung, Jember untuk yang kedua kalinya beberapa bulan yang lalu, saya mendapat message via Facebook yang meminta saya menjadi pembicara di workshop Speak Up! Public speaking and upgrading your personality. Acaranya diadakan di kampus A FK Unair, dan akan diikuti mahasiswa kedokteran. Waktu itu, walaupun belum tahu bisa engganya saya datang, saya langsung menyanggupi. Pokoknya iya dululah, urusan bisa apa engga belakangan:p

Saya menyadari, public speaking ini penting banget. Engga cuma buat orang yang bekerja di bidang media, broadcasting atau public relation saja. Semua profesi yang berhadapan dengan orang lain penting menguasai public speaking. Mahasiswa kedokteran termasuk di antaranya.


Saya menyiapkan presentasi dalam bentuk powerpoint, kebanyakan video supaya tidak membosankan. Datang jam 8 pagi, dan selesai jam 9 pagi. Saya senang karena responsnya luar biasa, jauh dari yang saya harapkan. Terimakasih yaa panitia Speak Up! Kalau ada lagi, saya mauuu banget ikut;)







Terimakasih foto-fotonya ya, panitia!:)

Saturday, November 9, 2013

Review - MommiesDaily

Senang sekali rasanya waktu saya di-poke @nenglita di twitter yang ngasih tau soal review buku "Dont Worry to be a Mommy!" ini di MommiesDaily:)

Terimakasih mbak Lita:*



Tuesday, November 5, 2013

Review Femina

Sudah agak lama saya berlangganan majalah Femina. Tepatnya sejak Femina merilis versi digital di Apple Store. Saya juga engga pernah ketinggalan membaca setiap edisinya secara detail.
Hampir pasti tidak ada bagian yang terlewatkan untuk dibaca.

Makanya saya agak kaget juga ketika suatu hari, seorang senior saya bilang buku Dont Worry to be A Mommy! direview majalah Femina terbaru. Kok saya bisa engga tau ya?:)))

Yah harap maklum, saya lagi flu berat nih. Rasanya migren, sinusitis sampai rhinitis alergi saya kambuh semua barengan. 

Anyway, terimakasih Femina!😘

Friday, November 1, 2013

Respond to -Emang Enak Jadi Dokter?-

Sejak beberapa hari yang lalu, setelah saya memposting Emang Enak Jadi Dokter? , saya kebanjiran respon yang luar biasa. Jujur, saya kaget juga, engga pernah mengira kalau tulisan saya tersebut banyak (bangeeeet) dibaca orang. Sepertinya berawal dari beberapa orang yang men-share link postingan tsb di social media dan akhirnya jadi beredar luas kemana-mana.

Banyak email, message FB, twitter, sampai komentar blog masuk di account pribadi saya. Kebanyakan memang adalah TS dokter yang merasakan hal yang sama dan minta ijin untuk men-share tulisan ini. Ada yang sampai setengah 'memaksa' saya mem-publish tulisan tadi di media massa. Ada juga yang protes, jelas-jelas mengatakan saya melebih-lebihkan kesengsaraan profesi dokter yang menurut ybs "engga segitunya" deh. (FYI, yang bilang begini bukan berprofesi sebagai dokter;))

Ada lagi yang membandingkan dokter dengan profesinya, dan setelah pembahasan panjang lebar, tetap saja menyimpulkan jadi dokter itu paling enak, bisa banyak uang. (PS: sekali lagi, ybs bukan dokter;p)

Sebenarnya, saya menulis Emang Enak Jadi Dokter? karena satu tujuan. Menurut saya, banyak hal yang diketahui oleh masyarakat umum, belum tentu benar dan harus diluruskan. Kebanyakan orang berpikir menjadi dokter itu kerjaan paling enak dan pasti bakal kaya. Kalau tidak sekarang, nanti pasti bisa. Hampir semua orang sepertinya berpikiran seperti itu. Makanya seperti yang saya bilang, banyak orangtua yang mencita-citakan anaknya jadi dokter walaupun mungkin anaknya sendiri tidak mau. Mati-matian bekerja mencari uang untuk menyekolahkan anaknya pun tak mengapa, habis dana ratusan juta rupiah pun tak masalah, yang penting jadi dokter. Toh, nanti kalau sudah jadi dokter bisa 'balik modal'. Bener engga?

Akhirnya, IMHO ini yang akan menjadi 'lingkaran setan'. Dengan pola pemikiran yang seperti ini, engga salah dong kalau pada akhirnya banyak dokter bekerja hanya untuk mencari uang sebanyak-banyaknya agar 'balik modal'? Kan memang itu tujuannya. Setelah 'balik modal' lalu apa? Menjadi kaya. Cita-cita menjadi kaya ini buat saya agak 'jebakan' sebetulnya. Tidak ada definisi yang paling benar mengenai kaya. Sejauh mana seseorang bisa dibilang kaya? Punya mobil mewah? Harus punya rumah tingkat 2  misalnya? Namanya juga manusia, tidak pernah akan ada puasnya. Apalagi yang menyangkut soal materi, tidak akan ada selesainya.

Sah-sah saja orang bercita-cita menjadi kaya, engga ada salahnya menurut saya. Yang salah, kalau untuk mencapai cita-cita tersebut, akhirnya menghalalkan segala cara termasuk yang kotor sekalipun.

Saya sejak dulu bercita-cita menjadi dokter bukan karena ingin kaya. Tidak pernah terbersit sedikit pun hal tersebut. Mau dibilang sok mulia, sok suci pun silakan. Saya engga peduli kok;) Masalah niat adalah urusan saya dengan Yang Di Atas:)

Tentu apa yang saya pikirkan hanya berlaku untuk saya pribadi, saya tidak menggeneralisasi semua dokter begitu. Saya cuma ingin bilang, engga semua dokter mata duitan lho.
Saya juga ingin mengajak teman-teman dokter untuk kembali meluruskan niat dan tetap semangat. Engga apa-apa kalau merasa tidak dihargai di dunia ini, engga usah khawatir, Gusti Allah mbonten sare:)

Ada lagi yang bilang kalau saya bernegative thinking terhadap pasien yang membatin engga-engga atau berpikiran buruk terhadap dokter. Hehe, coba dibaca ulang deh tulisan saya tanpa emosi dulu. Kan saya bilang tulisan tsb berdasar atas hasil googling saya. Sepanjang hasil googling itu, memang yang paling banyak adalah yang memberitakan hal negatif tentang dokter. Mulai yang berpendapat dokter sekarang duit-minded sampai gampang malpraktik. Adakah yang memberitakan hal positif? Jarang. Hampir engga ada bahkan. Sepertinya kalau dokter melayani pasien dengan baik sampai sembuh itu memang 'kewajiban'nya, bukan suatu prestasi yang harus diberitakan. Tapi seandainya ada sedikit saja kesalahan (yang bisa jadi bukan benar-benar kesalahan), semua berlomba-lomba heboh menjadikan bahan omongan. Bukan saya dong ya yang negative thinking?:D

Saya tidak bermaksud menjudge orang lain, karena seperti yang pernah saya tulis disini, before i judge and comment on anything, i'll make sure ive tried to be in their shoes first. Kalau memang engga bisa, ya jangan. Engga perlu men-judgelah. Engga ada gunanya juga kan?:)

Saya engga mau bilang dokter itu profesi paling terhormat, profesi paling menjanjikan untuk kaya atau predikat lainnya, karena saya yakin apapun profesinya tentu mempunyai tanggungjawab dan risiko masing-masing. Hanya saja, tentu engga bisa saya bahas karena bukan profesi saya. Walaupun saudara saya ada yang bankir, kakak sepupu saya ada yang insinyur dsb, saya tetap merasa bukan kapasitas saya untuk 'bercerita' sebagai profesi tsb.

Saya engga punya niatan sama sekali untuk berkeluh kesah. Coba baca lagi deh. Saya tetap bersyukur dengan profesi saya apapun yang terjadi. Saya bingung juga nih ya kalau ada yang bisa bilang saya berkeluh kesah seakan-akan dokter adalah profesi yang paling sengsara. Di bagian sebelah mananya ya?:) Tulisan saya murni berdasar apa yang sebenar-benarnya terjadi di lapangan dan pengalaman saya sendiri. (Rasanya kalau tidak mengalami sendiri, tidak bisa mengerti benar ya). Tidak ada satu kata pun yang saya tulis yang menyiratkan bahwa dokter itu sengsara. Kalau yang membaca bisa sampai menganggap begitu yaaa, apa boleh dikata. Persepsi orang boleh-boleh saja berbeda:)

Terimakasih banyak untuk segala atensi yang telah diberikan, baik yang merasa senasib sepenanggungan atau yang merasa 'dirugikan' dengan tulisan saya. Saya tidak punya niatan sedikit pun menyinggung profesi lain maupun membuat profesi dokter seakan-akan paling sengsara. Saya juga engga punya pikiran negatif sama sekali tentang pendapat orang lain mengenai dokter, dan saya harap orang-orang juga engga punya pikiran negatif tentang dokter. Semoga.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...