Tuesday, July 18, 2017

Stunting pada Anak


Akhir-akhir ini, saya sering merasa gemas melihat semakin banyak anak yang mengalami gizi kurang, bahkan gizi buruk. Kalau beberapa waktu lalu anak dengan gizi kurang atau gizi buruk kebanyakan diderita mereka dari kalangan menengah ke bawah, sekarang yang dari kalangan menengah ke atas pun banyak lho! Tapi yang lebih banyak lagi saat ini adalah anak yang stunting atau pendek.
Sumber: Google

Yang membuat saya lebih “gemas” lagi adalah “pembenaran” yang sering kali terdengar dari orangtuanya.

“Ya maklumlah dok, anak ini aktifnya bukan main. Lari ke sana, lompat ke sini, tak ada diamnya. Wajar kalau badannya jadi terlihat langsing”

“Habis bapak ibunya juga kecil begini dok, yaa gimana dong hehe”


“Ah tak mengapalah dok kurus juga, yang penting sehat.”

Sering mendengar “alasan” seperti itu? Saya sih sering bangeeeet. Lalu kenapa saya yang gemas?

Tahu tidak, Indonesia menempati lima besar dari seluruh negara di dunia sebagai negara dengan angka stunting (pendek) terbesar. Apakah itu stunting? Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis atau berkepanjangan. Kondisi kekurangan gizi bisa ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir, tepatnya di 1000 hari pertama kelahiran.

Gampangnya begini deh, jika seorang anak berat badannya tidak naik, atau naik tapi tidak sebanyak yang seharusnya, maka lama-lama, tinggi badannya pun akan terpengaruh. Supaya seorang anak tidak tampak kurus sekali, maka kompensasinya adalah tubuh tidak akan bertambah tinggi. Jadi sekilas mata memandang sih, bisa jadi anak tersebut tampak baik-baik saja (baca: tidak kurus-kurus amat), tapiiii.. kalau dibandingkan dengan anak sebayanya, pasti ia akan tampak lebih pendek. Kondisi inilah yang dinamakan stunting. Stunting ini sulit sekali untuk diperbaiki, sehingga memang betul kata pepatah, “Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati”.

Bukan hanya pendek, stunting juga punya banyak dampak merugikan untuk seorang anak. Penelitian menunjukkan bahwa stunting berdampak buruk pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan menurunkan produktivitas seseorang kelak.

Ada satu penelitian jangka panjang yang sudah dilakukan di Guatemala nih. Jadi anak-anak yang pada usia 3 tahun tidak stunting dibandingkan dengan anak-anak yang stunting pada 35 tahun kemudian. Hasilnya? Mereka yang tidak stunting waktu berusia 3 tahun itu ternyata memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, memiliki pekerjaan yang menghasilkan gaji lebih tinggi atau “white collar”. Sedangkan kelompok yang stunting saat berusia 3 tahun ada yang tidak bekerja (homeless), atau bekerja kasar seperti kuli dan pesuruh.

Penelitian juga menunjukkan kalau anak-anak yang mengalami stunting, pada saat dewasa lebih berisiko terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, dan obesitas.

Karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa, bisa dibayangkan ya bagaimana jadinya bangsa kita 30 tahun mendatang jika saat ini angka stunting di Indonesia masih tinggi? Lalu tanggung jawab siapakah itu? Tentulah tanggung jawab kita, sebagai orangtuanya.

Apa yang harus kita lakukan? Ada beberapa cara mudah kok yang bisa kita, sebagai orangtua lakukan untuk mencegah stunting. Yang pertama, please, be concern dengan masalah nutrisi anak. Jika berat badan bayi anda tidak naik setiap bulan, atau naik namun hanya sedikit, atau bahkan turun, segeralah konsultasikan ke dokter. Buang jauh-jauh segala “pembenaran” seperti anak aktiflah, ibu bapaknya kecillah, apalah apalah. Patut diingat, SEMUA anak sehat PASTI AKTIF. Jangan juga menjadikan faktor genetik sebagai alasan. Memang genetik akan sangat berpengaruh, tapi jangan lupa, banyak faktor lainnya yang bisa lebih berpengaruh untuk tumbuh kembang yang optimal. Dan satu lagi, kalimat “Yang penting sehat”. Perlu dicatat nih, bahwa kesehatan yang harus dipikirkan bukan hanya saat ini saja, tapi jauh ke depannya pula.

Jadi jangan malas-malas ya Pak, Bu, untuk memantau pertumbuhan anak anda. Catat pertambahan berat badan per bulan, bagaimana juga dengan tinggi badannya, sehingga jika mulai terlihat ada gangguan, dapat segera diatasi.

Cara lain adalah dengan memastikan memberikan sumber nutrisi terbaik. ASI eksklusif dan MPASI yang benar (soal MPASI ini nanti saya tulis terpisah yaa). Jika memang tidak dapat memberikan ASI eksklusif, berikan ASI donor/susu formula dengan benar. Jaga juga kebersihan lingkungan yaaa, ini pun bisa sangat berpengaruh lho!

Semoga suatu hari nanti, anak-anak Indonesia bisa terbebas dari stunting, aamiin!

*Edited:
PS: Berhubung malah jadi banyak yang baper dan bilang kalau saya men-judge ibu lain, hehe saya mau sedikit curcol nih. Percayalah bu ibu, pak bapak, saya pun (sebagai ibu) PERNAH  berada dalam posisi tersebut. Naya, anak saya sendiri pernah seret naik beratnya, dan saya mencari pembenaran seperti "yang penting sehat" atau "Kayaknya nurun saya deh nih". Itu terjadi sebelum saya mendalami ilmu nutrisi anak. Setelah tahu, saya terapkan pada Naya, Alhamdulillah berat dan tingginya ideal sampai saat ini. Itu yang ingin saya share dengan yang lain. Anggap saja saya beruntung, dapat kesempatan untuk belajar lebih dalam soal nutrisi anak sehingga akhirnya anak saya sendiri terhindar dari stunting. Tapi bagaimana ibu-ibu yang lain yang tidak memiliki kesempatan yang sama?

Oh ya, pada waktu itu Naya terkena anemia defisiensi besi (bisa jadi karena saya pun memberikan MPASI yang tidak terfortifikasi untuknya). Begitu anemia defisiensi besinya teratasi, beratnya baik deh:)

Please, jangan bersuudzon dulu yaa. Saya TIDAK dalam kapasitas men-judge atau menilai orang tua lain. Ini pengalaman dan pendapat saya pribadi. Silakan diambil manfaatnya jika berguna, tak perlulah jadi ber-negative thinking:) Peace yo!

9 comments:

chika krachma said...

:(

-'moRis- said...

Saat sudah konsultasi ke dokter, dan dalam beberapa bulan dokter juga udah lihat grafik pertumbuhannya dan kita sebagai orang tua udah kasih makanan yang beragam serta vitamin sesuai anjuran dokter namun anak tetap kenaikan berat badan dan tinggi badannya tidak berubah seperti sebelumnya dan bahkan dokter sudah katakan yah faktor keturunan berarti, trus apa lagi yang orang tua bisa lakukan dok?

Jangankan dokter yang gemes, kita jg gemes ama diri sendiri klo gitu :(

Meta Hanindita said...

@Chika: Tenang chiiiik masih ada waktuuuu

Meta Hanindita said...

@Moris: Pertama, pastikan dulu status nutrisi anak apa memang sudah baik? Kalau belum, harus dicari kira-kira apa penyebabnya mbak.

Firliana Faiz said...

Kalo kasusnya anaknya picky eater lebih menuju GTM gimana, Dok? Udah dibawa ke macem2 dokter, masih aja kek
gini 😭😭😭

Meta Hanindita said...

@Firliana Faiz: Mbak, coba dibaca tulisan di blog ini soal Picky Eater deh. Ada kok.

Isnainingsih Hariyadi said...

Haii dokter.. Selain nutrisi yang baik, apakah kegiatan seperti berenang dapat mencegah anak tumbuh stunting??? terimakasih atas jawabannya.

Rarha Denny said...

Dok anak sy usia 5bln,terkhir ini cuma naik 5ons,skrg bbnya 7kg,TB 64cm apakah normal dok?

vie said...

Dok saya pengen konsul tentang nutrisi dan stunting pada anak. Sudah saya email.mohon dibalas dok ya.terima kasih.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...