Monday, December 22, 2014

Review 2014

Benar-benar engga terasa ya dalam hitungan hari, tahun 2014 akan terlewati dan digantikan tahun 2015. Buat saya, tahun 2014 ini benar-benar roller coaster, deh!  There are so many ups and downs.

Masih ingat resolusi 2014 saya? Alhamdulillah, saya merasa berhasil menjalani hidup dengan lebih positif tahun ini. Saya sudah tidak pernah melihat infotainment, tidak membaca tabloid gosip, juga  meng-unfollow akun instagram atau twitter beberapa seleb yang sering dihujat oleh haters. Saya membiasakan positive thinking, saya berusaha memulai setiap hari dengan positive attitude. I believe that positive attitude will bring you a positive life!:D

Saya memulai tahun 2014 dengan sakit. Alhamdulillah tidak sampai harus masuk rumah sakit, tapi saya ingat betul rasanya menderita karena panas tinggi dan paranoid ketakutan terkena dengue lagi:p
Di saat yang sama, saya mendapat pencerahan untuk move on dan melupakan seseorang yang sukses benar membuat saya sakit hati selama ini. Saya percaya, move on-nya saya ini merupakan awal yang sangat baik untuk hidup yang lebih positif:D

Entah ada hubungannya atau tidak dengan usaha saya untuk hidup positif,  saya merasa mendapat banyak rejeki tahun ini. Rejeki engga selalu berbentuk materi kan ya?:D Buku saya, "Dont Worry to be A Mommy!" tahun ini banyak diresensi oleh berbagai media seperti Tabloid Mom and Kiddie , Good Housekeeping Indonesia , Family Guide, sampai Tabloid Nakita. Saya juga mendapat pengalaman dipercaya sebagai model cover majalah Dokter Kita. Alhamdulillah.
Oh ya, ngomongin soal media, tahun ini pula saya dipercaya Jawa Pos for Her dan Jawa Pos untuk ditulis sebagai artikel. Thank you, Jawa Pos! Selain itu, per tahun ini, saya pun diberi kesempatan oleh Detik.com menjadi konsultan kesehatan di DetikHealth. Menyenangkan sekali lho! Saya bahkan diberi kesempatan ditampilkan menjadi satu artikel sendiri:))) Terimakasih yaaa Detik.com!


Tahun ini pula saya berhasil menyelesaikan thesis alias penelitian karya akhir dengan nilai memuaskan -buat saya- setelah menguras tenaga, emosi, peluh, darah dan air mata *lebay* selama setahun lebih.
Keliatan stress engga?:p Mana acak-acakan pula lagi ga ada ART dan nanny:)))

Masih soal pekerjaan, di awal tahun 2014 saya dipercaya bertugas di Soe, salah satu kabupaten di NTT. Walaupun harus berjauhan dengan keluarga -sampai Naya ngambek dan mogok ngomong sama emaknya hiks-, banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari pengalaman tersebut. Betapa saya harus sangat bersyukur dengan hidup saya dan bukannya selalu membandingkan dengan mereka yang berada di atas.

Tahun 2014 adalah tahun pertama kami merayakan ulangtahun Naya. Alhamdulillah, benar-benar rejeki buat kami karena venue yang kami pilih ternyata mau tutup sehingga harga yang kami bayar jauh di bawah rerata. Alhamdulillah pula, acaranya berlangsung meriah.

Seperti yang saya tulis di atas, tahun ini benar-benar roller coaster buat saya. Saya mengetahui ada apa dengan Naya tepat setelah Naya berulangtahun ke-3. Sepertinya, inilah highlight of the year untuk saya:D
Knowing to be a parent to gifted child:D

Syukurlah, saya dapat mengetahui sejak dini karena dengan demikian saya dapat segera merencanakan segalanya untuk Naya. Setengah mati mencari sekolah, alhamdulillah lagi-lagi kami mendapat rejeki karena ada sekolah yang mau dan bisa menerima Naya di kelas yang lebih tinggi dari seharusnya. Walaupun begitu, tetap saja saya merasakan naik turunnya emosi dengan sangat cepat karena ternyata banyak juga masalah yang dialami Naya di sekolah. Saya harus bolak/i menghadap psikolog, dokter tumbuh kembang sampai kepala sekolah dan guru Naya untuk berkonsultasi. Kalau dihitung-hitung, mungkin tahun ini saya sering sekali merasa deg-degan, sedih, kesal, gembira, takut dan khawatir. Semua emosi tadi digabung menjadi satu deh:D Alhamdulillah, sepertinya saat ini Naya sudah bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan baik.

Masih soal Naya, saya bersyukur tahun ini bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Naya. Bukan sekadar jalan-jalan ke mall -:p-, tapi beraktivitas positif sekaligus menstimulasi Naya untuk #PlayAndLearn. Ini juga menjadi salah satu bentuk rejeki lain saya. Pluuuus, karena sering menghabiskan waktu dengan Naya, menginspirasi saya menulis buku terbaru yang inshaAllah akan terbit awal tahun depan:D

Rejeki lain datang saat lebaran tiba. Alhamdulillah, setelah sekian lama -hampir sewindu cyiiin!- jadi anak hilang, saya dan keluarga bisa merayakan lebaran bersama keluarga saya di Bandung. Senang sekali rasanya bisa sungkem pada mama dan shalat Ied bersama:D Kami juga memanfaatkan moment pulang kampung ini untuk berlibur. Senang sekali, Alhamdulillaaaaaah:D

Selain pada saat lebaran, saya dan Naya juga sempat berkunjung ke Semarang untuk menghadiri acara keluarga. Senang! Biasanya sih boro-boro, dengan jadwal saya yang ketat acara keluarga model apa pun tidak bisa dijadikan alasan untuk ijin. Lain ceritanya dengan tahun ini:D

Seperti tahun lalu, tahun ini pun saya masih dipercaya menjadi pembicara di acara Speak Up yang diadakan mahasiswa FK Unair Surabaya. Bedanya dengan tahun kemarin, tahun ini saya mengajak Naya yang entah bagaimana ceritanya setelah menyaksikan saya berbicara di depan audiens, jadi terlihat lebih percaya diri berbicara dengan orang lain, Alhamdulillah.

Tahun ini pula, kami sekeluarga pindah rumah ke tempat baru. Walaupun banyak kekurangan di sana-sini, tapi rumah ini sangat nyaman untuk kami, syukurlah:)

Tahun ini ditutup dengan musibah dan ujian sangat berat untuk saya dan keluarga. Keponakan saya tetiba tidak sadar tanpa keluhan apapun sebelumnya. Tidak panas, tidak diare, tidak kejang, tidak sakit apapun. Bahkan beberapa jam sebelumnya masih tertawa-tawa saat dibawa berjalan-jalan. Kakak kandung saya menikah cukup lama sebelum mempunyai anak yang saat ini berusia 6 bulan itu. Tentu semua menjadi shocked dan sedih. Sampai dengan sekarang saat saya menulis postingan ini, keponakan saya masih tidak sadar, terpasang pipa selang napas di parunya dan harus dibantu dengan mesin untuk life-supportnya karena belum kuat bernapas sendiri. Di rumah sakit, saya menghadapi banyak sekali pasien dengan kasus yang sama. Sepertinya memang lagi musim ya, -Ingatkan saya menulis soal penyakit ini ya kelak!- tetapi rasanya sungguh sangat berbeda apabila "pasien" nya adalah keponakan sendiri yang selama ini sudah saya anggap anak saya sendiri.

Memang masih ada beberapa hari lagi sebelum tahun 2014 resmi berakhir. Saya berharap semoga keluarga kami mendapat rejeki dengan sembuhnya keponakan saya sesempurna mungkin. Well, semoga.

Secara garis besar, saya bisa menyimpulkan bahwa tahun 2014 ini benar-benar menguras emosi saya, as a person and a mother. Alhamdulillah banyak sekali rejeki yang saya dapat tahun ini, walaupun ada juga ujian dan musibah. Words to describe 2014= Roller coaster! :D

Saya percaya, everything happens for a reason. Termasuk rejeki yang diberikan Allah pada saya dan juga musibahNya. Dengan memberikan rejeki, Allah ingin mengingatkan saya untuk bersyukur dan bersedekah karena di balik rejekiNya, ada hak orang lain juga. Dengan memberikan musibah,Allah ingin melatih saya untuk lebih sabar dan mengingatkan saya lebih mendekatkan diri padaNya. Terima kasih, ya Allah, terima kasih 2014!

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...