Friday, January 4, 2013

Sakit Hati

Pernah merasa sakit hati?

Yang saya maksud sakit hati disini bukan literally seperti hepatitis atau hepatoma ya:p

Maksudnya adalah merasa disakiti oleh orang lain bukan dalam bentuk fisik. Bisa jadi timbul karena kata-kata pedas yang menyinggung, bisa jadi karena perbuatan yang dianggap tidak menghargai, atau bisa juga muncul dari perasaan diremehkan.

Sebagai makhluk sosial, wajar jika manusia merasakan sakit hati. Dalam berhubungan dengan orang lain, terkadang banyak halangan yang membuat hubungan tidak semulus yang diharapkan. Namanya juga manusia, beda pola pikir, beda budaya, beda kebiasaan, beda didikan, semuanya beda deh! Bahkan kembar identik pun biasanya tidak mempunyai sifat atau perilaku yang identik.

Terkadang sesuatu yang diucapkan orang lain terasa pedas bagi telinga kita padahal orang tadi tidak bermaksud menyakiti. Terkadang perbuatan orang lain kita rasakan melukai kita walaupun orang tersebut tidak berniat buruk.

Saya sendiri termasuk ke dalam tipe orang yang tidak gampang merasa sakit hati. Profesi yang beranekaragam membuat saya mempunyai berbagai macam teman dari berbagai dunia. Ini yang membentuk tingginya kadar toleransi saya terhadap orang lain. Ditambah, pada dasarnya saya cuek banget. Selama engga bawa-bawa keluarga dan keyakinan saya, peduli amat deh! Saya yakin, kelak semua niat, ucapan, perbuatan buruk akan dibalas oleh Allah Swt. Terus ngapain saya repot-repot dan capek-capek sakit hati?

Seingat saya, seumur hidup ini saya hanya pernah 2x sakit hati. Yang pertama, pernah saya ceritakan disini.
Yang kedua, baru-baru ini saja terjadi.

Selain omongannya yang kasar (kalau saya saja bilang kasar, artinya benar-benar kasar. Sangat tidak pantas keluar bahkan dari orang yang tidak berpendidikan, apalagi yang konon highly educated), pedas dan sangat menyakiti, saya tidak bisa menolerir kebiasaannya yang rajin sekali menyebarkan perbuatan jelek yang konon saya lakukan. Kenapa saya bilang konon? Karena demi Allah, tidak satu hal pun yang dia bilang itu benar.

Yang menyakitkan buat saya, banyak pihak yang pada akhirnya percaya bahwa saya seperti omongannya tanpa berniat repot-repot konfirmasi ke saya. Yaaa, wajar saja, bad news are always more interesting right?;)

Pada akhirnya, menyebarlah segala macam kabar yang tidak-tidak mengenai saya yang -sayangnya-dipercaya orang banyak.

Lalu apa yang bisa saya lakukan? Inginnya sih saya konfirmasi satu-satu, kepada semua orang yang sudah percaya omongannya. Tapi saya disadarkan seorang teman yang bilang itu percuma dan buang-buang energi saja. Betul juga, ingat, bad news are always more interesting. People only hear what they want to hear. Makanya acara gosip sekarang laris manis dan merajai semua stasiun televisi kita. Eh tapi menurut saya, ini bukan lagi gosip tapi sudah merupakan sebuah fitnah. Iya engga sih?

Saya benci dia. Saya benci segala omongan dan perilakunya. Saya benci semua orang yang percaya omongannya. Saya benci semua orang yang akhirnya mencap saya jelek gara-gara dia. Saya sakit hati sama dia titik. Wajar engga?

Wajar kalau dalam hubungan dengan orang lain ada like and dislike.
Hak seseorang untuk merasa suka atau tidak suka terhadap orang lain. Tapi kalau sampai menyebarkan ketidaksukaan dengan cara memfitnah sih engga wajar namanya, kurang ajar:p

Inginnya sih cuek, sama seperti yang biasa saya lakukan. Tapi ini susaaaaah sekali karena saya merasa disudutkan dan dirugikan. I was judged and stamped for something I didn't even do!  And the worst, this it was spread to the world. How bad is that?

Saya langsung mengintrospeksi diri sendiri. Bagus juga sih, gegara dia, sekarang saya lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bertingkah laku. Jangan sampai saya membuat orang lain sakit hati. Kalau orang itu membatin jelek mengenai saya, pasti terkabul deh! Duh, amit-amit.

Saya juga bolak/i merefleksi apa yang salah pada saya sampai dia tega begitu jahatnya pada saya. Saya sampai bertanya ke teman-teman yang satu circle dengan saya dan dia, what have I done to make me deserve this? Hasilnya? None. Engga ada. Entahlah, mungkin hanya kesalahpahaman (yang engga bisa saya konfirmasi) atau entah apa hanya dia yang tahu.

Lalu saya bisa apa?
Mem-voodoo? Menyumpahi? Mendoakan sesuatu yang jelek terjadi padanya?  (Yang saya yakin akan dikabulkan. Doa anak yatim, orang teraniaya akan dikabulkan bukan?)

Oh I wish:p

Saat sedang merasa down dan berdoa, saya mendapat pencerahan. Kalau anak yatim dan orang teraniaya doanya insyaAllah dikabulkan, ngapain saya pakai untuk ngedoain orang yang jahat sama saya? Bukannya mendingan saya berdoa supaya saya cepat lulus, supaya diberi rejeki yang mengalir, supaya keluarga saya diberi kesehatan dan keselamatan, supaya orangtua diberi umur panjang dan kesehatan, supaya saya dijauhkan dari orang-orang jahat macam dia.

Buat apa saya capek-capek memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kejahatannya? Lalu apa bedanya saya sama dia?

Saya percaya Allah tidak tidur. Semua hal dicatat olehNya untuk dipertanggungjawabkan kelak. Semua pasti ada balasan yang setimpal.

Yaaah, karena saya diberikan kesempatan untuk menjadi orang teraniaya oleh dia, bolehlah saya sedikit ngedoain dia. Semoga segera tersadarkan dan mendapat hidayah yaaa*puk-puk*.

Masih sakit hati? Alhamdulillah, insyaAllah sudah engga:)

3 comments:

rahma ddy said...

salam kenal mbak meta, i'm silent reader.sy juga ngeblog tapi tulisannya ga sekeren mbak meta. lanjutkan posting yang oke2 ya.
saya ngerti banget deh tu rasanya 'difitnah', asli sakit banget.

Meta Hanindita said...

Haloo, met kenal mbak;)

Iya betul, menyakitkan dan bikin pengen memvoodoo orang ybs bawaannya:))

ninaCloudSparkyu said...

halo mbak meta, numpang nimbrung yaa^^
yupz,
aku setuju mbak, aku jg pernah ngerasain nyaa,.. yaa, lebih tepatnyaa barusan . asli,,rasanyaa sakiidd bangeed .
Buat mbak meta, salam kenal ya :)

0iya, btw aku mau nanya' nie mbak, ini mbak meta hanindita yg dulu penyiar radio EBS.fm bukan yaa??

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...