Friday, January 17, 2014

Belajar Melupakan

Men forget but never forgive.
Women forgive but never forget.
Benarkah?
Mungkin ya. Saya termasuk orang yang gampang sekali memaafkan. Allah saja maha pemaaf, masa saya-yang-bukan-siapa-siapa- tidak mau memaafkan orang lain? Lagipula, saya yakin sebagai manusia, saya pun pasti punya banyak salah, dan ingin dimaafkan. Makanya, sefatal apapun kesalahan orang terhadap saya, sesakit hati apapun saya, saya akan selalu berusaha memaafkan.

Tapi tidak untuk melupakan;)
Walaupun sesungguhnya saya ingin sekali, tapi ternyata melupakan tidaklah segampang itu.

Beberapa minggu belakangan, nasib mempertemukan kembali saya dengan seseorang yang pernah membuat saya sakit hati. Perlu diingat, saya engga gampang sakit hati lho! Karena teman saya berasal dari segala macam lingkungan, toleransi saya terhadap perbedaan sangat besar. Jadi kalau sekadar omongan kasar, canda yang mungkin salah tempat, saya masih bisalah menolerir.

Lain halnya kalau sampai membawa-bawa keluarga saya atau keyakinan. Apalagi sampai memfitnah kemana-mana yang membuat nama saya tercoreng. Saya bahkan engga tahu lho apa kesalahan saya sampai orang ini segitu bencinya pada saya. Saya introspeksi diri, tanya sana sini, tetap tidak terjawab kenapa.Inginnya sih tanya langsung, tapi bagaimana bisa, berpapasan dengan saya saja sudah membuang muka.

Anyway, setahun yang lalu,seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sudah memaafkan orang tadi. Saya sudah moved on. Saya yakin gusti Allah mbonten sare. Semua ada perhitungannya sendiri kelak. Daripada saya rempong ngurusi orang yang bikin saya sakit hati, lebih baik saya fokus pada kebaikan dan self-improvement.

Tapi sejujurnya, saya engga bisa melupakan apa yang dia perbuat pada saya. Semua kata-katanya, fitnahnya pada saya, perbuatannya kembali mengalir deras di ingatan. Saya ingat semuanya, detail. Walaupun sudah memaafkan, saya akui saya masih sakit hati. Apalagi saat ini, segala perilakunya yang membuat saya sakit hati dulu, diulang kembali.

Saya sudah memaafkan orang ini, untuk yang kedua kalinya. Hanya saja, masih sulit bagi saya untuk melupakan. Saya masih belajar bagaimana caranya. I hope i'll find a way. Soon:)

2 comments:

feni Amriani said...

ya, met.. aku juga dulu pernah sakit hatiii banget ama seseorang tempat ngajarku dulu.. aku emang udah maafin tapi susah buat ngelupain... tapi, ya sudahlah ga guna juga mikirin dia, kebagusan.. hahahaha.. pada akhirnya orang juga tau siapa penjilat dan siapa yang bermuka dua. orang seperti ini memang harus waspada kita.. biasanya orang yang sok pintar dan ingin diakui saya pintar, terus sirik sama yang dia anggap lebih hebat dari dia.. tuh kan jeleknya diakuin.. hahahah

Anistya Wulandari said...

haloo mba meta. sama, aku juga pernah ngerasain kayak gitu. sampai sekarang masih inget aja perbuatan2 buruk yang pernah dia lakuin sama aku. kalau ingat kadang kala masih suka tidak karuan menyebalkan. tapi bukannya kita udah memaafkan kan? kalau sudah memaafkan otomatis kita juga harus belajar untuk menerima. awalnya memang sulit, tapi lama-lama juga terasa jadi biasa saja. memang dia yang salah, tapi ketika kita sudah mulai mencoba memaafkan, tidak harus menunggu dia untuk sadar, berusaha untuk lebih terbuka aja. sapalah dia, tetaplah bersikap baik padanya, suatu saat dia juga bakal malu, ternyata orang yang dia jahati nggak berpengaruh, malah justru bersikap baik sama kita. Allah saja begitu kan mba? masa kita sebagai manusia tidak? ;)
*maaf bukannya sok mengajari hehe :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...