Wednesday, December 11, 2013

What Is Happiness?

Saya mempunyai satu orang sahabat dekat saat SMA dulu. Saking dekatnya, saya sering menginap di rumah dia saat ke Jakarta. Dia pun sering menginap di rumah saya di Bandung. Kami tidak pernah sekelas, tidak pernah satu tempat les, tidak pernah satu ekskul, hanya saja kami sama-sama anggota OSIS. Mungkin itulah yang mendekatkan kami, karena kalau bukan itu, saya tidak tahu apalagi yang bisa. Kami benar-benar berbeda.

Saya termasuk orang yang introvert. Saya lebih memilih menuliskan perasaan atau opini saya dibanding berdiskusi dengan orang lain. Dia super ekstrovert. Tak segan menangis, marah atau bahkan berteriak-teriak di muka umum saat ada yang tidak sesuai keinginannya. Di saat cewek lain malu-malu menunjukkan rasa suka pada gebetan, sahabat saya ini tak sungkan menembak langsung cowok yang disukai. Hahahahaha.

Saya super cuek. Tidak pernah peduli soal fashion, apalagi makeup. Saya ingat dulu waktu SMA, semua orang heboh mempersiapkan prom night -termasuk si sahabat- saya cuek-cuek saja. Sahabat saya super stylish. Baju model terbaru, make up keluaran gres, pasti dia punya. Kami pernah datang ke acara salah satu majalah remaja, dan dia terpilih menjadi the best dress:D

Saya suka membaca. Hobi saya salah satunya adalah ke toko buku. Sahabat saya lebih suka ke mall untuk window shopping baju keluaran terbaru atau aksesoris yang lucu-lucu.

Saya tidak bisa menggambar. Sama sekali. Sahabat saya pintar sekali menggambar, coretan isengnya saja menurut saya bagus bukan main. Dia suka mendesain baju sendiri kemudian diwujudkan sehingga baju-bajunya selalu one of a kind.

Selepas SMA, kami berbeda tujuan. Saya memilih jurusan kedokteran di Surabaya sementara dia memilih jurusan arsitektur di Bandung. Kesibukan masing-masing tidak membuat kami jauh. Thanks to technology, kami masih sering kontak sekadar bertanya kabar.

Setelah merampungkan kuliah S2-nya di bidang manajemen, sahabat saya diterima di satu perusahaan terbesar di dunia. Saya bangga sekali padanya. Sahabat saya jadi sering berkeliling Indonesia dan luar negeri, bahkan sempat membintangi iklan salah satu produk binaannya. Gaji yang didapat pun jauh berlipat-lipat dibanding teman-teman sebaya kami waktu itu. Keren sekali.

Maka dari itu, betapa terkejutnya saya ketika sahabat mengabarkan bahwa dia resign dari perusahaan tadi dan memilih untuk membuka clothing line sendiri, satu hal yang diidamkannya sejak dahulu kala.  Dengan berwiraswasta, memulai usahanya dari nol, tentu kemewahan yang biasa didapat saat masih bekerja di perusahaan internasional terkemuka tak lagi bisa ditemui. Penghasilannya menurun drastis. Dia bahkan harus rela menanggung kerugian saat bisnisnya tak berjalan lancar. Di pikiran saya waktu itu "Kamu ngapain sih? Udah enak-enak disitu, kok pake keluar segala?"

Dia hanya tersenyum. Tapi sebagai sahabat, saya tahu benar senyumnya adalah senyum penuh kebahagiaan. Satu hal yang tak ternilai harganya. Saya masih ingat betapa sumringahnya dia waktu BBM saya soal ini. Sahabat saya merasa sangat bahagia karena bisa menjalani passionnya selama ini. Saya ikut berbahagia bersamanya:)

Banyak orang yang terkadang mendefinisikan kebahagiaan sebagai kemewahan materi. Punya uang banyak, rumah bagus, mobil banyak, sering keluar negeri, engga mikir kalau mau beli apa pun, itu pasti bahagia. Engga heran, banyak orang pula yang bekerja keras demi mewujudkan "kebahagiaan" ini. Lembur pun engga masalah, jarang pulang ke rumah juga engga apa-apa, engga pernah bertemu keluarga hanya sekedar konsekuensi untuk menjadi bahagia. Pembenarannya, toh hasil kerja keras ini kan untuk keluarga juga. Kalau bisa punya rumah mewah, yang menikmati kan keluarga. Kalau punya ini itu, yang senang juga kan ya keluarga. Benarkah?

Saya jadi ingat tukang pecel langganan suami. Suami saya ngefans berat sama pecel ini karena menurut pak suami, bumbu pecelnya super maknyus. (Menurut saya sih biasa saja;p). Rupanya yang ngefans dengan pecel ini bukan suami tapi banyak orang lainnya. Sejak dibuka jam 6 pagi, antrean pembeli akan mengular panjaaang sekali. Saking banyaknya, terkadang hanya dalam waktu sejam, jualannya sudah ditutup karena habis.

Sekali waktu, saya pernah dititahkan pak suami membeli pecel kesayangannya. Sambil mengantre, iseng saya mengobrol dengan pasangan suami istri penjualnya.
Saya: "Pak, pecelnya laku banget ya?"
Pak Pecel: "Nggih, alhamdulillah mbak."
Saya: "Kadang baru jam 7 sudah habis. Cepet banget. Apa engga ditambah aja pak jualannya? Kan lumayan kalau bapak bisa jualan lebih banyak?"
Pak Pecel: "Ah engga mbak. Saya setiap hari mampunya bikin pecel segini aja. Rejekinya segini sudah cukup untuk saya dan istri hidup sehari-hari. Sisa waktunya bisa dipakai ibadah dan momong anak-cucu. Ndak perlu ngoyo mbak, semua sudah diatur Gusti Allah. Yang penting bahagia. Saya tuh bisa momong cucu aja sudah bahagia sekali."

Jleb. Saya langsung merasa tertohok. Terkadang, saya bekerja keras demi memenuhi target yang sudah saya rencanakan. Saya ingin sekali bisa mengajak Naya ke Disneyland kelak, ingin juga bisa berlibur ke UK, negara idaman saya sejak dulu, ingin membelikan mama saya ini itu. Saya rela lembur, terlambat beribadah, atau bahkan jarang bertemu Naya hanya demi target tadi. Asumsi saya, setelah target tadi saya penuhi, saya akan merasa bahagia. Emang iya? Yang tidak saya sadari, sebenarnya arti kebahagiaan buat saya sangatlah sederhana. Kruntelan bertiga dengan anak dan suami bermain tenda-tendaan di kamar tidur contohnya. Hal yang tidak membutuhkan modal sama sekali tapi membuat saya sangat bahagia:)

Jleb yang kedua:

Saya: "Kak, kakak mau engga ke Disneyland? Kayak yang di majalah itu lho. Yang ada Mickey Mouse sama Goofy-nya?"
Naya: "Mauuuuu!"
Saya: "Senang ga kakak?"
Naya: "Senang ma!"
Saya: "Kalau ke Dufan mau? Senang juga engga?
Naya: "Mauuu. Senang juga!"
Saya: "Lebih senang mana, kakak Aya ke Disneyland atau ke Dufan?"
Naya: "Asal ada mama! Di lumah aja sama mama kakak Aya juga senang!"

:')

Saya berjanji akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Naya, karena memang benar, to a child happiness is simple, to a child, love is spelled T-I-M-E:)

Arti kebahagiaan mungkin akan berbeda untuk setiap orang. Menjalani passion, berkumpul bersama keluarga, membahagiakan orang lain bisa berarti kebahagiaan. My definition of happiness is being with my family. As simple as that. What's yours?;)

5 comments:

Intan Rastini said...

belajar dari film Rumor Has It, kira-kira begini, bukan melakukan apa yang penting, tapi dengan siapa melakukannya :)
kayaknya sama dengan.. bukan kemana atau dimana tapi dengan siapa berada disana, ya?

Sales Malang said...

Lagi-lagi dibuat menangis terharu dengan tulisan dokter Meta. Saya punya kesamaan dengan Dokter, ingin membahagiakan orang-orang sekitar dengan cara bekerja keras, rela lembur, ninggalin anak agar bisa mencukupi kebutuhannya. Tapi saya belum tau bagaimana cara saya agak bisa bahagia. Saya juga gak yakin apakah saya bisa membahagiakan orang-orang di sekitar saya apabila saya berhenti bekerja.

Meta Hanindita said...

@Intan: Betul mbak, kurang lebihnya begitu sih:)

@Sales: kesimpulan yang saya dapat sih begini mbak, bahagia itu bukan dicari. Engga perlu dicari jauh-jauh, tapi dibuat. DIbuat sekarang oleh kita sendiri, sederhana kok:)

feni Amriani said...

setuju,met.. touched bangett T.T

meta agustya puteri said...

buat saya, happiness is family.
percuma saya punya jabatan/nama tenar/kaya/semacamnya tapi keluarga saya tidak merasakan kebahagiaan yg sama dg yg saya rasakan. toh dari doa mereka juga kan kesuksesan kita berasal :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...