Friday, November 1, 2013

Respond to -Emang Enak Jadi Dokter?-

Sejak beberapa hari yang lalu, setelah saya memposting Emang Enak Jadi Dokter? , saya kebanjiran respon yang luar biasa. Jujur, saya kaget juga, engga pernah mengira kalau tulisan saya tersebut banyak (bangeeeet) dibaca orang. Sepertinya berawal dari beberapa orang yang men-share link postingan tsb di social media dan akhirnya jadi beredar luas kemana-mana.

Banyak email, message FB, twitter, sampai komentar blog masuk di account pribadi saya. Kebanyakan memang adalah TS dokter yang merasakan hal yang sama dan minta ijin untuk men-share tulisan ini. Ada yang sampai setengah 'memaksa' saya mem-publish tulisan tadi di media massa. Ada juga yang protes, jelas-jelas mengatakan saya melebih-lebihkan kesengsaraan profesi dokter yang menurut ybs "engga segitunya" deh. (FYI, yang bilang begini bukan berprofesi sebagai dokter;))

Ada lagi yang membandingkan dokter dengan profesinya, dan setelah pembahasan panjang lebar, tetap saja menyimpulkan jadi dokter itu paling enak, bisa banyak uang. (PS: sekali lagi, ybs bukan dokter;p)

Sebenarnya, saya menulis Emang Enak Jadi Dokter? karena satu tujuan. Menurut saya, banyak hal yang diketahui oleh masyarakat umum, belum tentu benar dan harus diluruskan. Kebanyakan orang berpikir menjadi dokter itu kerjaan paling enak dan pasti bakal kaya. Kalau tidak sekarang, nanti pasti bisa. Hampir semua orang sepertinya berpikiran seperti itu. Makanya seperti yang saya bilang, banyak orangtua yang mencita-citakan anaknya jadi dokter walaupun mungkin anaknya sendiri tidak mau. Mati-matian bekerja mencari uang untuk menyekolahkan anaknya pun tak mengapa, habis dana ratusan juta rupiah pun tak masalah, yang penting jadi dokter. Toh, nanti kalau sudah jadi dokter bisa 'balik modal'. Bener engga?

Akhirnya, IMHO ini yang akan menjadi 'lingkaran setan'. Dengan pola pemikiran yang seperti ini, engga salah dong kalau pada akhirnya banyak dokter bekerja hanya untuk mencari uang sebanyak-banyaknya agar 'balik modal'? Kan memang itu tujuannya. Setelah 'balik modal' lalu apa? Menjadi kaya. Cita-cita menjadi kaya ini buat saya agak 'jebakan' sebetulnya. Tidak ada definisi yang paling benar mengenai kaya. Sejauh mana seseorang bisa dibilang kaya? Punya mobil mewah? Harus punya rumah tingkat 2  misalnya? Namanya juga manusia, tidak pernah akan ada puasnya. Apalagi yang menyangkut soal materi, tidak akan ada selesainya.

Sah-sah saja orang bercita-cita menjadi kaya, engga ada salahnya menurut saya. Yang salah, kalau untuk mencapai cita-cita tersebut, akhirnya menghalalkan segala cara termasuk yang kotor sekalipun.

Saya sejak dulu bercita-cita menjadi dokter bukan karena ingin kaya. Tidak pernah terbersit sedikit pun hal tersebut. Mau dibilang sok mulia, sok suci pun silakan. Saya engga peduli kok;) Masalah niat adalah urusan saya dengan Yang Di Atas:)

Tentu apa yang saya pikirkan hanya berlaku untuk saya pribadi, saya tidak menggeneralisasi semua dokter begitu. Saya cuma ingin bilang, engga semua dokter mata duitan lho.
Saya juga ingin mengajak teman-teman dokter untuk kembali meluruskan niat dan tetap semangat. Engga apa-apa kalau merasa tidak dihargai di dunia ini, engga usah khawatir, Gusti Allah mbonten sare:)

Ada lagi yang bilang kalau saya bernegative thinking terhadap pasien yang membatin engga-engga atau berpikiran buruk terhadap dokter. Hehe, coba dibaca ulang deh tulisan saya tanpa emosi dulu. Kan saya bilang tulisan tsb berdasar atas hasil googling saya. Sepanjang hasil googling itu, memang yang paling banyak adalah yang memberitakan hal negatif tentang dokter. Mulai yang berpendapat dokter sekarang duit-minded sampai gampang malpraktik. Adakah yang memberitakan hal positif? Jarang. Hampir engga ada bahkan. Sepertinya kalau dokter melayani pasien dengan baik sampai sembuh itu memang 'kewajiban'nya, bukan suatu prestasi yang harus diberitakan. Tapi seandainya ada sedikit saja kesalahan (yang bisa jadi bukan benar-benar kesalahan), semua berlomba-lomba heboh menjadikan bahan omongan. Bukan saya dong ya yang negative thinking?:D

Saya tidak bermaksud menjudge orang lain, karena seperti yang pernah saya tulis disini, before i judge and comment on anything, i'll make sure ive tried to be in their shoes first. Kalau memang engga bisa, ya jangan. Engga perlu men-judgelah. Engga ada gunanya juga kan?:)

Saya engga mau bilang dokter itu profesi paling terhormat, profesi paling menjanjikan untuk kaya atau predikat lainnya, karena saya yakin apapun profesinya tentu mempunyai tanggungjawab dan risiko masing-masing. Hanya saja, tentu engga bisa saya bahas karena bukan profesi saya. Walaupun saudara saya ada yang bankir, kakak sepupu saya ada yang insinyur dsb, saya tetap merasa bukan kapasitas saya untuk 'bercerita' sebagai profesi tsb.

Saya engga punya niatan sama sekali untuk berkeluh kesah. Coba baca lagi deh. Saya tetap bersyukur dengan profesi saya apapun yang terjadi. Saya bingung juga nih ya kalau ada yang bisa bilang saya berkeluh kesah seakan-akan dokter adalah profesi yang paling sengsara. Di bagian sebelah mananya ya?:) Tulisan saya murni berdasar apa yang sebenar-benarnya terjadi di lapangan dan pengalaman saya sendiri. (Rasanya kalau tidak mengalami sendiri, tidak bisa mengerti benar ya). Tidak ada satu kata pun yang saya tulis yang menyiratkan bahwa dokter itu sengsara. Kalau yang membaca bisa sampai menganggap begitu yaaa, apa boleh dikata. Persepsi orang boleh-boleh saja berbeda:)

Terimakasih banyak untuk segala atensi yang telah diberikan, baik yang merasa senasib sepenanggungan atau yang merasa 'dirugikan' dengan tulisan saya. Saya tidak punya niatan sedikit pun menyinggung profesi lain maupun membuat profesi dokter seakan-akan paling sengsara. Saya juga engga punya pikiran negatif sama sekali tentang pendapat orang lain mengenai dokter, dan saya harap orang-orang juga engga punya pikiran negatif tentang dokter. Semoga.

38 comments:

elvi said...

Mb meta, mau nanya dong, waktu dulu jaga malem ngasi asip nya gimana ya? Pake botol kah?

Meta Hanindita said...

@Mbak Elvi: Pakai cangkir kecil mbak:)

elvi said...

Ak juga kalo siang dipakein cupfeeder, tapi kok kalo malem rasanya kasian ya kalo ngantuk2 gitu disuapin cupfeeder, babyku baru 2mos mb :(

Anonymous said...

tulisan yang bagus memang...tapi sosok dokter yang diceritakan terlalu ideal..terlalu lurus, yang kalau dicari di indonesia ini mungkin jumlahnya hanya seberapa...menjadi lebih ironis ketika saya membaca tulisan ini bersebelahan tab dengan kasus bayi yang meninggal di pangkuan ibunya karena lambatnya penanganan tenaga medis si RS Pinrang...bicara soal penghasilan, tidak etis anda mengeluh tentang besar kecilnya penghasilan anda..saya jadi bertanya, dokter itu makan(penghasilannya) dari kunjungan orang yang sakit yang ingin sembuh...kalau tidak ada orang yang datang ke tempat praktek anda, apakah dokter berharap kalau saja ada pasien datang berobat...

Meta Hanindita said...

@anonim: di kalimat mana sih tepatnya saya mengeluh? Tolong ditulis ulang deh. Kali2 saya yangs salah nulis. Buat saya yang lebih ga etis itu memfitnah:)

elvi said...

Lagi2 yg komen pasti bukan seorang dokter ya :) Lagipula di tulisan tsb tidak ada yg mengeluhkan soal besar kecilnya gaji, we are proud as a doctor indeed :)
Saya juga percaya kok ketika kita berbuat baik, kita seperti "menghutangkan" Tuhan. We pay attention to others, God will pay us much more than money can buy :D

Meta Hanindita said...

Bener mbak elvi, saya jadi bingung sendiri siapa yang mengeluh:)

Anonymous said...

keren mbak artikelnya
cuman mau sharing aja
banyak temen itu yg masuk kedokteran kayaknya cuman ngejar gengsi doang...
orang tua masukin anaknya cewek ke f. kedokteran buat nambah "nilai jual" di depan calon besan dan menantu
kalau yang berkeinginan mulia buat jadi dokter rasa juga banyak tapi banyak juga seperti yang saya sebuatkan di atas

Anonymous said...

Apa alasan seseorg msk "apa" ya ga bs digeneralisir dong.. byk jg y msk fak kguruan bkn krn ingin mcerdaskan bgsa. Tp smata krn nasib mbawanya k sana. Apa itu salah? Andai anda tahu beratny yg dilalui seseorg utk jd "tambah nilai" (bc dokter) mnrt anda itu..

yohanes mario said...

@anonymous: bicara di kasus RS pinrang belum tentu penyebabnya selalu dokter mohon digali informasinya lebih lanjut (karena menurut berita masih dalam pengusutan), yang kedua kalo anda berbicara dokter berharap pendapatan dari orang sakit yang berobat itu tidak selalu seperti itu apalagi kalau anda pernah mendengar tentang "preventive medicine" , yang ketiga bicara perihal gaji cukup atau tidak cukup, mohon disini dibedakan antara hak dan kewajiban dan dipisahkan antara pengabdian (menolong) dengan bekerja (baca: untuk makan), saya yakin setiap profesi di dunia ini mengharapkan penghidupan yang layak tidak terkecuali profesi dokter

deepot said...

@anonymous : kyk yg komen blm tau tugas dokter itu dmn..saya jg baca beritax kok..d surat kabar tersebut jlas2 blg klo anak tersebut meninggal saat mengantri utk melengkapi administrasi..nah,administrasi itu tugas dokter jg ya??
Jgn lgsg m'judge,,ada baiknya bertanya seblm m'judge spt itu..

Leyla Hana Menulis said...

Suka dengan tulisannya, Bu Dokter.
Memang harus ada yg menulis dari sisi dokter :-)

Rivalta Schlesinger said...

Pas baca udah langsung kepikiran pasti bakal ada orang yang bahas kasus anak meninggal di pangkuan ibunya. Langsung salahin dokternya. Disimak dulu yang salah itu siapa, jgn langsung setiap kesalahan di RS itu gara-gara dokter.

Anonymous said...

dokter itu antara ekspektasi yg sangat besar dr masyarakat dan posisi dia sbg manusia biasa yg punya keluarga,butuh hidup layak,dll.mgkn bnyk msyrkt kurang puas knp kok cm bs bicara ma dokter 10 menit doang dgn senyum pas2an?tp ap prnh msyrkt berpikir kl sbnrnya dokter itu sdh memberikan senyumnya yg ke-100 utk hr itu krn pasien yg komplen itu adlh pasiennya yg ke-100 dan otot2 wajah dokternya sdh kelelahan utk senyum krn sdh keluar rmh utk melayani pasien sejak jam 6 pagi?apakah prnh berpikir klu ad tiap pasien diperiksa 15 menit saja dgn pemeriksaan lgkp,jk 10 pasien saja waktunya sdh ckp panjang dan itu blm waktu utk menulis cttn medik per pasien dan lain2?realitanya,dgn jmlh pnddk yg ad,dokter msh sangat kurang sementara kebijakan nasional tdk mengindikasikan penyelesaian mslh yg efektif..

Firda Awal Gemilang said...

apakah mbak meta ada usulan, bagaimana cara memfasilitasi calon dan dokter muda?

sebagai acuan, ilmuwan itu kurang produktif klo tidak ada dana riset

aning said...

Tulisan apik meth.
Salam kangen.
Aning

Bunda 'Aqila said...

Mbak Meta N dokter2 laen yang udah komen diatas...saya bukan dokter (saya engineer yg jadi dosen/dosen yang engineer..you name it lahh..) tapi saya bisa mengerti isi tulisan mbak Meta..

bahkan kalo menurut saya sekolah untuk jadi dokter (S1+profesi) itu sama beratnya dengan sekolah kami sampe S3 :-) belom lagi tanggung jawabnya..

Tetap semangat mbak Meta...semoga jadi dokter yang T O P :-)

Anonymous said...

pokoke klo ada yg komplen soal dokter mending suru coba ikutin kerja kaya dokter seharian.kuat kaga dgn duit sgitu dan resiko gede

Anonymous said...

Tulisan bagus mbak.. khusus utk kasus bayi yang meninggal di pangkuan ibunya.. mungkin ada baiknya dibaca lebih lanjut.. ato mgkn ya komen ga ngerti cara kerja di rumah sakit ya.. :)) satu lg yg saya bingung.. apa yang di-iri-kan dr profesi dokter ya.. kita punya tanggung jawab masing2.. hak dan kewajiban masing2.. termasuk untuk hidup layak.. rasanya klo dokter jadi kaya lebih baik dipikir ulang.. kami ga berhitung rupiah.. klo hitung2 rupiah.. dgn rekan seusia dan bidang yg berbeda.. rupiahnya lebih bnyk mereka kok drpd kami para dokter.. apakah orang2 di luar sana betul mengerti apa definisi malpraktik? Apa bedanya dengan risiko? Apa bedanya dgn komplikasi?Sering mereka angguk2 di dpn dokter tp tiba2 muncul headline di surat kabar ttg malpraktik dokter.. tanpa mengerti apa sesungguhnya yg sudah disampaika oleh para dokter.. tolonglah.. jd pembaca dan komentar pun perlu sikap bijak.. :)) mgkn sdh saatnya para dokter angkat bicara..

fajarichwannoor said...

Nice opinion mba, ijin share buat tautan di tulisan saya berikut --> http://wp.me/poCqw-cJ

Anonymous said...

Tulisan bagus TS. Sampai rasanya berkaca-kaca mata saya membacanya. Mungkin bagi yang belum pernah merasakan, tidak akan pernah tahu rasanya.

Jadi dokter memang tidak mudah. Mereka tidak tahu rasanya jadi babu atau istilahnya 'pembantu'nya perawat dan bidan di RS yang selalu disuruh-suruh hanya karena sedang menimba ilmu disana. (Sekali lagi kami ini tidak pernah digaji saat menimba ilmu di RS dan status kami setara dengan OB yang justru digaji di RS yg sama) Tidak tahu seberapa berat perjuangannya menjadi dokter. Dengan gaji yang minim untuk seorang "LULUSAN S1" + profesi, nyampe 3 juta atau 5 juta aja boro-boro.

Tanpa ada niat menyinggung pihak manapun. Bagi Anda yang hanya bisa berkomentar negatif, atau melihat pekerjaan dokter dari salah satu sisinya aja. Cobalah dilihat lagi dari komentar Anda, apakah Anda sudah berusaha menghargai pekerjaan orang lain sebelum berkomentar. Terima kasih sebelumnya.

Anonymous said...

Kalo ada yang komentar negatif lebih baik rame-rame kita CoAss kan aja biar paham bagaimana rasanya..
Hehehe..

Anonymous said...

@ anonymous : orang awam yg sok tahu (padahal tahu nya hanya dari berita2 ga jls yg tau nya cuma setengah2) kadang mmg suka begitu. Dikit2 bilangnya lambat penanganan lah, malpraktik lah, ini lah itu lah. Padahal dia ga tau keadaan detailnya seperti apa dilapangan. Ckckck jgn men-judge dlu bung.

Anonymous said...

Ayah saya dokter, tp saya memutuskan utk tdk mau menjadi dokter, krn seumur hidup saya, saya tau dengan mata penglihatan saya bahwa jadi dokter itu berat.. Sy tdk sanggup.. So.. Menjadi apa kita kan adalah pilihan kita sendiri.. Orang boleh berpersepsi tp coba kalau kita di posisi yg kita persepsikan.. Open your heart and open your mind.. Tks mba meta atas tulisannya.. Semoga dapat membuka hati orang2 yang berpersepsi negatif kepada profesi dokter..

oktario21 said...

tetep smangat mbak :)
saya punya om yg jg dokter, dan ngeliat sendiri gmn kehidupan beliau yg bisa dibilang "kurang" dari segi materi dibanding sodara2nya yg lain..tp saya yakin Allah punya cara lain utk memberi rezeki kpd kalian para dokter :)
smoga teman2 yg berprofesi sbg dokter ttp diberikan hati yg lurus dan kesabaran dgn komentar negatif masyarakat :)

Anonymous said...

Yang komen bayi meninggal karena salah dokter telat nangani berarti ga percaya ma Tuhan. Yang komen jadi dokter ada hubungan dengan jadi kaya/miskin berarti ga percaya ma rejeki Tuhan. Yang iri sama profesi dokter berarti ga percaya ma Tuhan.

Muhammad Mardhiya Alghifari said...

@anymous.. saya ingin menanggapi pernyataan anda yang ini ya :) . smg ndak ada yang tersinggung. ini dari sudut pandang saya, dan maaf kalau subjektif :)

"keren mbak artikelnya
cuman mau sharing aja
banyak temen itu yg masuk kedokteran kayaknya cuman ngejar gengsi doang...
orang tua masukin anaknya cewek ke f. kedokteran buat nambah "nilai jual" di depan calon besan dan menantu
kalau yang berkeinginan mulia buat jadi dokter rasa juga banyak tapi banyak juga seperti yang saya sebuatkan di atas"

well, sungguh lho :) . seiring berjalannya waktu ketika dia (org yang masuk FK hanya krn gengsi) kuliah, dia akan banyak mengerti dan paham. bahwa jadi dokter sesungguhnya ndak akan ngangkat gengsi dia. gmn nggak, pas koass aja bkal jadi babuny babu :)
Dia akan paham, bahwa jadi dokter itu lebih bukan sbg PROFESI, tapi murni sebuah PENGABDIAN
Dia akan paham, sesungguhnya ketika jadi dokter, manusia tidak akan banya melihat, tapi TUHAN yang banyak melihat :)

kuliah di kedokteran tuh anugrah :) . dan kebanyakan akan merasakan itu (tapi gak semua juga sih). hehe. matur nuwun

Anonymous said...

Sebelum mbaca tulisan ini, saya pernah berkomentar yg hampir mirip (kurang lbh) seperti tulisan mbak meta, ke suami saya. Dimana suami saya termasuk yg "tdk pro ke dokter", sdgkan kalo saya, klo melihat kasus meninggalnya anak dipangkuan ibunya, menururt saya itu kelalaian pihak rs. Alasan administrasi terdengar cukup akrab ditelinga ya? Cuma, tiba2 saja muncul pertanyaan: kalo dalam kondisi seseorang terlihat membutuhkan perawatan, ketika pihak rs meminta ybs untuk menyelesaikan urusan administrasi terlebih dahulu, apakah para dokter bs langsung turun tangan memberikan pertolongan terlebih dahulu tanpa menunggu "aba2" bahwa ybs sudah melengkapi administrasi etc etc?

Anonymous said...

Hai Metha..remember me?Natalia...pernah 1 skolah di MY Cipanas...skrg g jg dah jd dokter..apa yg lo tulis itu g stuju bgt..haha..g pernah ngalamin nasib yg sama..Ya..ya..ya..dokter hanya skedar titel yg membanggakan..jujur emang bangga..tp nyatanya fee yg kita peroleh ga spt yg orang awam pikirkan diawal2 karir..Tp balik lagi ke konsep jd dokter...sosial..asal pelayanan dng hati, Tuhan yg balas smuanya..hehe..Smangat Mettt...��

Anonymous said...

Saya pikir untuk menjawab mas/ mba mengenai apakah seorang dokter kalau melihat keadaan gawat bisa langsung membantu pasien agar tidak terjadi seperti kasus di pinrang , jawabannya adalah selama keadaan itu terjadi di mata seorang dokter , pasti kita akan mendahulukan pasien tersebut. Akan tetapi dokter yang bertugas seringkali sudah sangat banyak menangani pasien, sehingga dia tidak sempat melihat-lihat keadaan diluar ruang kerjanya, jadi kita harus mulai melihat mind scope yang terjadi ketika itu. Anyway good writing dokter .

Zainab Omar said...

Nama saya Mrs Omar Zainab, saya seorang Uang pemberi pinjaman pribadi yang
diizinkan untuk memberikan pinjaman kepada individu, bisnis pria dan wanita
dan juga untuk perusahaan-perusahaan yang membutuhkan bantuan keuangan di Indonesia dan di seluruh dunia.
Bank dan lembaga keuangan lain mungkin gagal, tapi perusahaan saya di sini untuk menghapus s air mata Anda. Apapun kebutuhan pinjaman Anda, jangka panjang atau pinjaman jangka pendek, pribadi
atau hipotek, kami siap untuk berbicara dengan Anda tentang bagaimana kami dapat memenuhi Anda
kebutuhan, dan bagaimana Anda bisa mendapatkan pinjaman ini melalui transfer bank atau cek kasir
telah mengirimkan kepada Anda. Biarkan kami membantu Anda mengatur pembiayaan dan juga mendapatkan pinjaman sangat sah
kami menawarkan pinjaman aman dan tidak aman.
Silahkan hubungi kami hari ini dengan mengirimkan email ke email berikut
alamat.
EMAIL Zainabomarloanfirm@gmail.com ATAU omarzainabloanfirm@outlook.com

teknonetwork.com said...

jiahahah... xD saya dulu juga pernah kepikirn untuk jadi dockter lo kak xD

http://www.katalogibu.com said...

waah kereen kyaaa

http://breaktime.co.id said...

yeeeee kereeen kalii

http://decorindoperkasa.com said...

yeeeee

http://www.gorrygourmet.com said...

wakakakaka sipooo

http://rgvinyl.com/ said...

mantaoooo

http://decorindoperkasa.com said...

waaahhh kuereeeen

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...