Thursday, November 28, 2013

Surat Untuk Sejawat

Disclaimer: Sebenarnya saya sudah "berjanji" pada diri sendiri untuk tidak menulis ramai-ramai soal dokter lagi. Bukan apa-apa, jujur, saya capek juga membaca beratus komentar negatif yang masuk tiap harinya. Saya percaya, when negativity surrounds you, you can not produce a positive life. Bukan berarti juga saya menutup mata dan hati terhadap pandangan orang lain. Engga sama sekali, selama disampaikan dengan baik dan benar. (Baca: Bukan cuma komentar dari orang yang bahkan tidak mau menuliskan nama aslinya hanya untuk menyerang dengan kata-kata kasar). Kalau mau berdiskusi, boleh-boleh saja kok:)

Tapi rupanya tangan saya gatel juga nih ingin menulis setelah membaca respons banyak orang terhadap aksi dokter di timeline Twitter, Path atau Facebook. Seorang teman mengingatkan saya, people will always find something (bad) to say about us and to judge, so why bother? Benar juga, toh semua orang bebas beropini kan?:)

Rekan sejawat yang saya hormati,
Kemarin, tanggal 27 November 2013, kita sebagai dokter se-Indonesia melakukan aksi solidaritas. Ada yang berdoa bersama, tafakur sampai membagikan bunga. Kita memasang pita hitam di lengan jas putih sebagai tanda berbela sungkawa atas tindakan kriminalisasi profesi kita. Sungguh sangat"mengerikan" menyandang gelar dokter di negara tercinta ini. Niat yang baik tak lagi cukup. Usaha yang maksimal tak lagi dinilai. Menyedihkan mengetahui setiap saat kita bekerja menolong orang, ada kemungkinan besar pula kita dianggap sebagai pembunuh.  Yang saya ketahui, aksi solidaritas kemarin memang disepakati serentak agar memberikan efek massive pressure pada pemerintah untuk segera membenahi sistem pelayanan kesehatan agar kita sebagai dokter dapat merasa aman saat bekerja. Jika sistem pelayanan kesehatan sudah baik, tentu tak hanya dokter yang senang, pasien notabene masyarakat pun akan ikut sejahtera. Kita ingin sekali orang-orang mulia yang berpengaruh di pemerintahan mengetahui betapa acak-acakannya sistem pelayanan kesehatan kita.

Rekan sejawat,
Banyak reaksi yang menyambut aksi kita kemarin. Lihat saja di timeline twitter, Facebook atau Path. Hampir semua orang berlomba-lomba menghujat profesi kita. Tak sedikit pula media yang memberitakan dengan tidak berimbang. "Dokter Mogok, Pasien Terlantar." Begitu bunyi banyak headline media massa, diperburuk oleh orang-orang yang berkoar di sosmed tanpa mau bersusah payah meng-kroscek benar tidaknya berita tsb. Tidak tahukah mereka bahwa kita tidak pernah berniat menelantarkan pasien? Tidak mengertikah mereka yang menghujat kita dengan membawa sumpah dokter (entah mereka tahu benar bunyinya atau tidak), bahwa aksi yang hanya dijalankan beberapa jam itu tetap menomor satukan pelayanan? Pelayanan emergency tetap dibuka, pasien gawat darurat masih dilayani.  Di tempat saya bertugas, aksi solidaritas ini hanya berjalan selama 25 menit. Pasien rawat jalan (baca: TIDAK emergency) ditunda pelayanannya 25 menit.  Hanya 25 menit. Kita belajar seumur hidup, mengorbankan banyak hal, bekerja keras tak kenal waktu, untuk apa lagi kalau bukan untuk pasien? Bagaimana bisa kita menelantarkan mereka?

Rekan sejawat,
Setidaknya ada satu hal yang bisa kita catat dari reaksi masyarakat. Bahwa profesi kita sangat dibutuhkan. Bahwa walaupun dihujat besar-besaran, dokter masih sangat diperlukan.  Semoga hal ini bisa menyadarkan pemerintah untuk sesegera mungkin membenahi sistem pelayanan kesehatan.

Rekan sejawat,
Saya tahu betapa sedihnya kita semua mengetahui profesi kita, yang kita usahakan seumur hidup dengan sekian pengorbanan, dihujat oleh orang banyak. Saya tahu, bagaimana marahnya kita saat semua orang mencaci-maki dokter. Saya juga mengerti, mangkel sekali rasanya ketika masyarakat menjelek-jelekkan profesi dokter.  Saya tahu, banyak pemberitaan tak berimbang yang membuat profesi dokter tambah dijudge ini-itu. Percayalah, saya mengerti. Tapi please, jangan tersulut emosi. Banyak rekan sejawat yang menulis status di sosmed "Rasain tuh gimana rasanya engga ada dokter!" atau "Kalau sakit, engga usah ke dokter ya! Ke dukun aja sekarang!" dan komentar kasar sejenis lainnya. Walaupun kesal juga, saya tetap merasa pernyataan seperti ini tidak pantas. Bagaimanapun, selain pointless, komentar-komentar kasar hanya menambah rusuh suasana. Jangan jugalah mendiskreditkan profesi lain. Kita sama-sama manusia yang membutuhkan orang lain. Tanpa polisi, wartawan, hakim, pengacara, jaksa, buruh, tentu kita tidak bisa bekerja sebagai dokter dengan baik. Tunjukkanlah kalau kita memang tidak arogan, seperti apa yang dianggap banyak orang. Buktikanlah kalau memang kita berpendidikan. Tidak usah menanggapi komentar kasar asal lewat atau asal ngomong tanpa tujuan dengan balasan komentar yang sama kasarnya.

Rekan sejawat,
Reaksi masyarakat terhadap profesi kita memberikan kita banyak hikmah. Kita disadarkan pentingnya komunikasi dalam menghadapi pasien, dan dituntut untuk bekerja lebih hati-hati lagi.
Sekali lagi, jangan tersulut emosi. Ingat lagi apa sih tujuan kita ingin menjadi dokter? Apa tujuan kita bekerja sedemikian kerasnya? Apakah untuk status supaya kita bisa menganggap masyarakat tak berdaya tanpa kita? Apakah untuk penghargaan? Atau memang untuk menolong?
Saya tahu, sulit untuk menghapus citra negatif profesi kita di mata masyarakat. Tapi, kita bisa mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri. Hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil bukan?

Semua orang bebas beropini, termasuk yang negatif. Tak perlu kita ikut negatif pula. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menghujat kita? Negativity only leads you nowhere. Tetap semangat, hati-hati dalam bekerja, tetap percaya Gusti Allah mboten sare. Bahkan sebutir niat baik pun akan dihitung kelak. Toh, in the end, its the only thing that matters, right?:)

39 comments:

aning said...

Semangatttt

Nanang Nurofik said...

Ijin share...

oktav said...

Setujuuuuu........ Kalo perlu dimuat di salah satu media cetak nasional

Muhammad Mardhiya Alghifari said...

dingin banget mbak meta :) . membasuh hati yang panas :) .. heheh. makasih mbak :) ...

Anonymous said...

Semangat Bu Dok, Pak Dok, semoga selalu dibimbing, dikuatkan dan dilindungiNya. Terimakasih tulisannya :'))

ome indra said...

emang masalahnya apa sih?
bukannya masyarakat hanya meminta kepastian hukum saja (opini slama ini bila ada perkara, dokter kebal hukum ato kasih uang habis perkara )..dan dalam hati semua dokter pasti pernah salah itu, kalo sembuh ato tidak hanya tuhan yg tau..dokter kan juga manusia.. semangat dok.. profesi dan tugasmu mulia..

emaerdei said...

Ademm, semoga banyak yang baca :)

Gabriela Julita Geby said...

perlu di inget yah....
-pasien kalau sampai mati di meja operasi itu MUTLAK kesalahan dokter...
-pasien kalau sampai mati di kamar ICCU setelah operasi , itu belum tentu kesalahan dokter...

anda pasti tau betul itu...
jd jangan ngom kalian para dokter bekerja dibawah tekanan hukum...

enak saja kl kalian kerja trs melakukan kesalahan yang mengakibatkan kematian pasien kalian tidak mau di salahkan....

use your brain :)
i thing u smart better than me...

Daniel Rinanto said...

Terimakasih mbak tulisannya
dan terimakasih ya atasku Gabriela atas kenegatifannya memandang para dokter yang merasa dirinya berotak dan pintar. Tuhan memberkati anda :)

wahyu said...

Apa dasarnya kalau mati di meja operasi mutlak kesalahan dokter? Jadi, kalau ada pasien kegawatan bedah dibiarkan saja, nggak usah ditolong? ICCU itu intensive cardiac care unit. Nggak semua pasien habis operasi dibawa ke sana, kecuali habis operasi jantung atau ada masalah jantung... nggak usah emosi.... use your brain too...

Anang Nugraha said...

Lambemu nduk...mikir saurunge nyoocor wae..

Anonymous said...

Ijin share ya mbak

Anonymous said...

Komentar di atas adalah salah satu contoh segelintir org yg tidak mengerti namun merasa perlu berkomentar seakan mengerti...tetapi percayalah..masih banyak yg menghargai pekerjaan dan usaha dokter...tetap semangat..
N true..in the end..bkn kata org2 yg penting,tetapi pertanggungjawaban kita sama Tuhan...
Semangat sejawat...Gbu :)

Anonymous said...

Use your brain?

Coba klo anda inGin berbicara baiknya tau apa yang anda tuliskan,,iccu?mungkin saja anda tidak tahu apa artinya itu,,,jadi coba pergunakan istilah "use your brain" dengan lebih bijak,,

Statement anda bu geby yang mengatakan "dokter apabila melakukan kesalahan yang menyebabkan kematian, tidak mau disalahkan" terlalu terbawa emosi,,anda coba simak beritanya,,dan lebih baik lagi anda menggunakan "brain" anda kemudian mencari kebenarannya terlebih dahulu baru bs berkata,,Dokter apabila ia bersalah tentulah ialah bersalah,,sama halnya dengan bidang profesi lainnya,,,tapi apabila benar,,tentu saja pembelaan diri akan terus bergema,,

Jadilah manusia yang bijak,,
Maaf apabila asa perkataan saya yang kurang berkenan,,

fhie.za said...

Sangat bijak sekali dok tulisannya.. smoga para dokter diberikan hati yang luas dan dangkal dengan mendengar kenegatifan semua, shingga bs dianggap angin lalu semua yg mencaci maki..
Semoga semua dokter diberikan kekuatan dan kesabaran menjalani profesinya, menghadapi pasien dan menyikapi semua sistem kesehatan dr pemerintah kita..
Jangan sampai dg pandangan segelintir orang merusak niat baik dokter. Semangat menjalani sumpah dok :))

Petani no.1 said...

Gabriela Julita Geby, Anda memiliki Tuhan? Kalau Anda percaya Tuhan, saya yakin Anda tahu bahwa kematian itu di tangan Tuhan, kecuali Anda Atheis.

Dewi Aristi said...

Thank you bu geby untuk mengingatkan kita bekerja dengan otak (something that maybe you didin't use to write the comment, hope you have one, better if a pair) lebih dari itu kita bekerja dengan hati.

Fatih OL Shop said...

Mungkin jk smua dokter berpikiran sprt ini ga akan sebesar ini efek yg trjd.mgkin d tmpt dokter cm 25 mnt.tp blm tntu d tmpt lain.mgkin klo para dokter lbh bijak bentuk solidaritasny bkn dgn mogok. Atau klo mo doa bersama atau apalah knp mst d jam kerja. Dlm 25 mnt bnyk yg bs trjd. Hdp mti memang takdir, tp ap pnybab kmatian ttp d pertmbngkn. Bgaimana dgn polisi yg slh tembak dlm bertugas? Ttp d proses hukum bkn? Jd hormatilah proses hukum, bgaimanapun baik/ burukny hukum trsbt d jlnkn.toh smua nantinya ttp akan kita pertanggungjawbkan d hadapan tuhan kita. Kecuali yg tdk bertuhan tentunya.

Meta Hanindita said...

Halo mbak:) terimakasih sudah menyempatkan membaca tulisan saya. Ada beberapa yang saya rasa harus saya luruskan nih. Betul memang, dlm 25 menit (atau brp jamlah di tempat lain) bnyk yg bs terjadi. Karena itu kami masih melayani pasien emergency. Tidak ada yang ditelantarkan. Pasien yang ditunda pelayanannya hanya yang bersifat rawat jalan. Contohnya mbak, kalau di poli anak yang batuk, pilek, dan tidak mengancam nyawa. Datang ke poli dalam keadaan batuk, pilek, 25 menit atau beberapa jam setelahnya pun saya yakin tidak mempertaruhkan hidup mati. Kemudian yang ke-2, saya setuju, polisi atau siapapun yang lalai harus diproses hukum. Tapi mbak, seandainya mbak mau mencari tahu dengan lebih banyak lagi, mbak akan mengerti apa yang kami perjuangkan bukan semata-mata menutup mata. Dr. ayu sudah sesuai standar prosedur, tidak lalai, tapi kenapa dihukum? Istilahnya sudah melaksanakan tugas dengan baik -tidak ada unsur kelalaian ya sekali lagi-, tapi dituntut karena pasiennya meninggal. Aneh? Itu yang kami perjuangkan. Kami tidak akan berdemo untuk dokter yang lalai. Pernah dengar kejadian aborsi oleh dokter? Atau kasus ketinggalan gunting? Kami tidak pernah permasalahkan bukan? Karena memang harus diproses hukum. Semoga mengerti maksud saya ya mbak:)

Anonymous said...

Janganlah terlalu membesar-besarkan aksi demo yang hanya bberapa jam. Ingat yg tutup itu poliklinik. Untuk kedaruratan tetap ditangani. Operasi tetap dilaksanakan. Pasien UGD tetap ditangani. Sebenarnya kita udah sering kok menghadapi hari tanpa dokter praktek. Ingat kalo hari libur/hari raya/hari minggu? Berapa banyak dokter yang buka praktek? Sangat sedikit bukan? Tapi UGD dan hal-hal lain yang darurat tetap buka dan tetap dijalankan.. Kalian tidak mengerti sih betapa sudah berbagai upaya ditempuh untuk mendapatkan keadilan..tapi krena tidak didengar makanya kami berdemo. Karna itu harap dukung kami untuk mendapatkan hak kami sehingga kamipun nyaman melakukan pekerjaan kami dan tentunya pasien yang diuntungkan. Sejelek-jeleknya dokter tidak ada yang ingin pasiennya meninggal. Kalau pilot kelalaian sehingga pesawatnya jatuh, bila pilotnya tidak meninggal toh pilotnya tidak dipenjara?? Itu yg kami maksud. Pemenjaraan itu yang membuat kami terluka padahal tindakan operasi sudah sesuai prosedur, tidak ada bedanya dengan operasi2 caesar ibu2 yang lainnya.. Ingat, penyebab kematian adalah emboli yang sangat jarang terjadi dan fatal akibatnya. Itu bukan kesalahan dokter. ITulah yang kami bela..

Avirinda said...

@Gabriella: i THINK you'RE SMARTER than me.

Bukan THING, thing=benda.
Bukan juga smart better, yang benar smartER.

Use your brain lah:)

Mbak Meta, dari komentarnya ini sudah bisa didugalah tingkat pendidikannya segimana, yah maklum saja kalau agak kurang.

Avirinda said...

i THINK you'RE SMARTER than me.

Bukan THING, thing=benda.
Bukan juga smart better, yang benar smartER.

Use your brain lah:)

Mbak Meta, dari komentarnya ini sudah bisa didugalah tingkat pendidikannya segimana, yah maklum saja kalau agak kurang.
Reply

Yudhistya Ksyatria said...

Hehe. Sabar sejawat, use your heart. Kalem.

Keep calm and the truth will come

PGStore said...

Jujur, awalnya karena melihat berita di media TV dan beberapa social media, saya sempat berkomentar "loh kok gitu, dokter kok demo? ada apa dengan aksi demo yg lately marak sekali, mulai dr buruh, trs skrg knp dgn dokter? bagaimana dgn nasib pasiennya?" lalu, setelah jauh lebih dalam saya mencari informasi yg akurat, saya br mengerti, profesi seperti dokter, perjalanan yg mereka lalui untuk menjadi seorang dokter, itu menurut saya sebagai org yg jelas bkn dokter, sangat panjang dan melelahkan, dan dgn hati nurani, mereka sudah mati2an menimba ilmu sampai bisa menolong kita, manusia yg ga luput dr cela dan sakit, profesi seperti ini herannya malah digunjing oleh para haters, saya bukan haters ataupun lovers, saya netral, kalau sakit, siapapun pasti butuh dokter, kalau ingin belajar, siapapun pasti butuh org yg bs jadi guru-nya, begitu seterusnya. Saya bkn siapa2, tp yg saya tau pasti: siapapun, apapun profesinya, berhak mendapat perlindungan hukum yg seadil2nya, kalau salah dikenakan hukuman, kalau tidak salah dia berhak dibela, jadi mnrt saya disini dokter Meta benar sekali, dengan penjabaran yg baik, kami bisa mengerti, from the doctor point of view, you guys such a great fighter for humanity, may God bless you all.

Anonymous said...

Salam sejawat,
Really like your writing Meta,
Keep Fighting
Glory of Indonesia's doctors

Anonymous said...

Hahahahha... Geboy.. Nulis aja blom bener udah komentar.. laen kali kalo mau comment beli dulu "brain" nya di forensik banyak Koq yg second bisa dipilih... Wkkkkwkkk..

Airlangga Vitradi said...

saya adalah seorang dengan background pendidikan Hukum, mempunyai istri seorang Dokter. ada yang ingin saya tegaskan disini adalah:
1. aksi yang dilakukan oleh para dokter kemaren adalah AKSI SOLIDARITAS bukan DEMO, mereka TIDAK meninggalkan kewajibannya, karena yang melakukan aksi tersebut HANYA dokter yang sedang tidak ada jadwal Praktek baik di klinik maupun di Rumah sakit, so pelayanan terhadap pasien masih dilayani dengan sepenuh jiwa.
2. Tuduhan yang dilakukan harus melihat kepada Sistem Operasi Prosedur SOP Dokter, apakah doketr tersebut sudah melakukan tindakan sesuai prosedur apa tidak, jika dokter TIDAK melakukan atau melakukan DILUAR prosedur ini baru yang dinamakan MALPRAKTEK, akan tetapi jika SUDAH melakukan sesuai Prosedur walaupun sang pasien meninggal dunia, ini BUKAN MALPRAKTEK.
3 Dokter itu BUKAN Tuhan, jadi dokter akan berusaha semampu dia, akan tetapi jika Tuhan berkehendak lain, jangankan seorang dokter, seorang alim ulama atau tokoh agama pun yang "dekat" dengan Tuhan tidak mampu untuk melawan Takdir Tuhan. sama dengan seorang pengacara yang membela kliennya, jika putusan hakim menyatakan dia bersalah tetap saja kliennya dihukum.
4 Jika saya melihat justru HAKIM adalah "tangan kanan" Tuhan, dikarenakan dalam memutuskan suatu perkara terdapat irah - irah atau kepala pada Putusannya yaitu "demi keadilan berdasarkan Tuhan YME" yangb berarti memutuskan suatu perkara dengan adil memakai nama Tuhan, dan itu sangat berat sekali bila kita resapi
dari 4 point yang saya uraikan, maka lihatlah segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, jika belum memahami hendaknya cari tahu dan jagnlah main asal tuduh. Untuk para dokter di Indonesia, saya pribadi mendukung anda. Pekerjaan anda sekalian sangatlah mulia.

Salam perjuangan dari kami Bidang Hukum

Anonymous said...

Mbak Gabriela ini keknya laper deh, makanya komen nya pakek esmosi...
woles aja sist... :)

ambarsari nila said...

Harusnnya ada ketegasan dari mentrinya, yg saya lihat cuman gak ada back up sama skali dari seorang mentri (ibarat melindungi profesi dokter seprofesi dg mentri tersebut), jd sy ikut prihatin sangat sangat,walaupun sy bukan seorang dokter saya hanya seorang accounting, tp merasa miris dg pemikiran,pernyataan dan tindakan mentri yg dipilih yg harusnya meluruskan aturan yg kurang lurus trnyata tidak bisa,,
yg saya takutkan hanya satu, dokter yg punya potensi lebih memilih berkarir di negeri orang dari pada membenahi negeri sendiri,,
jangan sampe ya dok,please,, :)
Negara kita butuh pemikiran dan pembenahan dari anda anda smua, smoga di tahun mendatang 2014 dg bergantinya kabinet/kepemimpinan negara lebih berpihak dg aturan yg melindungi profesi anda dan pelayanan kesehatan kita lebih maju dari negara tetangga sebelah,amin,,

#harapan besar saya

ambarsari nila said...

mb gabriella dll : saat ini bukan mencari kesalahan yg dibutuhkan, yg harus dicermati adalah bagaimana cara membenahi sistem dan harus lebih baik dari negara tetangga, singapura misalny, ya kita harus punya mimpi kita esok lebih maju dari negara tetangga kok, aminn,,

knp harus dibenahi sistimnya?!? saya miris lagi2 pelayanan kesehatan alatnya kurang lengkap bahkan kurang canggih, ini bukan ksalahan dokter ini ksalahan kita smua,pemerintah harusnnya tanggap,lagi2 mentrinya apa upayanya?! ya hrs berfikir entah apa yg dilakukan,,

:)

Airlangga Vitradi said...

@ Mba Gabriella, kita semua adalah manusia mba yang saling membutuhkan satu sama lain, pernahkan terbayangkan oleh mba gabriella jika mba sakit, apakah mba bs mngobati diri sendiri? seorang yng profesinya pencukur rambut tidak dapat mencukur rambutnya sendiri oleh krena itu dia butuh orang lain, sama seperti kita. intinya adalah menghargai sesama Profesi. Dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia, bangunlah hubungan baik kita dengan dokter. kita butuh mereka

Anonymous said...

Kalo saya pribadi, saya sudah mulai mempertimbangkan untuk pindah kerja di luar negeri mbak. Dan beberapa teman saya sejawat dktr juga mulai banyak yg pergi dan bekerja di luar, paling banyak ke aussie dan belanda. Sedih mbak rasanya kerja ikhlas meninggalkan keluarga, kadang mengabaikan kesehatan diri sendiri tapi masih dicaci maki, dihujat, dihina, dipojokkan. Mungkin nanti jika sistem hukum yg jelas dan ga serampangan kaya sekarang, insya allah kami pasti kembali ke indo.

trisnaulan said...

Hikmah dari kasus ini sangat besar. Pelajaran utama yang harus diterapkan baik praktisi hukum dan dokter adalah "nguwongke" (bhs jawa, artinya kira2 memanusiakan manusia). Semiskin, sebodoh, sekejam, sekasar apapun klien yg dihadapi ia adalah seorang manusia yg memiliki hak2 yg hrs disikapi dgn baik. Sehebat apapun dokter/polisi/hakim/jaksa pada bidangnya, seberapapun menguasainya mereka secara akademik tapi bila tidak indah cara menyampaikannya, tujuan mulianya tdk sulit tercapai.Saya kira ini saat yg tepat bagi sistem kesehatan indonesia mengevaluasi diri. Saya kira dokter juga sdh lelah dituntut bekerja profesional di tengah lingkungan kerja yg tdk kondusif. Its a wake up call to review what is wrong. Tuntutlah apa yg menjadi hakmu dgn cara yg elegan, dokter adl sebuah bagian dari keseluruhan sistem pendidikan dan kesehatan indonesia yg sudah harus direstrukturisasi. Sementara proses itu berjalan, hadapilah proses2 melelahkan yg nantinya akan mendewasakanmu. Saya nilai its a domino effect, sayangnya dr. Ayu dkk yg ketiban sampur menanggung bebannya. Masyarakat begitu memimpikan memiliki dokter2 indonesia yg profesional. Besarnya kekecewaan masy. Sebenarnya cerminan dari begitu besarnya harapan mereka kpd dokter2 indonesia yg mrk sayangi. Jadilah tumpuan harapan itu. Ibu saya bidan yg mendampingi dokter2 co as di rsu, saya seorang jaksa. Seperti masyarakat yg lain smga dokter2 di indonesia kelak bergaji tinggi, dana dan kesempatan penelitiannya tak terbatas, jam kerjanya rasional, ada sistem mutasi yg jelas, bisa jd dokter2 keren yg kyk ada di sinetron grey anatomy, dll. Please, pertahankan idealisme, berlian di dalam kubangan lumpur tetaplah berlian.

titus SA said...

25 menit, kalau memang benar itu...
adalah 25 menit yang membunuh semua yang kalian perjuangkan...
bahasa dokter bukan bahasa demo atau mogok... pengetahuan kalian tentang demonstrasi tak ada seujung kukunya daripada para buruh. Demonstrasi bagi buruh adalah bagian dari kosa kata mereka...
Tapi nasi telah jadi bubur. kesimpulan saya, dokter harus membangun demokrasi, menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat. Dan jangan bunuh diri untuk kedua kalinya...

Meta Hanindita said...

Mbak/Mas Titus (Maaf, saya engga tahu nih harus manggil apa, karena namanya unik hehe), percayalah, kami sudah mengupayakan segala cara "terhormat" yang kami bisa. Tidak pernah ada responsnya. Temu dengar pejabat DPR? sudah bolak/i, melayangkan surat? Sampai bosan. Karena itu, walaupun pahit, kami memutuskan serentak melaksanakan aksi ini. Bisa Mbak/Mas Titus lihat sendiri, bahkan setelah aksi ini beredar luar biasa di media, sampai sekarang, bapak presiden kita yang terhormat tidak memberikan komentar sama sekali. Entah harus aksi macam apalagi yang harus kami lakukan. Mungkin Mbak/Mas Titus punya ide? Terimakasih:)

Anonymous said...

pak dokter & bu dokter... yang saya hormati, sudahlah, tak perlu 1 kasus dijadikan perang opini di media publik, anda semua kuliah lama2 sudah banyak menyelesaikan banyak kasus ujian tak perlu lagi adu opini.
ada 1 kata2 bijak dari saya "yang suka memperbesar & memperpanjang sesuatu cuma Mak Erot, & ia bukan dokter." =)
salam hangat untuk semua dokter di Indonesia terutama dokter saptadi & seluruh perawat RSPAD Gatot Subroto yang membantu merawat ibu saya hingga sembuh total.

Meta Hanindita said...

Halo Mbak/Mas entah-siapa-namanya yang berkomentar di atas saya;) Terimakasih ya sudah berkunjung ke blog saya. Terimakasih juga sudah memberikan apresiasi pada sejawat saya di RSPAD. Senang rasanya masih ada yang mengingat hal positif dari dokter:) Anyway, begini mas/mbak, menurut saya pribadi, yang kami lakukan murni bukan untuk perang opini di media publik. Kalau hanya sekedar untuk perang opini sih ngapain juga ya sekolah lama-lama sampai mumet setengah mati *curcol:p*. Sesungguhnya yang kami lakukan hanyalah mendesak pemerintah untuk segera membenahi sistem pelayanan kesehatan di negara ini yang sedemikian bobroknya. Tentu, tujuannnya apalagi kalau bukan untuk masyarakat Indonesia juga. Salam sehat:)

Anonymous said...

Mb meta foto dimana? Waw merah, manis semanis wajahnya, swit swit

Meta Hanindita said...

#salahfokus:))))))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...