Tuesday, August 13, 2019

Serba Salah

Alhamdulillah, buku ke-9 saya sekaligus buku seri ke-4 dari Mommyclopedia akhirnya terbit jugaaa. Keinginan saya sejak pertama kali menulis buku di tahun 2008 sebetulnya adalah menulis 1 buku setiap tahunnya. Sempat skip 2x karena saya hamil (dan bermasalah banget sampai tidak bisa melihat. Jdi kan ya boro-boro menulis #lahkokcurcol) dan melahirkan bayi prematur yang butuh perawatan lebih hehe. Tapi syukurlah, setelah itu, keinginan saya bisa tercapai terus.

 Sejujurnya, saya sudah merencanakan menulis buku Mommyclopedia seri ke-4 sejak 2 tahun yang lalu dan mulai menyusun draftnya sejak lama. Bukan tentang MPASI, melainkan tentang..errrr...kasih tahu engga ya:p.. Ada deh pokoknya, biar jadi buku seri selanjutnya aja ya hehe. Ternyata, dalam perjalanannya, malah banyak yang request saya membukukan highlight mengenai MPASI di Instagram. Karena itulah, buku yang rencananya akan saya jadikan seri ke-4 jadi mundur disela buku mengenai MPASI ini hehe.

Buku seri ke-4 ini berjudul Mommyclopedia: 567 Fakta Tentang MPASI. Fakta nomor 432 akan membuatmu terkhezoed! Saya sengaja membuat isinya bernomor, hanya poin-poin saja,  supaya lebih ringan dan mudah dibaca orang dengan background pendidikan apapun. Setiap nomornya berisi fakta singkat mengenai MPASI, hanya 1-4 kalimat saja. Saya paham bahwa minat baca kebanyakan orang Indonesia masih rendah, pastinya mumet kalau disuruh baca buku yang monoton penulisannya, apalagi kalau banyak bahasa medisnya. Harapannya, semoga dengan penulisan yang seperti ini, buibu pakbapak lebih paham karena selain lebih detail, lebih fokus, bahasanya pun sengaja saya pilih yang paling sederhana. 

Kenapa 567? Engga ada pertimbangan khusus kok, memang kebetulan saja poin yang saya tulis berhenti di 567:D

Thursday, January 31, 2019

Mom Shaming

Weits, ada apa nih sampai saya ikut menulis soal mom shaming?
Diambil dari Google

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapat ibu dari seorang pasien yang datang ke tempat praktik dan mendeklarasikan dirinya sebagai anti vaksin. Sejak lahir hingga usia 7 bulan, anaknya memang tidak diberikan vaksinasi apapun. Sebagai seorang dokter yang mempunyai tanggung jawab untuk mengedukasi sesuai EBM, tentu saja saya tidak tinggal diam. Karena alasan ibu tersebut tidak mengimunisasi anaknya adalah kehawatiran anaknya akan menjadi autis, maka saya tunjukkan beberapa jurnal mengenai hoax terkait autis dan imunisasi yang kebetulan ada di laptop saya.

Panjang lebar saya jelaskan, termasuk bagaimana keputusan ibu tadi untuk tidak mengimunisasi anaknya bukan hanya berdampak pada anaknya sendiri tapi juga pada anak-anak lain dan lingkungannya karena herd immunity. Saya sangat terkejut menerima respon dari sang ibu yang menanggapi edukasi saya sebagai mom shaming. Eh? Gimana?

Tuesday, December 25, 2018

Terbully

Setelah sekian lama tak mengisi blog, akhirnya hari ini saya tergugah untuk beberes debu di sini nih hehe! Mungkin banyak yang bertanya-tanya ya, ke mana aja sih saya sampai tak juga sempat untuk menulis di blog sekian lama?

Sebenarnya, saya masih rajin menulis kok:p  Hanya saja memang medianya tak lagi hanya blog saja. Untuk mengedukasi orang tua mengenai kesehatan anak, saya lebih sering menggunakan Instagram Story untuk menulis. Saya juga masih berjuang menyelesaikan draft buku Mommyclopedia seri keempat, dan tentunya penelitian-penelitian ilmiah saya. (Duh, doakan segera selesai sayaaa. Pening akutuuuu)

Oh ya, ngomong-ngomong soal Instagram nih. Jadi, seperti yang saya sebut sebelumnya, tahun ini saya lebih sering menggunakan media Instagram Story untuk mengedukasi orang tua. Why? Kalau sudah mengikuti blog saya sejak dulu mungkin sudah paham benar nih, saya memulai mengedukasi sebenarnya sudah sejak lama, lebih dari 10 tahun lalu. Lewat blog, buku, dan lain sebagainya. Hanya saja, saya merasa selama ini apa yang saya sampaikan masih belum terlalu memberikan dampak bagi banyak orang.

Friday, June 8, 2018

Geneva day-2

Jauh hari sebelumnya, saya sudah mencatat baik-baik acara apa saja yang ingin saya ikuti selama kongres. Nah di hari pertama kongres, saya sudah berencana untuk mengikuti breakfast symposium yang diadakan pukul 07.15. Karena tidak memungkinkan untuk saya naik taksi atau Uber dari apartemen (baca cerita sebelumnya ya!), saya memerika jadwal public transportation yang rupanya berangkat dari bus stop depan apartemen pukul 06.27. Di Eropa, jam tsb terbilang sangat pagi, apalagi untuk hitungan weekend. Jadilah saya sudah stand by di bus stop sejak 06.25. Hujan turun tak berhenti sejak semalam sebelumnya. Tapi tunggu punya tunggu, jam saya sudah menunjukkan pukul 06.40, namun bis tetap juga tak kunjung muncul. Tahu tidak, akhirnya muncul jam berapa? 07.17! Kzl bgt. Saya sudah mengomel panjang lebar curhat ke suami deh. Dikata enak apa, menunggu di bawah hujan, kedinginan, bisnya telat lama banget pula.

Walaupun sedikit terlambat, saya masih sempat mengikuti acara yang saya minati, alhamdulillah. Pembicaranya, prof. Alexander Lapillone adalah salah satu mentor saya saat mengikuti Masterclass di Rotterdam. Kami sempat berbincang-bincang seusai acara. Menyenangkan deh mengetahui kalau beliau masih mengingat saya:D

Seharian penuh saya mengikuti acara kongres. Kemudian diingatkan oleh email untuk menerima penghargaan Young Investigator Award. Ini adalah penghargaan internasional pertama saya, jadi duh menerimanya saja sampai gemetar hahaha.

Semoga bukan yang terakhir ya!:D

Thursday, June 7, 2018

Rotterdam, Packing dan Geneva

Weekend terakhir di Belanda, saya habiskan dengan memenuhi undangan lunch dari kolega. Kolega saya ini sebetulnya sudah pensiun, tapi kami sempat berjumpa saat beliau mengunjungi Indonesia beberapa tahun lalu. Rencananya, beliau akan menjemput kami di apartemen, membawa kami ke Rotterdam, dan mengajak kami berkeliling hingga sore di sana.

Selama di Belanda, saya sudah mengunjungi Rotterdam 4x, sehingga awalnya saya ogah-ogahan berangkat kembali ke sana. Walaupun memang indah, tapi karena kecil, apalagi sih yang bisa dilihat?

Jawabannya ternyata..banyak! Selama 3x sebelumnya, setiap mengunjungi Rotterdam, cuaca selalu sedang tak bersahabat. Entah hujan berkepanjangan, entah mendung seharian atau dingin minta ampun. Hari itu, cuaca cerah, matahari bersinar sepanjang hari dengan suhu sekitar 25 derajat Celcius. Ideal banget kan ya?

Kami dijemput pukul 10 pagi di apartemen, lalu berangkat ke Rotterdam melewati jalanan yang indah. Biasanya, kami berangkat ke sana dengan kereta sehingga tentulah pemandangannya jauh berbeda. Di kiri kanan, bolak/i saya melihat sawah yang luas dengan kumpulan sapi bahkan kuda. Bagus deh!

Saturday, May 26, 2018

Meet Up, Utrecht dan Keukenhoff

Selama saya menjalani fellowship di Amsterdam, ada 2 orang teman saya juga yang menjalani fellowship di Groningen, kota yang terletak sekitar 2.5 jam dari Amsterdam. Sejak sebelum berangkat, kami sudah selalu kontak untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Nah, karena mereka terjadwal pulang ke Indonesia lebih dulu, kami memutuskan untuk meet up. Iya dong, masa sama-sama di Belanda sekian lama, sekali pun tak pernah berjumpa:D

Kami janjian bertemu di pusat kota, tepatnya di tempat makan pancake yang cukup terkenal di Amsterdam. Ngomong-ngomong, saya sukaaa sekali dengan pancake khas Belanda ini. Sebenarnya mirip D'Crepes yang banyak dijumpai di pusat perbelanjaan di Indonesia, tapi adonannya dimasak lebih lembut dan "basah". Dipadu dengan Nutella kesukaan saya, hmmmm yumy!

Sebetulnya, kami janjian bertemu pukul 3 sore. Namun karena saya harus ke VUmc, rumah sakit tempat saya fellow juga untuk mengembalikan nametag dan white coat, saya berangkat sejak pagi. Dari VUmc, saya manfaatkan waktu berjalan-jalan mengelilingi pusat kota. Walaupun bukan weekend, Amsterdam ramaaai sekali. Rupanya di Belanda, minggu pertama Mei adalah waktu liburan panjang untuk anak sekolah, namanya May Vacantie, entah apa yang dirayakan:p

Friday, May 25, 2018

Farewell, King's Day dan Belgia

Menjelang berakhirnya masa fellowship di Belanda, saya bukan main merasa gaduh gelisah. Apa pasal? Saya sangat menyukai pekerjaan selama di Belanda, benar-benar enjoy. Saya berkesempatan bekerja sama, mendapat pengalaman baru, mendapat bimbingan dari orang-orang hebat di bidangnya. Unforgettable deh! Di satu sisi saya senang karena akan segera bertemu Naya, tapi di sisi lain saya sedikit berat meninggalkan Belanda dengan segala keteraturannya.Terbayang begitu kembali ke Indonesia, bye-bye on time! Saya selalu berusaha on time dalam setiap kegiatan, tapi rupanya sedikit sekali orang yang sama menghargai waktunya dengan saya. Bayangkan ya, bukan hanya sekali dua kali lho ini. Misalnya saya diundang rapat jam 9 pagi. Saya sudah datang sejak jam 9 kurang 15, nyatanya karena belum ada yang hadir, rapat baru dimulai jam 9.45. Sounds familiar to you? Berapa lama tuh waktu saya terbuang yang sebetulnya bisa sangat bermanfaat jika dikerjakan untuk hal lain selain menunggu?

Kegalauan saya bertambah setelah profesor saya di AMC menawari saya pekerjaan sebagai staf tetap dokter spesialis anak bagian metabolik di sana. Saya hanya perlu kursus bahasa Belanda, sementata license dan yang lainnya akan diurus sampai selesai oleh profesor saya.

Thursday, May 24, 2018

Den Haag, Piknik dan Aalkmar

Weekend adalah (selalu!) waktu yang paling saya tunggu-tunggu selama di Belanda. Mengapa? Selain karena weekend adalah waktu bebersih apartemen dan makan masakan Indonesia, saat weekend pulalah saya memiliki banyak kesempatan untuk mengeksplorasi Belanda.

Weekend ini, kebetulan saya dan suami diundang oleh sejawat suami untuk makan malam di Den Haag, kota berjarak sekitar 51 km dari Amsterdam. Kok jauh amat? Mignon, nama sejawat suami saya itu, berdomisili di Den Haag. Setiap hari, ia pulang pergi Den Haag-Amsterdam dengan mengendarai mobil. Tak terasa jauh sih karena lalu lintas yang sangat teratur, jarak sedemikian bisa ditempuh dalam waktu kurang dari sejam. Apalagi kalau naik kereta (yang btw, sangat nyaman, selalu tepat waktu, jadwalnya pun ada hampir 40x keberangkatan per harinya).

Menunggu di hall rumah sakit. Saya terlihat ngantuk ya:))
Kami janjian bertemu di hall rumah sakit pukul 6 sore. Nyatanya, karena Mignon harus memperpanjang waktu operasi, jadwalnya molor sampai jam 19.30. Hahaha, saya sudah kelaparan, ngantuk, dan kedinginan:p Kami berangkat dari AMC menuju Den Haag dengan naik mobilnya. Sepanjang perjalanan, saya sudah tak kuasa menahan kantuk. Entah berapa kali deh saya menguap.

Wednesday, May 23, 2018

Adult Metabolic, Presentasi dan Kartini

Sekian minggu berada di Belanda, lama-lama saya dapat beradaptasi dengan sangat baik terhadap situasi bekerja di sini. Saya sudah terbiasa menganamnesis pasien dengan detail (harap maklum ya, waktu yang tersedia sangat cukup. Kalau di Indonesia, banyakan pasiennya daripada waktunya:p), berdiskusi dengan mendalam, hingga membuka update artikel ilmiah terbaru pada saat berpraktik.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, selain di poli Metabolik Anak, saya pun bertugas di poli Metabolik Dewasa. Ini benar-benar pengalaman baru bagi saya, karena di Indonesia, saya belum pernah bertemu pasien metabolik di atas usia anak. Setahu saya, semua pasien metabolik sudah meninggal duluan sebelum mencapai usia dewasa (di Indonesia). Makanya, melihat betapa ternyata mereka bisa hidup secara berkualitas (baca: tak terlihat sakit, bisa berkeluarga, bisa bekerja, hidup secara normal) hingga di usia kakek nenek merupakan insight baru buat saya.

Saya beruntung mendapat kesempatan bekerja sama dengan orang-orang terbaik di bidang ini di Belanda. Bayangkan deh, saya bisa berdiskusi dengan nama-nama yang biasanya hanya saya baca di jurnal-jurnal ilmiah. Rasanya tuh, hmmmm, tak terungkapkan:p

Thursday, April 19, 2018

Bakso, Sakura dan Amstelveen

Kata orang, kalau di luar negeri, yang pertama dirindukan pasti adalah makanan di negara kita sendiri. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya mempersiapkan banyak sekali makanan (sambal sih terutama) untuk dibawa ke Belanda dari Indonesia. Jadi urusan persambalan, beres! Saya pun sudah melakukan survey di mana saja toko atau supermarket yang menjual makanan atau snack khas Indonesia. Enaknya di Belanda, karena memiliki hubungan "khusus" dengan Indonesia, dan banyak orang Indonesia di sini, mudah sekali menemukan restoran Indonesia.

Jadi kalau sewaktu-waktu ingin makan tempe, rendang, sate, sampai gado-gado, jangan sedih. Tinggal googling restoran Indonesia terdekat. Pasti ada! Demikian pula dengan snack, minuman atau perbumbuan. Mulai dari teh kotak, indomie, kue mangkok, lemper, pastel, risoles, sus, apalah semua ada di Belanda. Jadi tak pernah rindu makanan Indonesia dong Met?

Wednesday, April 18, 2018

Memasak, Bumbu Instan dan Liliput:p

Hampir memasuki bulan ke-3 di Belanda, sepertinya sedikit banyak saya sudah beradaptasi dengan lumayan baik. Kalau dulu saya masih ngomel panjang lebar kedinginan di suhu 15 derajat, sekarang di suhu 12 derajat saja saya berani ke luar rumah tanpa long john:D Masalah adaptasi pun bisa terlihat dari waktu. Sebelumnya, saya sulit berkompromi dengan waktu tidur malam hari di Belanda. Maklum, jam 9 malam saja masih terang benderang. Bagaimana bisa tidur?
Metabolic Pediatricians. Kalau duduk begini, ga kelihatan betapa jauh tinggi kita hehe

Tapi sekarang, jam 9 atau jam 10 malam, walau seterang apapun, tidur ya tidur saja hehe. Lama-lama pun saya mengikuti pola hidup orang Belanda. Awalnya, saya sering kali kebingungan melihat orang sini yang aneh -menurut saya-:p Bayangkan ya, pagi hari mereka berangkat bekerja hanya sarapan sepotong roti, makan siang di tempat kerja, lagi-lagi sepotong roti atau salad dan buah. Kemudian baru malam harinya mereka makan besar. Rupanya sih ini dikarenakan waktu yang mepet untuk memasak dan mempersiapkan makanan. Kalau malam kan waktunya cukup panjang, jadi sempatlah untuk memasak dulu.

Sekarang giliran saya yang demikian. Setiap pagi, saya hanya sarapan sepotong roti, lalu kalau sempat (karena sibuk sekali di rumah sakit), siangnya makan yoghurt. Baru malamnya, saya bisa memasak untuk makan malam. Eh? Saya? Memasak? Iyaaa, engga salah baca kok hahaha. Ini salah satu bentuk adaptasi saya selama di Belanda:p

Wednesday, April 4, 2018

Giethoorn, Rotterdam dan Zaanse Schans

Sejak awal minggu, saya (dan semua kolega saya di rumah sakit) sudah sangat excited menyambut liburan paskah. Libur kali ini cukup panjang di Belanda, mulai dari hari Jumat hingga Senin, dan baru masuk kembali Selasa. Rupanya bukan hanya tenaga medis saja yang tak sabar menanti weekend, demikian pula halnya dengan pasien yang semua memilih datang sebelum libur. Asli, overload pekerjaan! Hahahaha.
Giethoorn

Di Belanda, mayoritas penduduknya tidak beragama. Hanya sekitar 30% saja yang beragama, 17% diantaranya kristiani, dan 14% diantaranya muslim. Kebanyakan kolega saya pun tidak beragama sehingga seringkali mereka terkaget-kaget melihat saya ijin sholat.

X: "Meta, kok kamu sering banget sih berdoanya? Emang berapa kali sehari?'
M: "Yang wajib 5x, tapi sunnah bisa juga banyak."
X: "Whaaat? Wow, i cant imagine that!"

Suatu saat, saya datang ke rumah sakit untuk sarapan di sana, tidak di apartemen seperti biasanya.

Y: "Met, kok tumben kamu sarapan di sini?"
M: "Iya, saya tadi telat bangun. Jam 6 pagi baru bangun. Semalam baru tidur jam 10 lebih karena menunggu waktu Isya. (FYI, saat ini waktu sholat shubuh di Belanda sekitar 5 lebih 15 pagi, dhuhur sekitar jam 13.45, ashar 17.20, maghrib 20.20 dan Isha sekitar 22.15. Dan ini akan mundur terus lho! Nanti di akhir April, waktu Ishanya adalah jaaaam 11 malam alias 23.00 saudara-saudara!).
Y: "Wah, jadi kamu harus nunggu sampai jam 22.15 baru bisa tidur? Wow, i cant imagine!"

Monday, March 26, 2018

Stunted, Meet Up dan Ulekan

Memasuki minggu ke-4 alias bulan pertama di Amsterdam, saya merasa hari semakin cepat berlalu. Mungkin karena sudah sangat beradaptasi dengan cuaca di sini, mungkin juga karena kesibukan yang sangat padat. Saking padatnya, saya seringkali harus berlari-lari dari satu gedung ke gedung yang lain. Wah benar-benar tak terasa sudah sebulan berada di sini. Belum lagi karena banyak tugas yang harus saya kerjakan.
Team Pediatric Metabolic
Lihat deh, di antara kami semua (dokter anak, perawat, mahasiswa, dan saya), saya yang paling pendek alias paling stunted. Jadi bisa dibayangkan yaa kalau sedang visite atau berjalan, satu langkah mereka sama dengan 5-6 langkah saya. Buat mereka sih sepertinya berjalan cepat, tapi buat saya rasanya berlari-lari terus! Biar deh, semoga setelah ini saya jadi semakin langsing ya hahaha. #ngarep Makanya, pantas saja kalau waktu jadi terasa cepat kala di rumah sakit. Wong lari-larian terus.

Sunday, March 18, 2018

Last Day in Rotterdam

Walaupun saya mengira akan terlambat bangun pagi ini karena tidur sangat larut malam sebelumnya, namun pagi hari benar, mata saya sudah terbuka lebar. Menunggu waktu subuh dengan menulis blog, membalas email, dan beberes, saya sudah siap untuk menjalani hari Masterclass terakhir ini. Rencananya sih, acara akan selesai pukul13.00.

See you, Rotterdam! Source: Google
Materi yang diberikan sebagai pemungkas dan penutup acara sebetulnya kurang terlalu berhubungan dengan praktik saya sehari-hari, walaupun begitu menyenangkan sekali mengikuti diskusi orang-orang pintar dari banyak negara ini:D Rotterdam saat itu sangat berawan, dan menurut ramalan cuaca akan hujan seharian. Waktu coffee break, saya sempatkan untuk kembali ke kamar, packing dan check-out. Rencananya, begitu acara selesai, saya akan mengejar kereta ke stasiun pusat Rotterdam untuk naik kereta kembali ke Amsterdam.

Acara tepat selesai pukul 13.00 (benar lho, tak kurang dan tak lebih semenit pun!). Begitu selesai, mengambil sertifikat, saya langsung lari menuju stasiun metro karena menurut aplikasi 9292 yang saya download, kereta menuju stasiun pusat Rotterdam akan berangkat tepat pukul 13.07 (dan memang benar, sangat tepat waktu hingga ke menitnya).

Saturday, March 17, 2018

Rotterdam Day-2

Hari ke-2 di Rotterdam sebetulnya diawali dengan Running Clinic oleh salah satu atlet olimpiade Belanda. Jadi pagi sekali, kami semua diajak berkeliling kota Rotterdam dengan berlari, sekaligus diajari beberapa teknik basic lari. Sayangnya, saya tidak ikut karena beberapa hari lalu terkilir. (Ternyata salju itu super licin, Jenderal!:))).

Jadilah saya mengawali pagi dengan sarapan, kemudian megikuti workshop sejak awal. Materi hari ini relatif lebih berat namun sangat berhubungan dengan apa yang saya kerjakan sehari-hari. Satu hal yang sempat membuat saya terkaget-kaget adalah saat seorang pembicara presentasi, banyak sekali interupsinya. Ada yang memberikan pendapat, ada yang bertanya, dan semua orang dalam ruangan tampak biasa saja. Coba kalau di Indonesia, pasti sudah dicap tak sopan kan ya? Well, mungkin memang beda budaya.
Saya kayak anak SMP nyasar ya:))

Saat coffee break, saya sempat mendatangi salah satu pembicara, seorang profesor dari Paris yang terkenal karena ilmunya tentang lemak. Kebetulan saat ini saya sedang mengerjakan penelitian mengenai lemak, sehingga ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Modal nekad saja, karena apalah saya yang hanya remahan Oreo ini dibanding beliau:p

Friday, March 16, 2018

Rotterdam Day-1

Beberapa bulan saat senior saya memberitahu bahwa akan ada acara Masterclass mengenai nutrisi parenteral yang diadakan oleh ESPGHAN (European Society of Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition) di Rotterdam, saya sudah sangat tertarik. Topik yang dibahas semua berhubungan dengan pekerjaan saya sehari-hari, dan pas banget dengan penelitian yang sedang saya kerjakan. Waaah, mupeng!

Tambah mupeng lagi ketika saya melihat bahwa untuk mengikuti acara ini, hanya diperlukan biaya registrasi sebesar 50 Euro, dan itu sudah termasuk menginap 2 malam di hotel berbintang 4, makan siang selama acara, makan malam selama acara, materi course dan coffee break. Iseng saya intip di booking.com, biaya hotelnya saja semalam sekitar 125-150 Euro/malam. Glek. Bangkrut deh saya kalau harus bayar sendiri:)))

Tentu karena itu pula, tak semua yang mendaftar bisa diterima. Kami diharuskan mengirimkan abstrak case report, kemudian nantinya top 40 dari semua kiriman tersebut yang diperbolehkan mengikuti acara. Berhubung saya sedang berada di Amsterdam (dan biaya transportasi Amsterdam-Rotterdam jauh lebih murah dibanding Indonesia - Rotterdam:p-, saya putuskan untuk mendaftar walaupun tak yakin akan terpilih. Ya sudahlah, terpilih Alhamdulillah, tidak pun tak rugi apa-apa:D

Alhamdulillah, beberapa hari sebelum berangkat ke Belanda, saya mendapat email notifikasi bahwa saya diperbolehkan mengikuti acara ini yaaay!

Wednesday, March 14, 2018

Online Shopping, MyPUP dan VUmc

Who doesn't like online shopping?
Di Indonesia, sepanjang tahun 2016 saja ada 24,73 juta orang yang melaksanakan belanja secara online. Saya? Jangan ditanya. Sejak mengenal belanja online, hampir tidak pernah lagi berbelanja secara offline. Lebih praktis, hemat, dan mudah sih! Saya yakin banyak juga orang selain saya yang lebih menggemari belanja online.
Sumber: MyPUP

Di Belanda pun ternyata demikian. Para penduduk Belanda yang jam kerjanya lumayan panjang (dari jam 8-17) mengaku lebih suka berbelanja online. Saat weekend, mereka biasanya malas kalau harus berbelanja ke pusat kota karena ramai turis yang berkunjung. Apalagi kalau cuaca sedang tidak mendukung. Jadi, belanja online sajalah. Masalahnya, tidak seperti di Indonesia, apartemen atau hunian lain di Belanda kebanyakan pasti kosong saat jam kerja, jam-jam dimana paket diantar. Kalau di Indonesia, ada ART, bisa dititipkan ke tetangga dsb. Nah, di Belanda, semua orang bekerja atau sekolah saat jam kerja. Tetangga? Boro-boro kenal haha. Lalu bagaimana?

Tuesday, March 13, 2018

Den Haag Experience

Minggu kemarin, saya mengantarkan suami yang luar biasa kurang kerjaan sekali mengikuti acara marathon di tengah dinginnya udara ini dimana tentu lebih menyenangkan tidur siang, di kota The Hague alias Den Haag. Saya, tentunya, tidak berminat untuk mengikuti acara ini. Tapi, penasaran juga ingin mengetahui seperti apa sih situasi di ibu kota pemerintahan negara Belanda? Jadilah saya putuskan untuk ikut. Sekalian memberi support ceritanya:p

Jarak Den Haag dengan Amsterdam tidaklah begitu jauh, sekitar 53 kilometer tepatnya, dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit dengan kereta api. Cuaca Amsterdam weekend kemarin sungguh menyenangkan dan menghibur hati. Walaupun sejak pagi hujan turun tak henti, tapi suhunya mencapai 15 derajat di siang hari. Semoga terus naik sampai mencapai 20 derajat ya, supaya saya tak perlu memakai baju dan celana berlapis-lapis setiap harinya. Bukannya apa, susah euy kalau mau ke kamar mandi:p

Perjalanan ditempuh dengan sangat nyaman. Kereta cepat, bersih, hangat (penting buat saya) dan tidak berisik sama sekali. Enak deh, hampir saja saya tertidur dibuatnya. Seisi kereta dipenuhi oleh banyak orang yang mengenakan baju serta sepatu lari. Pasti deh ini peserta event lari yang diikuti suami saya juga.

Sementara suami sudah mulai gaduh gelisah entah kenapa (sepertinya takut tidak bisa finish:p), saya pun ikut gaduh gelisah memikirkan akan pergi ke mana saja. Kata mama saya yang sudah pernah ke Den Haag, karena di sana ada kantor KBRI Indonesia, sangat mudah menemukan makanan Indonesia. Makanya, saya malah sibuk googling rumah makan Indonesia haha. Maaf, sudah super kangen dengan tempe!

Sunday, March 11, 2018

Presentasi, Perbedaan dan Indonesia

Tugas presentasi pertama saya selama di Belanda dijadwalkan di minggu kedua alias minggu ini:D Kenapa saya bilang pertama? Karena ternyata banyak juga tugasnya haha. No problemo, saya akan berjuaaaang! Wish me luck! Anyway, tugas perdana saya adalah memperkenalkan sistem kesehatan Indonesia, termasuk bagaimana pemerintah menjamin kesehatan pasien-pasien dengan penyakit metabolik dan lain sebagainya.
Gedung di belakang itu AMC, Academisch Medisch Centrum, RS selama saya di Amsterdam

Tidak terlalu sulit sih, karena terus terang saya banyak terbantu data dari Biro Statistik dan Riskesdas yang bisa didownload gratis. Saya membutuhkan waktu sekitar 2 hari untuk menyiapkan presentasi yang mostly berisi data statistik Indonesia dan juga foto-foto dari rumah sakit tempat saya bekerja di Surabaya.

Perbedaan antara negara maju seperti Belanda dan negara berkembang seperti Indonesia tentu sangat jauh. Selama presentasi, para kolega saya yang kesemuanya kebetulan belum pernah mengunjungi Indonesia sampai terdiam alias speechless.


Tuesday, March 6, 2018

Hangat, Sepeda dan Sambal

Memasuki minggu kedua di Amsterdam, saya sedikit senang karena suhunya sedikit (iyaa sedikiiiit saja) lebih hangat dibanding sebelumnya. Kalau minggu lalu jam 12 siang masih minus 3 derajat, maka minggu ini bisa mencapai hingga 8-10 derajat. Masih dingin sih, tapi yaa lumayan banget kan tuh:D

Semakin jarang terlihat salju di mana-mana. Yaaay! Sejujurnya, saya senang melihat pemandangan yang tertutupi salju. Indah sekali. Tapi, karena salju itulah saya jadi sering terpeleset. Rupanya licin sekali, saudara-saudara. Harap maklum ya, tak terbiasa dengan adanya salju:D

Saya berangkat ke rumah sakit menaiki kereta. Tak terlalu jauh sih, hanya 3 stopan dari apartemen, jalan sekitar 5 menit, sampai deh. Tapi, karena cuacanya sangat dingin menurut saya, jadi rasanya jaaauuuh banget:p

Begitu sampai rumah sakit, saya langsung mengambil white coat. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, tinggal scan name badge, keluar deh di ruangan. WHite coat yang kotor saya masukkan di tempat khusus. Seorang dokter hanya mendapat jatah 2 white coat saja, Jadi kalau baru dikembalikan 1, hanya bisa mengambil 1. Kalau 2-2nya belum dikembalikan, bisa dipastikan, tidak akan mendapat whitecoat lagi. Biarpun tampaknya seperti jas biasa, rupanya ada microchip yang tertanam dalam white coat ini. Kece yaaa.
"Mesin" White Coat


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...