Wednesday, April 18, 2018

Memasak, Bumbu Instan dan Liliput:p

Hampir memasuki bulan ke-3 di Belanda, sepertinya sedikit banyak saya sudah beradaptasi dengan lumayan baik. Kalau dulu saya masih ngomel panjang lebar kedinginan di suhu 15 derajat, sekarang di suhu 12 derajat saja saya berani ke luar rumah tanpa long john:D Masalah adaptasi pun bisa terlihat dari waktu. Sebelumnya, saya sulit berkompromi dengan waktu tidur malam hari di Belanda. Maklum, jam 9 malam saja masih terang benderang. Bagaimana bisa tidur?
Metabolic Pediatricians. Kalau duduk begini, ga kelihatan betapa jauh tinggi kita hehe

Tapi sekarang, jam 9 atau jam 10 malam, walau seterang apapun, tidur ya tidur saja hehe. Lama-lama pun saya mengikuti pola hidup orang Belanda. Awalnya, saya sering kali kebingungan melihat orang sini yang aneh -menurut saya-:p Bayangkan ya, pagi hari mereka berangkat bekerja hanya sarapan sepotong roti, makan siang di tempat kerja, lagi-lagi sepotong roti atau salad dan buah. Kemudian baru malam harinya mereka makan besar. Rupanya sih ini dikarenakan waktu yang mepet untuk memasak dan mempersiapkan makanan. Kalau malam kan waktunya cukup panjang, jadi sempatlah untuk memasak dulu.

Sekarang giliran saya yang demikian. Setiap pagi, saya hanya sarapan sepotong roti, lalu kalau sempat (karena sibuk sekali di rumah sakit), siangnya makan yoghurt. Baru malamnya, saya bisa memasak untuk makan malam. Eh? Saya? Memasak? Iyaaa, engga salah baca kok hahaha. Ini salah satu bentuk adaptasi saya selama di Belanda:p



Gegaranya, saya iba melihat suami yang berangkat subuh, pulang malam, lalu masih harus memasak untuk dirinya sendiri (kalau saya mah tak makan juga tak masalah:p). Mana selama di sini, suami saya sudah menurunkan berat badan 8 kg. Ya ampun, kasihan juga melihatnya. Ya sudahlah yaaa, lagi pula memasak di sini super gampang! Semua bumbu yang dijual adalah bumbu instan. Mudah saja menemukan bumbu instan berbagai masakan Indonesia karena memang cukup banyak orang Indonesia yang berdomisili di Belanda. Kalaupun bukan masakan Indonesia, ada masakan Suriname yang 11-12 dengan masakan Indonesia.

Setiap minggu, saya berbelanja memburu bumbu instan Indonesia. Ada merk Finna, Boemboe, sampai Kokiku. Mulai dari rendang, ayam goreng, capcay, bumbu bali, balado, pepesan, lengkap! Tiap hari, setelah pulang dari rumah sakit, saya langsung memasak nasi untuk suami menggunakan rice cooker mini yang dibeli di dekat apartemen. Lalu berkreasi dengan apa saja yang ada di kulkas apartemen.

Kegiatan saya di rumah sakit cukup padat. Setiap hari, saya berangkat dari apartemen sekitar jam 8 pagi, dan tiba kembali di apartemen setelah jam 5 sore. Selain bekerja di poliklinik pasien metabolik anak, saya juga bekerja di poliklinik pasien metabolik dewasa, dan poliklinik neurologi metabolik anak, serta poliklinik neurologi metabolik dewasa. Benar-benar pengalaman baru untuk saya karena tidak pernah ada di Indonesia. Semoga apa yang saya pelajari di sini bisa membawa manfaat untuk Indonesia kelak ya, aamiin.

Selain berurusan dengan pasien, saya pun harus melakukan presentasi beberapa kali (sudah 5 kali dan masih terjadwal untuk presentasi lagi masyaAllah), mengenai penelitian terbaru, studi literatur dan kasus sulit.

Satu-satunya yang kadang membuat saya jengah adalah karena sayalah yang paling kecil di rumah sakit ini. Bukan hanya yang termuda ya maksudnya, tapi literally, terkecil. Padahal di Indonesia saya relatif tinggi, di Belanda, saya seperti liliput dibandingkan dengan yang lain. Setiap berjalan bersama, mereka terlihat santai saja berjalannya, sementara saya harus ngos-ngosan mengejar langkah mereka yang panjang-panjang. Sepertinya 1 langkah mereka = 10 langkah saya. Ampun deh. Hitung-hitung olahraga biar langsing dan sehat ya:p
Ya ampun, saya kayak liliput di sini:(

Di foto atas, saya berfoto bersama tim metabolik dewasa. Yang laki-laki adalah metabolic neurologist, sementara kedua perempuan di sebelah saya adalah metabolic internists. Tinggi-tinggi dan langsing-langsing:D #terintimidasi :))

Karena seisi rumah sakit isinya seperti itu, terbayang tak, saya benar-benar terlihat "aneh":)) Wajar, banyak sekali yang mengira saya keluarga pasien, bahkan pasien anak di sini:@ Tak jarang juga kolega di sini bertanya dengan sangat hati-hati. "Im sorry, i dont mean to be impolite, but i really need to ask you. How old are you? Because you look like 15 or 16 to me." :))))))))

(Entah harus bangga atau sedih mendengarnya):p

InsyaAllah, setelah saya menyelesaikan semua tugas presentasi, saya akan catching up dengan postingan selanjutnya. Tunggu ya!:D


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...