Friday, May 25, 2018

Farewell, King's Day dan Belgia

Menjelang berakhirnya masa fellowship di Belanda, saya bukan main merasa gaduh gelisah. Apa pasal? Saya sangat menyukai pekerjaan selama di Belanda, benar-benar enjoy. Saya berkesempatan bekerja sama, mendapat pengalaman baru, mendapat bimbingan dari orang-orang hebat di bidangnya. Unforgettable deh! Di satu sisi saya senang karena akan segera bertemu Naya, tapi di sisi lain saya sedikit berat meninggalkan Belanda dengan segala keteraturannya.Terbayang begitu kembali ke Indonesia, bye-bye on time! Saya selalu berusaha on time dalam setiap kegiatan, tapi rupanya sedikit sekali orang yang sama menghargai waktunya dengan saya. Bayangkan ya, bukan hanya sekali dua kali lho ini. Misalnya saya diundang rapat jam 9 pagi. Saya sudah datang sejak jam 9 kurang 15, nyatanya karena belum ada yang hadir, rapat baru dimulai jam 9.45. Sounds familiar to you? Berapa lama tuh waktu saya terbuang yang sebetulnya bisa sangat bermanfaat jika dikerjakan untuk hal lain selain menunggu?

Kegalauan saya bertambah setelah profesor saya di AMC menawari saya pekerjaan sebagai staf tetap dokter spesialis anak bagian metabolik di sana. Saya hanya perlu kursus bahasa Belanda, sementata license dan yang lainnya akan diurus sampai selesai oleh profesor saya.


Bukan karena gaji yang ditawarkan mencapai 10000x lipat dari gaji saya di Indonesia ya, tapi bayangkan deh. Bekerja di suasana yang sangat kondusif dengan fasilitas super high-tech dan super lengkap (Di Indonesia, untuk mendiagnosis penyakit metabolik saja harus dikirim ke luar negeri karena tak ada alatnya), sangat well-appreciated, well-organized, tak perlu bingung memikirkan biaya termurah untuk pasien karena semua dicover negara semahal apapun, bisa belajar langsung dari ahli terbaik di dunia, siapa yang tak ngiler?

Di sisi lain, saya merasa berhutang terhadap Indonesia. Ketinggalan Indonesia dengan negara maju sangaaaaaaat jauh. Kalau mendengar cerita dari profesor-profesor saya di Belanda, Indonesia saat ini sama keadaannya dengan Belanda 100 tahun yang lalu. Berarti sebesar itu pulalah ketertinggalan kita. Ya monmaap ya prof, harap maklum, namanya juga kita dijajah sampeyan sebelumnya:p #pembenaran

Saya merasa punya tanggung jawab terhadap bangsa. Tak perlu muluk-muluk sampai menemukan obat yang harganya murah deh, apalagi sampai menemuukan penyakit baru,  membuat orang banyak aware apa itu penyakit metabolik saja sudah awal yang baik buat saya. Sekarang, hayooo ngakuuu, yang baca blog saya ini ngeh engga sih penyakit metabolik itu apa?:p

Karena itulah cerita kegalauan saya ditutup dengan penolakan tawaran tersebut. Teman-teman (bahkan mama saya!) yang mengetahui cerita ini selalu bilang "Aduhhh Met, kesempatan tidak datang dua kali. Kamu mau apa sih di Indonesia? Jadi dokter di sini bikin frustasi. Banyak orang yang lebih percaya sama yang bukan dokter (baca: artis, selebgram, dll), masih ditekan sana-sini, sudaaah pindah sajaaa."

Menurut saya, life is all about choices. Kebetulan buat saya saat ini, pilihan terbaik adalah kembali ke Indonesia dengan sejuta harapan semoga suatu saat nanti (semoga tidak dalam waktu lama), Indonesia dpaat mengejar ketertinggalannya di dunia metabolik, aamiiinn.

Hari terakhir bekerja, kolega saya membuatkan farewell party untuk saya di hotel dekat rumah sakit. Duh saya terharu banget lho, hampiiir menangis saat mendengarkan kesan pesan mereka untuk saya. Tak menyadari, begitu dihargainya saya yang sebetulnya dibandingkan orang-orang hebat tersebut, hanyalah remahan rempeyek. Saya pun diberi beberapa hadiah perpisahan yang sangat personal (dibuat sendiri oleh mereka!), dan pasti akan saya simpan sampai kapanpun:) Thank you AMC!

Sehari setelah farewell, tanggal 27 April adalah hari besar untuk masyarakat Belanda. Di mana-mana, semua orang merayakan Konningsdag alias King's day, hari kelahiran raja dengan berpesta di jalanan dan kanal. Semua mengenakan pakaian atau atribut berwarna oranye (saya sampai bela-belain membeli baju oranye khusus untuk ini!), kemudian menari-nari mengikuti irama lagu yang diputar di seluruh kota, sambil minum bir (?). Ada juga yang berpesta di kapal-kapal kecil yang menyusuri kanal. Suasananya meriah, dan menurut saya wajib dilihat!


Sumber: Google
Saya merayakan King's day ini tak hanya berdua dengan suami, tapi juga dengan Raya dan Dilly, 2 orang sahabat SMA saya yang memang sengaja datang ke Amsterdam untuk berparty bersama kami haha. Tahu tidak apa yang kami lakukan di King's day ini? Makan masakan Indonesia hahaha. Kami sengaja pergi lumayan jauh menuju Warung Barokah untuk makan bakso (saya), sementara yang lain makan nasi campur dan bakso. Warbiyazak deh cowok-cowok ini makannya.

Mengisi amunisi sebelum berparty:p
Setelah kenyang, kami menuju pusat kota untuk melihat keramaian perayaan King's Day. Jalanan ditutup sehingga tak ada trem atau mobil yang dapat lewat. Sepanjang jalan bisa didengar dentuman musik EDM hingga house music yang mengiringi banyak orang menari-nari sambil minum minuman keras. Banyak orang mabuk, tapi tidak ada yang menganggu keamanan umum. Kalau sampai ada, polisi tak segan-segan menangkap mereka.


 Selain party di mana-mana, Kings'day pun identik dengan Rommelmarkt yang dimulai sejak pukul 6 pagi. Siapapun boleh menjual barang apapun (selain makanan ya) bekas ataupun baru di pinggir jalan. Tinggal gelar tikar atau alas lain, jadi deh! Kalau ulet dan telaten, tas branded macam LV pun bisa didapat dengan harga murah meriah di sini. Selain itu, di beberapa titik di pinggiran kota Amsterdam, pemerintah menyelenggarakan festival musik yang diisi banyak penyanyi ternama Belanda, DJ, hingga penampil lainnya. Asli, party all day and all night long!

Keesokan harinya, saya dan suami diundang untuk stay over alias menginap di rumah salah satu kolega di Belgia. Tak jauh sih dari Amsterdam, hanya sekitar 1,5 jam. Pagi-pagi setelah beberes, kami langsung berangkat menuju Breda, kota kecil di Belanda yang dekat dengan Belgia untuk menunggu dijemput di sana.

Suhu hari itu sangat kurang bersahabat. Ampun deh dinginnya. Untung, saya membawa segala macam jaket, sweater dan baju hangat lainnya. Berhubung saya masih kelelahan akibat berkeliling kota saat King's day, saya sukses tertidur dengan nyenyaknya selama di kereta.

Setiba di Breda, kami dijemput Ko, sejawat kami untuk menuju Braschaat, kota kecil di Belgia yang dekat sekali dengan Antwerp. Di sana, kami dijamu habis-habisan. Saya terpesona dengan rumahnya yang luar biasa besar (6600 meter persegi!) dengan ke-high-tech-annya. Kami menginap di sana dan menikmati udara Braschaat yang sangat segar.

Keesokannya, sebelum kembali ke Amsterdam, kami menyempatkan diri berkeliling dulu di Antwerp. Kota di Belgia yang menurut saya sih lebih indah dibanding Brussels:D

Again, weekend well spent!






No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...