Tuesday, March 6, 2018

Hangat, Sepeda dan Sambal

Memasuki minggu kedua di Amsterdam, saya sedikit senang karena suhunya sedikit (iyaa sedikiiiit saja) lebih hangat dibanding sebelumnya. Kalau minggu lalu jam 12 siang masih minus 3 derajat, maka minggu ini bisa mencapai hingga 8-10 derajat. Masih dingin sih, tapi yaa lumayan banget kan tuh:D

Semakin jarang terlihat salju di mana-mana. Yaaay! Sejujurnya, saya senang melihat pemandangan yang tertutupi salju. Indah sekali. Tapi, karena salju itulah saya jadi sering terpeleset. Rupanya licin sekali, saudara-saudara. Harap maklum ya, tak terbiasa dengan adanya salju:D

Saya berangkat ke rumah sakit menaiki kereta. Tak terlalu jauh sih, hanya 3 stopan dari apartemen, jalan sekitar 5 menit, sampai deh. Tapi, karena cuacanya sangat dingin menurut saya, jadi rasanya jaaauuuh banget:p

Begitu sampai rumah sakit, saya langsung mengambil white coat. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, tinggal scan name badge, keluar deh di ruangan. WHite coat yang kotor saya masukkan di tempat khusus. Seorang dokter hanya mendapat jatah 2 white coat saja, Jadi kalau baru dikembalikan 1, hanya bisa mengambil 1. Kalau 2-2nya belum dikembalikan, bisa dipastikan, tidak akan mendapat whitecoat lagi. Biarpun tampaknya seperti jas biasa, rupanya ada microchip yang tertanam dalam white coat ini. Kece yaaa.
"Mesin" White Coat




Hari Senin, jadwal saya adalah bekerja di poli Adult Metabolic Disease. Di poliklinik ini, saya mengikuti seorang internist atau dokter spesialis penyakit dalam yang kemudian mendalami penyakit metabolik. Apa hubungannya dengan spesialis anak seperti saya? Well, mostly, pasien-pasien yang ada di poli ini adalah pasien dari poli Pediatric Metabolic Disease. Begitu mereka berusia 18 tahun, dipindah ke poli dewasa. Tentu berhubungan, karena saya ingin mengetahui pada saat dewasa, keluhan-keluhan apa saja yang bisa menyertai? Apakah mereka bisa bekerja seperti orang normal? Berkeluarga? Memiliki anak? Di Indonesia jangan ditanya ya:D Hingga saat ini sih, saya belum menemukan kasus yang bisa bertahan sampai dewasa:D

Hari itu, saya bekerja dengan dr Hollak, memeriksa pasien McArdle serta beberapa kasus Gaucher's Disease (ini buanyak banget sampai heran. Jangan-jangan di Indonesia pun banyak tapi tak terdiagnosis). Hingga jam 1 siang, saya berpindah ke poli Neurometabolic disease. Di poli ini, ada 2 dokter spesialis yang berkolaborasi. Dokter spesialis syaraf dan endokrinologis yang mendalami penyakit metabolik. Kasus yang kami dapatkan sangat beragam, mulai ALD hingga MTFHR Deficiency. Selesai mengerjakan pasien hingga jam 5 sore, saya bersiap pulang dengan...naik sepeda, horeeee! Tentu bukan saya sendiri ya, wong tak bisa:p Lebih tepatnya saya dibonceng suami saya yang baru saja membeli sepeda. Rasanya? Duh, kena angin dingin banget! Tapi enak sih karena bisa melihat pemandangan sekitar yang ternyata bagus sekali. Sayang tak sempat foto-foto karena saya kedinginan dan ingin cepat sampai apartemen:p

Hari Selasa, saya kembali terbangun di pagi hari karena hidung buntu, as always. Hikmahnya, saya sempat lama sekali bervideo call dengan Naya yang di Indonesia pulang sekolah lebih pagi karena sedang masa Penilaian Tengah Semester. Duh, kangen bukan main rasanya! Kangen kebawelannya yang selalu menasehati saya, kangen nyanyiannya (yang diciptakan sendiri dengan nada tak jelas haha) sampai kangen candaannya yang terkadang suka garing tapi tetap saja membuat saya tertawa terbahak-bahak:p

Karena hari ini suami saya ada jadwal operasi sangat pagi, jadilah ia berangkat terlebih dahulu dengan sepeda sementara saya berangkat belakangan dengan kereta. Jadwal saya hari ini sangat menyenangkan, seharian berkutat dengan data untuk mempersiapkan penelitian dan beberapa tugas ilmiah lainnya. Kenapa menyenangkan? Karena kecepatan internet yang luaaaaar biasa. Duh rasanya ingin sekali membawa internet di sini pulang ke rumah deh. Internetan di rumah (dengan kecepatan super kencang) sambil makan bakso panas pedas hmmmm. #Eaaaaa
My workspace
Ngomong-ngomong soal makanan, hingga saat ini saya masih merasa baik-baik saja dengan makanan di sini. Mungkin karena memang tak terbiasa makan nasi, jadi tanpa nasi pun yaaa biasa saja rasanya. Suami saya yang harus makan nasi membeli rice cooker kecil untuk memasak nasi setiap hari. Ia juga yang setiap hari memasak oseng-oseng, tumis atau apalah. Saya sebagai istri yang tidak bisa masak sama sekali hanya nebeng makan dan bertugas mencuci piring hahaha.

Dari semua makanan yang saya bawa ke Amsterdam, "penolong"nya adalah sambal bu Rudy, Boncabe level 15 serta tentunya sambal ABC. Kemanapun saya pergi, ketiganya pasti saya bawa. Di Amsterdam, banyak yang menjual kentang goreng. Tapi setiap meminta sambal, yang ada hanyalah saos tomat. Buat yang tidak suka saos tomat seperti saya, lebih baik memakan kentang gorengnya begitu saja. Cuma, ya akan lebih baik lagi kan kalau ada sambal?:p Ada pula yang menjual sushi di supermarket terdekat. Karena tak tahu halal atau tidak, saya memilih sushi vegetarian. Rasanya yaaa begituah, anyep:))) Untung ada Boncabe. Sementara sambal bu Rudy saya makan dalam setiap kesempatan. Kadang dicemili bahkan hahaha.

Nantikan terus postingan berikutnya yaaa, masih dari Amsterdam tentu!:D

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...