Tuesday, March 3, 2015

Naya Sakit

Selama ini saya selalu bertanya-tanya, kira-kira pasien perdana yang saya hadapi begitu menjadi SpA kasusnya apa ya? Rupanya pertanyaan tadi bisa langsung terjawab tak lama setelah saya menyelesaikan rentetan ujian. Anak saya sendiri, Naya Sunaya yang sakit.

Awalnya Naya batuk dan pilek sejak hari Kamis malam. Naya bilang temannya di kelas ada yang sakit serupa dan tiap batuk tidak ditutup. Saya masih santai saja karena menganggap batuk pileknya yaaa batuk pilek biasa. Namanya juga balita sekolah, risiko sekali bolak-balik tertular batuk pilek, kan?

Malamnya, alias Jumat dini hari Naya demam. Saya pun masih santai saja, memberikan obat penurun panas dan meminta Naya tidak bersekolah. Naya sendiri tidak terlihat seperti anak sakit. Naya masih cerewet seperti biasa, masih menari-nari dan berlompat-lompatan di tempat tidur. Namun begitu diukur suhu tubuhnya, jeng jeng jeeeeeng.. 40 derajat! Entah ada hubungannya atau tidak ya, mama saya bilang kalau saya waktu kecil pun begitu. Pada saat demam bersamaan dengan kakak saya, pada suhu yang sama saya masih bisa menyanyi teriak-teriak, berlarian ke sana kemari sementara kakak saya sudah lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Naya masih mau makan dan minum walaupun tidak sebanyak biasanya.

Hari Sabtu, demam Naya tetap bergeming selalu di atas 39 derajat Celsius. Turun setelah diberi obat, tapi akan naik lagi begitu efek obat abis. Lagi-lagi saya masih santai. Karena saya sudah tak punya lagi kewajiban di rumah sakit, saya senang sekali bisa 24 jam bersama Naya selama sakit. Naya pun terlihat senang sekali saya temani terus.

"Mama engga ke rumah sakit lagi ya? Nemenin kakak terus? Kita berdua bersama selamanya?" Begitu tanya anak gadis saya yang bahagia sekali saat saya jawab pertanyaannya dengan anggukan kepala.

Hari Minggu, saya memperkirakan demam Naya akan selesai. Periode demam disebabkan virus kan biasanya memang 3 harian ya, jadi saya senang sekali setelah Naya bebas demam selama 6 jam. Saya pikir Naya sudah sembuh. Saya pun memberanikan diri  meninggalkan Naya sebentar saat dia tidur siang untuk pergi menemui teman-teman seangkatan demi syukuran kelulusan. Kan tak lucu ya kalau si pengundang justru tak datang ke acaranya sendiri?

Ehhhh, belum selesai acara di sana, saya dihubungi nanny Naya yang memberitahukan Naya demam lagi. Kecele:p Saya langsung pulang dan meminumkan obat penurun panas pada Naya. Naya mulai malas makan, walaupun masih mau minum banyak. Semalaman saya tidur bersama Naya, rutin memeriksa vital sign Naya seperti nadi, suhu dan laju nafasnya permenit. Persis seperti apa yang saya lakukan kalau sedang dinas jaga di rumah sakit deh:p

Senin pagi, saya memutuskan membawa Naya cek darah ke rumah sakit. Saya sih sebenarnya yakin Naya terkena infeksi virus. Tapi karena demam berdarah sedang musim, ditambah mama saya bolak/i menelpon sambil menangis sampai memohon-mohon Naya dicek darah -ps: sepertinya mama saya masih trauma dengan kehilangan cucunya-, akhirnya berangkatlah saya.
Menunggu giliran cek lab. Naya jadi kurusan, hiks sedih banget emaknya:'(

Alhamdulillah, saking mulusnya, Naya hampir tidak menyadari darahnya diambil. Saya sendiri yang memegangi dan mengalihkan perhatiannya. Naya hanya menangis saat jarumnya masuk, itu pun karena kaget dan hanya sepersekian detik. Hebat deh kakak Naya!:*

Hasil laboratorium langsung jadi dalam waktu 15 menit. Alhamdulillah semuanya masih dalam batas normal, bukan dengue seperti yang saya khwatirkan. Memang dari gambaran hasil darahnya, Naya terkena infeksi virus -entah apa- sehingga seharusnya membaik sendiri dalam 5-7 hari. Sepulang dari rumah sakit, saya menemani Naya seharian di rumah. Barulah ketika Naya tidur siang, saya tinggal sebentar karena saya harus mengikuti ujian akhir Magister alias S2 saya supaya bisa diwisuda bersamaan dengan pelantikan spesialisasi. Setelah ujian, saya langsung pulang dan mendapati Naya masih saja panas. Saya mulai khawatir, maklum saja kalau untuk anak lain sih saya bisa menempatkan diri sebagai dokter spesialis anak. Tapi kalau anak sendiri, kesubyektifan saya sangat tinggi. Saya takut juga misdiagnosed. Tak ada ruginyalah meminta second opinion, ya kan?

Saya membawa Naya ke tempat praktek salah satu guru saya yang akhirnya pun mengkonfirmasi dugaan saya sebelumnya. Iyes, Naya terkena infeksi virus -entah apa- dan hanya diberi obat simtomatik. Fyuh, lega deh. Sedih banget ya kalau anak sedang sakit. Rasanya pengin transfer sakit anak ke kita saja. Tak tega melihat Naya kurusan, sedih:(

Doakan yaa semoga tidak ada yang serius dengan sakit Naya kali ini, doakan juga Naya cepat sembuh supaya bisa kembali ceriwis seperti biasanya, amin!

PS: Sudah baca postingan ini kan? Yuk ikutan, masih banyaaaaak waktu masih banyaaaaak kesempatan:D

4 comments:

zpmary said...

get well soon ya Naya...

meta agustya puteri said...

assalamu'alaikum mbak :) namanya sama :D hihi.. mbak minta alamat emaillnya dong. mau konsultasi boleh ? :P
anak saya baru saja kena DB klasik. apakah memungkinkan terkena DB lagi ya mbk? soalnya di daerah saya sedang mewabah.
bisa dibuatin postingan khusus ttg DB (khususnya pada anak dan balita) ato klo mau japri ya gpp mbk. mohon bantuannya :) makasi

lusia johan said...

GWS naya....

Rere said...

GWS naya.. ceria dan bugar lagi :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...