Friday, March 17, 2017

Umroh Trip 2017 Part-2

Di hari kedua umroh, saya berniat untuk puasa. Ingin sekali deh merasakan bagaimana puasa di tanah suci. Kebetulan memang hari tersebut adalah Kamis, hari dimana saya memang berpuasa sunnah. Awalnya sih sempat ragu kuat atau tidak mengingat padatnya aktivitas, ekstrimnya cuaca dan kurangnya istirahat selama di sana. Tapi yaa namanya juga sudah niat:D

Saya dan suami bangun dini hari untuk bertahajud, sebelumnya saya menyempatkan diri untuk memakan roti sebagai santapan sahur dan air sebanyak-banyaknya. Kemudian, kami berangkat ke mesjid untuk shalat tahajud dilanjutkan dengan shalat shubuh. Di sana banyak sekali jemaah dari Indonesia, jadi saya tak merasa asing sama sekali walaupun harus sendirian masuk ke mesjid Nabawi (karena bagian perempuan dan laki berbeda).

Setelah shubuh, kami bergegas kembali ke hotel untuk sarapan. Katering yang disiapkan adalah makanan Indonesia selama kami umroh, sehingga lengkap dengan sambal, kerupuk, bahkan ada juga menu tempe haha. Alhamdulillah, tidak ada masalah mengenai makan saat umroh.



Selesai sarapan, kami bersiap-siap untuk kembali ke mesjid karena ada acara shalat dhuha bersama, tausiyah dan kunjungan ke Raudhah. Saya ingat betul suhu di pagi itu lumayan dingin, sekitar 15 derajat sehingga saya memilih menggunakan jaket seharian. Kami shalat dhuha bersama (campur laki dan perempuan) di pelataran mesjid Nabawi, rasanya adem sekali deh dengan semilir angin. Payung-payung raksasa yang ada di pelataran terlihat indah sekali. Waktu saya umroh pertama kali di tahun 2009, payung-payung raksasa ini belum ada.

Kemudian, kelompok kami dibagi menjadi kelompok laki dan perempuan. Kami memasuki mesjid untuk mengunjungi Raudhah. Raudhah atau taman surga ini menurut hadist memiliki kemuliaan dan keutamaan. Barangsiapa yang shalat di sana seakan-akan ia telah duduk di taman dari taman-taman surga. Sehingga menjadikan shalat yang dilakukan di sana berpahala banyak. Sebagaimana juga shalat di bagian masjid Nabawi yang lain dilipat-gandakan pahalanya 1000 kali dari shalat di masjid lain kecuali di masjidil haram. Raudhah juga dikatakan sebagai tempat makbul untuk berdoa.

Raudhah sendiri sebetulnya adalah tempat yang tidak begitu luas, hanya seluas kurang lebih 144 meter persegi dan ditandai dengan karpet warna hijau pupus. Kalau untuk laki-laki terbuka setiap waktu, nah untuk yang perempuan sangat dibatasi. Waktu bukanya hanya saat dhuha (jam 9-11), setelah dhuhur dan setelah isya. Bisa dibayangkan ya bagaimana perjuangannya masuk ke sana?:D

Seluruh umat Islam sedunia yang sedang umroh pasti akan mampir ke tempat ini. Tak heran, dengan tempat sekecil itu, banyak yang dorong-dorongan, jambak-jambakan (jilbab), tarik-tarikan bahkan injak-injakan. Warbiyazak bukan?:D

Tahun 2009 lalu, entah mengapa, saya "menyetrum". Betul lho ini, kata orang-orang di sekitar saya, tubuh saya mengalirkan listrik yang kalau disentuh menyetrum siapapun. Karena itu, umroh pertama waktu  itu saya leluasa sekali shalat di Raudhah ini tanpa takut terdesak, terdorong atau terinjak. Saat yang lain rebutan sampai berjuang setengah mati, Alhamdulillah saya santai saja bisa melangsungkan shalat sunnah sampai 8 rakaat tanpa tersentuh sedikit pun oleh orang lain.

Sampai saat ini pun saya juga tak mengerti kenapa saya bisa menyetrum. Wallahuallam. Oh ya, waktu di Raudhah pertama kali, saya ingat betul saya berdoa agar dimudahkan bertemu jodoh yang terbaik. Padahal, kala itu saya belum punya pacar sama sekali, sedang tidak dekat dengan siapapun, tidak berencana menikah dalam waktu dekat dan memang tidak berniat untuk menikah dalam waktu dekat hahaha. Waktu itu rencana saya baru akan menikah setelah lulus spesialis. Juli 2009 saya baru memulai pendidikan spesialis, April 2009 umroh, Agustus 2009 dilamar teman sekelas saya, Desember 2009 saya menikah dengan suami:D

Anyway, sejak dari awal, ustadzah yang mendampingi rombongan kami sudah mengingatkan berulang kali. Kebetulan sedang banyak orang Pakistan yang sama-sama berkunjung ke Raudhah. Bukan rasis ya, tapi mereka memang dikenal besar-besar dan kasar. Terkadang tak berpikir dua kali untuk saling sikut, saling injak, saling dorong untuk dapat beribadah. Sepanjang jalan menuju Raudhah, banyak papan tulisan yang berbunyi kira-kira seperti ini "Jangan mendorong-dorong, atau merugikan sesamamu untuk beribadah. Ingatlah bahwa hubungan dengan sesamamu sama pentingnya dengan hubunganmu dan Allah-mu.". Tak persis begitu sih, tapi yaa kira-kira begitu deh.

Daaaaan benar saja saudara-saudara. Begitu rombongan kami dipersilakan masuk, minta ampun ramainyaaaaa. Mulailah dorong-dorongan, sikut-sikutan dan tarik-tarikan. Saya yang iba melihat beberapa jemaah dari Indonesia yang sudah sepuh (mengingat mama saya), langsung membantu memagari agar mereka bisa shalat dengan tenang. Tapi rupanya tubuh saya kurang besar dibanding orang-orang Pakistan itu, jadilah saya terombang-ambing ke sana ke mari sampai sekujur tubuh merah semua LOL. Padahal saya sudah mencari tempat dekat tiang lho supaya bisa berlindung di baliknya, tapi yaa tetap saja kena dorong sana-sini. Kemudian, Alhamdulillah saya mendapat kesempatan shalat di tengah huru-hara tersebut. Segera saya lakukan shalat sunnah 2 rakaat. Eh, sudah di rakaat ke-2, saat sujud, ada orang Pakistan yang besaaaar sekali menginjak saya dengan santainya. Tepat di leher. Rasanya? Jangan ditanya, Masya Allah:D

Batallah shalat saya tadi:( ALhamdulillah, jemaah dari rombongan saya linnya berbaik hati memagari agar saya bisa shalat kembali. Luar biasa deh rasanya, alhamdulillaaaah. KEluar dari Raudhah, dengan masih dorong-dorongan, saya baru menyadari kalau ID card saya terlepas dan hilang entah ke mana. Padahal, ID card itu penting sekali sebagai pengenal selama di sana. Tapi ya sudahlah ya, saya ikhlaskan:D

Pulang dari mesjid, saya langsung meminta suami memeriksa leher yang terinjak karena saya pusing luar biasa. Ternyata benar, bekas injakan tadi membuat leher saya memar keunguan, masyaAllah. Sedang puasa, tak bisa minum obat, pusing minta ampun, saya meminta ijin suami untuk tidak shalat Dhuhur di mesjid, tapi di hotel saja. Selama di hotel saya tertidur sampai tidak mendengar azan dhuhur sama sekali hahaha. Padahal jarak mesjid Nabawi sangat dekat dari hotel sehingga azan pasti terdengar. Saking lelahnya mungkin ya:)

Barulah saat waktunya shalat ashar, saya kembali shalat di mesjid. Mencari tempat di mesjid Nabawi untuk shalat agak sulit kalau datang mepet azan, tapi mudah sekali jika datang jauh sebelumnya. Setelah shalat ashar, saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar mesjid untuk mencari makanan berbuka. Karena jarak Maghrib ke Isya lumayan dekat, saya malas kalau harus kembali ke hotel untuk berbuka puasa lalu harus berangkat ke mesjid lagi. Jadi rencananya sih, saya membeli makanan untuk takjil, dimakan saat berbuka, lalu shalat Isya, baru makan malam di hotel.

Di mesjid Nabawi, berderet dan bertebaran dispenser-dispenser yang berisi air zam-zam. Ada yang dingin, ada juga yang tidak dingin. Bayangkan deh kalau diminum setelah buka puasa, luar biasa nikmatnya alhamdulillah. Oh ya, tahu tidak, padahal tidak ada yang tahu ya saya puasa, tapi sebelum maghrib, saya didatangi orang banyak yang menyodorkan kantung plastik. Isinya macam-macam. Mulai roti, yoghurt, kurma, puding sampai kue. Setelah orang pertama, datang lagi orang kedua memberikan saya kantong penuh makanan. Lalu datang lagi orang ketiga, lagi-lagi membawakan saya kantong penuh makanan. Terakhir, ada orang yang membuatkan saya teh panas di dalam mesjid! Subhanallah.

Setelah Isya, saya kenyang sekali akhirnya karena sudah berbuka dengan berbagai makanan yang diberikan orang-orang yang bahkan tak saya kenal, alhamdulillaaaah.Pulang dengan perut kenyang, saya langsung beristirahat agar bisa bangun dini hari lagi:D

Nantikan tulisan saya selanjutnya yaa:D



No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...