Saturday, April 19, 2014

Balada Social Media

Siapa sih di jaman sekarang yang engga punya akun pribadi social media? Mama saya yang super konservatif saja punya lho akun Facebook. Katanya biar gampang bersilahturami dengan teman-temannya yang tersebar di berbagai benua. Saya sendiri mempunyai berbagai akun mulai dari Facebook, Twitter, Path sampai Instagram, dan terbllang cukup aktif membuka untuk sekedar update kabar teman-teman.



Tentu bukan hanya kami saja, keponakan saya yang bahkan baru saja lahir beberapa bulan lalu juga punya akun Facebooknya sendiri. Seorang teman lain membuatkan anaknya akun twitter begitu lahir. Saya yakin masih banyak contoh lainnya.



Ini kenapa ya tetiba saya ngomongin soal social media?



Kemarin, saat membaca komentar-komentar yang masuk pada postingan saya ini, saya tercenung dengan satu komentar “menyalahkan” teman seseorang yang sempat ramai karena menunjukkan ketidakempatiannya terhadap ibu hamil.



“Yang salah ya temannya. Itu kan diupload di Path yang notabene socmed private. Cuma bisa nerima 150 teman yang pasti teman-teman baik dan bisa dipercaya. Coba kalau ga dicapture temannya, ya ga bakal rame. Apa yang ditulis tentang ibu hamil itu jelas-jelas privacynya dia.”



Benarkah?



Menurut saya pribadi, there’s nothing private about social media. Apa pun bentuknya. Entah itu Path yang hanya bisa menerima 150 teman, atau Facebook yang bisa menerima 5000 teman sampai twitter yang bisa difollow jutaan orang. Namanya saja social, tentu tidak ada yang bersifat privacy.




Semua yang kita tulis, gambar, foto dan sudah diupload di internet akan menjadi konsumsi banyak orang.  Once you post anything, it will be forever in the internet. Bahkan setelah kita delete pun, bukan tidak mungkin ada yang sudah lebih dulu men-capture postingan kita, atau memunculkan kembali apa yang telah kita delete.



Sebagai perbandingan nih, misalnya saja punya 150 sahabat baik yang sungguh saya percaya. Karena sedang bete, saya ngomel-ngomel dan menjelek-jelekkan si X pada mereka, termasuk mengumbar kata-kata kasar penuh kebancian. Apakah saya boleh yakin sekali kalau tidak ada satu pun di antara 150 teman saya tadi yang membicarakan hal ini pada orang lain di luar sahabat-sahabat saya? Apakah salah sahabat saya seandainya kabar bahwa saya menjelek-jelekkan si X menyebar luas kemana-mana? Atau salah saya karena tidak cukup “pintar” memilih mana yang bisa dipercaya dan dianggap sahabat?



Lalu apa sebaiknya engga usah punya social media saja? Eits, kalau mau jujur, banyak juga lho sisi positif social media ini. Saya sendiri merasa banyak sekali  mengetahui kabar terbaru dan ter-update dari social media. Selain itu, dengan social media jejaring pertemanan alias networking bertambah luas. Saya bisa mengetahui dengan mudah kabar keluarga yang nun jauh di sana.



Saya sendiri memang tidak berminat membuatkan Naya akun social media. Menurut saya belum waktunya. Tetapi tentu saya tidak bisa menutup mata, kelak Naya pasti akan meminta dibuatkan akun social media. Ada beberapa “aturan” yang selama ini saya terapkan untuk diri sendiri dan akan saya terapkan juga pada Naya.



First thing first, if you would not want your parents, your teachers, your grandparents to read it, than you should not post it. If you don’t have anything nice to say, don’t say anything at all.



Percaya engga percaya, banyak perusahaan yang men-screening calon pegawainya lewat social media lho! Engga lucu kan ya kalau calon boss kita membaca postingan kita di social media yang asyik menghujat teman, atau bermesraan dengan pacar, berantem dengan teman?



Yang ke-2, buat password yang sulit ditebak dan ganti secara berkala.

Hari gini, gampang sekali orang yang tak dikenal meng-hack akun pribadi kita. Ada yang menggunakan akun hasil bajakannya untuk menipu meminta uang, ada yang buat jualan sampai tindakan kejahatan lain.



Ke-3, jangan terlampau mudah meng-accept friend request dari orang lain yang tidak dikenal. Banyak lho kasus penculikan atau perlakuan tidak senonoh di dunia maya menggunakan akun dengan identitas palsu.



Ke-4, jangan mengupload foto yang personal. Jangan sampai foto-foto seperti ini disalahgunakan pihak engga jelas.


Gampangnya sih, kalau kita engga mau seluruh dunia membaca atau melihat postingan kita, ya jangan posting. Yang paling aman, curhat di diary, engga bisa diakses orang yang engga dikenal, dan murni terkontrol oleh kita. Inga inga, there's NOTHING private about social media! 


4 comments:

Emi Syofyan said...

benr, mbak...saya juga pernah gara-gara sosial media jadi diem-dieman sama temen, sejak itu sya suka pikir-pikir dulu kalo mo bikin status..

Nunu said...

Saat beritanya beredar aku sempet berpikir. Kok bisa dari path keluar kalau enggak ada temannya yang jail.

Fenty Fahminnansih said...

true, andalanku selama ini sih plurk, hihihi, masih karena juga sudah banyak yang ninggalin, cuma temen2 deket aja yang masih pake :D

nanda satrio said...

kebetulan saya mahasiswa komunikasi dan baru banget kemarin dapet ilmu ini. Berada internet/ digital media kita sudah tak punya privacy. Siapapun itu. Bahkan pak SBY kalo udah ngetwit pun tak punya. Apalagi si Dinda. Dinda bukanlah orang pertama yg dibully di ocmed. Banyak brand, tokoh-tokoh yg reputasinya hancur karena masuk internet. Mereka gak ngerti bagaimana komunikasi yg baik/building image(individu pun perlu :p)/communication strategy to audience. Nah yg terakhir itu perlu banget buat kita-kita yg lagi 'nyemplung' di internet/socmed biar tidak seperti dinda atau lainnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...