Saturday, October 24, 2015

Bonjour Paris!

Hari kedua di Paris, kami berencana untuk mengunjungi museum Louvre yang terkenal dengan lukisan Monalisanya, serta Notre Dame Cathedral. Sementara, untuk lunch kami rencanakan mampir ke Kedutaan Besar Indonesia untuk makan masakan Indonesia. Sengaja tidak membuat itinerary yang padat merayap karena jujur selain capek, sepertinya kami sudah mulai bosan dan kangen Naya.

Jadilah kami memulai hari agak siang sekitar jam 10 pagi waktu Paris. Suami saya memasak nasi (berasnya dijual di supermarket), sementara saya sarapan dengan roti. Setelahnya, dimulailah petualangan menuju museum Louvre. Tak seperti biasanya, udara Paris lumayan hangat dibanding sebelumnya, sekitar 14 derajat Celsius. Saya cukup memakai baju rangkap 3 lho! Walaupun hujan lama, tetap saja terasa lebih nyaman.


Di Louvre, pengunjung sudah memenuhi antrian yang mengular. Panjaaaang sekali. Saya sih sudah pernah masuk ke dalamnya, dan agak kecewa waktu itu. Mungkin saking terkenalnya Louvre dan Monalisa, ekspektasi saya jadi tinggi sekali. Jadilah begitu melihat lukisan yang kecil (mungkin hanya seukuran kertas A4), drop deh. Mana perjuangan mengantrinya panjang pula. Tapi itu 8 tahun yang lalu sih. Saya oke-oke saja kalau suami mengajak masuk kembali.

Rupanya, suami saya yang kehilangan selera begitu melihat antrian yang konon bisa sampai harus 2,5 jam menanti. Terbayang bagaimana tak nyamannya di dalam berdesak-desakan dengan orang banyak. Saya melihat banyak sekali grup tur atau karyawisata anak-anak sekolah di sana. Satu rombongan bisa terdiri dari 40 orang! Wah ya sudahlah, mundur teratur dan kami cukup puas hanya berfoto-foto dengan piramidnya dan gedung-gedung indah di sekitarnya.

Puas dari Louvre, kami bergegas menuju Notre Dame. Hujan terus menerus tak jua selesai. Cuma bedanya dengan di Indonesia, hujan di Paris "lembut" banget. Bisalah bertahan tanpa payung juga. Gerimis di Indonesia lebih unbareable-lah dibanding hujan di Paris. Jarak antara Louvre dan Notre Dame sekitar 1,8 KM. Karena ingin menikmati pemandangan, jadilah kami memilih untuk berjalan kaki.

Pemandangannya bagus sekali, dan menurut saya sih, kota Paris mirip banget dengan kota kelahiran saya, Bandung alias Paris van Java:D

Di Notre Dame, lagi-lagi kami menemukan antrian yang mengular minta ampun panjangnya. Memang bagus banget sih di dalam, tapi karena suami sudah kelaparan dan malas mengantri, pulanglah kami ke apartemen. Lah, kok apartemen? Iyaaa, memang rencananya adalah ke Kedubes Indonesia, tapi gempor beraaat hahaha, jadi ya sudahlah, masak seadanya saja.

Di supermarket dekat airbnb kami rupanya juga menjual beras. Suami saya membeli beras dan daging cincang serta telur, sedangkan saya membeli mie instan. Tadinya mau membuat sambal sendiri tapi susah banget menemukan cabai di Paris. Orang Paris tak suka pedas apa ya?-_-"

Esok siang, kami akan berpindah kota lagi dari Paris ke Nice, tempat diselenggarakannya kongres yang akan diikuti suami saya. Bagaimana Nice? Tunggu cerita lanjutannya ya!

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...