Friday, March 2, 2018

Welkom in Amsterdam

Perjalanan menuju Amsterdam dari Surabaya total saya tempuh dalam waktu 18 jam 20 menit. 1 jam 20 menit dari Surabaya ke Jakarta, 3 jam transit di Jakarta, dan 14 jam penuh dari Jakarta ke Amsterdam. Karena tahu perjalanan akan sangat panjang, saya sudah menyiapkan obat tidur andalan supaya bisa tidur nyenyak selama di pesawat.

Alhamdulillah, rejeki anak solehah, pesawat yang saya tumpangi tak terlalu penuh. 2 seat di sebelah saya tak berpenumpang sehingga selama perjalanan, saya bisa tidur selonjoran dengan enaknya. Saya lihat, banyak juga penumpang lain yang memanfaatkan tempat kosong di sebelahnya seperti saya. Jadilah begitu naik pesawat, saya memasang penutup mata, mengambil posisi tidur dan minum obat tidur. Harapannya sih tak terbangun hingga tiba di Amsterdam. Kenyataannya? Yasalaaam, karena pesawatnya ajrut-ajrutan (dan saya ketakutan setengah mati), saya berulang kali terbangun dan memilih untuk berdoa semalaman. Berulang kali pula pak pilot menginformasikan bahwa cuaca yang harus kami lalui sangat buruk sehingga banyak goncangan yang harus dihadapi.

Untunglah, selama 14 jam itu, karena bisa tidur selonjoran, saya merasa pesawat yang saya tumpangi sangat nyaman.



Tiba di Schipol Airport pukul 07.20 waktu Belanda, saya melihat dari balik Jendela bahwa Amsterdam masih gelap gulita daaaan -wait for it-... hujan salju. MasyaAllah, banyak penumpang dari Indonesia yang dengan sigap langsung merekam dengan video handphone, sementara saya pun tak kalah sigap... mengambil segala macam perlengkapan musim dingin yang sudah saya siapkan di tas kabin. Mantel bulu, coat pendek, coat panjang, sarung tangan lapis 2, kaos kaki tebal, penutup telinga sampai topi. Hahaha, saya sadar diri kalau memang tak tahan dingin sama sekali. Sungguh lho, setiap hari saja selalu ribut dengan Naya gegara AC. Naya yang keturunan beruang kutub (bapaknya yee) meminta suhu AC diturunkan jadi 19 atau 20 derajat, sedangkan saya meminta cukup 25 derajat saja. Lah kok 25 derajat, saat itu, pilot memberitahukan bahwa suhu di luar adalah minus 8 derajat.

Keluar dari pesawat, saya merasakan suhu yang sangaaat dingin, menusuk sampai ke tulang. Sedang tak konsentrasi karena sibuk menghangatkan badan, tetiba ada yang memanggil nama saya. Kaget dong pastinya. Ternyataaa, ya ampunn, teman SMA saya, Iin berlibur ke Denmark lewat Amsterdam, menggunakan pesawat yang sama dengan saya. Wah wah, what a coincidence! A nice one;)

Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, saya sempatkan videocall Naya yang excited sekali melihat salju. Bolak/i ia mengatakan hal yang sama. "Mamay kuat may? Kan dingin. Are you okay? Are you sure?" :')

Suami yang menjemput saya sudah tiba terlebih dahulu di gate, lalu kami naik metro menuju apartemen. Serius deh, ini adalah suhu terdingin yang pernah saya rasakan seumur hidup. Sebelumnya, saya sempat bercita-cita ingin sekali mengunjungi Iceland. Tapi merasakan udara dingin di Amsterdam ini, well okay, ga usah repot-repot:)))

Sesampainya di apartemen, saya langsung membongkar muatan koper sementara suami langsung berangkat bekerja ke rumah sakit. Setelah beberes ini itu, saya -layaknya beruang di musim dingin- langsung tidur dengan tenang haha. Harap maklum, pukul 3 sore di sana artinya pukul 9 malam di Indonesia, memang waktu tidur saya:p Jetlag kan yaa. Eh benar saja, jam 12 malam waktu Belanda (atau jam 6 pagi waktu di Indonesia), saya melek lebaaaar. Eaaaa.

Pagi itu, saya punya appointment dengan Evelien, perawat yang akan mendampingi saya selama menjalani clinical fellowship. Oh ya, saya mendalami bidang Pediatric Metabolic Diseases selama di sini. Angka kejadiannya yang tercatat di Indonesia masih sangat jarang. Tapi, sepertinya, lebih banyak dari yang terdiagnosis karena Indonesia masih kekurangan fasilitas untuk mendiagnosisnya.

Bocoran dari suami saya yang sudah lebih dulu berada di sini sih, katanya di hari pertama hanya akan diperkenalkan ke beberapa staf dan orientasi ruangan. Sebentar saja, kemudian boleh langsung pulang. Saya sedikit lega karena khawatir masih super jetlag (suami saya baru "sembuh" dari jetlag setelah seminggu), sehingga tidak bisa optimal mengikuti fellowship ini.

Maka dari itu, betapa shockednya saya ketika langsung dibawa ke outpatient clinic untuk....menangani pasien:))))) Hanya ada 6 orang pasien yang sudah membuat appointment (dan katanya memang maksimal dibatasi hanya 6 orang saja perhari), tapi perorangnya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit. Saya kagum sekali dengan senior saya selama di sini. Beliau (sudah sangat senior ya secara profesor) mau menjelaskan proses perjalanan penyakit, dengan sangat sederhana kepada keluarga pasien...dan pasiennya yang masih berusia 6 tahun!

Pasien ini terdiagnosis dengan Glutaric Acidemia type 1, yang menyebabkan kerusakan otak. Sepintas mirip sekali dengan cerebral palsy, kesemua tubuhnya kaku, sehingga tidak dapat berjalan, berdiri, atau bicara. Walaupun begitu, bagian otak yang membuat ia bisa berpikir tidak terganggu, sehingga walaupun tidak bisa berbicara, tidak dapat makan (makannya langsung dimasukkan ke lambung lewat selang), ia bisa berpikir, mengerjakan soal matematika, bahkan membaca.

Caranya berkomunikasi adalah dengan memencet smartphone yang layarnya terbagi 2, Ja (yes/ya) dan Nej (No/tidak). Ibu anak ini memiliki buku berisi gambar-gambar yang akan (dengan sangat telatennya) ditunjuk dan dibacakan ke anaknya. Jika betul gambar yang ditunjuk sesuai dengan maksud sang anak, anak ini akan memencet Ja di smartphonenya. Demikian sebaliknya. Bayangkan, sewaktu memasuki ruangan pemeriksaan, anak luarbiasa ini menunjuk-nunjuk smartphonenya. Kami mengetahui bahwa ia ingin mengatakan sesuatu. Ibu langsung sigap mengambil smartphone dan buku pictogram. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit -like seriously!- untuk pasien ini mengatakan "I dont want to have my blood drawn/Saya tak ingin diambil darah", dan profesor saya menunggu dengan sangat sabarnya.

Kalau pernah menonton serial "Speechless" di Star World, salah satu tokohnya, JJ memiliki kebutuhan khusus dan hanya dapat berkomunikasi dengan menggunakan ipad di kursi rodanya. Naaah, mirip itu tapi lebih manual.

Ibu pasien tersebut menceritakan kalau anaknya sering protes, kenapa ia tak bisa seperti layaknya anak lain yang bisa duduk di mana saja (bukan kursi roda khusus), bisa berdiri, berjalan, berlari, makan dengan mulut, makan apa saja dll. Apalagi ia merasa ia bisa berpikir, bisa mengerjakan soal matematika dengan cepat, cepat menghafal pula. Profesor saya menjelaskan dengan bahasa sangat sederhana, menunjukkan foto MRI otaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertanya lebih jelas. Bisa dibayangkan tidak? "Hanya" untuk mengatakan ia tak ingin diambil darahnya saja membutuhkan waktu lebih dari 20 menit. Kira-kira berapa lama yang dibutuhkan untuk menjelaskan hingga sangat jelas, dan membuat anak tsb happy, keluar dari ruangan dengan senyum?:')

Sebetulnya, seandainya saja sistem kesehatan di Indonesia lebih baik, saya yakin dokter-dokter di Indonesia pun tak akan kalah dengan di sini. Sayangnya, beda jauh:p Di Belanda, pasien dibatasi 6 orang perhari, sedangkan di Indonesia, sehari bisa 70 orang lebih lho!

Pasien berikutnya adalah remaja dengan kelainan metabolik yang cukup jarang di dunia. Yang menjadi concern kami (btw, saya hampir tersedak permen mendengarnya), anak ini mengaku ingin bunuh diri. Ia dijauhi oleh teman sebaya karena "aneh", tak punya teman, ibunya sudah meninggal karena bunuh diri juga saat ia kecil, bapaknya sibuk bekerja sebagai supir internasional sehingga jarang pulang. Sehari-hari, ia tinggal bersama kakek neneknya. Saya sih yakin, jika waktu berpraktik dibatasi hanya 5-10 menit, pasti kami tak bakal mengetahui kalau ada niatan atau pikiran bunuh diri dari pasien ini.

Setelah 6 pasien diperiksa, waktunya istirahat. Saya mencari musholla (namanya meditation room), dan bertemu dengan mahasiswa Indonesia juga di sana hehe (Halo mas Joko:p). Waah senang rasanya, apalagi mengetahui kalau lumayan banyak juga mahasiswa Indonesia yang sedang bersekolah di AMC, rumah sakit tempat saya menjalani fellowship.

Selesai istirahat, sekitar jam 2 siang waktu Belanda, saya sudah sangat mengantuk:)) Tapi menyempatkan diri untuk visite ruangan melihat pasien metabolik yang di rawat. Ruangan atau bangsal anaknya lucuuuu. Simple, modern minimalis, tapi desainnya bagus. Warna/i, penuh gambar lucu, bahkan ada playground juga di dalam ruangan. Kalau saya membawa Naya, pasti dia betah seharian deh di playground tsb.

Tepat jam 14.30, kami mengikuti meeting yang membahas semua kasus metabolik hari itu. Selain saya dan prof, meeting juga diikuti oleh 4 mahasiswa Phd (bukan Pizza Hut Delivery ya:p), dietisien metabolik, 2 orang perawat metabolik dan 1 orang staf metabolik dari rumah sakit pendidikan.

Selesai jam 16.00, saya sudah super mengantuk dan berpikir waktunya pulang. Ternyata belum, saudara-saudara. Kami melihat konsulan dari ruangan, dan memeriksa serta berdiskusi hingga jam 17.15. MasyaAllah, mata saya sudah tak bisa berkompromi lagi:)))

Pulang ke apartemen, saya merasakan suhu semakin dingin. Entah karena memang benar tambah dingin atau karena saya belum makan haha. Selama di Belanda, mungkin karena masih jetlag juga ya, saya lebih memilih minum air putih yang banyak daripada makan. Entahlah, malas sekali makan, apalagi makanan di Belanda tidak sesuai selera:D

Sampai di apartemen, setelah shalat, saya langsung tiduuuuur tenang, sampai akhirnya terbangung kembali jam 12 malam. Ya ampun Metaaaa, mau sampai kapaaaan begini:')))))

Hari ini, rencananya saya akan mengurus administrasi, mengambil jas dokter dan nametag, serta berpraktik di poli metabolik dewasa. Sepertinya menyenangkan:) Tunggu terus postingan berikutnya yaaa:D

1 comment:

lusia johan said...

hebat mb meta.. sdh sibuk, plus jetlag, masih sempat buat nulis postingan ini.. tq, mb meta, membuatku serasa ikut merasakan berada di amsterdam..hehe.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...