Saturday, March 3, 2018

Name Badge, Pager dan White Coat

Hari ke-2 sebagai fellow di AMC, saya diminta untuk mengurus name badge serta jas putih. Sekretaris bagian sudah mendaftarkan saya untuk mengatur segala urusan administrasi dengan bagian Human Resources pukul 9 pagi. Karena itulah, awalnya saya berencana untuk bermalas-malasan dulu, dan baru berangkat sekitar setengah jam sebelumnya dari apartemen.
Udah keliatan kurusan belum?:p

Rupanyaaa, semua itu tinggal rencana. Jetlag masih muncul, sehingga saya bangun tidur pukul 2 pagi dan tidak bisa tertidur lagi walaupun sudah mati-matian mencoba. Jam 7 pagi, saya sudah selesai sarapan dan mandi, siap untuk berangkat:))

Sampai di rumah sakit, saya langsung menuju kantor. Karena masih harus menunggu cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk mengerjakan revisi proposal karya akhir. Lumayan juga lho hasilnya.



Tepat jam 9, saya sudah siap di bagian HR. Setelah beberapa pertanyaan standar (sebagai apa, tinggal di mana, emergency contact, berapa lama, dll), saya diminta berfoto untuk name badge. Tidak seperti nametag atau keplek di rs tempat saya bekerja di Surabaya, name badge di AMC ini sakti mandraguna #eaaaa. Jangan membayangkan bisa terbang atau berjalan sendiri ya:)) Tapi ada microchip yang tertanam dalam name badge ini yang sangat berguna. Untuk membuka ruangan, harus menggunakan name badge ini (jadi tak bisalah ada orang asing masuk ke dalam ruangan). Untuk mengambil white coat atau jas dokter, harus scan kartu ini di mesin (tidak bisa ada orang luar yang menggunakan jas putih mengaku-ngaku sebagai dokter, apalagi karena semua jas dokter di AMC seragam, dengan logo bordiran AMC di dada dan lengan). Untuk menggunakan printer, harus dengan scan name badge. Demikian pula untuk menggunakan komputer, dan segala macam fasilitas lain di RS. Kece yaa.
Name badge is everything here!

Ngomong-ngomong soal komputer, sejak hari pertama bekerja di sini, saya terpesona melihat sistem medical record mereka yang benar-benar paperless. Tidak ada secarik kertas, sekecil apapun, yang digunakan untuk medical record. Semua terdigitalisasi di dalam komputer, lengkap, update, dan dapat diakses di komputer manapun dalam RS selama memiliki name badge.

Sebagai contoh, kemarin saya memeriksa satu orang anak yang dicurigai dengan Leigh syndrome dan sudah dirawat sekitar 3 minggu. Hanya dengan membuka komputer, saya dapat mengetahui keluhannya, semua hasil laboratorium selama 3 minggu ini, semua x ray, CT scan, MRI, dan semuaaanya. Bahkan apa menu makanan yang diberikan oleh dietisien pun bisa mudah dibaca di sana.

Saya sih membayangkan jika di Indonesia menggunakan sistim seperti ini. Pasti akan sangat mempermudah. Tapiiii..kalau mati lampu? Wassalaaaam. Di Belanda, kejadian mati lampu sepertinya tidak pernah ada bahkan di bayangan penduduknya:p

Setelah difoto dan mendapatkan name badge, saya diminta untuk mengambil white coat atau jas dokter. Berbeda dengan di Indonesia, jas dokter di sini sama dengan jas koass atau dokter muda di Indonesia. Tipis, panjang dan tidak kaku. Saat memasuki ruangan jas putih, saya sempat kebingungan beberapa saat. Ini kok engga ada orang? Dari balik jendela kaca saya bisa melihat ada ratusan atau bahkan ribuan white coat yang tertata rapi dalam berbagai ukuran. Tapi, bagaimana cara mengambilnya? Maklum ya namanya juga ndeso:p

Alhamdulillah, Esther, salah satu perawat Pediatric Metabolic Disease berbaik hati menunjukkan caranya. Tinggal scan name badge di mesin kecil, kemudian pilih sizenya, tunggu sebentar, voilaaa.. tetiba 2 white coat sudah muncul di hadapan saya lengkap dengan gantungan bajunya:)))

Selesai urusan administrasi, saya langsung berangkat ke poli Familial Hypercholesterolemia, dan sempat melihat pasien kecil sedang menjalani apharesis. Tidak terlalu lama, karena kebetulan selain saya, ada seorang mahasiswa Phd kardiologi yang juga sedang mendampingi dokter senior di sana. Untuk memberikan kenyamanan pada pasien, dan juga optimalisasi untuk dokter yang sedang belajar, maka biasanya dokter yang sedang belajar dibatasi sekali. Beda dengan di Indonesia, kadang saat visite besar, seorang pasien bisa dikunjungi oleh 10, bahkan 20 dokter muda hehe.

Saat berada di poli Familial Hypercholesterolemia, pager saya berbunyi. Oh ya, selama di AMC, semua tenaga medis tidak diperkenankan untuk memakai segala macam aksesoris, rambut pun harus diikat rapi. Selama saya di AMC, tidak pernah sekali pun saya melihat ada tenaga medis (termasuk koass) yang mengeluarkan handphone pribadi mereka selama jam kerja. Lalu bagaimana mereka berkomunikasi? Dengan menggunakan pager intern yang hanya bisa digunakan di dalam wilayah AMC. Karena melihat yang lain tidak ada yang membawa atau membuka handphone pribadi, saya pun super sungkan. Hanya membuka handphone yang saya bawa saat sedang di kamar mandi, atau di lift yang kosong:p
Lift kosong, berani deh:p


Saya pun mendapatkan satu pager. Setiap pager saya berbunyi, saya mempunyai waktu 2 menit untuk mencari telepon intern RS, dan menelpon siapapun yang memanggil saya lewat pager. Seru sih, tapi gempor:))) Mungkin karena belum terbiasa ya. Saya masih belum hapal di mana saja telepon intern RS berada, jadi harus berlari-lari untuk menemukan telepon.
Pager keramat:))

Rupanya yang memanggil lewat pager adalah prof saya. Beliau meminta saya menemuinya di gedung sebrang karena akan bersama-sama visite pasien dan diskusi kasus.

Diskusi kasus pertama saya adalah mengenai Mucopolysaccharidoses type 1 bersama Geanna, seorang mahasiswi Phd tahun ketiga yang memang mendalami bidang ini. Diskusi berlanjut seru karena yaaa namanya juga cewek:p, malah jadi gosip. Eaaaaaaa:)))

Setelahnya, saya mendampingi prof visite beberapa pasien. Hari itu, saya melihat kasus Leigh Syndrome, Urea cycle defect dan PKU. Satu kali visite, membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit/pasien. Detaaaaail sekali. Luar biasa. Setiap visite pun, saya selalu merasa gempor. Bukan apa-apa, sepertinya di seluruh bagian sini, saya adalah yang paling stunting haha. Yang lain, tingginya 2 meter lebih, dengan langkah kaki yang sangat lebar. 1 langkah kaki mereka = 5 atau mungkin 6 langkah kaki saya. Mereka terbiasa berjalan kaki ke mana-mana dengan cepat, sementara saya? Duh ngos-ngosan rasanya berjalan setengah berlari dari gedung sana ke sini hanya untuk menjaga agar tidak tertinggal dari yang lain. Kalau tertinggal, pasti saya nyasar deh, yakin!

Selesai visite, kami berdiskusi mengenai tugas yang akan diberikan pada saya. Minggu depan, saya harus memberikan presentasi mengenai sistim kesehatan di Indonesia, bagaimana dengan penyakit metabolik anak di Indonesia, serta 1 kasus penyakit metabolik yang ada. Wish me luck!

Pulang dari RS, saya sendirian (karena suami belum selesai operasi) naik metro menuju apartemen. Seperti biasaaa, karena saya disorientasi parah, sempat hampir nyasar salah tujuan. Tapi thanks to Google maps, semua kekonyolan yang biasa saya lakukan dapat diminimalisir sebaik mungkin. Tiba di apartemen pukul 5 sore, saya langsung mandi (aslinya cuma karena pengin merasakan kehangatan air mandi). Tak lama berselang, suami pulang, kami langsung mencuci pakaian dan masak. Eh suami sih yang masak nasi goreng, saya juga masak, tapi indomie:p

Setelah itu, karena mata tak jua bersahabat, saya sudah tertidur tenang pukul 7 malam, dan terbangun pukul 4 pagi. Lumayanlah yaa progressnya;)

Weekend ini, kami berencana untuk take it slow and easy karena cuaca yang masih kurang bisa diajak kompromi. Bagaimana ceritanya? Tunggu postingan selanjutnya ya!:D

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...