Wednesday, May 24, 2017

Last Day in Europe

Setelah lebih dari seminggu melakukan perjalanan keliling Eropa timur, akhirnya hari ini tiba juga. Sejujurnya, saya sudah benar-benar bosan dan kangen rumah. Well, tepatnya kangen Naya dan suami sih hehe. Engga kangen sambal, Met? Naaah biasanya, setiap pergi ke luar negeri saya selalu kangen sambal sampai ngidam segala haha. Tapi di perjalanan kali ini saya belajar dari pengalaman, membawa sambal sendiri.

Ternyata bukan saya saja yang berpikiran sama, teman-teman dalam rombongan pun membawa berbagai macam sambal. Mulai sambal botol sampai sambal bawang bu Rudy. Tak hanya itu saja, mulai abon, kering tempe, bawang goreng, lengkap ada! Jadi, bisa dibilang kali ini saya tak terlalu merindukan makanan Indonesialah yaa.

Di hari terakhir ini, kami sudah merencanakannya sematang mungkin. Karena hari sebelumnya kami belum berbelanja sama sekali akibat hari libur di Budapest sehingga semua tutup, hari ini kami berencana melipir ke Central Market Hall, pasar terbesar di Budapest. Pasar tradisional sih, tapi banyak juga yang menjual souvenir sampai baju.
Di dalam Budapest Keleti Train Station
Menurut Bugi, pemilik apartemen kami, Central Market dibuka mulai jam 6 pagi. Kami sudah siap sejak 7 pagi dan keluar apartemen setelah sebelumnya packing. Maklum, kami harus check out jam 12 siang itu. Saya sudah bertanya terlebih dahulu harus naik apa ke Bugi. Hanya dengan naik subway 1 stopan, disambung dengan tram 2 stopan dari stasiun Keleti dekat apartemen kami. Semalam sebelumnya, saya juga sempat googling bagaimana menggunakan public transportation.



Menurut saya, public transportation di Budapest sangat user friendly. Mudah sekali digunakan. Karena sudah tahu akan naik subway alias metro dan tram, maka saya dan teman-teman memilih membeli transfer ticket. Tiket ini dapat dibeli di mesin penjual tiket yang tersebar di seluruh kota Budapest. Harganya 530 Ft, bisa digunakan untuk satu kali perjalanan termasuk transfer dengan kendaraan lain. Sedangkan single ticket, dapat digunakan untuk satu kali perjalanan tanpa transfer seharga 350 Ft. Hampir saja lho kami memilih membeli 2 single ticket seharga 700 Ft. Untunglah, thank you Trip Advisor!, saya jadi mengerti bisa menggunakan transfer ticket yang lebih murah.

Sesuai tulisan di Trip Advisor pula saya mengetahui untuk memasukkan tiket tersebut ke puncher sebelum naik kendaraan apapun. Karena kalau sampai di tujuan dan tiket kita tidak berlubang, polisi akan langsung mendenda dengan jumlah yang tidak sedikit.

Setelah insiden nyasar (harusnya naik trem ke ujung sana, eh kami malah naik ke yang berlawanan. Hahaha), kami sampai di Central Market Hall tepat pukul 8 pagi. Begitu masuk dalam gedung tua ini, waaah saya sampai terpukau melihatnya. Bangunan ini tinggi, arsitektur sangat tua, namun benar-benar bersih. Warna/i buah-buahan dan sayuran yang segar langsung menghibur mata. Saya melihat banyak paprika dan madu (bumbu andalan Hungaria) dijual di mana-mana. Demikian pula dengan segala jenis daging fresh seperti ayam, babi, kambing dan sapi.
Di depan Central market

Dalamnya


Tapi kami tidak mengeksplorasi lantai satu, karena ingin segera membeli souvenir. Di lantai atas, isinya full dengan souvenir. Yang membuat saya bolak/i terpesona adalah bordirannya. Ampuuuun deh, cantik-cantik sekali! APa saja ada di sana. Kemeja, dress, vest, blazer, taplak, tatakan meja, sarung bantal, tas sampai coat yang penuh bordiran handmade.


Sumber: Google
Selain itu di lantai yang sama juga menjual souvenir standar seperti magnet, tas, topi, snowball, dll. Lucu-lucu, dipenuhi bebungaan khas bordiran Hungaria. Sayangnya, ternyata kebanyakan toko souvenir baru buka jam 9. Yang buka jam 6 hanyalah toko sayuran, daging dan makanan. Kami menunggu waktu buka toko dengan melihat-lihat barang dari balik pintu.

Karena menyadari waktu kami hanya sedikit, kami tak berlama-lama di sini. Setengah sebelas kami sudah kembali ke apartemen setelah sebelumnya membeli gelato dark chocolate yang hmmmm enaaak bukan main! Suhu Budapest saat itu mencapai 33 derajat, Surabaya bangetlah ya. Wajar kalau saya penginnya yang dingin-dingin:D

Sesampai di apartemen, kami masih mempunyai waktu 1,5 jam untuk beberes. Kembali packing, menghabiskan amunisi makanan agar tidak menjadi beban bawaan, dan minum sebanyak-banyaknya hehe.

Tepat jam 12 siang, Bugi datang dan kami check out. Supir kami (temannya Bugi sih sebetulnya) sudah menunggu di luar untuk mengantarkan kami ke Budapest Airport. Tidak ada Uber di Budapest, jadi sebetulnya agak kurang praktis dibandingkan di Prague.

Anyway, dari apartemen ke airport membutuhkan sekitar 30-45 menit perjalanan dengan mobil. Sepanjang jalan, saya berkesempatan ngobrol panjang lebar dengan supirnya yang suka sekali travelling. Ia pernah ke Thailand, Amerika, dan banyak negara lainnya. Saat saya ceritakan mengenai Indonesia (Bali dan Raja Ampat), ia langsung berjanji akan segera mengunjungi Indonesia. Dia bilang "I LOVE sun. So much". Yang saya tanggapi dengan "Really? Well i dont. Not really a fan:p"

Kami tiba di airport jam 12. 40, padahal flight kami baru berangkat jam 18.45. Hahaha lama banget kan ya. Tapi karena airportnya sangat nyaman, tak terlalu terasa kok. Tubuh sangat letih, kami mengantuk, dan inginnya cepat-cepat pulang saja. Makanya, begitu pesawat kami datang, rasanya happy berat!

Pesawat kami, Lufthansa, memberangkatkan kami dari Budapest ke Frankfurt terlebih dahulu. Kemudian setelah transit hanya 1 jam, dari Frankfurt sampai Singapore. Ada kejadian yang sedikit "menggemaskan" buat saya.

Dari Singapore ke Jakarta, kami (saya dan satu teman) naik Singapore Airlines yang dijadwalkan berangkat jam 17.20 dan sampai di Jakarta jam 18.05. Lalu dari Jakarta, kami naik pesawat terakhir menuju Surabaya yaitu Lion jam 20.15.

Saya mulai merasa tak enak hati saat sudah jam 17.15 namun belum juga ada panggilan boarding dari SQ. Wah jangan-jangan delay nih! Kalau sampai delay, bisa bahaya karena risiko ketinggalan pesawat ke Surabaya. Tapi saya membatin, ini kan SQ ya, yang selalu masuk daftar The Best Airlines in the world. Masa delay sih? Lagipula, biasanya Lion kan delay, jadi seandainya memang SQ delay, insyaAllah masih bisa terkejarlah!

Daaaan betul saja saudara-saudara, pesawat SQ kami delay! "Hanya" 1 jam sih, tapi itu belum termasuk waktu keluar pesawat, mengantri ambil bagasi dsb dsb. Wah semoga Lion delay juga deh, begitu pikir kami.

Saat itu kami masih belum mengetahui alasan apa yang membuat SQ sampai delay. Namun beberapa jam setelahnya, saya baru dikabari oleh mama saya (yang padahal sedang umroh di Mekah!) kalau bandara Changi kebakaran, tepatnya di terminal 2, terminal tempat pesawat saya berangkat.

Walaupun sudah tak yakin masih sempat, kami langsung lari dan naik taksi menuju terminal 1, tempat Lion Air. Ehhh, kami masih mendengar nama kami dipanggil sebagai last-call, namun menurut petugas di sana, sudah terlambat untuk memasukkan bagasi, dan kami tidak akan sempat masuk ke dalam pesawat. Yaaaaaah, telat juga deh akhirnya.

Kami masih pede sekali bakal tetap dapat pesawat besok pagi, yang jam 4 pagi. Jadi bisa dibayangkan tak betapa shocknya kami saat browsing dan melihat kalau SEMUA PESAWAT, mulai dari Garuda, Lion, Airasia, Sriwijaya, Batik Air, Citilink penuh semua hingga pukul 5 sore keesokan harinya?

Duh, inginnya cepat-cepat pulang kok malah begini ceritanya. Hari juga sudah semakin malam, kami menjadi tontonan banyak orang karena masih memakai coat dan sepatu boot plus syal tebal di suhu Jakarta yang mirip dengan di Surabaya. Akhirnya kami memutuskan menginap di hotel airport setidaknya untuk malam itu sambil tetap mencari tiket. Ternyataaaa, semua penuh! Padahal bukan weekend, bukan libur nasional lho! (Saya baru ngeh kalau hari itu ternyata hari libur terakhir anak SD karena anak kelas 6 SD ujian). Eaaaaa banget!

Sampai jam setengah 12 malam, kami sibuk browsing di emperan bandara. Saya mencari pesawat, sementara teman saya mencari hotel. ALhamdulillah ada satu kamar di hotel yang tak terlalu jauh dari airport tersedia. Langsung saja kami booking. Sudah lelah, keringat mengalir deras, tak bisa berpikir deh!

Oh ya, saat kami sedang kebingungan, ada satu porter yang terlihat iba dengan kami dan menawarkan hotel. Katanya, sering ada penumpang yang diantarkan ke hotel tsb olehnya. Karena putus asa, saya manut saja dan menelpon hotel tadi. Lah, yang pertama ditanya oleh pihak hotel adalah "Mau berapa jam?" Eaaaa, saya takut banget itu malah hotel esek-esek huahahaha. Buyaaaar!

Setelah booking hotel via online, tugas berikutnya adalah mencari tiket pesawat yang available. Mumpung masih di bandara, akhirnya kami mendatangi satu persatu (literally!) kantor penerbangan yang ada di sana. Keliling terminal setelah 28 jam perjalanan jauh sambil membawa koper berat, ransel, tas tangan, memakai long coat tebal, syal dan boot. Sudah terbayang?:p

Hasilnya? Nol besaaaaar hahaha. Namun karena benar-benar sudah lelah, kami memutuskan check in dulu di hotel, mandi, baru memikirkan rencana selanjutnya. Hayati sudah lelaaaaah.

Dengan taksi, kami menuju hotel Swiss Bellinn yang hanya berjarak 15 menit dari airport. Kamarnya lumayan besar dan bersih. Sehabis mandi, kami mulai berkutat lagi dengan handphone masing-masing untuk mencari tiket yang kosong. Mulai Tiket.com, Traveloka, Pegipegi, Skyscanner, apalah apalah semua kami coba, termasuk web resmi berbagai penerbangan. tetap tidak ada! Hanya ada 2 kursi tersedia di penerbangan Garuda dengan business class pada jam 1 siang.Harganya jangan ditanya yaa, bisa digunakan mondar/i Surabaya-Singapore :)))

Namun karena keputusasaan dan kelelahan yang sedemikian memuncak, ya sudahlah kami memutuskan untuk pulang ke Surabaya dengan business class Garuda. (PS: Menurut saya sih setelah merasakan, rasanya biasa saja:p Banyak makanan tapi percuma karena saya tak begitu suka makan, kursi nyaman dengan ruang kaki lapang tapi untuk saya pun percuma karena saya terbiasa tidur saat di pesawat jadi kursi sempit atau enak sama-sama tak terasa haha)

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Surabaya sore hari setelah perjuangan. Happy sekali karena bsia bertemu Naya dan suami lagi. Sempat kaget melihat Naya yang menurut saya terlihat kurusan. Ternyata katanya begini:
M: "Kak, kok kurusan sih? Kakak sakit?"
N: "Engga, kakak kangen mama."
M: "Apa hubungannya?"
N: "Kalau kangen mama itu semua rasa makanan jadi ga enak ma."
Duh anak saya so sweet banget yaaa!<3

Demikianlah pengalaman saya selama menjelajah beberapa kota di Eropa. InsyaAllah bisa kembali ke sana lagi sama keluarga yaa:D

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...