Wednesday, December 23, 2015

Late Post: Hari Ibu

Perayaan Hari Ibu tahun ini lumayan berbeda untuk saya. Baru pertama kalinya (seumur hidup), saya diminta untuk mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ibu. Hah? Apa hubungannya ya? Begitu saya pikir waktu membaca undangan tersebut. Eh ternyata, memang berhubungan!

Berdasarkan hasil googling, ternyata peringatan Hari Ibu diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Salah satu hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Namun penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Para ibu-ibu SpA di RS tempat saya bekerja. Saya saltum nih karena habis upacara:))
Sehari sebelum Hari Ibu, Naya masuk ke kamar saya pagi-pagi. "Mama, jangan lupa uang belanja hari ini ya!" (PS: Sudah pernah saya ceritakan kan kalau anak gadis saya ini lebih ibu-ibu daripada emaknya?:p)

M: "Wah kak, I dont have cash money. I have to go to ATM first, okay."

Lalu Naya keluar kamar dengan tampang ditekuk. Saya acuhkan saja karena memang sedang sibuk bersiap-siap berangkat kerja. Saat saya akan berangkat, Naya datang menghampiri saya, meyodorkan "lukisan"-nya ini yang baru dibuat 10 menit sebelumnya.
Lukisan yang dijual Naya "seikhlasnya" demi uang belanja LOL

"Mama, please mama, take this painting to the hospital. You can sell it to your friends, your doctors' friends. Im so sad to see you have no money. I dont want you to work until late night anymore. Just sell my painting okay mama."

Saya terkejut. Antara terharu dan ingin ngakak sih sebenarnya:p
M: "Mau dikasih harga berapa kak?"
N: "Seikhlasnya saja, mama. Jangan dikasih harga. Semampunya dan seikhlasnya."
:))))))))))

(Pada akhirnya lukisan itu dibeli seharga 500 rupiah oleh nannynya, dan hasil penjualan langsung diberikan pada saya untuk uang belanja.)

Di hari yang sama, Naya mendatangi saya dan bertanya,
N: "Mama, im so sad. Can you please help me?"
M: "Yes, sure. What do you need?"
N: "I need you to take me to..errr.. mama, panti asuhan itu bahasa Inggrisnya apa?"
M: "Orphanage"
N: "Right. To orphanage."
M: "What for?"
N: "I want to give them my emmm..mama celengan apa bahasa Inggrisnya?"
M:" Piggy bank."
N: "Are you sure its Piggy Bank?"
M: "Yeah, why are you asking?"
N: "Well, my celengan is not Piggy-shaped."
M: "Ya, but i think its kinda idiom, you know."
N: "What is idiom?"
M: *mulai pegal ngomong Inggris* "Istilah kak. Sebutannya begitu."
N: "Okay. Anyway, i want to give my Piggy Bank but not piggy-shaped *keukeuh* to the children in orphanage."
M: "Why kak?"
N: "I feel sad for them. Do you know that they dont have father and mother? They dont have nanny too, or grandpa or grandma. How about if they want to eat ice cream? Or eat soto? Who will buy it?"
M *terharu* "Okay kakak, i will take you to the orphanage."

Buat saya, inilah hadiah Hari Ibu yang paling berkesan untuk saya:)
Ngomong-ngomong soal hadiah, anak gadis juga memberi hadiah Hari Ibu lho! Ini diaaaaaa:)))

Terima kasih kakak. Im so proud of you!:*

1 comment:

Nurul Rahmawati said...

NAYA Ruaaarrr biyasaaak!

bukanbocahbiasa(dot)com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...