Wednesday, September 10, 2014

Mendidik Keras


Bagi yang rajin membaca postingan saya di blog ini tentu hapal benar kalau saya selalu bilang mendidik Naya dengan “keras”. Maksudnya apa? Seberapa kerasnya? Keras yang bagaimana?

Saya dididik dengan keras oleh kedua orangtua saya dulu. Keras di sini maksudnya adalah banyak aturan, banyak ketentuan yang diterapkan dengan penuh disiplin. Sedikit saja meleset, dipastikan punishment menanti. Tetapi seandainya saya berhasil mengikuti, rewardnya pun ada. Yang paling simple dan memorable misalnya adalah soal waktu. Orangtua saya mengatur jadwal kami (saya dan kakak) sedemikian ketatnya. Sepulang sekolah, kami diharuskan sampai di rumah pukul  14.30. Saya ingat, dulu pulang pukul 14.00 lalu harus naik angkot untuk sampai ke rumah dengan lama perjalanan kurang lebih 15 menit. Tapi namanya juga anak-anak, kadang-kadang saat bubar sekolah, saya masih sibuk ngobrol cekikikan dengan teman atau becanda dengan sahabat. Terlambat 5 menit saja dapat membuat mama papa saya marah besar. 

Tidak ada kontak fisik, lemparan sepatu atau barang lain saat orangtua saya marah besar. Tapi nada suara mereka yang meninggi sedikit saja dengan pandangan mata kecewa cukup membuat saya sangat menyesal telah mengecewakan mereka.

 Walaupun saya pun sering kesal waktu itu karena ketatnya peraturan mereka, saat ini saya benar-benar menyadari betapa bergunanya didikan kedua orangtua saya. Saya sering membayangkan bagaimana kalau seandainya orangtua saya tidak mendidik dengan penuh disiplin. Pastilah saat ini saya tidak akan menjadi saya yang sekarang. 

Karena merasakan banyaknya manfaat setelah besar, sejak awal, saya berniat untuk mendidik anak dengan disiplin. Disiplin pada dasarnya adalah perilaku kebiasaan yang dapat melatih tanggung jawab. Tanpa disuruh, secara otomatis anak akan masuk ke dalam pola kebiasaan tertentu. Menurut saya, disiplin sangatlah perlu untuk membuat hidup menjadi teratur.

Saya membiasakan Naya berdisiplin sejak bayi. Iya betul, sejak baru lahir. Saya percaya, kebiasaan dapat dibentuk sejak awal. Yang paling sederhana misalnya soal waktu.Sejak masih bayi, saya mengatur jam mandi Naya di waktu yang sama setiap harinya. Jam 5.30 pagi dan jam 3 sore. Setiap hari, tidak pernah kurang atau lebih. Percaya atau engga, sampai saat ini pun Naya masih mandi jam 5.30 pagi dan 3 sore lho! Karena sudah menjadi kebiasaan, Naya tidak pernah saya kejar-kejar atau paksa untuk mandi. Begitu melihat jam di dinding menunjukkan angka 5.30 pagi atau 3 sore, anak gadis saya sukarela melepas baju dan masuk kamar mandi.

Demikian pula dengan waktu tidur. Ngantuk atau tidak, jam 18.30 paling telat Naya akan masuk kamar, minta ganti piyama, gosok gigi dan meminta lampu kamar dimatikan. Tidak ada drama ogah tidur atau masih mau main malam-malam. Saya percaya ini karena kebiasaan saya menidurkan Naya dengan ritual tsb sejak kecil. Sebetulnya, saya inginnya menggeser jam tidur Naya lebih malam sedikit karena sesekali ingin mengajak Naya kalau ada acara pernikahan atau makan malam bersama keluarga besar. Tapi sulit juga, karena mungkin sudah kebiasaan ya:D *emakruwet* :)))

Selain waktu, saya juga mengatur asupan makanan yang boleh dimakan Naya. Saya katakan pada Naya kalau jajanan macam chiki-chikian, permen atau cokelat tidak sehat jika terlalu banyak dimakan. Bisa merusak gigi dan membuat Naya sakit lainnya. Akhirnya, setiap Naya mendapat jajanan seperti itu (biasanya dari ulangtahun teman atau utinya yang kasihan:p), Naya akan meminta ijin saya dulu. Kalau tidak saya ijinkan, dia menurut sekali lho. No dramas!

Masih banyak contoh lainnya sebenarnya. Nanti kapan-kapan saya tulis ya!
Intinya, untuk mendisiplinkan anak, yang paling penting menurut saya adalah konsisten. Artinya, sebagai orangtua, kita juga harus disiplin. Misalnya, membuat aturan anak harus mandi jam 5.30 pagi, tapi besoknya karena kita malas bangun pagi bisa mundur jadi jam 7 pagi, lusanya jam 6.30 pagi dst:))) Atau membuat peraturan anak tidak boleh makan cokelat tapi karena engga tega, peraturan bisa berubah setiap saat. Anak malah bingung nanti jadinya.

Yang kedua, pastikan kita kompak dengan pasangan. Jangan sampai aturan yang kita buat malah berlawanan dengan aturan pasangan kita. Anak malah akan jadi bingung dan cenderung mengikuti aturan yang menurut dia paling enak saja. Banyak-banyak diskusi dengan pasangan aturan bagaimana yang paling pas untuk anak disesuaikan dengan sikon. 

Ketiga, konsekuen. Ingat, children see children do. Kita membuat aturan anak harus makan sayur, tapi kita sendiri sebagai orangtua ogah makan sayur. Mau diberi punishment macam apa pun, sepertinya percuma:D

Keempat, kompromi. Ada kalanya aturan boleh dilanggar. Misalnya saat anak kita sakit, atau ada force majeur lainnya.

Last but not least, jangan lupa reward and punishmentnya. Puji anak saat berhasil mengikuti aturan, peluk, cium, atau siapkan makanan favoritnya. Untuk punishment, bisa berupa larangan memainkan mainan favorit, tegur dengan nada serius, atau mungkin time-out. Sesuaikan dengan masing-masing anak:D

Alhamdulillah, saya merasa sampai saat ini saja sudah banyak sekali manfaat dari mendidik Naya dengan penuh disiplin. Awal-awalnya berat memang, apalagi kalau anak gadis sudah mimbik-mimbik pasang ancang-ancang mau mewek. Duh engga tega, rasanya hati ini tertarik-tarik ingin mengijinkan dan memberikan apa saja yang dia mau. Tapi saya teguhkan hati, meyakini kelak ini semua akan ada manfaatnya. Semua untuk Naya sendiri kelak:)

3 comments:

bukanbocahbiasa said...

Aku padamu,deh, Metaaa...!
Hebat! IMHO mendidik kedisiplinan pada anak itu emang duuuuhh, bikin sumbu meledak.

Anakku pas umur balita lumayan gampang ngajarin disiplinnya. Malah sholat subuh ke Masjid jamaah loh.

Tapii, makin ke sini, ulala... dia bisa bangun pas subuh aja udah Alhamdulillah banget *lap kringet*

rahma ddy said...

Tamparan keras bgt buat saya. Maunya disiplin tapi begitu anak teriak nangis, udah luluh. Jadinya kyk sekarang deh, semua aturan yg dulu dirintis dan rajin ditaati sekarang mubazir.

Meta Hanindita said...

@bukanbocahbiasa: iya bener bgt mbak, butuh kesabaran tanpa batas. Apalagi kalau belum tidur abis jaga. Apalagi kalau mau maju sidang. Apalagi kalau ngurusin pasien jelek. *kok malah curcol* :)))

@Rahma: aku pun selalu ga tega denger naya nangis tapi ya ditega2in demi dia sendiri:D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...