Wednesday, August 6, 2014

Temper Tantrum

Kemarin, saya dicurhati seorang teman yang mempunyai anak sebaya Naya. Menurutnya, Rico, anggap saja begitu nama sang anak, gampang sekali berubah menjadi "monster" sejak berulang tahun yang kedua. Apa saja bisa membuatnya marah besar. Tidak diijinkan menonton televisi, Rico akan menangis, berteriak-teriak bahkan meludahi ibunya. Tidak diperbolehkan memakan permen terlalu banyak, Rico bisa sampai menjambak rambut neneknya. Saat di mall dan meminta mainan, Rico akan bergulingan di lantai, menendangi kaki ibunya sampai dibelikan. Begitu seterusnya.

"Lama-lama karena males dan capek, ya sudahlah, gue kabulkan semua permintaannya. Daripada gue emosi, darah tinggi, stroke terus mati muda?" Begitu komentar teman saya yang disambung dengan pertanyaan, "Emang anak gue normal ga sih? Menurut lo musti dibawa ke psikiater anak gitu ga, Met?"

Saya yakin, apa yang dialami oleh teman saya banyak juga dialami oleh orangtua lainnya. Temper Tantrum, istilahnya, adalah perilaku tidak menyenangkan, mengganggu sampai merusak yang merupakan ledakan luapan emosi tidak terkendali. Temper tantrum adalah bagian normal dari proses perkembangan anak, satu periode perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Namanya juga periode ya, pasti akan ada akhirnya. Biasanya sih, memasuki umur 4 tahun mulai hilang kok.

Tantrum pada umumnya mulai muncul saat anak berusia setahun dan semakin parah di usia 2 tahun. Makanya ada istilah Terrible Two untuk mereka yang berumur 2 tahun:D Kenapa 2 tahun? Karena di umur tersebut, anak baru mulai memiliki "kesadaran diri". Namun karena kemampuan berkomunikasinya masih sangat terbatas, anak jadi tidak bisa menyampaikan maksudnya. Inilah yang membuat emosi anak meledak-ledak.

Ada beberapa penyebab munculnya temper tantrum ini. Penyebab tersering adalah lelah dan lapar yang membuat anak lebih sensitif dan gampang emosi. Yah ini sih orang dewasa kayak kita juga ya! Kalau lelah atau lapar bawaannya pengin makan orang:p Selain itu adalah mencari perhatian atau kalau keinginannya tidak dituruti. Ada penelitian yang mengungkapkan faktor penyebab tantrum dari pihak lingkungan (bukan dari anak sendiri) , yaitu kurangnya perhatian orangtua, sibling rivalry, disiplin atau peraturan yang tidak konsisten, terlalu protektif atau justru terlalu permisif.

Bagaimana dengan Naya?
Alhamdulillah, sampai saat ini (engga tahu lagi kelak ya, tapi engga minta juga:p) Naya engga pernah tantrum yang sampai mengganggu saya. Dulu memang Naya bakal rewel saat mengantuk. Tapi itu pun dia hanya akan merengek dan ngomong "Pokoknya kakak engga mau bobo! Kakak engga mau bobo! Kakak engga mau bobo!" dst dst dst sampai akhirnya dia tertidur dengan sendirinya:)))) Sekarang sih sudah engga lagi:)

Dulu, waktu Naya tantrum, ini yang selalu saya lakukan. Mungkin bisa dijadikan masukan  buat orangtua yang pusing menghadapi anak tantrum nih!

First thing first, jangan ikutan tantrum:))) Ini penting banget. Karena kalau kita jadi ikutan emosi, engga bakal ada berhentinya. Anak malah jadi membenarkan ngamuk-ngamuknya dia karena ada contoh nyata di depan mata. "Mama aja ngamuk-ngamuk kok sama aku. Kenapa aku engga boleh ngamuk juga?"

Kedua, cuek. Sampai dia tenang, saya engga bakalan mendekati atau mengajak bicara. Saya memang membuat "peraturan" dengan Naya. Kalau Naya ingin sesuatu dari saya, harus langsung dibicarakan. Kalau dia malah rewel atau menangis, saya tidak akan mengajak bicara atau menanyakan ada apa sampai ia tenang. Terkadang, saya peluk Naya sampai dia tenang. Tanpa bicara apapun.

Saat anak sudah mulai tenang, barulah cari tahu apa penyebab tantrumnya. Jika karena keinginannya tidak dipenuhi, jelaskan kenapa kita tidak bisa mengabulkan secara sederhana.

Jangan menawarkan "imbalan" untuk menghentikan tantrumnya, karena bisa menjadi kebiasaan untuk anak.

Jangan lupa beri pujian, pelukan atau ciuman kalau anak sudah berhasil mengendalikan tantrum.

Yang terakhir, biasanya saya minta Naya meminta maaf karena sudah merengek-rengek. Ini untuk membuat Naya tahu kalau apa yang dia lakukan itu salah, supaya tidak diulangi lagi.

Sabar ya moms! Tantrum pasti berlalu:)

antrum sebenarnya adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi pada anak. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.

Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/anak/mengenal-temper-tantrum-pada-si-kecil
antrum sebenarnya adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi pada anak. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.

Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/anak/mengenal-temper-tantrum-pada-si-kecil

4 comments:

meta agustya puteri said...

nah.. ini dia mbk. saya kadang ikut ternpancing juga emosinya pas capek habis kerja trus anak rewel gak mau tidur sampe larut malam.
reaksi saya ya cuma cuek. si kecil ini nangis jerit-jerit ngikuti kemana saya pergi sampe capek sama yg diminta trus minta gendong. baru lah itu tantrum hilang.
bener gak sih saya mbk?
soalnya ibu saya bilang kasian, anak rewel jgn dibiarin lama-lama nangisnya.
saya jadi kepikiran takut nanti klo dia besar malah jadi org yg gampang kepancing emosinya :(

feni Amriani said...

iya, bener ama yg komen diatas.. sering kali org tua kita menuruti rengekan anak hanya krn ga sanggup dengar rengekan atau katanya ga baik kl rewel lama2.. akhirnya si anak terus melakukan hal itu. kl kita tgl dgn ortu kita seperti ini dan berbeda cara pandang kita dgnnya, maka ini bahaya bngt buat anak. krn si anak akan merasa lbh terlindungi dgn merengek saja sama neneknya krn psti dituruti ketimbang sama kita yg hanya cuek. parahnya, ini akan membuat kita bisa jauh sama anak2.. serbasalah kl posisi ini yaa..

Meta Hanindita said...

@meta: Menurutku sih emang mustinya begitu. Kalau menurutku, anak rewel pasti akan berhenti sendiri saat dia capek. Engga ada gunanya diajak ngomong karena pasti malah ngamuk-ngamuk. Tunggu sampai tenang, kalau mau bisa dipeluk aja supaya anak tau kalau kita ada tapi engga mau ngomong sampai dia tenang.

Meta Hanindita said...

@Feni: Itu susahnya kalau ada pihak lain di rumah. Mustinya sih menurutku, harus diatur di depan, cara mendidik anak harus gimana karena kalau beda -soal apapun- pasti anak bingung dan engga bagus buat perkembangan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...