Thursday, February 13, 2014

Terpesona Ibu Risma

Kemarin, saya gaduh gelisah semalaman karena kedatangan pasien "jelek", seperti bom waktu yang tinggal menuggu waktu meledak saja. Seorang anak berusia 7 tahun, berat "hanya" 9 kg, datang karena tidak mau makan sejak 3 bulan lalu, BAB darah sejak sebulan, muntah setiap makan atau minum, demam sejak 3 bulan, dan hanya minum air teh selama 3 bulan belakangan.

Sebelumnya, ibu tidak pernah membawa anaknya ke dokter atau puskesmas. Cukup dibawa ke dukun yang memijat perut sang anak. Saat saya periksa, perut pasien ini membesar, tidak terdengar bising ususnya, anak tampak lemah dan seputih kapas, literally. Pantas, karena hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar Hb-nya 3 saja. Entah sudah berapa lama perdarahan yang terjadi, tapi waktu di ruangan, anak ini masih terus-terusan BAB darah, hitam seperti petis. Saya rasa, kalau dicek lagi setelah perdarahan itu pasti Hb-nya sekitar 1 atau kurang.

Saya langsung memesan darah. Tapi ternyata stok darah tidak ada. Saya minta keluarga mencari donor yang bergolongan darah sama sesegera mungkin. Keluarga yang ada malah terlihat enggan. Ternyata setelah saya selidiki, ayah sang anak baru saja meninggal dunia karena HIV. Saya bingung. Tanpa ada darah, tampaknya percuma saja saya beri obat atau oksigen untuk anak ini. Saya rencanakan untuk merujuk ke RS yang lebih besar, tapi tertunda karena surat-surat administrasi yang tidak lengkap. Saya hanya bisa menunggu surat-surat administrasi selesai entah kapan karena rumah pasien berjarak 6 jam dari rumah sakit. Maka itu, saya mirip seperti setrikaan deh,  bolak-balik dari rumah ke ruangan untuk melihat keadaan pasien ini.

Karena tidak bisa tidur tenang, saya putuskan menonton televisi sambil menunggu kabar dari pasien tadi.

Awalnya saya sedang menantikan episode terbaru Asia's Next Top Model. Namun saat iklan saya ganti channel beberapa kali dan terhenti di Metro TV saat Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa memperkenalkan ibu Tri Rismaharini, walikota Surabaya sebagai bintang tamunya. Saya selalu mengagumi bu Risma sebagai pemimpin. Saya menyaksikan secara langsung bagaimana Surabaya berubah ke arah yang lebih baik di tangan bu Risma.

Sungguh saya sangat terpesona dengan bu Risma. Penampilannya sangat sederhana. Bahkan, saya baru kali ini melihat bu Risma dengan make-up, walaupun hanya sekadarnya. Jauuuuh kalau dibandingkan dengan Ratu Atut atau Airin:p  Alur pemikiran bu Risma juga sederhana, sesederhana pilihan katanya saat berbicara. Jauuuuuuuh deh dibandingkan dengan pejabat-pejabat yang kalau bicara terkadang menggunakan kata-kata sulit yang "tinggi". Tapi saya bisa melihat apa yang membedakan bu Risma dengan pejabat-pejabat lain. Bu Risma terlihat sekali bekerja dengan hati.

Saya ikut menangis saat bu Risma menangis. Saya tak sampai hati melihat pemimpin kota saya ternyata merasa tertekan. Tampak jelas bahwa bu Risma "lelah". Momen yang paling mengharukan buat saya adalah pada saat beliau bilang engga bisa mengurus anaknya sendiri karena sibuk mengurus Surabaya. Duh, saya mbrebes mili deh mendengarnya. Sebagai ibu yang juga bekerja -dan sibuk-, saya bisa banget merasakan apa yang ibu Risma rasakan. I feel you, bu! I do.

Tapi saya pun setuju dengan apa yang bu Risma bilang selanjutnya. "Saya yakin jika saya mengurus Surabaya karena Tuhan, anak-anak saya akan diurus oleh Tuhan." :')

Mungkin ini bisa saya contoh saat ada orang nyinyir "Kamu kok sibuk ngurusin anak orang melulu, anak sendiri engga diurusin?":p

Entah kenapa, saya langsung teringat dengan tulisan saya sebelumnya ini. Ibu Risma adalah ibu yang bekerja. Apakah karena sibuk mengurus Surabaya dan tidak mengurus anak-anaknya sendiri beliau tidak bisa dibilang ibu yang mulia? Buat saya sih, beliau mulia sekali. Sebagai ibu kandung dari anak-anaknya, dan ibu dari kami semua, anak-anaknya se-Surabaya. Yang tidak mulia mungkin yaaa -yang katanya- motivator yang bikin kultwit begitu padahal engga pernah merasakan jadi ibu:p #sikap #teteuuuup :)))

Ibu Risma,
Saya sangat mengagumi kepemimpinan ibu. Seperti jutaan orang lainnya, tentu saya pun ingin ibu tetap menjalankan tugas sebagai walikota dan tidak mundur. Kami masih membutuhkan ibu. Tetapi, melihat betapa tertekannya ibu, betapa galaunya hati ibu, saya sih tidak tega bu. Shalat istikharah saja bu, minta petunjukNya. Apapun keputusan ibu kelak, pasti akan saya dukung. Kalau ibu ingin mundur, saya ikhlas bu. Ibu tidak mundur, Alhamdulillah. Yang terbaik menurut ibu saja yang mana.  Semoga Allah SWT selalu memberikan ibu kesehatan dan umur panjang, amin.

PS: Karena banyak yang menanyakan apa kabar pasien saya itu, akhirnya surat-surat administrasi lengkap tapi keluarga menolak dirujuk. Alasannya tidak punya uang untuk biaya hidup selama di RS tujuan. Pasien ini meninggal tanggal 14 Februari dengan Hb kurang dari 1, tak terbaca di alat pengukur, dan tidak mendapat donor darah sampai detik terakhir hidupnya. 

4 comments:

Santi Dewi said...

Bu Risma memang patut dijadikan panutan, sehingga selama saya BW para blogger pun memuji bu Risma ini. Salut utk Bu Risma :)

Mrs. Asvan said...

Hiks.... mbrebes mili juga

mapassionne said...

Saya juga kagum banget sama kesederhanaan Bu Risma. Itulah pemimpin yang memang dipilih rakyat untuk diberi amanah, bukan pemimpin yang 'mencari jabatan', insyAllah dibantu terus sama Allah SWT, aamiin.

Fenita Penot G. said...

Aku juga mbrebes... :'(

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...