Tuesday, February 11, 2014

Kabur!

Hari ini diawali dengan kejadian yang kurang mengenakkan buat saya. Pagi buta -subuh sih ya tepatnya-, saya dibangunkan oleh telepon dari UGD. Dokter umum yang berjaga melaporkan kedatangan bayi berusia 4 bulan, mencret sejak semalam. Menurut sang ibu, dalam semalam sudah lebih dari 10 x anaknya mencret. Bayi ini masih mau minum, tapi sebelum berangkat ke UGD sempat muntah 1x. Ibu sang bayi khawatir sekali dan meminta anaknya diinfus. -ps: jangankan di sini, di Surabaya saja masih banyak orang tua yang beranggapan infus=sembuh-

Masalahnya adalah, karena bayi ini gemuk (beratnya hampir 7 kg), pembuluh darahnya sulit sekali terlihat. Menurut dokter jaga, kurang lebih sudah dicoba 30x memasang infus, tusuk sana-sini, namun gagal. Begitu menutup telepon, saya langsung mengganti baju dan setengah berlari ke UGD. Iyaaa, engga pakai mandi dulu.

Mendengar kalau mencretnya sudah lebih dari 10 x sejak semalam, saya berpikir setidaknya bayi ini sudah dehidrasi sedang atau berat. Nyatanya, saat tiba di UGD, saya melihat kondisi bayi yang masih segar. Masih menangis keras, masih banyak pipisnya walaupun memang masih mencret. Setiap kali mencret, ternyata yang keluar hanya sedikit-sedikit, kurang dari satu sendok teh. Ubun-ubunnya tidak cekung, matanya pun tidak cowong. Singkatnya, saya yakin bayi ini tidak dehidrasi.

Saya mengedukasi sang ibu untuk mengobati anaknya terlebih dahulu sebelum diinfus. Saya bilang, "Bu, ini saya kasih obat muntah dulu yaa. Nanti setelah ditetesi obat muntah, diberi minum. Kalau memang nanti muntah lagi, ya saya infus karena takut kurang cairan, Tapi kalau sekarang sih anaknya engga apa-apa bu. Yang penting tidak kurang cairan. Ibu engga perlu khawatir mencret berapa kali pun asal bisa minum ya engga apa-apa. Muntah juga baru sekali kan? Sudah dicoba minum lagi?

"Belum bu dokter. Beta takut dia muntah lagi."

"Kita coba dulu ya. Infusnya tadi sudah bolak/i dicoba sulit sekali terpasangnya. "

"Pokoknya beta mau diinfus saja bu dokter."

Sang ibu masih menangis, bersikukuh bahwa anaknya harus diinfus supaya sembuh. Saya yang tadinya yakin untuk mengobati dulu tanpa infus jadi agak ragu mengingat tingkat edukasi ibu yang rendah. Saya khawatir, si ibu tidak mau memberi anaknya minum karena takut muntah dan justru malah jadi dehidrasi nantinya.

Ya sudahlah, diinfus saja pun tidak ada salahnya. Dengan alat seadanya, saya serta beberapa orang perawat ikut mencoba memasang infus. Benar-benar sulit! Bayi ini meronta-ronta, menendang ke segala arah dengan kuatnya -yang menunjukkan benar-benar bukan dehidrasi:p-. Saya bahkan memanggil rekan saya dokter anestesi untuk membantu, Hasilnya nihil. Kedua tangan dan kaki sudah dicoba habis-habisan tanpa hasil. Hampir dua jam lebih kami berupaya, sampai-sampai berkeringat di tengah udara yang super dingin. Saya memutuskan untuk mencoba memasang infus di kepala tapi ibu tidak setuju dan meminta menunggu bapak sang bayi datang dulu.

Sambil menunggu bapaknya datang, saya meminumkan obat muntah lalu memberikan minum pada sang bayi. Bayi ini melihat minuman yang saya sodorkan dengan berbinar-binar. Tampak sekali kalau dia capek habis menangis dan meronta-ronta. Sebotol air oralit yang saya berikan habis tak bersisa, dan tidak muntah. Lalu bayi ini tertidur dengan tenang:)))))

Saya bilang "Bu, nanti sebentar lagi kalau ibu memang pengin benar-benar diinfus, kami coba lagi ya. Sementara kasihan anaknya tidur dulu, toh sudah ga muntah dan sudah berkurang banyak mencretnya, sambil tunggu bapaknya datang. Jangan khawatir, yang penting engga dehidrasi bu. Saya yakin kok sekarang ini engga kenapa-kenapa. Tapi ya tetap harus diawasi di sini yaa, pasti diopname. Kalau muntah lagi, minumannya tidak bisa masuk atau mencret terus memang harus diinfus secepatnya Bu"

Sang ibu tersenyum senang, bolak-balik mengucapkan terimakasih pada saya. Sepertinya ia lega melihat sang anak enakan. Sembari menunggu, saya kembali ke penginapan untuk mandi. Setelah mandi, saya bergegas kembali ke UGD, siap-siap memasang infus.

Sampai di UGD, saya disambut perawat yang mengatakan "Dok, pasiennya melarikan diri."

HAH?

Jadi rupanya, saat perawat dan dokter jaga sedang hectic mengurusi pasien lain yang terkena serangan jantung, si ibu tadi membawa anaknya yang sudah enakan itu keluar entah kemana dan tak kembali, meninggalkan tagihan alat-alat pemasangan infus (ps: jumlahnya lebih dari 10 set secara susah banget masangnya), plus obat-obatan. Coba tebak siapa yang melunasi tagihan tadi? Yang pasti bukan pemerintah;;) :p

Sejujurnya, saya sempat mangkel berat. Bukaaaan, bukan soal biaya. Saya merasa tidak diberi kesempatan menyelesaikan tugas saya dengan baik. Gemas. Saya khawatir dengan keadaan bayi tadi.  Menurut saya, apapun alasannya, tindakan ibu tadi tidak mencerminkan itikad baik. Kalau memang masalah biaya, dikomunikasikan saja, pasti ada win-win solutionnya kok. Di rumah sakit pemerintah seperti di sini, cukup membawa kartu keluarga, surat keterangan tidak mampu dan KTP, sudah bisa mendapat Jamkesmas kok. Hampir semuanya gratis. Yang penting kan anaknya selamat dulu.

Yah, akhirnya sih saya cuma bisa berdoa semoga saja tidak apa-apa ya, semoga bayi tadi sehat selalu. Amin.

Semakin lama saya bertugas di sini, saya semakin menyadari bahwa PR pemerintah dalam hal pendidikan dan kesehatan sungguh masih sangat banyak. Yah semoga bukan cuma saya -yang bukan siapa-siapa ini- yang menyadari. Seandainya tidak sibuk instagraman atau twitteran, bikin album lagu baru dan launching buku, mungkin yang -jauh- lebih berwenang bisa lebih menyadari hal ini dari saya? #UHUK :)))))

2 comments:

Ini Aku said...

Karena gak diinfus gampang kaburnya.....
Ngebayangin bayinya, aduuuuh ditusuk-tusuk, membaca saja tanganku turut ngiluuuuh.... :(((

Fenita Penot G. said...

Miriss bacanya, apa sih yang ada di benak sang ibu... :(

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...