Monday, November 11, 2013

Kelas Inspirasi 2013


Pernah dengar Kelas Inspirasi?

Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti 1 hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar Sekolah Dasar, yaitu pada Hari Inspirasi.

Para profesional diajak untuk menceritakan mengenai profesinya. Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Bagi para profesional pengajar, Kelas Inspirasi dapat memberi pengalaman mengajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa. Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.
 (Diambil dari web resmi Kelas Inspirasi)

Pertama kali mendengar soal program ini, saya langsung sangat tertarik. Pertama, saya sangat suka mengajar. Bahkan dulu saya pernah bercita-cita menjadi guru:D Menurut saya, mengajar itu akan sangat menyenangkan untuk yang suka belajar seperti saya. Saya suka mengetahui hal-hal baru. Dengan mengajar, otomatis kita akan selalu berusaha lebih tahu ini-itu. Selain itu, saya selalu menyukai perasaan setelah berbagi. Rasanya... priceless deh;)

Sayangnya pada saat pertama kali KI diadakan di Surabaya, saya sedang sibuk-sibuknya bertugas. Boro-boro cuti satu hari, wong saya yang sedang kena demam berdarah saja sampai harus tetap masuk dengan infus di tangan:)))

Karena itu, saat mengetahui KI akan diadakan lagi tanggal 11 November ini, saya segera mendaftarkan diri. Kebetulan, stase saya sedang tidak terlalu sibuk. Bolehlah ijin sehari;) Ketika mendaftar, saya masih tak yakin benar akan mengenalkan profesi dokter. Saya pikir akan banyak dokter-dokter lain yang mendaftar, sehingga saya memilih profesi lain, yaitu penulis. Harapan saya, semakin banyak anak yang tertarik untuk membaca. Toh, bagaimanapun membaca dan menulis erat kaitannya.

Seminggu sebelum hari-H, ada briefing untuk para relawan. Sayangnya, saya tidak bisa hadir karena harus jaga RS. Walaupun begitu, pihak panitia -yang baik hati dan dermawan- menyempatkan diri briefing susulan untuk saya sendiri di suatu sore.

Pada saat briefing tersebut, saya mengetahui dari panitia kondisi sekolah yang akan saya datangi. Letaknya di Wonokusumo Kulon (12 tahun di Surabaya, saya sama sekali engga punya bayangan dimanakah ini). Sekolah ini mempunyai KLK atau Kelas Layanan Khusus, program pemerintah untuk menyekolahkan anak-anak tidak mampu yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup juga. Jangan heran, banyak anak jalanan, yang orangtuanya gelandangan atau tukang rombeng di kelas ini. Menurut kepala sekolahnya, sulit sekali membuat anak didiknya tetap bersekolah. Dalam sebulan, hanya beberapa hari saja mereka masuk, sisanya absen. Kalau ditegur, jawabnya "Kalau saya sekolah, ya saya nanti engga makan, Pak".

Nyeeeees banget. Anak kecil yang mustinya engga perlu repot mikirin segala macem selain sekolah dan bermain juga harus bekerja mencari uang demi bisa makan. Saya merasa tertampar banget lho ini, ingat waktu saya kecil dulu kadang buat sekolah saja malaaaasnya minta ampun. Padahal tinggal berangkat.

Anyway, mendengar ini saya justru tambah excited. Buat saya, menginspirasi anak-anak seperti ini adalah suatu tantangan yang harus bisa saya lakukan. Harapan saya, anak-anak ini akan termotivasi untuk mempunyai cita-cita setinggi mungkin. Akhirnya, saya "beralih profesi" dari penulis menjadi dokter. Pertimbangan saya, rasanya hampir semua anak pernah bercita-cita menjadi dokter;;)
Di sekolah tempat saya ditugaskan mengajar, hanya ada dua orang inspirator. Saya dan ibu Nia, seorang konsultan Child Protection dari UNICEF.

Beberapa hari sebelum hari inspirasi, saya mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena info dari panitia tidak ada LCD, papan tulis pun masih black board dengan kapur, saya tidak mungkin menyiapkan presentasi dengan laptop. Jadilah saya memutuskan untuk sharing dengan gimmick saja. Saya siapkan pulpen berbentuk suntikan yang sengaja saya pesan online dengan kilat khusus:p, buku ilmu pengetahuan tentang bagian tubuh manusia, serta buku Kecil-kecil Punya Karya yang ditulis seorang anak berusia 10 tahun, tidak berbeda jauh dengan usia anak-anak di SD tsb. Tujuannya tentu untuk memberikan mereka contoh. "Ini lho ada anak seumur kalian bisa nerbitin buku sendiri. Engga ada yang engga mungkin kok kalau berusaha terus."
Bolpen suntikan yang laris manis diminta anak SD;)


Hari-H, saya berangkat pagi hari karena belum tahu lokasi dengan pasti. Jaraknya lumayan juga ternyata dari rumah saya. Masuk ke gang dan pemukiman kumuh. Kebersihannya kurang terjaga, dan hampir jarang pepohonan yang ada karena sempitnya. Rupanya saya datang kepagian -as always-, belum ada relawan atau panitia yang datang ke SD tersebut. Saya menunggu di kantor pak Kepala Sekolah. Beliau akhirnya ngobrol panjang lebar.
Jadi guru sehari. Ternyata ada juga white boardnya.

Beliau cerita, ada anak didiknya yang jarang sekali masuk sekolah. Ayahnya sudah meninggal, ibunya terserang stroke dan lumpuh total. Setiap hari anak ini harus merawat ibunya. Menggendong ke kamar mandi, memandikan, sampai menyuapi makanan. Selain itu, karena tidak ada keluarga lain, dia juga harus 'bekerja' untu mencari makan. Sedih banget ya dengernya.

Ada lagi cerita yang lain. Seorang anak yang orangtuanya gelandangan, berniat sekali untuk sekolah. Hanya saja, kalau dia sekolah ayahnya akan marah besar karena dianggap mengurangi pendapatan keluarga. Dia diharuskan ikut mengemis atau sekadar mengamen di jalanan. Sekarang anak tadi sudah remaja, dan menjadi perampok. Pak Kepsek menceritakan ini pada saya dengan berkaca-kaca, merasa gagal mendidik. Saya yang hanya mendengar saja ikut mbrebes mili. #TeamMewek

:'(

Saya kebagian mengajar kelas 6 dan kelas 5, masing-masing selama satu jam. Saya keder juga begitu masuk ke kelas. Hampir semua berteriak-teriak saat saya bicara, dan berbicara kotor. Saya kaget lho, anak seumuran begitu bisa misuh-misuh. Kaget sekaligus juga prihatin tentu, karena pasti anak-anak tadi meniru lingkunga terdekatnya bukan?:(
Semuanya semangaaaaaaat!

Saya memperkenalkan profesi dokter pada mereka. Saat saya tanya "Siapa yang cita-citanya mau jadi dokter?". Dengan semangat mereka mengangkat tangan berteriak "SAYAAA!!" tapi lalu disambung dengan "tapi yo cita-cita ae buuuu. Kadohennnn jadi dokter. Jadi tukang bakso aelah ben bisa nyoba maem bakso." Salah satu murid tadi menjawab. Lagi-lagi saya hampir mbrebes mili. Duh, cengeng amat ya saya.

Anak-anak itu berebutan menjawab pertanyaan atau bahkan bernyanyi di depan kelas untuk mendapatkan hadiah dari saya. Semangat, seolah-olah tidak punya beban sama sekali. Saya sempat bertanya "Siapa disini yang suka boloooos?"

Banyak yang mengangkat tangan. Salah satunya menjawab keras "Sayaaa bu! Kalau Kamis pasti bolos. Mending cari uang nang kuburan, uakeh bu!". Polos, riang dan semangat. Khas anak-anak.

Setelah bercerita serba-serbi menjadi dokter, termasuk mengundang salah satu murid mendengarkan detak jantungnya sendiri dengan stetoskop dan menyelipkan beberapa edukasi kesehatan seperti harus cuci tangan dengan benar, atau tidak boleh jajan sembarangan, saya meminta mereka menuliskan cita-cita di kertas warna-warni. Kertas ini akan ditempelkan di 'Pohon Harapan". Harapan saya, semoga setiap melihat tulisan cita-cita mereka di dinding kelas, mereka akan selalu bersemangat berusaha mencapainya. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin bukan?;)

Bu Nia, anak-anak SD Wonokusumo dan pohon harapan mereka:)
Hampir separuh kelas menulis ingin menjadi dokter. Bahkan ada satu tulisan yang membuat saya tersipu malu:p. Jelas tertulis "ingin jadi seperti dokter Meta". So sweet ya:')

Setelah 3 kelas (4.5.6) selesai kami ajar, waktunya untuk penutupan. Kami menerbangkan balon cita-cita dan mimpi.

Fly your dreams to the bluest sky;) credit to @SuhardimanEko
Buat saya, justru sayalah yang sangat merasa terinspirasi. Alhamdulillah saya diingatkan untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt. Alhamdulilah saya diingatkan untuk lebih sering berbagi pada mereka yang tidak seberuntung saya. Alhamdulillah saya diingatkan untuk tidak gampang mengeluh. Maklum deh ya, saya tuh sering banget mengeluh. Surabaya panas, macet, capek di rumah sakit, susah banget istirahat, acara TV engga ada yang bagus, apa sajalah bisa saya keluhkan. Malu kan ya sama anak-anak tadi? *tamparmukasendiri*

Semoga walaupun singkat, saya bisa menginspirasi anak-anak tadi untuk belajar keras demi mencapai cita-cita yang setinggi langit. Saya tahu, apa yang saya lakukan mungkin sangat kecil artinya untuk pendidikan bangsa ini. Tapi sesuatu yang besar selalu berawal dari hal kecil bukan?:D

Hari inspirasi. Sehari berbagi, selamanya menginspirasi.

5 comments:

Ida Nur Laila said...

benar anak-anak itu bisa menjadi inspirasi...jadi saling menginspirasi...salam kenal

Irowati said...

bagus bgt ya mbak programx...membaca kisah ank2 itu jd ikut mewek ..

feni Amriani said...

meta... bbm mu kok ga aktif say... feni

Tiara`s World said...

Selamat karena kita adalah orang2 beruntung yg dapat belajar banyak dari anak2 hebat di sekolah2 itu.. Sampe skrg tiap lihat foto2 kelas inspirasi, aku msh "mbrebes mili"..

Tayinx said...

So inspiring mbak Meta.. :")
How to join?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...