Wednesday, December 12, 2012

Motherhood Is A Heart Work

My mother is a poem
I'll never be able to write,
though everything I write
is a poem to my mother.
~Sharon Doubiago
Sewaktu masih kecil, saya ingat pernah berantem dengan teman sekolah -dan akhirnya membuat saya dipanggil kepala sekolah karena berhasil membogem teman cowok saya itu:p- gegara dia meledek (mama) saya. Waktu itu, kami diminta menuliskan biodata lengkap untuk kepentingan pendataan ulang SMP. Saya baru saja lulus SD dan duduk di kelas 1 SMP.

Yang dia tertawakan adalah status pekerjaan mama yang saya tulis sebagai "ibu rumah tangga".

Saya masih ingat benar ucapannya yang diiringi tawa mencemooh waktu itu. "Ih, emang ibu rumah tangga itu pekerjaan? Pembantu rumah tangga sih iya. Kalau mamamu engga kerja, tulis aja pengangguran."

Saya yang masih labil dan penuh emosi, engga pikir panjang lagi, langsung menghadiahkan bogem mentah padanya. Teman cowok saya itu tidak membalas, hanya menangis teriak-teriak mengatai saya "anaknya pengangguran".

Ketika saya dihadapkan ke kepala sekolah, dan ditanyai sebab musababnya, saya mengaku tidak menyesal sama sekali. Bahkan ketika disuruh minta maaf, saya ingat benar baru mau minta maaf kalau teman saya itu minta maaf pada saya duluan. Wah, saya dulu keras kepala banget deh! -Naya! If you read this, DON'T even think to try it!:p-

Gegara insiden itu, saya langsung merayu papa untuk mengijinkan saya mengikuti latihan taekwondo:))

Kembali ke soal mama.

Mama saya memang bukan wanita karier seperti lazimnya ibu-ibu dari teman-teman saya waktu itu. Well, setidaknya bukan ketika saya SMP.

Mama saya pernah menjadi wanita karier. Beliau adalah lulusan public health dan sempat bekerja di Departemen Kesehatan pusat Jakarta. Menurut cerita yang saya dengar dari teman-teman mama, karier beliau sangat lancar dan bahkan melesat pesat sebelum menikah. Mama bolak/i ditugasi keliling daerah. Mama pernah bilang, beliau sudah pernah keliling Indonesia. Duh, saya ke Bali aja belum pernah:p

Setelah menikah kemudian melahirkan, mama masih tetap bekerja. Saya masih ingat waktu saya kecil selalu sedih saat ditinggal mama kerja dan selalu menantikan saatnya mama pulang kantor.

Saya engga ingat mulai kapan tepatnya mama memutuskan untuk berhenti bekerja. Yang saya ingat, saya senang sekali karena bisa terus bermain dengan mama. Bisa tidur siang ditemani mama. Bisa makan masakan mama. Pulang sekolah bisa cerita-cerita sama mama. Bisa main boneka sama mama. Pokoknya kapanpun, bisa sama mama terus! Apa yang lebih menyenangkan dari itu? Engga ada!:D

Pagi-pagi, saat kami masih tidur, mama sudah bangun dan menyiapkan perlengkapan kami. Mama menyiapkan baju seragam, kaos kaki, sepatu bahkan meminta kami mengecek isi tas sekolah supaya yakin tidak ada yang tertinggal.

Walaupun kami punya ART, mama juga sering menyempatkan memasak sarapan untuk kami. Biarpun mama engga jago masak dan menu yang dimasak cuma itu-itu saja, menurut saya, masakan mama adalah yang terenak sedunia! In fact, waktu saya hamil dan muntah-muntah satu-satunya makanan yang saya inginkan hanyalah masakan mama:)

Saat kami sekolah, mama membantu papa praktek, membereskan rumah, dan entah apa lagi. Yang jelas, saat kami pulang sekolah, semua sudah siap. Habis cerita-cerita, tidur siang, mama sudah siap lagi menemani kami mengerjakan PR atau menanya-nanyai ketika kami mau ulangan. Begitu seterusnya.

Buat saya, walaupun bukan wanita karier lagi, mama saya serba bisa dan jauh lebih sibuk dari wanita karier manapun.

Mama adalah sahabat saya. Setiap saya menemukan masalah, mama adalah orang pertama yang saya curhati. Saya senang, sedih, kesal, marah, semua saya ceritakan ke mama.

Mama adalah koki pribadi saya. Biarpun menu yang bisa beliau masak terbatas, saya sama sekali engga keberatan makan masakan mama terus:)

Mama adalah desainer sekaligus penjahit pribadi saya. Setiap ada special ocassion seperti ulangtahun, tampil di pentas seni, sampai prom night saat SMA, mama yang membuatkan baju untuk saya.

Mama adalah personal shopper saya. Tinggal bilang saja "Ma, pengen punya tas sekolah yang kaya gitu." Mama pasti siap mencari dan membelikan.
Mama adalah dokter pribadi saya. Walaupun papa saya seorang dokter anak, karena kesibukannya mama lebih sering menemani kami saat sakit. Memastikan kami masih mau makan dan minum, memastikan obat diminum, dan bahkan ikut tidur di sebelah kami saat sakit.
Mama adalah fotografer saya. Setiap moment yang saya lewati selalu tertangkap oleh kamera mama. Jangan dibandingkan dengan hasil foto dari fotografer profesional, tapi buat saya bukan teknik fotografinya yang penting, tapi moment yang tertangkap:)
Mama adalah penasihat pribadi saya. Masalah apapun saya konsultasikan dengan mama. Kalau saya bingung harus bertindak seperti apa, tinggal tanya mama yang entah bagaiman caranya selaluuuuu punya cara terbaik untuk menghadapinya.
Mama adalah suporter sejati saya. Apapun keinginan saya, mama selalu jadi pendukung nomor satu. Saat saya beberapa kali terpilih jadi finalis kompetisi putri-putrian, coba tebak, siapa yang selalu berdiri paling depan meneriakkan nama saya? Mama:) She always believes me when no one does. Waktu saya bercita-cita jadi penyiar dan dicemooh orang banyak karena suara yang cempreng dan ucapan "Siapa yang mau dengerin kamu? Engga mungkinlah jadi penyiar!" Coba tebak, siapa yang menyuruh saya berusaha mewujudkan cita-cita saya tadi? Mama:)
Mama adalah penghibur pribadi saya. Kapanpun saat saya bersedih -maklum masih labil:p- mama selalu siap menghibur saya. Menceritakan kisah-kisah lucu, mengajak saya berjalan-jalan, atau siap memberikan kata-kata penghiburan yang selalu berhasil membuat saya tersenyum lagi:)

Mama adalah sekretaris saya. Mama selalu rajin menulis jadwal saya -supaya bisa disesuaikan dengan jadwalnya-, selalu ingat tanggal-tanggal penting dan sangat organized.

Mama adalah bodyguard saya. Walaupun badannya engga besar-besar amat, tapi mama berani sekali lho melawan orang yang menurutnya merugikan saya. Saya merasa aman sekali kalau ada mama.
Mama adalah guru saya. Bukan hanya guru yang mengajar pelajaran sekolah, tapi juga guru agama, guru piano, guru crafting, guru dandan, guru bernyanyi, guru ballet, guru mewarnai, guru menggambar, guru finansial dan yang paling penting, mama adalah guru hidup saya. Beliau yang mengajarkan etika, sopan santun dan moral pada saya.


Mama adalah segalanya buat saya. Sama seperti ibu lainnya-wanita karier atau bukan-, mama saya bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. Bahkan saat sepertinya sedang engga ngapa-ngapain, saya yakin mama sedang memikirkan anak-anaknya. Tanpa dibayar pula!

Masih berani-beraninya bilang mama saya -sebagai ibu rumah tangga- pengangguran? *BOGEM!*:))

Saya pernah iseng bertanya pada mama saya apakah beliau merasa menyesal telah berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan memutuskan jadi ibu rumah tangga.

Jawabannya,

"Pernah. Waktu teman sekantor dulu sekarang sudah jadi orang yang terkenal, sukses dan kaya raya, pasti pikiran "coba kalau aku dulu engga berhenti kerja, pasti juga bakalan sukses kaya gitu" datang. Tapi sepersekian detik setelahnya, pikiran itu berganti menjadi senang karena bisa menemani anak-anak sampai sekarang. Tahu kapanpun anak-anak punya masalah, mama selalu jadi yang pertama untuk dicurhati. Tahu bahwa pendapat mama masih sangat dipercaya dan dihargai. Bangga karena tahu kedekatan kitalah yang membuat anak-anak mama bebas dari masalah yang banyak dialami anak muda sekarang. Mama tahu kamu engga bakal aneh-aneh kaya free sex atau narkoba karena kalaupun kamu mulai dekat sama hal-hal aneh gitu mama yang tahu pertama kali. Mama tahu apa kata pertamamu, kapan jalan pertamamu, cerita pertamamu, jatuh cinta pertamamu #uhuk, patah hati pertamamu, dikhianati sahabat pertamamu, mama tahu semua. Alhamdulillah, semua anak mama sekarang jadi dokter, insyaAllah bahagia dengan keluarga masing-masing. Tahu kalau mama merupakan bagian dari itu semua adalah priceless. Bukan berarti mama bilang kalau yang jadi wanita karier terus keluarganya pasti hancur-hancuran. Engga sama sekali. Semua ibu pasti ingin yang terbaik buat anaknya, termasuk kalau dia memilih untuk menjadi wanita karier. Kalau mama, merasa yang terbaik buat anak-anak adalah berhenti kerja supaya bisa dekat terus sama kalian. Dan akhirnya terbukti. "

:')

Setelah saya menjadi seorang ibu, sempat pula terbersit di pikiran saya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga seperti mama. Saya ingin menjadi ibu seperti mama. Saya ingin Naya menganggap saya sama seperti saya menganggap mama. Ketika saya utarakan keinginan ini pada mama, beliau hanya bilang:

"Keputusan yang terbaik diambil mama belum tentu yang terbaik kalau diambil kamu. Pikirkan lagi mateng-mateng. Engga semua orang punya kesempatan berharga seperti kamu untuk menjadi dokter (anak). Menjadi dokter itu amanah, bukan pilihan. Dengan menjadi dokter, kamu bukan hanya menolong orang tapi juga 'memberi teladan' pada Naya. Engga perlu 24 jam ada di rumah kok untuk bisa dekat dengan anak. Its not always about quantity, but quality that matters. "

Ah, as i wrote before, omongan mama itu emang paling bener deh!
Engga usah ribet lagi ngurusin omongan orang soal working mother vs full time mother. Mau working atau engga, buat saya semua ibu adalah full time mother. Emang ada ya yang jadi ibu half time aja? Apapun jabatannya, mau dokter, manager, direktur, presiden sekalipun, saya yakin itu semua hanya "sampingan" karena "pekerjaan" utama adalah sebagai seorang ibu. Saat sedang tidak di rumah, saya yakin hati dan pikirannya seorang ibu -dimanapun- selalu ada pada anak-anaknya.

Motherhood is really a heart work. Whatever you do with your children, from the bottom of your heart, you always want the best for your children - beyond that what you have enjoyed or experienced in your own lives. Being a mother is learning about strengths you didnt know you had and dealing with fears you didnt know existed.

I can say proudly that my greatest blessing is being a mother:)

To all mother out there, happy mother's day!:)

5 comments:

LiaKirana said...

I heart this !

Meta Hanindita said...

I heart you too:*

chika krachma said...

pertama yang paling ngekek baca..fotografer pribadi... berasa ngaca deh.. gimana enggak..masa kehamilan aja uda rajin dokumentasiin..bahkan kalo mo bobok mikir tema foto anak per bulan..bahkan perminggunya... bayangin dulu pas single.. inget kan.. kita berdua ngomongin tema foto buat "kita sendiri" yang seru .. hihihi..

duh pasti bangga banget mama mu baca itu.. dan aku jg ngerasa mama kaya gtu... jawaban yg sama pun mama sampein waktu aku nanya gmn rasanya melepas karirnya. dan ga dipungkiri..kita pun kepengen ngerasa anak kita akan berfikir kita demikian jg kan...

kalo ada masa babyblues mungkin yg aku rasain kmrn pregnantcy blues *abaikan :p agak schok en trauma aja masa awal semester yg bener2 bikin kita ga bs mengendalikan tubuh kita sendiri dan langsung satu waktu kehilangan smua #smua yg ada disurabaya maksutnya :p

efek traumanya berlanjut ke penutupan diri.. bbm off, males jawab telp sms .. males gaul ..bla..bla.. bahkan aku ga sempet #ga mau pamitan ma ank2 kntr... ga kuat chin... alhamdulillah setelah badan uda enakan dan isa ngerasain tendangan si dedek.. dan juga pindah kesolo ini jdi lbh deket ma mama.. lbh tau pentingnya keberadaan mama dlm kehidupan kita..berangsur2 trauma sembuh deh.. malah insyaallah uda iklas jalanin smua..

karir kmrn dianggap sarana belajar aku untuk lbh smart en sensi menghadapi masalah hidup #ceileee... lagian karir kita sebenarnya adlh keluarga kan.. masa iya bisa disebut karir sukses kalo keluarganya berantakan gtu.. makasih met..baca blog mu bikin aku tambah mantabh.. walopun tinggal di tempat tidak sekeren surabaya.. masih bisalah update2.. secara emaknya doyan baca..termasuk blug mu :D muahhhhh

Anonymous said...

Hehehe.. Meta.. Touched (ʃ⌣ƪ) banget dech,. Jd inget dulu wktu kita tae kwon do bareng ya

Meta Hanindita said...

Chikaaaa:)) kamu ngasih komen atau mau nulis blog baru?:))

Iya betuuul, karier sesungguhnya untuk wanita adalah menjadi ibu:)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...