Hari ini kami bertiga bangun agak telat, well setidaknya lebih telat dari hari sebelumnya. Kalau kemarin saya sudah melek jam 4 pagi, hari ini saya baru bangun jam 5 pagi. Angin di Soe kencang sekali, terutama di waktu malam. Bahkan jemuran saya sempat "menghilang":))) Untung tidak dimakan anjing lewat:p
Sekitar pukul 7 pagi, kami bertiga pergi ke pusat kota Soe untuk berbelanja di pasar. Sebagai satu-satunya cewek, saya yang bertanggungjawab memegang uang dan mencatat segala kebutuhan kami. Kami pikir, pasar sudah penuh orang karena sudah cukup siang. Ternyata, boro-boro, buka saja belum:))) Di perjalanan kami melihat banyak anak sekolah yang baru mau berangkat. Setelah bertanya ke penduduk setempat, umumnya kegiatan di Soe memang baru dimulai pukul 9 pagi. Sekolah saja masuk jam 8 pagi. #eaaaaaa kecele deh!
Pasien yang dirawat di bagian saya tidak begitu banyak. Kebanyakan diare, sesak atau panas karena malaria dan demam berdarah. Ada satu pasien yang kondisinya cukup jelek. Bayi perempuan berusia 2 bulan, berat badan 2 kg dibawa ibunya karena panas dan kejang. Setelah saya tanya, berat lahir bayi ini 2,7 kg. Rupanya karena tidak punya biaya, dan ASI tidak keluar -menurut ibu-, bayi ini hanya diberi air santan. Sedih ya:( Air santan itu apa ya isinya? :(
Anyway, setelah semua urusan rumah sakit selesai, kami bertiga pergi kembali ke pasar. Pasar di Soe hampir sama dengan kebanyakan pasar di pulau Jawa. Hanya saja, yang menarik perhatian saya adalah di semua penjual, ada satu yang selalu ada. Sirih pinang. Orang di Soe memang suka sekali mengunyah sirih pinang. Bukan hanya orang tua lho! Yang muda, pria wanita, semua suka sirih pinang.
Ini dia foto kami saat menjelajah kota Soe;)
Thursday, January 30, 2014
Wednesday, January 29, 2014
Hello, Soe!
Begitu mengetahui kalau selama sebulan akan ditugaskan di Soe, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, saya sedih luar biasa. Bukan apa-apa, saya sedih karena harus berpisah sekian lama dengan Naya. Inginnya sih mengajak Naya seperti dinas luar saya yang sebelumnya, tapi karena di Soe banyak sekali malaria, dan lokasinya yang cukup jauh, saya mengurungkan niat tadi.
Saya berangkat pukul 8 pagi dari rumah diantar Naya. Di perjalanan, Naya ceria sekali, tak henti bernyanyi dan menari. Begitu sampai airport, saya berpamitan dengannya, Naya mulai rewel. "Mau ikut mamaaaa!" Begitu tangisnya.
"Kak, Soe itu jauuuuh sekali. Ada nyamuk jahat, nanti kakak bisa sakit kalau ketemu nyamuknya. Terus di sana engga ada apa-apa. Kakak engga bisa sekolah, engga bisa balet, engga bisa les piano. Kakak di rumah aja ya." Ujar saya berusaha menenangkan.
"Engga apa-apaaaa! Pokoknya sama mamaaaa!" Kemudian pecahlah tangisnya. Hati saya seakan ditarik-tarik, sediiih banget. Saya berusaha menahan air mata, dan segera pergi untuk check in.
Sedih sekali ya rasanya meninggalkan anak itu:( Kalau bukan karena tugas, engga lagi-lagi deh!
Anyway, saya berangkat ke Soe bersama dua orang teman. Saya sebagai dokter anak, Faisal sebagai dokter anestesi dan mas Yusuf sebagai dokter Obgyn. Faisal adalah teman satu angkatan saya waktu kuliah dulu. Bahkan, kami bolak-balik satu kelompok saat ko-ass dulu. Sementara mas Yusuf adalah teman baik suami saya. Alhamdulillah, semuanya baik, sangat membantu dan asyik;)
Perjalanan ke Kupang ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan pesawat. Karena cuaca yang buruk akhir-akhir ini, pihak rumah sakit membelikan kami pesawat Garuda Indonesia. -Yaaay!_ Walaupun begitu, tetap saja saya deg-degan setengah mati saat terbang. Penerbangannya termasuk dibumbui banyak goncangan yang sukses membuat saya keringat dingin:@
Kami tiba di Kupang tepat pada waktunya. Udara Kupang ternyata panas, hampir sepanas Surabaya. Bandara El Tari sedang direnovasi sehingga agak sulit menemukan spot nyaman untuk menunggu jemputan. Setelah menunggu hampir sejam, kami dijemput oleh pak Dan, supir rumah sakit. Ternyataaaaa.. guncangan di pesawat belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjalanan Kupang-Soe selama kurang lebih 2.5 jam. Jalan yang curam berliku-liku serta menanjak membuat saya mabuk. Ingin segera sampai agar tidak perlu merasakan jalan itu. Asli deh, saya mabuuuuk! Di sepanjang perjalanan, berkeliaran sapi, babi hutan, anjing, kambing dan segala hewan lain. Saya bahkan sempat melihat 2 burung elang lho!
Udara Soe cukup dingin menusuk. Saya hampir malas mandi karena airnya dingiiiin sekali. Tapi karena perjalanan jauh yang banyak membuat berkeringat, masa iya engga mandi sih?:p
Oh ya, saya cukup senang begitu mengetahui saya masih bisa internetan! YAY! SUPER YAYYY!
Alhamdulillaaaah. Terimakasih Telkomsel! Saya bela-belain ganti nomor lho demi bisa dapat sinyal:D
Begitu sampai, saya menyempatkan diri melihat pasien yang sedang dirawat. Kebetulan, full semua. Saya agak shocked juga mendengar kalau di rumah sakit yang termasuk besar di NTT ini, oksigen habis, obat ini itu tidak ada, darah untuk transfusi tidak ada, alat foto rontgen rusak, alat pemeriksaan laboratorium rusak -hanya bisa cek darah lengkap saja-, inkubator rusak, dan seterusnya dan seterusnya. Bingung juga jadinya. Di Surabaya, saya terbiasa bekerja dengan segala fasilitas pemeriksaan penunjang yang lengkap. Sepertinya, saya harus membiasakan diri bekerja dengan fasilitas seadanya. Harus kreatif.
Pasien di sini kebanyakan datang dalam keadaan yang sudah sangat jelek. Konon katanya, kalau belum jelek mereka belum akan berobat ke dokter. Dukun masih menjadi pilihan pertama bagi mereka. Yang agak "aneh" buat saya adalah salah satu kebiasaan masyarakat sini "memanggang" bayi mereka. Jadi, karena cuaca yang dingin, apabila ada bayi baru lahir, akan dihangatkan -menurut saya sih dipanaskan ya:p- dengan membakar kayu dan arang di bawah dipan bayi. Jangan heran kalau datang bayi dengan luka bakar di punggung, panas tinggi karena dehidrasi, atau sesak sampai radang paru karena "terpaksa" menghirup asap sisa pembakaran.
Selain itu, diare pun masih menjadi kasus terbanyak. Hygiene masyarakat sini sangat kurang terjaga. Tidak mandi -mungkin karena air bersih sulit-, kuku yang hitam, atau daki yang menumpuk bukan pemandangan aneh di sini. Saya masih berusaha mengedukasi nih. Tapi mungkin karena faktor bahasa, suliiiiit sekali.
Masyarakat sekitar sini sangat ramah. Menyenangkan deh!:)
Nanti akan saya update beserta foto-fotonya yaaa!
Saya berangkat pukul 8 pagi dari rumah diantar Naya. Di perjalanan, Naya ceria sekali, tak henti bernyanyi dan menari. Begitu sampai airport, saya berpamitan dengannya, Naya mulai rewel. "Mau ikut mamaaaa!" Begitu tangisnya.
"Kak, Soe itu jauuuuh sekali. Ada nyamuk jahat, nanti kakak bisa sakit kalau ketemu nyamuknya. Terus di sana engga ada apa-apa. Kakak engga bisa sekolah, engga bisa balet, engga bisa les piano. Kakak di rumah aja ya." Ujar saya berusaha menenangkan.
"Engga apa-apaaaa! Pokoknya sama mamaaaa!" Kemudian pecahlah tangisnya. Hati saya seakan ditarik-tarik, sediiih banget. Saya berusaha menahan air mata, dan segera pergi untuk check in.
Sedih sekali ya rasanya meninggalkan anak itu:( Kalau bukan karena tugas, engga lagi-lagi deh!
Anyway, saya berangkat ke Soe bersama dua orang teman. Saya sebagai dokter anak, Faisal sebagai dokter anestesi dan mas Yusuf sebagai dokter Obgyn. Faisal adalah teman satu angkatan saya waktu kuliah dulu. Bahkan, kami bolak-balik satu kelompok saat ko-ass dulu. Sementara mas Yusuf adalah teman baik suami saya. Alhamdulillah, semuanya baik, sangat membantu dan asyik;)
Perjalanan ke Kupang ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan pesawat. Karena cuaca yang buruk akhir-akhir ini, pihak rumah sakit membelikan kami pesawat Garuda Indonesia. -Yaaay!_ Walaupun begitu, tetap saja saya deg-degan setengah mati saat terbang. Penerbangannya termasuk dibumbui banyak goncangan yang sukses membuat saya keringat dingin:@
Kami tiba di Kupang tepat pada waktunya. Udara Kupang ternyata panas, hampir sepanas Surabaya. Bandara El Tari sedang direnovasi sehingga agak sulit menemukan spot nyaman untuk menunggu jemputan. Setelah menunggu hampir sejam, kami dijemput oleh pak Dan, supir rumah sakit. Ternyataaaaa.. guncangan di pesawat belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjalanan Kupang-Soe selama kurang lebih 2.5 jam. Jalan yang curam berliku-liku serta menanjak membuat saya mabuk. Ingin segera sampai agar tidak perlu merasakan jalan itu. Asli deh, saya mabuuuuk! Di sepanjang perjalanan, berkeliaran sapi, babi hutan, anjing, kambing dan segala hewan lain. Saya bahkan sempat melihat 2 burung elang lho!
| Saya kedinginan bgt tuh, keliatan kan?:p |
Udara Soe cukup dingin menusuk. Saya hampir malas mandi karena airnya dingiiiin sekali. Tapi karena perjalanan jauh yang banyak membuat berkeringat, masa iya engga mandi sih?:p
Oh ya, saya cukup senang begitu mengetahui saya masih bisa internetan! YAY! SUPER YAYYY!
Alhamdulillaaaah. Terimakasih Telkomsel! Saya bela-belain ganti nomor lho demi bisa dapat sinyal:D
Begitu sampai, saya menyempatkan diri melihat pasien yang sedang dirawat. Kebetulan, full semua. Saya agak shocked juga mendengar kalau di rumah sakit yang termasuk besar di NTT ini, oksigen habis, obat ini itu tidak ada, darah untuk transfusi tidak ada, alat foto rontgen rusak, alat pemeriksaan laboratorium rusak -hanya bisa cek darah lengkap saja-, inkubator rusak, dan seterusnya dan seterusnya. Bingung juga jadinya. Di Surabaya, saya terbiasa bekerja dengan segala fasilitas pemeriksaan penunjang yang lengkap. Sepertinya, saya harus membiasakan diri bekerja dengan fasilitas seadanya. Harus kreatif.
| Tim kami VS tim yang kami gantikan;) |
![]() |
| Makan malam bersama |
Pasien di sini kebanyakan datang dalam keadaan yang sudah sangat jelek. Konon katanya, kalau belum jelek mereka belum akan berobat ke dokter. Dukun masih menjadi pilihan pertama bagi mereka. Yang agak "aneh" buat saya adalah salah satu kebiasaan masyarakat sini "memanggang" bayi mereka. Jadi, karena cuaca yang dingin, apabila ada bayi baru lahir, akan dihangatkan -menurut saya sih dipanaskan ya:p- dengan membakar kayu dan arang di bawah dipan bayi. Jangan heran kalau datang bayi dengan luka bakar di punggung, panas tinggi karena dehidrasi, atau sesak sampai radang paru karena "terpaksa" menghirup asap sisa pembakaran.
Selain itu, diare pun masih menjadi kasus terbanyak. Hygiene masyarakat sini sangat kurang terjaga. Tidak mandi -mungkin karena air bersih sulit-, kuku yang hitam, atau daki yang menumpuk bukan pemandangan aneh di sini. Saya masih berusaha mengedukasi nih. Tapi mungkin karena faktor bahasa, suliiiiit sekali.
Masyarakat sekitar sini sangat ramah. Menyenangkan deh!:)
Nanti akan saya update beserta foto-fotonya yaaa!
Di Tabloid Mom and Kiddie
Seperti yang pernah saya janjikan sebelumnya, ini adalah versi lengkap dari tulisan mengenai saya di tabloid Mom and Kiddie. Sekali lagi, thank you Mom and Kiddie!:)
Monday, January 27, 2014
Galau to the Max
Halo! Lumayan lama juga ya saya engga mengupdate blog. Pada kangen yaaa hayoooo:p #pede
Saya emang lagi rempong kelas berat nih! Jadi ceritanya saya baru tau kalau akhir bulan ini -mulai tanggal 28 tepatnya- saya ditugaskan ke luar kota. Bukaaan, bukan ke Balung lagi, ini malah lebih jauh, luar pulau, di kota Soe, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.
Awalnya saya berencana memboyong Naya. Tetapi begitu tau kalau di sana sulit air bersih -kata teman yang sudah duluan ke sana, untuk mandi saja kami harus beli air-, cuacanya sangat dingin, dan banyak anjing serta babi hutan berkeliaran, saya mengurungkan niat tadi. Apalagi, daerah sana adalah daerah endemis malaria. Duh, ya sudahlah, engga usah bawa Naya.
Karena itu, saya jadi ribet mempersiapkan semuanya. Saya harus mengurus ganti provider telepon karena konon hanya Telkomsel yang mendapat sinyal di sana. Demikian pula dengan internet, saya survey dulu beberapa penyedia layanan internet yang mana kira-kira yang dapat dipakai disana. Semoga bisa yaaa.. Bayangkan kalau tidak ada:@
Berhubung ternyata -kebetulan- pak suami pun harus berdinas ke luar kota-eh luar negeri malah-saya harus meminta bantuan mama saya jauh-jauh dari Bandung. Alhamdulillah, beliau bersedia. Selain itu saya juga sibuk menyiapkan uang untuk gaji babysitter, ART, supir, uang belanja, uang untuk air minum isi ulang sampai ke uang iuran satpam. Semua saya masukkan ke dalam amplop bersegel yang ditulisi tanggal berapa harus diberikan, dan kepada siapa harus diberikan. Saya juga belanja besar demi memenuhi kulkas dengan kebutuhan satu bulan.
Bukan itu saja, karena saya masih dalam proses penelitian, saya pun harus mengkader orang yang saya beri kuasa untuk mengambil sampel dan membawanya ke laboratorium. Selain itu, saya memulai menganalisis data yang ada agar bisa saya kerjakan di Soe. Rempong kan?
Oh ya, satu lagi yang ketinggalan. Karena rencananya saya baru pulang awal Maret, saya harus menyelesaikan segala urusan booking membooking, pesan memesan untuk keperluan perayaan ulangtahun Naya. Uhuk, pantes dong ya sampai engga sempat update blog? *alesan* :p
Anyway, saya galau dan mellow kelas berat nih karena harus meninggalkan Naya selama sebulan penuh. Hiks, bahkan membayangkan harus berjauhan saja sudah membuat saya kangen:'(
Besok pagi saya akan berangkat ke Soe melalui NTT. Doakan selamat dan lancar di perjalanan ya!
Anyway, sudah baca tabloid Mom and Kiddie terbaru belum? Ada saya lho disana! Dua halaman! Waaaa... setidaknya bisa jadi sedikit pelipur lara;) Nanti kalau sudah dapat versi pdfnya pasti saya upload.
Terimakasih ya Mom and Kiddie:*
Saya emang lagi rempong kelas berat nih! Jadi ceritanya saya baru tau kalau akhir bulan ini -mulai tanggal 28 tepatnya- saya ditugaskan ke luar kota. Bukaaan, bukan ke Balung lagi, ini malah lebih jauh, luar pulau, di kota Soe, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.
Awalnya saya berencana memboyong Naya. Tetapi begitu tau kalau di sana sulit air bersih -kata teman yang sudah duluan ke sana, untuk mandi saja kami harus beli air-, cuacanya sangat dingin, dan banyak anjing serta babi hutan berkeliaran, saya mengurungkan niat tadi. Apalagi, daerah sana adalah daerah endemis malaria. Duh, ya sudahlah, engga usah bawa Naya.
Karena itu, saya jadi ribet mempersiapkan semuanya. Saya harus mengurus ganti provider telepon karena konon hanya Telkomsel yang mendapat sinyal di sana. Demikian pula dengan internet, saya survey dulu beberapa penyedia layanan internet yang mana kira-kira yang dapat dipakai disana. Semoga bisa yaaa.. Bayangkan kalau tidak ada:@
Berhubung ternyata -kebetulan- pak suami pun harus berdinas ke luar kota-eh luar negeri malah-saya harus meminta bantuan mama saya jauh-jauh dari Bandung. Alhamdulillah, beliau bersedia. Selain itu saya juga sibuk menyiapkan uang untuk gaji babysitter, ART, supir, uang belanja, uang untuk air minum isi ulang sampai ke uang iuran satpam. Semua saya masukkan ke dalam amplop bersegel yang ditulisi tanggal berapa harus diberikan, dan kepada siapa harus diberikan. Saya juga belanja besar demi memenuhi kulkas dengan kebutuhan satu bulan.
Bukan itu saja, karena saya masih dalam proses penelitian, saya pun harus mengkader orang yang saya beri kuasa untuk mengambil sampel dan membawanya ke laboratorium. Selain itu, saya memulai menganalisis data yang ada agar bisa saya kerjakan di Soe. Rempong kan?
Oh ya, satu lagi yang ketinggalan. Karena rencananya saya baru pulang awal Maret, saya harus menyelesaikan segala urusan booking membooking, pesan memesan untuk keperluan perayaan ulangtahun Naya. Uhuk, pantes dong ya sampai engga sempat update blog? *alesan* :p
Anyway, saya galau dan mellow kelas berat nih karena harus meninggalkan Naya selama sebulan penuh. Hiks, bahkan membayangkan harus berjauhan saja sudah membuat saya kangen:'(
Besok pagi saya akan berangkat ke Soe melalui NTT. Doakan selamat dan lancar di perjalanan ya!
Anyway, sudah baca tabloid Mom and Kiddie terbaru belum? Ada saya lho disana! Dua halaman! Waaaa... setidaknya bisa jadi sedikit pelipur lara;) Nanti kalau sudah dapat versi pdfnya pasti saya upload.
Terimakasih ya Mom and Kiddie:*
Friday, January 17, 2014
Belajar Melupakan
Men forget but never forgive.Benarkah?
Women forgive but never forget.
Mungkin ya. Saya termasuk orang yang gampang sekali memaafkan. Allah saja maha pemaaf, masa saya-yang-bukan-siapa-siapa- tidak mau memaafkan orang lain? Lagipula, saya yakin sebagai manusia, saya pun pasti punya banyak salah, dan ingin dimaafkan. Makanya, sefatal apapun kesalahan orang terhadap saya, sesakit hati apapun saya, saya akan selalu berusaha memaafkan.
Tapi tidak untuk melupakan;)
Walaupun sesungguhnya saya ingin sekali, tapi ternyata melupakan tidaklah segampang itu.
Beberapa minggu belakangan, nasib mempertemukan kembali saya dengan seseorang yang pernah membuat saya sakit hati. Perlu diingat, saya engga gampang sakit hati lho! Karena teman saya berasal dari segala macam lingkungan, toleransi saya terhadap perbedaan sangat besar. Jadi kalau sekadar omongan kasar, canda yang mungkin salah tempat, saya masih bisalah menolerir.
Lain halnya kalau sampai membawa-bawa keluarga saya atau keyakinan. Apalagi sampai memfitnah kemana-mana yang membuat nama saya tercoreng. Saya bahkan engga tahu lho apa kesalahan saya sampai orang ini segitu bencinya pada saya. Saya introspeksi diri, tanya sana sini, tetap tidak terjawab kenapa.Inginnya sih tanya langsung, tapi bagaimana bisa, berpapasan dengan saya saja sudah membuang muka.
Anyway, setahun yang lalu,seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sudah memaafkan orang tadi. Saya sudah moved on. Saya yakin gusti Allah mbonten sare. Semua ada perhitungannya sendiri kelak. Daripada saya rempong ngurusi orang yang bikin saya sakit hati, lebih baik saya fokus pada kebaikan dan self-improvement.
Tapi sejujurnya, saya engga bisa melupakan apa yang dia perbuat pada saya. Semua kata-katanya, fitnahnya pada saya, perbuatannya kembali mengalir deras di ingatan. Saya ingat semuanya, detail. Walaupun sudah memaafkan, saya akui saya masih sakit hati. Apalagi saat ini, segala perilakunya yang membuat saya sakit hati dulu, diulang kembali.
Saya sudah memaafkan orang ini, untuk yang kedua kalinya. Hanya saja, masih sulit bagi saya untuk melupakan. Saya masih belajar bagaimana caranya. I hope i'll find a way. Soon:)
Subscribe to:
Posts (Atom)


