Thursday, November 21, 2013

Kakak Aya Ngaji

Update soal Naya nih!

Seperti yang pernah saya tulis disini, saya memang sempat khawatir karena Naya enggan bermain. Kerjanya belajaaaar terus. Engga mamanya bangetlah!:p

Tapi setelah saya tanyakan ke dokter konsultan tumbuh kembangnya, menurut beliau tidak masalah. Lega deh saya. Masih normal kok:p

Sekarang Naya sering sekali merengek minta diajarkan membaca. Alasannya begini:
"Kakak Aya mau baca buku celita sendiliiii. Nunggu mama dali lumah sakit lama. Mau baca maaa!"
 Kebayang engga sih, anak bayi saya yang satu ini rewel dan menangis karena minta diajari membaca?-___-"

Jujur saya sendiri agak takut mengajari Naya membaca atau berhitung. Saya pernah membaca di jurnal tumbuh kembang bahwa anak di bawah usia 6 tahun tidak boleh diajarkan membaca, apalagi berhitung karena memang belum waktunya. Lah anak saya sendiri memaksa terus. Bingung.

Selain merengek terus minta belajar membaca, Naya masih sering bertanya hal-hal yang saya engga ngerti bagaimana menjawabnya. Misalnya:

Naya: "Mama kan dotel anak ya? Jaganya jagain anak-anak kan?"
Meta: "Iya kak."
Naya: "Kalau papa dotel kandungan, belalti jagain kandungan-kandungan ya ma?"
Meta: "Eh bukaaaaan. Papa itu jaga orang hamil kak."
Naya: "Kenapa namanya dotel kandungan ma? Bukan dotel olang hamil?"
-__________-" (Saya musti jawab gimana coba iniiiiii)

Saya juga belajar banyak dari Naya. Terkadang sebagai ibu, saya suka gemes kalau Naya sudah mulai bertanya. Inginnya cepat selesai saja, sehingga langsung saya jawab. Padahal mungkin yang saya maksudkan tidak sama dengan Naya. Contohnya nih, suatu hari ketika kami sedang naik mobil dan melewati sungai.

Naya: "Mamaaaa, ini sungai temannya laut ya?
Meta: "Iya betul kak."
Naya: "Tuh lihat ma, ada ikannya banyaaaak sekali. Ikan lele, ikan paus, ikan duyung, macem-macem."
Meta: "Hmmmm" *sibuk nyetir*
Naya: "Ma, ada buayanya juga tuh."
Meta: "Oh ya?"
Naya: "iya, ada kudanya juga."
Meta: (Karena saya pikir kuda engga mungkin ada di air, saya mengkoreksi kata-kata Naya.
           "Kak, kuda kan engga bisa berenang. Ya ga mungkin dong ada di sungai."
Naya: "Ada kok ma."
Meta: "Ah, kakak ini kok ga mau dibilangin. POKOKNYA kuda itu engga bisa ada di air!" *mulai bete*
Naya: *pasang tampang mau mewek* "Ada ma, namanya kuda laut."
Meta: *ngakak*
Saya langsung banyak-banyak istighfar lho! Ya ampuuun, saya kok egois banget ya, cuma karena biar cepat selesai langsung memotong imajinasi Naya yang ternyata lebih benar dari saya:(
Maaf ya kak:(

Ini saya attach video waktu bayi 2.5 taun saya mengaji . (POKOKNYA tetap bayi saya! Mau sudah 17 tahun juga masih bayi saya;p)




Wednesday, November 20, 2013

Review- Ayahbunda

Yayyy!
Resensi "Dont Worry to be a Mommy!" dimuat di majalah Ayahbunda terbaru:)
Terimakasih Ayahbunda:*

Friday, November 15, 2013

Dokter Oh Dokter

Masih ingat dengan postingan saya soal Emang Enak Jadi Dokter? dan Respond to -Emang Enak Jadi Dokter?

Baru saja postingan itu saya buat belum ada sebulan. Saya masih ingat komentar pedas maupun yang mengkritik saya, seperti:


Waktu itu saya jelaskan di postingan setelahnya bahwa saya engga pernah ber-negative thinking terhadap siapapun. Saya menulis berdasarkan hasil googling saya yang kebanyakan memang ber-negative thinking terhadap dokter. Semua dibilang malpraktik. Segala dibilang dokter mata duitan. Tidak ada hasil googling dengan keyword "Dokter di Indonesia" waktu itu yang memberitakan suatu hal baik tentang dokter. Seakan-akan kalau dokter berbuat baik pada sesama, menyembuhkan pasien ya memang kewajibannya, bukan prestasi yang layak masuk media. Sekali lagi, berarti bukan saya dong ya yang ber-negative thinking?;)

Beberapa hari belakangan, social media heboh dengan berita (lagi-lagi) malpraktik. Saya sendiri juga bekerja di bidang media, dan tahu benar bahwa issue di bidang kesehatan sangat menarik minat pembaca atau penonton. Belum tentu berita yang ada benar, bisa jadi memang judulnya yang diberi banyak bumbu supaya terlihat wah. Makanya pertama kali mendengar kasus ini, saya mencari info sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber untuk mengetahui benar masalah. Kali ini kejadiannya di Manado, tiga orang dokter residen ilmu kandungan divonis bersalah karena "malpraktik" terhadap seorang wanita yang meninggal setelah dioperasi. Pasien, berusia 25 tahun dan mengalami emboli air ketuban. Operasi dilaksanakan, kemudian bayinya selamat namun pasien tadi meninggal setelah operasi. Keluarga pasien mengaku tidak dijelaskan dulu kemungkinan pasien bisa meninggal sehingga menuntut dokter tadi dipenjara.

Emboli air ketuban adalah kondisi yang sangat berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Saat ini terjadi, memang operasi sesegera mungkin adalah tindakan yang sesuai prosedur. Sepersekian detik pun sangat berarti. Time saving is life saving. Bagaimana kalau dokter yang menerima pasien ini memutuskan menjelaskan panjang lebar kepada keluarga mengenai tindakan dan risiko yang bisa terjadi saat operasi? Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan keluarga akan bertanya detail, membutuhkan waktu untuk berdiskusi satu sama lain yang tidak mungkin memakan waktu sebentar. Penjelasan bisa diberikan, tapi nyawa tidak terselamatkan. Lagi-lagi dokter yang pasti kena bukan? Pasti akan tetap dianggap malpraktik.

Kalau begini ceritanya, sedikit-sedikit dituduh malpraktik, jangan salahkan dokter kalau ada kecelakaan di pinggir jalan lantas tidak mau menolong karena takut. Jangan-jangan nanti kalau korban kecelakaannya meninggal, kami dibilang malpraktik? Jangan salahkan kami kalau enggan menolong pasien gawat darurat yang diantar polisi atau orang lain bukan keluarga. Nanti kalau ada apa-apa, jangan-jangan kami yang dipenjara?

Hari ini, seorang senior saya, dr. Ario Jatmiko sp. B(K). Onk menulis buah pikirnya di harian Jawa Pos. Mirip seperti curahan hati saya.Betapa tidak dihargainya profesi dokter menimbulkan ide untuk demo seperti buruh. Seperti kata ungkapan, if someone does not appreciate your presence, then make them appreciate your absence. Bagaimaa kalau dokter se-Indonesia demo mogok kerja?


Ada satu hal yang membuat saya istighfar berkali-kali ketika membaca tulisan ini. Menurut dr. Ario, ibu menteri kesehatan kita berkata "Kalau mogok, kalian akan saya bunuh pelan-pelan." terhadap para dokter di forum Urun Rembug Dokter Indonesia 2013. Astaghfirullah, bu istighfar yuk! Rasanya omongan macam ini sangat tidak pantas bagi seseorang yang berpendidikan, apalagi seorang pejabat negara.

Coba baca alinea terakhir tulisan tsb. Saya kutipkan yaa..
"Saya mohon petunjuk Bapak Presiden, Ibu Menkes, Bapak Menkeu, atau siapa sajalah, bagaimana cara dokter (dengan istri dan dua anak) merencanakan masa depan keluarga dengan pendapatan Rp. 1.200.000,00 per bulan?"

Saya tidak mengerti politik. Saya tidak mengerti bagaimana maksud pihak-pihak tertentu menjanjikan biaya rumah sakit gratis, biaya pelayanan kesehatan ini-itu gratis untuk masyarakat saat kampanye, sementara dengan 240 juta rakyat budget kesehatan hanya 2.7% APBN. Positive thinking, mungkin saja petinggi-petinggi ini berharap masyarakat Indonesia selalu sehat semua, sehingga hanya sedikit yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Atau apakah hanya pencitraan?  Terserahlah nantinya bagaimana, yang penting janji dulu ke masyarakat supaya terpilih. Entahlah.

Saya tidak mengerti hukum. Saya engga tahu sama sekali bagaimana bisa seseorang yang berusaha menyelamatkan nyawa orang lain TANPA DIBAYAR, sesuai prosedur bisa divonis hukuman penjara hanya karena orang yang diselamatkan tadi meninggal dunia. Apakah tidak bisa menjadi Tuhan adalah suatu kesalahan yang harus dihukum? Entahlah.

Saya tidak mengerti ilmu Kriminologi. Apakah seseorang yang berusaha menolong kemudian orang yang ditolongnya meninggal karena penyakit sendiri adalah suatu tindakan kriminal? Apakah si penolong tadi bisa dikatakan sebagai penjahat? Entahlah.

Saya hanya mengerti satu hal, bahwa sebagai dokter kami harus menolong sesama yang membutuhkan semaksimal mungkin. Kami bukan dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Kami hanya bisa berikhtiar.  Masalah hidup dan mati adalah rahasia Yang Di Atas. Orang yang sehat saja bisa meninggal dalam tidur kan?

Percayalah juga kalau rejeki sudah diatur. Mungkin uang Rp. 1.200.000,00/bulan kelihatan engga masuk akal di jaman serba-mahal begini. Apalagi buat yang sudah berkeluarga dan punya anak. Hari gini, uang pangkal masuk sekolah saja bisa belasan juta! *curcol:p* Tapi kalau Allah berkehendak, pintu rejeki bisa terbuka dari segala penjuru.

Yakinlah, sebutir niat baik pun akan tercatat, Gusti Allah mboten sare. Ada timbangannya sendiri-sendiri kelak. Tak mengapa dihujat atau direndahkan, diledek sampai "dianiaya" di dunia, hanya Allah yang Maha Tahu. Tetap semangat yuk TS!:)

Salam TS!

Thursday, November 14, 2013

Ayo Main Nayaaa!

Children learn BEST through play. (Unknown)
Saya percaya, anak-anak akan belajar banyak hal dengan cara yang sangat menyenangkan setiap kali bermain.   "Pekerjaan" utama seorang anak ya memang hanya bermain, bukan?
Karena itulah saya agak khawatir pada Naya akhir-akhir ini. Sudah 4-5 bulan belakangan, Naya tidak mau bermain. Apa saja. Masak-masakan, tidak mau. Boneka, apalagi. Kasir-kasiran, tidak juga. Semua jenis permainan yang biasanya gemar Naya lakukan tidak lagi disentuh.

Saya sudah mengajak Naya main bersama. Dokter-pasien, penjual-pembeli, atau apa sajalah, semuanya tidak ada yang diminati. Padahal biasanya paling doyan. Sekarang benar-benar mogok main. Lalu apa saja yang Naya lakukan?

Setiap saat Naya ada di meja belajar Hello Kitty-nya. Mewarnai, menulis, menggambar, menempel, atau pekerjaan sejenis lainnya. Memang saya akui, kemampuan motorik halus Naya berkembang pesat. Di usianya yang ke 2.5 tahun sekarang, Naya sudah bisa menulis huruf A-Z, angka 1-10, menghubungkan titik-titik yang membentuk gambar dengan rapi, mewarnai tanpa keluar garis atau menggambar bentuk (lingkaran, kotak, segitiga) dengan jelas. Mungkin itu hikmahnya ya. Tapi tetap saja saya khawatir bukan main. Saking khawatirnya, saya sampai 'melepas' Naya di toko mainan dan menyuruhnya memilih. Apa saja yang ia mau. Apa saja. Hasilnya? "Kakak Aya mau ke toko buku aja, ma. Ga mau disini." Begitu jawabnya. -________________-"
 Ketika saya 'paksa', akhirnya Naya memilih mainan....puzzle-_-"
Hasil kerjaan anak bayi yang hobi bener belajar. Entah nurun sapa:p

Mungkin kekhawatiran saya tidak cukup beralasan ya, tapi tetap saja namanya emak, rasanya kurang afdol kalau engga parno saat ada yang "engga biasa" di anaknya::)

Oh ya, Naya punya daya hafal yang luar biasa. Saya ingat baru 4x mengajarkan surat Al-Fatihah padanya, dan dia sudah hafal benar. Saat ini Naya sudah hafal berbagai surat. An-Nas, Al-Ikhlas, sampai Al-Falaq. Jangan ditanya soal lagu. Segala macam lagu yang baru saja didengar langsung ditiru. Makanya saya masih pikir-pikir buat mengijinkan Naya nonton TV nih. Kebayang engga kalau dia langsung copy-paste semua yang didengarkan dari TV?

Saya ingat pernah kedatangan pasien, baru umur 4 atau 5 tahunan. Saat saya melarangnya makan cokelat, dengan kenes ia menjawab, "Kenapa? Masalahhhhh buat loooooe?". Ibunya bangga sekali:D
Semoga Naya engga pernah begitu ya. Saya masih merasa bahwa kalau mengijinkan Naya nonton TV, stimulasi yang masuk tidak bisa saya saring. Demikian juga dengan gadget. Naya sering menggunakan handphone atau tablet saya hanya untuk foto-foto-__________-"

Kembali ke soal bermain, saya benar-benar parno nih ada yang salah dengan Naya atau dengan cara pengasuhan saya. Saya takut kalau nanti saat Naya memang harus belajar dia justru tidak mau. Rencananya akan saya konsulkan Naya ASAP. Hasilnya saya update lagi nanti yaaa.. Doakan, tidak ada sesuatu yang serius:D

Regards,
Emak Parno:p





Book Review Contest

Sudah pada ikutan Book Review Contest-nya Stiletto belum?
Ini saya copas dari web resminya disini;;)

Banyak banget lho hadiahnya, ikutan yaaa!

Berikut Ketentuan Lombanya:
  1. Membuat review buku "Don’t Worry to be a Mommy!" di Blog pribadi masing-masing. Bagi yang tidak memiliki Blog, boleh membuat reviewnya di notes Facebook.
  2. Panjang review tidak lebih dari 500 kata (kurang lebih 1,5 halaman A4)
  3. Sertakan foto Anda atau foto anak Anda bersama buku ini dan posting bersamaan dengan review bukunya. 
  4.  Peserta wajib follow Twitter: @Stiletto_Book dan Like Fan Page Facebook: Stiletto Book
  5. Mengirimkan link review Anda ke email: stilovers@yahoo.com dengan subjek: Review DWTBAM - (Nama Anda), paling lambat 30 November 2013, pukul 23.59 WIB.
  6. Twit link postingan Anda dengan format: Review "Don’t Worry to be a Mommy" #DWTBAM by @MetaHanindita terbitan @Stiletto_Book - (Link review Anda). Jika tidak memiliki akun Twitter, boleh membuatnya di status Facebook.
  7. Penulis yang memiliki akun Goodreads, silakan salin review Anda dan unggah ke Goodreads. Link: https://www.goodreads.com/book/show/18722479-don-t-worry-to-be-a-mommy

Pemenang!
Pemenang akan diumumkan di website: www.StilettoBook.com pada tanggal 5 Desember 2013. Akan dipilih 3 pemenang, masing-masing mendapatkan:
  • Pemenang #1: Baby jumpsuit merek Mothercare, binder “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea Menggapai Mimpi & Girl Talk, serta satu paket serial Good Morning!
  • Pemenang #2: Baby towels, blocknote full colour “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea for Single Mom & Ladies’ Journey, serta satu paket serial Good Morning!
  • Pemenang #3: Baby toys, blocknote dan magnet “Don’t Worry to be a Mommy!”, buku A Cup of Tea for Complicated Relationship & Hitam Putih Dunia Angel, serta satu paket serial Good Morning!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...