Monday, June 15, 2015

#RIPAngeline

Pertama kali mendengar berita ada anak hilang di Bali, saya sangat prihatin. Sebagai sesama ibu dari seorang anak perempuan, saya tak bisa dan tak mau membayangkan bagaimana kalau saya yang ada di posisi ibunya tersebut. Karena itulah saya rajin mengikuti perkembangan berita ini, termasuk mem-follow fanpage facebook Find Angeline, yang dibuat oleh kakak angkatnya sendiri.



Selama proses pencarian, sebenarnya banyak hal janggal yang mencurigakan. Misalnya saat tetangga Angeline mengaku sering mendengar suara tangisan Angeline, juga pernah melihatnya dipukul sang ibu angkat sampai perdarahan hidung. Atau waktu guru sekolahnya melaporkan keadaan Angeline yang bau, kumal, bahkan sampai banyak kotoran ayam menempel di rambutnya.  Saya sempat mempertanyakan hal ini. Apa jangan-jangan Angeline dibawa lari orang yang peduli padanya sebagai korban kekerasan keluarga angkatnya? Tetapi karena penjelasan yang diberikan kakak angkat di fanpage tadi begitu masuk akalnya, saya justru malah tambah merasa simpati dengan keluarga Angeline ini. Termasuk ketika keluarga ibu angkat mengusir menteri dan perwakilan lembaga yang mendatangi rumahnya. Saya ikut sebal lho pada sang mentri.

Setiap hari saya aktif mencari berita soal Angeline lewat social media. Sampai-sampai suami saya terheran-heran. Saya sempat kesal dengannya karena sejak hari pertama Angeline hilang, suami saya bilang "Ah, paling sudah meninggal terus dikubur di dalam rumah sama ibunya." Ih, engga simpati amat kan ya? 

Sampai beberapa hari lalu saya mendengar dari berita kalau Angeline ditemukan tewas di halaman rumahnya sendiri. What? Kok dugaan suami saya benar?Lalu dimulailah perjalanan tangisan saya setiap harinya. Iya, saya akui saya cengeng. Saya benar-benar sedih melihat berita soal Angeline. Hampir setiap malam, mata saya bengkak karena menangis setiap melihat berita. Payah ya?

Saya jadi tersadarkan, bahwa jangan-jangan banyak juga Angeline lain di sekitar kita? Kita mungkin pernah melihat anak tetangga sebelah kumal tak terurus, sering mendengar tangisan menyayat hati dari sebelah rumah atau bahkan pernah menyaksikan sendiri tetangga sebelah melakukan tindakan kekerasan pada anaknya. Tapi, ego kita yang mengingatkan "Eh bukan urusan kau!".

Padahal itu juga merupakan tanggung jawab kita lho! Yuk, mari kita jaga anak-anak generasi penerus bangsa dari kekerasan. Stop diam, laporkan ke pihak berwajib jika ada kecurigaan kekerasan pada anak. Stop tak peduli, sebelum semuanya terlambat.

Saya yakin, Angeline sudah bahagia di atas sana terlepas dari penderitaannya selama ini. Semoga siapapun pelakunya segera ketahuan dan mendapat sanksi seberat-beratnya, aminnn!

#RIPAngeline




1 comment:

Kania Ningsih said...

mba, bener banget angeline ada di sekitar kita. di komplek saya ada 2 kaka adik yg mengalami pelecehan sm ortu kandungnya sendiri sekarang lg ditangani sm ibu2 majelis taklim kasusnya..:(

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...