Wednesday, October 16, 2013

Pengemis Oh Pengemis


Di siaran terakhir minggu lalu, saya ngobrol-ngobrol dengan Jefri sang partner siaran. Biasanya, kalau sesama penyiar berkumpul, adaaaaaa saja bahan omongan. Kami membahas segala macam, mulai dari gosip artis, lagu terbaru, penyiar radio sebelah *uhuk*, sampai..pengemis. Lah kenapa juga jauh banget jadi ngomongin pengemis?

Awalnya, kami sedang membicarakan apa saja yang sedang ramai di path. Selain video sok inteleknya Syahrini yang direpath sejuta umat dan juga Nike Ardila vs Katy Perry, bahasan soal pengemis di Bandung juga lagi hot-hotnya.

Walikota Bandung, pak Ridwan Kamil berencana untuk membersihkan jalanan kota dari gelandangan, pengemis maupun anak jalanan. Bukan hanya sembarang 'membersihkan' tentu, tapi pak Emil ini memberdayakan mereka membersihkan jalanan kotor dan dibayar tentunya. Gaji yang ditawarkan adalah 700 ribu/bulan. Buat saya pribadi, ide pak Emil ini luar biasa keren. Sekali merengkuh dua tiga pulau terlampaui. Jalanan Bandung bersih dari sampah, bersih pula dari gelandangan atau pengemis, martabat anjal ini juga bisa naik. Hebat deh bisa terpikir hal seperti ini!

Betapa kagetnya saya ketika mengetahui para pengemis ini menolak ide pak Emil, karena gaji yang ditawarkan terlalu sedikit dibanding penghasilan sehari-hari. Menurut mereka, hasil mengemis saja setiap bulannya bisa mencapai 5-7 juta rupiah. Mereka meminta gaji 10 juta rupiah per bulan. Glek. Dokter saja kalaaaaaaahhhh:))))

Beneran lho, ini hanya perhitungan rata-rata saja. Kalau 'mangkal' di perempatan lampu merah yang padat, hasil mengemis bisa lebih. Bahkan ada yang mengaku pernah mendapat 20 juta rupiah perbulan! *bengong*

Saat saya cerita soal ini ke Jefri, dia juga ternyata punya pengalaman menarik dengan pengemis. Ceritanya, beberapa bulan lalu saat sedang berlibur ke Jogja, dia makan di warung lesehan dengan teman-temannya. Ada seorang pengemis yang mendatangi meja mereka dan meminta uang. Dicatat ya, bukan pengamen atau penjual apa, tapi pengemis. Karena tidak punya uang kecil, Jefri memberikan pengemis tadi uang koin 200 rupiah. Lalu apa yang terjadi? Si pengemis malah marah, memisuhi mereka dan membuang koin tadi. 'Kalau engga niat ngasih ya mending engga usah mas!'

*bengonglagi*

Saya termasuk orang yang sering memberi uang kepada pengemis di jalanan. Saya terkadang berpikir bahwa hidup mereka tidak seberuntung saya, dan dalam harta saya ada sebagian hak mereka. Tapiiiiiiiiiii, begitu mengetahui hal-hal seperti ini, saya jadi menyesal nih.
Apalagi ketika saya mendengar wawancara salah satu media dengan pengemis yang untuk tampil meyakinkan dan menyedihkan harus 'menyewa' anak bayi untuk dibawa-bawa mengemis. Waktu itu, dengan santai si pengemis bilang 'modalnya cuma baju compang/i bikin sendiri dikotor-kotorin, nyewa bayi, bayar upeti ke penguasa jalan.' WTH!

Sedih ya, kalau mengetahui banyak saudara sebangsa yang lebih memilih mengemis daripada bekerja walaupun masih kuat untuk berkarya. Lebih sedih lagi mengetahui, banyak orang yang 'mendukung' mental mengemis ini dengan memberikan uang, termasuk saya. Dulu. DULU.

Sekarang, saya dan Jefri berjanji tidak akan memberi uang pada pengemis di jalanan. Kalau memang mau bersedekah, saya akan memilih benar agar target memang yang betul-betul membutuhkan seperti di panti asuhan misalnya.

Yuk, kita stop membagikan uang di jalanan! 

4 comments:

Leyla Hana Menulis said...

Setuju Mak.
Ngemis sekarang udah jadi profesi.
Mending kasih ke orang yg sudah jelas saja gak punya. Di sekitar kita atau di kampung-kampung. Pekerja rumah tangga (PRT) malah lebih jelas kurang mampu.

Meta Hanindita said...

@Mak Leyla: BEneeeer, setuju!

sheila said...

Itu masih di jawa ya mbak. Kalo di Makassar sini, setiap pengemis mintanya 1000,- .minta mbak! Heuu.. Bayangkan aja brp per bulannya :o kalah deh gaji suami :D

Meta Hanindita said...

Hah? Itu ada yang mau ngasih mbak? :@

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...