Saturday, January 3, 2015

Live Your Life Like You're Going to Die (Because Yes, You Are)

Tahun lalu, saya membuat resolusi spesifik untuk menjalani hidup dengan lebih positif. Bukan hanya sekadar membiasakan diri ber-positive thinking, tapi pengertian positif yang lebih luas lagi. Saya berusaha bersyukur setiap hari, mengurangi mengeluh -hey, i USED to be the whiny queen:p-, dan menjauhkan segala hal berbau negativity, termasuk tidak menonton infotainment, tidak membaca tabloid gosip serta meng-unfollow akun twitter dan instagram yang banyak dihias oleh komentar menghujat dari para haters seleb tertentu.

Seperti yang saya ceritakan di sini, saya merasa cukup puas karena lumayan berhasil menerapkan resolusi serba positif tadi. Walaupun saya tidak tahu benar apakah memang ada hubungannya atau tidak, tapi saya merasa dengan menjalani hidup secara positif, banyak lho hal-hal positif yang terjadi di hidup saya. Alhamdulillah.

InshaAllah menjalani hidup dengan positif ini akan saya teruskan di tahun 2015.

Selain itu, saya juga membuat resolusi lain. Saya terinspirasi untuk membuat resolusi setelah berkaca terhadap beberapa musibah yang terjadi akhir-akhir ini. Saya mengikuti berita mengenai jatuhnya pesawat #AirAsia QZ8501 mulai dari proses pencarian, evakuasi korban sampai cerita personal masing-masing penumpang yang ada di dalam pesawat tersebut. Berkali-kali saya membaca cerita yang sama, berkali-kali pula saya disadarkan bahwa memang betul bahwa umur sama halnya dengan jodoh dan rejeki adalah mutlak rahasia Allah Swt.

Ada yang menyesal karena baru saja berselisih pendapat dengan tunangannya tanpa mengetahui kalau perselisihan tadi adalah pertemuan terakhir dengan yang terkasih. Belum sempat maaf terucap, belum juga perselisihan selesai. Ada yang menyesal karena belum sempat membalas pesan BBM dari sang anak, yang akhirnya menjadi pesan terakhirnya. Ada pula yang kehilangan seluruh keluarganya mulai ayah, ibu, kakak dan adik.

Seandainya saja kita mengetahui kalau besok -misalnya- adalah hari terakhir kita hidup, apakah kita masih akan mempermasalahkan persoalan yang sebenarnya sepele? Would you live differently if you knew you were going to die? Apakah kita masih berpikir untuk bilang sayang dan menunjukkan rasa tsb kepada keluarga yang terkasih? Apakah kita masih akan membuang waktu mengerjakan hal tak bermanfaat? Apakah kita masih akan "mengisi" waktu dengan mengeluhkan ini-itu? Apakah kita masih akan ngoyo bekerja sampai lupa keluarga? Apakah pekerjaan kita masih akan menjadikan ibadah nomor 2? Apakah kita akan menghabiskan sisa hidup kita dengan kebencian dan kemarahan terhadap orang yang pernah menyakiti hati kita?

We need to start living our life by identifying what's important and what doesn't actually matter. Focus on whats important, dont sweat small stuffs, go for anything you want, dont fear or failure.

Life is not measured by the number of breaths we take but by the moments that take our breath away.

Kemarin, saya juga baru saja mengalami musibah. Perginya keponakan saya yang baru saja menginjak usia 6 bulan lagi-lagi menyadarkan saya betapa singkatnya hidup di dunia ini. InshaAllah tahun 2015 ini, jatah usia saya akan berkurang setahun. And what have i done?  Selama hidup, saya belum merasa memberikan yang terbaik. Saya belum berkarya untuk banyak orang. Saya belum merasa bermanfaat bagi orang lain.


InshaAllah resolusi saya di 2015 adalah to live my life to the fullest. Saya ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, mengingat kembali tujuan saya diciptakan adalah memang untuk beribadah sehingga sudah selayaknyalah beribadah menjadi prioritas nomor satu sebelum pekerjaan dan yang lainnya. Saya ingin lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikanNya "sesederhana" bisa lebih lama bernapas dan menikmati dunia.  Saya ingin berkarya semaksimal yang saya bisa, berharap semoga bisa bermanfaat bagi orang banyak. Saya ingin menjaga kesehatan sebaik mungkin, lebih care terhadap diri sendiri, sebagai wujud bersyukur kepada Allah Swt. Saya ingin lebih dekat dengan keluarga, menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka. Karena kita tak pernah tahu kapankah pertemuan terakhir dengan orang terdekat, kapankah pelukan terakhir yang bisa kita berikan, kapankah percakapan terakhir dengan orang tersayang akan terjadi. Wallahualam.

Itu tadi resolusi saya. Doakan berhasil ya!

Live your life like you're going to die (Because yes, you are)

Ps: Sepertinya saya akan jarang mengupdate blog nih karena akan menjalani ujian nasional. Sejujurnya saya merasa engga siap banget ikut ujian, tapi kalau menunggu sampai siap sih engga bakalan ujian sampai kapan-kapan:p Mohon doanya ya, semoga -akhirnyaaaaaa- selesai juga sekolah saya yang tak kunjung usai ini:p


4 comments:

Ummu Salim said...

Maasyaa'Allah dok, perubahan yg luar biasa. Smg Allah memberkahi dan memudahkanmu.
Banyak2 mengingat Allah yah, dok, supaya hati tentram.
#pesan2 email saya meski tdk dibalas tapi kalu direnungi saya sudah sangat berbahagia.

lusia said...

semoga sukses ujian nasionalnya ya mbak meta. terimakasih untuk postingan2nya yg selalu menginspirasi dan menjadi teladan bg saya.

Anonymous said...

semoga segera berhijab agar semakin sempurna kerennya. *uhuk*

Ummu Salim said...

Iyaa aaminn.... Kita wanita diperintah untuk menutup aurat secara sempurna yaitu berhijab maka harus ta'at. Karena Allah yg menciptakan kita, yg memberi kita rizki, Allah yg memberi kehidupan.
Smg allah memberimu taufiq ya, dok.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...