Friday, January 2, 2015

Good Bye Dear!

Pagi pertama di tahun 2015,mama saya menelpon untuk mengabari kalau beliau baru saja terbangun karena mimpi. Di mimpinya, mama berjumpa dengan sang ibu -baca: nenek saya- yang sudah meninggal saat mama masih kecil. Mama bilang pada saya kalau beliau bertanya pada nenek. "Bu, cucuku mana Bu? Aku kangen." yang dijawab "Iya, sabar ya. Sebentar lagi pulang kok."

Mama saya terkejut dan mulai bertanya-tanya apakah "pulang" yang dimaksud.

Di saat yang hampir bersamaan, kakak saya mengabari kalau anaknya -keponakan saya, Red- yang sudah lebih dari 3 minggu tidak sadarkan diri dan harus dibantu mesin untuk bernapas akhirnya melek. Benar-benar melek. Setiap disentuh anggota badannya, Zaza langsung membuka mata walaupun belum kontak. Bukan itu saja, mesin bantu pernapasan pun dicabut karena dia sudah bisa bernapas spontan dengan kuat. Alhamdulillah, senang sekali saya mendengar kabar tersebut.

Saya dan mama pun lalu berpendapat mungkin "pulang" yang dimaksud nenek saya adalah pulang ke rumah, dalam keadaan sehat.

Secara teori, memang sulit untuk mempercayainya tetapi saya yakin kalau keajaiban itu pasti ada. Saya percaya bahwa saat kita bingung tak tahu harus bagaimana, tidak mengerti apa yang harus dilakukan dan tampak sudah tidak ada harapan lagi, yang harus kita lakukan hanyalah pasrah dan ikhlas. Begitu kita sudah menyerahkan semua pada Allah Swt, semua jalan terbaik akan dibukakanNya. Demikian pula yang terjadi pada Zaza. Hampir sebulan sakit, keluarga kami benar-benar dibuat sport jantung. Keadaannya membaik sebentar, lalu memburuk. Membaik lagi, lalu memburuk. Begitu seterusnya. Pada akhirnya setelah sekian lama, inshaAllah kami sudah ikhlaskan pada Allah. Apa saja yang terbaik untuknya. InshaAllah kami sudah berpasrah.

Karena itu, terbayang kan betapa senangnya saya hari itu? Saya berpikir bahwa mungkin karena kami sudah ikhlas menerima apapun jawabanNya, Allah justru memberikan kesembuhan untuk Zaza. Mungkin karena kami sudah pasrah, Allah memberikan kesehatan kembali untuk Zaza.

Mood saya baik sekali seharian, bahkan saya sudah merencanakan mencarikan Zaza dokter tumbuh kembang untuk kelanjutannya. Setiap jam, saya mengupdate kabarnya dari kakak saya. Jawaban kakak selalu menentramkan hati dan saya tak hentinya bersyukur atas keajaiban Allah Swt. Kakak mengirimkan foto terakhir Zaza pada saya. Tanpa selang napas di mulut, keponakan saya ini melek melihat kamera. Saya tunjukkan fotonya pada Naya yang ikut senang. Just FYI, setiap hari Naya mendoakan sepupunya ini dengan sungguh-sungguh. Bahkan setiap Maghrib, Naya meminta mendoakan dari masjid sebelah rumah. Supaya Allah lebih mendengar doa kakak Naya, begitu katanya.

Tidak ada satu pun firasat buruk yang saya rasakan. Saya berangkat tidur malam hari dengan tenang setelah shalat Isya dan mendoakan Zaza.

Lalu tiba-tiba telepon saya berbunyi di dini hari. Sungguh, saya sama sekali tidak merasa apapun. Saya malah berpikir mungkin teman saya yang sedang jaga IRD menelpon untuk meminta bantuan saya. Saya mengangkat telpon dengan setengah nyawa karena masih belum bangun benar tanpa melihat nomor yang memanggil.

Begitu mengangkat telepon, terdengar suara serak mama saya yang jelas habis menangis. "Neng, Zaza meninggal barusan jam 02.45." kemudian telpon ditutup.

Saya blank. Saya berusaha bangun penuh. Saya mencuci muka untuk meyakinkan diri kalau ini bukan mimpi. Sampai beberapa menit setelahnya saya masih bingung dengan apa yang terjadi. Lho, kok? Bukannya sudah membaik kondisinya? Bukannya sudah dilepas semua mesinnya? Bukannya sudah melek? Lalu kenapa?

Saya segera menelpon kakak yang sangat tegar menghadapi ujian ini. I cant imagine what he's been through. "Zaza sudah engga menderita lagi, Neng. Sudah engga kesakitan, sudah bahagia. Kita semua sayang Zaza tapi Allah lebih sayang. "

.......
And i burst into tears.

Inna Lillahi wa inna ilaihi ro'jiun
We indeed belong to Allah and we indeed toward him are returning.
Altezza Levino Hanintya, passed away at the age of 6 months old.

No words i write could ever say how sad i am
May Allah SWT in his infinite mercy grants him a place in Jannah
Aminnnn

Losing a child is the worst thing could ever happen to a parent
My thought and prayer go to my brother and his wife
May Allah SWT provides solace and strength to his family
Aminnnn

We love you so much, but Allah Swt loves you even more
Good bye dek Zaza, til we meet again sayang!

-written in tears, waiting for the plane to Bandung-

3 comments:

Delyanet Karmoni said...

Turut berduka, mbak.. :'(

Bunda 'Aqila said...

Turut berduka cita mbak

winarsih holic said...

Innalillahi wa inna illaihi rodjiun turut berduka cita mbak. AstagAaa.. Merinding saya bacanya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...