Friday, November 7, 2014

Tes Masuk SD

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi pameran pendidikan yang berada di Grand City. Tujuan utamanya tentu untuk melihat-lihat tempat kursus menggambar -ps: anak gadis sekarang sedang terinspirasi menjadi pelukis setelah membaca buku soal anak yang pintar melukis *sigh*-, tambahannya, melihat sekolah yang -siapa tahu- mau menerima Naya SD tahun depan. Susah banget ya-_-"

Eh sedikit melenceng dari topik awal, mumpung lagi ngomongin sekolah yang mau menerima anak lebih muda dari keharusannya nih. Beberapa minggu terakhir saya mendapat banyak sekali email dari orangtua yang menanyakan pada saya sekolah mana yang mau menerima anak mereka di usia yang lebih dini dari seharusnya. Sejujurnya, saya belum membalas email-email tsb karena saya takut salah, dan membuat banyak orangtua menjadi salah mengerti.

Perlu diketahui, program pemerintah yang mengharuskan batas usia tertentu untuk tingkatan sekolah tentulah ada alasannya. Misalnya saja, pemerintah mengharuskan usia 7 tahun sebagai batas masuk SD karena di usia tsb, anak diharapkan sudah cukup matang secara emosi untuk mengerti benar mengenai tanggung jawab dan kemandirian, terlepas bagaimana kemampuan kognitifnya.

Yang menjadi fenomena saat ini adalah, orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya sedini mungkin, semata-mata karena orangtua merasa anaknya mampu mengikuti pelajaran di sekolah. Padahal sebenarnya ada yang jauh lebih penting daripada kemampuan kognitif, yaitu kematangan emosi dan kesiapan mental anak.

Ada yang ingin menyekolahkan anaknya berumur 4 tahun ke TK B agar di usia 5 tahun bisa masuk SD karena anak tsb sudah bisa membaca dan menulis. Ada yang mencari sekolah yang mau menerima anaknya, 5 tahun di kelas 1 SD karena anaknya sudah lancar menulis, berhitung dan membaca, dsb dsb dsb.

Ada yang mungkin terlewat dari observasi orangtua, yaitu terlepas dari kelancaran membaca, menulis, berhitung tadi, apakah anaknya sudah mengerti benar tanggungjawab dan kemandirian? Masih menangiskah saat ditinggal di kelas? Sudah bisa pipis sendirikah? Dan yang terpenting, sudah siapkah mereka berkurang jam mainnya? Karena pada dasarnya usia balita adalah usia bermain. Dengan "memaksakan" anak bersekolah lebih dini, kita seolah-olah merenggut haknya bermain.
Gambar diambil dari sini

Saat ini mungkin tidak terasa akibatnya. Tapi percayalah, kelak akan sangat terasa. Ada kerabat saya yang disekolahkan SD saat berusia 5 tahun. Sampai kelas 6 SD, dia selalu menjadi juara kelas. Tapi sepertinya memasuki SMP, ada kejenuhan belajar dan kebutuhan bermain yang tampaknya belum terpuaskan, sehingga anak yang langganan juara kelas tadi malah jadi tinggal kelas.

Lah, kamu sendiri bukannya sibuk setengah mati cari sekolah yang mau terima Naya, Met? 

Untuk kasus Naya, tentunya berbeda karena advis untuk menaikkan tingkat sekolah Naya datang dari psikolog dan dokter konsultan tumbuh kembangnya dengan alasan Naya "special". Sejujurnya, saya pun ragu sekali menuruti advis ini karena deep inside, saya masih kurang ikhlas menyekolahkan Naya jauh di level yang seharusnya. Kekhawatiran Naya akan terenggut hak bermainnya pun ada. Tapi sekali lagi, Naya berbeda. Dan ini bukan hanya perasaan saya saja. Ada buktinya berupa endless consultations to the experts.

Jadi, maaf ya kalau email yang seperti saya sebut di atas sengaja belum saya balas karena saya khawatir membuat para orangtua salah paham. Saya sendiri setuju dengan pendapat "untuk yang usianya nanggung masuk sekolah, lebih baik lebih tua daripada lebih muda" karena alasan-alasan yang saya sebut tadi.

Kembali ke topik awal. Dari sekian sekolah yang ada di pameran tsb, ada satu sekolah yang menarik perhatian saya. Bukan hanya karena nama besar sekolah ini, tetapi karena saat saya menanyakan perihal Naya, wakil kepala sekolah yang menerima saya terlihat sangat welcome. Tidak seperti perwakilan sekolah lain di pameran tadi yang justru bertanya balik pada saya mengenai gifted, wakil kepala sekolah ini tampak mengerti benar mengenai gifted children dan menjelaskan pada saya kemungkinan Naya bersekolah di sana walaupun umurnya masih jauh dari batas masuk, asalkan Naya lulus tes dan ada rekomendasi dari psikolog dan dokter tumbuh kembang anak.

Btw, saya sempat menangis gegara percakapan singkat dengan sang wakil kepala sekolah. Beliau bilang "Ibu, selamat ya atas karunia yang luar biasa dari Tuhan berupa anak gifted ini. Tapi maaf, merawat, mengasuh, membesarkan anak gifted ini sama sulitnya dengan membesarkan anak Down Syndrome, Cerebral Palsy, Autis atau disabilitas lainnya. Hanya saja, pendidikan di Indonesia sudah banyak sekali yang men-support anak berkebutuhan khusus seperti Down Syndrome, Cerebral Palsy atau Autis. Tapi khusus gifted, belum ada."

*Lalu saya setengah mati menahan air mata tumpah saat itu juga* --> cengeng ya? Emberrrr:')

Singkat cerita, karena kesan pertama tadi, saya memutuskan untuk membeli formulir pendaftaran dan mengikutkan Naya tes masuk kelas 1 SD. Agar Naya tidak kecewa apapun hasilnya (Saya engga mau kejadian daftar 15 sekolah dan menyebabkan Naya minder setengah mati terulang lagi), saya bilang bahwa Naya akan dites untuk main-main saja. Bukan untuk masuk SD.

Pada hari H, Naya sedikit rewel karena berjumpa dengan orang baru. NAya meminta saya menemaninya di ruangan yang sama dengannya saat tes. Saya menunggu Naya beberapa meter di belakangnya sebelum pada akhirnya keluar ruangan.

Saya mendengar tes masuk full dalam bahasa Inggris (karena memang sekolah tadi full-english). Mulai menulis, membaca, berhitung dengan soal cerita, mewarnai, menggunting semua dilakukan dalam bahasa Inggris. Saya merasa Naya tidak bisa mengerjakan soal tadi karena memang kami selalu berbahasa Indonesia di rumah, hanya sesekali bahasa Inggris.

Nyatanya, Naya bisa mengerjakan dengan baik tes tadi. Surprised! Pihak sekolah lalu mengajak saya berdiskusi. Menurut mereka, pihak sekolah akan senang sekali menerima Naya di sekolah tsb. Hanya saja, mereka ingin memastikan apakah Naya bisa berkembang secara optimal di sekolah tadi sebagai gifted. Dengan usia yang semuda Naya, pihak sekolah mengkhawatirkan perlakuan teman-temannya yang bisa jadi memperlakukan Naya tidak seperti pada teman sebaya. Saya diminta berdiskusi dengan psikolog dan konsultan tumbuh kembangnya lagi.

Satu-satunya keberatan saya sebenarnya adalah sekolah tersebut adalah sekolah berbasis Kristen. Memang, saya dulu sekolah SD-SMP di sekolah Katolik. Saya hapal doa Bapak Kami, Bunda Maria, bahkan segala macam nyanyian gereja di Madah Bakti pun saya hapal karena saya pernah menjadi keyboardis paduan suara gereja. Tapi, waktu itu saya tidak semuda Naya. Waktu itu pula, saya sudah belajar mengenai agama Islam terlebih dahulu. Saat ini, Naya belum juga bisa membaca Al Quran, walaupun hapal banyak surat pendek. Saya khawatir, Naya akan bingung karena basic agama Islamnya belum kuat benar.

Saya belum memutuskan apa-apa sih, karena memang belum mendiskusikan ini dengan suami dan psikolog serta konsultannya Naya. Tapi, sepertinya memang saya akan berusaha mencari sekolah lain dulu.

Saya sadar, perjalanan saya masih panjaaaaang sekali. Terkadang kalau lagi cengeng-bukan kadang ding, sering!:p-, mudah sekali air mata ini tumpah hehehe. Saya bingung apa yang harus dilakukan, saya khawatir apakah keputusan saya benar atau tidak, saya takut salah langkah dst dst.

-Jadi coba yang suka usil nyuruh saya punya anak lagi ya, jangan usil melulu:p-

Besar harapan saya dengan diangkatnya menteri pendidikan yang baru, pleaseeee pak Anies yang ganteng *ngerayu*, perhatikanlah pendidikan untuk anak gifted:)
-Kali aja ada yang kenal sama beliau, pesenin dong- *macam pesen gado-gado*:)))

Bismillahirahmanirahim. 

3 comments:

Mayo said...

Mbak Meta boleh tau nggak nama sekolah yg dimaksud di tulisan ini?
Sy lg cari sekolah jg utk anak sy TK. Kpn hr ketinggalan gak sempat dtg pameran jd krg info nih.. Terima kasih sblmnya..

Ummu Salim said...

Kl saya boleh saran di SDIT/ TKIT arrayyan Sby, bagus itu dok...
Termasuk sekolah favorit

reza said...

hai, kalau boleh tahu SD kristen yang dimaksud dimana ya? karena anak saya dari 4 bulan kecilnya pergi ke dokter tumbuh kembang dan baru-baru ini disuruh test IQ dan ternyata hasilnya anak saya IQ nya sangat superior, direkomendasi untuk memasukkan ke SD lebih awal, sekarang masih 4,5 tahun TK A. jadi kalau mau masuk SD ya di 5thn,Tapi saya kesusahan mencari SD kristen/katolik yang mau menerima lebih awal. kalau bisa mungkin di email saja ke saya ya_pret@hotmail.com.

Terima kasih banyak.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...