Friday, March 14, 2014

Naya dan Gadget

Kemarin, saya janjian dengan seorang teman lama untuk playdate. Teman saya tersebut ibu dari 3 orang anak, 2 perempuan dan 1 lelaki yang usianya 5 tahun, 3 tahun serta 2 tahun. Selain memang ada kerjaan yang akan dibahas, saya juga punya hidden agenda nih sebenarnya:p

Tahu dong ya kalau anak gadis saya yang super bawel dan super genit itu engga pernah mau berinteraksi dengan sesama anak kecil? Naya juga sudah sejak lama enggan bermain. Kerjanya hanya membaca buku, menulis, menggambar dan menempel-nempel. Walaupun banyak orang yang bilang seharusnya saya bangga -which i am btw!- tapi tetap saja saya si emak parno ini khawatir. Saya khawatir nanti justru pada waktu Naya seharusnya belajar, dia malah sudah bosan. Makanya, saya rajin membawa Naya ke kegiatan yang banyak anak kecilnya, termasuk playdate.

Kami janjian playdate di salah satu foodcourt mall di Surabaya. Di sana kami mengobrol seru sekali. Teman saya tadi curhat mengenai anak tengahnya yang belum bisa berbicara. Dia tidak begitu khawatir karena ternyata anak sulungnya pun sebelumnya pernah didiagnosis speech delay saat 3 tahun.

Jujur, saya agak terkejut saat melihat ketiga anaknya yang juga sibuk sendiri. Anaknya yang pertama si 5 tahun memegang iPad dan memainkannya dengan mahir. Sepanjang pertemuan kami, tidak sekalipun matanya kontak dengan saya. Saat disuruh bersalaman, dia hanya menjulurkan tangan, kedua matanya tetap tertuju pada iPad. Anak yang kedua pun tak kalah sibuknya memainkan game console. Sama seperti kakaknya, tak sedikit pun ada interaksi dengan saya atau sang ibu. Yang membuat saya lebih terkejut lagi, bahkan anak bungsunya -si 2 tahun- mahir sekali memainkan iPhone milik ibunya. Sepanjang ingatan, selama 2 jam penuh, saya tidak mendengar anak-anak ini berkomunikasi dengan sang ibu atau babysitter selain pada saat baterai gadgetnya mau habis. Tangan sibuk memegang gadget, mata fokus tertuju pada layar.

Lalu bagaimana dengan Naya?

Mungkin karena bosan, Naya meminta ijin untuk pergi ke toko buku yang jaraknya dekat dari foodcourt, lalu datang membawa beberapa buku yang dibeli, dan sama sibuknya seperti ketiga anak teman saya tadi. Sibuk membaca, menulis, menggambar. Kemudian setelah bosan, Naya berlari-lari kesana kemari. Beda banget ya? Gagal deh hidden agenda saya:))))

Di jaman sekarang dimana gadget sudah bertebaran dimana-mana, rasanya tidak aneh melihat anak kecil -bahkan bayi- memegang gadget. Entah memang dibelikan khusus untuknya atau meminjam punya orangtua. Saya punya teman yang share di Path sudah mendownload banyak aplikasi untuk bayinya yang masih berusia 3 bulan. Serius lho! Ada permainan mengenalkan angka, huruf sampai warna.

Sebenarnya boleh engga sih memberikan gadget pada anak ini masih kontroversial. Namanya juga anak jaman sekarang. Kalau engga dikasih, nanti ketinggalan dong dengan anak lain? Lagi pula, tujuannya kan baik. Bisa merangsang kreativitas anak kan? Belajar sambil bermain tentu akan lebih menarik dan menyenangkan buat anak. Betul?

Saya pribadi termasuk pada golongan mereka yang memilih tidak memberikan gadget pada anak. Saya percaya, bahwa di tahun-tahun awal kehidupannya, yang lebih Naya butuhkan adalah interaksi positif, bonding, dan stimulasi yang -lagi-lagi- diberikan oleh orangtua serta keluarga dekat. Betul memang, pembelajaran lewat iPad pastinya menyenangkan. Siapa sih yang engga tertarik melihat animasi berwarna-warni memperkenalkan warna? Tapi ini jadi tantangan buat saya, sebagai orangtua yang ingin menstimulasi Naya tanpa gadget. Saya harus membuat sesuatu untuk memperkenalkan warna dengan cara lebih menarik. Saya ingat waktu Naya bayi, saya sering bercerita padanya mengenai warna. Visualisasinya saya pakai kertas warna biasa dan boneka jari. Buktinya, Naya tertarik juga kok:) Saya masih ingat gelak tawanya waktu itu. Bonusnya, bonding antara Naya dengan saya lebih kuat. Menurut saya, menjalin bonding dengan Naya adalah salah satu bentuk investasi. Saya ingin Naya percaya pada saya. Kelak, saya yakin kepercayaan ini akan sangat berguna bagi saya dalam mendidik Naya, terutama kalau sudah remaja. Saya ingin sayalah orang pertama yang dituju Naya saat ada masalah. Saya ingin sayalah yang pertama tahu apapun yang terjadi dalam hidup Naya. Saya ingin Naya datang ke saya untuk meminta saran saat clueless. Semoga Naya engga bakal berpikir untuk berbohong pada saya, karena tahu Naya bisa percaya saya. So much for a bonding ha?:p

Saya pernah punya pasien, anak berusia 7 tahun yang dikonsulkan karena belum bisa menulis. Hasil pemeriksaan IQ menunjukkan anak ini normal, bahkan di atas rerata. Selidik punya selidik, kemampuan motorik halusnya agak terlambat karena dia lebih terbiasa menekan layar tablet dan tombol game console dibanding memegang pensil.

Tidak semua negatif tentu saja. Saya pun sering mendapat laporan bagaimana teknologi yang tersedia dalam gadget justru bisa sangat membantu dalam belajar. Ada yang hapal huruf-huruf karena sering bermain dengan aplikasi huruf di iPad. Ada juga yang merasa terbantu belajar bahasa Inggris karena aplikasi vocabulary, dan lain sebagainya.

Menurut saya pribadi, sama seperti semua hal lainnya, penggunaan gadget untuk anak bisa positif tapi bisa juga sebaliknya. Saya sendiri berencana baru akan mengenalkan gagdet pada Naya di atas 4 tahun, itu pun dengan pembatasan penggunaan. Seminggu 2 kali, masing-masing setengah jam misalnya, dengan aplikasi yang saya pilihkan khusus:D

Saya punya iPad, laptop, iPhone, game console -punya suami sih- dan tidak pernah menggunakan gadget tadi untuk bermain. Pada dasarnya saya memang engga begitu suka main sih ya. Paling tablet saya gunakan untuk membaca e-book atau majalah via Scoop. Akhirnya Naya pun sepertinya engga begitu tertarik untuk memegang gadget saya. Walaupun terkadang dia bilang "Mama, kenapa kakak Aya engga punya iPad kayak si A, si B atau si C?"

"Memang kakak Aya mau ngapain kalau punya iPad?"
"Yaaa, mau baca-baca buku sama majalah."
"Kan sudah mama belikan buku sama majalah beneran."
"Iya. Tapi mama kok punya iPad?"
"Iya di sini ada buku-buku mama yang tebel2 itu lho kak buat di rumah sakit. Kalau ga pake iPad, mama musti bawa banyaaaak banget dong."
"Kok punya si A si B si C itu bisa buat main ma?"
"Iya, nanti ya kalau kakak Aya sudah besar juga bisa."

Sudah. Naya puas mendengar jawaban kayak gitu:D

Saya lebih senang Naya bawel bertanya-tanya tanpa henti pada saya daripada sibuk sendiri dengan gadget walaupun kadang bikin pusing:p Saya lebih senang Naya berlari-larian, berlompatan, gelantungan kian kemari daripada duduk manis anteng di depan gadget. Saya lebih senang tangan Naya sibuk mencoret-coret asal bukan di karya ilmiah saya dan menggambar segala macam daripada sibuk menari di atas gadget. Saya lebih senang memikirkan dan membuat sendiri fasilitas stimulasi Naya kalau perlu yang old-fashioned daripada menyerahkan stimulasi Naya kepada gadget. Saya lebih senang mengajak Naya role-play dokter-dokteran, jual-jualan, masak-masakan biarpun saya capek dan ngantuk setengah mati daripada Naya role-play dengan gadget.

 Engga takut Naya ketinggalan, Met?

Engga sama sekali tuh. Di segala macam tes skrining tumbuh kembang, engga pernah ada milestone "harus bisa memainkan gadget ini" atau "harus mahir memakai gadget itu". Jadi, saya yakin tanpa gadget pun, dengan stimulasi yang tepat, Naya bisa bertumbuh dan berkembang secara optimal. Kelak, dengan tumbuh kembangnya yang baik, jangankan gadget macam iPad atau game console, pesawat terbang saja saya yakin bisa Naya terbangkan! Wekekekekek. #lebay

10 comments:

Haya Najma said...

proud of you mbak

nunu said...

Tadi aku mikir gimana naya ya kalau emaknya megang gadget kan emaknya gak bisa jauh dari gadget. Secara saya sendiri pas ngeluarin gadget didepan anak2, pasti dideketin. Bayangannya ada banyak mainan dalam gadget. Hehe udah terjawab di bagian akhir hehehe

Fiona said...

Salam kenal mbak Meta :) Senang mambaca tulisan ini karena menemukan ibu yg memiliki pemikiran sama; saya pun memilih utk tdk mengenalkan gadget kpd anak saya (3 dan 2 th). Bnyk org mgk menganggap old-fashioned, tp saya tahu anak2 saya bertumbuh-kembang sama baiknya dgn anak2 lain; mereka belajar mengenal berbagai hal melalui cara2 natural, tnp gadget. Ijin share ya mbak Meta :)

nunu said...

Met ijin nulis ini untuk giveaway yaa.... Nanti cek di blog ya met.. En pinjem foto2nya

saramalone said...
This comment has been removed by the author.
saramalone said...

Halo dok,
saya pernah mbaca artikel soal ini di Jawa Pos. Nah penasaran , "busy book" nya isinya apa aja ya? Pengen banget bisa buat buku gitu. Makasih and salam kenal.

Meta Hanindita said...

Hai mbak, met kenal ya:)
Karena banyak pertanyaan serupa, saya membukukan permainan dalam activity book Naya di buku terbaru saya Play And Learn. Bisa dibaca di sana yaaa.

saramalone said...

Iya dok,td ternyata sy baru baca ttg buku barunya. Boleh donk ya mencuri start buat ikut preorder?hihihi..

Meta Hanindita said...

Boleh mbak hehe:)

Game AR Android terpopuler said...

Wah keren, di saat banyak orang tua yang cukup getol mengenalkan teknologi dengan konsep bermain sambil belajar di gadget, mbak Meta konsisten dengan prinsip untuk membangun interaksi dan bonding yang lebih kuat dengan anak tanpa gadget :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...