Friday, May 25, 2012

Curhat

As long as I remember, i've always wanted to be a pediatrician.
Papa saya dulu adalah seorang dokter anak. Saya sudah sangat terbiasa mendengar tangisan bayi atau anak sakit yang dibawa orangtua mereka ke rumah saya saat jam praktek atau bahkan di tengah malam. Walaupun dulu masih engga ngerti-ngerti amat, tapi saya senang sekali kalau diminta papa membantu beliau. Mulai dari menimbang bayi, menyiapkan vaksinasi, menempelkan label obat atau sekedar menulis nama pasien.
Saya sangat mengagumi papa saya. Sebagai satu-satunya dokter spesialis anak di tempat kami dulu (hanya kecamatan kecil, jelas tidak ada mall atau rumah sakit.), papa selalu siap sedia setiap saat untuk pasien-pasiennya. Bukan hanya sekali dua kali rencana keluarga kami hanya untuk berlibur ke dufan atau bahkan mengambil raport batal karena baru saja mobil kami keluar pagar, ada seorang ibu yang berlari sambil menangis membawa bayinya yang sakit. Tentu saja papa ikut berlari ke dalam rumah dengan omelan mangkel kami yang lagi-lagi batal berlibur:D
Awalnya sih jujur, saya sempat kesal. Tidak pernah ada family-time untuk keluarga kami. Boro-boro berlibur, papa bahkan tidak pernah bisa mengambil raport saya dan kakak. Setiap hari, pasien berdatangan mulai jam 5 pagi, baru selesai jam 9. Kemudian dilanjutkan dengan dinas ke rumah sakit pemerintah di kabupaten yang berjarak sejam perjalanan dengan mobil sampai jam 2, istirahat sebentar, jam setengah 4 beliau sudah kembali praktek sampai malam hari.
Papa tidak memasang tarif khusus di prakteknya, bahkan sering sekali pasiennya membayar dengan sayur mayur atau buah-buahan atau malah sekedar ucapan terimakasih saja. Tapi papa tidak pernah protes walaupun harus dibangunkan tengah malam. Tidak juga protes walaupun membatalkan semua rencana yang sudah diatur sebelumnya.
Papa tidak pernah ke luar negeri selain ke Singapura. Itupun untuk kemoterapi saat beliau sakit dan saya yakin seyakin-yakinnya tidak dibiayai oleh pabrik obat manapun.
Sayalah yang protes. "Kok mau sih pa, udah dibangunin tengah malem pake nggedor2 pintu, ngebangunin orang sekampung, ehhh cuma bilang makasih doang?"
Atau " Jadi papa lebih mentingin pasien-pasien yang engga ada hubungan keluarga daripada anak sendiri ya? Kan udah janji mau ke dufan, engga jadi lagi?"
(I were such a drama queen;p)
Tapi setelah saya cukup besar untuk mengerti, sungguh saya sangat bangga pada papa. Papa saya selalu bilang bahwa dengan menjadi dokter, sebenarnya banyak kesempatan yang diberikan Allah untuk membantu orang lain. InsyaAllah, apa yang dilakukan dapat menabung pahala kelak. Selain itu, sesungguhnya melihat orang lain bahagia karena sembuh adalah kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dibayar dengan apapun.
Begitu mendengarkan omongan papa itu, menghilanglah cita-cita saya sebelumnya untuk menjadi pengacara atau penulis atau penyiar radio atau model atau presenter tv.
Saya ingin menjadi dokter anak, seperti papa. Kalau bisa, yang lebih baik dari beliau:D
Walaupun sempat ter-distract dengan keinginan menjadi neurosurgeon, pada detik-detik pendaftaran PPDS, saya tersadarkan bahwa pediatri adalah impian saya sejak dulu. Akhirnya, here I am now:D
Setelah menjadi residen, saya menjadi sadar betapa beratnya pendidikan yang harus ditempuh untuk menjadi seorang dokter anak. Bukan hanya waktu, material, mental, bahkan terkadang keluarga pun harus dikorbankan. Saya pernah mendapati kakak kelas saya menangis di awal jaga bersama saya karena anaknya yang sedang sakit bertanya "Kenapa mama lebih milih jagain anak lain yang sakit daripada anak mama? Aku kan juga sakit?'. Tidak sedikit pula pertengkaran rumah tangga bahkan sampai perceraian terjadi karena suami/istri yang tidak mengerti. Soal waktu, kalau saya coba hitung-hitung, waktu saya dalam 24 jam mayoritas saya habiskan di rumah sakit. Lama yaa. Mental? Ah tidak perlu diceritakan secara detail, tapi setiap hari dimarahi itu sih biasaaaa. Bahkan sampai ada ungkapan kalau untuk ppds pediatri, setiap hari adalah hari senen karena di-seneni (dimarahi bahasa jawa) terus. Percaya deh, jadi dokter spesialis anak itu tidak mudah sama sekali.
Banyak tugas ilmiah yang harus kami kerjakan, dengan standard internasional yang tidak bisa dikerjakan asal-asalan. Sementara itu kami pun harus merawat pasien yang jumlahnya banyak sekali setiap harinya dengan jadwal jaga rutin. Belum lagi kalau ada acara seminar atau pertemuan ilmiah. Intinya, sekali lagi, menjadi dokter spesialis anak itu tidak mudah sama sekali.
Saya menulis di blog ini sebenarnya curhat:p
Saya tahu sekarang ini banyak sekali orangtua (salahsatunya mungkin yang sedang membaca blog ini:p) yang gampang bersuudzon dengan dokter anaknya.
Kalau mengedukasi mengenai pentingnya imunisasi dibilang kafir (saya mengalami sendiri lho ini. Yang bilang tentu saja golongan anti imunisasi). Memberikan antibiotika dibilang tidak RUM. Memberikan obat-obatan dibilang disogok farmasi supaya bisa jalan-jalan keluar negeri. Menganjurkan sufor (padahal memang perlu karena indikasi tertentu) dibilang engga pro ASI dan dibayar produsen susu dan masih banyak yang lainnya.
Repot ya? Jadi maunya apa sih? Hehe.. Pada akhirnya, kesimpulan yang saya ambil dan saya yakini adalah kembali ke diri masing-masing. Saya pribadi berusaha untuk selalu mengedukasi imunisasi, RUM dan juga pemberian ASI. (Fyi, anak saya sampai detik ini berusia 14 bulan dan masih full ASI. Bagaimmana bisa saya dibilang tidak pro ASI?) Saya baru menyarankan sufor kalau memang ada indikasi. Engga mau kan anaknya jadi gagal tumbuh karena cuma keukeuh pengen mempertahankan gelar ASIX?
Rasanya sih bukan cuma saya yang merasa disuudzoni seperti ini. Kalau saya iseng ngecek chat history di bbm, 80persen isinya adalah teman saya (bukan residen di pediatri) yang punya anak, berkonsultasi pada saya tentang anaknya yang sakit. Well, bukan konsultasi juga sih tepatnya. Lebih ke 'membandingkan' dan 'meng-cross-checked' terapi dokter spesialis anak lain.
'Met, anakku blablablabla. Udah ke dokter anak sih. Dikasih blablabla. Itu antibiotik kan ya? Masak ya aku googling katanya efek sampingnya gangguan hati. Serem amat. Ngaco ya dokter anaknya?'
'Met, anakku blablabla. Tadi dokter anaknya bilang musti dicek darah. Ih masa anak kecil pake diambil darah. Paling asal ngomong ya?'
'Met, anakku blablabla. Masak ya kata dokter anaknya diagnosanya blablabla. Padahal kan kalo digoogling beda banget symptomnya.'
'Eh Met, anakku blablabla. Dokter anaknya ngaco banget deh. Masak dikasih blablabla. Kalo kubaca ga boleh buat anak dibawah 2 tahun. Dokternya apa ga ngeh ya!?'
'Met, anakku blablabla. Tapi dokternya blablabla. Pulang paksa aja apa ya Met? Masa terapinya kaya gitu? Kan antibiotik mustinya cuma boleh seminggu ya?'
Beneran, engga bohong, mayoritas isi bbm saya kayak begitu:D
Does it ring a bell to you?:p
Menurut saya, sangatlah wajar kalau seorang ibu sangat mengkhawatirkan anaknya. Malah aneh kalau tidak. Tapi coba dibaca lagi cerita saya di atas. Masih ingat kalau menjadi dokter anak tidak gampang?
Setiap dokter pasti punya pertimbangan sendiri setiap meresepkan sesuatu atau mendiagnosis pasien. Medicine is an art. Belum tentu pasien satu dengan yang lain akan mendapat resep sama walaupun sama diagnosisnya. Apalagi kalau beda dokter.
Menjadi kritis boleh. Tapi tolong jangan setengah-setengah. Kalau memang bilang menganut RUM, ya pelajari benar-benar kapan antibiotika tidak perlu dan kapan perlu. Kalau menganut home treatment, ya juga pelajari kapan bisa diHT kapan tidak.
Saya membayangkan perasaan saya jika berada di posisi dokter spesialis anak teman-teman saya itu. Apa rasanya ya dibandingkan dengan google? Apa rasanya ya dicross-checked sama saya yang jelas-jelas justru murid mereka?
Daripada googling, coba bertanya langsung ke dokter anak anda. Hak pasien lho untuk mendapat informasi lengkap soal diagnosa dan obat yang diberikan. (Ini masukan juga untuk para dokter mengenai betapa pentingnya komunikasi).
Terakhir dan yang terpenting, berobat dan pilihlah dokter anak yang anda percayai. Percaya. Kami para dokter pun akan lebih nyaman menghadapi pasien yang percaya dengan kami:)
Be smart parents!:D
-ditulis setelah dibilang kafir karena mengedukasi pentingnya imunisasi dan dibilang dibayar produsen susu karena menyarankan sufor untuk anak yang FTT alias gagal tumbuh-
Sent from my PurpleBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

7 comments:

Anindita Pusparani said...

dibalik anak yang keren ada ayah yang keren juga :DD
widiiih keluarga dokteeerrr..
semangaat ya mba metaa.. *hug* tetap lurus pada tujuan awal. hehee..
kalo gitu mulai sekarang aku pesen buat jadi dokter anakku 4-5 taun lagi. :p

cici pratama said...

semangat bu dokter :D
i am so proud of you...

Meta Hanindita said...

@Anindita : Gimana kalo nikah dulu skrg?:p

@cici: Makasiii:D

Enny Ernawati said...

kunjungan perdana nih mb..salam kenal ya.. :)

@yankmira said...

cup cup..peluk dulu deh. aku termasuk yaa sangat menghargai profesi dokter, sebagai emak2 yang awam ilmu kedokteran, justru dokter lah jembatan antara dunia kita. kalau ada orang yang berfikir seperti yan ditulis, yaah.. itu kembali ke diri masing2 deh ya,s etiap dokter juga sepertinya beda2 ya. yang penting ambil baiknya, kalau kurang puas, ga usah ngomong yg ga baik, malah jadi dosa. semangaaat

etyabdul said...

Salam kenal bu dokter Meta
Hmm,jd siapapun sepertinya memang akan selalu ada yang pro dan kontra ya, ada bisa memahami ada yang tidak.ya, setiap org punya persepsi berbeda ttg sesuatu.jadi ya sudahlah do the best aja...semangat untuk terus mengabdi!

Meta Hanindita said...

@Enny, Yankmira, etyabdul: salam kenal ya emak2:D

Makasih tanggepannya, betul sekali yang penting niatnya baik kan yaa. Masalah disalahartikan org lain ya udah:D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...