Friday, September 27, 2013

Fresh From The Oven

Ihik *terharuceritanya*, Alhamdulillah, akhirnyaaaa... setelah berkali-kali revisi, ratusan email, ratusan lembar kertas buat ngeprint, tetesan keringat dan tetesan darah terakhir, terbit juga nih buku terbaru, buku MomLit pertama saya, Dont Worry To Be A Mommy!

Jadi begini ceritanya, *gelartiker*
Waktu buku pertama saya terbit tahun 2008 lalu, saya memang berniat bakal menerbitkan buku lagi. Tapi sama sekali engga kepikiran bakal menerbitkan buku dengan genre MomLit. Dulu sih, rencana saya ingin menerbitkan novel fiksi hasil tulisan dengan teman -halo Monita, El *dadah2*- yang karena kesibukan masing-masing akhirnya jadi terlupakan. Padahal sudah jadi 75%-nya lho, sayang banget ya. Setelah itu, saya punya proyek menerbitkan buku lain yang berhubungan dengan kesehatan dan remaja.

Rencana ini tinggal rencana setelah saya memulai pendidikan menjadi dokter spesialis. Boro-boro bikin buku, bisa tidur beberapa jam dalam sehari saja sudah Alhamdulillah. Bisa makan tepat waktu saja sudah anugerah. Bisa pulang sebelum adzan Isya saja sudah karunia.  Terlupakan lagilah niat membuat buku ini. Tapi memang kegemaran saya curhat colongan menulis tidak bisa dikalahkan dengan kesibukan yang engga karuan itu. Saya tetap menyempatkan diri untuk menulis di blog walaupun terkadang susah juga mencari waktu kosong.

Setelah saya jadi ibu, tulisan-tulisan saya pun rupanya sedikit banyak berubah. Kalau yang dulunya lebih banyak menceritakan kehidupan saya sebagai (calon) dokter, kali ini saya lebih sering menulis tentang motherhood. Khawatirnya saya waktu akan jadi ibu, cemasnya saya saat Naya lahir tidak seperti yang saya bayangkan, sedihnya saya saat Naya sakit, rempongnya belanja kebutuhan bayi, susahnya menyusui dan seribu cerita lainnya. Saya senang berbagi cerita di blog ini karena saya juga merasa banyak terbantu dengan membaca blog emak-emak lain, walaupun silent reader. Setidaknya saya jadi tahu, kalau kerempongan sebagai ibu tidak hanya dialami saya. Lega. Sesungguhnya, menurut saya motherhood adalah 'pekerjaan' penuh tekanan yang dapat dikurangi dengan berbagi pada sesama. Sesama emak maksudnya:p

Saya sering mendapat email dari calon ibu, ibu muda atau bahkan ibu yang engga seberapa muda:p mengucapkan terimakasih karena tulisan blog saya. Ada yang bilang terinspirasi menyusui karena membaca cerita saya, ada juga yang sering bertanya ini-itu soal tumbuh kembang anak, atau bahkan sesederhana bertanya "Diaper bagnya beli dimana?" -emak2 bangetlah ya-:p Padahal mungkin kami engga kenal, tapi mengetahui saya bisa sedikit membantu itu adalah perasaan sangat menyenangkan:) Karena itulah saya memutuskan untuk membukukan tulisan-tulisan di blog ini. Harapannya, semoga dengan terbitnya buku ini, yang merasa terbantu akan jadi lebih banyak lagi, amin!:)

Ini adalah beberapa testimonial dari mereka yang sudah membaca #DWTBAM:

"Menjadi ibu itu memang tidak ada sekolahnya. Jadi buat para ibu baru, belajar "menangani" bayi sendiri didapat dari pengalaman ibu kita, tanya kanan-kiri, baca majalah dan buku. Antara "tanya kanan-kiri" dan "membaca materi yang valid alias sah" nyatanya ada di buku ini. Meta, menuliskan pengalaman pribadinya dengan penuh libatan emosi dipadu dengan pengetahuan sebagai dokter, sekaligus sebagai ibu muda yang otaknya sarat dengan bacaan dan informasi terkini. Sebagai ibu, saya meyakini ia punya pengalaman hidup yang berwarna: dari sisi fisik dan status kesehatannya, kehidupan pribadi, karir dan pekerjaan hingga pergaulan dan lingkup gaulnya, yang membuat tulisan di buku ini "kaya" dan "contented". Ah, seandainya saya bisa menjadi seperti Meta ;)  (Tenik Hartono, CCO/Pimred Ayahbunda, Group Editorial Head Parenting Media - Femina Group).
"Apakah selalu ada kekhawatiran saat memulai perjalanan menjadi seorang Mama? Don't worry to be mommy! Buku ini saya rekomendasikan bagi para Mama 'baru' karena buku ini akan menjadi sahabat yang paling mengerti perjalanan seorang perempuan bertransformasi menjadi seorang Mama. Love this book... no doubt, it's an enjoyable "guide" for new mamas." - (Ninit Yunita, CCO The Urban Mama, penulis)
"Membaca buku ini seperti mendengarkan sahabat bercerita. Bercerita bagaimana ia menjadi seorang ibu. Beberapa bagian pasti akan bikin calon ibu takut dan membatin, "apa benar sesulit itu hamil, menyusui dan punya anak?". Tenang saja, setiap kehamilan, pemberian ASI atau membesarkan anak pasti memiliki cerita yang berbeda-beda. Kesamaannya hanya satu: semua patut dikenang dan dijalankan dengan perasaan yang gembira serta hati yang ikhlas. Meta membuktikannya, and now is your turn!" (Maulita Iqtianti, Managing Editor Mommies Daily)
Buku #DWTBAM bisa didapatkan di toko buku Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas Kharisma atau toko buku besar lainnya se-Indonesia seharga Rp. 40.000,00. Buat yang tertarik dengan diskonan, bisa order online lewat website publishernya.
Atau tinggal kirim email ke orderbuku@stilettobook.com. Ada diskon 25 persen disana:)

Mau yang gratisan? Boleh ikut giveaway di sini, atau khusus anggota KEB boleh ikutan ini. Yang lain tunggu saja yaa. Sebentar lagi bakal banyak kuis berhadiah buku di beberapa radio dan akun twitter. Pasti saya kabari kok;)

Buat yang sudah baca, saya tunggu reviewnya yaa❤️

Thursday, September 26, 2013

Khusus KEB: Giveaway #DWTBAM

Kalau kemarin giveaway buku terbaru saya Dont Worry To Be A Mommy dikhususkan untuk pembaca blog ini, sekarang saya mengadakan giveaway lagi nih, khusus buat Komunitas Emak-emak Blogger:D

Saya punya beberapa merchandise dan buku yang bakal dibagikan gratiiiiis buat emak-emak tercinta hehe. Caranya gampang banget.
1. Peserta sudah tergabung di grup dan merupakan anggota KEB.
2. Sila buat tulisan di blog, sebuah surat untuk ibu. Engga harus ibu kandung sih ya, siapapun yang dianggap ibu juga bisa kok. Misalnya ibu mertua, ibu guru atau tante misalnya:D
3. Surat tidak dibatasi panjangnya. Boleh diberi tambahan foto atau gambar.
3. Setelah selesai, tweet link postingan tadi ke @metahanindita dan @Stiletto_Book, beri hashtag #DWTBAM.
4. Oh ya jangan lupa follow dulu account twitternya supaya gampang konfirmasi alamat pengiriman hadiah kalau menang.
5. Ditunggu sampai 7 Oktober 2013 jam 24.00. Pemenang akan langsung saya hubungi via DM pada 8 Oktober 2013. Good luck!:*

Gampang kan?
Yuk ah, ditunggu link postingannya yaaa mak!:D

Monday, September 23, 2013

Terang Bulan Unyil

Saya engga suka berwisata kuliner. Mungkin terdengar agak aneh ya? Kemanapun pergi, disaat hampir semua orang berlomba-lomba mendatangi tempat makan yang terkenal , saya tertarik sedikit pun juga engga.

Contoh paling gampang saja, saya sudah hampir 13 tahun tinggal di Surabaya. Tapi saya belum pernah sama sekali lho mencicipi rawon setan yang terkenal itu. Pecel Pandegiling yang bolak/i muncul di tv, tahu campur pak Gendut yang konon rasanya maknyus pun belum pernah saya coba. Penasaran? Engga sama sekali tuh:p

Pada dasarnya, saya memang bukan orang yang suka makan sejak kecil. Mungkin itu yang membuat saya 'biasa saja' terhadap makanan yaa. Buat saya, semua makanan itu rasanya enak. Engga ada yang paling atau lebih enak. Apa ada hubungannya sama saya yang engga bisa masak ya?:p Yang membedakan cuma satu, unsur nostalgia di dalamnya.

Kemarin waktu saya mudik ke Bandung, saya sibuk mencari-cari makanan ini itu. Semuanya engga terkenal, apalagi sampai direview di acara pak Bondan Winarno. Tapi karena saya terbiasa makan makanan tadi sejak kecil, semua jadi terasa 'lebih' enak dibanding yang lain:D Coba saja baca postingan blog saya waktu mudik, hampir semuanya jajanan saat sekolah, makanan yang dijual dekat rumah atau masakan langganan saya dulu. Padahal menurut suami yang hobi wisata kuliner, semua makanan yang saya idam-idamkan itu rasanya biasa saja.

Karena engga suka wisata kuliner inilah, kemanapun pergi, saya engga pernah repot-repot mencari makanan khas daerah tersebut. Misalnya saja di Jember ini. Saya sudah 2x ke daerah ini dan sampai sekarang juga masih engga tahu apa makanan khas Jember:D -Pernah dengar katanya Rujak Soto ya? Engga pernah lihat penampakannya juga sih-

Anyway, di dekat rumah sakit tempat saya bekerja ada penjual makanan kecil 'Terang bulan unyil'. Yang pertama kali meminta saya membeli jajanan ini adalah Naya waktu ikut ke Jember beberapa bulan lalu. Rasanya sih Naya memang menuruni kegemaran ayahnya berkuliner.
Surprisingly, setelah saya coba, rasanya enak lho! Harganya murah meriah, dan tersedia dalam berbagai rasa.

Saya sendiri membelikan Naya rasa cokelat keju, yang dalam sekejap langsung tandas:D
Porsinya sendiri memang kecil, tapi engga kecil-kecil banget. Buat saya sih 1 buah saja sudah cukup mengenyangkan. Harganya muraaaah, antara seribu sampai seribu lima ratus rupiah saja!
Pantas, antrian pembeli jajanan ini selalu panjang. Jajanan ini pun mempunyai banyak cabang yang tersebar di seluruh Jember.

Buat yang akan bepergian ke Jember, bolehlah Terang Bulan Unyil ini dicoba;)


Thursday, September 19, 2013

Birthday Bash!

Saya ingat, waktu kecil dulu sukaaa sekali dengan ulangtahun. Suasana yang meriah dengan balon berwarna/i, lagu anak, teman-teman yang datang memenuhi undangan, kue ulangtahun bergambar tokoh favorit, dan tentu saja hadiah yang beranekaragam.

Karena itulah, saat Naya akan berulangtahun yang pertama, saya berpikir untuk merayakannya secara besar-besaran. Maklumlah, namanya saja yang pertama, tentu saya ingin yang serba spesial. Saya ingin membuat tema ulangtahun, undangan, pinata, dessert table, goodiebag yang lucu, serta memesan kue ulangtahun yang wah.

Suami yang mengetahui niat ini kemudian bertanya 'Buat apa sih gede-gedean? Anaknya juga masih belum ngerti. Yang mau ulangtahun kamu apa Naya? ' Uhuk, saya jadi tersadarkan. Benar juga ya, Naya masih terlalu kecil untuk mengerti. Manalah dia mengerti apa itu pinata, dessert table atau tema ulangtahun? Bahkan justru bisa jadi malah merasa tidak nyaman dengan orang banyak yang datang dan terhitung 'orang baru' untuknya. Lalu apa esensi dari merayakan ulangtahun kalau yang berulangtahun tidak merasa senang?

Tapi saya masih belum menyerah dan browsing ide merayakan ulangtahun supaya tetap terasa spesial. Sampai saya menemukan ide untuk mengundang anak-anak panti asuhan merayakan ulangtahun Naya di rumah makan. Saya merasa ide ini bagus untuk mengajarkan Naya bahwa ada teman-temannya yang tidak seberuntung Naya. Saat saya mulai survey, suami lagi-lagi nyeletuk, "Emang Naya ngerti soal panti asuhan? Boro-boro ngajarin untuk lebih sosial, ngerti juga engga kok." Biarpun awalnya merasa mangkel karena suami protes melulu, saya jadi berpikir lagi. Benar juga ya, rasanya Naya masih belum bisa mengerti soal panti asuhan.

Akhirnya, saya menyerah dan memutuskan untuk merayakan ulangtahun pertama Naya dengan keluarga kecil saja. Orang-orang terdekat Naya sejak lahir. Untuk membuatnya lebih spesial, saya membagikan makanan untuk anak-anak panti asuhan dan goodie bag untuk tetangga dan sepupu yang sebaya. Yah, hitung-hitung membagi rasa syukur dan kebahagiaan kami dengan hadirnya Naya dalam keluarga selama setahun ini. Win-win solution kan ya? Saya senang, karena tetap bisa mencari tema dan goodie bag -emak2 banget deh-. Suami senang, karena pada hari ulangtahun Naya hanya dirayakan dengan keluarga kecil dan bersifat intim.

Tahun berikutnya, ulangtahun Naya pun tidak dirayakan besar-besaran. Hanya saya, ayah, babysitter dan ART saja yang ikut merayakan. Tapi sampai sekarang, Naya sangat mengingat ulangtahun keduanya itu. Saya jadi ngeh, kalau yang berkesan tidak harus selalu besar-besaran. Yang paling penting, dirayakan dengan orang terdekat:)

Ngomong-ngomong soal ulangtahun, tahu dong kalau Ayahbunda akan merayakan ulangtahunnya yang ke-36? Majalah pertama tentang pengasuhan anak di Indonesia yang jadi favorit saya ini merayakannya dengan bagi-bagi hadiah untuk orang terdekatnya, pembaca setia:) Tidak tanggung-tanggung, selama 36 hari penuh berbagai hadiah dibagikan! Ada juga lomba foto ala cover, berhadiah Samsung Galaxy Camera. Sudah ikutan belum?;)

Selamat ulangtahun Ayahbunda! Semoga selalu menjadi majalah pengasuhan anak nomor satu di Indonesia:)

Birthday Bash!

Saya ingat, waktu kecil dulu sukaaa sekali dengan ulangtahun. Suasana yang meriah dengan balon berwarna/i, lagu anak, teman-teman yang datang memenuhi undangan, kue ulangtahun bergambar tokoh favorit, dan tentu saja hadiah yang beranekaragam.

Karena itulah, saat Naya akan berulangtahun yang pertama, saya berpikir untuk merayakannya secara besar-besaran. Maklumlah, namanya saja yang pertama, tentu saya ingin yang serba spesial. Saya ingin membuat tema ulangtahun, undangan, pinata, dessert table, goodiebag yang lucu, serta memesan kue ulangtahun yang wah.

Suami yang mengetahui niat ini kemudian bertanya 'Buat apa sih gede-gedean? Anaknya juga masih belum ngerti. Yang mau ulangtahun kamu apa Naya? ' Uhuk, saya jadi tersadarkan. Benar juga ya, Naya masih terlalu kecil untuk mengerti. Manalah dia mengerti apa itu pinata, dessert table atau tema ulangtahun? Bahkan justru bisa jadi malah merasa tidak nyaman dengan orang banyak yang datang dan terhitung 'orang baru' untuknya. Lalu apa esensi dari merayakan ulangtahun kalau yang berulangtahun tidak merasa senang?

Tapi saya masih belum menyerah dan browsing ide merayakan ulangtahun supaya tetap terasa spesial. Sampai saya menemukan ide untuk mengundang anak-anak panti asuhan merayakan ulangtahun Naya di rumah makan. Saya merasa ide ini bagus untuk mengajarkan Naya bahwa ada teman-temannya yang tidak seberuntung Naya. Saat saya mulai survey, suami lagi-lagi nyeletuk, "Emang Naya ngerti soal panti asuhan? Boro-boro ngajarin untuk lebih sosial, ngerti juga engga kok." Biarpun awalnya merasa mangkel karena suami protes melulu, saya jadi berpikir lagi. Benar juga ya, rasanya Naya masih belum bisa mengerti soal panti asuhan.

Akhirnya, saya menyerah dan memutuskan untuk merayakan ulangtahun pertama Naya dengan keluarga kecil saja. Orang-orang terdekat Naya sejak lahir. Untuk membuatnya lebih spesial, saya membagikan makanan untuk anak-anak panti asuhan dan goodie bag untuk tetangga dan sepupu yang sebaya. Yah, hitung-hitung membagi rasa syukur dan kebahagiaan kami dengan hadirnya Naya dalam keluarga selama setahun ini. Win-win solution kan ya? Saya senang, karena tetap bisa mencari tema dan goodie bag -emak2 banget deh-. Suami senang, karena pada hari ulangtahun Naya hanya dirayakan dengan keluarga kecil dan bersifat intim.

Tahun berikutnya, ulangtahun Naya pun tidak dirayakan besar-besaran. Hanya saya, ayah, babysitter dan ART saja yang ikut merayakan. Tapi sampai sekarang, Naya sangat mengingat ulangtahun keduanya itu. Saya jadi ngeh, kalau yang berkesan tidak harus selalu besar-besaran. Yang paling penting, dirayakan dengan orang terdekat:)

Ngomong-ngomong soal ulangtahun, tahu dong kalau Ayahbunda akan merayakan ulangtahunnya yang ke-36? Majalah pertama tentang pengasuhan anak di Indonesia yang jadi favorit saya ini merayakannya dengan bagi-bagi hadiah untuk orang terdekatnya, pembaca setia:) Tidak tanggung-tanggung, selama 36 hari penuh berbagai hadiah dibagikan! Ada juga lomba foto ala cover, berhadiah Samsung Galaxy Camera. Sudah ikutan belum?;)

Selamat ulangtahun Ayahbunda! Semoga selalu menjadi majalah pengasuhan anak nomor satu di Indonesia:)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...