Tuesday, July 15, 2014

Sudah Sewindu

Sudah hampir sewindu -macam lagunya Tulus:p- saya tidak pernah berlebaran di kampung halaman. Iyaaa, sewindu. Kesibukan yang tidak mengenal liburlah yang membuat situasi seperti ini. Beberapa kali lebaran persis di hari-H saya malah sedang dinas di rumah sakit. Anak sakit kan tidak kenal libur ya?

"Emang ada pasien pas lebaran?"

Eh, jangan salaaaah. Karena semua dokter, klinik dan rumah sakit kecil tidak melakukan pelayanan saat hari raya, rumah sakit terbesarlah yang jadi jujugan orang-orang sakit. Jadi jawabannya bukan sekadar ada, tapi banyak:D

Tahun ini, saya berniat ingin sekali berlebaran dengan mama dan kakak saya. Rasanya rindu benar merasakan lebaran dengan mereka. Dari jauhhhhh hari -akhir tahun tepatnya. Iye emang saya lebay:p-, saya sudah mulai mengincar tiket pesawat Surabaya-Bandung dan merencanakan perjalanan mudik. Karena kebetulan saat itu sedang ada promo, saya langsung kalap membeli 3 tiket untuk saya, suami dan Naya. Saya sudah memperhitungkan jadwal jaga saya dan suami yang -menurut saya- seharusnya sudah jauuuuh berkurang. Jadilah saya sudah gembar/o pada mama kalau akan berlebaran di rumah. Mama menyambut dengan sangat gembira. Mama sudah menyiapkan sprei bergambar Tweety untuk Naya -tahu kan saya ketularan lebay dari mana:p-, membelikan kastengel kesukaan saya, bahkan membelikan Naya otopet untuk dimainkan di Bandung.

Baru seminggu yang lalu saya menerima jadwal jaga untuk bulan ini. Jreeeeeng! Sayang seribu sayang, rupanya lebaran tahun ini saya justru kebagian banyak jadwal jaga. Dua kali lipat dibanding biasanya:@ Salah perhitungan:))))

Lalu bagaimana? Tiket yang dibeli tidak bisa ditukar atau diganti tanggalnya karena promo.Suami pun terlanjur mengurus ijin dari rumah sakit. Saya sempat stress berat lho:)) Bukan karena apa-apa, tapi karena merasa tak tega dengan mama yang begitu bersemangat menyambut anak bungsunya nan kece ini berlebaran di rumah setelah sewindu lamanya. Apalagi setiap menelpon saya, mama mengingatkan ini-itu untuk berlebaran bersama. Contohnya, rencana untuk foto keluarga, rencana untuk bersilahturahmi bersama ke Jakarta dll. Manalah tegaaaaa sayaaaaa:@

Mau tukar jadwal jaga dengan teman pun rasanya tak mungkin. Memang teman yang lain tidak berlebaran juga? Saya pasraaaaah deh, cuma bisa berdoa:D

Alhamdulillaaaaah, Allah Maha Besar dan Maha Mendengar. Hari dimana saya memutuskan untuk pergi ke Bandung sampai pulang dari Bandung rupanya bebas jaga. Allahuakbar! Walaupun cuma beberapa hari, tapi terasa mewah sekali buat saya. Ada konsekuensinya sih, jadwal jaga saya sebelum mudik mepet banget, bisa 3 hari sekali:)))) -Makanya jarang bisa update blog---> alasan-:p
Ya sudahlah yaaa, yang penting mudiiiik! Yayyyy!

Doakan lancar yaaaa<3 data-blogger-escaped-p="">


Sunday, July 13, 2014

Fun Facts;)

Kalau dulu saya pernah menulis 11 hal tentang diri sendiri, kali ini saya ingin menulis 11 hal tentang Naya.

1. Naya super sensitif.
Maksud sensitif di sini bukan bisa merasakan yang gaib-gaib ya:p Kalau yang itu sih wallahualam.
Naya peka sekali terhadap lingkungan sekitarnya. Berlebihan alias lebay menurut saya! Misalnya saja Naya melihat tetangganya menangis. Bisa-bisa Naya sampai tidak tidur semalaman memikirkan kenapa tetangganya menangis. Sampai sekarang pun setiap Naya mau makan, dia akan  bertanya dulu apakah mama, papa, mbak pengasuh sampai ART di rumah sudah makan. Kalau semua sudah makan, baru deh Naya mau makan.

Mau belanja bulanan tapi tidak tahu apa saja yang habis di rumah? Tanya Naya saja. Pasti dia hapal. "Mama, telul habis, kentang habis, sabunnya mbak Siti juga habis, minyak goleng, bawang melah, bawang putih tinggal sedikit, supelpel juga tinggal dikit." Macam emak-emak ya?:p Waktu saya tanya kok Naya bisa hapal begitu? Jawabnya "Iya, halus ma. Kasihan papa engga bisa makan telul kalau habis. -Bapaknya memang pecinta telur- Mbak Siti engga bisa mandi kalau sabunnya habis, dll dll dll." So sweet ya?:')

Saya juga selalu menahan diri untuk tidak ngobrol masalah pasien di rumah sakit dengan suami di rumah, setidaknya tidak di depan Naya. Bukan apa-apa, karena Naya akan bersedih hati dan memikirkan pasien saya tadi -yang bahkan engga pernah ketemu Naya!-,lalu bolak/i bertanya, "Mama, pasien mama yang kejang kemalin gimana? Sudah sembuh? Sudah bangun?" dan percaya atau tidak, moodnya pun jadi berubah tergantung keadaan pasien tadi. Kasihan juga melihatnya memikirkan keadaan pasien saya.

Terlepas dari sisi positifnya, ada juga negatifnya dari ke-oversensitivitas-an Naya. Naya gampang sekali merasa "sakit hati" dan tersinggung. Bagi anak lain mungkin biasa saja, tapi Naya akan mengingat suatu kejadian yang menyinggungnya sampai berbulan-bulan, dan mogok bicara dengan orang yang membuat dia tersinggung. Padahal besar kemungkinan, orang tsb hanya bercanda. Maka dari itu, saya selalu ekstra hati-hati berbicara dengan Naya.

2. Naya punya fokus yang sangat tinggi.
Setiap melakukan sesuatu -apapun-, Naya tidak bisa diganggu gugat. Perhatiannya sangat fokus terhadap hal yang ia kerjakan, sehingga apapun yang terjadi engga bakal bisa mengganggu. Naya juga selalu menyelesaikan semua yang ia kerjakan. Misalnya, bermain congklak/dakon. Saya yang sudah dewasa saja terkadang bosan menunggu sampai biji congklak habis. Tapi Naya sabaaaar sekali menanti sampai permainan selesai. Seandainya saya memintanya memotong permainan untuk mengganti dengan permainan lain, Naya engga bakal mau. Dia bisa lho mengerjakan puzzle berjam-jam. -Sekali lagi- Saya saja yang sudah dewasa malaaaas. Hehe, apa memang saya saja yang pemalas ya:p

3. Naya banyak makan, dan engga pernah pilih-pilih.
Alhamdulillah, tidak menurun dari saya, Naya engga pernah pilih-pilih makanan. Semua yang ada dilahap. Semua jenis makanan diakunya sebagai makanan kesukaan. Mulai buah alpukat, anggur, jeruk, durian, nangka, mangga, pepaya, sayuran brokoli, bayam, kangkung sampai ayam, sapi, udang, ikan semua mau. Sehari Naya bisa makan lebih dari 5x lho! Tapi engga gendut-gendut ya:))) Yang penting sehat ya nak!:)

4. Naya engga suka bermain.
Sejak berusia 2 tahun, Naya benar-benar mogok bermain. Apapun. Boneka, masak-masakan, kasir-kasiran, lego, apa sajalah. Yang dia suka hanya buku dan belajar menulis. Akhir-akhir ini Naya tertarik dengan thinking games -yang sebenarnya untuk anak berusia 6 tahun ke atas- seperti Topple, congklak, Falling Monkeys, dll. Tapi karena lawannya -baca: saya- selalu bisa dikalahkan (bukan sengaja mengalah lho!), rupanya dia bosan dan mogok bermain lagi. Saya masih mencari jenis thinking games lain nih supaya Naya mau bermain. Oh ya, Naya terkadang masih mau bermain di area bermain dimana dia bisa berloncatan trampolin, berayun atau naik kuda. Walaupun engga terlalu lama dan hanya kadang-kadang saja, saya sudah bersyukur sekali. At least, Naya mau.

5. Naya sering meminta namanya diganti.
Naya pintar sekali mengarang nama. Bagus-bagus lho walaupun engga jelas apa artinya. Seingat saya, dia pernah meminta namanya diganti dengan Migiya, Atrisha, Alana, Miru, dan entah apa lagi saking banyaknya:)))

6. Naya punya tanda lahir.
Karena letaknya di wajah, beberapa kali Naya meminta tanda lahirnya dihilangkan. Malu katanya. Untunglah saya punya tanda lahir yang jauhhhh lebih besar di kaki dan bisa dijadikan contoh kalau tanda lahir itu bukan sesuatu yang memalukan. Akhirnya, Naya bangga sekali dengan tanda lahirnya itu.

7. Naya kepo:)))
Mungkin menurun dari saya kalau ini ya:))))) #salamkepo :p
Bukan hanya rajin bertanya mengenai sains yang ada di sekitar, Naya pun engga bisa engga ingin tahu soal apapun yang terjadi. Misalnya saya sedang BBMan lalu senyum-senyum sendiri, Naya pasti langsung merebut smartphone saya untuk melihat apa yang membuat saya senyum sendiri. Begitu pun kalau mendengar saya ngobrol dengan papanya, pasti Naya ikut bertanya. "Si X itu siapa ma? Temen mama di mana? Kampus? Doktel juga? Doktel apa? Punya anak? Namanya siapa? Umul belapa? dst dst" Kepo banget dah!:)))

8. Naya pemalu banget.
Walaupun kalau difoto gayanya numero uno, di rumah pun ngomongnya ga bisa dihentikan, di luar rumah Naya sangat pemalu. Ini sepertinya menurun dari saya #pret :))))
Naya membutuhkan waktu beradaptasi cukup lama dengan lingkungan baru, demikian juga halnya untuk bersosialisasi. Semua akan dia observasi dulu. Kalau menurutnya "orang baru" yang dia amati bisa berinteraksi baik dengannya, baru deh mau mingle. Naya juga engga pede-an, sepertinya karena Naya sangat perfeksionis.

9. Naya perfeksionis. Banget.
Naya seperti "memaksa diri sendiri" untuk selalu menjadi no 1. Ini PR banget nih buat saya-_-". Saking perfeksionisnya, Naya lebih memilih engga mau mencoba hal baru sama sekali lho daripada salah atau kalah.

Pernah suatu hari, Naya meminta ikut lomba mewarna. Tentu saja saya menyambut gembira. Naya bahkan sampai menelpon saya di rumah sakit untuk didoakan.
N: "Mama, kakak mau lomba. Doain yaaa supaya menang."
M: "Kak, engga usah menang juga engga apa-apa, yang penting kakak senang."
N: "Engga mau, maunya menang."
M: "Engga perlu kak. Menang apa engga itu engga penting. Yang penting itu usahanya kakak, dan kakak senang ikutannya,"
N: *diam* "Dadah mama" *tutuptelpon*

Beberapa menit kemudian, pengasuhnya menelepon saya karena Naya menangis minta pulang bahkan sebelum lomba dimulai. Padahal Naya sudah duduk manis di tempat lomba. Di rumah, saya bertanya kenapa Naya menangis dan batal ikut lomba. Jawabnya, "Takut kalah."

Duh, saya langsung sedih seharian mendengarnya. PR buat saya nih, bagaimana mengatur supaya perfeksionisnya Naya bisa diarahkan ke sisi positif.

10. Naya engga bisa diam.
Maksud engga bisa diam di sini adalah baik mulut dan motoriknya. Rumah selalu ramai dengan "kicauan"nya. Kalau sampai tidak ada suara Naya, kami serumah pasti curiga. Jangan-jangan dia lagi ngumpet di tudung saji. Saya pernah panik lho waktu itu, mencari Naya kemana-mana dan tak kunjung ketemu. Untunglah engga berapa lama, terdengar suara unyil nahan tawa:D

Siapalah yang nyangka si unyil ngumpet di sini?-__-"
Motoriknya pun engga bisa diam. Lompat-lompat, memanjat-manjat, menari balet atau apalah pokoknya bergeraaaak teruuus.

11. Naya bawel.
Sejak bayi pun, kemampuan verbalnya sudah terlihat jelas. Apalagi sekarang, Naya selalu berbicara menggunakan kalimat panjang, terkadang menyertakan kata-kata sulit yang membuat saya terkejut melulu. Misalnya konfirmasi, klarifikasi atau istilah lain yang saya juga tak tahu dari mana datangnya,

Contohnya nih, kemarin saat saya omeli karena dia minta es teh kotak milik saya walaupun cuma sedikit.
M: "Kak, jangan minum es teh punya mama terus. Kalau batuk gimana?"
N: "Mamaaaa, jangan khawatil. Sebetulnya minum es teh itu tidak menyebabkan batuk. Minum dingin juga engga. Yang membuat batuk hanyalah satu hal. "*ini beneran engga saya ubah lho, asli Naya ngomongnya beginih!*.
M: "Satu hal? Apa itu kak?"
N: "Kelupuk ma! Kan mengandung banyak minyak."
M: :))))))

Karena inilah, saya seringkali lupa kalau anak saya ini masih berusia 3 tahun. Saat Naya ikut saya mencoblos pun dia engga mau kalah berkomentar.
N: "Mama, olang2 ini pada mau pilih plesiden Indonesia ya?"
M: "Iya kak."
N: "Kenapa ya kok semua sibuk sekali? Padahal kan sudah jelas yang menang yang nomol 2, pak Jokowi." (Saya shocked banget dengernyaaaa! Engga ada koran atau TV lokal di rumah saya, entahlah dengar darimana si unyil ini).
M: "Ya belum tentu kak. Kan tergantung hari ini."
N: "ENgga kok. Yang menang yang nomol 2 ma, liat aja ntar. Mama pilih no 1 ya? Ya gpp sih, tapi jangan sedih ya kalau kalah."
-______________-"

Demikian beberapa fakta soal Naya. Nanti saya lanjutkan lagi kapan-kapan yaaa:D
Btw, setelah saya baca ulang, ternyata banyak yang mirip dengan ciri anak gifted ya?:D

Thursday, July 10, 2014

Guilty Feeling

N: "Mama, semua olang itu halus kelja ya bial dapet uang?"
M: "Iya kak. Mama kerja kan jadi dokter, papa juga."
N: "Kalau keljanya mbak apa? -Babysitter,Red-"
M: "Mbak yang nemenin kakak kalau mama engga ada. Yang nganterin kakak kemana-mana kan?"
N: *tetiba mewek, langsung memeluk saya* "Mama, maaf ya kakak belum kelja jadi engga punya uang buat bayal mama. Nanti kalau kakak sudah besal, kakak kelja yang lajin bial bisa bayal mama, jadi kita bisa sama-sama telus tiap hali."
M: *gantianmewek*

*

N: "Mama, kenapa ke lumah sakit telus? Kakak mau sama mama!"
M: "Mama kan jaga kak. Kasihan nanti anak-anak yang sakit kalau engga ada mama."
N: "Memangnya mamanya anak-anak itu mana? Kenapa harus mama Aya yang jagain? Mama Aya kan mamanya Aya!"
M: "Iya, tapi mama Aya kan dokter. Mamanya yang lain kan bukan."
N: "Ya udah kalau gitu kakak Aya beldoa semoga kakak Aya sakit telus ya!"
M: *meweeeeek* :'(

Percakapan seperti di atas ini adalah salah dua di antara banyak percakapan saya -sebagai ibu bekerja- dengan Naya. Lain kesempatan, pengasuhnya pernah bercerita kalau di tempat kursus musik Naya menangis saat menyanyikan sebuah lagu. Di akhir lagu tersebut, semua anak diminta memeluk mama atau papanya. Naya menangis karena tidak ada mama juga papa yang mengantarkannya ke tempat kursus, sehingga dia tidak bisa memeluk siapa pun.

Sedihkah saya? Tentunya. Saya merasa sedih sekali karena tidak bisa berada di samping Naya 24 jam. Saya merasa sedih tidak bisa menyaksikan perkembangan Naya di kelas musiknya. Saya merasa sedih tidak bisa mengambil raport Naya dan berdiskusi langsung dengan gurunya. Saya merasa sedih tidak bisa mengantarkan Naya mengikuti lomba mewarna. Benar-benar sedih.

Ada kalanya, saya ingin berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya saja. Tetapi, saya merasa menjadi dokter adalah panggilan hati, bukan sekadar pekerjaan atau profesi. Lebih dari itu, menurut saya, dokter adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga.

DI sisi lain, terus terang saya takut Naya justru menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya dibanding saya. Saya takut kelak pengasuhnya adalah orang pertama yang dicari Naya saat sedih atau sakit. Karena itulah, sejak Naya lahir, saya berjanji pada diri sendiri untuk mengatur waktu sedemikian sehingga bisa selalu menghabiskan quality time dengannya. However, for kids LOVE is spelled T-I-M-E:)

Saya memanfaatkan waktu menyusui sebagai bonding time. Sejak bayi, setiap menyusui, saya akan memandang lekat matanya, menceritakan apa saja yang terjadi dengan saya di hari tsb, atau menceritakan dongeng-dongeng lain. Saya ingat betapa excited-nya Naya mendengar semua itu. Kedua matanya berbinar, tangannya menggenggam erat tangan saya dan senyum sesekali muncul di wajahnya.

Saya berusaha membiasakan diri bekerja secara efektif. Saya mengerjakan semua tugas semaksimal mungkin agar tidak perlu membawa pekerjaan rumah sakit ke rumah. Seandainya ada tugas yang belum terselesaikan, saya selesaikan pada saat Naya sudah tidur. Pada saat pulang ke rumah, itulah waktu saya seutuhnya bersama Naya. Kalau mau ngeblog, ya saya kerjakan saat malam setelah Naya tidur. Kalau mau me-time entah sekadar membaca buku atau pijat refleksi, saya lakukan sambil menunggu Naya les. Inilah sebabnya mengapa saya memilih jam siaran subuh. Literally subuh lho! Saya harus berangkat jam 3 pagi untuk siaran mulai jam 4 sampai dengan 7 pagi. Alasannya simply agar kesukaan saya siaran tidak mengganggu waktu saya untuk suami dan Naya, karena jam segitu mereka berdua pastinya masih ngorok:p

Saya juga membiasakan diri menceritakan apapun yang saya alami pada Naya setiap hari. Dengan demikian, Naya tahu apa saja yang saya kerjakan saat tidak bersamanya. Contohnya ya hari ini.
M: "Kak, tadi di rumah sakit ada pasien namanya Bunga. Umurnya sama kayak kakak, 3 tahun. Dia sakit diare. Kasihan sekali, sampai harus diinfus."
N: "Diale itu apa ma?"
M: "Diare itu pup cair gitu kak, sakit perut juga makanya nangis terus."
N: "Telus mama apain?"
M: "Ya diobatin, kak."
N: "Sudah sembuh ma? Kenapa kok Bunga bisa diale?"
M: "Belum. Masih harus bobo di rumah sakit. Mungkin karena kurang bersih, makanya kakak harus rajin cuci tangan."
N: "Iya. Semoga Bunga cepat sembuh ya ma, kasihan di rumah sakit terus engga bisa ke mall." -____-"

Beberapa bonus yang saya dapat adalah menumbuhkan rasa empati pada Naya, plus mengedukasi Naya mengenai kesehatan. Paket lengkap kan:p

Dengan semakin besarnya usia Naya, Alhamdulillah saat ini Naya sudah mengerti benar. Terkadang kalau saya malas-malasan berangkat jaga, justru Naya yang mengingatkan dan menyemangati saya.
"Mama, engga boleh males. Kasihan adik bayi sama anak-anak yang sakit. Ayo belangkat!"
Duh, saya melting banget deh. Tadinya malas-malasan langsung semangat 45:D

Alhamdulillah, saya masih orang pertama yang dicari Naya kalau ada apa-apa. Saya masih jadi orang pertama yang dituju Naya sampai sekarang. (Walaupun sempat juga ngambek beberapa minggu gegara ditinggal dinas luar sebulan ke Soe:))))

Jadi, apakah sebagai ibu bekerja saya merasa bersalah?
Engga. Engga sama sekali, karena walaupun bekerja saya bisa memaksimalkan waktu saya untuk mendidik, merawat dan mengasuh Naya. InshaAllah:)

Saya bangga menjadi ibu bekerja:D

Perjuangan Dokter Indonesia

Halooo:)

Masih pada inget ribut-ribut soal dokter tahun lalu?
Nah, suami saya -yang hobinya memang memvideo atau memotret, sayang obyeknya bukan si istri:p- menggagas membuat video ini agar lebih banyak orang mengerti benar bagaimana perjuangan dokter itu. Yuk dilihat! Kalau mau kasih komentar boleh juga lho, dishare pun silakaaaan:D


Tuesday, July 1, 2014

Lebih Hemat Dengan iPrice

Siapa yang lebih suka online shopping dibanding offline? *tunjukmukasendiri*:))

Saya memang jauh lebih suka berbelanja online daripada offline. Alasannya banyaaaak. Menurut saya berbelanja online lebih praktis, lebih hemat dan lebih gampang. Misalnya saya mencari baju berwarna putih, tinggal search saja di beberapa online shop lewat internet. Saya bisa mencari sambil tiduran, sambil menunggu kemacetan di jalan atau bahkan sambil menunggu Naya selesai les. Kalau sudah ketemu yang sreg, tinggal transfer, tunggu sebentar, datang deh barang yang saya cari.

Bakal lain lagi ceritanya kalau saya mencari di mal. Saya harus menyisihkan waktu khusus untuk pergi berbelanja. Kalau dihitung-hitung, berapa uang parkir selama di mal, belum lagi biaya jajannya -pssst...saya paling engga tahan godaan dari bubble tea. Engga bisa engga beli!-. Itu pun belum tentu barang yang saya cari ada. Kalau engga ada, saya harus mencari ke mal lain. Boros waktu dan biaya deh. Kalau dihitung-hitung, berbelanja online jauh lebih hemat:D

Nah, buat yang suka berbelanja online macam saya, ada tips untuk bisa jauh berhemat nih! Sebelum kalap berbelanja online, klik dulu iPrice Coupons Indonesia. Di iPrice, kita bisa menemukan beragam kupon diskon dari beberapa online shop ternama yang terpercaya. Sebut saja misalnya Zalora, Lazada, Expedia, Qoo10 atau Groupon Indonesia.

Kupon-kupon diskon beberapa online shop ternama. Yay!
Caranya juga engga susah kok! Saya iseng mencoba kupon Zalora Juli 20% tanpa syarat dan ketentuan. Tinggal klik "Dapatkan Kodenya*. Lalu akan muncul kode yang harus dimasukkan. Secara otomatis iPrice pun akan mengarahkan ke situs Zalora. Pilih-pilih deh barang yang dimau.
Saya tertarik dengan shampoo Kuda yang sedang happening banget. Banyak sih dijual di berbagai online shop di Instagram. Tapi saya ragu-ragu dengan keasliannya. Kalau di Zalora kan sudah pasti terpercaya ya:D
Godaan shampoo kuda:p


Kemudian setelah check out, masukkan kode kupon yang tadi didapat dari iPrice. Voila! Harganya langsung berkurang otomatis sesuai jumlah diskonnya:D Hebatnya lagi, kita sama sekali engga perlu bayar sepeser pun lho untuk menggunakan kupon diskon dari iPrice. Jadinya hemat banget kan ya?

Doa saya satu nih sekarang. Ya Allah, berikanlah hambaMu ini kekuatan dan ketahanan mental untuk tidak kalap setiap melihat kupon diskon di iPrice:D

Lumayan banget buat yang lagi cari-cari keperluan lebaran. Apalagi sekarang harga apa-apa naik semua *ratapan emak-emak*. Selamat berbelanja online!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...