Friday, March 28, 2014

Talking Behind My Back?


Malam hari setelah Naya tidur adalah waktu rutin saya membuka laptop dan mengeceki email yang masuk ke inbox satu persatu. Semalam, ada satu email yang membuat saya termenung sesaat. Biasanya email yang masuk berkisar antara dari pembaca blog yang ingin menanyakan sesuatu atau pihak lain yang menawarkan kerjasama pada saya. Selain itu, bisa dipastikan isinya urusan rumah sakit:p

Email yang satu ini agak di luar biasanya. Datang dari seorang mahasiswi yang rupanya pernah rajin mendengarkan siaran saya saat acara curhat-curhatan dimana saya harus memberikan solusi atas masalah-masalah pendengar. Menurut cerita Mawar, sebut saja begitu, ia kebingungan harus bercerita entah ke siapa, dan akhirnya memutuskan mengirim email pada saya. So sweet ya:’)

Mawar bercerita kalau di kampusnya, dia cukup dikenal karena nllai-nilainya yang outstanding. Banyak temannya yang meminta contekan tiap ujian, tapi selalu ditolak Mawar karena menurut hati nuraninya tindakan seperti itu tidak benar. Mawar menulis, kalau saja teman-temannya meminta dia mengajari bahan ujian, dia akan bersenang hati membagi ilmu, asal bukan pada saat ujian berlangsung. Namun karena ini pulalah, banyak teman Mawar yang tidak menyukainya. Ada yang suka sekali ngomongin di belakang –dan yang diomongin banyak engga benarnya-, ada lagi yang suka menyindir, sampai ada juga yang menjauhi Mawar seolah-olah tidak mengenalnya.

Mawar bilang kalau ia sering merenung, bertanya-tanya apa kesalahan yang dia perbuat sampai teman-teman segitunya engga suka pada dia. Mawar sampai bertanya apa ia harus menurunkan nilai-nilainya? Atau mengingkari nurani? Atau bagaimana? Inginnya sih cuek, tapi engga bisa.

Membaca email ini pertama kali membuat saya teringat dengan cerita saya sendiri. Bukan karena nilai saya yang outstanding tentunya:p, tapi entah mengapa saya pun punya teman-teman yang suka membicarakan saya di belakang. (Ps: Saya baru tahu setelah menikah dengan suami. Jadi ceritanya mereka yang hobi ngomongin dan ngejelek-jelekin saya tuh sempat satu ganklah dengan suami. Engga mungkin kan ya suami saya bohong?;p).

Apapun penyebabnya, nilai outstanding, kaya raya, wajah cantik, banyak disukai orang, pintar bernyanyi, hebat dalam mengaji, jagoan menggambar, pakar design, ahli dance atau apalah, saya yakin akan selalu adaaaaaa saja orang yang tidak  menyukai kelebihan kita.Bahkan tanpa kelebihan pun, bisa saja ada orang yang tidak menyukai kita. Namanya juga manusia, urusan suka engga suka mah manusiawi, walaupun sering kali engga bisa dijelaskan. 

Saya engga keberatan juga kok ada orang yang engga menyukai saya. You can not please everyone and you can not make everyone like you, right?:D  Hak semua orang kok untuk menyukai atau tidak menyukai orang lain. Buat saya, engga masalah kok selama fair. Maksud saya, jangan bermuka dua, di depan saya menjadi teman tapi di belakang ngejelek-jelekin habis-habisan.

Sejujurnya, awal-awal saya mengetahui banyak orang yang saya anggap teman ternyata suka ngomongin di belakang, saya down. What have I done to deserve it? Sama seperti Mawar, saya juga suka bertanya-tanya apa salah saya dan harus bagaimana ke depannya.

Bagus juga sih, saya jadi bisa introspeksi. Mungkin saya kurang sensitif dan tak sengaja menyinggung perasaan teman,  mungkin saya jadi sombong, dan sejuta kemungkinan lainnya. Setelah mereview dan yakin seyakin-yakinnya kalau tidak ada satu pun kemungkinan tadi yang pernah saya perbuat, saya bertambah bingung. Jadi kenapa ya mereka kok segitu sebalnya dengan saya?

Saya engga bisa move-on deh. Sibuk mencari-cari alasan pembenaran untuk mereka tidak menyukai saya. Sampai seorang sahabat “menegur” saya dengan cerita perumpamaannya.

“Anggap saja A engga suka dengan B. Apa alasannya ya engga ada yang tahu, wallahualam. Terus B bersedekah jutaan rupiah ke masjid kompleks. Karena engga suka, A ngomongin B, katanya B bersedekah cuma biar dipuji orang banyak. Katanya uang yang B pakai buat sedekah engga halal. Dan sejuta katanya lagi. Sekarang Met, sedekah itu perbuatan baik engga? Tapi di mata orang yang engga suka, bahkan perbuatan baik pun bisa jadi sebaliknya. Terus kamu mau buang-buang waktu cari tahu kenapa A engga suka sama B? Buat apa?”

Saya pikir-pikir, benar juga ya. PR saya ya cuma sebatas introspeksi apa yang salah dengan saya. Kalau ternyata tidak ada, ya sudah. Its their problems, not mine. Ngapain saya yang rempong? Apalagi kalau sampai harus mengingkari hati nurani. Cuek sajalah! Lebih baik tenaga dan energi saya digunakan untuk hal-hal positif. Yang negatif sih engga perlu dipikirin, dilempar ke laut saja biar ketemu cewek matre.

Yaaa tapi kan engga enak Met dijauhin teman, diomongin di belakang.  



Well, a person who talks behind your back not worthy of even being called your friend. Don’t you think? Trust me, just let them go. If you don't get rid of the wrong friends, you'll never make room for the right ones.


A real friend has your back and comes to your defense when the situation calls for it and those who do not, are just not the people you should think of as friends.

Oh ya, apa yang saya lakukan begitu tahu “teman” mana yang pernah ngomongin saya di belakang? Selain cuek, setiap bertemu mereka saya pasang senyum termanis saya, kalau perlu pakai kedip-kedip bulu mata anti badai Katrina

I never worry about those who talk behind my back because I know, they are behind me for a reason;) -probably its because they're too busy talking about me?- I just have to smile to give them my sympathy:p

Thursday, March 27, 2014

The Friendship

Persahabatan antara cewek-cowok itu bullsh*t.

Begitu pernyataan yang saya baca saat sedang blogwalking. Errrr.. benarkah?

Entah mengapa, sejak kecil sahabat saya kebanyakan cowok. Bukan berarti saya engga punya sahabat cewek lho. Ada, tapi engga sebanyak yang cowok.

Menurut blog yang saya baca tersebut, persahabatan cewek-cowok tanpa perasaan terselubung itu impossible, engga mungkin. Eh tapi sejujurnya ya, dari sekian banyak sahabat cowok saya itu, saya engga pernah lho merasa suka sama salah satu atau dua atau lebih diantaranya. Dan setahu saya, kayaknya demikian juga sebaliknya. Hubungan kami memang murni sahabatan saja. Malah terkadang saya atau mereka yang rempong menjadi mak comblang masing-masing:p

Mungkin karena saya orangnya super cuek, sahabatan dengan sesama cewek yang biasanya lebih sensitif membuat saya terkadang engga bisa menjadi diri saya sendiri. Saya harus sangat berhati-hati kalau ngomong atau bercanda. Jangan sampai menyinggung deh. Sementara kalau dengan sahabat cowok, saya bisa bebas merdeka:D Selain itu kegiatan kecewek-cewekan semacam nyalon bareng, make up night, atau window shopping bersama agak kurang menarik buat saya. Kalau sama sahabat cowok, sekedar nongkrong di teras rumah sambil bercandaan saja sudah cukup:)))

Selama kuliah, saya punya sahabat cowok. Ada banyak sih, ada 8 orang. Semua cowok, kecuali saya. Di antara ke-8 orang tadi, ada satu yang paling dekat dengan saya. Saking dekatnya, semua orang mengira kalau kami pacaran. Bahkan beberapa cowok yang pernah mau mendekati saya sampai minta ijin dulu ke dia. Ngalah-ngalahin kakak saya sendiri deh, padahal saya dan kakak kandung juga satu kampus dan satu kelas:p

Saya sih cuek saja dibilang begitu, karena memang engga benar. Suka? Ah boro-boro, dia ini galak banget sama saya. Hobinya ngomel. Mulai karena rok yang saya pakai kependekan, siaran saya terlalu malam, sampai jadwal syuting saya yang terlampau penuh -katanyaaaa, menurut saya sih engga-:p  Sahabat saya ini juga yang jadi komentator di awal-awal saya siaran radio maupun TV. Jangan dikira komentarnya bagus melulu lho, kadang pedas banget:')

Mama saya sangat percaya sama dia. Kalau saya minta ijin untuk pergi ke luar kota misalnya, mama pasti bilang "Kata dia gimana?" . Jadilah sebelum meminta ijin apapun pada mama, saya merayu dia habis-habisan dulu supaya ikut membujuk mama. Kadang saya sampai berpikir kalau dia ini yang anak kandung mama saya, bukannya saya-_____-"

Waktu lulus dokter dan akan daftar spesialisasi, saya sempat galau gegara si sahabat. Ceritanya saya ingin mengambil pediatri, tetapi sahabat saya bilang "Yakin mau ambil anak? Sibuk lho! Kalau kamu jadi ppds anak nanti engga bisa siaran, syuting lagi. Ambil kulit aja deh, enak kan, masih bisa ngapa-ngapain."

Tapi karena memang suka anak-anak, saya tetap mendaftar mengambil pediatri. Setelah diterima dan menjalani masa PPDS, saya masih bisa siaran dan syuting, jadilah tiap siaran atau syuting saya foto lalu saya kirimkan ke dia. Ketika buku saya terbit , saya kirimkan foto covernya lewat email ke dia dengan note singkat, dari PPDS pediatri, BUKAN kulit:p

Sewaktu saya pertama kalinya dekat dengan cowok -yang sekarang jadi suami:p-, sahabat saya inilah orang yang pertama kali saya beritahu. Tumben-tumbenan, kalau biasanya adaaaaaaa saja komentar kurang darinya tentang cowok yang sedang mendekati saya, waktu sama suami saya, si sahabat langsung meng-ACC:D Mungkin itu juga yang membuat mama dan kakak saya langsung meng-ACC pula.

Sampai sekarang, saya sudah bersuami dan punya Naya, kami masih berhubungan baik. Saya masih sering cerita-cerita, masih sering BBM-an dan masih suka cela-celaan. Suami jealous? Engga tuh, karena suami tahu bagaimana hubungan kami jauuuuh sebelum menikah. Ah ya, si sahabat ini juga -akhirnya- akan menikah weekend ini. Saya ikut bahagia deh! Semoga langgeng, bahagia selalu sampai akhir masa ya pret!:D

Jadi benarkah persahabatan cewek-cowok itu impossible? ENGGA! Kami buktinya:D




Wednesday, March 26, 2014

Cover Majalah Dokter Kita

Akhir tahun lalu, sebuah pesan lewat WhatsApp masuk ke handphone saya. Mbak Titis, pengirim pesan memperkenalkan diri dari majalah Dokter Kita dan menawari saya pemotretan untuk dijadikan cover majalah tersebut. Eh? Saya? Engga salah ya? Saya kan bukan artis. Terkenal saja engga. Engga kebayang oplah majalahnya kalau saya yang jadi cover:))))

Anyway, karena kesibukan yang engga memungkinkan, saya hanya bisa mengiyakan tawaran tersebut tanpa dapat menjanjikan waktu. Eh kebetulan saya ingat kalau pada bulan Maret akan mengantarkan mama check-up tahunan di Jakarta. Ya sudahlah, sekalian saja kalau begitu. Janji pun dibuat, walaupun masih jauh-jauh hari sebelumnya.

Saya diminta untuk menyiapkan property pemotretan sendiri -untungnya dibantu mama saya yang super fashionable itu-. Kalau saya yang memilih waaaah bisa kacau balau kayaknya hahaha.

Pada hari-H, saya tiba di studio pemotretan tepat waktu. Untung lokasinya mudah dijangkau, kalau pakai acara nyasar kan agak ribet ya. Di sana, saya segera dimake-up oleh sang make up artist, mbak Riris yang asyik banget. Gosip deh ya kami:))) Saya juga mengobrol dengan mbak Titis dan mbak Ratna sekalian di-interview. Sehabis make up, pemotretan dimulai. Mungkin karena pada dasarnya saya banci kamera:p, pemotretan berlangsung lancar dalam waktu singkat. Total saya berganti baju empat kali, dan menyudahi sesi pemotretan selama kurang lebih setengah jam.

Ini adalah preview cover majalah yang dikirim ke saya. Majalahnya sendiri baru terbit awal bulan depan, edisi bulan April 2014. Beli yaaaaa:D
Kata mama, foto saya di sini kurang "dokter", sepertinya mungkin saya harus pakai jas putih ya biar dokter banget:/

Kata Naya begini "Mama kok cantik sekali di sini, tapi sekalang kok engga cantik lagi?" :))))
NAYOOOOOOOOO!>:/

Terimakasih majalah Dokter Kita!:)

Counting Down to Naya's Birthday Bash

Sejak bulan November 2013, saya sudah mulai merencanakan merayakan ulang tahun Naya yang ke-3. Selain lebay, saya juga merasa lebih aman kalau punya waktu panjang mengurus ini-itu. Maklum, jadwal saya suka engga bisa ketebak sih:(

Seperti tahun-tahun sebelumnya, awalnya pun saya berencana hanya membagikan goodie bag dan bento saja untuk keluarga dan teman-teman sekolah Naya. Tetapi, rupanya anak gadis saya ini ingin sekali ulang tahunnya dirayakan, melihat teman-teman yang lain.

"Ma, kapan kakak Aya ulang tahun? Nanti di KFC ya kayak *****, bial nanti ada chaki sama balonnya."

Begitulah kira-kira bunyi requestnya. Karena saya pikir Naya sudah cukup mengerti, oke deh, bolehlah untuk tahun ini ulang tahunnya dirayakan. Yang pertama saya pikirkan, dimana?

Tempat paling ideal menurut saya sebenarnya adalah di rumah. Tapi, rumah saya kecil mungil, engga mungkin deh mengundang banyak anak kecil untuk merayakan ulang tahun Naya. Yang paling mudah adalah restoran fast food. Banyak paket yang ditawarkan, dan sangat praktis. Tinggal datang, bayar, selesai. Mulai MC, tart, goodie bag semua sudah disediakan. Hanya saja, setelah berdiskusi dengan suami saya, kami memutuskan untuk mencari tempat lain yang makanannya bukan fast food. Kami ingin sekali menunjukkan bahwa merayakan ulang tahun di tempat selain restoran fast food juga bisa fun kok:)

Akhirnya saya si OCD ini survey di macam-macam tempat termasuk playground macam Chipmunk dan FunWorld. Tetapi, pilihan saya jatuh pada Wins Disc, Children Party Palace yang letaknya tidak jauh dari rumah. Selain karena letaknya yang dekat, di Wins Disc ini banyak sekali permainan yang bisa digunakan tamu-tamu undangan. Tempatnya luas, bersih, nyaman, dan memiliki tempat parkir lumayan luas. Setelah tanya-tanya, cocok dengan harganya, saya booking tempat ini untuk ulang tahun Naya.

PR saya selanjutnya adalah menentukan tema. Buat saya sih yang paling gampang adalah menggunakan tema karakter kartun seperti Mickey Mouse, Princess Sofia atau Pooh supaya lebih gampang mencari printilannya yang pasti gampang ditemukan. Saya menawarkan tema Princess Sofia untuk Naya yang segera ditolak mentah-mentah. "Kakak kan engga suka Princess Sofia maaa! Kakak sukanya ballelina!"


Ballerina? Di mana saya bisa menemukan pernak-pernik ballerina? Susah banget:'( Tapi untung waktu yang tersedia masih cukup lama sehingga saya putuskan untuk membuat sendiri. PR banget ya kak Naya!:))))

Saya mendesign undangan bertema ballerina, mencetak stiker label untuk kue dan dessert table sendiri. Untuk goodie bagnya, saya memesan tas tote kecil bergambar ballerina untuk teman cewek, dan anak cowok untuk teman cowok.

Tempat selesai, tema beres, goodie bag kelar, tinggal -yang paling penting!- menentukan jumlah undangan untuk menentukan jumlah paket katering. Ini agak sedikit repot yaaa. Saya inginnya mengundang teman seumuran Naya, teman sekolah, les balet dan keluarga. Tapi saya juga ingin mengundang teman-teman dekat saya dan suami yang punya anak seumuran dengan Naya. Karena itulah jumlah undangan yang tadinya direncanakan hanya 30 anak membengkak menjadi 60 anak. Tanggal yang saya pilih kebetulan adalah long weekend, sehingga saya deg-degan juga apakah yang bisa datang banyak atau engga. Saya segera menambahkan RSVP di undangan Naya supaya yang menerima bisa segera merespon bisa datang atau tidak.

Sayangnyaaaaaaa, hanya sedikit yang memberikan respons terhadap RSVP saya tadi, Sepertinya agak kurang hits yak RSVP di kalangan emak-emak Surabaya:))))

Yah saya dag-dig-dug saja deh semoga jumlah undangannya pas seperti yang diharapkan:D

Saya ikut memesan hidangan yang akan disediakan katering. Ini semua saya kerjakan sedikit-sedikit. Harap maklum, berhubung kerempongan  di rumah sakit, saya memang harus mencicil PR satu-satu. Apalagi beberapa bulan terakhir ini stase saya sedang berat-beratnya. Mau nangis deh rasanya *lebay*
Menggunting label kue Naya misalnya, saya lakukan di malam hari sambil mengerjakan revisi statistika penelitian. Rempong bener deh:)))

Semoga lancar kelak acaranya yaaa! Saya update secepatnya:D

Monday, March 24, 2014

Tiga Tahun Lalu

22 Maret 2011
Saya sedih luar biasa. Mama yang selama ini menemani saya di rumah sepanjang kehamilan bilang harus pulang sebentar. "Nanti mama dateng lagi bulan depan ya waktu kamu mau melahirkan." Begitu hibur mama. Entah karena hormon kehamilan atau memang dasarnya cengeng, saya menangis. Enggan ditinggal mama. Saya sudah beberapa minggu tidak bisa melihat, hanya bayangan yang bisa tertangkap. Muntah-muntah yang kata orang akan membaik di trimester kedua kehamilan justru bertambah parah. Saya juga sulit tidur. Begini salah, begitu salah. Rasanya kepanasan terus, dan bolak/i ke kamar mandi untuk muntah atau pipis. Suami sedang bertugas di stase yang luar biasa sibuk, kami hampir tidak pernah bertemu karena dia pergi subuh datang malam hari. Saya kesepian, bosan dan takut. Takut kalau ada apa-apa dan tidak ada orang di rumah. Lebih tepatnya, tidak ada mama.

Saya ingat beberapa minggu yang lalu kesulitan bernapas karena sesak. Saya ingat juga harus bolak/balik ke rumah sakit karena perdarahan. Berulang kali pula saya pingsan di awal kehamilan. Syukurlah memasuki minggu ke-30, sesak yang saya rasakan membaik. Echocardiography untuk memeriksa fungsi jantung pun sudah dinyatakan bagus. Tapi berdasar hasil USG 4D terakhir, air ketuban saya dikatakan menipis, sehingga kalau tidak bertambah setelah minum banyak, harus dioperasi.

Saya berdoa tak henti-hentinya agar tidak harus melahirkan prematur. Saya sering melihat bayi-bayi prematur di rumah sakit tempat saya bekerja. Begitu rentan, begitu rapuh. Semoga bayi yang kelak saya lahirkan engga prematur. Amin. Begitu doa saya selalu.

Kami baru saja pindah rumah. Barang-barang masih berantakan bertebaran disana-sini. Berpuluh dus bahkan belum dibuka, masih teronggok di sudut-sudut rumah. Satu-satunya orang yang menemani saya adalah mbak Sum, ART 15 tahun yang baru bekerja pertama kalinya. Dan satu-satunya hiburan saya adalah smartphone yang saya pegang dengan jarak kurang dari 10 cm agar terlihat.

Malam itu, saya sibuk BBM-an dengan Wida, teman saya yang sama-sama sedang hamil nun jauh di Australia sana. Kami sama-sama engga bisa tidur. Saya ingat kami BBM-an sampai jam 4 pagi waktu itu. Saya ingin sekali makan sambal bu Rudy, ketularan dia:))) Kemudian suami mengingatkan saya harus kontrol jam 9 pagi sehingga harus segera tidur.

23 Maret 2011
Saya bangun dengan malas. Sejujurnya saya malas sekali datang kontrol ke Sp.OG. Perasaan rikuh, deg-degan, malas semua campur jadi satu. Tapi suami saya mengiming-imingi sambal bu Rudy setelah kontrol. Jadilah semangat juga. #mureeeeh:))))

Pagi itu saya sudah agak khawatir. Bayi di kandungan saya yang biasanya jumpalitan engga karuan tetiba diam saja. Tidak terasa bergerak. Tapi waktu itu saya pikir karena saya kurang tidur, mungkin saja sekarang si bayi lagi tidur tenang.

Sesampai di poli untuk USG 4D, terlihat air ketuban saya habis. Tes NST yang dilakukan menunjukkan gerak bayi mulai menurun hingga saya harus segera dioperasi. Hari itu juga. Saking bingungnya, saya speechless. Engga tau harus ngapain, saya malah ketawa-ketawa dengan suami yang sama paniknya. Kami belum booking kamar di RS, belum ada babysitter, belum siap sama sekali. Saya langsung menelpon mama yang engga kalah paniknya. Beliau baru saja tiba tapi harus segera kembali ke Surabaya.

Setelah opname, saya bersiap-siap untuk operasi. Saya takut. Seumur-umur, saya belum pernah dioperasi atau opname. Lebih takut lagi saat tim dokter anestesi yang pre-op menunda operasi saya keesokan paginya karena harus melakukan pemeriksaan lebih mendalam lagi terhadap jantung saya. Saya super khawatir dengan bayi yang saya kandung. Apakah dia baik-baik saja? Kenapa tidak bergerak?

Saya ingat semalaman penuh menangis. Suami yang -akhirnya ya:p- menemani menenangkan saya tapi saya tahu kalau dia pun sama khawatirnya dengan saya. Pada akhirnya, saya hanya bisa berpasrah pada Yang Di Atas.

24 Maret 2011
Pagi-pagi, setelah solat Subuh, saya dipersiapkan untuk operasi. Memasuki kamar operasi yang sungguh familiar tambah membuat saya panik. Saya intip monitor di sebelah yang menunjukkan tensi saya lebih dari 160mmHg/120mmHg. Saya lihat kesiapan inkubator dan oksigen untuk bayi. Semua sudah oke. Tepat jam 8 pagi, operasi dimulai. Saya deg-degan minta ampun. Terutama ketika suami yang ikut mengoperasi menjelaskan apa-apa yang dia lakukan (saya yang minta). "Buka fascianya dulu ya." "Ini sudah kelihatan bayinya, sungsang." bla bla bla. Sampai ke "Bayinya sudah keluar, terlilit tali pusar 3x. Ketubanmu memang habis.". Jantung saya langsung mencelos. Saya perhatikan jam di dinding, menghitung detik demi detik. Kenapa bayi saya lama sekali engga menangis? Saya lihat bayi saya dibawa ke inkubator, biru. Alhamdulillah, tak seberapa lama setelahnya, terdengar juga tangisannya. Begitu keras, dan merdu di telinga saya:p

Dokter anestesi menawarkan untuk menidurkan saya tapi saya tidak mau karena ingin segera menyusui bayi saya. Sebetulnya, ada beberapa alternatif nama untuk bayi ini. Yang pertama Alaina, Marchie, atau Nayara. Saya masih belum bisa memutuskan memillih yang mana. Saya minta suami untuk segera ke NICU mengadzani bayi kami dan memintanya memotret. Begitu melihat foto perdananya yang usil, saya lagsung memutuskan sepertinya nama Nayara yang paling cocok untuknya:D

Drama ini masih belum usai karena dilanjutkan dengan drama selanjutnya berjudul menyusui serta hiperbilirubin yang sukses membuat saya Baby Blues Syndrome:))) Alhamdulillah semua drama, sinetron, FTV apalah itu usai juga:)))

24 Maret 2014
Selamat ulang tahun ke-3 Arshiya Nayara Avanisha Nugroho, pemicu detak jantung, penebar semangat, pembuat kebahagiaan kami. Semoga selalu sehat, jadi anak solehah, kebanggaan kami, pintar, ceria dan mau main biarpun jarang -eaaaa hidden agenda;p- dan kelak tercapai cita-citanya jadi plopesol sepesialis anak:)))
Anak unyil yang semalem ga mau bobo karena too excited mau happy birthday, bangun tidur langsung loncat pake topi minta tiup lilin, biarpun masih piyamaan, bau iler dan belum mandi:))

We love you!:*


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...