Saturday, October 6, 2012

Diare Pada Anak

Coba tebak, kasus apa yang kejadiannya engga kenal musim? Pasti adaaaaaa aja setiap saat. Apalagi kalu musim, waah tambah banyak banget. Yes,  diare! KIta bahas sedikit yukkk..

Apa sih diare itu?
Diare adalah kondisi dimana anak BAB dengan konsistensi lembek atau cair, dan frekuensinya lebih sering (biasanya 3x atau lebih) dalam sehari.

Kenapa bisa diare?
Secara klinis, penyebab diare ini bisa dikelompokkan menjadi 6 golongan besar. Infeksi (virus/bakteri/parasit), malabsorbsi, keracunan, alergi, imunodefisiensi, dan sebab lainnya, Tapi yang paling sering sih karena infeksi.

Apa saja jenis diare?
Ada 2 macam, akut berlangsung kurang dari 14 hari. Kronis, berlangsung lebih dari 14 hari. Disebut juga dengan diare persisten.

Yang paling 'ditakutkan' dari diare adalah apabila anak jatuh dalam keadaan dehidrasi. Nah keadaan dehidrasi ini sendiri dibagi menjadi 3 macam. Tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan/sedang serta dehidrasi berat. Kenapa harus dibagi seperti itu? Karena terapi yang diberikan kelak akan berbeda untuk setiap kondisi dehidrasi. Gitu yaa..

Nah, terkadang orangtua suka 'parno' sendiri. Anaknya diare, engga dehidrasi, tapi orangtua (biasanya ibu sih ya:p) sudah gaduh gelisah karena merasa anaknya dehidrasi berat. Tapi ada juga lho, orangtua yang anaknya sudah dehidrasi berat masih santai-santai saja karena engga tahu anaknya dehidrasi berat. Lah, terus bagaimana kita bisa mengetahui derajat dehidrasi anak?
Derajat dehidrasi.
Turgor yang dimaksud di atas bisa dicoba dengan 'mencubit' kulit di daerah perut. Apakah kembali segera, lambat atau malah sangat lambat.

Bagaimana mencegah dehidrasi sebelum dibawa ke dokter?
Kasih oralit. Kalau engga ada di rumah, boleh sementara dikasih air teh, air putih (yang matang ya, jangan air kran:p), kuah sayur, bahkan air tajin pun boleh.

Ada program pemerintah untuk menuntaskan diare pada anak. Namanya Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare). Langkah-langkah tsb adalah:
1. Berikan oralit
2. Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan ASI dan makan,
4. Berikan antibiotik selektif, hanya untuk infeksi bakteri.
5. Nasihat pada ibu/keluarga. Nasihat tentang tanda dehidrasi, bagaimana menjaga kebersihan supaya mencegah diare, dll.

Bagaimana cara pemberian oralit?
Sebungkus oralit dimasukkan dalam segelas air matang (200cc). Untuk anak kurang dari setahun diberi 50-100cc cairan oralit tiap BAB. Yang lebih dari setahun boleh diberi 100-200cc setiap kali BAB.

Zinc itu apa sih? Penting ya dikasih? Saya engga mau ngasih obat banyak-banyak ke anak saya dok. *Rum mode on*
Ya, harus. Zinc adalah salah satu zat gizi mikro yang penting untuk anak. Waktu diare, zinc pasti akan hilang atau menurun jumlahnya. Makanya, pada anak yang diare, jumlah zinc harus diganti. ZInc ini akan membantu penyembuhan diare serta menjaga agar anak tetap sehat.

Kenapa harus 10 hari dok? Anak saya sudah sembuh kok baru 5 hari. Boleh engga diteruskan zinc-nya?
Jangan distop sebelum 10 hari ya. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap kemunginan berulangnya diare 2-3 bulan kedepan. Selain itu, pemberian zinc selama 10 hari terbukti membantu memperbaiki mukosa usus yang rusak.

Apa sih efek sampingnya zinc?
Sangat sangat sangat jarang dilaporkan. Tapi pada beberapa anak biasanya bisa terjadi muntah. Sebenarnya kalau diberikan dalam dosis yang benar, engga bakalan muntah kok:D

Emang dosisnya berapa dok?
Untuk bayi kurang dari 6 bulan diberi 1/2 tablet alias 10 mg/hari. Untuk yang sudah lebih dari 6 bulan diberi 1 tablet atau 20 mg/hari. Boleh dilarutkan kedalam air matang/ASI lho!

Katanya ASI bisa menyebabkan diare ya dok?
Justruuuu, ASI dapat mencegah diare. Jadi jangan stop ASI saat anak diare ya. Teruskan ASI, dan jangan juga batasi makanan saat anak diare. Lebih banyak makanan akan membantu mempercepat penyembuhan dan pemulihan:D

Apa semua diare harus diberi antibiotik?
Nope. Hanya jika ada indikasim seperti diare berdarah atau karena kolera atau disertai penyakit lain.

Boleh dikasih obat anti diare dok?
Tidak boleh. Jadi pada waktu anak diare, ada peningkatan pergerakan usus untuk mengeluarkan kotoran atau racun. Obat anti diare akan menghambat gerakan tadi sehingga kotoran yang seharusnya dikeluarkan malah dihambat untuk keluar. Obat anti diare juga bisa bikin komplikasi yang disebut prolaps. Ususnya terlipat/terjepit. Ini bahaya banget lho!

Demikian sekilas mengenai diare pada anak. Semoga berguna ya!

Friday, October 5, 2012

Ayahbunda, My Parenthood Dictionary

Saya kenalan dengan Ayahbunda sejak belum bisa membaca. Mama langganan sejak hamil kakak (beda umur setahun) sampai saya masuk SD. Setelah itu hubungan saya dan Ayahbunda masih berlanjut karena tante hamil dan memutuskan langganan sampai keponakan 5 tahun. Saya ingat dulu suka mengarang cerita karena belum bisa membaca tiap melihat Buncil. Bahkan menurut mama, gambar pertama saya -yang jelas:p- mencontoh gambar di Ayahbunda. (Masih disimpan lho!)
Mencontoh Buncil:D
Hubungan saya dan Ayahbunda sempat 'putus' dan nyambung lagi saat ibu kost waktu kuliah ternyata berlangganan. Ketika itu saya lebih suka melihat foto bayi ketimbang 'serius' membaca artikelnya.

Selepas kost dan menikah,hubungan saya dan Ayahbunda terputus lagi. Waktu itu saya belum berencana hamil dan sibuk melanjutkan spesialisasi. Saat pertama kali tahu hamil, saya panik banget. Tinggal berjauhan dengan mama membuat saya takut kalau engga bisa menjadi ibu yang baik. Memang sih sekarang komunikasi bisa bikin jauh jadi dekat, tapi sungkan juga kalau membangunkan mama tengah malam karena sesuatu.

Saat saya bicarakan kekhawatiran ini,mama santai sekali, “Sudah, langganan Ayahbunda saja. Dulu mama diajarin Ayahbunda kok ngasuh kamu,”(Ibunya mama meninggal sebelum saya lahir. Sedangkan nenek dari papa sakit saat saya lahir dan meninggal 2 tahun kemudian.).

Mendengar itu, engga pakai babibu, saya langsung langganan Ayahbunda. Sampai sekarang:D

Kalau dulu yang ditunggu Buncil, sekarang semua rubrik Ayahbunda saya nantikan. Rasanya, Ayahbunda sudah seperti parenthood dictionary yang punya jawaban semua pertanyaan ibu baru. Apalagi setelah ada website, wah makin cinta! Mencari informasi terasa gampang. Setiap bingung, tinggal search, keluar jawabannya. Saran mama emang paling bener deh:D

Pelajaran pertama dari Ayahbunda adalah pos dana. Saya sering menyalin resep untuk dimasak oleh ART:p sebagai menu Naya. Saya juga mengikuti "saran" merangsang Naya mendengarkan musik, ini hasilnya:


                                                     Naya usia 8,5 bulan:D

Dari semua itu, saya ingin berterimakasih pada Ayahbunda yang saya anggap pendukung menyusui. Tips menyusui post Caesar dan tips menyusui bayi prematur saya dapat dari Ayahbunda. Memang Naya lahir prematur dengan Caesar karena riwayat saya hipertensi, hipoalbumin, dan kelainan katup jantung hormonal,sungsang, terlilit tali pusar 3x dan ketuban habis. Saya juga ingat beli perlengkapan menyusui berdasar list di Ayahbunda.


Alat 'perang' menyusui.
Saat baby blues syndrome, saya membaca emosi ibu sangat mempengaruhi ASI. Tidak mau emosi berlarut sampai ASI surut, saya berbenah diri. Saya mengusahakan produksi ASI banyak, dengan memakan segala galactogogue.

Ketika cuti selesai, saya khawatir tidak bisa menyusui Naya lagi. Karena membaca ini, saya percaya pasti bisa. Benar banget kata lagu, “You will when you believe”. Alhamdulillah Naya lulus ASIX:)

Setelahnya, jangan dikira menyusui jadi lebih lancar lho!  Saya hampir menyerah gegara merasa waktu kerja panjang dan mobilitas tinggi. Untung ada ini. Engga kerasa, sekarang sudah 18 bulan menyusui, insyaAllah sampai 2 tahun.

 



Terimakasih ya Ayahbunda, kamus-orang-tua yang membuat saya pede menjadi ibu. Terimakasih atas semua informasi yang sudah saya anggap 'wejangan' selama ini. Terimakasih sudah menjadi salah satu supporter saya dalam menyusui.

Happy belated birthday Ayahbunda, my parenthood dictionary!

Semoga tetap menjadi yang terdepan dan -tentu saja- yang terbaik!

*muah*


Wednesday, October 3, 2012

Belajar Khusnudzon

Pernah engga sih baca twit dari seorang emak nyinyir 'mengadu' soal tetangga, saudara, keponakan, atau anak-orang-engga-kenal-sekedar-liat aja ke admin satu account yang berhubungan dengan parenting?

Misalnya nih, bolak-balik saya membaca twit model begini:

"Ih min, masak anak tetanggaku 7yo masih aja minum susu. Jadi deh tu bocah sakit-sakitan melulu, masa bulan ini aja udah ngamar 2x"

"Kemarin ngeliat ponakan kena diaper rash parah min! Ga tega liatnya, ibunya sih ngasih dispo melulu"

"Masa min, anak temenku dari lahir engga disusuin, malah langsung dikasih sufor. Ih tega bgt sih."


Dsb dsb dsb. Pernah?
Hayooo ngakuuuu, pasti pernah juga deh kayak gitu. Kalau engga ngetwit, seengganya mbatin deh:p

Saya ngakuuuu! Saya-dulu-juga gitu kok:p sampai saya mengalami sendiri berinteraksi dengan pasien-pasien dan keluarganya.

Misalnya saja, beberapa saat yang lalu saya kedatangan seorang pasien, bayi cantik yang sebut saja namanya Ria.

Ria, berusia 4 bulan dan dikonsulkan ke saya karena diare kronis. Diarenya sudah berlangsung lebih dari 2 minggu, dan sudah bergonta-ganti susu. Segala macam susu formula sudah pernah dicoba mulai dari yang murah sampai mahal sekalipun.

Sang ibu berpakaian rapi, memakai dress pink yang dipadu hijab two-tone abu dan ungu. Aroma tubuhnya wangi parfum white musk. Saya intip tas tangan yang dibawanya. Saya kenal betul brand tas tadi. Memang bukan yang very high class, tapi saya tahu bahkan yang KW saja harganya ratusan ribu. Saya yakin ibu yang saya hadapi ini bukan berasal dari kalangan bawah.

Karena Ria masih dalam masa ASIX, tentu saja, pertanyaan pertama saya pada ibu Ria adalah 'Kenapa engga ASI bu?'

Awalnya sang ibu hanya tersenyum malu saja, tidak menjawab. Tetapi setelah saya pancing-pancing, keluarlah jawaban panjang lebar darinya.

"Suami saya meninggal saat Ria masih berusia seminggu. Saya sudah tidak punya orangtua dan punya seorang adik. Untuk menghidupi Ria dan adik, saya harus bekerja dok. Engga ada pilihan."

Saya jawab,
"Bekerja juga masih bisa menyusui lho bu. Kan bisa diperah dan disimpan. Engga usah pakai breastpump mahal-mahal, pakai tangan juga bisa."

Sementara saya sempat ngebatin "Duh, beli tas ratusan ribu bisa masa beli breastpump ga bisa."

"ASI saya engga keluar dok"

Saya masih belum mau menyerah, saya bilang "Ya engga keluar karena engga disusuin terus bu. Gini aja bu, kalau ibu mau bisa saya ikutkan program relaktasi. Gimana?"

Sang ibu hanya tersenyum tidak mengiyakan.

"Coba hitung berapa biaya yang ibu keluarkan buat sufor. Kalau ASI kan gratisan bu. Lebih sehat lagi."

"Nanti kita lihat siapa tahu diarenya Ria ini bisa berhenti kalau ASI." Saya engga mau menyerah merayu si ibu.


Akhirnya mungkin karena capek saya bujuk terus, dia berbisik pada saya "Dok, suami saya meninggal karena AIDS."

Jreeeeeeeeeng.
Saya langsung terdiam dan merasa bersalah sudah berpikir si ibu ini engga mau repot, tega membiarkan anaknya diare terus, tidak mau memberikan yang terbaik untuk anaknya.

"Kenapa engga bilang dari awal bu?"

Lagi-lagi sang ibu hanya tersenyum. Saya sih mahfum ya, emangnya gampang untuk mengakui kalau diri kita sakit berat? Apalagi kalau sakitnya AIDS yang sampai saat ini masih jadi momok bagi orang banyak.

Kasus lain, sebut saja Ari, berusia 7 tahun dikonsulkan ke saya karena speech delay. Nenek dan ibunya bilang kalau sampai saat ini, Ari belum bisa mengucapkan satu kata pun dengan jelas.

Saat saya mendengar hal ini, tentu saja reaksi saya adalah terheran-heran. Masa baru dibawa ke dokter setelah 7 tahun? Seharusnya sudah disadari sejak umur 2-3 tahun dong ya?

"Kenapa baru dibawa sekarang bu? Ibu sadar sejak kapan Ari engga bisa ngomong?"

"Sejak dia umur 3 tahun sudah sadar kok dok"

"Lah terus kok baru dibawa sekarang bu?"


Ibu dan nenek Ari hanya tersenyum.

Saya pancing-pancing sedemikian rupa pun ibu dan neneknya tetap diam dan hanya tersenyum.

Baiklah, walaupun masih penasaran, saya harus menyerah juga demi melihat antrian pasien yang menumpuk. Saya jelaskan beberapa tes yang harus dijalani. Kebetulan ibu dan neneknya ini belum punya Jamkesmas dan berencana untuk mengurusnya. Jadilah saya rencanakan tes pendengaran dan beberapa tes lain setelah Jamkesmas ada.

Kemudian, saya menyudahi sessi konsultasi bersama Ari dan sibuk berkutat dengan pasien lain.

Setelah semua pasien selesai, saya bersiap-siap turun dari poli. Begitu membuka pintu untuk keluar, saya terkejut karena mendapati ibu dan nenek Ari masih ada di kursi tunggu.

"Lho bu, ada apa? Masih ada yang ingin ditanyakan?"
Sang ibu dan nenek terlihat habis menangis. Saya jadi tambah bingung. Ada apa sih?

Saya mengambil tempat duduk persis di sebelah nenek yang langsung berbicara dengan saya sambil menangis.

"Maaf ya dok, ngapunten sanget. Tadi saya ke loket untuk bayar biaya administrasi. Saya kaget karena mahal sekali. Saya engga punya uang segitu banyak dok. Sejak tahu cucu saya telat bicara, saya sudah nabung untuk biaya ke dokter. Cuma selalu terpakai karena adaaaaa saja dok. Yang Ari sakit batuk pilek, uangnya terpakai beli obat. Yang harus bayar hutang, beli beras, dll. Hari ini, tabungan saya baru terkumpul dok. Saya hitung-hitung, biaya angkot pulang pergi untuk kami bertiga Rp. 21.000, harus ganti angkot 2x, kurang lebih habis Rp.50.000 sudah dengan ojek. Saya pikir biaya disini sekitar Rp. 25.000. Saya cuma punya uang Rp. 75.000 dok."

Nyeeees. Saya langsung trenyuh dan mengatakan ke loket kalau semua biaya Ari (ps: biayanya 'cuma' Rp. 53.000) akan saya tanggung.

Batin saya, "Maaf ya bu, saya sudah berburuk sangka, mikir ibu engga care sama cucunya, tega sekali dibiarkan engga ngomong sampai 7 tahun. Maaf ya buu" :')

Sang ibu dan nenek tak henti berterimakasih sambil menangis sampai saya pun sibuk menahan tangis.

Ini cuma 2 dari sekian banyak kasus yang pernah saya alami. Menurut saya, ada hikmah yang bisa diambil. Sebelum menjudge macam-macam dan berkomentar seolah diri sendiri adalah ibu yang paling sempurna , try to be in their shoes first.

Kalaaau nih kalau, kita sendiri yang ada di posisi mereka, gimana? Salah gitu melakukan apa yang mereka lakukan? Terus kira-kira nih, kalau ada tetangga atau orang lain sibuk 'mengadukan' kita ke account twit tertentu tanpa tahu dan engga mau tahu alasan kita melakukan itu, gimana sih perasaan kita?:)

Pernah engga kepikiran kalau mungkin aja ternyata anak-orang-yang-engga-pernah-dikasih-ASI itu ibunya HIV positif dan emang engga boleh nyusuin? Terus ibunya musti koar-koar gitu kalau dia terinfeksi HIV? Pernah engga kepikiran kalau mungkin aja ternyata anak-tetangga-yang-sakit-melulu itu belum tentu karena minum susu terus? dsb dsb. Berkhusnudzon yuk!

Akhirnya, belajar dari pasien-pasien kecil saya, saya berusaha untuk tidak menjudge orangtua, apapun alasannya. Saya percaya, tidak ada orangtua waras di dunia ini yang berkeinginan untuk mencelakakan atau membuat anaknya sakit. Saya yakin, semua orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, dengan cara apapun, semampunya.

Yang bisa saya lakukan adalah mengedukasi orangtua, berusaha membantu sebaik-baiknya agar orangtua bisa memberikan semaksimal mungkin untuk anak mereka. Semua orang punya masalah masing-masing, punya alasan masing-masing untuk mengasuh dan merawat anaknya.

 Anyway, menjudge cara pengasuhan seseorang tidak menjadikan kita sendiri pasti lebih baik darinya bukan?:)

Tuesday, October 2, 2012

Ribut-ribut Susu

Beberapa hari terakhir ini lini masa di twitter dipenuhi oleh ribut-ribut masalah susu. Ada yang menganggap bahwa susu (sapi) tidak perlu dikonsumsi karena membahayakan kesehatan dan tidak layak dikonsumsi manusia. Ada juga yang beranggapan susu (sapi) penting adanya, menyehatkan walaupun tidak wajib untuk anak berusia diatas 2 tahun.

 Kalangan yang menganggap bahwa susu membahayakan dan justru akan membuat osteoporosis serta penyakit bahaya lainnya merujuk pada buku best seller karya Dr. Hiromi Shinya, The Miracle Of Enzyme. Sudah pernah baca? Saya sudah! Dan tidak sepenuhnya setuju dengan buku tersebut. Tapi bukan itu –well, at least belum deh ya:p-yang mau saya bahas.

Saya (sangat) tergelitik dengan suatu pernyataan dari mereka yang anti susu sapi. Dedengkotnya, sebut saja begitu, menulis bahwa  

Kalau dokter-dokter itu masih aja ada yang ngeles bilang susu engga berbahaya dengan alesan "Tidak berdasar tulisan ilmiah" berarti mereka engga bisa baca!.

Maaf ya, tanpa mengurangi rasa hormat saya, tapi justru karena membaca pernyataan ini, saya semakin yakin bahwa apa yang ditulisnya sangat sangat sangat HARUS diragukan kebenarannya. (Sengaja diulang 3x, dikapitalisasi dan dibold:p)

Kemudian followernya di twitter mendukung pendapatnya dengan bermacam-macam testimoni seperti “Duh engga usahlah evidence based2an, ini terbukti kok! Saya DULU rutin minum susu malah sakit-sakitan sekarang tanpa susu sehat walafiat”. Ada lagi yang “Ini kenyataan! Anak saya malah mencret dikasih susu, tanpa susu engga pernah mencret dan sehat walafiat!” dan beberapa pernyataan senada.

Oke, saya mau bahas sedikit soal Evidence Based Medicine alias EBM. Istilah yang sering disebut-sebut kalangan medis untuk menilai suatu teori, lama maupun baru.

EBM is the integration of BEST research evidence with clinical expertise and patient values. (Sacket DL et al, 2000).

Kenapa harus ada EBM? Jadi begini, dunia medis akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Karena itu, informasi terupdate tentang bagaimana mendiagnosis pasien, prognosis, terapi sampai prognosis pasien harus ikut diupdate. Dan sebaiknya semua tenaga medis mengikuti ini demi kepentingan pasien.

Misalnya gini deh, sebut aja obat X dari jaman dahulu kala sudah dikenal sebagai pilihan untuk mengobati penyakit Y. Eh setelah sekian lama, ada penelitian yang membuktikan kalau ternyataaaaaa obat X itu engga aman karena ada efek samping tertentu. Ada penelitian lain lagi yang menemukan bahwa obat Z lebih baik daripada obat X buat pengobatan. Apakah kita masih mau pakai obat X? Engga kan?

Tujuan EBM adalah membantu pengambilan keputusan klinis. Bisa pencegahan, diagnosis , terapi yang semua harus berdasarkan bukti ilmiah terbaru dan terpercaya.

Sekarang kita ngomongin soal penelitian yaa. Semua orang bisa melakukan penelitian. Saya saja sekarang sedang melakukan 3 penelitian. Ada yang jumlah sampelnya “cuma” 16 orang. Apakah nanti setelah penelitian saya selesai, kesimpulannya bisa dipakai untuk semua orang di dunia? *yeah I wish:p*

Untuk dapat dipublish dan dijadikan referensi internasional, penulis jurnal penelitian tsb harus mempunyai kredibilitas. Selain itu tentu saja kita harus melakukan telaah jurnal alias critical appraisal pada semua jurnal.
Gampangnya, kalau saya sih, karena siwer juga bacain jurnal satu-satu cari jurnal dari portal yang terpercaya semacam Pubmed.com.

Penelitian ini juga ada tingkatannya lho. Yang paling atas adalah Meta-Analysis (bukan Meta Hanindita:p), dimana jumlah sampel biasanya banyak dan berasal dari banyak penelitian yang dianalisis. Selanjutnya adalah Systematic Reviews,  Randomized Controlled Trials, Case Control, Case Reports, Opinions dan terakhir, Animal Research.

Kembali ke kasus di atas. Saya berandai-andai dulu nih ya! Misalnyaaaaa, saya nulis di blog dan twitter “Ternyata makan nasi itu berbahaya lho! Hipertensi, kencing manis, semua disebabkan rutin makan nasi. Saya dulu sering migren, sering rematik. Tapi begitu stop makan nasi, sehat walafiat” Terus saya berhasil menerbitkan buku tentang ini. (Fyi, penerbit mah mana peduli valid apa engga, yang penting bukunya laku titik).

Diikuti dengan banyaknya testimoni dari followers saya yang senada dengan statement saya.

Apa ada tenaga medis di dunia yang mau mengikuti saya?:D
(Kalau ada saya rela keliling dunia ditemenin Brad Pitt #eh).

Coba kalau begitu, apa bedanya saya dengan klinik T*ngfang yang menghebohkan itu? Yang jelas sih ada kesamaannya, sama-sama ENGGA TERBUKTI ILMIAH.

Jadiii, kalau ada yang sampai berpendapat “Ah, engga usah deh dikit-dikit EBM, bilang aja ngeles. Engga update ilmunya!” Saya sih ngakak aja *sambilnyeruputsusucokelat*

Atau statement-standar-suudzon-ke-dokter-sepanjang-masa, "Dibayar berapa sih dokter sama pabrik susu?"   InsyaAllah, saya jadi dokter anak adalah karena niat baik demi bekal untuk di akhirat kelak. Bukan semata-mata materi. Kadang malah saya suka mikir, yang kepikiran gitu mungkin yang material-minded. Kok bisa-bisanya ya.

Saya sempat sewot dulu waktu ada masalah vaksin-anti vaksin. Karena menurut saya mereka yang anti vaksin merugikan semua orang termasuk yang vaksin. Sebaliknya, soal susu ini sih sebenernya engga ada yang dirugikan. Jadi eike engga sewot-sewot amatlah cyiiin!*benerinkemben* Yahh suka-suka situ deh cyinn, mau minum susu kek mau engga, not my business.

Cumaaaaa, sebagai tenaga medis, saya wajib meluruskan berita-berita geje di luar YANG TIDAK BERDASARKAN ILMIAH. Seandainya emang ada meta-analysisnya betapa ternyata susu sapi membahayakan kesehatan, saya PASTI tidak akan menganjurkan susu sapi untuk pasien saya:)
Kalau engga EBM, ah tauuu deh *ngomongsamatangan*

Diambil dari gotmilk.com.
*Yang saya maksud disini penggunaan susu sapi untuk yang tidak intoleransi  ya!

Hasil Review Preschool-Part 1

Setelah survei cari sekolah beberapa hari terakhir ini, berikut adalah hasil reviewnya:

1. Kinderland 
www.kinderlandsurabaya.com
Jl. Kertajaya Indah No. 101

Pertama kali sekolah ini karena letaknya yang di pinggir jalan raya persis di seberang sekolah Naya, dan selalu dilewatin setiap pergi. Yang keliatan dari luar sih mainan-mainan warna-warni di halamannya. Space outdoor playground-nya engga terlalu luas.

Kurikulum: Diadaptasi dari Kinderland Educare Services Pte Ltd, Singapore. Programnya bilingual, ditambah kelas bahasa Mandarin setiap minggunya. Ada native speaker untuk setiap pelajaran bahasa. Pendidikannya mengacu pada teori Piaget, yang diterapkan hampir di semua aspek pelajaran.

Ruangan kelas: Ada ruang komputer, ruang musik, ruang pertemuan, indoor gym, playground, track untuk bersepeda bahkan ada area untuk bermain air dan pasir indoor!

Untuk kelas pre-nursery (2-3 tahun) jam sekolahnya adalah setiap hari Senin-Jumat jam 08.30-11.30 atau Senin-Kamis jam 08.30-11.30.

Biaya:
Enrollment fee : Rp. 8.000.000,00
Term fee: Rp. 4.500.000,00/ 10 weeks (4x/weeks)
                Rp. 5.500.000,00/ 10 weeks (5x/weeks)

Komen Meta:
Errrr.. walaupun belum trial, tapi kayanya Meta agak engga sreg sama sekolah ini. Pertama, karena jam sekolahnya 4-5 hari kerja, 3 jam pula! Naya bisa teler deh nanti. Biayanya masih make sense secara sekarang rata-rata preschool segitu. Satu lagi yang Meta engga sreg adalah space untuk outdoornya terbatas banget. Lagipula, di pinggir jalan raya, agak bikin waswas si emak parno ini.

Tapi, Meta suka banget deh sama water and sand areanya. Cool.
Mungkin akan mencoba untuk ikut trial class, masih pikir-pikir deh:p

2. KB-TK Islam Al-Azhar 35
www.alazhar-jatim.sch.id
Pakuwon City, Florence J-4

Karena deket dari rumah, jelaslah sekolah ini masuk ke dalam list buat Meta survei:D
Awalnya Meta kaget karena dari depan sih keliatannya engga besar-besar amat, sempet mikir juga "Buset ini ga ada lapangannya sama sekali ya?". Eh ternyata begitu masuk ke dalam, ada lapangan basket yang lumayan besar dan gedung sekolahnya juga lumayan. Oh ya jangan khawatir, buat cewek yang masih kelas toddler dan Playgroup, belum wajib pakai jilbab kok! Bukannya apa, Meta concern banget soal ini karena yakin Naya pasti engga nyaman disuruh pakai jilbab, kasian juga kalau dia malah sibuk garuk-garuk gegara keringetan pas sekolah.

Kurikulum: Tentunya menggunakan kurikulum Pengembangan Pribadi Muslim. Ada fieldtrip, english conversation (Bahasa pengantarnya Indonesia), musik, komputer, dan baca Alquran dengan Iqra.

Untuk kelas toddler (>1.5 tahun) dan Playgroup (>2,8 tahun) ada 3x pertemuan setiap minggunya. Waktu sekolah dari jam 08.00-10.00. Untuk kelas toddler setiap hari disediakan cemilan bergizi.

Biaya:
Karena masih baru, setidaknya sampai tahun ini masih belum ada enrollment fee. (Enak banget yak!), hanya bayar SPP sejumlah Rp. 3.850.000/ 4 bulan. Tapi kemungkinan pertahun depan sudah ada biaya masuknya.

Komen Meta:
Will definetely try! Sesuai kriteria, cuma outdoornya kurang gede. But you cant get all what you want, right?;;) Nanti tunggu Naya 2 tahun:D

3. Sekolah Cikal
www.cikal.co.id
Jl. Raya Bukit Darmo Golf no. M-21

Walaupun sebenernya engga masuk ke kriteria Meta karena letaknya juauuuuuh banget, tapi akhirnya dengan berbagai pemikiran, bolehlah sekolah ini dipertimbangkan. Di Jakarta, sekolah Cikal ini termasuk most wanted karena pendekatan pengajarannya yang 'berbeda' dari yang lain. 5-stars-competencies.

Kurikulum: Ditekankan pada perkembangan basic life skills. Selain itu banyak program yang dirancang supaya komunikasi antara orangtua dan anak berlangsung baik. (Jadi buat yang pengen 'melepas' anaknya sekolah, engga bisa dong ya). Rasio guru: murid adalah 1:5, ada workshop reguler untuk orangtua.

Untuk kelas  Kakak-kakak (2-3 tahun) : Seminggu 3x, 08.00-10.00 atau 10.30-12.30

Biaya:
Enrollment Fee : Rp 18.500.000 (Iyaaa, engga salah ketik jadi kebanyakan nol-nya kok!)
Tuition fee : 20.900.000 (/tahun) 5.600.000 (/4 bulan) 1.900.000 (/bulan)
*pingsan*

Komen Meta:
Sebenernya, kalau merujuk ke kriteria yang Meta buat untuk cari sekolah Naya, Sekolah Cikal ini mantep banget, kecuali dari sisi jarak dan biaya-tentunyaaaa-.
Kayanya sih engga bakal trial deh, secara rumah ke Cikal ujung-ujungan ajah gituh!

4. Whiz Kids
 Jl. Nginden Intan Selatan C7/3-5 

Thanks to jembatan MERR, jarak rumah ke Nginden jadi deket banget, dan Meta bisa masukin sekolah ini ke list:D

Kurikulum: Bahasa pengantar Inggris, ada yang 2x seminggu, ada yang 4x seminggu. Jamnya 10.00-11.30. Keponakan-keponakan Meta semua sekolah disini jadi sedikit banyak tau apa yang diajarin. Basicly diajarin disiplin dengan daily activities. Tentunysa sambil merangsang motorik, bahasa dan personal-sosial.

Biaya:
Enrollment fee : Rp. 6.850.000,00
Tuition fee: Rp. 440.000/bulan (seminggu 2x)
                   Rp. 660.000/bulan (seminggu 4x)
Administration fee : Rp. 850.000/tahun (seminggu 2x)
                                 Rp. 900.000/tahun (seminggu 4x)

Komen Meta:
Worth to put in the trial list:D

Sekian review-an sekolah part 1 ini. Rencananya weekend ini Meta mau berkunjung ke beberapa preschool lagi seperti Al-Hikmah, SAIMS (Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya), Lollypop Preschool, Little Steps dan Apple Tree.  Doakan sayaaaa! *pasangiketkepala*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...