Friday, June 17, 2016

Riya Atau Hasad?

Hidup di era penuh media sosial ini memang susah-susah gampang. Gampang, karena mau mengadakan acara, tinggal update status untuk mengundang. Tak perlu repot mengirimi undangan satu-satu. Mengajak orang lain berbuat kebaikan pun lebih mudah. Lihat saja, ajakan berdonor darah, ajakan menyumbang panti asuhan dapat disebarkan dengan sedemikian mudahnya lewat sosial media.
Berita juga mudah didapat di era media sosial ini. Tak perlu berlangganan koran, atau setia menonton berita di televisi. Mulai politik, pemerintahan, sampai gosip lalu lalang di depan mata setiap harinya.

Kalau buat saya sih, yang paling terlihat jelas manfaatnya adalah dalam soal belanja. Tinggal lihat-lihat, pilih, transfer, tunggu barang sampai di rumah. Hassle-free! (Teteuuup, emak-emak mah belanja omongannya)


Susahnya apa? Banyak juga. Coba lihat, banyak orang yang memanfaatkan media sosialnya untuk marah-marah, menyindir orang lain (dengan #NoMention biasanya) sampai mengumbar aib orang lain. Saya suka malas membaca timeline Facebook karena kok ya selaluuu saja ada yang ribut-ribut. Entah ribut soal Ahoklah, soal warteg yang dipaksa tutup pas Ramadhanlah, adaaaaaa saja.

Memang betul, sama seperti semua hal di dunia, pasti ada sisi negatif dan sisi positifnya. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya.

Dari semua media sosial yang saya punya, mungkin saya paling aktif di Instagram. Di sana juga setiap harinya saya melihat foto-foto bersliweran dari orang yang bahkan tak saya kenal. Dari yang awalnya tak sengaja melihat di newsfeed, penasaran klik foto, sampai stalking ingin tahu kesehariannya. Padahal sama sekali tak kenal lho!:)) Mungkin bukan saya saja yang seperti itu ya? Ada yang begitu juga?:D

Saya pernah begitu mengagumi foto-foto seseorang -sekali lagi, tak saya kenal. Bahkan berjumpa saja tak pernah-sampai men-stalking timeline Instagramnya. Wah, fotonya selalu menampilkan pemandangan luar negeri. Bulan lalu keliling Eropa mulai Paris sampai Italia, minggu lalu sudah di Jepang, eh hari ini ada di Korea. Lalu mulailah kekepoan saya berawal. "Enak banget ya orang ini, kok setiap hari di luar negeri. Kerja apaan ya?". Saya lupa untuk mensyukuri apa yang sudah menjadi rejeki saya karena lebih sibuk mengurusi rejeki orang lain. Hingga akhirnya saya sampai pada kesimpulan "Ah, ya sudahlah memang orang ini sukanya pamer sering ke luar negeri."

Lain kesempatan, saya mengagumi seseorang lainnya -teteuup! Tidak saya kenal- yang begitu menginspirasi. Setiap hari, ia mengupload foto kesehariannya dengan caption agamis. Hari ini ikut kajian agama di sana, kemarinnya ikut bakti sosial di panti asuhan, kemarinnya lagi mengadakan pengajian di situ. Saya yang awalnya mengagumi, lama-lama tak tahan untuk berpikiran "Yah, riya' banget sih nih orang."

Tak hanya itu, saya pun pernah ngiler setiap melihat postingan seseorang lainnya lagi yang setiap hari mengupload foto dengan tas branded berbeda! Buset, tasnya banyak amat ya. Lagi-lagi, akhirnya saya tak bisa menahan diri untuk berpikir "Orang ini sombong banget ya, pamer melulu kerjaannya". Padahal, kenal? Boro-boro. Pernah bertemu? Sama sekali tidak. Tapi, begitu mudah untuk saya mengambil kesimpulan sekadar dari foto-foto yang diuploadnya di Instagram.

Hari ini, saya disadarkan oleh seorang teman. Ia merasa tak nyaman mengikuti Instagram saya karena saya sering mengupload foto-foto dan video Naya. Sejujurnya, saya kaget. Memangnya kenapa dengan foto Naya? Apakah tidak layak ditampilkan? Atau kenapa? Tanpa saya duga, ia bilang "Saya merasa semakin depresi setiap melihat kelucuan Naya di media sosialmu. Kok kamu dikasih Naya sama Allah, saya yang sudah menikah 8 tahun kok belum? Saya merasa kamu riya' sekali"

Dueeeeeng. Tentulah saya kaget bukan main. Saya juga merasa kesal. Kok bisa-bisanya sih saya dibilang berniat riya? Boro-boro berniat riya, saya cuma berniat menyimpan foto dan video Naya sehingga kelak bisa dilihat lagi. Di handphone kan bisa hilang, demikian juga dengan di laptop. Lagipula, lebay banget sih. Enak sekali ia men-judge saya riya', kenal dekat saja tidak kok.


Kemudian saya teringat dan menyadari kalau saya pun sering berlaku seperti teman saya tadi. Bedanya, saya hanya berasumsi dan menyimpan asumsi itu sendiri. Sementara teman saya secara frontal menyampaikan ketidaknyamanannya. Tapi selain itu, sama! Kami sama-sama menjudge orang lain riya/pamer/sombong hanya dari apa yang diupload di media sosial. Kami sama-sama lebih sibuk mengurusi rejeki orang lain, sama-sama lupa mensyukuri apa yang sudah menjadi rejeki kamu. Sama-sama iri? Sepertinya begitu.


Jadi sebetulnya, mereka yang riya' atau kita yang hasad? Mereka yang pamer atau kita yang dengki?
Mereka yang sombong atau kita yang iri hati?

Sesungguhnya hanya Allah Swt yang dapat mengetahui niat seseorang. Saya jadi mendapat pelajaran karena hal ini. Mungkin jika memang belum dapat memanfaatkan media sosial untuk tujuan baik, sebaiknya jangan dulu. Saya harus belajar lagi nih untuk lebih berbesar hati dan positive thinking. PR besar, tapi inshaAllah bisa. Setidaknya, saya sudah berniat:)




1 comment:

Riza Fariyanti said...

mba Metaaa, ini juga yang kadang saya diskusikan dengan teman, tulisan kali sama dengan yang saya pikirkan, saya iri hati atau mereka yang sombong, kadang ingin tidak bermedsos saja, hihihihi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...