Friday, June 27, 2014

Knowledge is Power but Character is More

Kemarin saya mengantar Naya ke salah satu mal di daerah Surabaya Barat -iye, ujung ke ujung dari rumah kami- demi melihat Tweety, karakter favoritnya tampil dalam Looney Tunes Football Show. Karena menyadari betapa jauh dan macetnya jalan ke sana, saya berangkat dari rumah 2,5 jam sebelum acara.

Benar saja, macetnya minta ampun! Kami sampai di sana tepat sejam sebelum acara dimulai. Naya sangat excited melihat banner dan panggung berhias Tweety dimana-mana. Saking excitednya, Naya bersedia menunggu di depan panggung walaupun masih harus menunggu sejam.

Sebagai orang yang pertama menduduki area menonton, Naya mendapat tempat duduk paling depan, persis di depan panggung. Naya duduk menanti dengan sabar sambil tak henti bernyanyi atau bermain tebak-tebakan. Beberapa menit sebelum acara dimulai, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya mendekati tempat duduk kami. Anaknya, saya taksir berusia sekitar setahun di atas Naya sedang menangis histeris. Rupanya, mereka datang terlalu mepet dengan jadwal acara sehingga tidak kebagian tempat duduk di depan dan harus menonton sambil berdiri di belakang. Anak tadi merasa tidak puas kalau harus melihat pertunjukan dari belakang sehingga menangis histeris sampai berguling-guling di lantai dan meminta maju ke depan.

Ibu tersebut-tidak berbicara apapun pada kami-langsung saja menurunkan anaknya dari gendongan dan berdiri tepat di depan tempat duduk kami. Tentu saja ibu dan anak tsb menghalangi pandangan kami. Saya memberanikan diri menegur ibunya, yang dibalas dengan kasar. Ibu tadi meminta saya mengerti kalau anaknya ingin melihat pertunjukan dengan jelas.

Heh? Lalu apa kabar anak saya yang juga ingin melihat pertunjukan dengan jelas bu?

Saya jadi ingat postingan Path seorang teman yang bilang kalau dia baru saja melihat seorang ibu menceboki anaknya di wastafel -iye, di wastafel di depan orang banyak!- foodcourt sebuah mal ternama. Si anak rupanya baru saja BAB di disponya, dan karena tidak mau ke toilet yang cukup jauh, sang ibu mengambil jalan pintas dengan membersihkan anaknya di wastafel. Ewwwww.

Lain kesempatan, saya pernah mengajak Naya menyaksikan pertunjukan grup musik asal Australia, Hi-5 di convention hall mal terbesar Surabaya. Kami datang awal -as always:p- sehingga bisa mengantri di urutan pertama. Menjelang pintu gerbang akan dibuka, tetiba seorang anak berusia sekitar 5 tahun menyerobot antrian kami. Saya celingukan mencari orangtuanya. Sang ibu datang tergopoh-gopoh di belakang tanpa ba-bi-bu, dengan penampilan necis, langsung menempati posisi sama dengan anaknya, di depan kami. Saya menegur ibu tadi, yang dibalas dengan omongan kurang lebih seperti ini "Halah, cuma disalip satu orang saja kok pakai keberatan sih, toh tempatnya masih luas. Anak saya ini fansnya Hi-5, engga sabar pengin bertemu. Engga kasihan?"

Saya yakin, semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Kalau mengikuti hati sih, apalagi mengingat betapa sulitnya  waktu hamil dan melahirkan, saya inginnya semua yang paling bagus, paling nyaman, paling enak, paling depan untuk Naya. Tapi saya pikir-pikir lagi, apakah yang terbaik untuk Naya selalu berarti yang terbagus, terenak, ternyaman atau terdepan?

Saya mendidik Naya dengan keras. Benar lho, sampai mama saya sering menangis melihat saya mendidik Naya. Sejujurnya, terkadang saya pun suka merasa tidak tega. Tapi saya yakin inshaAllah akan ada hikmah yang diambil Naya kelak. Saya selalu meyakini motto sekolah saya saat SMA, Knowledge is Power but Character is More. Pengetahuan memang penting, tapi karakter jauh lebih penting. Tugas saya sebagai orangtualah untuk mulai membentuk karakter Naya.

Sejak Naya bayi, saya selalu membiasakan mengatakan terimakasih, maaf, permisi dan tolong, bahkan sebelum Naya bisa berbicara. Saya yakin Naya mengerti walaupun belum bisa mengikuti. Kelihatannya sepele ya, tapi sesungguhnya dari yang sepele inilah karakter bisa terbentuk. Seperti sabar menunggu giliran saat mengantri. Sepertinya sepele banget kan ya? Tapi dari mengajari Naya mengantri, saya bisa mengajarkan pada Naya banyak hal mulai dari menghargai orang lain, berdisiplin, jujur sampai tidak korupsi. Lah apa deh hubungannya sama korupsi? Coba dirunut, seseorang yang tahu benar mana miliknya, kapan gilirannya dan malu untuk mengambil yang bukan miliknya atau bukan gilirannya pasti malu juga buat korupsi kelak kan?:D

Saya juga membiasakan Naya untuk tidak tinggal diam saat melihat sesuatu yang menurutnya tidak benar. Jangan kaget ya kalau bertemu dengan anak saya di mal menegur orang yang merokok di muka umum terlebih saat menyadari ada anak kecil di sekitarnya:p Jangan kaget juga kalau pas bepergian ke tempat umum ditegur anak saya karena membuang sampah sembarangan:D Karena menurut saya, mereka yang tahu tapi diam dan mendiamkan sama salahnya dengan yang melakukan. Tahu ada yang korupsi tapi tidak melaporkan misalnya, sama salahnya dengan yang korupsi. Ih ini emak lebay amat, cuma buang sampah sembarangan ngomongnya jauh amat sampai ke korupsi segala. Ingat, semua yang besar berawal dari hal sepele:)

Disclaimer: Saya bukan melabeli diri sebagai orangtua yang paling baik atau benar. Tidak sama sekali, karena buat saya semua orangtua mempunyai cara parenting yang berbeda, walaupun satu tujuan, memberi yang terbaik untuk anaknya:)

4 comments:

Nunu said...

Hehehe ya begitulah met orang indonesia hehehe

Anonymous said...

baru aja saya posting (curcol sih benernya) di medsos gegara nih anak tetangga maen tabuh2an malem2. padahal sebelumnya sudah saya minta tolong buat mengerti kalo setiap keluarga gak sama (keluarga saya memang tidur setelah solat isya kalo tidak ada kepentingan. karena besoknya harus bgn pagi buta untuk solat tahajud dan memasak). karena suaranya kenceng banget jelas yaaa... susah bgt buat tidur. dan ortunya sih menganggap apa yg dilakukannya itu tidak masalah. bahkan menganggap keluarga saya yg lebay.
saya malah bingung. apa saya yg kolot atau mereka yg antitoleransi :(
-meta a.p-

Anonymous said...

Hallo mba meta.. Mau tanya dong, mendidik dengan kerasnya seperti melatih permission trus apalagi mba? Saya banyak belajar dari blog blog mba.. Thankyou :)

feni Amriani said...

met.. itu naya apa dirimu yg fans tweety.. wkwkwk.. :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...